Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Entah siapa yg perdana kali memulai soal petasan jadi salah satu cara untuk menyambut Ramadan atau merayakan Lebaran. Yang jelas aktivitas ini sepertinya sudah jadi kebiasaan yg membudaya di banyak daerah tak terkecuali di salah satu Dusun di Tasikmalaya, sebut saja Dusun Sakagaluh.
Quote:
Setelah membaca sebuah artikel di IDN Times (25/4), konon petasan awal mula ditemukan di Cina 200 tahun Sebelum Masehi pada era Dinasti Han. Namun pada masa itu, petasan tidak dibuat dari mesiu melainkan potongan bambu yg dilempar pada api yg menyala sehingga menghasilkan bunyi ledakan yg tak kalah nyaringnya dengan petasan seperti sekarang.
Orang-orang zaman itu menyebut petasan bambu dengan istilah 'baouzhu' yg dianggap dapat mengusir makhluk gunung yg disebut 'Nian', kebiasaan buruknya adalah mengganggu manusia saat seremoni tahun baru.
Bicara soal ledakan seperti ini, jadi teringat masa kecil ketika bermain api pembakaran sampah bersama teman-teman. Saat itu, seorang warga -sebut saja Si Uwa- terlihat mendekati api pembakaran. Sepertinya ia hendak mengarahkan sampah dengan sebuah ranting kayu dari tepi ke arah perapian dengan maksud semua sampah segera dilahap Si jangok Merah.
Tiba-tiba, "Duarrr!"
Mungkin saat membacanya Agan/Sista tak begitu kaget, karena memang bunyinya dipandang cuma sebagai tulisan mengatakan yg biasa. Berbeda dengan kami yg saat itu berada di TKP. Terlebih Si Uwa yg paling dekat dengan perapian, begitu terperangah sembari memegang jemari sebelah tangannya. Ternyata tangan Si Uwa mengalami luka bakar yg cukup serius.
Ilustrasi pembakaran. (Foto: Pixabay)
Dengan tangan yg masih memegang tangan sebelahnya, Si Uwa lari ke kamar mandi bukan tiba-tiba kebelet pipis tetapi mengambil sesuatu dalam kemasan plastik, memencet kemasannya kemudian mengoles-ngolesnya ke jari-jari tangan yg mengalami luka bakar akibat ledakan misterius tadi.
Krim dalam kemasan itu sabun colek namanya, tetapi jangan tanyakan kenapa malah diobati sabun colek ya Gan/Sist. Entah ada zat apa di dalamnya saat itu memang luka Si Uwa sedikit mereda setelah tangannya dilumuri beberapa colek krim pencuci tersebut.
Sejak saat itu, pikiran masa kecilku tercerahkan bahwa sabun colek tidak cuma dapat mencuci noda tetapi juga dapat mencuci luka. Maksudnya luka bakar ya, bukan luka bakar karena api cemburu.
Si Uwa terlihat masih kepanasan & meniup-niupnya. Saat ditiup bukannya luka semakin dharap tetapi malah muncul bunyi-bunyian. Eh, ternyata Si Uwa salah tiup, malah niup peluit. Ya pantesan bunyi.
Enggak, gak gitu. Becanda Gan/Sist.
Kami segerombolan 'Si Bolang' langsung saling menoleh sembari bertanya-tanya, "Ledakan apa itu tadi?"
Usut punya usut, ternyata...
Pasti Agan/Sista langsung menduga dari 'apolo buntung' seperti di judul kan? Sayangnya, kita belum hingga ke cerita itu Gan/Sist. Sabar ya...
Ledakan bukan berasal dari rudal Israel atau Palestina, bukan juga dari 'apolo buntung' seperti yg ada pada judul, melainkan dari kaleng susu bekas yg terbakar.
Iya, betul Gan/Sist!
Ternyata kaleng susu bekas yg kosong dapat meledak saat dipanaskan. Jadi, jangan coba-coba deh melemparkan kaleng susu bekas ke perapian ya Gan/Sist.
Kalau kaleng susu baru dari warung yg masih ada isinya mungkin tidak mengakibatkan ledakan saat dilempar ke perapian karena tidak ada ruang kosong dalam kaleng tersebut. Tetapi dapat mengakibatkan kepala memar-memar. Lha kok dapat? Iya, karena benjol ditampol Abang yg punya warungnya. Lagian ngapain juga susu kaleng baru malah dilemparin kan Gan/Sis? Mending disedekahin.
