Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Baru-baru ini ada wacana dari pemerintah untuk memasukkan E-Sport alias olahraga digital ke dalam kurikulum pendidikan. Saat saya membacanya saya merasa ini merupakan satu tanda bahwa pemerintah sudah lebih serius dalam menanggapi E-sport sebagai salah satu kemungkinan karir bagi anak muda atau setidaknya sebagai penyaluran hobi & kalau beruntung dapat jadi atlet.
Namun disisi lain alias sisi negatif saya sangat meragukan hal ini dapat diterapkan dalam kurikulum pendidikan. Alasannya sederhana, memangnya semua orang suka bermain game?
Okay, pertanyaan yg sama juga dapat diajukan pada matematika yg dibenci oleh mayoritas murid namun matematika tak diragukan lagi berguna & jadi salah satu pelajaran dasar untuk cabang pengetahuan lain. Nah, E-Sport? Game online bagus sebagai pelepas stress namun bila dijadikan pelajaran maka game itu sendiri dapat jadi sumber stress. Coba bayangkan kalau suatu hari anak-anak Anda akan diberi tugas mencapai Gold Rank dalam seminggu & minta uang buat top-up, apa Anda akan dapat memakluminya?
Selain itu, tak semua orang memiliki perlengkapan yg memadai untuk E-Sport. Apakah semua anak Smp & Sma memiliki ponsel pintar dengan spesifikasi cukup untuk bermain Mobile Legend tanpa nge-lag? Ponsel saya saja tak sanggup mengerjakan itu. akan gawat kalau anak-anak Smp & Sma atau malah anak Sd merengek pada orangtua mereka supaya dibelikan ponsel gaming (kecuali pemerintah mau menyediakan).
Tentunya bukan cuma saya yg meragukan kebijakan ini. Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, juga mengkritik wacana ini. Dia berkata akan lebih baik kalau pemerintah memberlakukan kurikulum Digital Citizenship dibanding E-sport supaya menyiapkan generasi mudah menghadapi era digital & saya setuju, pembelajaran media sosial & sejenisnya lebih penting daripada E-Sport.
Jika Digital Citizenship diimplementasikan pada pendidikan maka jumlah orang-orang tolol yg gampang termakan hoax di internet akan jauh berkurang & ini jauh lebih penting & lebih mendasar dibanding keahlian bermain game online.
Memasukkan E-Sport ke dalam kurikulum terasa mustahil namun kalau E-Sport jadi semacam ekskul maka tak akan ada masalah. Anak-anak yg memang suka bermain game online dapat mendaftar ke ekskul tersebut & yg tidak suka tidak akan merasa terganggu. Masalah selesai, semua bahagia.
Sekian dari saya mari berjumpa di thread saya yg lainnya.
sumur