• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Anehdot SUFI

Lanjuut... :)
BismiLah ..

Di Sini Bunuh Diri, Di Sana Iblis Berpesta

Bunuh diri marak kembali di negeri ini. Tanda-tanda zaman kita telah mencapai nucleus gelapnya ketika iblis dengan bermilyar-milyar setannya menggerakkan pesta ritual melalui gebyar peradaban liar. Lalu limbah-limbahnya adalah keputusasaan, kekecewaan, frustrasi, lalu bunuh diri.
Saya tidak bisa membayangkan ketika Michael Jackson menyihir jutaan penonton, kemudian histeria itu telah mencapai orgasmeus ekstasenya. Kemudian dengan tiba-tiba ia berteriak; "Mari kita lakukan bunuh diri masal!" Apa ya, yang bakal terjadi?

Di Amerika Serikat, bunuh diri masal pernah dilakukan aliran sesat Kristiani dan begitu juga di beberapa negeri Afrika. Bahkan Asia juga pernah terjadi. Tapi bunuh diri individual, rupanya tak kalah pentingnya untuk disimak dengan segala kekecewaan kita. Kenapa mereka lakukan bunuh diri? Apa yang menjadi tujuan mereka yang bunuh diri?
Iblis memang mencekam. Pada hari-hari terakhir ini, dunia kita seakan mengerikan. Manusia puas ketika membunuh sesama manusia dan rasa puas itulah gema dari pesta-pora iblis dan setan-setannya. Puncak pesta itu justru datang ketika manusia membunuh dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Sebab, satu orang bunuh diri bisa memberikan energi besar yang luar biasa bagi milyaran setan.

Orang bunuh diri menganggap sebagai jalan terakhir atas keputusasaan pada kehidupan. Jalan terakhir yang semakin gelap yang diyakini sebagai cara mudah menyelesaikan masalah. Tetapi itulah jalan terakhir memasuki gerbang raksasa keputusasaan, sumber dari segala sumber masalah kehidupan itu sendiri.
Saat bunuh diri, manusia kehilangan Tuhan. Saat bunuh diri manusia telah menuhankan dirinya sendiri, lalu ia "membunuh" Tuhan yang bersemayam dalam kalbunya. Seketika kegelapan paling hitam mencekik rasa Ilahiyahnya sampai batas di mana berhala kegelapan adalah persembanhan atas kekecewaannya. Mereka yang bunuh diri menjadi kafir. Dia telah menciptakan berhala yang tentu saja anti-Tuhan. Bunuh diri ini berbeda dengan sebuah perlawanan terhadap diri sendiri atau membunuh ikon nafsunya.

Nabi pernah bersabda; "Matilah engkau sebelum engkau mati." Hadits ini bukan hadits untuk bunuh diri. Tapi hadits untuk hidup yang hakiki. Matikan nafsumu, sebelum nyawamu mati. Matikan egoismemu sebelum engkau kembali pada Aku yang hakiki. Agar dirimu bisa menikmati hayatul qalbi (hidupnya hati).
Orang yang mematikan hawa nafsunya berarti telah mampu mengendalikan nafsu itu sendiri. Juga mampu mengendalikan sekaligus jiwanya untuk hidup bersama Allah. Mereka yang bersama Allah senantiasa jauh dari imajinasi tentang bunuh diri, apalagi kekecewaan sampai pada batas; "Ingin mati saja!"

Bersama Allah berarti bersama cahaya Ilahi. Cahaya yang mengusir kegelapan, bahkan kegelapan paling mengerikan, bunuh diri!.
 
Lanjuut
BismiLah ..

Tobat gara-gara kertas
Kita sangat mengenal seorang sufi besar, Bisyr bin al-Harits
al-Hafi (150–227 H). Awal mula ia bertobat dan memasuki dunia sufi, sebenarnya gara-gara secarik kertas yang tercecer dan diinjak banyak orang. Ia melihat kertas itu dengan hati yang sangat antusias. Sebab pada kertas itu ada tulisan Nama Allah. Lalu kertas itu ia ambil, bahkan kertas itu ia beli dengan harga satu dirham. Kemudian kertas itu ia bersihkan sampai bersih, lantas ia letakkan di celah-celah sebuah tembok.

Malamnya Bisyr al-Hafi bermimpi. Dalam mimpi itu ia mendengar suara yang berkata padanya, “Wahai Bisyr, engkau telah membersihkan nama-Ku, sungguh Aku bakal membersihkan namamu (tergolong orang yang baik-- red) di dunia dan di akhirat.”
Sejak mendengar kata-kata itu, Bisyr bertobat dan menjadi sufi, bahkan tergolong tokoh sufi yang disegani di dunia.

Zuhud gara-gara patung
Seorang sufi, Abu Ali Syaqiq al-Balkhi (W. 194 H) memiliki kisah unik, mengapa ia menjadi sufi dan akhirnya menjadi zahid (ahli zuhud)? Syaqiq semula anak saudagar kaya. Gara-gara Syaqiq sedang pergi ke Turki untuk berbisnis di sana, ia memasuki sebuah gedung peribadatan yang dipenuhi dengan berhala-berhala patung. Sejenak ia temui pelayan rumah itu, dengan memakai pakaian khasnya.

“Anda itu, sebenarnya punya Tuhan Yang Mencipta, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa, karena itu sembahlah Dia, dan jangan menyembah patung-patung itu yang tidak bisa membuat Anda sengsara maupun berguna bagi Anda.” Demikian Syaqiq menyarankan kepada pelayan rumah itu.

“Lho, jika memang seperti yang Anda katakan itu, pasti Tuhanmu itu Maha Kuasa memberi rizki anda di negeri anda sana. Lalu untuk apa anda payah-payah datang berbisnis kemari,” jawab pelayan itu.
Mendengar jawaban seperti itu Syaqiq jadi kaget. Maka, sejak saat itu ia putuskan untuk hidup dalam kezuhudan.

Tersesat di Syurga
Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya.
Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
“Apa yang sudah anda lakukan?”
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata,
“Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan larangan Allah?”

“Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?”
“Saya sendiri…hmmm….”
“Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?”
“Jelas dong tuan…”
“Saya nggak jamin kamu bisa masuk ke syurga. Kalau toh masuk kamu malah akan tersesat disana…”
Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan Sang Sufi. Pemuda itu antara marah dan diam, ingin sekali menampar muka sang sufi.
“Mana mungkin di syurga ada yang tersesat. Jangan-jangan tuan ini ikut aliran sesat…” kata pemuda itu menuding Sang Sufi.
“Kamu benar. Tapi sesat bagi syetan, petunjuk bagi saya….”
“Toloong diperjelas…”

“Begini saja, seluruh amalmu itu seandainya ditolak oleh Allah bagaimana?”
“Lho kenapa?”
“Siapa tahu anda tidak ikhlas dalam menjalankan amal anda?”
“Saya ikhlas kok, sungguh ikhlas. Bahkan setiap keikhlasan saya masih saya ingat semua…”
“Nah, mana mungkin ada orang yang ikhlas, kalau masih mengingat-ingat amal baiknya? Mana mungkin anda ikhlas kalau anda masih mengandalkan amal ibadah anda?
Mana mungkin anda ikhlas kalau anda sudah merasa puas dengan amal anda sekarang ini?”

