yophi
IndoForum Beginner E
- No. Urut
- 45381
- Sejak
- 5 Jun 2008
- Pesan
- 512
- Nilai reaksi
- 15
- Poin
- 18
Kenapa masih ada yang gagal menjalankan MLM??
Sebenarnya yang perlu kita sadari bahwa MLM ini juga bisnis, sama seperti bila Anda ingin berbisnis restaurant, atau berbisnis salon, atau bisnis bengkel, atau bisnis warung, dan lain sebagainya. Jadi sama saja. Pasti ada yang sukses dan ada yang gagal. Tidak semua restaurant sukses, ada juga yang akhirnya tutup. Demikian juga salon, bengkel, warung, dan lain sebagainya.
Bedanya, MLM pekerjaannya sangat sederhana, modalnya kecil, dan bisa dilakukan atau bisa dikerjakan oleh semua orang, semua lapisan masyarakat, semua golongan ekonomi dan semua latar belakang pendidikan. Inilah kelebihan dari MLM.
Dan karena hal tersebut yang terjadi, maka tidak ada quality control yang jelas mengenai siapa saja yang boleh menjalankan MLM. Mungkin agar lebih jelasnya bisa saya contohkan seperti ini, untuk dapat menjalankan bisnis MLM, Anda tidak perlu lewat screening test seperti ketika Anda ingin bekerja di bin. Tidak perlu test bahasa Inggris, tidak perlu psiko test, dan lain sebagainya. Maka, kualitas orang-orangnya pun beragam. Inilah salah satu faktor kenapa masih ada yang gagal di MLM.
Bila kita lihat lebih jauh, jangankan usaha yang tidak ada quality control-nya, profesi yang ada quality control-nya saja banyak yang tidak sukses. Misalnya saja dokter. Berapa banyak mahasiswa kedokteran yang lulus setiap tahunnya? Dan berapa orang dari mereka atau berapa persen menjadi dokter yang sukses? Padahal quality control untuk menjadi seorang dokter itu sangat luar biasa ketatnya, dan tetap saja masih ada yang tidak sukses.
Dan faktor yang terakhir, yang juga sudah saya singgung di tulisan-tulisan saya sebelumnya, bahwa memang marketing plan atau sistem kompensasi dari MLM konvensional itu sulit. Bayangkan, Anda harus membangun banyak jalur distribusi, berbeda dengan Synergy yang hanya fokus 2 jalur distribusi saja. Wajar saja kalau banyak yang gagal di MLM konvensional.
Di Synergy, sebenarnya mereka yang gagal, sebenarnya bukan gagal, mereka hanya berhenti terlalu cepat. khusus di Synergy, mau selambat apapun pergerakannya, apabila Anda terus bertahan, mengikuti sistemnya dan tetap mengerjakan bisnis ini, pasti Anda akan sukses. Wajar sekali bila Anda tidak bekerja dan Anda gagal. Bisnis apapun, bila tidak dikerjakan, pasti tidak akan sukses.
Sekarang saya buka cerita ngga enaknya. Di bisnis ini, ngga enaknya itu kita ditolak, dilecehkan dan dipandang rendah. Perlu kedewasaan diri dan sikap yang benar serta pola pikir positif untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Tetapi, bila hasil akhirnya Anda bisa menyekolahkan anak-anak Anda ke luar negeri, Anda bisa memberangkatkan Haji orang tua Anda atau keluarga-keluarga yang Anda cintai, Anda dapat melunasi semua hutang-hutang Anda, Anda mempunyai waktu yang banyak bersama anak, istri atau suami Anda, Anda bisa jalan-jalan ke luar negeri, Anda dapat membantu banyak orang, saya rasa tantangan-tantangan tersebut menjadi tidak berarti.
Sebenarnya yang perlu kita sadari bahwa MLM ini juga bisnis, sama seperti bila Anda ingin berbisnis restaurant, atau berbisnis salon, atau bisnis bengkel, atau bisnis warung, dan lain sebagainya. Jadi sama saja. Pasti ada yang sukses dan ada yang gagal. Tidak semua restaurant sukses, ada juga yang akhirnya tutup. Demikian juga salon, bengkel, warung, dan lain sebagainya.
Bedanya, MLM pekerjaannya sangat sederhana, modalnya kecil, dan bisa dilakukan atau bisa dikerjakan oleh semua orang, semua lapisan masyarakat, semua golongan ekonomi dan semua latar belakang pendidikan. Inilah kelebihan dari MLM.
Dan karena hal tersebut yang terjadi, maka tidak ada quality control yang jelas mengenai siapa saja yang boleh menjalankan MLM. Mungkin agar lebih jelasnya bisa saya contohkan seperti ini, untuk dapat menjalankan bisnis MLM, Anda tidak perlu lewat screening test seperti ketika Anda ingin bekerja di bin. Tidak perlu test bahasa Inggris, tidak perlu psiko test, dan lain sebagainya. Maka, kualitas orang-orangnya pun beragam. Inilah salah satu faktor kenapa masih ada yang gagal di MLM.
Bila kita lihat lebih jauh, jangankan usaha yang tidak ada quality control-nya, profesi yang ada quality control-nya saja banyak yang tidak sukses. Misalnya saja dokter. Berapa banyak mahasiswa kedokteran yang lulus setiap tahunnya? Dan berapa orang dari mereka atau berapa persen menjadi dokter yang sukses? Padahal quality control untuk menjadi seorang dokter itu sangat luar biasa ketatnya, dan tetap saja masih ada yang tidak sukses.
Dan faktor yang terakhir, yang juga sudah saya singgung di tulisan-tulisan saya sebelumnya, bahwa memang marketing plan atau sistem kompensasi dari MLM konvensional itu sulit. Bayangkan, Anda harus membangun banyak jalur distribusi, berbeda dengan Synergy yang hanya fokus 2 jalur distribusi saja. Wajar saja kalau banyak yang gagal di MLM konvensional.
Di Synergy, sebenarnya mereka yang gagal, sebenarnya bukan gagal, mereka hanya berhenti terlalu cepat. khusus di Synergy, mau selambat apapun pergerakannya, apabila Anda terus bertahan, mengikuti sistemnya dan tetap mengerjakan bisnis ini, pasti Anda akan sukses. Wajar sekali bila Anda tidak bekerja dan Anda gagal. Bisnis apapun, bila tidak dikerjakan, pasti tidak akan sukses.
Sekarang saya buka cerita ngga enaknya. Di bisnis ini, ngga enaknya itu kita ditolak, dilecehkan dan dipandang rendah. Perlu kedewasaan diri dan sikap yang benar serta pola pikir positif untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Tetapi, bila hasil akhirnya Anda bisa menyekolahkan anak-anak Anda ke luar negeri, Anda bisa memberangkatkan Haji orang tua Anda atau keluarga-keluarga yang Anda cintai, Anda dapat melunasi semua hutang-hutang Anda, Anda mempunyai waktu yang banyak bersama anak, istri atau suami Anda, Anda bisa jalan-jalan ke luar negeri, Anda dapat membantu banyak orang, saya rasa tantangan-tantangan tersebut menjadi tidak berarti.


(padahal teman saya ini lelaki tulen, tapi tetap ngasih perhatian ke penampilannya, Saluuut!).:top:
