Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Spoiler for Kerumunan:
Pada hari Minggu ku turut teman ke kota. Naik moge istimewa ku jajal Jakarta. Di tengah jalan ada Paspampres yg berjaga. Ditendangnya mogeku hingga jatuh jadinya.
Lirik di atas merupakan parodi dari lagu Naik Delman ciptaan Ibu Sud. Lirik itu diplesetkan untuk menggambarkan kejadian Hari Minggu tanggal 21 Februari 2021 lalu. Saat itu, petugas Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) tengah melaksanakan pengamanan instalasi di Kantor Wakil Presiden di Jalan Veteran III, Jakarta Pusat. Akibatnya, jalan yg biasanya dibuka untuk biasa ditutup sementara dengan cara memasang cone pembatas jalan.
Namun tiba-tiba ada rombongan moge yg melintas dengan laju tinggi & suara knalpot yg berisik. Sejumlah pengendara lantas dilumpuhkan oleh Paspampres. Bahkan petugas menendang salah satu pemotor hingga terjatuh. Kejadian tersebut direkam lewat video salah satu pengendara moge & disebarkan ke media sosial hingga jadi viral.
Viralnya video tersebut menyebabkan Komandan Paspampres Mayjen TNI Agus Subiyanto menegaskan bahwa Paspampres berhak melumpuhkan kendaraan yg menerobos kawasan ring 1 Istana Kepresidenan, termasuk jalan di sekitar Istana yg tengah ditutup oleh petugas.
Hal ini tertuang dalam Buku Petunjuk Teknis Pam Instalasi VVIP yg disahkan oleh Keputusan Panglima TNI tahun 2018 & Peraturan Pemerintah RI Nomor 59 Tahun 2013 tentang Pam VVIP, mengatakan Agus pada 26 Februari 2021.
Setali tiga uang, Asisten Intelijen (Asintel) Paspampres Letkol Wisnu Herlambang menjelaskan, peristiwa pengendara moge yg menerobos masuk area steril Istana saat itu termasuk dalam kategori aksi yg membahayakan. Ia menjelaskan, awalnya kendaraan dihentikan oleh petugas yg ada di sana. Namun karena tak mau berhenti, maka diambil tindakan yg diizinkan dalam aturan, yakni melumpuhkan dengan tangan kosong.
Bahkan bila aksi rombongan moge membahayakan petugas, Paspampres yg sedang melaksanakan dinas dapat mengambil tindakan terukur. Seperti mengeluarkan tembakan peringatan mengpakai amunisi karet, lalu amunisi hampa, & terakhir mengpakai amunisi tajam.
Sumber :Kompas [Paspampres Berhak Lumpuhkan Pengendara yg Terobos Kawasan Ring 1, Ini Dasar Hukumnya]
Sumber :Akurat [Tindakan Paspampres Terhadap Rombongan Moge Penerobos Ring 1 Istana Sesuai UU]
Oleh karena itu, meski video tersebut sengaja diviralkan oleh kelompok moge, mereka pada akhirnya mengaku lalai & meminta maaf. Permintaan maaf dihinggakan oleh salah satu perwakilan pengendara moge, Halid Darmawan pada 1 Maret 2021 saat berkunjung ke Markas Korps Paspampres di Jakarta.
Halid sebagai road captain dari komunitas tersebut mengaku rombongannya sudah menerobos Jalan Veteran III meskti jalan tengah ditutup oleh Paspampres.
"Dari kami itu bukan bentuk kesengajaan, juga bukan bentuk terorisme. Jadi itu murni kelalaian kami dalam berkendara. Saya sebagai kapten lalai dalam membawa rombongan saya," ujar Halid.
Ia memaklumi kalau ada petugas Paspampres yg langsung menindak dengan tegas rombongan yg dinilai memberi ancaman kepada keselamatan VVIP yg berada di area Ring 1.
Letkol Wisnu Herlambang membenarkan adanya permintaan maaf dari komunitas moge. Wisnu menambahkan, para pengendara moge sebenarnya tidak perlu lagi meminta maaf atas perbuatan mereka. Sebab mereka sebelumnya memang sudah ditindak & diberikan edukasi oleh anggota Paspampres sesaat setelah penerobosan.
Sumber :Kompas [Mengaku Lalai, Pengendara Moge yg Terobos Ring 1 Menyesal & Minta Maaf]
Namun, Mantan Komandan Paspampres Letjen Purn Nono Sampono mengatakan perlu ada tindakan tegas pengendara motor yg menerobos kawasan Ring 1 di sekitar istana.
