Mojo
IndoForum Newbie E
- No. Urut
- 42110
- Sejak
- 29 Apr 2008
- Pesan
- 69
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 8
Atheis..??
Menurut Wikipedia begini :
Klo menurut Ludwig Feuerbach :
Ada lagi pendapat Sigmund Freud :
Nah..pendapat Friedrich Nietzsche ini nih :
Dari Jean-Paul Sartre ada lagi :
So apakah atheis itu sebenarnya?
Ber-Tuhan tapi tidak beragama atau Tidak Ber-Tuhan tidak Beragama ??
Atheis atau sebenarnya Humanis??
Ini sedikit pemikiran setelah banyak" baca di FA, banyak yang mendeskripsikan dirinya Atheis, hanya karena sebatas kekecewaan pribadi bukan sebagai prinsip yang kuat dalam ber-keTuhanan.
Di dunia ini banyak yg bersikap atheis tp tetap memeluk agama, mungkin sebaliknya ada yg lebih agamis dari mereka yang atheis.
Bahkan mungkin mereka menganggap diri mereka atheis hanya karena malas melakukan ritual" beragama?? who knows?? semuanya ada komitmen dan alasan tersendiri.
Ada beberapa kata" bijak yang patut direnungkan dalam konteks atheisme :
Mungkin kebanyakan orang atheis sebenarnya tidak atheis. Mereka hanya orang-orang yang kecewa dengan kehidupan mereka sendiri. Mereka merasa bahwa Tuhan adalah pelayannya. Jika Tuhan tidak memberikan 'pelayanan' yang cukup baik, mereka pun merasa kecewa. Is it like that? who knows?
Kesimpulan gw sich..temen" yg mengaku atheis disini masi dalam fase yang digolongkan agnostik, klo atheis mah menurut gw tanggung..klo ga percaya Tuhan mendingan nyembah setan aja sekalian..wong fase atheis itu sebenernya menuju kesahihan humanisme..
(sorry gw banyak nyadur & ngutip dari berbagai sumber, klo ada yg kekutip d sini gw skalian mohon ijin ngutip yup..thx)
Menurut Wikipedia begini :
Kata atheisme berasal dari kata sifat dalam Bahasa Yunani Kuno yang berarti "tidak bertuhan". Atheisme bukanlah percaya bahwa Tuhan tidak ada melainkan tidak percaya bahwa Tuhan ada. Dengan kata lain, atheisme bukan merupakan kepercayaan atau keyakinan melainkan sistem ketidakpercayaan atau ketidakyakinan. Atheisme bukan merupakan suatu agama, tidak memiliki ajaran resmi selayaknya agama pada umumnya, dan bukan merupakan suatu pemikiran 'anti-agama' atau 'anti-tuhan'.
Komunisme pada umumnya atheis, tetapi atheis tidak berarti komunis. Komunisme adalah sebuah sistem pemikiran yang dapat dikembangkan menjadi ideologi dan bahkan sistem pemerintahan, sementara atheisme merupakan sistem ke(tidak)percayaan.
Pemikiran bahwa Tuhan tidak ada tidak berarti juga berpikir bahwa manusia bebas melakukan apapun. Atheisme hanyalah suatu keadaan sebatas 'tidak percaya bahwa Tuhan ada', tidak lebih dari itu. Tidak ada jaminan bahwa seorang atheis akan berbuat semaunya, seperti juga tidak ada jaminan seorang beragama dan percaya pada Tuhan akan berbuat baik.
Klo menurut Ludwig Feuerbach :
Agama adalah proyeksi manusia atas keterasingan dirinya. Agama menjadi tempat bagi manusia untuk mengasingkan dirinya dari kehidupannya. Sebagai proyeksi, agama tak lain dari sesuatu yang diberikan penghargaan positif terhadap dirinya. Segala konsep tentang Tuhan, Malaikat, Surga, dan Neraka yang ada dalam agama tak lain daripada hasil proyeksi manusia itu sendiri. Dengan kata lain, manusia yang mengkonsepkan hal-hal itu. Manusia yang menciptakan Tuhan, dan bukan Tuhan yang menciptakan manusia.
