• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Anehdot SUFI

semutsedeng

IndoForum Senior C
No. Urut
69471
Sejak
27 Apr 2009
Pesan
5.596
Nilai reaksi
138
Poin
63
Anekdot Seputar Eemas
Anekdot emas 1
Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah seorang Sufi agung sekaligus ahli ilmu kimia. Suatu hari beliau memohon kepada Allah swt, agar diberi petunjuk bagaimana besi bisa jadi emas.
Aklhirnya mendapatkan Ilham dari Allah, agar membakar besi itu, dan setelah itu dikencingi.

Benar, apa yang terjadi, akhirnya besi itu berubah jadi emas. Tidak jelas, kenapa harus dikencingi dan apa kandungan kencing. Apa hubungan air kecing dengan benda-benda besi dan emas?

Akhirnya Syeikh Abul Hasan bermohon kepada Allah. “Ya Allah kenapa proses ini harus melalui najis?”

Lalu dijawab oleh Allah, swt, “Sesuatu yang kotor, prosesnya lewat jalan yang kotor pula…”.

Akhirnya emas itu dikencingi lagi, dan berubah jadi besi sebagaimana semua.

Emas adalah lambang kemewahan dan harta dunia. Dan dunia itu kotor, maka dilambangkan puila dengan proses najis secara kimiawi.

Anekdot emas 2
Ada seorang ahli khalwat di daerah Madura yang luar bisaa. Konon hanya 35 hari sekali keluar. Orang aneh ini, menurut penduduk di sana, pusarnya banyak sekali mengelilingi perutnya.

Yang menjadi masalah, banyak orang menunggu kapan orang tersebut keluar dari tempat khalwatnya. Bukannya orang-orang itu mohon didoakan, tetapi menunggu kapan sosok aneh ini membuang air besar.

Kadang penduduk sekitar sana, melihat kadang-kadang tidak melihat. Kadang sosok aneh ini buang air besar kadang tidak.

Ketika buang air besar mereka berebut mengambil tinjanya. Lho?
Sebab setiap yang keluar dari perutnya itu, bukan berupa tinja kuning seperti layaknya kebanyakan orang. Tetapi yang keluar adalah warna kuning emas, dan kenyataannya adalah emas.

Rupanya orang aneh ini pandai dan arif mendidik masyarakat sekitarnya melalui tinja. Bahwa sehebat-hebat harta dunia yang dilambangkan dengan emas, ternyata nilainya tak lebih dari tinja manusia. Wuiih!

Anekdot emas 3
Seorang ustadz di pesanren sedang menjelaskan tentang pandangan beberapa mazhab fiqih mengenai perhiasan emas yang dipakai oleh lelaki muslim.

“Menurut Imam Syafi’i seorang laki-laki muslim haram hukumnya memakai perhiasan emas. Namun boleh menurut Imam Maliki….”

Diskusi jadi panjang, ketika muncul pertanyaan bagaimana menurut mazhab syafi’i, lelaki yang menggunakan batu permata seperti berlian yang harganya lebih mahal dari emas, atau menggunakan batu zamrud yang nilainya ratusan juta? Apakah halal atau haram?

Sang Ustadz memberi argumen ngalor ngidul, yang dinilai cukup masuk akal.

Tiba-tiba, seorang gadis dalam arena itu penasaran bertanya?
“Kenapa sih Pak Ustadz, laki-laki tidak boleh menggunakan perhiasan emas, sedangkan kami boleh? Apakah Allah membuat perbedaan gender dalam kasus ini?”
“Ya, memang.…Tapi karena kaum lelaki sudah dipanggil Mas…Mas…Maaaaasss…untuk apa pakai emas segala?”

He he he…Nggak lucu ah!


Anekdot emas 4
Seorang Kyai Fadlun, dari Jawa Timur, seringkali diomelin oleh isterinya (Ibu Nyai), karena begitu banyak menolong ummat melalaui nasehat dan doa. Dan mereka yang ditolong oleh Kyai itu sukses. Biasanya ketika sukses sudah tidak kembali lagi.

“Pak Yai, kenapa orang-orang yang ditolong pada sukses, tapi kehidupan kita cuma begini-begini saja. Apa tidak punya doa atau apalah yang bisa membuat kita jadi sukses lebih hebat lagi, lebih kaya lagi.
Kenapa mesti orang lain teruuus?” protes Ibu Nyai pada sang Kyai.

Rupanya sang Kyai hanya tersenyum belaka.
“Coba kamu ambil gentheng di rumah kita yang ada dekat wuwungan pojok...” kata Kyai itu.

“ Sebelll akh… Masak minta fasilitas lebih malah disuruh naik gentheng. Nanti apa kata tetangga. Ibu Nyai kok naik-naik wuwungan, lagi nyari apaan tuh.…Nggak lucu akh…”
“Sudahlah..Ikuti saja. Katanya kamu mau minta harta emas berlian.”

Ibu Nyai akhirnya nekad naik gentheng. Dengan bersungut-sungut agar tidak dilihat tetangga, nekad juga akhirnya. Begitu ia dapatkan gentheng itu, ia bolak balik, sembari membatin, apa sih istemewanya gentheng tanah ini?

Setelah tuerun membawa gentheng, ia serahkan benda itu ke suaminya, dengan muka masem.

Genteng itu dipegang oleh Pak Kyai, lalu dibungkus kain. Kemudian Kyai itu memberikan kembali ke isterinya, agar dibuka. Ternyata begitu terjeutnya sang Bu Nyai, gentheng tanah tadi berubah jadi emas semua.

Ibu Nyai kaget bukan main. Dengan muka pucat ia tak bias bicara.

“Kamu pilih mana, nikmat-nikmat Allah disegerakan di dunia, atau nanti di akhirat?”

Ibu Nyai menyadari kesalahannya, dan menangis memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Seketika genheng emas tadi berubah jadi gentheng tanah. Sejak saat itu, ia kapok protes pada suaminya.

Siapa yang Menggoda Syetan?
Syetan rupanya sangat bangga dengan tugasnya, menggoda manusia untuk berbuat jahat. Namun manusia yang satu ini rupanya juga penasaran. Kalau begitu, siapa yang menggoda syetan? katanya dalam hati.

Orang itu tak lain Mukidin, pertugas pentakmir masjid di dekat rumahnya. Dia sekarang makmur karena bisa korupsi di sana sini. Suatu ketika Mukidin bertanya pada seorang Kiai Sufi.
“Pak Kiai, syetan itu kan punya tugas menggoda manusia, lalau siapa yang menggoda syetan?” tanyanya agak sombong
“Ya kamu itu yang menggoda syetan!” kata Kiai seraya mengumbar tawa.

Mukidin pun ikut tertawa sampai-sampai perutnya yang buncit itu berguncang-guncang.
Suasana sejenak hening, dan Mukidin hanya tertunduk sambil merenungi dirinya. Benarkah dirinya bisa menggoda syetan, sedangkan syetan dari ujung rambut hingga kakinya pun belum ia kenal?
Setelah beberapa bulan ia menyadari akan tindakan buruknya selama ini, ia bertobat lalu mendatangi Kiai Sufi itu.
“Benar Pak Kiai, saya memang sering menggoda syetan,” katanya.
“Ya, kalau kamu tidak menggodanya, syetan tidak berani menggodamu,” kata Kiai itu yang disambut manggut-manggut Mukidin

Memanggil Iblis
Abu Sa’id al-Kharraz (w. 277 H/890 M) adalah Sufi terkenal dengan sejumlah karya monumentalnya. Ia berasal dari Baghdad dan berguru pada Dzun Nun al-Mishri dan an-Nabaji, juga berguru kepada Abu Ubaid al-Bishri dan Bishri Ibnu al-Harits.
Suatu hari, al-Kharraz bermimpi bertemu iblis. Iblis kelihatan menjauh darinya. Melihat iblis semakin menjauh lalu al-Kharraz pun memanggilnya.

“Hai Iblis! Kemarilah, apa sebenarnya maumu?,” katanya.
“Apa yang akan kulakukan padamu, sedangkan dirimu telah membuang dari dirimu sendiri, padahal yang kau buang itu bisa kugunakan untuk menipu manusia,” jawab sang Iblis.
“Apa itu?”
“Dunia!”
“Iblis kelihatan sangat segan dengan al-Kharraz, tapi pelan-pelan ia menoleh kepadanya.
“Tapi aku masih punya sesuatu berupa bisikan halus untukmu,” kata Iblis.
“Apa itu?”
“Bergaul dengan orang yang banyak bicaranya.” jawab Iblis..
 
Yang Merobohkan Islam
Diriwayatkan dari Ziyad Bin Jarir ia berkata: Aku berjumpa dengan S. Umar Bin Khothob, beliau berkata: Tahukah engkau, apa saja yang merobohkan Islam?
Aku bertanya: Apa saja yang merobohkannya?
Beliau menjawab: Yang merobohkan Islam adalah; kesalahan orang ‘alim/pandai dan perdebatan orang munafik tentang Al Qur’an serta hukum orang-orang yang menyesatkan.

Senjata Makan Tuan


Ketika Isma’il Bin Hammad Bin Abi Hanifah (cucu Imam Abu Hanifah) datang ke basrah, ia berkata: Aku bermaksud akan menghukum orang-orang yang menentang Imam Abu Hanifah.
Seseorang bertanya kepadanya: Apakah Abu Hanifah menghukum orang yang menentang beliau?
Isma’il menjawab: Tidak!
Orang itu berkata: Kalau begitu, hukumlah diri anda sendiri, karena anda sendiri telah menentang Imam Abu Hanifah.

