Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
SEBAGIAN BESARumat Kristen di seluruh dunia merayakan hari kelahiran Yesus Kristus (Inggris;Jesus Christ, Ibrani;Yashua Hamasiach, Arab;Isa Almasih) yg diyakini menurut Alkitab (Injil) sebagai Mesias sang Juru Selamat pada tanggal 25 Desember tiap tahunnya. Namun pertanyaannya, apakah benar Yesus lahir pada tanggal 25 Desember & apakah itu sesuai dengan yg tertulis dalam Alkitab? Dapatkah kita menentukan hari kelahiran Yesus yg sesungguhnya?
Pertanyaan tersebut memang tidak dapat dijawab oleh umat (jemaat) Kristiani yg tidak pernah mempelajari sejarah & dasar Alkitabiah mengenai lahirnya Yesus Kristus berdasarkan literatur-literatur antik (asli) berbahasa Ibrani dari tradisi bangsa Israel (Yahudi) menurut perhitungan kalender mereka. Sebab hingga sejauh ini, narasi sejarah gereja dunia yg dominan sebagai hasil peninggalan Gereja Katolik Roma sudah mendikte banyak Gereja & orang Kristen hingga mereka meyakini bahwa tanggal 25 Desember merupakan hari kelahiran Yesus Kristus, sang penebus dosa manusia.
Nah, untuk mencari jawaban mengenai hari kelahiran Yesus Kristus yg sebenarnya, kita dapat mendasarkannya pada apa yg tertulis dalam Alkitab itu sendiri. Jadi tidak perlu mencari ke mana-mana. Sebab Alkitab sudah menyediakan informasi yg jelas & berharga tentang kelahiran Yesus. Tulisan ini mungkin berisi penjelasan yg ofensif untuk orang Kristen yg sudah terlanjur menganggap kelahiran Yesus adalah pada tanggal 25 Desember. Padahal ini jelas kekeliruan !
Mesias Palsu & Hari Kelahirannya
Setelah manusia jatuh ke dalam dosa oleh tipu daya Setan di Taman Eden, maka TUHAN (Ibrani: YAHWE, YHWH/ELOHIM) berfirman bahwa Mesias akan datang dari keturunan perempuan sehingga Setan (Iblis) akan dikalahkan olehnya (Kejadian 3:15). Karena itu Setan tidak tinggal diam begitu saja. Ia berusaha untuk menggagalkan rencana YAHWE dengan menciptakan Mesias Tandingan atau Mesias Palsu.
Rencana itu dimulai ketika umat manusia mula-mula bermukim di satu tempat bernama Babylon (Babel, menurut sejarah Alkitab, Babel merupakan suatu tempat yg sekarang masuk dalam wilayah negara Irak modern). Setan (Iblis) sudah merencanakan supaya mesias yg palsu harus sedapat mungkin identik dengan mesias asli yg akan datang nanti. Karena itu Setan menirukan apa yg jadi rencana akbar YAHWE, pertama-tama dengan menghadirkan mesias palsu itu juga dari keturunan perempuan.
Setan (Iblis) lalu menerapkan gagasannya itu pada diri seorang perempuan yg ambisius bernamaSemiramisyang merupakan janda dariNimrod(seorang yg dalam Alkitab dijelaskan sebagai pemburu yg gagah perkasa & orang yg pernah berkuasa atas seluruh umat manusia di bumi serta menjadikan dirinya seolah-olah Tuhan atas rakyatnya). Nimrod sangat terkenal sehingga disembah sebagaititisan Sang Dewa Matahari.
Setelah kematian Nimrod, Semiramis (istri Nimrod) berusaha untuk mempertahankan kekuasaan suaminya itu. Seperti suaminya, ia juga berambisi untuk menjadikan dirinya seolah-olah sebagai Tuhan bagi rakyatnya. Semiramis kemudian menipu rakyatnya dengan melacurkan diri & hasilnya ia kemudian mengatakan bahwa dia sudah mengandung secara ajaib & bahwa suaminya Nimrod sudah berinkarnasi kembali dengan jadi anak yg tengah berada di kandungannya.
Atas dasar inilah, Semiramis kemudian disembah sebagai Dewi Ishtar yg digelari Ratu Sorga & Bunda. Anak yg dilahirkannya itu kemudian dinamakanTammuzyang artinyaSang Tunas,raja Babylon (Babel) yg baru, tuhan yg gagah perkasa. Tammuz ini kemudian disembah dengan simbol pohon sebagai sang tunas.
Ungkapan Sang Tunas ini mengingatkan kita akan berbagai nubuatan Alkitab tentang bagaimana Yesus sebagai Mesias yg sesungguhnya akan dipanggil (baca Yesaya 11:1, 52:2, Yeremia 23:5, Zakaria 6:12). Disini jelas bahwa Setan (Iblis) si jahat penipu itu sudah menghadirkan Tammuz untuk jadi mesias tandingan, jauh mendahului kehadiran Mesias yg sebenarnya: Yesus Kristus. Inilah yg kemudian jadi sumber penyembahan berhala(Paganisme)di dunia.
Seluruh berhala di muka bumi, baik yg diceritakan di dalam Alkitab maupun yg terdapat dalam berbagai mitologi dengan perubahan & ragam nama, dapat ditelusuri akarnya berasal dari penyesatan Babylon ini. Sebab dalam Alkitab diceritakan bahwa Babylonia (Babel) sejak awal sudah jadi pusat peradaban manusia yg pertama. Peristiwa akbar yg diketahui pada masa itu adalah rencana pendirian menara Babel yg tingginya hingga ke langit. Namun gagal & akhirnya manusia dikacaukan dengan bahasa yg berbeda-beda untuk selanjutnya menyebar ke seluruh bumi.
