yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Berawal dari keingintahuan akan cara anjing laut mengukur mangsanya, Dr. Robyn Grant, peneliti dari Manchester Metropolitan University, melakukan perjalanan ke pusat penelitian laut di University of Rostock, Jerman. Disana ia bertemu dengan dua ekor anjing laut, Marco dan Moe, yang menjadi obiek penelitiannya.
Hasil penelitian mengungkap bahwa anjing laut mengukur mangsanya menggunakan kumis-kumis pendek yang ada disekitar moncongnya. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan di Journal of Comparative Physiologist A.
Beberapa spesies mamalia juga diketahui memanfaatkan kumisnya untuk mengumpulkan informasi dari lingkungannya. Salah satu contohnya adalah tikus. Namun pada kasus anjing laut, peneliti menduga jumlah energi yang dikeluarkan jauh lebih besar karena air lebih rapat dibandingkan udara.
Dr. Grant mengatakan, "Manusia mengukur benda menggunakan jengkal tangan. Anjing laut menunjukkan perilaku yang lebih unik," ujarnya.
Dr. Grant melatih Marco dan Moe untuk mengukur kepingan objek berukuran khusus. Ukuran kepingan untuk Moe kebih besar dibandingkan untuk Marco. Pada saat pengujian, ia menutup mata dan telinga Marco dan Moe untuk membatasi kemampuan indra yang lain. Hasilnya? Marco dan Moe mampu memilih objek mereka masing-masing meski dengan mata dan telinga tertutup.
"Mereka menggunakan moncongnya, tempat kumis-kumis kecil berada dan begitu rapat," kata Dr. Grant.
"Mereka menekankan (moncongnya) ke objek, dan berdasarkan jumlah kumis yang bersentuhan langsung dengan objek, mereka bisa memperkirakan ukurannya besar atau kecil," tambahnya seperti dikutip BBC, Minggu (17/2/2013).
Kecepatan anjing laut dalam mengukur juga sangat cepat. "Semua keputusan (pengukuran objek) dilakukan dibawah 0,5 detik," ungkap Dr. Grant.
Kemampuan ini sangat penting bagi anjing laut. Dengan kemampuan ini, mereka tetap dapat kengukur mangsanya ketika daya pandang dalam air begitu buruk.