Pemuda itu duduk lunglai seperti mengalami anti klimaks, pikirannya melayang membayang bagaimana soal tersesat di syurga, soal amal yang tidak diterima, soal ikhlas dan tidak ikhlas.
Dalam kondisi setengah frustrasi, Sang sufi menepuk pundaknya.
“Hai anak muda. Jangan kecewa, jangan putus asa. Kamu cukup istighfar saja. Kalau kamu berambisi masuk syurga itu baik pula. Tapi, kalau kamu tidak bertemu dengan Sang Tuan Pemilik dan Pencipta syurga bagaimana? Kan sama dengan orang masuk rumah orang, lalu anda tidak berjumpa dengan tuan rumah, apakah anda seperti orang linglung atau orang yang bahagia?”
“Saya harus bagaimana tuan…”

“Mulailah menuju Sang Pencipta syurga, maka seluruh nikmatnya akan diberikan kepadamu. Amalmu bukan tiket ke syurga. Tapi ikhlasmu dalam beramal merupakan wadah bagi ridlo dan rahmat-Nya, yang menarik dirimu masuk ke dalamnya…”
Pemuda itu semakin bengong antara tahu dan tidak.
“Begini saja, anak muda. Mana mungkin syurga tanpa Allah, mana mungkin neraka bersama Allah?”
Pemuda itu tetap saja bengong. Mulutnya melongo seperti kerbau.
 
Abu Hanifah Dengan Ilmuan Kafir

Imam Abu Hanifah pernah bercerita : Ada seorang ilmuwan besar, Atheis dari kalangan bangsa Romawi, tapi ia orang kafir. Ulama-ulama Islam membiarkan saja, kecuali seorang, yaitu Hammad guru Abu Hanifah, oleh karena itu dia segan bila bertemu dengannya.

Pada suatu hari, manusia berkumpul di masjid, orang kafir itu naik mimbar dan mau mengadakan tukar fikiran dengan sesiapa saja, dia hendak menyerang ulama-ulama Islam. Di antara shaf-shaf masjid ada seorang laki-laki muda, bangkit. Dialah Abu Hanifah dan ketika sudah berada dekat depan mimbar, dia berkata: "Inilah saya, hendak tukar fikiran dengan tuan". Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena usia mudanya. Namun dia pun angkat berkata: "Katakan pendapat tuan!". Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, lalu bertanya:

Atheis : “Pada tahun berapakah Tuhanmu dilahirkan?”
Abu Hanifah : “Allah berfirman: "Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan"
Atheis : “Masuk akalkah bila dikatakan bahwa Allah ada pertama yang tiada apa-apa sebelum-Nya?, Pada tahun berapa Dia ada?”
Abu Hanifah : “Dia berada sebelum adanya sesuatu.”
Atheis : “Kami mohon diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan!”
Abu Hanifah : “Tahukah tuan tentang perhitungan?”
Atheis : “Ya”.
Abu Hanifah : “Angka berapa sebelum angka satu?”
Atheis : “Tidak ada angka (nol).”
Abu Hanifah : “Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa tuan heran kalau sebelum Allah Yang Maha Esa yang hakiki tidak ada yang mendahuluiNya?”

Atheis : “Dimanakah Tuhanmu berada sekarang? Sesuatu yang ada pasti ada tempatnya.”
Abu Hanifah : “Tahukah tuan bagaimana bentuk susu? Apakah di dalam susu itu keju?”
Atheis : “Ya, sudah tentu.”
Abu Hanifah : “Tolong perlihatkan kepadaku di mana, di bahagian mana tempatnya keju itu sekarang?”
Atheis : “Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu diseluruh bahagian.”
Abu Hanifah : “Kalau keju makhluk itu tidak ada tempat khusus dalam susu tersebut, apakah layak tuan meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah Ta'ala? Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan!”

Atheis : “Tunjukkan kepada kami Dzat Tuhanmu, apakah ia benda padat seperti besi, atau benda cair seperti air, atau menguap seperti gas?”
Abu Hanifah : “Pernahkan tuan mendampingi orang sakit yang akan meninggal?”
Atheis : “Ya, pernah.”
Abu Hanifah : “Sebelumnya ia berbicara dengan tuan dan menggerak-gerakan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam tak bergerak, apa yang menimbulkan perubahan itu?”
Atheis : “Karena rohnya telah meninggalkan tubuhnya.”
Abu Hanifah : “Apakah waktu keluarnya roh itu tuan masih ada disana?”
Atheis : “Ya, masih ada.”
Abu Hanifah : “Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat seperti besi, atau cair seperti air atau menguap seprti gas?”
Atheis : “Entahlah, kami tidak tahu.”
Abu Hanifah : “Kalau tuan tidak mengetahui bagaimana zat maupun bentuk roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana tuan boleh memaksaku untuk mengutarakan Dzat Allah Ta'ala?”

Atheis : “Ke arah manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya? Sebab segala sesuatu pasti mempunyai arah?”
Abu Hanifah : “Jika tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?”
Atheis : “Sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru.
Abu Hanifah : “Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu, bagaimana dengan Allah Ta'ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya langit dan bumi.”

Atheis : “Kalau ada orang masuk ke syurga itu ada awalnya, kenapa tidak ada akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya?”
Abu Hanifah : “Perhitungan angka pun ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya.”
Atheis : “Bagaimana kita boleh makan dan minum di syurga tanpa buang air kecil dan besar?”
Abu Hanifah : “Tuan sudah mempraktekkanya ketika tuan ada di perut ibu tuan. Hidup dan makan minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang air kecil dan besar disana. Baru kita melakukan dua hajat tersebut setelah keluar beberapa saat ke dunia.”
Atheis : “Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan habis-habisnya jika dinafkahkan?”
Abu Hanifah : “Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan malah bertambah banyak, seperti ilmu. Semakin diberikan (disebarkan) ilmu kita semakin berkembang (bertambah) dan tidak berkurang.”

"Ya! kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?" tanya Atheis.
"Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan", pinta Abu Hanifah. Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas.
"Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?". Ilmuwan kafir mengangguk. "Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan. Pekerjaan-Nya sekarang ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir yang tidak hak seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mukmin di lantai yang berhak, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu".
Para hadirin puas dengan jawapan yang diberikan oleh Abu Hanifah dan begitu pula dengan orang kafir itu.
 
BismiLah ....

Pengekangan diri
Ibrahim berkisah, "Suatu kali, Aku dipercaya untuk menjaga sebuah kebun buah. Pemilik kebun itu datang dan berkata padaku, 'Bawakan aku sejumlah buah delima yang manis.'
Aku membawakannya beberapa, tetapi semuanya asam.
'Bawakan aku buah delima yang manis,' ujar sang pemilik kebun ini lagi.
Aku membawakannya sepiring penuh delima, namun lagi lagi semuanya asam.
'Kemulian atas Allah!' pekik sang pemilik kebun.
'Engkau telah menjaga kebun ini sekian lama, dan engkau tidak tahu mana delima yang matang?'
'Aku menjaga kebunmu, namun aku tidak mengetahui rasa delima karena aku tidak pernah mencicipinya sedikit pun,' aku menjawab.
'Dengan pengekangan diri seperti ini, engkau pastilah Ibrahim ibnu Adham,' kata sang pemilik kebun.
Ketika aku mendengar kata kata ini, aku pun meninggalkan tempat itu."