Ada dua seremoni akbar yg diadakan di Babylonia berkaitan dengan kisah Paganisme tersebut.Perayaan pertamaadalah seremoni musim dharap yg diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Tammuz sebagai inkarnasi dewa matahari. Kelahirannya dirayakan pada saat titik balik mentari di musim dharap (winter soltice), yg tiap tahunnya jatuh pada tanggal 25 Desember.
Perayaan keduaadalah seremoni musim semi (spring equinox) untuk memperingati kebangkitan Nimrod. Perayaan ini berlangsung selama 40 hari dimana setiap harinya pada saat mentari terbit. Disini mereka akan menaikan puji-pujian kepada Nimrod yg diyakini sudah bangkit dari kematiannya.
Alkitab & Hari Kelahiran Yesus
Alkitab secara jelas mengatakan bahwa Yesus Kristus (Inggris;Jesus Christ, Ibrani;Yashua Hamasiach, Arab;Isa Almasih) yg lahir sebagai Mesias di tengah-tengah bangsa Ibrani (Yahudi/Israel) melalui perawan Maria adalah pada Hari Raya Pondok Daun atau disebut Hari Raya Sukkot oleh bangsa Ibrani yg jatuh pada musim gugur. Tepatnya pada 15 Tishri (antara akhir September-Oktober) sesuai penanggalan kalender orang Ibrani (Yahudi/Israel) yg juga memiliki 12 bulan dalam sistem kalender mereka.
Adapun bulan dalam kalender Ibrani adalah : Nisan (Maret-April), Iyyar (April-Mei), Sivan (Mei-Juni), Tammuz (Juni-Juli), Av (Juli-Agustus), Elul (Agusuts-September), Tishri (September-Oktober), Keshvan (Oktober-November), Kislev (November-Desember), Tevet (Desember-Januari), Shevat (Januari-Februari & Adar (Februari-Maret).
Hari raya Pondok Daun (fFeast of Tabernacle) atau disebut Hari Raya Sukkot dalam tradisi bangsa Ibrani, dilakukan sebagai peringatan bahwa TUHAN (YAHWE/ELOHIM) sudah berdiam di tengah-tengah kemah orang Israel ketika DIA (YAHWE) menuntun mereka melalui perantara Musa (Ibrani; Moshe) & Harun (Ibrani: Aaron) keluar dari perbudakan/penjajahan/penindasan di tanah Mesir.
Imamat 23:34,42-43 berbunyi: YAHWE Berfirman Kepada Musa (Moshe):Katakanlah kepada orang Israel begini;Pada hari yg kelima belas bulan yg ke tujuh(Tishri)ada Hari Raya Pondok Daun (Sukkot) bagi YAHWE tujuh hari lamanya.Di dalam pondok-pondok daun anda harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa AKU sudah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama AKU menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir.
Masih ada tema & pesan-pesan lain yg berhubungan dengan hari Raya Sukkot (Pondok Daun) sebagai saat dimana Yesus dilahirkan. Dalam Lukas 2:12, kita menemukan bayi Yesus (Yashua) dibungkus dalam kain lampin. Kain ini biasanya dipakai sebagai suluh (obor) tong minyak dalam Ruang Pertemuan pada salah satu ruangan dalam bait suci orang Israel (Sinagogue) selama seremoni Sukkot. Dalam Alkitab Yesus diceritakan lahir di dalam sebuah kandang hewan & dibaringkan dalam palungan (Lukas 2:7).Kata Ibrani untuk kandang hewan semacam ini adalah Sukkhot(jamak), seperti dalam Kejadian 33:17.
Ketika malaikat menampakan diri di hadapan gembala-gembala, mereka mengucapkan perkataan yg sangat mirip dengan liturgi kuno hari raya Sukkot (Pondok Daun) itu: aku memberikan kepadamu kesukaan besar (Luk 2:10). Tentu saja diluar informasi yg terdapat dalam Alkitab mengenai kapan tepatnya Yashua (Yesus) dilahirkan. Ada pula alasan kuat mengapa IA tidak dilahirkan pada bulan Desember. Kaisar Agustus (Kaisar Romawi saat itu) memerintahkan pelaksanaan sensus di seluruh kerajaan Romawi (Lukas 2:1).
Selama bulan Tevet (Desember-Januari) dalam kalender Ibrani, pada bagian dunia ini sedang berlangsung musim dharap. Salju turun di banyak tempat dalam kerajaan Romawi (Israel/Palestina saat itu dikuasai Romawi) & cuacanya sama sekali tidak mendukung untuk bepergian. Jadi secara logika, Kaisar Agustus tidak mungkin mengharapkan seluruh penduduk untuk berpergian dalam keadaan bersalju (dharap), melalui jalan-jalan yg jadi sulit dilewati untuk mengikuti program sensus penduduk tersebut. Sehingga jelas, sensus ini tidak mungkin dilaksanakan pada bulan Desember.
Alkitab (Lukas 2:8) juga menceritakan kepada kita bahwa para gembala sedang menunggui kawanan domba mereka: Di daerah itu ada gembala-gembala yg yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.Jadi sangat tidak logis membayangkan ada gembala-gembala yg menggiring domba-domba mereka merumput diatas salju di bulan Desember, sebab tidak ada rumput yg tumbuh di musim dharap.
Dengan menempatkan kelahiran Yesus pada hari raya Sukkot (Pondok Daun), maka hari ke delapan menurut tradisi Yahudi, Yesus disunat pada hari terakhir dari Perayaan Sukkot (Imamat 23:36,39), yg diketahui dalam tradisi orang Israel sebagai Hari Raya Simkhat Torah (Sukacita Taurat).
Sebaliknya, tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yg menyatakan Yesus (Yashua/Isa/Jesus) lahir pada tanggal 25 Desember. Secara logika juga sulit untuk menjelaskan bagaimana mungkin para gembala dapat berbaring di malam hari pada bulan Desember yg dharap & bersalju. Bagaimana mereka dapat menggiring domba-domba untuk merumput diatas salju pada bulan Desember, sebab tidak ada rumput yan g tumbuh di musim dharap.