Rendah Diri


Nabi Yusuf ditanya: Bagaimana rendah diri yang sesungguhnya?
Beliau menjawab: Tidak sekali-kali engkau bertemu orang lain kecuali anda melihat bahwa ia memiliki kelebihan diatas anda.
 
Dialog Ahli Syari’at dan Ahli Hakikat
Perdebatan antara ulama fikih/syari’at dan ulama hakikat sepertinya tak pernah berujung. Sejak dulu hingga kini, persoalan itu masih terus bergulir, meski banyak buku-buku tentang sufisme yang menjelaskan hubungan antara keduanya. Termasuk karya termasyhur Imam al-Ghazali, Ihya Ulumuddin. Biasanya, ulama fikih atau syari’at selalu menuduh bahwa ahli tasawuf banyak menyimpangkan ajaran Islam.

Tapi dalam dialog di sebuah majelis sufi, seorang ulama fikih kali ini seperti dibuat tak berdaya. Bahkan ulama tersebut justru membenarkan pendapat yang dikemukakan ahli hakikat.

“Menurut Anda,” tanya ahli hakikat mengawali dialog, “jika Anda memiliki 40 ekor kambing, lalu berapa ekor kambing yang wajib dikeluarkan zakatnya?.”
“Berdasarkan ketentuan fikih, satu ekor.” Sang Sufi pun manggut-manggut.
“Sebaliknya, berapa menurut Anda?”

“Secara hakikat, ya semuanya,” jawab sang Sufi spontan.
“ Lho, kok, bisa begitu? Buat apa kita memelihara kambing kalau harus diberikan semuanya pada mustahiq, bukankah kambing itu sebagiannya sudah menjadi milik kita?”

“Anda benar. Tapi Anda juga harus tahu bahwa kambing-kambing yang kita pelihara itu bukan milik kita, tapi milik Allah. Itu secara hakikat. Kita hanya diberi amanah oleh Allah, karena punya Allah, maka kita tidak berhak mengklaim bahwa kambing-kambing itu milik kita.”
Ahli fiqih hanya bisa diam. Ia lalu mencoba menggali makna terdalam dari ucapan ahli hakikat tadi.

Siapa yang Menggoda Syetan?

Syetan rupanya sangat bangga dengan tugasnya, menggoda manusia untuk berbuat jahat. Namun manusia yang satu ini rupanya juga penasaran. Kalau begitu, siapa yang menggoda syetan? katanya dalam hati.

Orang itu tak lain Mukidin, pertugas pentakmir masjid di dekat rumahnya. Dia sekarang makmur karena bisa korupsi di sana sini. Suatu ketika Mukidin bertanya pada seorang Kiai Sufi.

“Pak Kiai, syetan itu kan punya tugas menggoda manusia, lalu siapa yang menggoda syetan?” tanyanya agak sombong
“Ya kamu itu yang menggoda syetan!” kata Kiai seraya mengumbar tawa.
Mukidin pun ikut tertawa sampai-sampai perutnya yang buncit itu berguncang-guncang.

Suasana sejenak hening, dan Mukidin hanya tertunduk sambil merenungi dirinya. Benarkah dirinya bisa menggoda syetan, sedangkan syetan dari ujung rambut hingga kakinya pun belum ia kenal?
Setelah beberapa bulan ia menyadari akan tindakan buruknya selama ini, ia bertobat lalu mendatangi Kiai Sufi itu.

“Benar Pak Kiai, saya memang sering menggoda syetan,” katanya.
“Ya, kalau kamu tidak menggodanya, syetan tidak berani menggodamu,” kata Kiai itu yang disambut manggut-manggut Mukidin.
 
Kyai itu Seperti Toilet

Syeikh Sholahuddin, dalam fatwanya di sebuah majlis para muridnya di Jakarta mengakhiri pertemuan dengan metafor yang menohok.
“jadi Kyai itu tidak enak. Tidak lebih dibanding penjaga toilet umum di pinggir jalan. Yang datang ke tempat itu, orang yang sudah kebelet... dan ketika kebelet tidak ingat siapa-siapa, kecuali hanya toilet. Usai buang hajat, orang itu keluar sambil merogoh uang gopek. Lalu pergi, sama sekali lupa dengan tolilet dan penjaganya...”

Para pendengar saling mengernyitkan keningnya. Beliau melanjutkan. “Maka saya heran, banyak orang berebut jadi Kyai. Apa enaknya jadi penjaga toilet?”

Para penyimak di majlis itu mulai mengerti apa maksud Kyai Sholahuddin itu. Mereka tertawa lepas, sambil manggut-manggut kayak unta.
“Ya, seperti itu. Orang-orang datang ke Kyai kalau sudah kebelet, perutnya sudah teraduk-aduk, hatinya penuh masalah. Begitu selesai dan dibersihkan oleh Kyai, dia pergi tanpa ingat lagi pada Kyainya. Nanti kalau mulai dapat masalah lagi, baru ingat lagi pada Kyainya.

Setiap hari tugas Kyai ya seperti itu, bersih-bersih WC, siram-siram kamar kecil, mengepel hatinya umat. Apa mau sampean semua jadi Kyai?....”
Anekdot Kyai Sholahuddin menyentak kita. Kita benar-benar bisa menertawai diri sendiri, sambil menangis di atas WC.
 
ini .....koq
kenching - tinjhaa - th oil ett ...........


yang lebih mahal ada nggaaa .... ??
 
@atas

nih,,ada lg sedikit anehdot...
ditunggu kritik dan sarannya yee boz...


Apa Ada Kentut Yang Islami ?
Sebuah seminar kaum cendekiawan Muslim sedang berlangsung, membahas Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
“Kita ini sudah waktunya meninggalkan Iptek dari Barat, karena dalam Al-Qur’an sudah lengkap dan sempurna tentang ayat-ayat Iptek,” kata seorang professor dari Gajah Mada University sembari membacakan sejumlah ayat Al-Qur’an tentang Iptek.

Para peserta sangat terkesima dengan paparan Islamisasi yang dicanangkannya, yang dianggapnya sebagai upaya menuju kebangkitan Islam pada 14 Hijriyah ini.
Di tengah-tengah kesima peserta, seorang peserta interupsi.
“Bapak ini ternyata orang munafik!!!...” katanya cukup keras.
Seluruh isi ruangan jadi gemuruh dan gaduh.
“Alasan anda mengatakan bapak professor ini munafik apa?” Tanya moderator.

“Kalau anda meminta ummat Islam meninggalkan Iptek dari Barat dan seluruh konsep Iptek yang datang dari Barat, karena yang serba Barat anda anggap ilmunya kafir, kenapa anda masih menggunakan mikrofon, listrik, otomotif dan kendaraan serta computer dari Barat?”
Suasana jadi gaduh dan gelagapan.

“Tapi kan di Al-Qur’an sudah jelas semuanya. Semuanya pun harus berdasarkan Al-Qur’an…” jawab sang professor Islamisasi tadi.
“Nah, sekarang bapak tidak hanya munafik, tapi telah dzolim…” kata sang peserta….
Suasana tambah riuh, bahkan seperti muncul sambutan tepuk tangan yang bersorak.
“Sebentar…sebentar….Maksudnya bagaimana anda ini kok menuding professor ini munafik dan dzolim…” Tanya moderator kembali.
“Bagaimana tidak munafik, wong sudah jelas minta meninggalkan Iptek Barat, malah anda memakai. Kenapa kita nggak adakan seminar ini di tengah hutan atau di tengah lapangan tanpa mikrofon, kita jalan kaki, atau pakai onta dan kuda saja.”
“Anda sebut dzolim?”

“Ya, karena pak professor tidak faham tafsir Al-Qur’an, tidak memahami kedudukan ayat suci Al-Qur’an, lalu meletakkan ayat Al-Qur’an bukan pada tempatnya. Nah, meletakkan kedudukan ayat suci bukan pada tempat pandangan, itu kan dzolim namanya…”
Lalu sang moderator menyilakan kepada professor untuk membela diri.
“Begini, pokoknya Al-Qur’an itu kebenaran mutlak…pokoknya…pokoknya…pokoknya…” kata professor itu, sembari mempertahankan “pokoknya” yang dihitung oleh peserta tadi sampai hampir 30-an kata “pokoknya…”

“Maaf professor, sekarang gelar anda bertambah. Bukan hanya munafik, dzolim, tapi juga bodoh…”
“Apa alasan anda memberi gelar bodoh pada professor itu?” Tanya moderator.

“Karena kebodohan itu selalu bersembunyi dibalik “pokoknya”. Di dalam “pokoknya” pasti ada hawa nafsu dan emosi. Dalam emosi dan hawa nafsu ada kebodohan…Nanti lama-lama Pak Professor ini membuat paradigma agar kalau kita kentut pun harus Islami. Saya nanti akan muncul pertanyaan, bagaimana bau kentut yang Islami, bunyi kentutnya bagaimana, strateginya kayak apa, dan dalilnya di surat apa..Lalu apa kita akan bikin seminar dengan judul Islamisasi kentut?. ”
Suasana jadi gerrrr. Seminar pun jadi bubar dan bubrah..
 