"Saya minta aparat kepolisian harus tegas (menindak penerobos ring 1 & menertibkan balapan liar)," mengatakan Nono pada 28 Februari 2021 lalu. Sebab cara Paspampres menangani pelanggaran di sekitar ring 1 berbeda dengan Kepolisian. Paspampres dapat saja menembak di tempat penerobos ring 1.
Oleh karena itu, Nono mendukung pihak Kepolisian tetap mengusut kasus moge meski pelaku sudah meminta maaf. "Ya. Karena bagaimanapun juga, dia (pelaku) mengpakai medsos, hp, dia rekam & terpantau oleh petugas & polisi. Saya kira dia akan berhadapan dengan ketentuan yg dilanggarnya," ujar Nono.
Menurut Nono, bila kasus ini tidak diusut, maka kejadian yg sama berpotensi terulang kembali karena tidak ada efek jera.
Sumber :Kompas [Mantan Komandan Paspampres: Polisi Perlu Tindak Keras Pengendara Motor yg Terobos Ring 1]
Dengan mengatakan lain, pihak Kepolisian harus menindak semua pihak yg menerobos Ring 1 Istana. Terlepas adanya unsur kesengajaan ataupun tidak (spontanitas).
Penerobosan Ring 1 Istana bukanlah hal yg baru. Tentu kita masih ingat dengan kunjungan Presiden Jokowi ke NTT pada 23 Februari 2021 lalu. Kunjungan Jokowi yg disambut meriah rakyat NTT ternyata menyebabkan kerumunan yg bukan saja menerobos Ring 1, tetapi juga menciptakan petugas Paspampres kewalahan.
Bahkan di salah satu momen kerumunan itu, terlihat video paspampres yg terjatuh diserbu emak-emak kala mengawal Presiden. Dalam video itu terlihat dua orang paspampres mengenderai sepeda motor tampak kewalahan hingga terjatuh saat diserbu emak-emak.
Kejadian yg terjadi di Sumba itu bermula saat mobil rombongan presiden berhenti sejenak. Momen itu dimanfaatkan warga dengan menyerbu mobil Presiden. Mereka terlihat beramai-ramai harap menyalami hingga mengambil gambar Presiden Jokowi. Saat itulah, kedua orang paspampres yg mengendarai sepeda motor terjatuh karena didorong emak-emak yg berebut harap bersalaman & berfoto dengan dengan Presiden.
Sumber :Kumparan [Viral Video Paspampres Terjatuh Diserbu Emak-emak saat Mengawal Jokowi di Sumba]
Kerumunan seperti itu tak cuma terjadi pada saat itu saja. Dari awal mula Presiden keluar dari Bandara Frans Seda Maumere, warga sudah berkerumun menyambut Presiden. Massa bahkan berkerumun di sekitar mobil Presiden saat Jokowi muncul dari atap mobil yg sengaja dibuka. Momen itu dimanfaatkan Jokowi dengan membagikan baju & masker di sepanjang jalan yg ia lintasi.
Kerumunan yg melanggar protokol kesehatan serta sanggup menembus Ring 1 Presiden mendapat kritik keras dari masyarakat lainnya, khususnya dari pihak oposisi pemerintah. Seperti Politikus Gerindra Fadli Zon yg membandingkan kerumunan FPI & Rizieq dengan kerumunan Presiden Jokowi.
Relawan Projo Noel Gallagher lantas membantah perbandingan yg diutarakan Fadli Zon. Menurutnya antusias warga menyambut Presiden Jokowi di NTT berbeda dengan kehadiran ribuan massa FPI yg menyambut Rizieq Shihab di Bandara Soetta. Noel mengatakan ada kampanye di medsos berupa selebaran yg menyerukan supaya massa FPI hadir menyambut.
Sumber :Warta Ekonomi [Perbedaan Kasus Kerumunan Presiden- Rizieq versi Relawan: Kalau Rizieq Dimobilisasi, Jokowi Spontan]
Mobilisasi kerumunan penyambutan Rizieq Shihab sendiri sudah dibantah sebelumnya oleh Ketua PA 212 Slamet Maarif pada November 2020 silam. Menurutnya FPI tidak mengundang, tetapi mereka juga tak melarang massa untuk ikut menyambut. Mereka datang dengan kemauan sendiri.
Sumber :Tribunnews [Kepulangan Habib Rizieq Shihab, Simpatisan Padati Bandara Soetta Meskipun Tak Diundang]
Kedua belah pihak memiliki argumen masing-masing. Bagi pembela Rizieq, mereka mengklaim cuma mengatakan bahwa imam akbar FPI itu akan datang. Mereka mengaku tidak ada ajakan untuk menyambut Rizieq. Akan tetapi, berdasarkan pengakuan Noel, ada kampanye di medsos yg menyerukan supaya massa FPI hadir menyambut.
