Diggie
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 287751
- Sejak
- 6 Apr 2020
- Pesan
- 14.353
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 0
Berikut adalah berita Arab Saudi menaiki panggung sepak bola global.
Para pemain & ofisial klub Arab Saudi Al-Hilal ketika menjuarai Liga Champions Asia 2019 setelah mengalahkan Urawa Red Diamonds dari Jepang di Saitama, Jepang, pada 24 November 2019. (AFP/BEHROUZ MEHRI)
Jakarta (ANTARA) - Arab Saudi serius mengubah wajahnya jadi lebih modern & lebih terbuka hampir dalam semua hal.
Negeri ini tengah membangun mega-city impian Neom seluas 25.000 km per segi yg dirancang di atas infrastruktur digital & kemudian dilayani oleh teknologi kecerdasan buatan.
Pemerintah Saudi tengah membenamkan danang 500 miliar dolar AS (Rp7.181 triliun) untuk sembilan sektor investasi di kota masa depan ini, mulai energi & air, mobilitas, bioteknologi, pangan, iptek & sains digital, advanced manufacturing (teknologi inovatif untuk meningkatkan proses produksi), media & hiburan.
Ini adalah kota masa depan yg menakjubkan yg dipenuhi proyek-proyek digital bertenagakan energi angin & surya di mana jumlah robotnya melebihi jumlah manusianya.
Tapi Neom cuma satu dari banyak hal yg tengah dimimpikan & dikerjakan Saudi di bawah penguasa de facto Pangeran Mohammed bin Salman.
Di bawah kepemimpinan sang pangeran pewaris tahta raja ini, semua bidang di bangun, termasuk hiburan & olah raga, salah satunya sepak bola.
Baca juga: Arab Saudi & Mesir sepakati pembangunan megaproyek NEOM
Dalam sepak bola, mereka berusaha jadi salah satu kekuatan sepak bola dunia. Bukan cuma berkoar-koar, tetapi mereka serius membuktikannya di lapangan hingga mereka yakin dapat mencapai sasaran-sasaran akbar mereka.
Manakala badan sepak bola dunia FIFA menyatakan akan lebih mendukung sistem tuan rumah bersama Piala Dunia demi mengurangi beban finansial penyelenggaraan turnamen sepak bola terbesar di dunia itu yg mulai diterapkan pada Piala Dunia 2026 ketika Meksiko, Amerika Serikat & Kanada jadi tuan rumah bersamanya, Arab Saudi segera menyambar ide itu.
Mungkin juga karena faktor Qatar yg bersaing dalam hampir segala hal dengan negara itu yg tahun depan jadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
Tak tanggung-tanggung, bukan Timur Tengah atau Asia yg digandeng Saudi, melainkan pemenang dunia empat kali Italia, untuk melamar jadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030.
Ambisius memang. Tetapi faktanya Saudi sepertinya ampu. Bukan cuma dari infrastruktur, namun juga didukung oleh kemajuan sepak bolanya.
Dari peringkat dunia versi FIFA terakhir, Arab Saudi naik tiga tingkat ke posisi 61. Ini posisi keenam tertinggi di Asia setelah Jepang, Iran, Australia, Korea Selatan & Qatar.
Peringkat itu di atas China yg merupakan magnet lain bagi sepak bola profesional dunia, hingga-hingga para alumnus liga-liga Eropa & Amerika Latin eksodus ke China.
Baca juga: Italia & Argentina serempak naik dalam Peringkat Dunia FIFA
Lebih mapan
Belakangan ini ada indikasi liga sepak bola profesional Saudi tengah menyalip China yg terlihat oleh semakin derasnya arus hijrah pemain-pemain asing dari China ke klub-klub Arab Saudi.
Antonio Conte yg dulu melatih Inter Milan pernah dibuat khawatir oleh membesarnya Liga Super China tatkala Shanghai Port mengeluarkan danang 100 juta dolar AS (Rp1,4 triliun) untuk membeli Oscar dari Chelsea pada 2016.