Kebahagian Ibrahim bin Adham
Ibrahim ditanya, "Sejak engkau menapaki jalan ini (jalan sufi), pernahkah engkau mengalami kebahagiaan?"
"Beberapa kali," jawabnya. "Suatu kali, aku berada di atas kapal dan kaptennya tidak mengenaliku. Aku mengenakan pakaian penuh tambalan, rambutku tidak dipangkas, dan aku sedang mengalami ekstasi spiritual, yang mana semua orang di kapal itu tidak menyadarinya. Mereka menertawakan dan mengejekku. Ada seorang pelawak di kapal itu, sekali-sekali ia menghampiriku, menjambakku, mencabut rambutku, dan menampar leherku. Di saat itu, aku merasa bahwa aku telah memuaskan hasratku, dan merasa sangat bahagia karena begitu dipermainkan."
"Tiba tiba, gelombang besar muncul, dan semua orang dikapal itu takut bahwa mereka akan mati, 'Kita harus melemparkan seseorang ke laut agar beban kapal menjadi lebih ringan' pekik nakhoda. Mereka pun mencengkram tubuhku lalu melemparkanku ke laut. Gelombang pun mereda, dan kapal itu kembali stabil. Saat itu, ketika mereka menarik telingaku untuk melemparkanku ke laut, aku merasa bahwa aku telah memuaskan hasratku, dan aku merasa bahagia."

"Pada kesempatan lain, aku menuju sebuah masjid untuk tidur di sana. Mereka tidak membiarkanku tidur, sedangkan aku begitu lemah dan letihnya hingga tak bisa bangun. Maka, mereka pun memegang kakiku dan menyeretku keluar.

Masjid itu memiliki tiga anak tangga; kepalaku membentur masing-masing anak tangga itu, dan darah pun mengalir keluar. Aku merasa bahwa aku telah memuaskan hasratku. Pada setiap anak tangga yang kulewati, misteri dari keseluruhan iklim menjadi terbuka untukku. Aku berkata, 'Andai masjid ini memiliki lebih banyak anak tangga untuk menambah kebahagiaanku!"'
"Di waktu yang lain, aku tengah asyik dalam keadaan ekstasi. Seorang datang dan mengencingiku. Saat itu aku pun merasa bahagia."

"Pada kesempatan yang lain lagi, aku mengenakan sebuah jaket bulu yang dipenuhi dengan kutu. Kutu-kutu itu menyantapku tanpa belas kasihan. Seketika aku ingat akan pakaian pakaian bagus yang telah aku simpan di perbendaharaan hartaku. Jiwaku berteriak di dalam diriku, 'Mengapa, derita apa ini?' Saat itu pun aku merasa bahwa aku telah memuaskan hasratku."
 
Khusyu’ didalam dan diluar Shalat
S. Abdullah Bin Umar ditanya : Apakah Rasulullah SAW ketika shalat menoleh kekanan dan kekiri?
S. Abdullah Bin Umar menjawab : Sama sekali tidak . Tidak waktu shalat dan tidak pula diluar waktu shalat.


Kalau Saja Bukan Sorga
Ketika perang Badr siap akan dihadapi oleh Rasulullah SAW bersama para sahabat beliau, seorang sahabat bernama Khoytsamah Bin Al Haris berunding dengan anaknya yang bernama Sa’ad dan ternyata yang keluar adalah nama Sa’ad, lalu Khoytsamah berkata : Hai anakku ! untuk hari ini, dahulukanlah aku ayahmu !
Sa’ad menjawab : Wahai ayahku ! kalau saja ini bukan urusan sorga, bolehlah.
Maka sa’ad berangkatlah kemedan perang, dan gugurlah Sa’ad sebagai syahid.


Syarat bagi Diterimanya Do’a
Diriwayatka dari al Asfar ia berkata : Sahabat Sa’ad Bin Abi Waqqosh ditanya, bagaimana beliau bisa menjadi salah seorang sahabat nabi yang do’anya selalu dikabulkan oleh Allah SWT ?
Beliau menjawab : tidak sekali-sekali aku mengangkat sesuap makanan kemulutku kecuali aku tahu secara pasti darimana makanan itu berasal dan kemana ia keluar?


Perbuatan Jelek
Siti Asyah RA ditanya : Bilakah seseorang melakukan kejelekkan ?
Beliau menjawab : ketika ia merasa melakukan kebaikkan.
 
Apa Urusanku dengan Dunia
Suatu hari Umar bin Khoththob menghadap Rasullullah SAW dan didapatinya beliau sedang tiduran diatas selembar tikar yang amat kasar sehingga anyamannya tampak jelas ditubuh beliau, maka Syaidina Umar berkata:
“Ya Rasulullah ! Tidakkah tuan berkenan menggunakan tikar yang agak halus?”
Rasulullah bersabda :
“Aku tidak perlu itu Umar, apa urusanku dengan dunia dan apa urusan dunia denganku?. Demi Allah yang diriku berada dalam kekuasaannya, perumpamaan dengan dunia tiada lain hanyalah bagaikan penunggang (onta atau kuda) yang berpergian dihari yang panas berteduh sesaat dibawah sebatang pohon lalu meninggalkannya.”

Peluru bagi penerima suap
Imam Al Bukhori meriwayatkan sebuah hadis shohih : Rasullah SAW menugaskan seorang bernama Ibnul Labtiyyah (kesatu tempat untuk memungut kewajiban materil suatu suku). Ketika ia pulang ia menghadap dan melaporkan hasilnya kepada Rasulullah SAW, ia berkata : Ya Rasulullah ! yang ini adalah milik kaum muslimin, dan ini adalah hadiah yang diberikan kepada saya.

Maka Rasulullah SAW marah besar bersabda kepadanya : Apakah maksud seorang yang aku perintahkan melaksanakan suatu tugas, lalu ia berkata : yang ini adalah untuk anda semua kaum muslimin, dan yang ini adalah hadiah yang diberikan kepada saya. Cobalah ia duduk saja dirumah kedua orang tuanya, dan lihatlah ! apakah ia akan diberikan hadiah atau tidak?

Kekayaan Seorang Petugas
Umair Bin Sa’ad datang menghadap Umar Bin Khoththob setelah melaksanakan tugasnya sebagai walikota Homs, dengan hanya membawa selembar kantong, sebuah paso (tempat air dari tanah) dan sebatang tongkat, maka Sayidina Umar pun berkata : Aku lihat keadaanmu sangat memprihatinkan !
Umar Bin Sa’ad berkata : Tidakkah anda lihat keadaanku yang sehat wal afiyat, kekayaan duniapun sudah aku kuasai seluruhnya.
Sayidina Umar bertanya : Apa saja yang engkau bawa?
Umair berkata : Kantong untuk membawa bekalku, paso untuk mencuci pakaiand an kepalaku, kendi untuk membawa air minumku, dan tongkatku berjumpa dengan musuh aku akan mempertahankan diri dari serangannya… dan selain itu hanyalah tambahan yang mengikut padaku.
Sayidina umar berkata : Anda benar !
 
Kang Ndimin Sirrullah
Ada-ada saja, kalau Allah menyembunyikan kekasihnya. Kang Ndimin, seorang khadam Kiai di Gedongsari, Nganjuk, sudah beberapa puluh tahun silam wafat. Dan beberapa saat lalu, ketika terbongkar, mayatnya masih utuh.

Selama hidupnya Kang Ndimin hanya penjual warkop di depan pesantren itu. Banyak santri yang ngutang, banyak pula santri menjuluki dengan panggilan hina, Kang nDimin. tetapi Zuhudnya Kang nDimin tak tertandingi. Selama hidupnya hanya tersenyum lega dengan kenyataan yang diterima. Bahkan ia rela dijadikan pisuhan para santri. Namanya pun tidak pernah tercatat sebagai seorang Sufi, tetapi di Langit sana, Allah mempopulerkan nama besarnya. Ia telah menjadi Sirrullah.

Apa rahasia sukses ruhani Kang Ndimin? Tidak jelas dan sangat rahasia. Setidak-tidaknya, selama hidup Kang Ndimin tidak pernah mencaci orang, apalagi mencari aib orang lain, walaupun orang itu berkali-kali menyakitinya. Kang Ndimin hanya tersenyum jika dimaki dan dihina. Senyum khas lelaki tua dari desa. Tidak pernah ngresulo, keluh kesah pada takdir Allah. Setiap hari ia hanya melayani para santri yang membeli nasi dan kopinya. Bahkan tak seorang pun tahu jika hatinya telah menyatu dengan Allah, degan tekad menjadi Abdullah.

Seluruh alumni pesantren itu terkesiap ketika mayat Kang Ndimin sekian puluh tahun yang lalu masih utuh.
Subhanallah!


Dosa dan Hujan
KETAHUILAH, dosa itu dapat mencegah turunnya hujan, walau hanya dilakukan oleh satu orang saja.
Pada suatu hari Nabiyullah Musa Al-Kalim AS, keluar untuk memohon hujan bagi bani Israil. Ini adalah yang ketiga kalinya beliau memohon, namun hujan tak kunjung datang.