Sementara dari kasus kerumunan Jokowi, kelompok oposisi melihat ada kesengajaan dari Presiden untuk menimbulkan kerumunan dari melambatnya kendaraan serta hadiah seperti baju & masker yg sengaja dipersiapkan. Sementara pendukung istana menilai itu hanyalah bentuk kesayangan warga NTT kepada pemimpinnya. Tanpa ada hadiah pun masyarakat sudah berkerumun menyambut.
Memperdebatkan argumen kedua belah pihak tentu tak akan ada habisnya. Akan tetapi ada pertanyaan yg menarik dapat kita ambil dari berbagai kasus kerumunan tersebut bila dibandingkan dengan protokol pengamanan Ring 1 Istana kepada kasus moge.
Jika moge penerobos Ring 1 memang harus ditindak oleh penegak hukum atas sikap mereka yg sebenarnya spontan menerobosnya karena lalai, maka bukankah massa di NTT juga harus ditindak atas spontanitas mereka yg menerobos protokoler Presiden?
Atau yg harus diusut adalah Paspampres yg membiarkan massa yg spontan dibiarkan menerobos Ring 1 sehingga menciptakan kerumunan massa?
Atau yg justru harus diusut adalah Presiden Jokowi sendiri karena membiarkan spontanitas massa di NTT menerobos Ring 1, sehingga menciptakan paspampres tidak dapat melumpuhkan spontanitas massa?
Atau Rizieq Shihab harus dibebaskan karena spontanitas massa yg menjemputnya di bandara bukanlah inisiatif Rizieq melainkan spontanitas massa FPI yg dikerahkan kelompok FPI?
Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka akan timbul logika seperti ini. Bila spontanitas moge dinyatakan bersalah, maka otomatis massa Maumere & massa FPI bersalah karena spontanitas mereka.
Namun kalau Presiden tidak bersalah ketika diserbu oleh massa di Maumere secara spontan, maka Paspampres tidak bersalah ketika rombongan moge secara spontan menerobos Ring 1 Istana, sebagaimana pula Rizieq Shihab tidak bersalah ketika diserbu spontanitas massa FPI-nya.
Hari ini 15:05
Pada hari Minggu ku turut teman ke kota. Naik moge istimewa ku jajal Jakarta. Di tengah jalan ada Paspampres yg berjaga. Ditendangnya mogeku hingga jatuh jadinya.
Lirik di atas merupakan parodi dari lagu Naik Delman ciptaan Ibu Sud. Lirik itu diplesetkan untuk menggambarkan kejadian Hari Minggu tanggal 21 Februari 2021 lalu. Saat itu, petugas Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) tengah melaksanakan pengamanan instalasi di Kantor Wakil Presiden di Jalan Veteran III, Jakarta Pusat. Akibatnya, jalan yg biasanya dibuka untuk biasa ditutup sementara dengan cara memasang cone pembatas jalan.
Namun tiba-tiba ada rombongan moge yg melintas dengan laju tinggi & suara knalpot yg berisik. Sejumlah pengendara lantas dilumpuhkan oleh Paspampres. Bahkan petugas menendang salah satu pemotor hingga terjatuh. Kejadian tersebut direkam lewat video salah satu pengendara moge & disebarkan ke media sosial hingga jadi viral.
Viralnya video tersebut menyebabkan Komandan Paspampres Mayjen TNI Agus Subiyanto menegaskan bahwa Paspampres berhak melumpuhkan kendaraan yg menerobos kawasan ring 1 Istana Kepresidenan, termasuk jalan di sekitar Istana yg tengah ditutup oleh petugas.
Hal ini tertuang dalam Buku Petunjuk Teknis Pam Instalasi VVIP yg disahkan oleh Keputusan Panglima TNI tahun 2018 & Peraturan Pemerintah RI Nomor 59 Tahun 2013 tentang Pam VVIP, mengatakan Agus pada 26 Februari 2021.
Setali tiga uang, Asisten Intelijen (Asintel) Paspampres Letkol Wisnu Herlambang menjelaskan, peristiwa pengendara moge yg menerobos masuk area steril Istana saat itu termasuk dalam kategori aksi yg membahayakan. Ia menjelaskan, awalnya kendaraan dihentikan oleh petugas yg ada di sana. Namun karena tak mau berhenti, maka diambil tindakan yg diizinkan dalam aturan, yakni melumpuhkan dengan tangan kosong.