***
Sahabat Allah
"Suatu malam", cerita Ibrahim, "aku melihat Jibril dalam mimpi, turun ke bumi dari langit dengan sebuah catatan di tangannya.
Aku bertanya 'Apa keperluanmu?'
'Aku sedang mencatat nama-nama para sahabat Allah,' jawab Jibril.
'Tuliskan namaku,' pintaku.
'Engkau bukan salah seorang dari mereka,' Jibril menjawab.
'Aku adalah sahabat dari para sahabat Allah,' balasku.
***

Duduk Bersila
Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Ibrahim duduk bersila.
"Mengapa engkau tidak duduk bersila?" Ia ditanya.
"Aku pernah duduk seperti itu suatu hari," jawabnya. "Aku mendengar sebuah suara dari langit berkata, 'Wahai Ibnu Adham, apakah para budak duduk seperti itu di hadapan tuan-tuan mereka? 'Aku pun segera duduk tegak lurus dan bertobat."
***

Gara-gara 4 Keping Dirham
Ibrahim mengisahkan, "Suatu kali, aku beperjalanan melintasi padang pasir dengan keyakinan kepada Allah. Selama tiga hari aku tidak menemukan sesuatupun yang bisa dimakan. Setan mendekatiku dan setan itu menggodaku, 'Apakah engkau meninggalkan istanamu dan segala kemewahannya untuk berhaji dalam keadaan lapar? Engkau sebenarnya dapat membuat perjalanan hajimu nyaman tanpa penderitaan.'
Mendengar perkataan setan ini, aku menengadahkan kepalaku dan berkata, 'Ya Allah, apakah Engkau mengutus musuh Mu, bukannya sahabatMu, untuk menyiksaku? Tolonglah aku! Karena aku tidak dapat melintasi padang pasir ini tanpa pertolonganMu.'

Sebuah suara berbicara padaku, 'Ibrahim, buanglah apa yang engkau simpan di kantongmu, dan Kami akan menunjukkan apa yang tak terlihat.''
Aku pun merogoh kantongku. Ada empat keping uang perak di dalamnya yang telah aku lupakan. Segera setelah aku membuang uang itu, setan itu pun pergi menjauhiku, dan pertolongan mewujud keluar dari yang tak terlihat."
 
@anehdot emas.......
harta/ kekayaan duniawi tidak akan pernah di bawa mati...../ok
tetapi kekayaan hati-lah yg akan diperhitungkan nanti diakhirat..../ok
Nais anehdot brader..../no1
 
Lanjut Lagi..
BismiLah ....

Yang Merobohkan Islam
Diriwayatkan dari Ziyad Bin Jarir ia berkata: Aku berjumpa dengan S. Umar Bin Khothob, beliau berkata: Tahukah engkau, apa saja yang merobohkan Islam?
Aku bertanya: Apa saja yang merobohkannya?
Beliau menjawab: Yang merobohkan Islam adalah; kesalahan orang ‘alim/pandai dan perdebatan orang munafik tentang Al Qur’an serta hukum orang-orang yang menyesatkan.

Senjata Makan Tuan
Ketika Isma’il Bin Hammad Bin Abi Hanifah (cucu Imam Abu Hanifah) datang ke basrah, ia berkata: Aku bermaksud akan menghukum orang-orang yang menentang Imam Abu Hanifah.
Seseorang bertanya kepadanya: Apakah Abu Hanifah menghukum orang yang menentang beliau?
Isma’il menjawab: Tidak!
Orang itu berkata: Kalau begitu, hukumlah diri anda sendiri, karena anda sendiri telah menentang Imam Abu Hanifah.

Rendah Diri
Nabi Yusuf ditanya: Bagaimana rendah diri yang sesungguhnya?
Beliau menjawab: Tidak sekali-kali engkau bertemu orang lain kecuali anda melihat bahwa ia memiliki kelebihan diatas anda.


Rizki Bukan Karena Ilmu
Dalam salah satui munajatnya Nabi Musa AS berbisik kepada Allah: Ya Allah kenapa engkau memberi rizki kepada orang-orang bodoh, padahal banyak orang ‘Alim/pandai yang melarat?.
Maka terdengarlah jawaban: Agar orang-orang ‘alim/pandai tahu bahwa datangnya rizki bukan karena daya upaya manusia.

Berdo’a Dengan Baik Dan Benar
Imam Al Asmu’I mendengar seseorang sedang berdo’a di Multazam; ia berkata: Yaa Dzil Jalaali Wal Ikrom! Wahai Allah pemilik keagungan dan kemuliaan!
Imam Al Asmu’I bertanya kepada orang itu: Sejak kapan anda berdoa seperti itu?
Orang itu menjawab: Sejak tujuh tahun berturut-turut, tapi saya belum merasakan do’a itu dikabulkan.
Imam Al Asmu’i berkata: Anda salah dalam bacaan do’a mana mungkin dikabulkan? ucapkan : Ya Dzal Jalali Wal Ikrom!
Orang itupun lalu melakukannya, maka tidak lama pun do’anya dikabulkan.


Siapakah Yang Lebih ‘Alim/Pandai
Muhammad Bin Ishak berkata: Seseorang laki-laki datang kepada Al Qosim Bin Muhammad dan bertanya: Siapakah yang lebih ‘Alim/pandai, anda atau Salim?
Al Qosim menjawab: Salim adalah orang yang sungguh-sungguh diberkati.
Muhammad Bin Ishak berkata: Al Qoasim tidak mau mengatakan Salim lebih pandai ‘alim/pandai daripadanya, sebab dengan begitu berarti ia berbohong, tapi ia juga tidak mau berkata; aku lebih ’alim/pandai dari Salim, sebab dengan begitu berarti ia memuji dirinya sendiri.
Yang sesungguhnya diantara mereka berdua Al Qosim lah yang lebih ‘alim.

Yang Mana Kawan Sejati
S. Ali Bin Abi Tholib ditanya: Berapa banyak teman dekat tuan?
S. Ali menjawab: Saya tidak mengetahuinya sekerang, karena saat ini dunia sedang berada difihak saya, semua orang adalah teman dekat saya. Saya baru tahu itu , besok nanti pada saat dunia meninggalkan saya. Sebab sebaik-baiknya teman adalah orang yang mendekat kepada saya pada saat dunia meninggalkan saya.

Malu
Sesaat sebelum abu Burdah meninggal dunia, dikatakan kepadanya: Bergembiralah dengan ampunan Allah!.
Ia berkata: Justru aku malu atas sesuatu yang karenanya aku diampuni.

Cinta Karena Allah
Seseorang berkata kepada Muhammad Bin Wasi’: Aku mencintai anda semata-mata karena Allah!.
Muhammad Bin Wasi’ berkata: Semoga engkau dicintai Allah yang karenaNya engkau mencintai aku. Ya Allah! Aku berlindung kepada Mu dari keadaan dimana diriku dicintai orang karena Engkau, tapi Engkau sendiri tidak mencintai aku, atau bahkan membeci diriku.
 
"Injaklah wajahku"
Abu Bakar al Kattani menceritakan kisah berikut.
Pernah aku mengenal seorang lelaki yang perlakuannya sangat kasar terhadapku. Aku memberinya hadiah, namun tetap saja kekasarannya tak mau hilang. Aku mengajaknya ke rumahku, dan aku berkata padanya, "Injaklah wajahku", ia menolak, namun aku memaksanya sampai ia akhirnya mau menginjak wajahku sedemikian lama hingga kekasarannya berubah menjadi cinta.

Suatu hari aku mendapat hadiah uang sebesar dua ratus dirham dari sumber yang halal. Aku membawanya dan meletakkannya di ujung sajadahnya.

Aku berkata padanya. "Ini untukmu". Ia melirikku dan berkata, "Aku telah membeli kesempatan ini seharga 70 ribu dinar, dan engkau ingin memperdayai aku dengan uangmu itu?".
Kemudian ia bangkit, mengibaskan sajadahnya, lalu pergi.
Aku tak pernah menemukan harga diri yang seperti harga dirinya, dan aku pun tak pernah merasa Semalu itu saat aku memunguti uang dirhamku.

***
Kenapa Memandang Rumah Tuhan?
Seorang murid Abu Bakar al Kattani tengah mengalami sakratul maut. Pasalnya, ia membuka matanya dan memandang Ka'bah. Tiba tiba, seekor unta mendekat dan menendang wajahnya hingga satu matanya tercungkil keluar.

