• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Anak Muda Punya Rumah Picu Pengangguran

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
VODab.jpg
Sebuah penelitian terbaru menyimpulkan keinginan anak muda untuk membeli rumah akan menimbulkan permasalahan di masa depan, yakni meningkatkan angka pengangguran.

Seperti dikutip dari laman CNN Money, pada Senin 11 November 2013, peneliti dari Dartmouh College di New Hampshire dan UK University of Warwick, mengatakan, peningkatan kepemilikan rumah pada suatu negara akan memicu meningkatnya pengangguran pada beberapa tahun kemudian. Karena, sebagian orang enggan untuk pindah mencari pekerjaan baru.

Selain mengurangi mobilitas pada pasar tenaga kerja, peneliti menuturkan, kepemilikan rumah juga menjadi penyebab kemacetan panjang lalu lintas yang membuang waktu dan uang.

Pemilik rumah juga lebih mungkin untuk membuka bisnis baru di lingkungan tempat tinggal mereka, sehingga "bisnis" kewirausahaan terkonsentrasi di satu lokasi.

Penelitian ini didasarkan pada data dan sejarah Amerika Serikat serta negara-negara maju lainnya bahwa faktor lain yang berkontribusi menambah jumlah pengangguran yakni kepemilikan rumah.

"Akibat mencolok yang ditimbulkan cukup besar," kata peneliti dalam laporan mereka. "Dalam jangka panjang, peningkatan dua kali lipat kepemilikan rumah akan menyebabkan naiknya angka pengangguran lebih dari dua kali lipat," ungkapnya.

Peneliti menjelaskan kecenderungan tersebut mulai terlihat sejak 1980-an.

"Obsesi kepemilikan rumah harus dihentikan. Pengurangan fleksibilitas pada pasar tenaga kerja justru akan menyebabkan lapangan pekerjaan perlahan-lahan berkurang," kata Profesor Andrew Oswald dari University of Warwick.

Oswald membandingkan Swiss dan Spanyol. Kepemilikan rumah yang tinggi di Spanyol menyebabkan tingkat pengangguran yang tinggi. Sebaliknya, di Swiss rendahnya kepemilikan rumah di negara tersebut menyebabkan rendahnya angka pengangguran.

Lantas, apakah dengan begitu pekerja tidak harus memiliki rumah?

Ternyata tidak, Oswald menyarankan pekerja lebih baik memikirkan untuk memiliki rumah pada saat mereka mempersiapkan diri untuk pensiun. Keputusan seperti itu akan berdampak kecil pada ketersediaan lapangan kerja.

"Jika melihat negara-negara yang sangat sukses seperti Jerman dan Swiss, terlihat bahwa orang bercita-cita memiliki rumah pada saat usia mereka sudah senja. Ini keputusan yang rasional dan efisien. Saat masih muda, mereka akan mobile," ungkapnya.

Penelitian yang sama juga dilakukan oleh mantan anggota komite kebijakan moneter bunk of England, David Blanchflower dan menghasilkan kesimpulan yang sama.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.