Pertanyaannya, Jika Yesus tidak dilahirkan pada musim dharap & tidak ada satu pun firman TUHAN (YAHWE) yg menyatakan kita harus merayakan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember, maka apa yg menyebabkan manusia (Gereja & Umat Kristiani) menerapkan tanggal itu sebagai hari kelahiran Yesus?
Dalam karya monumental,The Two BabylonsRev. Alexander Hislop (1858) menulis: Bahwa hari raya Natal berasal-usul dari seremoni berhala (Paganisme) sangat tidak diragukan lagi. Penentuan waktu & upacara-upacara di dalamnya yg masih dirayakan hingga hari ini membuktikan asal usul itu. Di Mesir, anak Isis, dewi yg diketahui sebagai ratu surga, dilahirkan pada masa-masa Natal. Sekitar saat titik balik mentari di musim dharap.
Nama mula-mula dari Natal (bahasa Italia; Natale, Inggris;Christmas) yg populer diketahui diantara kitaYule Daymembuktikan pada awalnya berasal dari kebudayaan berhala (Paganisme) Babylonia. Kata Yule, dalam bahasa Kaldea berarti Bayi atau anak Kecil & tanggal 25 Desember disebut juga oleh Bangsa Anglo-Saxon (orang-orang kulit putih Eropa) sebagai Yule Day atau Hari Anak & malam sebelum hari itu (24 Desember malam) disebut dengan Hari Bunda.
Perayaan Hari Anak & Hari Ibu itu sudah lama diketahui oleh orang kulit putih Eropa (Bangsa Angglo-Saxon) antik jauh sebelum mereka mengenal & memeluk Agama Kristen. Hal ini jelas memberi bukti seperti apa wujud asli & sejarah seremoni tanggal 25 Desember. Sebab hari raya kelahiran ini sudah lama diketahui & dirayakan dalam kebudayaan kafir-berhala Paganisme kuno.
Rev. Alexander Hislod dalam bukunyaThe Two Babylonslebih jauh menerangkan bahwa sebelum adanya ke-Kristenan (agama Kristen), penduduk Roma sudah mengadaptasi perayaan-perayaan Paganisme Babylon itu jadi hari-hari raya utama mereka. Karena sudah diadaptasi, orang Roma sudah terbiasa melaksanakan seremoni itu secara besar-besaran tiap tahunnya. Ketika orang Roma menciptakan sistem kalender mereka sendiri, mereka lalu menetapkan penanggalan yg pasti untuk hari-hari raya mereka itu.
Menurut penanggalan mereka (orang Roma), saat terjadinya titik balik mentari di musim dharap sering jatuh pada tanggal 25 Desember & itulah hari dimana penduduk Roma setelah jadi Kristen lantas merayakannya sebagai hari kemenangan YAHWE yg terlahir kembali ke dunia sebagai Mesias dalam diri Yesus (Yeshua). Nama hari itu adalahNatalis Invicti Solis atau Hari Kelahiran Dewa Matahari Yang Tak Terkalahkan. Dari nama itulah kita memperoleh istilah Natal.
Orang-orang Roma menyebut Dewa Matahari ini dengan sebutan Saturnalis & seremoni ini kemudian diketahui sebagai Perayaan Saturnalia.NAMUN, ketika penduduk Roma secara perlahan-lahan jadi pengikut Yesus (Yashua) melalui pemberitaan Rasul Paulus & murid-murid lain yg menginjili wilayah kerajaan Roma, mereka (orang Roma) tidak mudah melepaskan tradisi lama & hari-hari raya Paganisme Saturnalia mereka begitu saja.
Perlu diketahui bahwa setidaknya sejak zaman pertama, Rasul Paulus sudah mengecam orang-orang (bangsa-bangsa) bukan Yahudi (non Yahudi, Inggris: Gentiles, Ibrani: Goyim) yg mencoba untuk menyesuaikan (mensinkretisme) tradisi & hari-hari raya berhala mereka yg lama ke dalam kepercayaan Iman Kristen sebagai agama yg baru dianut oleh mereka (baca Galatia 4:8-11). Kecaman serupa juga dapat ditemukan dalam tulisan Bapa Gereja Tertulianus (sekitar tahun 230) yg mengecam ketidak-konsistenan orang-orang Kristen, dibandingkan ketaatan mereka kepada penyembahan berhala (Paganisme).
Tertulianus menulisKita (orang-orang bukan Yahudi) yg asing kepada Sabat (hari Sabtu), bulan baru & hari-hari raya (YAHWE), ketika dijadikan layak oleh YAHWE, mengapa terus merayakan seremoni Saturnalia (perayaan Dewa Matahari), Perayaan Januari, Perayaan Brumalia, & Matronalia,: penyembahan dibawa ke sana-kemari, hadiah tahun baru dibuat dengan hiruk-pikuk, permainan & perjamuan pesta dirayakan dengan hingar-bingar. Oh.., alangkah jauh lebih taatnya para penyembah berhala itu kepada agama lama mereka, yg dengan teliti tidak mencampuradukan peribadatan mereka dengan peribadatan Kristen.
Salah satu bukti sejarah lain yg menyatakan bahwa orang Kristen Roma saat itu masih kuat merayakan tradisi seremoni mereka yg lama (Saturnalia) & mencampuradukannya ke dalam agama Kristen karena saat itu Kaisar Konstantinus melalui Dekrit Milan (313) menyatakan bahwa barangsiapa (diantara orang-orang Kristen) yg kedapatan masih merayakan hari-hari raya Ibrani (orang Israel/Yahudi), mereka akan dihukum.