Seketika Abu Bakar mendengar sebuah suara berkata di dalam dirinya, "Saat ilham sejati dari Yang Tak Terlihat datang kepadanya, ia memandangi Kabah. Maka ia pun dihukum. Tidaklah benar memandangi rumah di hadapan Tuan Rumah."

Abu Bakar al Kattani
Abu Bakar Muhammad ibnu 'Ali ibnu Ja'far al Kattani berasal dari Baghdad, ia termasuk dalam kelompok sufi Al Junaid.
Ia pergi ke Makkah untuk berhaji dan menetap di sana hingga wafatnya pada tahun 322 H/ 934 M.

Kesalehan Abu Bakar al Kattani
Abu Bakar al Kattani dijuluki Lampu Tanah Haram. Ia menetap di Makkah hingga wafatnya. Ia biasa shalat sepanjang malam dan mengkhatamkan Al Quran; dalam rangkaian tawaf mengelilingi Ka'bah, secara keseluruhan ia telah 12 ribu kali mengkhatamkan Al Quran.

Selama tiga puluh tahun ia duduk di Tanah Haram di bawah pancuran air. Selama tiga puluh tahun itu, satu kali berwudu, setiap hari cukup baginya. Selama periode itu, ia tak pernah tidur awal kisah kehidupan Sufistiknya saat ia minta izin dari Ibunya untuk pergi berhaji.

Ia mengisahkan, "Ketika aku melintasi padang pasir, suatu keadaan ruhani menguasaiku, mendorongku untuk berwudlu. Aku berkata dalam hati, Mungkin keperglanku tidaklah tepat; maka aku pun kembali.
Aku tiba di rumah dan menemukan ibuku duduk di balik pintu rumah, menungguku. Aku berkata, "Ibu, apakah Ibu tidak mengizinkanku pergi?"
Ibunya menjawab, "Ibu mengizinkanmu. Hanya saja, tanpamu ibu tak sanggup melihat rumah. Sejak kepergianmu, ibu telah duduk di sini. Ibu bertekad tak akan beranjak sampai engkau kembali."
Karenanya, aku tak pergi melintasi padang pasir selama ibuku masih hidup."


Misteri Tandu Kesembilan
Al-Junaid mempunyai delapan orang murid istimewa yang menjalankan setiap ajarannya. Suatu hari, sebuah pikiran muncul di benak mereka, bahwa mereka harus ikut berjihad.

Keesokan paginya Al-Junaid memerintahkan pembantunya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam berjihad. Ia pun kemudian pergi menyusul kedelapan muridnya itu untuk berjihad bersama.
Saat kedua pasukan saling berhadapan, seorang pahlawan kafir maju dari barisan kaum kafir dan membunuh kedelapan murid Al-Junaid.
Al-Junaid berkata, "Aku menatap langit dan melihat sembilan buah tandu. Masing masing dari kedelapan orang muridku yang syahid itu diusung di sebuah tandu. Hanya sebuah tandu yang masih kosong. Tandu itu pasti diperuntukkan bagiku,' pikirku. Aku pun kembali bertempur sekali lagi.
Kemudian, pahlawan kafir yang telah membunuh kedelapan muridku muncul dan menyapaku, "Abul Qasim, tandu kesembilan itu adalah untukku. Sedangkan engkau, kembalilah ke Baghdad. dan jadilah syekh bagi masyarakat di sana. Tawarkan Islam kepadaku."

Ia pun menjadi seorang Muslim. Dengan pedang yang sama -- yang telah ia gunakan untuk membunuh kedelapan muridku, ia membunuh delapan prajurit kafir. Lalu ia sendiri meraih kesyahidan."
Al-Junaid melanjutkan, "jiwanya juga ditempatkan di dalam tandu, dan kesembilan tandu itu pun lenyap."

Haji Yang Hakiki
Seorang sayyid yang bernama Nasiri hendak berhaji. Ketika ia tiba di Baghdad, ia menemui Al Junaid.
"Dari mana asal Anda, wahai Sayyid?" tanya Al-Junaid kepada sang sayyid setelah keduanya saling mengucapkan salam.
"Dari Gilan," Jawab sang sayyid.
"Anda keturunan siapa?" Tanya Al Junaid.
"Aku adalah keturunan Amirul Mukminin 'Ali bin Abi Thalib," Jawab sang sayyid.

"Kakek buyut Anda (Amirul Mukminin 'Ali bin Abi Thalib) memiliki dua pedang. Satu untuk memerangi orang-orang kafir, dan satu untuk memerangi dirinya sendiri. Wahai Sayyid, Anda adalah keturunan beliau, pedang manakah yang Anda miliki?"
Sang sayyid menangis pilu saat mendengar kata kata ini, dan ia pun tersungkur di hadapan Al-Junaid.
"Guru, di sinilah ibadah hajiku," ujarnya. "Tunjukkan aku jalan menuju Allah."

Al-Junaid berkata, "Hati Anda adalah rumah Allah. Sepanjang Anda mampu, jangan biarkan ketidak ridhaan memasukinya."
"Inilah semua yang aku ingin ketahui," ujar sang Sayyid.
 
Lanjut lagi ...
Bismilah

Tawadlu’ pada Kuda Kiai
Mbah Kyai Zainuddin, seorang Waliyullah yang tinggi derajatnya. Selama menjadi Kyai di Mojosari Nganjuk, Mbah Zainuddin terkenal sangat sabar dalam mendidik para santrinya, yang terkenal ndugal-ndugal, keras dan brangasan.

Suatu hari beliau sedang bepergian naik oplet zaman itu, tiba-tiba berhenti turun tanpa sebab. “Ada apa Pak Kyai kok berhenti?”
“Itu ada kuda lewat. Kayaknya warna dan rupanya mirip kuda Kyai Sholeh Langitan. Jangan-jangan masih ada keturunan nasab dengan kudanya Kyai saya itu...”
Mbah Zainuddin berdiri di pinggir jalan menghormati kuda yang lewat itu. Baru naik kembali ke oplet yang ditumpanginya.

Ingatan Mbah Zainuddin ke masa lalu, ketika masih nyantri di Langitan, ia menjadi khadam Kyainya, dengan tugas mengembala kuda-kudanya. Selama jadi pengembala kuda, tak pernah sekalipun ia mendahului langkah si kuda-kuda itu, karena merasa tidak tawadlu’ ke Kyainya, bisa su’ul adab.

Suatu hari kuda kyainya lepas dari kandang. Untuk memasukkan kembali kuda itu ternyata butuh waktu tiga hari, sebab santri Zainudin ini tidak mau menuntun kuda dari depan, tapi dari belakang. Kemana pun kuda itu pergi, ia ikuti hingga kemana-mana.
Nah, baru tiga hari tiga malam, kuda itu bisa digiring dengan segala kesabarannya ke kandangnya.

Allah mentakdirkan pemuda Zainuddin, si penggembala kuda, menjadi seorang Kyai besar di Mojosari Nganjuk. Faktanya, Subhanallah, Kyai Zainuddin harus mendidik sifat-sifat liar bagaikan kuda dari para santri Mohjosari.

Santri yang dididik Kyai Zainuddin benar-benar brangsan, liar dan bedigalan. Tapi anehnya santri-santri itu malah lulus jadi Kyai-kyai besar di daerahnya. Sebut saja Kyai Wahab Hasbullah Tambak Beras, Kyai Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur, Kyai Umar Mangkuyudan Solo, dan sejumlah Kyai yang auliya’ di tanah Jawa, lahir dari didikan Mbah Zainudin Mojosari.