Tapi Oscar kini malah masuk barisan pemain bernama akbar yg meninggalkan Liga Super China, yg umumnya menjadikan Arab Saudi sebagai destinasi karier mereka selanjutnya.
Klub Al-Hilal yg bermarkas di Riyadh bahkan belum lama bulan ini berhasil menyisihkan klub-klub Eropa dalam perburuan mendapatkan playmaker Brazil Matheus Pereira dari West Bromwich Albion.
Baca juga: Klub Liga China enggan belanja pemain top Eropa karena pajak tinggi
Dulu China pernah mengagetkan jagat sepak bola ketika jadi liga yg berbelanja paling akbar di dunia pada jendela transfer musim dharap setelah klub-klubnya total menggelontorkan 457 juta dolar AS (Rp6,5 triliun) untuk membeli pemain.
Tapi, gabungan aturan pemerintah yg lebih ketat termasuk pajak & pembatasan terkait COVID-19 yg keras, sudah mengubah lanskap sepak bola profesional China.
Sejumlah pemain asing mereka yg asal Brazil ramai-ramai meninggalkan China. Dua di antaranya, yakni mantan gelandang Barcelona Paulinho & Talisca, hengkang ke Saudi.
"Sungguh satu kehormatan dapat bermain dengan klub sebesar Guangzhou di China tetapi saya bahagia sekali berada di Arab Saudi," mengatakan Talisca setelah bergabung dengan klub Al-Nassr.
"Banyak pemain hebat yg datang ke sini & liga ini punya potensi untuk terus berkembang. Sungguh waktu yg mengasyikan dapat berada di sini," sambung Talisca seperti dikutip Associated Press.
Tetapi Saudi memang sejak lama berambisi jadi liga terdepan di Asia. Pada 2018, Turki Al-Asheikh, yg kini menteri olahraga Saudi, menyatakan target liga Saudi adalah jadi salah satu liga top di dunia pada 2020.
Target itu meleset gara-gara pandemi. Tetapi liga Saudi memiliki sejumlah keuntungan dibandingkan China dalam menarik pemain.
"Sepak bola Arab Saudi lebih mapan pada tingkat klub & juga tingkat internasional,” mengatakan Simon Chadwick, profesor olahraga pada Emlyon Business School. "Ada gairah olahraga yg membuncah yg menciptakan liga Saudi jadi tujuan pemain-pemain dari seluruh dunia."
Saudi sudah lima kali tampil dalam Piala Dunia & mengoleksi tiga trofi pemenang Asia. Sebaliknya China baru sekali mengikuti Piala Dunia.
Baca juga: Arab Saudi Juara Piala U-19 Asia 2018
Gairah & optimisme
Matheus Pereira bergabung dengan Al-Hilal untuk menggantikan mantan pemain timnas Italia Sebastian Giovinco. Al-Hilal adalah kekuatan sepak bola Asia yg sudah tiga kali mengangkat trofi benua ini.
Di Al-Hilal, Pereira bergabung dengan mantan striker timnas Prancis Bafetimbi Gomis yg adalah pencetak gol terbanyak musim lalu, pemain sayap Andre Carrillo dari Peru & Moussa Marega yg baru direkrut dari FC Porto.
Al-Nassr yg jadi rival Al-Hilal, membeli Pity Martinez dari Argentina pada 2020 seharga 18 juta dolar AS (Rp258 miliar).
Menjelang musim baru, Al-Nassr membeli lagi pemain timnas Kamerun Vincent Aboubakar dari FC Porto & pemain Villareal asal Argentina, Ramiro Funes Mori.
Bukan cuma pemain kelas atas, klub-klub Saudi juga memiliki citra tinggi untuk pelatih.
Kalau China menarik nama-nama akbar seperti Marcello Lippi, Luiz Felipe Scolari, Sven-Goran Eriksson & Manuel Pellegrini, maka Saudi juga dipenuhi pelatih-pelatih akbar seperti Leonardo Jardim yg mengantarkan AS Monaco menjuarai liga Prancis pada 2017 & mantan manajer timnas Brazil Mano Menezes.