Hal itu terjadi karena ada beberapa hal. Menurut sejumlah referensi sejarah gereja, salah satunya karena gereja sudah dipengaruhi oleh doktrin/ajaran Theologia Penggantian (Replacement Theology) yg menyakini bahwa bangsa Israel/Yahudi hanyalah bangsa opsi menurut sejarah masa lalu mereka. Namun karena ketidaktaatan & karena mereka sudah menolak Yesus sebagai Mesias dari YAHWE, lalu membunuh & menyalibkan Yesus, maka keselamatan sudah menjauh dari bangsa Yahudi/Israel & beralih kepada bangsa-bangsa lain bukan Yahudi (Inggris: Gentiles, Ibrani: Goyim) yg percaya & mengakui Yeshua (Yesus) sebagai Mesias dari YAHWE.
Doktrin Replacement Theology yg masih terbawa hingga hari ini itu pun mengakui bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi yg percaya & mengakui Yesus sebagai Mesias praktis sudah menggantikan/menggeser (mere-place) posisi bangsa Israel/Yahudi sebagai bangsa opsi secara fisik namun tidak lagi jadi bangsa opsi secara rohani. Bahwa bangsa-bangsa lain yg bukan Yahudi namun sudah mengakui Yesus sebagai Mesias adalah Israel-Israel rohani yg sejati.
Gereja pada masa itu juga sangat antipati & tidak menyukai tradisi ke-Kristenan yg terkait dengan pengaruh tradisi ke-Yayahudian. Gereja menganggap bahwa orang Yahudi sudah membunuh Yesus & menolaknya sebagai Mesias sehingga mereka patut menanggung sanksi dengan dibakar di neraka atas penolakan mereka kepada Yesus sebagai Mesias dari YAHWE. Mengenai hal ini, film Passion of Christ hasil garapan sutradara terkenal Mel Gibson dapat memperjelasnya.
Disamping itu, faktor lain adalah karena sikap Anti-Semitisme yg berkembang pada gereja & jemaat di masa-masa awal, dimana pencampuran hal-hal politis & agama sudah menciptakan jurang permusuhan antara gereja dengan orang-orang Yahudi yg juga dibenci karena hal-hal eksklusifitas ke-Yahudian & pengaruh-pengaruh sosial-politik lainnya.
Istilah Christmas & Pohon Natal
Istilah Christmas itu sendiri baru muncul sekitar tahun 450 ketika Paus Yulius mengeluarkan dekrit bahwa seluruh umat Kristen harus merayakan hari kelahiran Mesias (Yesus Kristus) pada saat yg bersamaan dengan seremoni Saturnalia (perayaan Dewa Matahari). Ini untuk menandakannya sebagai Christe-Masse atau Masa Pengikut Yesus.
Seribu tahun kemudian Christe Massasudah jadi seremoni terbesar, atau tidak terpisahkan & identik dengan ke-Kristenan.PERSOALANNYA, tidak ada satu pun yg tahu tentang asal-usul itu sehingga tokoh reformasi gereja Marthen Luther & Yohanis Calvin, karena ketidaktahuan mereka, lantas meneruskan saja tradisi ini (tradisi Paganisme Saturnalia) setelah muncul Gereja Protestan yg terpisah dari Gereja Katolik Roma.
Lalu bagaimana dengan latar belakang sejarah dari ikon Pohon Natal (Christmas Tree) yg diatas puncaknya sering dipasang bintang? Ternyata, cuma sedikit pula yg mengetahui pohon natal berasal-mula dari kepercayaan berhala (Paganisme) Babylon itu, yg dulunya dipakai sebagai simbol Tammuz (anak Nimrod dari Semiramis yg disimbolkan sebagai jelmaan Dewa Matahari), yg tidak lain sebagai Mesias Palsu buatan Setan (Iblis). Pohon natal dulu dipakai sebagai redivivus Nimrod atau YAHWE yg lahir kembali dari kematian.
Orang Mesir memakai Pohon Palem sebagai pohon natal. Orang Rusia memakasi Pohon Cemara. Pohon Palem itu melambangkan Mesias Palsu: Baal-Tamar & Pohon Cemara melambangkan Baal-Berith. Orang-orang barat (Anglo-Saxon) & Druit juga mengpakai pohon sebagai simbol berhala mereka. Pohon-pohon inilah yg dikatakan dalam Alkitab sebagai kesia-siaan (baca Yeremia 10: 1-4).
Lantas, tidak ada keraguan lagi bahwa seremoni berhala pada tanggal 25 Desember (dengan mengatakan lain Hari Natal), dilaksanakan untuk memperingati hari kelahiran Anti Mesias dari Babylon. Perayaan akbar lainnya yg memperkuat kesimpulan ini adalah seremoni yg disebut sebagai Lady-Day yg diselenggarakan pada tanggal25 Maretsetiap tahun oleh Gereja Katolik sebagai hari dimana malaikat mengabarkan kepada perawan Maria bahwa ia tengah mengandung Mesias Yesus Kristus (Yeshua Hamasiach).
Lalu dari mana tanggal itu berasal? Mengapa tanggal itu dipilih? Ternyata seremoni ini dulunya merupakan seremoni orang-orang Roma (sebelum mereka memeluk agama Kristen) untuk menghormati Cybele (istri Saturnus, ibu dari segala dewa). Cybele ini dapat diidentikan sebagai Rhea atau Semiramis yg digelari Ratu Surga & Bunda YAHWE karena melahirkan Tammuz sang mesias palsu.
Fakta lainnya adalah bahwa gelar yg paling lazim dipakai oleh penduduk Roma untuk menghormati Cybele adalah Domina atau Sang Bunda (OVID, Fasti), sedangkan di Babylon sendiri disebut dengan Beltis (EUSEB, Praep, Evang). Dari sini tanpa keraguan terjawab sudah mengapa seremoni ini sekarang dinamakan Lady-Day.
