Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Wah gengs, ada teori baru yg bikin kita makin kagum sama para pembangun piramida perdana di Mesir! Ternyata, tenaga air mungkin jadi rahasia akbar di balik kemegahan Piramida Raja Djoser yg dibangun hampir 4.700 tahun lalu. Kebayang nggak, gimana canggihnya teknik mereka pada zaman itu?
Jadi, piramida ini punya enam tingkat yg makin mengecil saat naik dari tanah, dengan ketinggian sekitar 62 meter di atas pekuburan Saqqara yang luas di Mesir utara. Nah, para peneliti sekarang menduga kalau para pembangun antik ini pakai sistem bertenaga air buat bantu ngebangun piramida ini. Gimana caranya? Mereka mungkin mengatur aliran air masuk & keluar dari poros akbar di dalam piramida, buat ngangkat & nurunin platform yg bawa batu-batu akbar ke tingkat yg lebih tinggi.
Bener-bener kreatif & canggih kan? Semakin banyak yg kita pelajari, semakin kagum sama kecerdasan para pembangun zaman dulu!
Para ilmuwan, dipimpin oleh Xavier Landreau, berbagi ide menarik ini pada 5 Agustus di PLOS ONE. Landreau, yg memiliki latar belakang dalam ilmu material & fisika, juga mendirikan sebuah lembaga penelitian swasta bernama Paleoteknik di Paris, Prancis, untuk mempelajari teknologi kuno.
Sampai sekarang, belum ada penjelasan yg diterima secara luas tentang bagaimana orang Mesir kuno membangun piramida raksasa mereka. Proses ini melibatkan jutaan balok besar, beberapa di antaranya memiliki berat hingga 2.500 kilogram (5.500 pon). Para pakar sudah mengusulkan berbagai teknik, seperti jalur landai, derek, & perangkat tali serta katrol untuk memindahkan batu-batu akbar ini.
Menariknya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa air mungkin memainkan peran penting dalam pembangunan piramida. Awal tahun ini, ditemukan sebuah anak sungai Nil antik yg mengalir di dekat letak piramida Djoser, yg mungkin sudah dipakai untuk mengangkut bahan bangunan & pekerja ke lokasi. Landreau mengusulkan bahwa air tidak cuma dipakai untuk transportasi, tetapi juga mungkin untuk mengendalikan aliran air dalam proses pembangunan, sebuah teknik yg diketahui sebagai hidrolika. Temuan ini memberikan wawasan baru tentang kecerdasan teknik yg dipakai oleh perancang piramida di Mesir kuno.
Sistem hidraulik yg diusulkan oleh para peneliti didasarkan pada model komputer yg canggih. Model ini memadukan data tentang fitur-fitur di dalam piramida & jaringan terowongan bawah tanah di sekitarnya, serta gambar satelit rinci dari wilayah tersebut. Dengan informasi ini, regu dapat memodelkan pola curah hujan & tingkat limpasan air dari masa lampau.
Selain piramida itu sendiri, model ini juga mencakup Gisr el-Mudir, sebuah struktur berdinding yg terletak beberapa ratus meter jauhnya. Gisr el-Mudir, yg perdana kali dideskripsikan pada tahun 1700-an, sudah lama jadi rahasia mengenai tujuan aslinya. Dalam model baru ini, Gisr el-Mudir diperkirakan berfungsi untuk menangkap air banjir yg mengalir melalui saluran gurun selama hujan lebat. Air tersebut kemudian dialirkan ke sebuah cekungan di sebelah barat tempat pemakaman Djoser, yg mungkin sementara waktu berubah jadi danau setelah hujan lebat. Danau ini kemudian mengalirkan air ke parit batu kapur di sekitar kompleks pemakaman, yg kini diketahui sebagai Dry Moat.
Penelitian ini menawarkan wawasan baru yg menarik tentang bagaimana masyarakat antik memanfaatkan kondisi alam untuk membangun & melindungi situs-situs suci mereka.
Para peneliti menduga bahwa air dari Dry Moatdapat dialirkan ke dalam dua poros akbar di dalam piramida, salah satunya adalah poros utara. Di dekat bagian bawah poros ini terdapat ruang granit yg berisi sumbat batu. Jika sumbat tersebut dilepas, air dapat mengalir masuk, memungkinkan poros ini berfungsi sebagai kerangka untuk lift bertenaga air.