Sufi Ala Saras 008
Namanya menjadi popular sebagai Saras 008, gara-gara istri seorang aparat ini begitu cekatan dan tomboy. Ia lebih terbiasa mengerjakan pekerjaan laki-laki dibanding pekerjaan perempuan, seperti memanjat pohon, ngebut, dan pasang memasang listrik dan elektronik lainnya.

Dengan pakaian agak tomboy berjilbab, Saras memasuki dunia Thariqat Sufi. Semangatnya luar biasa, sampai tahap pencapaian transformasi yang dirasakan sangat berbeda dengan sebelumnya.

Tetapi cobaan, cercaan dan cibiran juga menimpa dirinya. Kenapa orang Sufi malah memakai pakaian yang bukan pakaian miskin, jembel, dan lusuh?
Cercaan itu membuat dirinya sock, dan hampir-hampir mempertimbangkan apakah ia akan kembali ke dunia Sufi atau tidak. Berhari-hari pikiran dan cercaan itu mengganggu dirinya, kalau dunia Sufi harus berjembel ria, lalu apa jadinya?

Suatu hari ia dapatkan pelajaran Sufi, bahwa dunia Sufi itu lebih berhubungan dengan soal penataan bathin, Qalbu dan jiwa. Soal penampilan dan ekspressi alamiyah justru tidak ada kaitannya, sepanjang itu tidak melanggar syariat. Orang Sufi kalau kebetulan ia memiliki fasilitas harta, tidak boleh meninggalkan harta itu, dengan alasan tidak butuh dunia. Lalu dengan ekstrimnya meninggalkan semua itu demi menuju pada Allah. Yang penting harta tidak mengganggu dan penampilan tidak menjadi hijab antara dirinya dengan Allah.
Saras, yang lesu dan loyo, tiba-tiba bangkit kembali. “Aku harus jadi Saras 008, tapi Sarasnya Allah, bukan Sarasnya sinetron..ha..ha..ha…”
Ha..ha..ha…dasar Saras.

Jual Beli Ilmu Ma’rifat
Sekarang jual beli suara politik sudah jamak dimana-mana, apalagi menjelang pemilu kemarin. Tentu, biasanya jual beli dilanjutkan dengan jual ayat-ayat dalam kampanye. Nah, tidak kalahnya, mulai marak jual beli ilmu ma’rifat.

Kisahnya dimulai dari kerinduan anak muda yang bener-bener kepingin bertemu Allah dan mengetahui ma’rifat itu seperti apa. Lalu ia ikuti sebuah iklan di surat kabar, mengenai teknik mencapai ma’rifat dengan biaya ratusan ribu rupiyah. Berapa pun biayanya akan dibayar jika ia bisa ma’rifat kepada Allah. Maka Maduni, nama pemuda itu bergegas mengikuti acara “ma’rifat” itu.
Semula ia disuruh berdzikir, lalu disuruh memejamkan matanya.

“Kamu sudah melihat apa tadi?” Tanya pembimbingnya.
“Nggak melihat apa- apa, Cuma klemun-klemun di otak saya, kayak pusing-pusing…”
“Lho kamu nggak lihat cahaya tadi?”
“Wah, kalau lihat cahaya, setiap mata saya terpejam, selalu ada, warna-warni pelangi…?”
“Nah, itu cahaya ma’rifat. Apakah masuk di dadamu?”
“Tapi begini Pak, kalau saya terpejam, mata saya gelap, saya selalu terbayang cahaya apa saja yang pernah saya lihat. Semua warna warni tampak…”
“Terus-terus…nanti ada cahaya lagi…”
Madun, jadi bingung. Sudah bayar ratusan ribu, hanya untuk membayangkan cahaya. Ia baru sadar, begitu mahalnya untuk sekadar membayangkan cahaya.

Itulah kisah Madun, ketika ia sudah mulai menempuh jalan Sufi, ternyata banyak tipudaya yang menggambarkan cahaya itu seperti yang pernah tampak di dunia. Padahal Cahaya itu adalah Cahaya Jiwa yang hanya bisa dirasakan dalam pandangan terang benderangnya hati menuju kepada Allah. Bukan macam pelangi atau goresan cahaya. Madun jadi ingat munculnya cahaya yang mengaku Allah di hadapan Syeikh Abdul Qadir Jilani, dan cahaya itu adalah tipudaya Iblis. Madun hanya senyum-senyum mengingat masa lalunya, berbelanja cahaya ma’rifat lewat iklan Koran.
Ha..ha..ha…
 
Lanjutin Trus :D:D:D
BismiLah .....

Mencegah Maksiat Pakai Api
Eddy, seorang mahasiswa perguruan tinggi di Jakarta, sangat bergairah dalam ibadahnya. Tetapi, disampaing ibadahnya kuat, dorongan maksiat juga kuat. Ia sangat bingung menghadapi dua dorongan yang saling berdesakan dalam dirinya. Berbagai cara ditempuh, akhirnya ia tetap gagal, ibadah jalan, maksiat jalan.

Suatu malam ia bermimpi, sedang main-main di atas kobaran api, dan dalam mimpi itu ia terjebur ke bara api. Ia kepanasan dan berteriak. Begitu bangun ia lihat api sedang menganga di kakinya, ternyata obat nyamuk telah membakar kasurnya, hingga hampir menghanguskan seisi rumahnya. Untung dia cepat bangun.

Sejak peristiwa itu Eddy seperti trauma dengan api. Namun ada manfaatnya juga, Eddy mengambil pelajaran dari mimpinya. Setiap muncul dorongan maksiat, ia selalu menyalakan korek api, atau rokok, bahkan mencari api. Tangannya ditempelkan pada api itu. Tentu kepanasan.
"Baru api dunia saja panasnya bukan main, bagaimana dengan api di akhirat nanti?"
Gara-gara itulah Eddy, bisa mengekang nafsu maksiatnya

Sufi Dan Sahabatnya
Seorang Sufi bertemu dengan sahabat lamanya yang pernah suluk bersamaan. Mereka berpisah puluhan tahun, dan bertemu lagi ketika sudah tua.

Begitu bertemu mereka saling menuding melalui telunjuk tangannya, lalu keduanya terbahak-bahak, terpingkal-pingkal. Entah bahasa hati apa yang mereka katakan sampai mereka tertawa-tawa sendiri seperti orang gila.
Beberapa saat ketika mereka reda, berubah menjadi saling bertangisan, saling berpelukan, saling sesenggukan.
Para murid Kyai Sufi itu bengong seperti kerbau ompong. Saking penasarannya mereka akhirnya ingin sekali bertanya, apa gerangan dibalik tangis dan tawa dua hamba Allah itu.

"Kami tertawa, rasanya seperti kami sedang tidak tahan atas ujian-ujian Allah di berbagai maqom Sufi, lalu kami tertawa lagi karena kami saling mengaca diri, betapa lucu dan gombalnya kami-kami ini di depan Allah."
"Kenapa Tuan saling menangis menderu-deru…"

"Ya. Karena kami, sering menikmati keindahan dan rahasia Ilahi, lalu kami sering terpana di sana. Kami tahu, keterpanaan itu adalah tindakan ketololan dan kebodohaan yang bertumpuk-tumpuk, lalu kami menangis sejadi-jadinya."

"Tuan-tuan, kalau bertemu seperti anak kecil yang bergembira maupun yang sedang menangis…"
"Ha…ha..ha…Wahai, para penempuh, jangan heran kebanyakan para Sufi itu, ya seperti anak-anak….he he he…."

