• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Apa Salahnya Membaca Buku Fiksi?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Apa Salahnya Membaca Buku Fiksi?


Penulis: Nurul Fatin Sazanah
Editor: Fatio Nurul Efendi


Cangkeman.net -Emangnya baca novel gitu dapat apa sih? Isinya kan cuma fiksi, karangan doang. Halu semua.

Kalimat seperti itu seringkali singgah di telinga saat ada yg melihatku sedang membaca novel. Memang, dari dulu saya merupakan penggemar berat buku fiksi. Mulai dari cerpen-cerpen di majalah Bobo sewaktu kecil, hingga buku-buku novel ketika usia semakin bertambah.

Namun, ada saja orang di sekitarku yg menganggap sebelah mata kepada hobi membaca novel atau buku fiksi. Ditambah lagi, mereka juga melontarkan wejangan yg nggak jauh-jauh dari kalimat seperti ini,Kalo baca tuh yg ada manfaatnya dongatauMending kayak saya gini, baca buku X tentang bla bla bla. Lebih berbobot, dapat nambah ilmu.

Duh,kenapa orang-orang yg suka baca buku non-fiksi sering banget merasa bacaannya paling keren & paling paling baik sih? Udah gitu, dengan gampangnya mereka suka menganggap buku fiksi sebagai bacaan yg buruk & nggak lebih baik dari buku non-fiksi.

Yah,mungkin nggak semua penyuka non-fiksi begitu, sih. Tapi kebanyakan orang di sekitarku, entah itu teman atau keluarga, kebanyakan punya pemikiran yg seperti itu.

Padahal, meski isi novel cuma cerita fiksi, bukan berarti nggak mengandung ilmu di dalamnya. Penulisan cerita fiksi nggak lepas gitu aja dari riset. Dalam pembuatan cerita, sering ada proses penelitian mendalam yg dilakukan oleh penulisnya.So, kalau berbicara tentang ilmu, pada dasarnya semua buku merupakan sumber ilmu, termasuk juga novel atau buku fiksi. Pernah dengar pepatah buku adalah jendela dunia, kan? Nah, di situ nggak disebutkan tuh kalau cuma buku non-fiksi aja yg jadi jendela dunia.

Sebenarnya, saya bukanlah orang yg anti dengan bacaan non-fiksi. Aku juga termasuk penikmat buku non-fiksi, meskipun memang lebih menyukai buku-buku fiksi. Hanya saja, terkadang saya merasa kesal dengan pembaca non-fiksi yg suka meremehkan buku fiksi.

Menurutku pribadi, dengan membaca buku fiksi dapat mendapat dua hal sekaligus, yaitu hiburan & juga wawasan. Tujuan utama membaca novel atau buku fiksi memang untuk melepas penat alias sarana untukhealing. Tapi, di samping mencari hiburan untuk meredakanstress, saya dapat mendapat banyak pelajaran dari buku fiksi yg saya baca. Misalnya, dari dwilogi novel yg pernah saya baca berjudul Summer Triangle & Love in Twilight karya Hara Hope. Dari kedua novel tersebut saya juga dapat mendapat wawasan tentang astronomi, khususnya terkait rasi-rasi bintang & beberapa kisah mitologi Yunani.

Dari novel, kita juga dapat menambah wawasan tentang tempat-tempat tertentu di belahan bumi lain yg belum pasti dapat kita kunjungi, ataupun budaya & tradisi dari kelompok-kelompok masyarakat yg nggak pernah kita dengar sebelumnya. Bahkan, novel juga dapat jadi sarana untuk belajar Bahasa Asing.

Dalam novel atau buku fiksi sering ada wawasan tak terduga yg saya dapatkan, yg sering kali menciptakan pikiran berkata,Oh, ternyata ada ya yg kayak gini.atauWah, baru tau deh ada hal-hal semacam ini di dunia.

Yang nggak kalah penting, dalam buku fiksi sering terselip pelajaran tentang kehidupan. Ada aja gitu kalimat-kalimat yg ngena di hati. Kalimat-kalimat yg bukan cuma sekadar cantik untuk jadiquotes,tapi juga dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus menciptakan siapapun yg membacanya merasa lebih baik.

Bagiku, membaca buku fiksi merupakan upaya menambah wawasan dengan cara yg menyenangkan. Menyelam sambil minum air, eh maksudnya, nambah ilmu sambilhealing, gitu.

Di samping itu, buku fiksi dapat menciptakan pikiran jadi lebih terbuka, sehingga mereka yg membaca buku fiksi dapat jadi lebih toleran & dapat memahami sudut pandang orang lain.

Buku fiksi juga dapat meningkatkan rasa empati & melatih kepekaan kita kepada orang lain. Menurut penelitian Keith Oatley, seorang novelis & profesor di University of Toronto Kanada, bacaan fiksi sanggup mempengaruhi pikiran & respon empati pembaca di dunia nyata. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yg membaca fiksi mendapat skor lebih tinggi dalam hal kemampuan berempati kalau dibandingkan dengan orang yg cuma membaca buku non-fiksi.

Nah, dari sini dapat dilihat kan kalau buku genre apapun sebenarnya punya kedudukan yg sama. Nggak ada yg lebih keren & nggak ada yg lebih buruk. Keduanya punya peran masing-masing & dapat saling melengkapi satu sama lain. Aku pun sering percaya bahwa setiap buku pasti mengandung ilmu yg bermanfaat untuk pembacanya, baik itu buku fiksi maupun non-fiksi. Bahkan, sereceh apapun sebuah novel, menurutku tetap ada ilmu yg dapat diserap di dalamnya.

Sebetulnya ini cuma tentang selera saja. Setiap orang punya selera atau kesukaannya masing-masing, termasuk dalam hal buku bacaan. Menganggap seleramu adalah yg paling baik nggak akan menciptakanmu jadi kelihatan keren. Begitupun juga dengan menjelekkan kesukaan orang lain.


Tulisan ini ditulis diCangkemanpada tanggal 25 November 2022.
Hari ini 21:51
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.