Mereka membayangkan sebuah pelampung kayu akbar ditempatkan di atas ruang granit, dihubungkan dengan tali panjang yg melewati katrol di atas poros. Tali tersebut terhubung ke platform pengangkat yg dipakai para pekerja untuk memindahkan batu bangunan.
Saat air mengisi poros, pelampung akan naik & platform akan turun ke area pemuatan. Setelah batu-batu akbar dimuat, poros akan dikeringkan, menciptakan pelampung turun & menarik platform serta muatannya ke tingkat konstruksi yg lebih tinggi. Dengan sistem ini, insinyur antik kemungkinan sudah merancang cara cerdas untuk memindahkan batu-batu akbar dengan mengpakai prinsip keseimbangan antara pelampung & platform. Hal ini memungkinkan mereka untuk membangun piramida dengan efisiensi yg luar biasa.
Para peneliti yg tidak terlibat dalam penelitian ini menemukan ide tentang tenaga air di piramida cukup menarik, tetapi beberapa dari mereka skeptis bahwa teknik ini pernah dipakai oleh para pembangun piramida. Oren Siegel, seorang arkeolog di Universitas Toronto, Kanada, meragukan bahwa Gisr el-Mudir, situs yg diusulkan untuk mengpakai sistem hidrolik, dapat menampung cukup air dari hujan yg jarang terjadi di daerah tersebut. Menurutnya, situs ini lebih mungkin dipakai sebagai eksperimen awal untuk menguji pembangunan kandang batu yg nantinya akan mengelilingi makam firaun dalam skala yg lebih besar.
Kamil Kuraszkiewicz, seorang pakar Mesir di Universitas Warsawa, Polandia, juga meragukan keberadaan danau yg diusulkan untuk menggerakkan sistem hidrolik ini. Dia mencatat bahwa tidak ada catatan tentang danau semacam itu dalam tulisan-tulisan Mesir kuno. Selain itu, Kuraszkiewicz menunjukkan bahwa batu-batu yg dipakai dalam piramida Djoser, yg beratnya sekitar 300 kilogram per balok, relatif lebih kecil & lebih mudah dipindahkan dibandingkan balok-balok akbar yg dipakai dalam piramida-piramida berikutnya. Menurutnya, membangun sistem hidrolik bertenaga air seperti yg diusulkan akan membutuhkan lebih banyak usaha daripada cuma memindahkan balok-balok batu mengpakai tenaga manusia saja.
source: www.snexplores.org/article/waterpower-build-egypt-first-pyramid
pic: unsplash.com/Omar Elsharawy
Jadi, piramida ini punya enam tingkat yg makin mengecil saat naik dari tanah, dengan ketinggian sekitar 62 meter di atas pekuburan Saqqara yang luas di Mesir utara. Nah, para peneliti sekarang menduga kalau para pembangun antik ini pakai sistem bertenaga air buat bantu ngebangun piramida ini. Gimana caranya? Mereka mungkin mengatur aliran air masuk & keluar dari poros akbar di dalam piramida, buat ngangkat & nurunin platform yg bawa batu-batu akbar ke tingkat yg lebih tinggi.
Bener-bener kreatif & canggih kan? Semakin banyak yg kita pelajari, semakin kagum sama kecerdasan para pembangun zaman dulu!
Para ilmuwan, dipimpin oleh Xavier Landreau, berbagi ide menarik ini pada 5 Agustus di PLOS ONE. Landreau, yg memiliki latar belakang dalam ilmu material & fisika, juga mendirikan sebuah lembaga penelitian swasta bernama Paleoteknik di Paris, Prancis, untuk mempelajari teknologi kuno.
Sampai sekarang, belum ada penjelasan yg diterima secara luas tentang bagaimana orang Mesir kuno membangun piramida raksasa mereka. Proses ini melibatkan jutaan balok besar, beberapa di antaranya memiliki berat hingga 2.500 kilogram (5.500 pon). Para pakar sudah mengusulkan berbagai teknik, seperti jalur landai, derek, & perangkat tali serta katrol untuk memindahkan batu-batu akbar ini.
Menariknya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa air mungkin memainkan peran penting dalam pembangunan piramida. Awal tahun ini, ditemukan sebuah anak sungai Nil antik yg mengalir di dekat letak piramida Djoser, yg mungkin sudah dipakai untuk mengangkut bahan bangunan & pekerja ke lokasi. Landreau mengusulkan bahwa air tidak cuma dipakai untuk transportasi, tetapi juga mungkin untuk mengendalikan aliran air dalam proses pembangunan, sebuah teknik yg diketahui sebagai hidrolika. Temuan ini memberikan wawasan baru tentang kecerdasan teknik yg dipakai oleh perancang piramida di Mesir kuno.