Yakin Dengan Salah Faham
Kyai Muhaiminan Gunardo, cucu Kyai Subhi "Bambu Runcing", dari Parakan Magelang terkenal sebagai Kyai yang didatangi ummat dari berbagai penjuru. Beliau selain mengajarkan Thariqat juga sering dimintai mendoakan orang. Suatu hari Kyai Muhaiminan ini didatangi oleh sekelompok orang Tinghoa. Kedatangan mereka cukup mengejutkan Kyai Jawa Tengah ini.

Sudah diduga pasti soal ekonomi atau kebangkrutan dan sejenisnya, masalah yang diadukan. Kyai Muhaiminan menyuruh orang tersebut mengamalkan Ayat Kursi dengan jumlah tertentu. Tionghoa totok ini begitu jujur dan lugu.

"Baca ayat kursi sekian kali ya…!"
Beberapa tahun kemudian mereka datang lagi ke Kyai Muhaiminan dengan membawa segepok uang dibungkus Koran.
"Terimakasih Pak Kyai, berkat doa Pak Kyai usaha saya maju, dan saya bebas dari kebangkrutan…"
Wah, betapa hebatnya orang ini, sampai tekun wiridan ayat kursi. Tapi begitu penasaran Kyai ini, kemudian bertanya.
"Apa sampean ini hafal bener ayat kursi?"
"Hafal sekali Tuan Kyai…"
"Coba saya dengar…"
Orang itu pun membacanya. Tapi yang dibaca bukan ayat kursinya, namun perintahnya. "Baca ayat kursi sekian…baca ayat kursi sekian…"
Setiap hari saya baca begitu Tuan, dan berkali-kali saya baca begitu, akhirnya sukses. Juga…

Kyai Muhaiminan geleng kepala nggak habis pikir. Akhirnya Kyai itu meminta agar menyudahi membaca ayat kursi seperti itu.
Karena yakin, salah faham pun jadi hebat.
 
Lanjutin lagi ...:)
BismiLah .....

Gara-gara "Air Surga"
Harits, orang Badui Arab, dan istrinya, Nafisah, selama bertahun-tahun hidup dengan cara nomaden. Pekerjaan sehari-hari keduanya hanya menggembala dan memandikan unta-unta di sebuah kolam air payau. Kegiatan lainnya, mereka punya kebisaaan menangkap tikus gurun untuk diambil kulitnya dijadikan tali pengikat yang dicampur dengan serat-serat pohon kurma. Setelah jadi tali, mereka pun menjualnya ke para kafilah yang berlalu.
Suatu ketika, Harits melihat air yang tiba-tiba muncul di tengah gurun. Air itu kemudian ia teguk. Bagi Harits, air itu konon ibarat air surgawi, segar dan tidak tercemar limbah apapun.

"(Air) ini akan aku bawa kepada orang yang akan menghargaiku," pikir Harits.
Ia kemudian pergi ke Bagdhad, tepatnya ke Istana Harun Al-Rasyid sambil membawa dua kendi berisi air. Satu untuknya, dan satu lagi untuk Khalifah. Sesampainya di tempat yang bisaa dijadikan pertemuan Khalifah, Harits kemudian menceritakan kepada Harun dan para pengawalnya di Istana tentang "air surgawi" temuannya.

"Pemimpin orang-orang yang jujur, aku adalah seorang Badui yang miskin dan mengenal semua jenis air gurun. Aku baru saja menemukan air surgawi yang ingin aku persembahkan sebagai hadiah kepada Anda," kisah Harits kepada Harun.

Harun lalu mencicipi air itu. Setelah itu ia pun mengatakan, "Apa yang bagi kita tidak penting, baginya (Harits) adalah segala-galanya. Maka bawa dia malam ini dari Istana. Jangan biarkan dia melihat sungai Tigris yang agung. Kemudian berilah dia seribu keping emas sebagai tanda terima kasihku atas pengabdiannya," pinta Kahlifah.

Mendengar penjelasan itu, Harits kemudian pulang seraya membawa pundi emas dengan pengawalan ketat. Mereka menjaga Harits sampai ke tempat tinggalnya.

Biar Impas
Dalam pengajian berikutnya, Ustadz Madun membahas soal hukum Islam. Ia menjelaskan, hukum Islam itu ada mubah, sunah, makruh, wajib, dan haram. Tanpa perlu panjang lebar, jamaah tentu sudah hafal benar dengan hukum-hukum Islam sebagaimana disebutkan dalam banyak kitab fiqih. Yang perlu ia jelaskan barangkali implementasi hukum tersebut di lapangan kehidupan sosial masyarakat saat ini.

"Kalian tahu hukum makruh, bila dikerjakan tidak mendapat pahala tapi bila ditinggalkan dapat pahala."
"Contohnya apa, Pak Ustadz?" potong salah seorang jamaah sebelum Ustadz Madun menjelaskan.

"Merokok atau makan petai, jengkol, dan makanan yang mengandung bau kurang sedap lainnya. Nah itu dihukumi makruh, karena menimbulkan aroma tidak sedap dan kurang baik juga untuk kesehatan,” jelas sang Ustadz.
"Selain makruh, merokok katanya juga bisa memperpendek umur, apakah benar Pak Ustadz?"
"Ya, menurut ahli kesehatan, rokok selain membahayakan orang lain, juga dapat memperpendek umur bagi si perokok."
"Kalau begitu, kenapa tidak diharamkan sekalian saja, biar orang lebih panjang umurnya?"

"Wah, merokok itu hukumnya memang masih kontroversial, ada yang bilang makruh tapi ada juga yang mengharamkannya. Tapi saya tidak berani memutuskan perkara hukum merokok, karena saya belum menjadi mujtahid. Lagi pula, ilmu saya masih dangkal," Ustadz Madun merendah.
"Habis, gara-gara rokok itu, jatah uang dapur saya disunat terus oleh suami. Terus, kalau memang rokok bisa memperpendek umur, saya jadi cepat jadi janda dong?" celetuk seorang ibu muda, yang ditingkahi gelak tawa jamaah lain.

Ustdaz Madun hanya tersenyum. Toh ia juga tak mampu melepaskan batang rokok dari mulutnya. Ia perokok berat. Tapi ia tak merasa tersinggung.
"Begini saja, saya akan kasih tips bagi suami ibu yang suka merokok dan biar ibu nggak cepat janda pula. Dalam hadis ada disebutkan bahwa aktif bersilaturahmi itu bisa memperpanjang umur. Nah, agar suami ibu panjang umurnya, lain kali kalau merokok suruh sambil silaturahmi, biar impas. Setuju begitu?"

Jamaah yang hadir seakan tak mampu berbuat apa-apa. Mereka cuma memikirkan apakah tips Ustadz Madun cespleng atau tidak.
Ya semua wallahu a'lam saja.
 
Sakit Mata yang Sesungguhnya
Suatu kali, Junaid menderita sakit mata. Ia Pun memanggil seorang tabib.
"Jika matamu terasa berdenyut denyut, jangan biarkan matamu itu terkena air," nasihat sang tabib. Saat sang tabib telah pergi, Junaid berwudlu, salat, kemudian pergi tidur. Ketika ia bangun, matanya telah sembuh. Ia mendengar sebuah Suara berkata, 'Junaid mengabaikan matanya demi memilih keridhaan Kaml. Jika, demi tujuan yang sama, ia memohon ampunan bagi para penghuni neraka, niscaya permohonannya akan Kami kabulkan'."

Di jalan, tak berapa lama kemudian, sang tabib memanggil Junaid dan melihat bahwa mata Junaid telah sembuh. "Apa yang telah engkau lakukan?" tanya sang tabib.
"Aku berwudlu untuk salat," jawab Junaid.
Seketika itu pula sang tabib, yang beragama Kristen, mengucapkan dua kalimat syahadat.