Asal ledakan itu diketahui setelah ditemukannya kaleng susu bekas yg gosong & masih mengepulkan asap tergeletak beberapa meter dari perapian.
Ledakan kaleng kosong yg terbakar ini suaranya tak jauh beda dengan ledakan hati yg kosong ketika dibakar dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"
Bener gak, Gan/Sist?
Agan/Sista yg jomblo pasti merasakannya bukan?
Sama! Tapi, itu dulu. Sekarang sih ngaku-ngaku doank jomblonya. Tergantung situasi.
Itu tadi baru intro, Gan/Sist. Sekarang baru ni cerita 'apolo buntung'.
Ramadan memang tidak cuma ramai dengan kegiatan ibadah tetapi juga ramai dengan permainan anak-anak yg khas. Mulai dari ngadulag (bahasa Sundanya bermain bedug dengan irama tertentu), perang sarung setelah pengajian Subuh, ada juga desak-desakannya bocah saat tarawih.
Ilustrasi tarawih Ramadan. (Foto: Pixabay)
Bukan cuma desak-desakan Gan/Sist, ane pernah liat anak lagi terawih sambil makan kacang atom.
Kacang atomnya sih biasa aja, tetapi yg cukup menggelitik adalah cara anak ini memakan kacang atomnya.
Ni anak naroh kacang atom satu biji di tempat sujud, kemudian dia ikut shalat seperti orang dewasa pada umumnya. Kemudian ia melahap sebiji kacang atom itu bersamaan ketika mengerjakan gerakan sujud. Kemudian ia mengulangi gerakan tersebut selama salat tarawih berlangsung. Absurd banget kan?
Saat membacanya, mungkin Gan/Sist tak merasa begitu lucu. Berbeda dengan ane yg saat itu berada di TKP, hampir tak kuat menahan senyum ketika memerhatikannya. Sehingga pikiran iseng ane bergumam, "Apa teknik anak ini dipraktikkan aja ya biar jemaah pada semangat tarawihnya." Begitu kira-kira yg terbesit nyeleneh di benak saat itu.
Eh, jadi ketauan ane gak khusyuk tarawihnya.
Selain keramaian tersebut, masih ada lagi keramaian dari bocah-bocah Sakagaluh saat Ramadan. Sebagaimana banyak ditemukan di daerah lainnya, pada masanya bermain petasan adalah aktivitas wajib bagi anak-anak setiap harinya di kampung ane. Meskipun saat ini minat kepada petasan terlihat lebih rendah dibandingkan minat anak pada permainan gadget.
Di kampung ane petasan ini lebih diketahui dengan nama mercon, bahkan mungkin mercon ini lebih terkenal dari nama ketua RW kampungnya.
Biasanya banyak penduduk yg jarang tahu nama ketua RW-nya kan?. Bener gak?
Coba Gan/Sist sebutin nama ketua RW yg ada di masing-masing kampungnya?
Jangan-jangan gak tau juga ya?
Tapi beberapa dari Gan/Sist pasti ada juga yg tau donk nama ketua RW-nya? Berarti Gan/Sist kelompok ini adalah penduduk yg baik.
Atau dapat jadi kenal sama ketua RW-nya karena sering ngajuin sumbangan ya? Apalagi sekarang lagi masa pandemi, kemaren abis ngajuin BANPRES UMKM kan? Atau ngajuin Prakerja? Udah daftar 16 gelombang, gak keterima mulu ya?
Yasudah.
Lanjut...
Seperti Gan/Sist tahu bahwa mercon ini banyak macamnya. Ada mercon lempar, yaitu mercon yg meledak ketika terkena benturan. Ada mercon lampu, yaitu mercon yg bercahaya terang sekali ketika dinyalakan tetapi masih ada bunyi ledakan kecil ketika terkena benturan. Ada juga mercon apolo, begitu namanya di kampung ane untuk mercon yg memiliki gagang & dapat terbang & meledak di udara.
Nah, mercon apolo inilah yg menciptakan pikiran ane bernostalgia ke bulan Ramadan beberapa tahun silam.
