• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Angkut Sapi dari Australia Lebih Murah Dibanding NTT

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48



Biaya pengangkutan barang dari daerah Nusa Tenggara ke Jakarta via kapal lebih mahal dibanding biaya angkut barang dari Australia ke Jakarta.

"Ekspedisi (ternak) dari Nusa Tenggara Timur ke Jakarta, kan lebih mahal daripada dari Darwin (Australia) ke Jakarta," kata Staf Ahli Menteri Pertanian, Prabowo Respatiyo Caturroso, di kantor KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat 22 Maret 2013.

Prabowo menjelaskan, mahalnya ongkos itu karena Indonesia belum memiliki kapal khusus pengangkut hewan ternak. Oleh sebab itu, dia meminta kepada pemerintah daerah setempat agar mengirimkan sapi lokal dalam bentuk daging potong, bukan sapi hidup.

"Makanya, saya meminta kepada para gubernur, 'Sudahlah, tidak perlu mengirin ternak. Kirim daging potong saja'," kata dia.

Kementerian Pertanian menetapkan kuota daging impor sebanyak 80.000 ton. Kuota ini terdiri atas 48.000 ton daging sapi hidup dan 32.000 ton daging sapi beku. Kuota daging ini menurun lima ribu ton dibandingkan tahun lalu, yaitu 85.000 ton.

Untuk memenuhi daging sapi nasional, Kementerian Pertanian awalnya berencana untuk mendatangkan sapi-sapi lokal dari sentra daging sapi, NTT, ke Jakarta. Saat itu, kementerian berencana mengangkutnya dengan kapal.
Namun, kebijakan ini berubah karena dikhawatirkan bobot sapi akan menyusut selama perjalanan ke Jakarta. Selain itu, belum tersedianya kapal pengangkut hewan.

Lalu, Kementerian Pertanian mengubah peraturannya, yaitu daging sapi lokal dari daerah itu diangkut ke Jakarta dalam bentuk daging potong, bukan sapi hidup.

Menanggapi hal itu, mantan dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan ini menyarankan agar membangun puluhan rumah potong hewan (RPH). "Artinya, perlu membangun RPH yang sesuai dengan ketentuan internasional. Makanya, saya mengusulkan adanya 33 RPH yang dibangun. Sementara ini, RPH sudah ada 17," kata dia.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.