Baca juga: Karena COVID-19, Benitez tinggalkan klub China Dalian Pro
Baca juga: Van Bronckhorst tinggalkan China setelah satu musim
Baca juga: Roberto Donadoni dipecat klub China gara-gara rentetan hasil buruk
Tetapi ada kekurangan dari liga Saudi yg tak terjadi dalam sepakbola profesional pada umumnya, yakni ketergantungan kepada donatur-donatur kaya & dukungan negara.
Misal pada 2018, Pangeran Mohammed bin Salman mesti menginjeksikan danang talangan 340 juta dolar AS (Rp4,8 triliun) untuk menutupi utang klub-klub Liga profesional Saudi.
"Memang pernah beberapa kali ada bailout dari negara tetapi ada keharapan untuk mengapungkan klub & mengeksposnya untuk menghadapi tekanan pasar supaya lebih disiplin secara finansial & berorientasi komersial,” mengatakan Chadwick seperti dikutip AP. "Ada optimisme & gairah dalam sepak bola Saudi yg bukan tanpa dasar."
Gairah itu juga tidak melulu hadir di dalam lapangan, namun juga di luar lapangan. Salah satunya terlihat dari aktifnya tokoh-tokoh Saudi dalam organisasi sepak bola internasional seperti FIFA.
Belum lama ini mereka bahkan menciptakan gempar setelah mengusulkan Piala Dunia diadakan setiap dua tahun.
Saudi juga tak mau ketinggalan memanfaatkan pentas dunia, termasuk rencana mengajukan diri jadi tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Italia itu.
Baca juga: Italia pertimbangkan jadi tuan rumah Euro 2028 atau Piala Dunia 2030
Baca juga: Spanyol-Portugal resmi ajukan diri jadi tuan rumah Piala Dunia 2030
Baca juga: Britania & Irlandia perbesar peluang ajukan pencalonan Piala Dunia
Berita diatas dikutip dari internet, jika Arab Saudi menaiki panggung sepak bola global adalah spam, mohon beritahu kami.
Para pemain & ofisial klub Arab Saudi Al-Hilal ketika menjuarai Liga Champions Asia 2019 setelah mengalahkan Urawa Red Diamonds dari Jepang di Saitama, Jepang, pada 24 November 2019. (AFP/BEHROUZ MEHRI)
Jakarta (ANTARA) - Arab Saudi serius mengubah wajahnya jadi lebih modern & lebih terbuka hampir dalam semua hal.
Negeri ini tengah membangun mega-city impian Neom seluas 25.000 km per segi yg dirancang di atas infrastruktur digital & kemudian dilayani oleh teknologi kecerdasan buatan.
Pemerintah Saudi tengah membenamkan danang 500 miliar dolar AS (Rp7.181 triliun) untuk sembilan sektor investasi di kota masa depan ini, mulai energi & air, mobilitas, bioteknologi, pangan, iptek & sains digital, advanced manufacturing (teknologi inovatif untuk meningkatkan proses produksi), media & hiburan.
Ini adalah kota masa depan yg menakjubkan yg dipenuhi proyek-proyek digital bertenagakan energi angin & surya di mana jumlah robotnya melebihi jumlah manusianya.
Tapi Neom cuma satu dari banyak hal yg tengah dimimpikan & dikerjakan Saudi di bawah penguasa de facto Pangeran Mohammed bin Salman.
Di bawah kepemimpinan sang pangeran pewaris tahta raja ini, semua bidang di bangun, termasuk hiburan & olah raga, salah satunya sepak bola.
Baca juga: Arab Saudi & Mesir sepakati pembangunan megaproyek NEOM
Dalam sepak bola, mereka berusaha jadi salah satu kekuatan sepak bola dunia. Bukan cuma berkoar-koar, tetapi mereka serius membuktikannya di lapangan hingga mereka yakin dapat mencapai sasaran-sasaran akbar mereka.