Sebut saja namanya Si Kunang, saat malam pasca tarawih ia bermain apolo bersama anak-anak lain. Si Kunang ini usianya lebih muda dari ane yg saat itu ane -kalau tidak salah- masih duduk di bangku kelas 5 SD. Jadi, Si Kunang ini berbeda beberapa tahun sama ane.
Malam itu Si Kunang memulai aksinya dengan menyalakan mercon apolo miliknya. Sedangkan ane berada di halaman Masjid tempat riuhnya anak-anak yg melihat Si Kunang menyalakan apolo kebanggaannya.
Biasa, anak-anak kan semakin riang & bangga kalau menyalakan mercon ditonton banyak anak lainnya.
Pada pemandangan lain, jemaah masih terlihat mengantre di pintu Masjid hendak pulang ke rumahnya masing-masing.
Apolo pun tengah siap meluncur, ditandai dengan menyalanya sumbu pada bagian bawah. Percikan api mulai menjalar merambat ke sumbu yg tersambung ke bungkusan mesiu, pertanda beberapa detik lagi apolo akan segera lepas landas.
Dan, "Wuzzzzz....!!!"
Pandangan semua anak menengadah ke atas, berharap melihat apolo terbang & meledak nan jauh di atas sana, di antara temaramnya bintang-bintang malam Ramadan.
Sayangnya, apolo cuma terdengar suaranya tanpa terlihat ke mana arah terbangnya.
Kebingungan pandangan anak-anak pun seketika pecah saat mendengar bunyi, "Wuzzzzzzzz...zzzziuuuunggg...duaarrrrrrr!!!"
"Aaaaaaaaaaaaaaaakkkkk!!!!"
Suara dentuman apolo yg berujung nada tak biasa. Layaknya serangan rudal perang yg mengenai wilayah musuh. Jemaah yg tengah mengantre keluar pintu Masjid jadi riuh berkumpul dalam satu kerumunan.
Saat itu belum ada Covid-19 sehingga belum berlaku undang-undang tentang larangan kerumunan ya, Gan/Sist.
Dengan antusias, ane pun bergegas melihat kerumunan tersebut. Saat itu ane mengira ada seseorang yg terluka karena melihat orang begitu ramai berdesakkan.
"Aku dulu! Aku duluan!"
Begitu kira-kira seruan yg sama terdengar berulang kali. Ketika ane melihatnya, ternyata Pak Ustadz lagi dikerubutin anak-anak yg meminta tanda tangan sebagai bukti kehadiran di buku kegiatan Ramadan-nya.
Ketika itulah, ane baru tersadar bahwa ane mengunjungi kerumunan yg salah.
"Haduh, harusnya ke kerumunan yg satunya."
Setelah mengetahui TKP yg sesungguhnya, ane bergegas mendekatinya.
Benar saja, ternyata seorang wanita tua tergeletak tak sadarkan diri di samping 'apolo buntung' yg sudah hangus.
Seluruh pandangan jemaah mengintai ke sekitar, mencari siapa dalang di balik 'apolo buntung' yg menyebabkan Si Nenek pingsan. Namun sepertinya Si Kunang sudah lenyap dari Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Entah sengaja atau tidak, mercon apolo terlihat patah pada gagangnya yg dapat mengakibatkan penerbangannya tidak stabil. Sehingga dapat menerjang siapa saja yg berada di sekelilingnya. Kebetulan 'apolo buntung' lebih menyukai Si Nenek tua yg nahas itu.
Kalau gak percaya, Agan/Sista boleh coba. Beli mercon apolo, patahin gagangnya. Terus nyalain, jangan salahkan ane kalau apolo mengejar Gan/Sist atau menerobos pintu & meledak di halaman tetangga.
Tapi, ledakan mercon apolo masih kalah panasnya kalau dibandharap sama panasnya omongan tetangga. Bener gak Gan/Sist?
Ya, itu dia serba-serbi Ramadan di Kampung Sakagaluh tempat tinggal ane. Semoga berkenan di hati Agan/Sista sekalian. Jangan lupa, bagikan juga cerita Ramadan Agan/Sista & ramaikan #RamadanBerkah bersama KASKUS. Hari ini 13:26