Jadi teramat jelas bahwa antara Hari Natal & Lady-Day ini terdapat hubungan yg erat satu sama lain. Antara tanggal 25 Maret & 25 Desember adalah tepat Sembilan bulan usia kandungan seorang ibu. Selama sembilan bulan itulah, Mesias Palsu Babylon (Tammuz) dikandung oleh ibunya Semiramis! Hari ini 07:44
Pertanyaan tersebut memang tidak dapat dijawab oleh umat (jemaat) Kristiani yg tidak pernah mempelajari sejarah & dasar Alkitabiah mengenai lahirnya Yesus Kristus berdasarkan literatur-literatur antik (asli) berbahasa Ibrani dari tradisi bangsa Israel (Yahudi) menurut perhitungan kalender mereka. Sebab hingga sejauh ini, narasi sejarah gereja dunia yg dominan sebagai hasil peninggalan Gereja Katolik Roma sudah mendikte banyak Gereja & orang Kristen hingga mereka meyakini bahwa tanggal 25 Desember merupakan hari kelahiran Yesus Kristus, sang penebus dosa manusia.
Nah, untuk mencari jawaban mengenai hari kelahiran Yesus Kristus yg sebenarnya, kita dapat mendasarkannya pada apa yg tertulis dalam Alkitab itu sendiri. Jadi tidak perlu mencari ke mana-mana. Sebab Alkitab sudah menyediakan informasi yg jelas & berharga tentang kelahiran Yesus. Tulisan ini mungkin berisi penjelasan yg ofensif untuk orang Kristen yg sudah terlanjur menganggap kelahiran Yesus adalah pada tanggal 25 Desember. Padahal ini jelas kekeliruan !
Mesias Palsu & Hari Kelahirannya
Setelah manusia jatuh ke dalam dosa oleh tipu daya Setan di Taman Eden, maka TUHAN (Ibrani: YAHWE, YHWH/ELOHIM) berfirman bahwa Mesias akan datang dari keturunan perempuan sehingga Setan (Iblis) akan dikalahkan olehnya (Kejadian 3:15). Karena itu Setan tidak tinggal diam begitu saja. Ia berusaha untuk menggagalkan rencana YAHWE dengan menciptakan Mesias Tandingan atau Mesias Palsu.
Rencana itu dimulai ketika umat manusia mula-mula bermukim di satu tempat bernama Babylon (Babel, menurut sejarah Alkitab, Babel merupakan suatu tempat yg sekarang masuk dalam wilayah negara Irak modern). Setan (Iblis) sudah merencanakan supaya mesias yg palsu harus sedapat mungkin identik dengan mesias asli yg akan datang nanti. Karena itu Setan menirukan apa yg jadi rencana akbar YAHWE, pertama-tama dengan menghadirkan mesias palsu itu juga dari keturunan perempuan.
Setan (Iblis) lalu menerapkan gagasannya itu pada diri seorang perempuan yg ambisius bernamaSemiramisyang merupakan janda dariNimrod(seorang yg dalam Alkitab dijelaskan sebagai pemburu yg gagah perkasa & orang yg pernah berkuasa atas seluruh umat manusia di bumi serta menjadikan dirinya seolah-olah Tuhan atas rakyatnya). Nimrod sangat terkenal sehingga disembah sebagaititisan Sang Dewa Matahari.
Setelah kematian Nimrod, Semiramis (istri Nimrod) berusaha untuk mempertahankan kekuasaan suaminya itu. Seperti suaminya, ia juga berambisi untuk menjadikan dirinya seolah-olah sebagai Tuhan bagi rakyatnya. Semiramis kemudian menipu rakyatnya dengan melacurkan diri & hasilnya ia kemudian mengatakan bahwa dia sudah mengandung secara ajaib & bahwa suaminya Nimrod sudah berinkarnasi kembali dengan jadi anak yg tengah berada di kandungannya.
Atas dasar inilah, Semiramis kemudian disembah sebagai Dewi Ishtar yg digelari Ratu Sorga & Bunda. Anak yg dilahirkannya itu kemudian dinamakanTammuzyang artinyaSang Tunas,raja Babylon (Babel) yg baru, tuhan yg gagah perkasa. Tammuz ini kemudian disembah dengan simbol pohon sebagai sang tunas.
Ungkapan Sang Tunas ini mengingatkan kita akan berbagai nubuatan Alkitab tentang bagaimana Yesus sebagai Mesias yg sesungguhnya akan dipanggil (baca Yesaya 11:1, 52:2, Yeremia 23:5, Zakaria 6:12). Disini jelas bahwa Setan (Iblis) si jahat penipu itu sudah menghadirkan Tammuz untuk jadi mesias tandingan, jauh mendahului kehadiran Mesias yg sebenarnya: Yesus Kristus. Inilah yg kemudian jadi sumber penyembahan berhala(Paganisme)di dunia.
Seluruh berhala di muka bumi, baik yg diceritakan di dalam Alkitab maupun yg terdapat dalam berbagai mitologi dengan perubahan & ragam nama, dapat ditelusuri akarnya berasal dari penyesatan Babylon ini. Sebab dalam Alkitab diceritakan bahwa Babylonia (Babel) sejak awal sudah jadi pusat peradaban manusia yg pertama. Peristiwa akbar yg diketahui pada masa itu adalah rencana pendirian menara Babel yg tingginya hingga ke langit. Namun gagal & akhirnya manusia dikacaukan dengan bahasa yg berbeda-beda untuk selanjutnya menyebar ke seluruh bumi.
Ada dua seremoni akbar yg diadakan di Babylonia berkaitan dengan kisah Paganisme tersebut.Perayaan pertamaadalah seremoni musim dharap yg diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Tammuz sebagai inkarnasi dewa matahari. Kelahirannya dirayakan pada saat titik balik mentari di musim dharap (winter soltice), yg tiap tahunnya jatuh pada tanggal 25 Desember.
