yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Harga minyak mentah naik dari posisi terendah delapan bulan karena adanya spekulasi bahwa para pembuat kebijakan di Amerika Serikat akan berupaya untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi dan adanya ekspetasi bahwa persediaan minyak mentah AS akan turun.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengantaran Juli naik 62 sen menjadi 83,32 dollar AS per barrel di New York Mercantile Exchange, Selasa (12/6/2012) waktu setempat. Sedangkan minyak Brent untuk penetapan Juli merosot 86 sen, atau 0,9 persen, menjadi 97,14 dollar AS per barrel di ICE Futures Europe exchange, London.
Presiden bunk Sentral AS-Chicago, Charles Evans, mengatakan, ia akan mendukung sejumlah upaya untuk mendorong pertumbuhan lapangan kerja yang lebih cepat. Di sisi lain, persediaan minyak mentah mengalami penurunan terbanyak dalam hampir lima bulan pada minggu lalu seiring dengan melonjaknya produksi penyulingan. Laporan resmi mengenai persediaan minyak mentah AS akan keluar besok.
"Ada banyak kemauan politik untuk mencoba membendung penurunan dan tidak ada yang mau melihat hal-hal lebih buruk," sebut Jacob Correll, analis Summit Energy Inc, di Kentucky.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengantaran Juli naik 62 sen menjadi 83,32 dollar AS per barrel di New York Mercantile Exchange, Selasa (12/6/2012) waktu setempat. Sedangkan minyak Brent untuk penetapan Juli merosot 86 sen, atau 0,9 persen, menjadi 97,14 dollar AS per barrel di ICE Futures Europe exchange, London.
Presiden bunk Sentral AS-Chicago, Charles Evans, mengatakan, ia akan mendukung sejumlah upaya untuk mendorong pertumbuhan lapangan kerja yang lebih cepat. Di sisi lain, persediaan minyak mentah mengalami penurunan terbanyak dalam hampir lima bulan pada minggu lalu seiring dengan melonjaknya produksi penyulingan. Laporan resmi mengenai persediaan minyak mentah AS akan keluar besok.
"Ada banyak kemauan politik untuk mencoba membendung penurunan dan tidak ada yang mau melihat hal-hal lebih buruk," sebut Jacob Correll, analis Summit Energy Inc, di Kentucky.