byakuya
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 46894
- Sejak
- 25 Jun 2008
- Pesan
- 14.460
- Nilai reaksi
- 288
- Poin
- 83
Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) melansir anggaran pakaian dan furniture Presiden SBY yang mencapai Rp 42 miliar. Hal ini dinilai tidak sesuai dengan kampanye SBY yang selalu mengajarkan masyarakat untuk hidup hemat dan sederhana.
"Rakyat diserukan untuk hidup hemat sementara presidennya sendiri tidak hidup hemat dan sederhana. Bagaimana ini?" ujar peneliti Hukum dan Politik Anggaran Indonesia Budget Center (IBC), Roy Salam, kepada detikcom, Jumat (24/9/2010).
Meskipun presiden merupakan simbol kepala negara rasanya anggaran yang diberikan pada SBY terlalu besar. Anggaran itu justru menunjukkan presiden ingin memperkaya dirinya sendiri.
"Cara pandang yang salah kalau presiden sebagai simbol negara harus diberi
anggaran dengan segitu banyaknya. Harusnya kalau presidennya makmur,
masyarakatnya juga dong. Tapi ini kan nggak," kata Roy.
Anggaran dengan nilai fantasi ini bagi Roy juga tidak sesuai dengan kondisi
ekonomi bangsa yang saat ini justru sedang memprihatinkan. "Terbukti sekali
pemimpin kita sensitifitasnya masih sangat rendah," imbuh Roy.
Roy berharap kepada seluruh pejabat pemerintah, agar tidak menyalahkan
kepercayaan yang rakyat berikan. Jika memang ada anggaran negara untuk
memfasilitasi para pejabat tersebut, sebaiknya mereka menggunakan angggaran pribadi bukan milik negara.
"60 Persen anggaran kita itu untuk kepentingan birokrasi. Maka itu saya harap baik presiden maupun pejabat negara lainnya harus lebih efisien dalam hal budgeting," jelasnya.
"Ketika substansi anggaran itu tidak bersinggungan dengan negara, sebaiknya semua pejabat menggunakan uang sendiri, seperti baju dan furniture. Jangan karena mereka pejabat semua menjadi beban rakyat," tegas Roy.
"Rakyat diserukan untuk hidup hemat sementara presidennya sendiri tidak hidup hemat dan sederhana. Bagaimana ini?" ujar peneliti Hukum dan Politik Anggaran Indonesia Budget Center (IBC), Roy Salam, kepada detikcom, Jumat (24/9/2010).
Meskipun presiden merupakan simbol kepala negara rasanya anggaran yang diberikan pada SBY terlalu besar. Anggaran itu justru menunjukkan presiden ingin memperkaya dirinya sendiri.
"Cara pandang yang salah kalau presiden sebagai simbol negara harus diberi
anggaran dengan segitu banyaknya. Harusnya kalau presidennya makmur,
masyarakatnya juga dong. Tapi ini kan nggak," kata Roy.
Anggaran dengan nilai fantasi ini bagi Roy juga tidak sesuai dengan kondisi
ekonomi bangsa yang saat ini justru sedang memprihatinkan. "Terbukti sekali
pemimpin kita sensitifitasnya masih sangat rendah," imbuh Roy.
Roy berharap kepada seluruh pejabat pemerintah, agar tidak menyalahkan
kepercayaan yang rakyat berikan. Jika memang ada anggaran negara untuk
memfasilitasi para pejabat tersebut, sebaiknya mereka menggunakan angggaran pribadi bukan milik negara.
"60 Persen anggaran kita itu untuk kepentingan birokrasi. Maka itu saya harap baik presiden maupun pejabat negara lainnya harus lebih efisien dalam hal budgeting," jelasnya.
"Ketika substansi anggaran itu tidak bersinggungan dengan negara, sebaiknya semua pejabat menggunakan uang sendiri, seperti baju dan furniture. Jangan karena mereka pejabat semua menjadi beban rakyat," tegas Roy.
, turun aja kau SBY!!