Perayaan keduaadalah seremoni musim semi (spring equinox) untuk memperingati kebangkitan Nimrod. Perayaan ini berlangsung selama 40 hari dimana setiap harinya pada saat mentari terbit. Disini mereka akan menaikan puji-pujian kepada Nimrod yg diyakini sudah bangkit dari kematiannya.
Alkitab & Hari Kelahiran Yesus
Alkitab secara jelas mengatakan bahwa Yesus Kristus (Inggris;Jesus Christ, Ibrani;Yashua Hamasiach, Arab;Isa Almasih) yg lahir sebagai Mesias di tengah-tengah bangsa Ibrani (Yahudi/Israel) melalui perawan Maria adalah pada Hari Raya Pondok Daun atau disebut Hari Raya Sukkot oleh bangsa Ibrani yg jatuh pada musim gugur. Tepatnya pada 15 Tishri (antara akhir September-Oktober) sesuai penanggalan kalender orang Ibrani (Yahudi/Israel) yg juga memiliki 12 bulan dalam sistem kalender mereka.
Adapun bulan dalam kalender Ibrani adalah : Nisan (Maret-April), Iyyar (April-Mei), Sivan (Mei-Juni), Tammuz (Juni-Juli), Av (Juli-Agustus), Elul (Agusuts-September), Tishri (September-Oktober), Keshvan (Oktober-November), Kislev (November-Desember), Tevet (Desember-Januari), Shevat (Januari-Februari & Adar (Februari-Maret).
Hari raya Pondok Daun (fFeast of Tabernacle) atau disebut Hari Raya Sukkot dalam tradisi bangsa Ibrani, dilakukan sebagai peringatan bahwa TUHAN (YAHWE/ELOHIM) sudah berdiam di tengah-tengah kemah orang Israel ketika DIA (YAHWE) menuntun mereka melalui perantara Musa (Ibrani; Moshe) & Harun (Ibrani: Aaron) keluar dari perbudakan/penjajahan/penindasan di tanah Mesir.
Imamat 23:34,42-43 berbunyi: YAHWE Berfirman Kepada Musa (Moshe):Katakanlah kepada orang Israel begini;Pada hari yg kelima belas bulan yg ke tujuh(Tishri)ada Hari Raya Pondok Daun (Sukkot) bagi YAHWE tujuh hari lamanya.Di dalam pondok-pondok daun anda harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa AKU sudah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama AKU menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir.
Masih ada tema & pesan-pesan lain yg berhubungan dengan hari Raya Sukkot (Pondok Daun) sebagai saat dimana Yesus dilahirkan. Dalam Lukas 2:12, kita menemukan bayi Yesus (Yashua) dibungkus dalam kain lampin. Kain ini biasanya dipakai sebagai suluh (obor) tong minyak dalam Ruang Pertemuan pada salah satu ruangan dalam bait suci orang Israel (Sinagogue) selama seremoni Sukkot. Dalam Alkitab Yesus diceritakan lahir di dalam sebuah kandang hewan & dibaringkan dalam palungan (Lukas 2:7).Kata Ibrani untuk kandang hewan semacam ini adalah Sukkhot(jamak), seperti dalam Kejadian 33:17.
Ketika malaikat menampakan diri di hadapan gembala-gembala, mereka mengucapkan perkataan yg sangat mirip dengan liturgi kuno hari raya Sukkot (Pondok Daun) itu: aku memberikan kepadamu kesukaan besar (Luk 2:10). Tentu saja diluar informasi yg terdapat dalam Alkitab mengenai kapan tepatnya Yashua (Yesus) dilahirkan. Ada pula alasan kuat mengapa IA tidak dilahirkan pada bulan Desember. Kaisar Agustus (Kaisar Romawi saat itu) memerintahkan pelaksanaan sensus di seluruh kerajaan Romawi (Lukas 2:1).
Selama bulan Tevet (Desember-Januari) dalam kalender Ibrani, pada bagian dunia ini sedang berlangsung musim dharap. Salju turun di banyak tempat dalam kerajaan Romawi (Israel/Palestina saat itu dikuasai Romawi) & cuacanya sama sekali tidak mendukung untuk bepergian. Jadi secara logika, Kaisar Agustus tidak mungkin mengharapkan seluruh penduduk untuk berpergian dalam keadaan bersalju (dharap), melalui jalan-jalan yg jadi sulit dilewati untuk mengikuti program sensus penduduk tersebut. Sehingga jelas, sensus ini tidak mungkin dilaksanakan pada bulan Desember.
Alkitab (Lukas 2:8) juga menceritakan kepada kita bahwa para gembala sedang menunggui kawanan domba mereka: Di daerah itu ada gembala-gembala yg yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.Jadi sangat tidak logis membayangkan ada gembala-gembala yg menggiring domba-domba mereka merumput diatas salju di bulan Desember, sebab tidak ada rumput yg tumbuh di musim dharap.
Dengan menempatkan kelahiran Yesus pada hari raya Sukkot (Pondok Daun), maka hari ke delapan menurut tradisi Yahudi, Yesus disunat pada hari terakhir dari Perayaan Sukkot (Imamat 23:36,39), yg diketahui dalam tradisi orang Israel sebagai Hari Raya Simkhat Torah (Sukacita Taurat).
Sebaliknya, tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yg menyatakan Yesus (Yashua/Isa/Jesus) lahir pada tanggal 25 Desember. Secara logika juga sulit untuk menjelaskan bagaimana mungkin para gembala dapat berbaring di malam hari pada bulan Desember yg dharap & bersalju. Bagaimana mereka dapat menggiring domba-domba untuk merumput diatas salju pada bulan Desember, sebab tidak ada rumput yan g tumbuh di musim dharap.