"Ini adalah penyembuhan Sang Pencipta, bukan penyembuhan makhluk," komentar tabib tersebut. "Junaid matakulah yang sakit, bukan matamu. Engkaulah tabib yang sebenarnya, bukan aku."

Pengemis Wali
Seorang lelaki bangkit mengemis di Majelis Junaid.
"Lelaki itu benar-benar sehat," pikir Junaid. "Sebenarnya ia bisa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun mengapa ia mengemis, dan menghinakan dirinya sendiri?"
Malam itu, Junaid bermimpi diberi hidangan yang tertutup dan disuguhkan di hadapannya.
"Makanlah," ia ditawari.
Saat ia membuka penutup wadah hidangan, ia melihat lelaki pengemis tadi, terbaring mati didalam wadah itu.
"Aku tidak makan daging manusia," protes Junaid.
"Lalu, mengapa engkau berkata demikian di masjid kemarin?" ia ditanya.
Junaid akhirnya sadar bahwa ia bersalah telah menghujat di dalam hatinya, dan ia telah ditegur karena gunjingan di pikiran itu.
"Aku terbangun ketakutan. Aku pun berwudlu dan salat dua rakaat. Kemudian aku pergi mencari pengemis itu. Aku melihatnya di tepi Sungai Tigris, sedang mengumpulkan sisa sisa sayuran yang dicuci orang orang di sana, dan ia pun memakannya.
Lelaki itu mengangkat kepala, melihatku, dan menyapaku, 'Junaid, apakah engkau telah bertobat atas pikiran pikiranmu mengenaiku?'.
"Ya, aku telah bertobat," jawab ku.
"Kalau begitu, pergilah. 'Dialah yang menerima tobat hamba hamba Nya. Kali ini jagalah pikiran-pikiranmu."'

Gara-gara Merasa Berderajat Tinggi
Seorang murid Junaid merasa telah rnencapai derajat kesempurnaan. "Lebih baik aku menyendiri," pikirnya.
Maka ia pun menyendiri di sebuah sudut kamarnya dan duduk di sana selama beberapa waktu.

Setiap malam, seekor unta dibawa ke hadapannya dan dikatakan padanya, "Kami akan membawamu ke surga."
Ia pun menunggangi unta itu dan berkendara sampai tiba di sebuah tempat yang menyenangkan dan membahagiakan, tempat yang dipenuhi oleh orang orang tampan. Di sana berlimpah berbagai jenis makanan dan air yang mengalir.

Ia tinggal di sana hingga fajar; kemudian ia akan tertidur dan telah berada di kamarnya ketika terjaga. Ia pun menjadi bangga dan sombong karena hal ini. "Setiap malam aku dibawa ke surga," katanya membanggakan diri.
Kata katanya ini sampai kepada Junaid. Junaid pun menuju ke kamar muridnya itu. Di sana Junaid menemukannya mempraktikkan tatakrama yang tinggi. Junaid bertanya padanya tentang apa yang terjadi. Si murid pun menceritakan keseluruhan cerita kepadanya.
"Malam ini, saat engkau dibawa ke sana, ucapkanlah tiga kali: 'Laa Haula walaa Quwwata Illa Billahil 'Aliyyil 'Adzim" kata Junaid.

Malam itu si murid mengalami apa yang biasanya terjadi. Dalam hatinya, ia tidak mempercayai apa yang telah dikatakan oleh sang syekh kepadanya. Namun, bagaimanapun juga, saat ia tiba di tempat itu, ia coba coba mengucapkan: "Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Agung."

Seketika, semua yang ada di sana berteriak dan pergi melarikan diri. Ia menemukan dirinya berada di atas gundukan kotoran hewan dengan tulang-tulang berserakan di sekitarnya. Menyadari kesalahannya, ia pun bertobat dan kembali ke kelompok Junaid. Ia telah belajar bahwa bagi seorang murid, yang menyendiri adalah racun yang mematikan.
 
Gerah Dengan Buku Yang Mengugat Sufi
Dengan sikap emosional dan gerah, Parto menentang beberapa buku yang menggugat dunia Tasawuf. Sudah bisa ditebak buku itu isinya pasti menghujat, menyesatkan dan menyampahkan tasawuf.
“Ini bagaimana kawan. Kita dihabisi dengan penuh kehinaan. Apa yang harus kita lakukan. Apa kita bakar buku-buku ini?”
Kawannya, Sugih namanya, yang diajak bicara tadi melihat satu persatu buku itu sambil senyum-senyum.
“Gih kamu kok malah tertawa-tawa seperti itu. Ini banyak orang bisa sesat membaca buku ini, dan mereka bisa anti terhadap ajaran tasawuf.”

“Ngapain kamu gerah To, lha wong zamannya Ibnu Sraby, zamannya Ibnu Athaillah saja, sudah dihujat oleh Ibnu Taymiyah yang begitu hebat. Tapi toh tak bergeming. Sedangkan buku-buku ini yang menulis klas kambing saja, penulis pinggir jalan, seperti penjaja kacang goreng saja…”

“Tapi ini kan ada juga penulis dari Syeikh Saudi?”
“Apalagi. Kan semakin jelas.”
“Jelas apanya mereka syeikh dan Ulama…”
“Nah semakin jelas pula, dan semakin gembira kita…”
“Saya nggak mudeng Gih, kenapa kamu begitu….?”
“Lha iya. Alhamdulilllah tasawuf digugat. Itu justru akan membesarkan pohon Sufi kita, menjadi pupuk bagi kagungan dan kerindangan ajaran Nabi yang paling inti…”

“Kamu ini malah bikin aku pusing…”
“Pohon itu besar karena pupuknya, rawatannya. Lebih baik kita pakai pupuk kandang anti pestisida. Kotoran-kotoran sapi itu lho…masak kamu nggak ngerti…”
“Aku nggak ngerti Gih…”

“Anggap saja mereka itu, ucapan mereka, ulasan mereka tu, kotoran yang menjadi pupuk bagi kita. Jangan dibuang. Biarkan saja. Lha wong para Nabi dan para wali dulu musuhnya orang-orang munafik, orang-orang zalim, orang-orang fasiq, nah, kIta belajar dan bercermin saja di sana. Nggak usah pusing-pusing lah, malah alhamdulillah…”
Parto hanya geleng kepala sambil menghela nafas panjangnya.
“Jadi nggak perlu di counter Gih?”
“Di counter sambil guyon, dan ditunggu sambil tidur saja…”

Belajar Keyakinan
"Aku belaiar keyakinan yang tulus dari seseorang pemangkas rambut," kenang Junaid, dan ia pun mengisahkan cerita berikut ini.
Suatu kali, saat aku ada di Makkah, seorang pemangkas rambut tengah mencukur rambut seorang lelaki terhormat. Aku berkata padanya, "Demi Allah, dapatkah engkau memangkas rambutku?"
"Ya, tentu saja," katanya sambil bercucuran air mata; ia tidak menyelesaikan pekerjaannya terhadap lelaki terhormat itu.
"Berdirilah," katanya. "Saat nama Allah di ucapkan, yang lain harus menunggu."
"la pun mendudukkanku, mencium kepalaku, dan mencukur rambutku. Lalu ia memberikanku sebuah bungkusan kertas yang berisi sejumlah koin kecil.
"Belanjakanlah uang ini untuk keperluanmu," katanya.
Aku pun berketetapan.hati untuk memberikan padanya hadiah pertama. yang kuterima. Tidak berapa lama, aku dihadiahi sekantong emas dari Bashrah. Aku membawa emas itu ke si tukang cukur.
"Apa ini?" tanyanya. Aku menjelaskan, "Aku telah berketetapan hati, bahwa hadiah pertama yang aku terima, akan aku berikan kepadamu. Aku baru saja mendapatkan ini."

