Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pada masa ketika Sungai Nil masih jadi satu-satunya penentu hidup & mati bagi masyarakat Mesir kuno, konsep tentang kekuasaan belum sepenuhnya terikat pada satu gelar sakral. Para penguasa awal Mesir dipandang sebagai raja biasa, pemimpin yg bertugas mengatur panen, menjaga wilayah, & memimpin peperangan. Mereka dihormati, tetapi belum dipuja. Gelar Firaun, seperti yg diketahui dunia sekarang, belum pernah disebutkan dalam kehidupan sehari-hari rakyat Mesir.
Di tengah kehidupan kerajaan, berdirilah bangunan yg jadi pusat segalanya: Per-Aa, atau yg berarti Rumah Besar. Istana ini bukan cuma tempat tinggal raja & keluarganya, melainkan pusat dunia Mesir. Dari sinilah pajak ditentukan, upacara keagamaan dilaksanakan, serta hukum dihinggakan kepada rakyat. Setiap perintah yg keluar dari Per-Aa memiliki kekuatan mutlak, seakan-akan suara istana adalah suara takdir itu sendiri.
Di tengah kehidupan kerajaan, berdirilah bangunan yg jadi pusat segalanya: Per-Aa, atau yg berarti Rumah Besar. Istana ini bukan cuma tempat tinggal raja & keluarganya, melainkan pusat dunia Mesir. Dari sinilah pajak ditentukan, upacara keagamaan dilaksanakan, serta hukum dihinggakan kepada rakyat. Setiap perintah yg keluar dari Per-Aa memiliki kekuatan mutlak, seakan-akan suara istana adalah suara takdir itu sendiri.
Source Link : PecuniaID
Lambat laun, rakyat Mesir mulai memandang istana sebagai sesuatu yg lebih dari sekadar bangunan. Per-Aa jadi simbol kekuasaan tertinggi, lambang keteraturan hidup, & pusat segala hal yg dianggap suci. Ketika seseorang menyebut Per-Aa, yg terbayang bukan lagi dinding batu atau aula megah, melainkan sosok penguasa yg bersemayam di dalamnya. Sejak saat itulah, makna mengatakan Per-Aa mulai bergeser.
Lambat laun, rakyat Mesir mulai memandang istana sebagai sesuatu yg lebih dari sekadar bangunan. Per-Aa jadi simbol kekuasaan tertinggi, lambang keteraturan hidup, & pusat segala hal yg dianggap suci. Ketika seseorang menyebut Per-Aa, yg terbayang bukan lagi dinding batu atau aula megah, melainkan sosok penguasa yg bersemayam di dalamnya. Sejak saat itulah, makna mengatakan Per-Aa mulai bergeser.