• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Anak yg Sudah Pernah Kena Campak, Masih Perlu Divaksin MR?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Di awal kehidupannya, bayi sangat rentan kepada berbagai penyakit menular karena daya tahan tubuhnya yg masih belum sempurna. Kegemasan keluarga & kerabat saat melihat bayi biasanya mendorong mereka untuk menyentuh bayi (mencium pipi, menggendong, menyentuh wajah, memegang tangan, dll) menciptakan risiko penularan semakin tinggi.

Untungnya, beberapa penyakit menular dapat dicegah dengan vaksin, khususnya untuk penyakit yg memiliki akibat sakit berat hingga kematian. Salah satunya adalah vaksin measles, mumps and rubella(MR/ MMR) yg melindungi bayi dari campak, gondongan & rubella (campak Jerman).

Memang seperti apa bahayanya campak, gondongan, & rubella? Bagaimana kalau anak sudah pernah kena campak sebelum waktunya vaksinasi? Yuk simak ulasannya.

Anak yg Sudah Pernah Kena Campak, Masih Perlu Divaksin MR?



Measles (Campak)

Measles atau campak adalah infeksi virus menular yg menyerang sistem pernapasan. Virus tersebut menyebar melalui percikan air liur atau lendir yg keluar dari mulut penderita campak. Itulah mengapa tidak disarankan juga untuk meniup makanan atau minuman anak yg masih panas saat menyuapinya.

Penyakit campak juga mudah menular melalui kontak atau sentuhan langsung dengan cairan tubuh orang yg terinfeksi, serta menular lewat kebiasaan saling berbagi barang pribadi, seperti pinjam meminjam peralatan makan atau minum yg sama atau berbagi makanan & minuman.

Gejala campak yg perlu diwaspadai:

1. Batuk

2. Muncul ruam merah di kulit

3. Hidung mengeluarkan ingus

4. Demam

5. Bintik putih di mulut (bintik koplik)

Kondisi campak yg berat dapat menyebabkan pneumonia pada anak (radang paru), kerusakan otak, & infeksi telinga. Komplikasi fatal lainnya yg juga mungkin muncul adalah ensefalitis (radang otak) yg dapat menciptakan anak kejang.


Mumps (Gondongan)

Mumps atau parotitis, di Indonesia disebut juga sebagai gondongan, adalah infeksi virus menular yg menyerang kelenjar ludah. Penyakit menular ini dapat menyerang siapa saja, namun paling sering terjadi pada anak berusia 2 12 tahun.

Virus penyebab gondongan dapat menular melalui percikan air liur yg keluar bersama hembusan nafas saat orang yg terinfeksi bersin atau batuk. Penyakit ini juga mudah menular saat anak bersentuhan langsung atau mengpakai barang penderita gondongan.

Gejala gondongan yg paling mudah dideteksi adalah pembengkakan kelenjar ludah yg menciptakan area pipi & sekitar leher terlihat bengkak, bulat, & membesar.

Berikut gejala gondongan lainnya yg perlu diwaspadai:

1. Demam

2. Sakit kepala

3. Nyeri otot

4. Pembengkakan kelenjar ludah

5. Rasa nyeri & sakit saat mengunyah & menelan

6. Nyeri pada paras atau kedua sisi pipi

7. Sakit tenggorokan

Virus penyebab gondongan terkadang juga dapat menyebabkan peradangan pada ovarium, testis, pancreas, & selaput otak. Selain itu, tuli & meningitis adalah risiko komplikasi lainnya yg mungkin terjadi akibat gondongan.

Rubella (Campak Jerman)

Rubella atau campak Jerman adalah infeksi yg menyebabkan munculnya bintik-bintik merah pada kulit penderitanya. Selain itu, virus rubella juga dapat menyebabkan kelenjar getah bening di belakang telinga membengkak.

Umumnya gejala rubella muncul sekitar 2-3 pekan setelah tubuh terpapar virus. Gejala sebagai berikut:

1. Demam

2. Sakit kepala

3. Hidung tersumbat atau pilek

4. Mata merah meradang

5. Ruam merah muda halus pada paras yg cepat menyebar ke batang tubuh, lengan & kaki, & akan menghilang dalam urutan yg sama.

6. Nyeri sendi.

Penyakit ini umumnya jarang menyebabkan komplikasi serius. Namun pada beberapa kasus, campak Jerman juga dapat jadi sangat berbahaya apabila terjadi pada wanita hamil karena meningkatkan risiko kecacatan pada janin atau bahkan bayi lahir mati.


Vaksin MMR wajib untuk anak kecil & balita

Sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin MR perdana kali diberikan pada bayi di usia 9 bulan sebagai takaran primer.

Setelah suntikan pertama, anak akan menerima takaran booster pada usia 18 minggu, dapat mengpakai tipe vaksin yg sama (MR) atau MMR yg memiliki tambahan daya tahan tubuh kepada mumps atau gondongan.

Saat anak berusia 5-7 tahun, ia dapat mendapatkan takaran booster kembali untuk memperbarui & menambah kekebalan tubuhnya.

Apa perlu vaksin MR/ MMR kalau sudah pernah campak?

Vaksinasi MR/ MMR setelah terkena campak/ gondongan/ rubella kondusif untuk dilakukan. Justru, dengan tetap mendapatkan vaksin MMR, anak jadi terlindungi kepada penyakit tersebut di kemudian hari, atau memiliki gejala yg lebih ringan.



sumber:pernah kena campak


Hari ini 14:00
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.