Saksi pakaian sendiri
Suatu malam, seorang pencuri memasuki kamar Junaid. Setelah melihat tidak ada apa-apa di dalam kamar Junaid kecuali sehelai pakaian, pencuri itu pun mengambil pakaian itu lalu pergi.
Keesokan harinya, Junaid melewati pasar dan melihat pakaiannya ada ditangan seorang pedagang yg tengah menawarkannya pada seorang lelaki.
"Sebelum membelinya, aku ingin engkau menghadirkan seorang untuk bersaksi bahwa pakaian ini memang benar-benar milikmu," kata calon pembeli.
Junaid pun mendekat dan berkata, "Aku siap untuk bersaksi bahwa pakaian ini memang benar-benar miliknya."
Akhirnya lelaki itu pun membeli pakaian tersebut.

Orang Yang Terdesak
Seorang wanita tua menemui Junaid dan berkata, "Anak lelakiku hilang. Berdoalah agar ia kembali."
"Sabarlah," kata Junaid padanya
Wanita tua itu menunggu dengan sabar selama beberapa hari. Lalu ia kembali menemui Junaid.
"Sabarlah," Junaid mengulangi jawabannya.
Hal ini berulang selama beberapa kali. Akhirnya wanita tua itu datang dan berkata, "Kesabaranku telah habis. Berdoalah kepada Allah."
"Jika engkau berkata benar," kata Junaid, "maka anak lelakimu telah kembali. Allah berfirman, 'Dialah yang menjawab orang terdesak, saat ia menyeru-Nya.'"
Kemudian junaid pun memanjatkan do'a. saat wanita tua itu kembali ke rumahnya anak lelakinya telah kembali

Kebutuhan
Seorang lelaki membawa uang lima ratus dinar memberikannya kepada Junaid.
"Apakah engkau memiliki sesuatu selain ini?" tanya Junaid padanya.
"Ya, banyak," jawab lelaki itu. "Apakah engkau butuh lebih?"
"Ya."
"Kalau begitu, bawalah kembali uangmu ini," kata junaid. "Engkau lebih berhak atasnya. Aku tidak mempunyai apa-apa, dan aku tidak membutuhkan apa-apa."
 
Hobi Mengoleksi Amalan
Darmo paling senang kalau ia mendapatkan amalan dan ijazah wirid dari seorang Kyai. Bahkan ia benar-benar maniak “wirid”. Bukunya ada tiga jilid, semua isinya tulisan tentang wirid, doa, dzikir, macam-macam, sampai soal pelet dan gendam pun ada di catatannya.
Buku itu ditenteng kemana-mana, layaknya tukang kredit. Suatu hari ia ingin pamer pada kawan lamanya yang sudah sekian tahun tidak bertemu, Kunto, nama kawan itu.

“Kun, bagaimana perkembanganmu, apa kamu sudah punya amalan untuk pegangan hidupmu?”
“Saya nggak punya apa-apa Mo, saya hanya punya satu saja …”
“Lah, amalan kok satu, kurang sempurna Kun. Kalau saya nih…” katanya sambil menyodorkan tiga buku catatan amalan itu.
“Kamu mestinya jadi sarjana Mo..”
“Wah saya sudah S 7. Mestinya sudah lebih professor soal amalan…”
Kunto hanya senyum-senyum saja.
“Jadi kamu sudah bisa apa
saja Mo?”
“Jangankan samurai, peluru pun sudah nggak mempan.
Orang sekampung juga sudah mulai tahu kedigdayaanku ini…”
“Sakti donk kamu?”
“Begitulah…”
“Sesakti-sakti kamu, kalau ketemu isterimu kamu juga sudah takut bukan main….”

“Kok tahu kamu?”
“Tau saja. Apa artinya kesaktianmu….kalau begitu”
“Bukan itu Kun. Wirid saya juga lengkap. Semua kalau diamalkan kita menjadi paling sempurna. Ibarat bumbu paling lengkap punyaku. Tapi kalau kamu kan Cuma satu….”
“Lha iya. Kalau kamu mau masak, semua bumbu kamu masukkan dalam masakan, jadinya rasa apa Mo…”
Darmo agak kebingungan.
“Iya..ya….Rasa apa ya? Tapi kan paling top kita…”
“Top apanya, paling –paling malah dibuang semua, karena rasanya bukan masakan lezat, malah jadi kayak jamu…mendem…siapa mau makan?”
Darmo memandangi begitu lama tiga catatan bukunya tak berkedip.
“Kalau kamu Cuma satu, itu amalan apa?”
“Akh sederhana. Satu itu kan Gusti Allah, tauhid…udah..”
Darmo memandangi wajah Kunto dalam-dalam. Ia bergegas memasukkan buku catatannya dalam tasnya. Ia tampak gelisah bukan main. Wajahnya pucat.
“Kun, kapan-kapan aku kesini lagi….”
“Pintu terbuka untukmu kawan. Syukur-syukur kamu sudah jadi dukun…”

Ganja dan Sufi
Asmat, baru saja bertobat. Ia mulai menyadari masa lalunya dengan narkoba menyesatkan dirinya. Ketika mulai masuk dunia Sufi, Asmat justru kembali ke narkoba lagi.

“Kamu kok begitu sih Mat? ”tegur kawannya, Darwis.
“Saya lakukan eksperimen, siapa tahu saya berdzikir sambil mengganja, tambah uueeenak, melayang dzikirku…”
“Kamu memang sudah edan makan semir Mat…”
“Coba Wis, kamu coba. Nganja sambil dzikir pasti enak tenan…”
Darwis nggak habis pikir pandangan Asmat yang kontroversial ini.
“Kamu sudah ghurur Mat. Kamu terkena tipudaya…?”
“Bagaimana kamu bilang begitu. Kan banyak orang berdzikir yang dicari nikmatnya dzikir, bahkan kalau perlu bisa nangis-nangis segala…”
“Lhahadala…Itu to yang membuatmu begitu…”
“Jelaskan?”

“Dzikir itu tujuannya agar bertemu Allah, Musyahadah kepada Allah, hadir di depan Allah. Bukan mencari nikmatnya dzikir atau…. Bisa-bisa kamu melayang nggak karuan campur syetan nanti…”
“Campur syetan bagaimana Wis?”
“Kamu nge-ganja, pasti kamu mengkhayal. Sedangkan hatimu tidak ingin sama sekali bersenang-senang dengan kenikmatan khalamu, hatimu hanya sedang mengingat Allah, bagaimana bisa nyampe pada Allah, kalau yang kau unggulkan, kau senangi selera nafsumu?”
Asmat bengong lagi….

“Sudah begini saja, teruskan nge-ganjamu. Apa kamu nanti bisa bertemu Allah atau bertemu syetan…Coba! Nanti kalau kamu dicabut nyawamu saat kamu nge-ganja sambil dzikir, kamu husnul khotimah apa su’ul khotimah, saya nggak mau ikut-ikut akh…”
Asmat lalu menyedot sekuat-kuatnya ganja yang di tangannya. Semakin lama ia mengkhayal semakin bergentar jantungnya, semakin gelisah dan gundah jiwanya. Diam-diam ia bisa membedakan mana hasrat nafsu dibalik ibadah, hasrat nafsu dengan kemanjaan dan khayalan, dan hasrat hati yang sesungguhnya.
“Wiisss…! Darwiiiiiiiisss! Kamu dimana Wis!...”
Asmat berteriak sekencang-kencangnya.
“Aku sejak tadi disini Mat. Di dekatmu….”
Asmat terkejut dan mulai menangis sesenggukan.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.