Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Spoiler for Vaksin:
Itulah sebenarnya yg jadi masalah vaksin sinovac. Nggak begitu dapat membentuk imun
Itulah ucapan dari teman penulis seorang virolog di salah satu laboratorium Jerman. Percakapan tersebut terjadi setelah penulis menanyakan mengapa ada relawan vaksin Sinovac yg terkena corona. Ketika penulis menanyakan kembali kenapa vaksin sinovac tidak begitu sanggup membentuk imun & apakah karena vaksinnya belum sempurna, ia cuma memberikan emot senyum.
Kamis 10 September 2020, tersiar kabar bahwa salah satu dari 450 subjek penelitian uji klinis vaksin Sinovac dari China di Bandung terkonfirmasi terinfeksi Covid-19. Ketua regu Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) Kusnandi Rusmil mengatakan bahwa relawan tersebut sudah mendapatkan suntikkan pertama. Setelah itu ia berpergian ke Semarang.
Relawan itu kemudian kembali ke Bandung untuk mengerjakan penyuntikan kedua. Secara klinis, relawan dinyatakan sehat & mendapatkan penyuntikkan kedua. Keesokan harinya, relawan itu menjalani pemeriksaan swab dari Dinas Kesehatan karena memiliki riwayat ke luar kota. Ternyata hasilnya positif corona.
Kusnandi lalu menerangkan bahwa dalam uji klinis ini terdapat dua kelompok, yakni yg mendapat plasebo (obat kosong) atau mendapatkan vaksin. Pembagiannya dilakukan mengpakai prinsip observer blind/tersamar, sehingga tidak diketahui mana yg dapat plasebo & mana yg mendapatkan vaksin. Pada yg mendapat vaksin, kekebalan diharapkan paling cepat dua pekan setelah suntikan kedua, mengatakan dia merujuk kepada hasil uji klinis awal, tahap 1 & 2.
Manajer Lapangan Tim Riset Eddy Fadlyana mengatakan ada kemungkinan relawan yg positif cuma mendapat air plasebo. Jika ia mendapat air plasebo, maka wajar saja kalau terkena corona. Sebab plasebo hanyalah cairan yg tidak memiliki khasiat apapun sebagai obat. Namun kalau relawan itu mendapatkan vaksin, maka positif Covid-19 yg ia derita didapat pada masa inkubasi antara penyuntikkan hingga saat imunisasi itu terbentuk.
Sumber :Tempo [Relawan Uji Vaksin di Bandung Positif Covid-19, Ini 2 Kemungkinan Sebabnya]
Sehingga kalau relawan tersebut ternyata disuntikkan vaksin, maka masih ada kemungkinan ia terjangkiti Covid-19. Kemungkinan inilah yg menyebabkan teman saya yg pakar virologi meragukan efektivitas dari vaksin Sinovac untuk membentuk imun. Mungkin karena vaksin yg belum sempurna sehingga tubuh tak sanggup menciptakan imunitas kepada virus dari luar tubuh atau akibat dari vaksin itu sendiri yg ternyata virulensinya masih tinggi.
Salah satu dugaan bahwa relawan terjangkiti corona akibat virulensinya yg masih tinggi diutarakan Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam pada 11 September 2020. Ia menduga relawan vaksin Sinovac yg terinfeksi virus setelah berkunjung ke Kota Semarang disebabkan vaksin itu sendiri yg belum sempurna alias virulensinya masih tinggi.
Abdul mengatakan setiap vaksin atau obat yg sudah beredar memiliki efektivitas mendekati 100 persen. Andaikan efektivitas vaksin 98 persen, maka kemungkinan ada 2 persen yg gagal. Oleh karena itu, Hakam menduga relawan yg terkena Covid-19 merupakan bagian dari angka 2 persen yg gagal. Terlebih, vaksinasi yg diberikan belum sempurna, karena baru diberikan satu kali saat relawan berkunjung ke Semarang.
Sumber :Suara [Relawan Tertular Corona, Dinkes Semarang: Diduga Karena Vaksin Itu Sendiri]
Pernyataan Abdul menciptakan penulis bertanya-tanya. Evektivitas vaksin atau obat yg ia maksud mendekati 100 persen adalah kalau vaksin itu sudah beredar. Maka andaikan selama masa percobaan ini ternyata efektivitas vaksin baru sekitar 70 persen, maka ada 30 persen subjek yg terkena covid-19. Terlebih lagi di negara asalnya RRC, vaksin ini belum lolos uji klinis Fase III.
Terlalu banyak pertanyaan yg masih belum terjawab. Namun, ada pertanyaan yg paling menggelitik nalar penulis. Pertama, apakah vaksin Sinovac yg terburu-buru dikebut tidak sanggup mencegah infeksi virus? Kedua, pembelaan dari Dinkes Kota Semarang menimbulkan pertanyaan apakah Jawa Tengah khususnya Semarang, mengalami penyebaran virus yg sangat parah karena ketidakmampuan tracing & penolakan PSBB selama ini?