“Ya Tuhan, kali ini jangan jatuhkan namaku di kalangan bani israil, aku adalah kalim-Mu.”
“Ya Musa, bagaimana aku dapat menurunkan hujan, sedangkan di antara kalian ada seorang pendosa.”
“Beritahu aku siapa dia. Akan kukeluarkan dia dari kelompokku.”
“Tidak, tapi umumkanlah kepada mereka, ‘Wahai lelaki yang suka bermaksiat, keluarlah kamu dari kelompokku, karena kamulah hujan tidak turun.”
“Bagaimana mereka dapat mendengar suaraku, sedang jumlah mereka sangat banyak.”
“Tugasmu hanya berseru, Aku nanti yang akan menyampaikan suaramu ke telinga mereka.”
Nabiyullah Musa kemudian berdiri dan dengan suara lantang mengumumkan, “Wahai orang yang suka bermaksiat, keluarlah kamu dari kelompok kami, sesungguhnya karena kamu hujan tidak turun.”
Si pendosa menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak melihat seorang pun berdiri. Ia letakkan kepalanya di antara kedua kakinya, lalu berkata, “Tuhan, jika aku berdiri, namaku akan ternoda di kalangan bani Israil. Karena itu, aku bertobat kepada-Mu.”
Seketika itu juga Allah mengirimkan mendung yang tebal dan hujan pun turun.
“Ya Allah, tadi Engkau berkata bahwa Engkau takkan menurunkan hujan sebelum orang yang bermaksiat itu keluar dari kelompokku. Mengapa sekarang Engkau turunkan hujan padahal orang itu masih berada di antara kami,” tanya Nabi Musa AS.
“Sesungguhnya hujan ini Aku turunkan karena orang itu. Dia telah bertobat kepadaku-Ku.”
“Beritahulah kami siapa dia, agar kami dapat memuliakannya.”
“Telah kututupi aib-aibnya sewaktu bermaksiat, Aku pun sekarang akan menutupi kemuliaannya setelah ia tobat,” jawab Allah. (I:145)

---(ooo)---
Habib Muhammad bin Hadi bin Hasan bin Abdurrahman Asseqaf, Tuhfatul -Asyraf, Kisah dan Hikmah, Putera Riyadi
 
Sikap Wara Menguntungkan
JANGAN sekali-kali berpikir bahwa orang yang sempurna adalah orang yang mengenakan imamah terbaik dan pakaian mewah. Akan tetapi orang yang sempurna adalah yang menjauhi maksiat, menekuni wirid-wirid, beramal saleh, dan menuntut ilmu dengan penuh adab, karena ilmu akan menuntun pemiliknya mencapai kemuliaan.

Abdullah bin Mubarak suatu hari berkata, “Aku akan mengerjakan perbuatan yang akan membuatku mulia.” Ia lalu menuntut ilmu hingga menjadi seorang yang alim. Waktu ia memasuki kota Madinah, masyarakat berbondong-bondong menyambutnya hingga hampir-hampir saja mereka saling bunuh karena berdesak-desakan. Ibu suri raja yang kebetulan menyaksikan kejadian itu bertanya, “Siapakah orang yang datang ke kota kita ini?”

“Ia adalah salah seorang ulama Islam,” jawab pelayannya.
Ia kemudian berkata kepada anaknya, “Perhatikanlah, bagaimana masyarakat berbondong-bondong mendatanginya. Raja yang satu ini tidak seperti kamu. Kamu, jika menginginkan sesuatu, harus memerintah seseorang untuk melakukannya. Tetapi, mereka mendatanginya dengan sukarela.”

Abdullah sesungguhnya adalah anak seorang budak berkulit hitam bernama Mubarak. Budak ini betisnya kecil, bibirnya tebal dan telapak kakinya pecah-pecah. Walaupun demikian, ia adalah seorang yang sangat wara`. Ke-wara’-annya ini akhirnya membuahkan anak yang saleh.
Mubarak bekerja sebagai penjaga kebun. Suatu hari tuannya datang ke kebun.

“Mubarak, petikkan aku anggur yang manis,” perintah tuannya.
Mubarak pergi sebentar lalu kembali membawa anggur dan menyerahkannya kepada tuannya.

“Mubarak, anggur ini masam rasanya, tolong carikan yang manis!” kata tuannya setelah memakan anggur itu.
Mubarak segera pergi, tak lama kemudian ia kembali dengan anggur lain. Anggur itu dimakan oleh tuannya.

“Bagaimana kamu ini, aku suruh petik anggur yang manis, tapi lagi-lagi kamu memberiku anggur masam, padahal kamu telah dua tahun tinggal di kebun ini,” tegur tuannya dengan perasaan kesal.

“Tuanku, aku tidak bisa membedakan anggur yang manis dengan yang masam, karena kamu mempekerjakan aku di kebun ini hanya sebagai penjaga. Sejak tinggal di sini aku belum pernah merasakan sebutir anggur pun, bagaimana mungkin aku dapat membedakan yang manis dari yang masam?” jawabnya.

Tuannya tertegun mendengar jawaban Mubarak. Ia seakan-akan memikirkan sesuatu. Kemudian pulanglah ia ke rumah.
Pemilik kebun itu memiliki seorang anak gadis. Banyak pedagang kaya telah melamar anak gadisnya.

Sesampainya dirumah, ia berkata kepada istrinya, “Aku telah menemukan calon suami anak kita.”
“Siapa dia?” tanya istrinya.
“Mubarak, budak yang menjaga kebun.”
“Bagaimana kamu ini?! Masa puteri kita hendak kamu nikahkan dengan seorang budak hitam yang tebal bibirnya. Kalau pun kita rela, belum tentu anak kita sudi menikah dengan budak itu.”
“Coba saja sampaikan maksudku ini kepadanya, aku lihat budak itu sangat wara’ dan takut kepada Allah.”

Kemudian sang istri pergi menemui anak gadisnya, “Ayahmu akan menikahkanmu dengan seorang budak bernama Mubarak. Aku datang untuk meminta persetujuanmu.”

“Ibu, jika kalian berdua telah setuju, aku pun setuju. Siapakah yang mampu memperhatikanku lebih tulus daripada kedua orang tuaku? Lalu mengapa aku harus tidak setuju?”
Sang ayah yang kaya raya itu kemudian menikahkan anak gadisnya dengan Mubarak. Dari pernikahan ini, lahirlah Abdullah bin Mubarak.
Quthbul Irsyad Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam qosidah Ainiyah-nya memuji Ibnul Mubara.

-Slamet Riyadi-
 
Nafsu Sufi
Rupanya di Jakarta ini banyak orang sedang bergelora memburu dunia Sufi, setelah dunia formal keagamaan mengalami jalan buntu membebaskan belenggu hawa nafsu mereka. Toh, di tengah-tengah kegersangan Jakarta, orang banyak yang mencari jalan Sufi, saking semangatnya lupa daratan.

Kenapa? Karena mereka sulit membedakan mana yang merupakan semangat nafsu dan mana yang semangat dan dorongan ruh suci. Contohnya? Dibawah ini:
“Untuk apa saya mengikuti Thariqat sufi, saya sudah sampai kepada Tuhan, kok bertariqat segala…. Kalau berthariqat kan perlu Mursyid. Mursyid saya langsung Allah Ta’ala saja. Biar cepat dan langsung….”
“Wah hebat benar anda langsung online dengan Allah?”
“Iya dong, saya kan sudah ma’rifat. Anda belum. Masukklah ikut saya, kita bisa ma’rifat bareng-bareng…”
“Apakah anda sudah kenal Allah?”
“Hmmmm…pokoknya saya merasa sudah sampai kepada Allah…”
“Yang sudah sampai itu pikiran anda, akal anda, hati anda, atau sekadar kerinduan anda untuk bisa sampai?”
“Ya, saya nggak mau belit-belit seperti anda. Saya mau langsung saja, dan biar Allah yang mengajar saya…”
“Bagaimana mungkin anda bisa membedakan itu Allah dan itu Iblis?”
“Lhah. Nggak tahu ya? Masak Iblis juga bisa mengaku-aku sebagai Allah?”
“Bisa donk. Wong Iblis itu memiliki kekuasaan tipudaya yang luar biasa, termasuk mengaku sebagai allah…”
“Lalu apa yang mendorong saya untuk sampai kepada Allah selama ini? Masak Iblis?”
“Bukan Iblis yang mendorong. Tapi ketika Iblis tahu anda terdorong ke sana, ia pasti membonceng anda…”
“Bagaimana donk…kalau begitu?”
“begini saja. Syekh Abdul qadir Jilany yang dahsyat di Mata Allah saja bermursyid, masak anda bisa terbang ke Arasy sana tanpa Mursyid. Kalau Imam Ghazali saja bermursyid, Junaid al-Bahgdady saja bermursyid, para Khulafaur-Rasyidin saja bermursyid, alangkah sombongnya intelektual anda untuk tidak bermursyid?”
“Kenapa anda mengatakan saya sombong?”
“Karena anda telah terjebak oleh nafsu anda. Nafsu merasa sudah paling dekat dengan Allah seperti Iblis dulu, sampai akhirnya ia menolak bersujud pada Adam as….Itu karena ada hijab formalisme yang membungkus hati anda, sehingga anda menduga sudah dekat dengan Allah padahal dugaan itu hanyalah imajinasi produk dari pabrik kesombongan. Nah… looo….nah…loooo…”
Orang itu terdiam antara ingin mempertahankan keyakinannya yang salah atas faham yang salah, lalu salah faham atas informasi dunia Ilahi. Wallahu A’lam, tipis sekali batas antara syurga dan neraka, lebih tipis dibanding rambut dibelah tujuh. Tipis sekali batas hawa nafsu dan cahaya ruhani, lebih tipis dari perasaan-perasaan dan dugaan.

Klo suka sama semua anehdot sufi ni, biLang ya, insya Allah saya tambahin trus..:):):)
 
Ingin Mimpi Bertemu Nabi saw
Dengan wajah muram seorang murid bersimpuh di hadapan syaikhnya. Sang syaikh dengan wajah dan suara berwibawa bertanya kepadanya,"Apakah gerangan merisaukanmu?"
"Wahai syaikh, sudah lama aku ingin melihat wajah Nabiku SAW walau hanya lewat mimpi. Namun, sampai sekarang keinginanku belum juga terkabul," jelas si murid.

"Oo... rupanya itu yang kau inginkan. Tunggu sebentar..."
Sang syaikh mengeluarkan pena, kemudian menuliskan sesuatu untuk muridnya.
"Nih..., bacalah setiap hari seribu kali, insya Allah kau akan bertemu dengan Nabimu."