Pertanyaannya, Jika Yesus tidak dilahirkan pada musim dharap & tidak ada satu pun firman TUHAN (YAHWE) yg menyatakan kita harus merayakan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember, maka apa yg menyebabkan manusia (Gereja & Umat Kristiani) menerapkan tanggal itu sebagai hari kelahiran Yesus?
Dalam karya monumental,The Two BabylonsRev. Alexander Hislop (1858) menulis: Bahwa hari raya Natal berasal-usul dari seremoni berhala (Paganisme) sangat tidak diragukan lagi. Penentuan waktu & upacara-upacara di dalamnya yg masih dirayakan hingga hari ini membuktikan asal usul itu. Di Mesir, anak Isis, dewi yg diketahui sebagai ratu surga, dilahirkan pada masa-masa Natal. Sekitar saat titik balik mentari di musim dharap.
Nama mula-mula dari Natal (bahasa Italia; Natale, Inggris;Christmas) yg populer diketahui diantara kitaYule Daymembuktikan pada awalnya berasal dari kebudayaan berhala (Paganisme) Babylonia. Kata Yule, dalam bahasa Kaldea berarti Bayi atau anak Kecil & tanggal 25 Desember disebut juga oleh Bangsa Anglo-Saxon (orang-orang kulit putih Eropa) sebagai Yule Day atau Hari Anak & malam sebelum hari itu (24 Desember malam) disebut dengan Hari Bunda.
Perayaan Hari Anak & Hari Ibu itu sudah lama diketahui oleh orang kulit putih Eropa (Bangsa Angglo-Saxon) antik jauh sebelum mereka mengenal & memeluk Agama Kristen. Hal ini jelas memberi bukti seperti apa wujud asli & sejarah seremoni tanggal 25 Desember. Sebab hari raya kelahiran ini sudah lama diketahui & dirayakan dalam kebudayaan kafir-berhala Paganisme kuno.
Rev. Alexander Hislod dalam bukunyaThe Two Babylonslebih jauh menerangkan bahwa sebelum adanya ke-Kristenan (agama Kristen), penduduk Roma sudah mengadaptasi perayaan-perayaan Paganisme Babylon itu jadi hari-hari raya utama mereka. Karena sudah diadaptasi, orang Roma sudah terbiasa melaksanakan seremoni itu secara besar-besaran tiap tahunnya. Ketika orang Roma menciptakan sistem kalender mereka sendiri, mereka lalu menetapkan penanggalan yg pasti untuk hari-hari raya mereka itu.
Menurut penanggalan mereka (orang Roma), saat terjadinya titik balik mentari di musim dharap sering jatuh pada tanggal 25 Desember & itulah hari dimana penduduk Roma setelah jadi Kristen lantas merayakannya sebagai hari kemenangan YAHWE yg terlahir kembali ke dunia sebagai Mesias dalam diri Yesus (Yeshua). Nama hari itu adalahNatalis Invicti Solis atau Hari Kelahiran Dewa Matahari Yang Tak Terkalahkan. Dari nama itulah kita memperoleh istilah Natal.
Orang-orang Roma menyebut Dewa Matahari ini dengan sebutan Saturnalis & seremoni ini kemudian diketahui sebagai Perayaan Saturnalia.NAMUN, ketika penduduk Roma secara perlahan-lahan jadi pengikut Yesus (Yashua) melalui pemberitaan Rasul Paulus & murid-murid lain yg menginjili wilayah kerajaan Roma, mereka (orang Roma) tidak mudah melepaskan tradisi lama & hari-hari raya Paganisme Saturnalia mereka begitu saja.
Perlu diketahui bahwa setidaknya sejak zaman pertama, Rasul Paulus sudah mengecam orang-orang (bangsa-bangsa) bukan Yahudi (non Yahudi, Inggris: Gentiles, Ibrani: Goyim) yg mencoba untuk menyesuaikan (mensinkretisme) tradisi & hari-hari raya berhala mereka yg lama ke dalam kepercayaan Iman Kristen sebagai agama yg baru dianut oleh mereka (baca Galatia 4:8-11). Kecaman serupa juga dapat ditemukan dalam tulisan Bapa Gereja Tertulianus (sekitar tahun 230) yg mengecam ketidak-konsistenan orang-orang Kristen, dibandingkan ketaatan mereka kepada penyembahan berhala (Paganisme).
Tertulianus menulisKita (orang-orang bukan Yahudi) yg asing kepada Sabat (hari Sabtu), bulan baru & hari-hari raya (YAHWE), ketika dijadikan layak oleh YAHWE, mengapa terus merayakan seremoni Saturnalia (perayaan Dewa Matahari), Perayaan Januari, Perayaan Brumalia, & Matronalia,: penyembahan dibawa ke sana-kemari, hadiah tahun baru dibuat dengan hiruk-pikuk, permainan & perjamuan pesta dirayakan dengan hingar-bingar. Oh.., alangkah jauh lebih taatnya para penyembah berhala itu kepada agama lama mereka, yg dengan teliti tidak mencampuradukan peribadatan mereka dengan peribadatan Kristen.
Salah satu bukti sejarah lain yg menyatakan bahwa orang Kristen Roma saat itu masih kuat merayakan tradisi seremoni mereka yg lama (Saturnalia) & mencampuradukannya ke dalam agama Kristen karena saat itu Kaisar Konstantinus melalui Dekrit Milan (313) menyatakan bahwa barangsiapa (diantara orang-orang Kristen) yg kedapatan masih merayakan hari-hari raya Ibrani (orang Israel/Yahudi), mereka akan dihukum.
Hal itu terjadi karena ada beberapa hal. Menurut sejumlah referensi sejarah gereja, salah satunya karena gereja sudah dipengaruhi oleh doktrin/ajaran Theologia Penggantian (Replacement Theology) yg menyakini bahwa bangsa Israel/Yahudi hanyalah bangsa opsi menurut sejarah masa lalu mereka. Namun karena ketidaktaatan & karena mereka sudah menolak Yesus sebagai Mesias dari YAHWE, lalu membunuh & menyalibkan Yesus, maka keselamatan sudah menjauh dari bangsa Yahudi/Israel & beralih kepada bangsa-bangsa lain bukan Yahudi (Inggris: Gentiles, Ibrani: Goyim) yg percaya & mengakui Yeshua (Yesus) sebagai Mesias dari YAHWE.