Manakala badan sepak bola dunia FIFA menyatakan akan lebih mendukung sistem tuan rumah bersama Piala Dunia demi mengurangi beban finansial penyelenggaraan turnamen sepak bola terbesar di dunia itu yg mulai diterapkan pada Piala Dunia 2026 ketika Meksiko, Amerika Serikat & Kanada jadi tuan rumah bersamanya, Arab Saudi segera menyambar ide itu.
Mungkin juga karena faktor Qatar yg bersaing dalam hampir segala hal dengan negara itu yg tahun depan jadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
Tak tanggung-tanggung, bukan Timur Tengah atau Asia yg digandeng Saudi, melainkan pemenang dunia empat kali Italia, untuk melamar jadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030.
Ambisius memang. Tetapi faktanya Saudi sepertinya ampu. Bukan cuma dari infrastruktur, namun juga didukung oleh kemajuan sepak bolanya.
Dari peringkat dunia versi FIFA terakhir, Arab Saudi naik tiga tingkat ke posisi 61. Ini posisi keenam tertinggi di Asia setelah Jepang, Iran, Australia, Korea Selatan & Qatar.
Peringkat itu di atas China yg merupakan magnet lain bagi sepak bola profesional dunia, hingga-hingga para alumnus liga-liga Eropa & Amerika Latin eksodus ke China.
Baca juga: Italia & Argentina serempak naik dalam Peringkat Dunia FIFA
Lebih mapan
Belakangan ini ada indikasi liga sepak bola profesional Saudi tengah menyalip China yg terlihat oleh semakin derasnya arus hijrah pemain-pemain asing dari China ke klub-klub Arab Saudi.
Antonio Conte yg dulu melatih Inter Milan pernah dibuat khawatir oleh membesarnya Liga Super China tatkala Shanghai Port mengeluarkan danang 100 juta dolar AS (Rp1,4 triliun) untuk membeli Oscar dari Chelsea pada 2016.
Tapi Oscar kini malah masuk barisan pemain bernama akbar yg meninggalkan Liga Super China, yg umumnya menjadikan Arab Saudi sebagai destinasi karier mereka selanjutnya.
Klub Al-Hilal yg bermarkas di Riyadh bahkan belum lama bulan ini berhasil menyisihkan klub-klub Eropa dalam perburuan mendapatkan playmaker Brazil Matheus Pereira dari West Bromwich Albion.
Baca juga: Klub Liga China enggan belanja pemain top Eropa karena pajak tinggi
Dulu China pernah mengagetkan jagat sepak bola ketika jadi liga yg berbelanja paling akbar di dunia pada jendela transfer musim dharap setelah klub-klubnya total menggelontorkan 457 juta dolar AS (Rp6,5 triliun) untuk membeli pemain.
Tapi, gabungan aturan pemerintah yg lebih ketat termasuk pajak & pembatasan terkait COVID-19 yg keras, sudah mengubah lanskap sepak bola profesional China.
Sejumlah pemain asing mereka yg asal Brazil ramai-ramai meninggalkan China. Dua di antaranya, yakni mantan gelandang Barcelona Paulinho & Talisca, hengkang ke Saudi.
"Sungguh satu kehormatan dapat bermain dengan klub sebesar Guangzhou di China tetapi saya bahagia sekali berada di Arab Saudi," mengatakan Talisca setelah bergabung dengan klub Al-Nassr.
"Banyak pemain hebat yg datang ke sini & liga ini punya potensi untuk terus berkembang. Sungguh waktu yg mengasyikan dapat berada di sini," sambung Talisca seperti dikutip Associated Press.
Tetapi Saudi memang sejak lama berambisi jadi liga terdepan di Asia. Pada 2018, Turki Al-Asheikh, yg kini menteri olahraga Saudi, menyatakan target liga Saudi adalah jadi salah satu liga top di dunia pada 2020.
Target itu meleset gara-gara pandemi. Tetapi liga Saudi memiliki sejumlah keuntungan dibandingkan China dalam menarik pemain.