Dengan wajah berseri pulanglah si murid membawa catatan itu. Namun, setelah beberapa minggu, kembalilah si murid ke rumah syaikhnya memberitahukan bahwa bacaan yang diberikannya tidak menghasilkan apa-apa. Sang syaikh segera memberikan bacaan lain. Namun, beberapa minggu kemudian muridnya kembali dengan lesu memberitahukan bahwa bacaan itu pun masih belum menghasilkan apa-apa.

Setelah diam beberapa saat, berkatalah sang syaikh, "Nanti malam datanglah engkau kemari. Aku mengundangmu makan malam." Sang murid mengangguk kemudian pulang ke rumahnya. Setelah tiba saatnya, pergilah ia ke rumah sang syaikh untuk memenuhi undangannya. Ia merasa heran melihat syaikhnya hanya menghidangkan ikan asin saja.

"Makan, makanlah semua ikan itu, jangan sisakan sedikit pun!" kata sang syeikh kepada muridnya.

Karena tergolong murid taat, maka ia habiskan seluruh ikan asin yang ada. Selesai makan ia merasa kehausan karena memang ikan asin membuat orang mudah kehausan. Ia segera meraih segelas air dingin yang ada di hadapannya.

"Letakkan kembali gelas itu!" perintah sang syaikh. "Kau tidak boleh minum air itu hingga esok pagi, dan malam ini kau tidur di rumahku!"

Dengan penuh rasa heran diturutinya perintah syaikhnya. Malam itu ia tak bisa tidur. Lehernya serasa tercekik karena kehausan. Ia membolak-balikkan badannya, hingga
akhirnya tertidur karena kelelahan. Apa yang terjadi? Malam itu ia mimpi, Syeikhnya menyodorkan segelas air dingin. Setelah minum, ia terjaga dari tidurnya. Mimpi itu sangat nyata. Seakan benar-benar terjadi padanya.

"Apa yang kau impikan?" tanya sang syeikh yang berdiri tak jauh darinya.
"Syaikh aku tidak memimpikan Nabiku SAW, aku mimpi minum air."

Tersenyumlah sang syaikh mendengar jawaban muridnya. Kemudian dengan bijaksana ia berkata, "Jika cintamu pada Nabi SAW seperti cintamu pada air sejuk itu niscaya kau akan memimpikannya."

Menangislah si murid. Ia baru sadar bahwa ternyata dalam hatinya belum cukup ada rasa cinta kepada Nabi. Ia masih lebih mencintai dunia daripada Nabi. Ia masih banyak meninggalkan sunahnya. Ia masih belum meneladani akhlaknya. Ia masih lebih mencintai air...
(zawiya.net)
 
Di ucapin terima kasih ato nda ?? yg penting lanjuUuUuUuUuUTT truss .. :):)

Futuwwah Nabi Ibrahim a.s
Futuwwah adalah sikap kepedulian sosial atau kemanusiaan tanpa membeda-bedakan suku, agama atau ras. Seorang sufi mengatakan, futuwwah itu tak lain jika Anda tidak membedakan makan bersama dengan seorang wali atau seorang kafir.

Alkisah, ada seorang kafir Majusi mengundang makan kepada Nabi Ibrahim a.s.
“Aku mau menerima undanganmu dengan satu syarat, kamu memeluk agama Islam,” kata Ibrahim.

Mendengar jawaban demikian, si Majusi itu pergi begitu saja. Tiba-tiba Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Ibrahim. “Selama lima puluh tahun Kami memberinya makan, sekalipun dia seorang kafir. Apa salahnya jika kamu menerima seporsi makanan darinya tanpa menuntutnya untuk mengganti agamanya.”
Setelah turun wahyu itu, Nabi Ibrahim mengejar si Majusi yang sudah jauh pergi. Setelah tersusul, Nabi Ibrahim lalu meminta maaf atas kata-katanya tadi.

“Mengapa Anda meminta maaf ?” tanya si Majusi.
“Ibarhim menceritakan peristiwa yang baru saja dialami. Ibrahim ditegur oleh Allah. Tapi anehnya, mendengar kisah yang dituturkan Ibrahim, si kafir Majusi itu akhirnya malah masuk Islam.

Keteguhan Hati Ummu Ghailan
Ini kisah yang dialami Junaid al-Baghdadi, seorang sufi terkemuka. Suatu hari, Junaid berjumpa dengan salah seorang penempuh jalan Ilahi (salik) di padang pasir. Orang itu sedang duduk di bawah pohon. Ternyata ia adalah Ummu Ghailan.

“Mengapa Anda duduk si situ?” tanya Junaid.

“Begini, ada peristiwa, aku telah kehilangan sesuatu, tetapi aku biarkan saja. Ketika aku kembali dari ibadah haji bersama seorang pemuda, tiba-tiba kutemukan barang itu. Barang itu telah pindah ke tempat di dekat pohon ini,” ia menjelaskan.

“Terus, kenapa Anda duduk di situ?,” Tanya Junaid lagi.
“Aku telah menemukan apa yang aku cari di tempat ini, jadi aku tetap saja duduk di sini.”

Lalu. Junaid hanya bicara pada dirinya sendiri, ”Aku tidak tahu mana yang lebih mulia, kegigihannya karena kehilangan keadaan, atau keteguhan hatinya tinggal di mana, ia telah mencapai kehendaknya.
 
Lanjuut Lagi ... :):):)

Dakwah Untuk Pemancing
Di Jakarta terutama di pinggiran kota, dijumpai banyak hiburan memancing untuk para penghobi pancing memancing ikan.

Di tengah- tengah lomba pemancingan, tiba-tiba seorang Sufi berpidato.

“Wahai saudara-saudaraku yang terhormat. Apakah kalian ingin masuk syurga lewat memancing?”
“Wah, kalau ada jalan ke syurga lewat memancing, pasti saya pertaruhkan hidupku demi memancing,” kata seorang pemancing yang sudah maniak.
“Mau nggak kalian saya beritahu cara masuk syurga lewat menmancing?”
“Mauuuuu….” Serentak mereka sepakat bersuara
“Begini. Kalian memancing ikan, dengan penuh ketekunan, agar dapat ikan bukan? Begitu juga kalian ingin dapat syurga, pancinglah syurga itu dengan dzikrullah, kailnya ya Allah…Allah..Allah..nanti kalian pasti dapat ikan besar.”
“Wah, masak, Allah dipancing segala?”
“ya, pancinglah hatimu dengan dzikir, nanti Allah bisa hadir di hatimu……”
Para pemacing senyum-senyum, dan ada yang tertawa, ada pula yang manggut-manggut seperti kail yang sedang digondol ikan.

Sufi yang Kaya
Suatu hari, Syekh Abu al-Hasan as-Syadzili kedatangan seorang tamu, yang kebetulan murid kerabatnya sendiri yang teramat miskin. Tamu ini memang diutus gurunya untuk bersilaturahmi ke rumah Abu al-Hasan, tugasnya adalah mendengarkan dan menyampaikan apa yang diucapkan oleh Sulthanul Auliya Abu al-Hasan itu.

Ketika di depan rumah Abu al-Hasan, tamu itu tercengang, karena melihat rumah Abu al-Hasan yang sangat mewah, kuda yang elok dan perhiasan yang gemerlap bagai istana raja. Si tamu berpikir, bagaimana mungkin seorang wali besar memiliki rumah dan kekayaan yang teramat mewah? Kalau guruku yang miskin itu, mungkin wajar saja. Tapi ini…
Syekh Abu al-Hasan pun keluar dan menemui tamunya. Tiba-tiba beliau berkata, “Katakan ya pada gurumu, kapan ia berhenti memikirkan dunia?”
Si tamu lantas pulang dengan penuh tidak mengerti, bagaimana gurunya yang sufi miskin itu disebutnya masih memikirkan dunia. Sedangkan Abu al-Hasan yang kaya raya itu malah mengatakan sebaliknya, kapan gurunya berhenti memikirkan dunia.

Sampai di rumah gurunya ia ditanya, “Apa pesan Abu al-Hasan?”
“Tidak pesan apa-apa tuan guru.”
“Tidak, pasti ia punya pesan. Jangan kamu tutup-tutupi, katakan saja sejujurnya.”

“Aaanu…tuan guru…. Beliau hanya mengatakan, kapan tuan berhenti memikirkan dunia.”
“Benar. Benar…Abu al-Hasan. Beliau benar. Walaupun kekayaannya melimpah seperti konglomerat, tak satu pun harta itu menempel di hatinya. Sedangkan saya yang miskin ini masih berharap kapan saya bias kaya.”
Sang murid itu hanya manggut-manggut belaka, sambil meresapi kata-kata tadi.
 
Jangan Genit Pada Allah

Saking agung dan besarnya ampunan Allah kepada hamba-hamba-Nya, sampai-sampai Nabi Muhammad SAW, bersabda; "Seandainya seluruh muka bumi ini tak ada manusia yang berdosa, maka Allah akan menciptakan makhluk manusia lain yang akan berbuat dosa. Dan ketika manusia itu bertobat, Allah pun terus mengampuni."

Betapa dahsyatnya ampunan Allah dan kekuasaan Allah. Seandainya manusia model Bush pun sirna di muka bumi, bahkan seluruh muka bumi bertobat kepada Allah, maka tak ada lagi perang, penjahat, dan preman.
Bahkan tak ada lagi pelacuran, perselingkuhan, perjudian, pembantaian, dan pemerkosaan. Allah akan tetap menciptakan manusia-manusia model Bush baru. Manusia-manusia Dajjal baru, bahkan para pemaksiat lainnya.