Bahkan bila aksi rombongan moge membahayakan petugas, Paspampres yg sedang melaksanakan dinas dapat mengambil tindakan terukur. Seperti mengeluarkan tembakan peringatan mengpakai amunisi karet, lalu amunisi hampa, & terakhir mengpakai amunisi tajam.
Sumber :Kompas [Paspampres Berhak Lumpuhkan Pengendara yg Terobos Kawasan Ring 1, Ini Dasar Hukumnya]
Sumber :Akurat [Tindakan Paspampres Terhadap Rombongan Moge Penerobos Ring 1 Istana Sesuai UU]
Oleh karena itu, meski video tersebut sengaja diviralkan oleh kelompok moge, mereka pada akhirnya mengaku lalai & meminta maaf. Permintaan maaf dihinggakan oleh salah satu perwakilan pengendara moge, Halid Darmawan pada 1 Maret 2021 saat berkunjung ke Markas Korps Paspampres di Jakarta.
Halid sebagai road captain dari komunitas tersebut mengaku rombongannya sudah menerobos Jalan Veteran III meskti jalan tengah ditutup oleh Paspampres.
"Dari kami itu bukan bentuk kesengajaan, juga bukan bentuk terorisme. Jadi itu murni kelalaian kami dalam berkendara. Saya sebagai kapten lalai dalam membawa rombongan saya," ujar Halid.
Ia memaklumi kalau ada petugas Paspampres yg langsung menindak dengan tegas rombongan yg dinilai memberi ancaman kepada keselamatan VVIP yg berada di area Ring 1.
Letkol Wisnu Herlambang membenarkan adanya permintaan maaf dari komunitas moge. Wisnu menambahkan, para pengendara moge sebenarnya tidak perlu lagi meminta maaf atas perbuatan mereka. Sebab mereka sebelumnya memang sudah ditindak & diberikan edukasi oleh anggota Paspampres sesaat setelah penerobosan.
Sumber :Kompas [Mengaku Lalai, Pengendara Moge yg Terobos Ring 1 Menyesal & Minta Maaf]
Namun, Mantan Komandan Paspampres Letjen Purn Nono Sampono mengatakan perlu ada tindakan tegas pengendara motor yg menerobos kawasan Ring 1 di sekitar istana.
"Saya minta aparat kepolisian harus tegas (menindak penerobos ring 1 & menertibkan balapan liar)," mengatakan Nono pada 28 Februari 2021 lalu. Sebab cara Paspampres menangani pelanggaran di sekitar ring 1 berbeda dengan Kepolisian. Paspampres dapat saja menembak di tempat penerobos ring 1.
Oleh karena itu, Nono mendukung pihak Kepolisian tetap mengusut kasus moge meski pelaku sudah meminta maaf. "Ya. Karena bagaimanapun juga, dia (pelaku) mengpakai medsos, hp, dia rekam & terpantau oleh petugas & polisi. Saya kira dia akan berhadapan dengan ketentuan yg dilanggarnya," ujar Nono.
Menurut Nono, bila kasus ini tidak diusut, maka kejadian yg sama berpotensi terulang kembali karena tidak ada efek jera.
Sumber :Kompas [Mantan Komandan Paspampres: Polisi Perlu Tindak Keras Pengendara Motor yg Terobos Ring 1]
Dengan mengatakan lain, pihak Kepolisian harus menindak semua pihak yg menerobos Ring 1 Istana. Terlepas adanya unsur kesengajaan ataupun tidak (spontanitas).
Penerobosan Ring 1 Istana bukanlah hal yg baru. Tentu kita masih ingat dengan kunjungan Presiden Jokowi ke NTT pada 23 Februari 2021 lalu. Kunjungan Jokowi yg disambut meriah rakyat NTT ternyata menyebabkan kerumunan yg bukan saja menerobos Ring 1, tetapi juga menciptakan petugas Paspampres kewalahan.
Bahkan di salah satu momen kerumunan itu, terlihat video paspampres yg terjatuh diserbu emak-emak kala mengawal Presiden. Dalam video itu terlihat dua orang paspampres mengenderai sepeda motor tampak kewalahan hingga terjatuh saat diserbu emak-emak.
Kejadian yg terjadi di Sumba itu bermula saat mobil rombongan presiden berhenti sejenak. Momen itu dimanfaatkan warga dengan menyerbu mobil Presiden. Mereka terlihat beramai-ramai harap menyalami hingga mengambil gambar Presiden Jokowi. Saat itulah, kedua orang paspampres yg mengendarai sepeda motor terjatuh karena didorong emak-emak yg berebut harap bersalaman & berfoto dengan dengan Presiden.