Doktrin Replacement Theology yg masih terbawa hingga hari ini itu pun mengakui bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi yg percaya & mengakui Yesus sebagai Mesias praktis sudah menggantikan/menggeser (mere-place) posisi bangsa Israel/Yahudi sebagai bangsa opsi secara fisik namun tidak lagi jadi bangsa opsi secara rohani. Bahwa bangsa-bangsa lain yg bukan Yahudi namun sudah mengakui Yesus sebagai Mesias adalah Israel-Israel rohani yg sejati.
Gereja pada masa itu juga sangat antipati & tidak menyukai tradisi ke-Kristenan yg terkait dengan pengaruh tradisi ke-Yayahudian. Gereja menganggap bahwa orang Yahudi sudah membunuh Yesus & menolaknya sebagai Mesias sehingga mereka patut menanggung sanksi dengan dibakar di neraka atas penolakan mereka kepada Yesus sebagai Mesias dari YAHWE. Mengenai hal ini, film Passion of Christ hasil garapan sutradara terkenal Mel Gibson dapat memperjelasnya.
Disamping itu, faktor lain adalah karena sikap Anti-Semitisme yg berkembang pada gereja & jemaat di masa-masa awal, dimana pencampuran hal-hal politis & agama sudah menciptakan jurang permusuhan antara gereja dengan orang-orang Yahudi yg juga dibenci karena hal-hal eksklusifitas ke-Yahudian & pengaruh-pengaruh sosial-politik lainnya.
Istilah Christmas & Pohon Natal
Istilah Christmas itu sendiri baru muncul sekitar tahun 450 ketika Paus Yulius mengeluarkan dekrit bahwa seluruh umat Kristen harus merayakan hari kelahiran Mesias (Yesus Kristus) pada saat yg bersamaan dengan seremoni Saturnalia (perayaan Dewa Matahari). Ini untuk menandakannya sebagai Christe-Masse atau Masa Pengikut Yesus.
Seribu tahun kemudian Christe Massasudah jadi seremoni terbesar, atau tidak terpisahkan & identik dengan ke-Kristenan.PERSOALANNYA, tidak ada satu pun yg tahu tentang asal-usul itu sehingga tokoh reformasi gereja Marthen Luther & Yohanis Calvin, karena ketidaktahuan mereka, lantas meneruskan saja tradisi ini (tradisi Paganisme Saturnalia) setelah muncul Gereja Protestan yg terpisah dari Gereja Katolik Roma.
Lalu bagaimana dengan latar belakang sejarah dari ikon Pohon Natal (Christmas Tree) yg diatas puncaknya sering dipasang bintang? Ternyata, cuma sedikit pula yg mengetahui pohon natal berasal-mula dari kepercayaan berhala (Paganisme) Babylon itu, yg dulunya dipakai sebagai simbol Tammuz (anak Nimrod dari Semiramis yg disimbolkan sebagai jelmaan Dewa Matahari), yg tidak lain sebagai Mesias Palsu buatan Setan (Iblis). Pohon natal dulu dipakai sebagai redivivus Nimrod atau YAHWE yg lahir kembali dari kematian.
Orang Mesir memakai Pohon Palem sebagai pohon natal. Orang Rusia memakasi Pohon Cemara. Pohon Palem itu melambangkan Mesias Palsu: Baal-Tamar & Pohon Cemara melambangkan Baal-Berith. Orang-orang barat (Anglo-Saxon) & Druit juga mengpakai pohon sebagai simbol berhala mereka. Pohon-pohon inilah yg dikatakan dalam Alkitab sebagai kesia-siaan (baca Yeremia 10: 1-4).
Lantas, tidak ada keraguan lagi bahwa seremoni berhala pada tanggal 25 Desember (dengan mengatakan lain Hari Natal), dilaksanakan untuk memperingati hari kelahiran Anti Mesias dari Babylon. Perayaan akbar lainnya yg memperkuat kesimpulan ini adalah seremoni yg disebut sebagai Lady-Day yg diselenggarakan pada tanggal25 Maretsetiap tahun oleh Gereja Katolik sebagai hari dimana malaikat mengabarkan kepada perawan Maria bahwa ia tengah mengandung Mesias Yesus Kristus (Yeshua Hamasiach).
Lalu dari mana tanggal itu berasal? Mengapa tanggal itu dipilih? Ternyata seremoni ini dulunya merupakan seremoni orang-orang Roma (sebelum mereka memeluk agama Kristen) untuk menghormati Cybele (istri Saturnus, ibu dari segala dewa). Cybele ini dapat diidentikan sebagai Rhea atau Semiramis yg digelari Ratu Surga & Bunda YAHWE karena melahirkan Tammuz sang mesias palsu.
Fakta lainnya adalah bahwa gelar yg paling lazim dipakai oleh penduduk Roma untuk menghormati Cybele adalah Domina atau Sang Bunda (OVID, Fasti), sedangkan di Babylon sendiri disebut dengan Beltis (EUSEB, Praep, Evang). Dari sini tanpa keraguan terjawab sudah mengapa seremoni ini sekarang dinamakan Lady-Day.
Jadi teramat jelas bahwa antara Hari Natal & Lady-Day ini terdapat hubungan yg erat satu sama lain. Antara tanggal 25 Maret & 25 Desember adalah tepat Sembilan bulan usia kandungan seorang ibu. Selama sembilan bulan itulah, Mesias Palsu Babylon (Tammuz) dikandung oleh ibunya Semiramis! Hari ini 07:44