"Sepak bola Arab Saudi lebih mapan pada tingkat klub & juga tingkat internasional,” mengatakan Simon Chadwick, profesor olahraga pada Emlyon Business School. "Ada gairah olahraga yg membuncah yg menciptakan liga Saudi jadi tujuan pemain-pemain dari seluruh dunia."
Saudi sudah lima kali tampil dalam Piala Dunia & mengoleksi tiga trofi pemenang Asia. Sebaliknya China baru sekali mengikuti Piala Dunia.
Baca juga: Arab Saudi Juara Piala U-19 Asia 2018
Gairah & optimisme
Matheus Pereira bergabung dengan Al-Hilal untuk menggantikan mantan pemain timnas Italia Sebastian Giovinco. Al-Hilal adalah kekuatan sepak bola Asia yg sudah tiga kali mengangkat trofi benua ini.
Di Al-Hilal, Pereira bergabung dengan mantan striker timnas Prancis Bafetimbi Gomis yg adalah pencetak gol terbanyak musim lalu, pemain sayap Andre Carrillo dari Peru & Moussa Marega yg baru direkrut dari FC Porto.
Al-Nassr yg jadi rival Al-Hilal, membeli Pity Martinez dari Argentina pada 2020 seharga 18 juta dolar AS (Rp258 miliar).
Menjelang musim baru, Al-Nassr membeli lagi pemain timnas Kamerun Vincent Aboubakar dari FC Porto & pemain Villareal asal Argentina, Ramiro Funes Mori.
Bukan cuma pemain kelas atas, klub-klub Saudi juga memiliki citra tinggi untuk pelatih.
Kalau China menarik nama-nama akbar seperti Marcello Lippi, Luiz Felipe Scolari, Sven-Goran Eriksson & Manuel Pellegrini, maka Saudi juga dipenuhi pelatih-pelatih akbar seperti Leonardo Jardim yg mengantarkan AS Monaco menjuarai liga Prancis pada 2017 & mantan manajer timnas Brazil Mano Menezes.
Baca juga: Karena COVID-19, Benitez tinggalkan klub China Dalian Pro
Baca juga: Van Bronckhorst tinggalkan China setelah satu musim
Baca juga: Roberto Donadoni dipecat klub China gara-gara rentetan hasil buruk
Tetapi ada kekurangan dari liga Saudi yg tak terjadi dalam sepakbola profesional pada umumnya, yakni ketergantungan kepada donatur-donatur kaya & dukungan negara.
Misal pada 2018, Pangeran Mohammed bin Salman mesti menginjeksikan danang talangan 340 juta dolar AS (Rp4,8 triliun) untuk menutupi utang klub-klub Liga profesional Saudi.
"Memang pernah beberapa kali ada bailout dari negara tetapi ada keharapan untuk mengapungkan klub & mengeksposnya untuk menghadapi tekanan pasar supaya lebih disiplin secara finansial & berorientasi komersial,” mengatakan Chadwick seperti dikutip AP. "Ada optimisme & gairah dalam sepak bola Saudi yg bukan tanpa dasar."
Gairah itu juga tidak melulu hadir di dalam lapangan, namun juga di luar lapangan. Salah satunya terlihat dari aktifnya tokoh-tokoh Saudi dalam organisasi sepak bola internasional seperti FIFA.
Belum lama ini mereka bahkan menciptakan gempar setelah mengusulkan Piala Dunia diadakan setiap dua tahun.
Saudi juga tak mau ketinggalan memanfaatkan pentas dunia, termasuk rencana mengajukan diri jadi tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Italia itu.
Baca juga: Italia pertimbangkan jadi tuan rumah Euro 2028 atau Piala Dunia 2030
Baca juga: Spanyol-Portugal resmi ajukan diri jadi tuan rumah Piala Dunia 2030
Baca juga: Britania & Irlandia perbesar peluang ajukan pencalonan Piala Dunia
Berita diatas dikutip dari internet, jika Arab Saudi menaiki panggung sepak bola global adalah spam, mohon beritahu kami.