Sumber :Kumparan [Viral Video Paspampres Terjatuh Diserbu Emak-emak saat Mengawal Jokowi di Sumba]
Kerumunan seperti itu tak cuma terjadi pada saat itu saja. Dari awal mula Presiden keluar dari Bandara Frans Seda Maumere, warga sudah berkerumun menyambut Presiden. Massa bahkan berkerumun di sekitar mobil Presiden saat Jokowi muncul dari atap mobil yg sengaja dibuka. Momen itu dimanfaatkan Jokowi dengan membagikan baju & masker di sepanjang jalan yg ia lintasi.
Kerumunan yg melanggar protokol kesehatan serta sanggup menembus Ring 1 Presiden mendapat kritik keras dari masyarakat lainnya, khususnya dari pihak oposisi pemerintah. Seperti Politikus Gerindra Fadli Zon yg membandingkan kerumunan FPI & Rizieq dengan kerumunan Presiden Jokowi.
Relawan Projo Noel Gallagher lantas membantah perbandingan yg diutarakan Fadli Zon. Menurutnya antusias warga menyambut Presiden Jokowi di NTT berbeda dengan kehadiran ribuan massa FPI yg menyambut Rizieq Shihab di Bandara Soetta. Noel mengatakan ada kampanye di medsos berupa selebaran yg menyerukan supaya massa FPI hadir menyambut.
Sumber :Warta Ekonomi [Perbedaan Kasus Kerumunan Presiden- Rizieq versi Relawan: Kalau Rizieq Dimobilisasi, Jokowi Spontan]
Mobilisasi kerumunan penyambutan Rizieq Shihab sendiri sudah dibantah sebelumnya oleh Ketua PA 212 Slamet Maarif pada November 2020 silam. Menurutnya FPI tidak mengundang, tetapi mereka juga tak melarang massa untuk ikut menyambut. Mereka datang dengan kemauan sendiri.
Sumber :Tribunnews [Kepulangan Habib Rizieq Shihab, Simpatisan Padati Bandara Soetta Meskipun Tak Diundang]
Kedua belah pihak memiliki argumen masing-masing. Bagi pembela Rizieq, mereka mengklaim cuma mengatakan bahwa imam akbar FPI itu akan datang. Mereka mengaku tidak ada ajakan untuk menyambut Rizieq. Akan tetapi, berdasarkan pengakuan Noel, ada kampanye di medsos yg menyerukan supaya massa FPI hadir menyambut.
Sementara dari kasus kerumunan Jokowi, kelompok oposisi melihat ada kesengajaan dari Presiden untuk menimbulkan kerumunan dari melambatnya kendaraan serta hadiah seperti baju & masker yg sengaja dipersiapkan. Sementara pendukung istana menilai itu hanyalah bentuk kesayangan warga NTT kepada pemimpinnya. Tanpa ada hadiah pun masyarakat sudah berkerumun menyambut.
Memperdebatkan argumen kedua belah pihak tentu tak akan ada habisnya. Akan tetapi ada pertanyaan yg menarik dapat kita ambil dari berbagai kasus kerumunan tersebut bila dibandingkan dengan protokol pengamanan Ring 1 Istana kepada kasus moge.
Jika moge penerobos Ring 1 memang harus ditindak oleh penegak hukum atas sikap mereka yg sebenarnya spontan menerobosnya karena lalai, maka bukankah massa di NTT juga harus ditindak atas spontanitas mereka yg menerobos protokoler Presiden?
Atau yg harus diusut adalah Paspampres yg membiarkan massa yg spontan dibiarkan menerobos Ring 1 sehingga menciptakan kerumunan massa?
Atau yg justru harus diusut adalah Presiden Jokowi sendiri karena membiarkan spontanitas massa di NTT menerobos Ring 1, sehingga menciptakan paspampres tidak dapat melumpuhkan spontanitas massa?
Atau Rizieq Shihab harus dibebaskan karena spontanitas massa yg menjemputnya di bandara bukanlah inisiatif Rizieq melainkan spontanitas massa FPI yg dikerahkan kelompok FPI?
Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka akan timbul logika seperti ini. Bila spontanitas moge dinyatakan bersalah, maka otomatis massa Maumere & massa FPI bersalah karena spontanitas mereka.
Namun kalau Presiden tidak bersalah ketika diserbu oleh massa di Maumere secara spontan, maka Paspampres tidak bersalah ketika rombongan moge secara spontan menerobos Ring 1 Istana, sebagaimana pula Rizieq Shihab tidak bersalah ketika diserbu spontanitas massa FPI-nya.
Hari ini 15:05