Agama berdampak positif bagi manusia. Segala sesuatu yang Maha, misalnya Adil, Baik, Penyayang, Pengampun, dll yang ada dalam Tuhan Agama, tidak lain daripada proyeksi manusia itu sendiri. Hal itu sebenarnya telah ada dalam eksistensi manusia. Bukannya menjadikan sesuatu yang Maha itu menjadi milik manusia, manusia justru terjebak dalam pemujaan dan penyembahan kepada agama dan Tuhan yang sebetulnya telah berada dalam dirinya dan menjadi miliknya. Oleh karena itu, manusia harus mengambil kembali ke-Maha-an itu kedalam dirinya. Agama dan Tuhan bukan lagi merupakan sesuatu yang menjadi pusat bagi manusia, tetapi justru manusialah pusat dari segalanya.
Ada lagi pendapat Sigmund Freud :
Buku karya Freud yang menyatakan atheismenya adalah Totem and Taboo (1913) dan Moses and Monotheism (1938). Menurut Freud, ritual-ritual keagamaan mempunyai kemiripan dengan ritual yang ada dalam gangguan obsesif-kompulsif. Obsesif-kompulsif adalah suatu gangguan psikologi (psychological disorder) dimana seseorang tidak mampu menahan keinginannya untuk melakukan suatu gerakan/aktivitas berulang-ulang, misalnya mencuci tangan berkali-kali, dll. Freud juga mengatakan “neurosis as an individual religion, religion as a universal obsessional neurosis”. Suatu pernyataan yang jelas mengaitkan antara agama dan neurosis.
Dilain pihak, Freud juga mengatakan bahwa agama tak lain daripada sublimasi insting-insting seksual. Teori Psikoanalisis Freud dibangun diatas satu konsep yang disebut Psikoseksual, bahwa dorongan-dorongan seksual (sexual drive/libido) adalah dorongan yang terutama dalam diri manusia yang membuat manusia itu bisa bertahan hidup. Sedangkan sublimasi adalah salah satu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang dibangun manusia untuk menyeimbangkan egonya dari dorongan-dorongan yang berasal dari ketidaksadaran. Insting-insting seksual manusia harus diberi bentuk lain agar dapat diterima secara sosial, dan semuanya itu ada dan tampak dalam agama. Agama adalah sublimasi dari insting-insting seksual manusia agar dapat diterima oleh masyarakat.
Nah..pendapat Friedrich Nietzsche ini nih :
Pernyataan Nietzsche dalam bukunya. “God is Dead” "Whiter is God, ‘he cried. ‘I shall tell you. We have killed Him-you and I. All of us are murderers…God is dead. God remain dead. And we have killed him…". Yang dikatakan oleh Nietzsche bukanlah pengertian Tuhan secara literal. Jika Tuhan telah mati berarti pada suatu saat Tuhan pernah ada. Apa yang dinyatakan oleh Nietzsche adalah kematian keagamaan di Eropa. Pengertian God is Dead adalah Tuhan dalam konteks kekristenan di Eropa. Bahwa kepercayaan terhadap Tuhan (pada saat itu adalah Kristen) adalah kepercayaan yang salah. Tuhan tidaklah lagi dapat dipercayai, dan oleh karena itu Dia telah mati, dan seandainya Dia belum mati, adalah tugas manusialah untuk membunuhnya (and we have killed him…).
Pandangan Nietzsche melegitimasi pandangan dalam bidang keilmuan (science) bahwa ilmu pengetahuan akan mengeluarkan Tuhan dari ranah kehidupan manusia. Filsafat, ilmu pengetahuan, politik dan bidang-bidang lain akan memperlakukan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak relevan dan tidak humanis.