Inilah kebesaran Allah. Kebesaran bukan saja berujung basa-basi ritual, tetapi fakta semesta. Betapa memang peluang dan pintu taubat itu terbuka lebar-lebar, selebar keluasan Ilahi.
Anda jangan menyesali perbuatan keji Anda jika penyesalan Anda hanyalah ungkapan atas kesementaraan nafsu, kejahatan, dan birahi Anda. Karena itu penyesalan di dunia ini hanyalah keluhan atas "rasa hilang" dan "rasa bersalah" atas perjanjian manusia dengan Allah yang disepakati di zaman dahulu.

Kelak di akhiratlah penyesalan yang sesungguhnya terjadi. Semua orang menyesali hidupnya di dunia dan ingin dikembalikan ke dunia. Di akhiratlah sebuah pembenaran mutlak terjadi ketika semua manusia mengatakan; "Benarlah para rasul itu...."
Namun, ada juga manusia yang tidak menyesal. Yakni orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, orang yang tahu haknya sebagai hamba dan haknya terhadap sesama. Karena hal demikian merupakan kesimpulan dari ajaran agama.

Kalau sekadar menyesali kebejatan Anda, berarti Anda telah kehilangan rasa cinta. Kalau hanya menyesali birahi Anda yang liar di tempat maksiat, berarti Anda telah kehilangan titipan Allah dalam proses ujian peningkatan derajat Anda.
Kalau hanya menyesali tindak korupsi dan kemalingan Anda, maka Anda hanya akan terbuang dari interaksi sosial kemanusiaan yang harmoni. Kalau hanya menyesali perzinahan, pemerkosaan, pembunuhan, dan pembantaian Anda, maka Anda seperti kehilangan ke-Maha Indah-an Ilahi dalam maujud ekspresif sifat-sifat agung-Nya.

Untuk apa Anda menumpuk pahala jika Anda merasa hebat dengan amal Anda. Lalu Anda kehilangan Allah saat beramal. Allah tiba-tiba sirna dari hati Anda sebagai tumpuan segalanya. Karena Anda bertumpu pada amal Anda, prestasi ibadah Anda, dan keakuan Anda?
Untuk apa Anda menumpuk kejahatan dan dengan rasa kecewa serta frustasi, lalu Anda membangun lembaga hitam kejahatan. Jika sesungguhnya ampunan Allah itu lebih besar ketimbang kejahatan dunia seisinya?

Untuk apa Anda dikejar rasa bersalah, berdosa, putus asa untuk menghadap Allah, padahal sebelum Anda melakukan tindak dosa, Allah lebih dahulu melambaikan tangan agung-Nya. Allah menyapa dan menghampiri agar Anda minta ampun dengan segala cinta-Nya?
Ahh... di dunia ini jangan terlalu genit kepada Allah. Jangan terlalu su'udzon pada Allah. Jangan sering merasa hina dina sampai Anda ingin menjauh dari Allah. Sebab, terkadang Allah menakdirkan hamba-Nya berbuat maksiat agar si hamba justru lebih mendekat kepada-Nya.

A...B...C...Itu Adalah Allah

Suatu hari seorang sahabat Nabi bertanya; `Wahai Nabi, apabila Al-Qur'an itu bukan makhluk? Lalu apakah huruf hijaiyah, alif, ba', ta', sampai ya' itu makhluk atau bukan?"
"Huruf hijaiyah itu bukan makhluk," jawab Nabi SAW.
"Alif itu adalah salah satu dari nama Allah. Ba' juga nama Allah, ta' juga nama Allah....hingga ya'. Bahkan A...B...C...D...E..dan seterusnya itu juga nama-nama Allah."
Hadits ini dikutip oleh seorang wali besar Syeikh Abdul Qadir al-Jilany dalam kitabnya Al-Ghunyah.

Jadi, jika Allah saja bersembunyi di balik tirai huruf-huruf yang kelak dari huruf itu membentuk suku kata dan dari kata membentuk kalimat, maka setiap kalimat yang baik dan bermanfaat - yang bisa mengubah jiwa kita, pastilah tidak lepas dari rahasia Ilahi yang tersembunyi di balik huruf-huruf-Nya. Karenanya, jika Anda berkata jorok, berdusta, berbohong, menggunjing, memaki, menyakiti dengan ucapan, sesungguhnya Anda telah memanipulasi susunan kata-kata yang terdiri dari Asmaul Husna untuk sebuah kejorokan, kekejian, kejahatan, dan kedustaan. Itulah awal dari sebuah dosa yang muncul dari kata dan wacana.

Seorang sufi ketika ditanya apa anti ucapan-ucapan atau kalamullah dalam Al-Qur’an? Ia hanya akan menjawab; "Ooouh, artinya, semuanya Allah... Allah... Allah... Dari surat Al Fatihah sampai Al Falaq, An Naas, dan seterusnya, semuanya artinya Allah...." Kalimat seorang sufi ini meneguhkan betapa seluruh huruf dalam Al-Qur’an itu adalah Asmaul Husna. Karena itu kita harus suci lahir dan batin ketika membaca Al-Qur’an. Sebab kita sesungguhnya sedang berdzikir menyebut nama-nama Allah Ta'ala.
Keagungan cinta Allah, semakin luhur ketika Allah "sengaja" menirai di balik sesuatu yang tak pernah terduga oleh para hamba-Nya. Termasuk bersembunyi di balik huruf-huruf itu, sampai huruf itu menjadi simbol dari nama Allah.

Jika kita sadari bahwa seluruh suara dan ucapan kita sesungguhnya juga deretan nama-nama Ilahi, kita pasti akan berdzikir kepada Allah. Qiyaaman (ketika berdiri, aktif, dan bergerak), wa qu'uudan (ketika diam, sunyi, dan tak bergerak), wa'ala junuubihim (ketika kita tidur lelap dalam kefanaan hamba), hanya karena kita sadar betapa nafas, simbol, anugerah, dan cahaya Ilahi terus menerus mengitari gerak gerik hati kita, suara yang lahir dari mulut kita, bahkan keluar masuknya nafas kita.

Allah Itu Tidak Ghoib
Sejak kecil, begitu akrab di telinga kita yang menyebut bahwa Allah itu gaib. Bahkan sering orang menegaskan; "terserah yang gaib-lah!", dan sebagainya. Konotasi gaib karena Allah tidak bisa dilihat secara kasat mata oleh kita dan kelak kegaiban Allah sejajar dengan kegaiban hal-hal gaib lain.

Padahal, tidak satu pun asma dan Asmaul Husna (nama-nama agung Allah) yang menyebut bahwa Allah itu gaib, tahu bersifat gaib, atau punya nama al Gaibu di Asmaul Husna. Tidak ada.
Kegaiban Allah itu muncul hanya karena kegelapan kosmos spiritual kita saja yang membuat diri kita terhalang melihat Allah Yang Maha Nyata, Maha Jelas, Maha Dzohir, Maha Batin, Maha Terang Benderang, dan pemilik segala maha.

Sesungguhnya, tak satu pun di jagad semesta ini yang bisa menutupi Allah. Kita mengatakan Allah itu gaib hanya karena menutup diri sendiri saja sehingga tidak bisa melihat Allah. Oleh karenanya Ibnu Athaillah as Sakandary dalam kitab Al-Hikam menegaskan: Bagaimana bisa terbayang ada sesuatu yang menutupi Allah, padahal Dia tampak pada segala sesuatu. Bagaimana bisa dibayangkan sesuatu menutupi Allah, sedangkan Allah tampak di setiap sesuatu. Bagaimana bisa dibayangkan sesuatu bisa menutupi Allah, padahal Allah itulah yang hadir untuk segala sesuatu. Bagaimana dapat dibayangkan jika sesuatu itu menutup Allah, sedang Allah sudah ada sebelum segala sesuatunya ada.

Bagaimana segala sesuatu menutup Allah, sedangkan Allah itu lebih jelas ketimbang segalanya. Dia adalah Yang Maha Esa. Tak ada yang menandingi dan menyamai-Nya. Dia lebih dekat dari urat nadi Anda sekali pun.
Wacana di atas mempertegas betapa Allah itu tidak gaib. Yang gaib justru hawa nafsu kita ini. Manakala kita tidak bisa melihat Allah di balik jagad semesta ini, berarti mata hati kita sedang dikaburkan untuk melihat nurullah (cahaya Allah). Sebab itu, kita harus melihat Allah di mana-mana, kapan saja tiada batas waktu terhingga.

Nurullah adalah awal dari muroqobah kita dan muraqobah adalah awal dan musyahadah (penyaksian Allah dalam jiwa), dan kelak baru mengenal Allah dalam arti yang sesungguhnya. Inilah ma'rifatullah.

Posted by QuranSains
 
Lanjut lg..
jgn lupa baca critanya sambil dzikrullah ya .. Allah..Allah..Allah ..gtu :D

Soal Adab

Imam al-Junaid al-Baghdadi bercerita, bahwa pada suatu hari, tepatnya hari Jum’at, sebagian orang-orang yang saleh datang kepadanya dan meminta dikirimkan salah seorang miskin untuk memberikan kebahagiaan dengan makan bersamanya.

Al-Junaid pun melihat-melihat orang di sekitarnya, siapa di antara mereka yang fakir dan kelihatan lapar. Si fakir itu pun lalu ditemukan.
“Pergilah bersama Syekh ini, berilah kebahagiaan kepadanya,” kata al-Junaid.

