Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pandemi ini menciptakan saya sadar akan dua hal. Pertama adalah pentingnya hiburan bagi manusia & yg kedua adalah jumlah waktu yg saya habiskan di depan layar ponsel/laptop. Menulis, menulis & terus menulis hingga akhirnya lupa kapan terakhir kali saya membaca buku atau lebih khususnya lagi novel.
Saat saya masih Sd dimana smartphone bukanlah barang yg biasa novel adalah media hiburan yg paling saya gemari. Saat itu saya bahkan rela nggak jajan demi menabung membeli novel Harry Potter karya J.K. Rowling, karya-karya Sidney Sheldon & juga tulisan-tulisan Raditya Dika.
Jaman sudah banyak berubah sejak 10 tahun yg lalu & saya bahkan tak tahu kemana perginya semua novel itu. Terkadang saya masih membaca novel namun frekuensinya sudah jauh berkurang, sekarang hiburan yg utama adalah smartphone dengan segala fiturnya.
Sekarang buku-buku cetak sudah banyak ditinggalkan karna banyaknya media hiburan yg lebih menarik seperti Youtube atau Tiktok. Bahkan buku-buku pelajaran pun sudah mulai digantikan oleh Pdf & powerpoint. Singkatnya, masa-masa dimana semua informasi berasal dari buku cetak sudah lewat.
Memang, buku cetak memiliki pesonanya sendiri & masih disukai oleh banyak orang namun kebanyakan buku best seller saat ini di dominasi oleh buku motivasi, buku kisah hidup orang sukses & juga kamus bahasa inggris lengkap 500 milyar. Buku-buku tersebut mungkin masih dapat bertahan namun bagaimana dengan novel? Bagaimana dengan cerita-cerita fiksi?
Sulit bagi novel fiksi untuk dapat memasuki papan buku best seller. Karya-karya seperti Laskar Pelangi maupun Ayat-ayat Cinta adalah karya yg jarang dapat ditemukan & cuma muncul beberapa tahun sekali & itu pun tidaklah sesensasional yg kita kira. Bahkan film adaptasi dari novel-novel tersebut lebih terkenal daripada karya aslinya.
Sekarang novel fiksi Indonesia memiliki reputasi yg sama seperti perfilman Indonesia, ceritanya itu-itu saja & kualitasnya juga ala kadarnya. Putu Wijaya, seorang sastrawan ternama, pernah bilang begini;
Quote:
"Di dunia hiburan buku-buku yg menyenangkan & dapat memenuhi selera pasar lah yg akan dibeli sehingga sadar ataupun tidak kecenderungan penulis di era ini adalah menulis mengikuti tren pasar, kualitas bukan lagi prioritas. Cukup mengpakai bahasa gue-elo maka persaingan pasar akan mudah ditembus."
"Buku banyak yg ruwet sekali tetapi ngawur eksperimennya. Dibuat-buat saja asal imajinatif, tak ada bobotnya & itu banyak sekarang. Kamu tak perlu banyak baca, cukup berimajinasi & jadilah best seller."
Sama seperti sinetron, kebanyakan novel Indonesia juga berada di posisi yg stagnan & tak berani keluar dari zona nyaman. Pihak penerbit juga lebih mengutamakan novel remaja yg sekedar menjual mimpi tanpa adanya kualitas ataupun pesan moral. Tentunya tidak semua seperti itu tetapi kondisi adalah citra biasa dari dunia pernovelan Indonesia.
Minimnya kualitas bukan satu-satunya ancaman, sekarang sudah banyak situs internet dimana kita dapat membaca cerita secara online & bahkan di kaskus sendiri ada forum sfth untuk menulis apapun yg kita mau. Jika di internet kita dapat membaca cerita secara gratis maka untuk apa membeli buku cetak yg harganya mahal(?) & boros tempat?
Dan ditambah lagi dengan adanya pandemi. Hampir seluruh penerbit buku Indonesia mengalami penurunan penjualan & bahkan para penerbit tak lagi menerima pesanan dari pemerintah maupun perpustakaan. Buku-buku pelajaran yg selama ini jadi andalan kini sudah digantikan oleh zoom & Gmeet. Dengan kondisi seperti ini bagaimana dapat industri novel bertahan?
Dan yg terakhir, ancaman paling besar, pembajakan. Rasanya masih segar dalam ingatan saya saat penulis novel Tere Liye marah-marah mengenai pemerintah yg tidak menghargai masalah hak cipta & banyaknya tukang bajak yg memperbanyak buku secara ilegal untuk dijual lebih murah. Merasa tidak dihargai & tak adanya income yg memadai menciptakan banyak orang berhenti menulis & memilih jadi youtuber.
Tampaknya bercita-cita jadi penulis di masa kini tak lagi sama dengan masa lalu. Meskipun berhasil menerbitkan karya namun belum tentu penghasilan dari menulis cukup untuk kebutuhan hidup yg semakin meningkat. Perlahan-lahan minat masyarakat akan turun & akhirnya menghilang sama sekali. keruntuhan dunia novel Indonesia sudah di depan mata.
Sekian dari saya mari berjumpa di thread saya yg lainnya.
sumber
sumber Hari ini 16:58