Hari ini 19:26
Itulah sebenarnya yg jadi masalah vaksin sinovac. Nggak begitu dapat membentuk imun
Itulah ucapan dari teman penulis seorang virolog di salah satu laboratorium Jerman. Percakapan tersebut terjadi setelah penulis menanyakan mengapa ada relawan vaksin Sinovac yg terkena corona. Ketika penulis menanyakan kembali kenapa vaksin sinovac tidak begitu sanggup membentuk imun & apakah karena vaksinnya belum sempurna, ia cuma memberikan emot senyum.
Kamis 10 September 2020, tersiar kabar bahwa salah satu dari 450 subjek penelitian uji klinis vaksin Sinovac dari China di Bandung terkonfirmasi terinfeksi Covid-19. Ketua regu Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) Kusnandi Rusmil mengatakan bahwa relawan tersebut sudah mendapatkan suntikkan pertama. Setelah itu ia berpergian ke Semarang.
Relawan itu kemudian kembali ke Bandung untuk mengerjakan penyuntikan kedua. Secara klinis, relawan dinyatakan sehat & mendapatkan penyuntikkan kedua. Keesokan harinya, relawan itu menjalani pemeriksaan swab dari Dinas Kesehatan karena memiliki riwayat ke luar kota. Ternyata hasilnya positif corona.
Kusnandi lalu menerangkan bahwa dalam uji klinis ini terdapat dua kelompok, yakni yg mendapat plasebo (obat kosong) atau mendapatkan vaksin. Pembagiannya dilakukan mengpakai prinsip observer blind/tersamar, sehingga tidak diketahui mana yg dapat plasebo & mana yg mendapatkan vaksin. Pada yg mendapat vaksin, kekebalan diharapkan paling cepat dua pekan setelah suntikan kedua, mengatakan dia merujuk kepada hasil uji klinis awal, tahap 1 & 2.
Manajer Lapangan Tim Riset Eddy Fadlyana mengatakan ada kemungkinan relawan yg positif cuma mendapat air plasebo. Jika ia mendapat air plasebo, maka wajar saja kalau terkena corona. Sebab plasebo hanyalah cairan yg tidak memiliki khasiat apapun sebagai obat. Namun kalau relawan itu mendapatkan vaksin, maka positif Covid-19 yg ia derita didapat pada masa inkubasi antara penyuntikkan hingga saat imunisasi itu terbentuk.
Sumber :Tempo [Relawan Uji Vaksin di Bandung Positif Covid-19, Ini 2 Kemungkinan Sebabnya]
Sehingga kalau relawan tersebut ternyata disuntikkan vaksin, maka masih ada kemungkinan ia terjangkiti Covid-19. Kemungkinan inilah yg menyebabkan teman saya yg pakar virologi meragukan efektivitas dari vaksin Sinovac untuk membentuk imun. Mungkin karena vaksin yg belum sempurna sehingga tubuh tak sanggup menciptakan imunitas kepada virus dari luar tubuh atau akibat dari vaksin itu sendiri yg ternyata virulensinya masih tinggi.
Salah satu dugaan bahwa relawan terjangkiti corona akibat virulensinya yg masih tinggi diutarakan Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam pada 11 September 2020. Ia menduga relawan vaksin Sinovac yg terinfeksi virus setelah berkunjung ke Kota Semarang disebabkan vaksin itu sendiri yg belum sempurna alias virulensinya masih tinggi.
Abdul mengatakan setiap vaksin atau obat yg sudah beredar memiliki efektivitas mendekati 100 persen. Andaikan efektivitas vaksin 98 persen, maka kemungkinan ada 2 persen yg gagal. Oleh karena itu, Hakam menduga relawan yg terkena Covid-19 merupakan bagian dari angka 2 persen yg gagal. Terlebih, vaksinasi yg diberikan belum sempurna, karena baru diberikan satu kali saat relawan berkunjung ke Semarang.
Sumber :Suara [Relawan Tertular Corona, Dinkes Semarang: Diduga Karena Vaksin Itu Sendiri]
Pernyataan Abdul menciptakan penulis bertanya-tanya. Evektivitas vaksin atau obat yg ia maksud mendekati 100 persen adalah kalau vaksin itu sudah beredar. Maka andaikan selama masa percobaan ini ternyata efektivitas vaksin baru sekitar 70 persen, maka ada 30 persen subjek yg terkena covid-19. Terlebih lagi di negara asalnya RRC, vaksin ini belum lolos uji klinis Fase III.
Terlalu banyak pertanyaan yg masih belum terjawab. Namun, ada pertanyaan yg paling menggelitik nalar penulis. Pertama, apakah vaksin Sinovac yg terburu-buru dikebut tidak sanggup mencegah infeksi virus? Kedua, pembelaan dari Dinkes Kota Semarang menimbulkan pertanyaan apakah Jawa Tengah khususnya Semarang, mengalami penyebaran virus yg sangat parah karena ketidakmampuan tracing & penolakan PSBB selama ini?
Hari ini 19:26