Tak lama kemudian, syekh itu kembali pada al-Junaid.
“Wahai Abu al-Qasim,” kata Syekh itu pada al-Junaid, “Si fakir itu hanya makan sesuap saja dan pergi meninggalkan engkau.”
“Barangkali Anda telah mengatakan semua yang tak berkenan di hatinya.”
“Aku tidak mengatakan apa-apa,” jawab syekh itu.

Al-Junaid menoleh, tiba-tiba si fakir itu sudah duduk di antara mereka.
“Mengapa engkau tidak memenuhi kegembiraannya?” tanya al-Junaid.
“Wahai Syekh, saya pergi pergi meninggalkan Kuffah menuju Baghdad tanpa makan sesuatu apa pun. Saya tidak ingin kelihatan tidak sopan di hadapan Anda karena kemiskinan saya, tetapi ketika Anda memanggil saya, saya gembira karena Anda mengetahui kebutuhan saya sebelum mengatakan apa-apa. Saya pun pergi kepadanya, sambil mendoakan akan kebahagaiaannya di surga. Ketika saya duduk di meja makannya ia menyuguhkan makanan, sambil berkata, “Makanlah ini, karena aku menyukainya dibanding sepuluh dirham. Ketika mendengar kata-katanya, tahulah saya bahwa cita rasanya rendah sekali. Karena itu saya tidak suka makan makanannya.”

“Bukankah aku telah mengatakan padamu, bahwa engkau tidak beradab jika membiarkannya tidak merasa bahagia?”
“Wahai Abu al-Qasim, saya bertobat.”

Al-Junaid lalu menyuruhnya agar kembali pada orang saleh yang memberi makan tadi, untuk sekadar menggembirakan hatinya.

Sedang Apa Allah?

Suatu ketika, seorang murid di sebuah majelis dzikir bertanya pada gurunya.
“Maaf, Pak Kiai! Saya masih awam. Pengetahuan saya tentang Allah selama ini sebatas bahwa Allah itu ada. Tapi kali ini, mungkin Pak Kiai bisa menjelaskan kepada saya tentang perbuatan Allah saat ini?”

Mendengar pertanyaan dari muridnya, Pak Kiai yang dikenal ahli ma’rifat ini terkagum-kagum dan sekaligus mencoba untuk mencari jawaban yang tepat. Sebab, jangan-jangan muridnya yang awam itu malah semakin bingung bila dijawab dengan bahasa teologis tinggi.

“Maaf, kalau boleh diulang, kira-kira pertanyaan Anda tadi apa?” Pak Kiai pura-pura tidak mengerti.

“Itu, soal perbuatan Allah saat ini sedang apa Pak Kiai?”
“Hemmm…” Pak Kiai sejenak bergumam sambil menggut-manggut. Tak lama, ia kemudian mengatakan, “Pertanyaan Anda cukup bagus dan dalam sekali. Sekalipun Anda awam, tapi Anda sangat cerdas melempar pertanyaan. Tapi adakah di antara yang lain yang ingin memberi jawaban?” Sesekali Kiai memang suka menguji pada murid-muridnya.

“Pak Kiai! Saya punya pendapat, tapi maaf bila saya salah.” Muridnya yang lain ikut buka suara. “Tapi untuk menjawabnya, bagaimana kalau saya minta sebentar duduk di tempat Pak Kiai saat ini.”
“Ya, coba Anda kemukakan,” timpal Kiai.

Tanpa keberatan, Kiai merelakan tempat duduknya diambil alih. Maklum, Kiai yang satu ini memang cukup akrab dengan para muridnya dan bahkan seringkali mengumbar canda.

“Teman-teman, saya akan jawab pertanyaan tadi. Menurut saya, Allah saat ini sedang memindahkan saya ke tempat duduk Kiai. Bagaimana, bisa dipahami?”
Kiai sekali lagi manggut-manggut, tapi murid-muridnya yang lain malah mengekspresikan wajah keheranan.

Menantunya Allah

Seorang pemuda yang sedang tergila-gila pada tasawuf, akhirnya mengalami ekstase spiritual (jadzab) dan berperilaku agak “aneh-aneh”. Setiap ada pertanyaan dari orang, ia selalu menjawab dengan memanggil nama Allah.

Entah apa yang menggerakkan orang ini hingga kemudian mendatangi seorang Kiai yang memiliki karamah tinggi, yang tak jauh dari tempat tinggalnya.

“Assalamu’alaikum….”
“Wa’alaikum salam,” jawab Kiai. “Maaf, ini bukan rumah Allah,” lanjut Kiai.
“Ya, saya tahu. Saya datang ke sini justru minta di antar ke rumah mertua saya. Saya rindu sekali sama mertua, he…he…he..”
“Mertuamu siapa?”
“Pak Kiai, saya ini menantunya Allah, tentu saja mertua saya, ya Allah…”
Kiai sedikit heran, tapi kemudian ia baru paham.

“Kalau begitu, tunggu sebentar ya!” Kiai masuk ke dalam, dan tak lama ia sudah mengenakan jubah besar dengan aroma wewangian yang sangat magis.

Tatkala melihat penampilan Kiai, si pemuda terperanjat kaget.
“Mau ke mana Pak Kiai?”
“Katanya Anda mau di antar ke rumah mertuamu. Ayo, ikut saya!” Kiai lalu menggandeng pemuda tadi.

“Nah, ini rumah mertuamu. Silakan masuk dan ucapkan salam,” ujar Kiai seraya menunjuk rumah Allah, yang tak lain adalah masjid.
 
Pohon Kegelapan

"Dan ketika Kami katakan kepada Para malaikat, "Sujudlah kepada Adam!" Maka mereka pun bersujud, kecuali iblis. Ia membangkang dan merasa besar diri dan ia tergolong orang-orang yang kafir." (Qs Al Baqarah : 34)

Bahwa perintah sujud kepada Adam bukan bentuk penyembahan malaikat kepada Adam. Tetapi sebagai bentuk penghormatan karena kedudukan Adam lebih tinggi dibanding semua makhluk itu. Para malaikat taat dan tunduk kepada Adam.
Sementara iblis yang memiliki potensi keraguan dan kesangsian mengabaikan perintah Allah itu. Iblis mengabaikan perintah itu karena dia terhijab dari pemahaman hakikat Adam. Hijab itu adalah bentuk wujud Adam saja yang dilihat oleh iblis. Wujud formal dan tekstualnya sehingga iblis kehilangan hakikat Adam.

Padahal kalau iblis tahu akan makna-makna hikmah samawiyah pada diri Adam, pasti ia akan tetap dalam mahabbah menuju ridho Allah ta'ala.
Iblis sendiri termasuk kalangan jin, yaitu kelompok makhluk dari alam malakut paling bawah yang sudah berbaur dengan potensi-potensi kebumian. Ia tumbuh dan terdidik antara fenomena malaikat-malaikat langit untuk memahami makna-makna yang bersifat parsial. Kemudian ia dinaikkan sampai pada ufuk rasional. Karena itu tidaklah aneh jika ada sejumlah binatang yang memiliki "kecerdasan" mendekati manusia.

Iblis menolak terhadap perintah Allah justru karena iblis mengabaikan akal budi dan hikmah yang ada pada dirinya. Sehingga memunculkan sifat takabur terhadap format Adam yang terbuat dari tanah itu.
Iblis terhijab dari memandang hakikat-hakikat Adam dari balik gumpalan tanah itu. Sehingga ia tergolong orang yang kafir sejak azali yang terhijab dari cahaya-cahaya akal budi dan cahaya "perpaduan" ciptaan. Apalagi dan cahaya-cahaya kesatuan.

Maka dari itu, Allah ta'ala selanjutnya berfirman: Dan Kami katakan; "Wahai Adam, hunilah surga, dirimu dan isterimu, dan makanlah kalian berdua, makanan semau kalian. Dan janganlah kalian berdua mendekati pohon ini (Pohon khuldi), yang menyebabkan kalian berdua termasuk orang-orang yang zalim." (Al Baqarah 35)
Siapakah hakikat isteri Adam itu? Ia adalah nafsu yang namanya Hawa. Karena berinteraksi dengan jasad yang bersifat gelap. Hidup itu sendiri jika dimetaformakan pada warna adalah warna hitam. Sebagaimana hati disebut Adam, karena kata Adam itu berkaitan dengan fisik, tetapi tidak bersifat lazim pada karakter. Karena kata adamah berarti kelabu, yaitu warna yang diarahkan menuju warna hitam.

Sedangkan surga tempat ia diperintah untuk menghuninya itu adalah langit alam arwah yang menjadi raudhatul quds (taman suci). Di sanalah keduanya diperintahkan untuk mengkonsumi apa saja. Dari segala makna, hikmah, dan ma'rifah yang sesungguhnya merupakan konsumsi kalbu itu sendiri. Sekaligus menjadi hidangan ruhani dan segala maqam, martabat, derajat, dan tingkat-tingkat spiritual selamanya tanpa ada batas.

Pohon larangan yang secara hakiki tidak boleh didekati oleh Adam dan Hawa' merupakan pohon dzulmah (kegelapan). Karena seluruh elemen duniawi ada di dalam pohon tersebut.
 
Selamat mambaca, semoga bisa mengambil peLajaran dari semua cerita .. :)
jgn lupa sambil membaca detakan jantung'y dengan bunyi Allah..Allah..Allah ..

bismiLah ..