Sistem hidraulik yg diusulkan oleh para peneliti didasarkan pada model komputer yg canggih. Model ini memadukan data tentang fitur-fitur di dalam piramida & jaringan terowongan bawah tanah di sekitarnya, serta gambar satelit rinci dari wilayah tersebut. Dengan informasi ini, regu dapat memodelkan pola curah hujan & tingkat limpasan air dari masa lampau.
Selain piramida itu sendiri, model ini juga mencakup Gisr el-Mudir, sebuah struktur berdinding yg terletak beberapa ratus meter jauhnya. Gisr el-Mudir, yg perdana kali dideskripsikan pada tahun 1700-an, sudah lama jadi rahasia mengenai tujuan aslinya. Dalam model baru ini, Gisr el-Mudir diperkirakan berfungsi untuk menangkap air banjir yg mengalir melalui saluran gurun selama hujan lebat. Air tersebut kemudian dialirkan ke sebuah cekungan di sebelah barat tempat pemakaman Djoser, yg mungkin sementara waktu berubah jadi danau setelah hujan lebat. Danau ini kemudian mengalirkan air ke parit batu kapur di sekitar kompleks pemakaman, yg kini diketahui sebagai Dry Moat.
Penelitian ini menawarkan wawasan baru yg menarik tentang bagaimana masyarakat antik memanfaatkan kondisi alam untuk membangun & melindungi situs-situs suci mereka.
Para peneliti menduga bahwa air dari Dry Moatdapat dialirkan ke dalam dua poros akbar di dalam piramida, salah satunya adalah poros utara. Di dekat bagian bawah poros ini terdapat ruang granit yg berisi sumbat batu. Jika sumbat tersebut dilepas, air dapat mengalir masuk, memungkinkan poros ini berfungsi sebagai kerangka untuk lift bertenaga air.
Mereka membayangkan sebuah pelampung kayu akbar ditempatkan di atas ruang granit, dihubungkan dengan tali panjang yg melewati katrol di atas poros. Tali tersebut terhubung ke platform pengangkat yg dipakai para pekerja untuk memindahkan batu bangunan.
Saat air mengisi poros, pelampung akan naik & platform akan turun ke area pemuatan. Setelah batu-batu akbar dimuat, poros akan dikeringkan, menciptakan pelampung turun & menarik platform serta muatannya ke tingkat konstruksi yg lebih tinggi. Dengan sistem ini, insinyur antik kemungkinan sudah merancang cara cerdas untuk memindahkan batu-batu akbar dengan mengpakai prinsip keseimbangan antara pelampung & platform. Hal ini memungkinkan mereka untuk membangun piramida dengan efisiensi yg luar biasa.
Para peneliti yg tidak terlibat dalam penelitian ini menemukan ide tentang tenaga air di piramida cukup menarik, tetapi beberapa dari mereka skeptis bahwa teknik ini pernah dipakai oleh para pembangun piramida. Oren Siegel, seorang arkeolog di Universitas Toronto, Kanada, meragukan bahwa Gisr el-Mudir, situs yg diusulkan untuk mengpakai sistem hidrolik, dapat menampung cukup air dari hujan yg jarang terjadi di daerah tersebut. Menurutnya, situs ini lebih mungkin dipakai sebagai eksperimen awal untuk menguji pembangunan kandang batu yg nantinya akan mengelilingi makam firaun dalam skala yg lebih besar.
Kamil Kuraszkiewicz, seorang pakar Mesir di Universitas Warsawa, Polandia, juga meragukan keberadaan danau yg diusulkan untuk menggerakkan sistem hidrolik ini. Dia mencatat bahwa tidak ada catatan tentang danau semacam itu dalam tulisan-tulisan Mesir kuno. Selain itu, Kuraszkiewicz menunjukkan bahwa batu-batu yg dipakai dalam piramida Djoser, yg beratnya sekitar 300 kilogram per balok, relatif lebih kecil & lebih mudah dipindahkan dibandingkan balok-balok akbar yg dipakai dalam piramida-piramida berikutnya. Menurutnya, membangun sistem hidrolik bertenaga air seperti yg diusulkan akan membutuhkan lebih banyak usaha daripada cuma memindahkan balok-balok batu mengpakai tenaga manusia saja.
source: www.snexplores.org/article/waterpower-build-egypt-first-pyramid
pic: unsplash.com/Omar Elsharawy