Dari Jean-Paul Sartre ada lagi :
Sartre menolak konsep tentang Tuhan karena konsep Tuhan berisi kontradiksi dalam dirinya sendiri (self-contradiction). Sartre mendefinisikan Tuhan sebagai konsep yang being-in-itself-for-itself. Konsep Tuhan sebagai in-itself memproposisikan bahwa Dia adalah eksis, sempurna dalam dirinya sendiri, dan secara total tidak relevan. Sedangkan konsep for-itself memformulakan bahwa Dia adalah bebas secara sempurna dan tidak terikat terhadap apapun. Kesimpulan logika haruslah menolak konsep seperti ini karena konsep ini berisi kontradiksi dalam dirinya. (Jean-Paul Sartre, Being and Nothingnes : An Essay in Phenomenological Onthology, 1943).
Selain itu, konsep keberadaan Tuhan membatasi kebebasan dan eksistensi manusia. Konsep Tuhan diadopsi oleh manusia untuk memberiarti dunia ini. Manusia menemukan konsep ini untuk menerangkan sesuatu yang tidak dapat diterangkan (explain the unexplainable). Konsep Tuhan adalah keinginan manusia untuk memenuhi ketidaksempurnaan dan ketidakmampuannya.
So apakah atheis itu sebenarnya?
Ber-Tuhan tapi tidak beragama atau Tidak Ber-Tuhan tidak Beragama ??
Atheis atau sebenarnya Humanis??
Ini sedikit pemikiran setelah banyak" baca di FA, banyak yang mendeskripsikan dirinya Atheis, hanya karena sebatas kekecewaan pribadi bukan sebagai prinsip yang kuat dalam ber-keTuhanan.
Di dunia ini banyak yg bersikap atheis tp tetap memeluk agama, mungkin sebaliknya ada yg lebih agamis dari mereka yang atheis.
Bahkan mungkin mereka menganggap diri mereka atheis hanya karena malas melakukan ritual" beragama?? who knows?? semuanya ada komitmen dan alasan tersendiri.
Ada beberapa kata" bijak yang patut direnungkan dalam konteks atheisme :
"Janganlah menyembah jikalau tidak mengetahui siapa yang disembah. Jika engkau tidak mengetahui siapa yang disembah, akhirnya cuma menyembah ketiadaan. Sungguh suatu sembahan yang sia-sia." - Syekh Siti Djenar
"Saya mencintaimu saat kau rukuk di masjidmu, berlutut di kuilmu, sembahyang di gerejamu.
Kau dan aku adalah putra dari satu agama, dan itulah spiritnya" - Kahlil Gibran (1883 - 1931)
"Kita punya cukup banyak agama untuk membuat kita saling benci, tapi tak cukup banyak agama yang membuat kita saling mencintai" - Jonathan Swift (1667 - 1745)
"Saya mencintai Kristusmu, saya tidak suka dengan Kristenmu. Kristenmu begitu berbeda dengan Kristusmu" - Mohandas Gandhi (1869 - 1948)
"Ini adalah agamaku yang sederhana. Tidak perlu kuil, tidak perlu filosofi yang rumit. Otak kita, hati kita, adalah kuil kita. Filosofinya adalah kebaikan hati" - Dalai Lama (1935 - .... )
Eskimo: "Jika saya tak tahu apa-apa tentang Tuhan dan dosa, apakah saya akan masuk neraka?" Pendeta: "Tidak, jika kamu memang tidak tahu."
Eskimo: "Lalu kenapa kamu memberi tahu saya?" - Annie Dillard (1945 - ....)
Mungkin kebanyakan orang atheis sebenarnya tidak atheis. Mereka hanya orang-orang yang kecewa dengan kehidupan mereka sendiri. Mereka merasa bahwa Tuhan adalah pelayannya. Jika Tuhan tidak memberikan 'pelayanan' yang cukup baik, mereka pun merasa kecewa. Is it like that? who knows?
Kesimpulan gw sich..temen" yg mengaku atheis disini masi dalam fase yang digolongkan agnostik, klo atheis mah menurut gw tanggung..klo ga percaya Tuhan mendingan nyembah setan aja sekalian..wong fase atheis itu sebenernya menuju kesahihan humanisme..
(sorry gw banyak nyadur & ngutip dari berbagai sumber, klo ada yg kekutip d sini gw skalian mohon ijin ngutip yup..thx)