Orang Bodoh dan Orang Pandai

Orang pandai adalah orang yang tidak pernah merasa pandai. Orang bodoh adalah orang yang tak pernah merasa bodoh. Orang pandai, akan menjadi bodoh ketika kejernihan pikirannya diracuni oleh ide-ide bodoh.
Dan orang bodoh manakah yang disebut bodoh ketika orang ini tidak pernah mengikuti hawa nafsunya? Seorang Sufi besar Ibnu Athaillah mengatakan; “Mana ada orang pandai kalau ia mengikuti nafsunya dan mana ada orang bodoh kalau ia mengekang nafsunya?”
Hari ini kebodohan tampak di mana-mana. Bahkan di ketiak setiap orang yang mengaku dirinya cendekia hanya karena ada satu virus hawa nafsu ketika menyelinap di urat nadi mereka. Lalu rakyat semakin bodoh ketika mereka terhempas dalam kepiluan putus asanya. Karena lapisan-lapisan kekecewaan telah menghimpit mereka.

Apalagi mereka terlalu trauma dengan senjata. Bahkan apa yang disebut dengan pendidikan bangsa ternyata mundur sekian puluh tahun dibanding pendidikan tetangga.
Tapi betapa sombongnya mereka yang di atas pundak-pundak mereka itu ada kewajiban yang harus dipenuhi. Kesombongan yang membuat telinga dalam dada dan mata yang ada di balik dada, bahkan sentuhan dari kedalaman dada tersumpal semua oleh perasaan sombongnya. Kesombongan yang menuding orang lain bodoh dengan kacamata kebodohannya.

Tentu kita tidak ingin ada limbah kebodohan nasional ini membanjiri generasi berikutnva. Kalau kita jujur, man kita akui saja kebodohan itu. Kita akui pula kezaliman itu. Kita akui juga pula kelemahan itu. Semuanya agar kita bisa memasuki sebuah proses "pabrikan kecerdasan" bangsa. Yaitu tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa agar kita bisa meraih tathirul qulub (penyucian hati).
Mereka yang melakukan pembersihan jiwa berarti telah menyiapkan diri untuk menerima cahaya-Nya. Mereka yang membeningkan hati berarti akan siap menerima anugerah-anugerah-Nya. Mereka yang mengakui ketololan dan kebodohannya berarti siap menerima pencerahan-Nya. Mereka yang mengakui kezaliman dirinya berarti akan meraih ampunan-Nya.

Tapi siapakah yang mau mengakui semua itu di tengah-tengah arogansi psikologis yang membebal seperti saat ini? Siapakah yang berani mengakui kesalahannya di tengah-tengah tabir tebal dosa-dosanya yang menyelimuti ampunan-ampunan Tuhan? Siapakah yang mau mengakui kekotoran hatinya di saat kotoran menjadi makanan sehari-harinya. Masya Allah!

Melihat Allah di Gang Dolly

Gang Dolly di Surabaya sudah lama telah jadi ideologi besar dunia. Penganutnya telah ikut menebar virus di seantero nusantara. Karena Gang Dolly jadi ideologi syahwatisme, kultur, dan sebagian dijadikan sebagai "agama" para petualang syahwat.
Dan dari gang inilah, seorang mahasiswa peserta pengajian di tempat saya bertanya;
"Apakah seseorang bisa bertemu Allah dan menyaksikan Allah di Dolly atau di pusat perjudian Las Vegas?"


Tentu ini pertanyaan berani. Wajar, karena baru saja saya menjelaskan tentang bagaimana menyaksikan Allah itu. Bagaimana pula penampilan Allah dalam kehidupan jagad semesta ini, termasuk jagad baik dan jagad maksiat?

Jagad peradaban maupun jagad kriminal? Jagad ekstase Ilahiyah dan jagad eksotisme paha-dada koran seks?

"Bisa!" Saya katakan demikian.

Karena siapa pun harus bisa menyaksikan Allah di mana-mana. Termasuk di tempat tumpahnya sperma hina yang haram itu. Dolly misalnya atau sejenisnya. Di tingkat lokal, pinggir jalan, rel kereta, sampai di hotel berbintang, Dollisme sama sekali tidak bisa menghapus pandangan hati seseorang kepada Allah. Hanya saja, ketika kita menyaksikan Allah di masjid, di tempat ibadah, atau di tempat mana kebaikan ditaburkan, rasanya kita begitu jelas melihat Allah dengan keagungan-Nya. Maka di sanalah sesungguhnya penampilan Allah dengan baju nama-Nya: Yang Maha Kasih, Maha Melindungi, Maha Merahmati, Maha Mengampuni, Maha Lembut, dan Maha Mengangkat derajat hamba-Nya.

Tapi apakah Allah itu juga ada di Gang Dolly atau di perjudian Las Vegas? Sama saja! Tetap ada. Hanya saja nama Allah yang tampil di sana adalah nama-Nya Yang Maha Menghina, Maha Menyiksa, Maha Membalas atas perbuatan hamba-Nya, dan nama-nama-Nya yang memaksa.

Bagi manusia yang sadar, ia akan tahu ketika ia ingin meliarkan nafsunya. Maka ia akan tergugah, jangan-jangan Tuhan sedang menghina saya. Jangan-jangan Tuhan sedang menyiksa saya, lalu saya ditakdirkan mengikuti aliran Dollisme. Jangan-jangan Tuhan menyiksa dengan makian yang menjijikkan saya, ketika saya mau berjudi, mau korupsi, mau maling uang negara, atau mau menipu rakyat.

Maka, dengan kesadaran akan penampilan Allah di mana-mana, tanpa ada ikatan warna, ruang, waktu, dan bentuk, sesungguhnya Anda akan bisa mengendalikan diri Anda dalam segala hal.


Nah, belajarlah melihat Allah tidak hanya di tempat ibadah. Tetapi di balik ketiak para pelacur atau di balik tumpukan kertas setan dalam togel, bahkan di balik gambar angka yang penuh dengan api neraka, atau di balik uang korupsi.
Dan (gang) Dolly itu dalam bahasa Arab artinya orang yang tersesat. Tapi, toh pernah disebut agar kita bukan termasuk golongan orang yang tersesat. Waladh-Dholliyn.
 
Membersihkan Rumah Tuhan

Seluruh semesta raya ini tidak ada artinya apa-apa dibanding Allah. Berarti segala yang ada, tidak ada yang mampu menampung Allah. Segalanya tidak bisa menjadi tempat semayam Allah. Kecuali hati hamba-Nya yang beriman. Maka di sanalah Allah bersinggasana.
Hati orang yang beriman adalah rumah Allah. Dan karena itu, hati kita adalah amanah Ilahi untuk dijaga, dirawat, dan dirias agar menjadi elok. Hati kita adalah ruang di mana pertemuan dialogis (munajat) antara hamba dengan Rabb berlangsung.

Apabila hati kita tidak bersih, ruang jiwanya tidak bercahaya, sudut-sudutnya tidak aman dari ancaman syetan, tentu tidak ada lagi harapan untuk sebuah istana Ilahi dalam hati kita.
Dalam menjaga dan membangun rumah Tuhan dalam jiwa, ada dua cara yang dilahirkan oleh tradisi keagamaan kita yang agung.

Pertama tradisi tazkiyatun nafs yaitu tradisi membersihkan kejahatan jiwa yang dimulai dengan tobat. Dalam jiwa kita ada sisi gelap yang dipenuhi oleh virus-virus paling menjijikkan. Dimulai dengan virus iri-dengki, lalu berkembang menjadi virus takabbur, riya, ujub, mencintai dunia, kedzaliman, kefasikan, kemunafikan, dan kemudian akan menjurus pada kekufuran.
Semua virus itu harus dibersihkan melalui taubat dan dzikrullah. Dari sinilah muncul paradigma kedua melalui tathirul qulub. Yaitu menyucikan hati melalui riasan etika atau akhlak hamba dengan Allah ta'ala.

Penyucian hati berbeda dengan pembersihan jiwa. Kalau penyucian hati lebih menekankan pada riasan pasca pertobatan, lalu ia memasuki wilayah spiritual dengan riasan-riasan maqamat demi maqamat. Sedangan pembersihan jiwa adalah upaya untuk melakukan asketisme secara total. Baik lewat tobat, zuhud, wara', dan sebagainya.

Dua proses itu lama sekali tidak tergantung dengan lifestyle dan penampilan orang per orang. Orang yang dengan jubah dan jenggot serta tasbih di tangannya belum tentu ia orang suci atau sufi. Jangan-jangan karena ia pamer jubah dan jenggot malah muncul riya' dan takabur atas nama syiar. Siapa tahu justru mereka yang berpenampilan perlente dengan dasi dan jas dandy serta sepatu mengkilat malah lebih dekat dengan Allah ketimbang Anda yang memakai baju-baju religius?
Jangan-jangan mereka yang pakai rok mini itu memiliki keakraban asketik dengan Allah dibanding Anda yang berjilbab. Siapa tahu?

Dalam wilayah ruhani, baju dan bendera harus dibuang. Bahkan prestasi amaliyah sebagai tempat gantungan masa depan di akhirat pun harus dikubur habis-habis. Pada saat yang sama, hanya Allahlah tempat bergantung. Bukan amal, bukan prestasi, dan bukan pula hasrat-hasrat luhur. Bahwa kita memang sedang beramal bagus. Itulah indikator bahwa kita berada dalam lindungan Ilahi.

Tetapi sebaliknya ketika kita berbuat mungkar dan maksiat itu pertanda kita sedang dihina oleh Allah. Astaghfirullah!
Kelak jika dua cara pembersihan dan penyucian hati itu berlangsung, kita akan memasuki ruang zinatul asrar. Yaitu ruang rahasia yang menjadi manifestasi kemahaindahan Ilahi. Maka di sana rumah Tuhan, bukan saja bersih, tetapi telah menjadi arasy yang hakiki..

(quransains)
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.