Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Penulis: Kharirus Saidiyah el Firda
Editor: Thiara
Cangkeman.net -Pembahasan kali ini adalah momok akbar dalam kehidupan rumah tangga. Mau diakui atau tidak, kehidupan masyarakat kita masih sangat lekat dengan anggapan bahwa yg sudah menikah itu, ya wajib punya anak. Kalau gak punya anak dapat di kata-katain yg tidak-tidak. Padahal, apakah mereka paham kalau masalah anak itu sangat sensitif bagi pasangan muda?
Mereka bilang, kalau anak itu kunci memperkuat hubungan & punya peran penting dalam kebahagiaan rumah tangga. Nanti kalau gak memiliki anak, anda dianggap punya masalah, rumah tangga disebut-sebut gak akan bertahan lama, hingga anggapan bahwa gak punya anak menciptakan sumber rezekimu tidak banyak.
Bingung juga ya, mau ngejelasin kayak gimana? Sesekali, rasanya letih harus sering menjawab pertanyaan yg sama soal anak. Padahal, semua pasti tau kalau anak itu rezeki. Nah, sedangkan rezeki itu salah satu perkara yg sudah ditetapkan Tuhan, selain hidup & mati. Ya manusia wajib berikhtiar 'kan, ya. Selebihnya, itu perkara kuasa Tuhan gitu, loh! Ibarat kata, itu sudah di luar kendali manusia. Kita sudah berusaha dengan metode bla-bla-bla, datang ke sini; datang ke situ. Kalau emang belum waktunya, ya gimana?
Tak sedikit orang yg merelakan banyak hal demi mencapai keharapan memiliki anak. Mereka mau mengeluarkan banyak biaya untuk pengobatan, meluangkan waktu, hingga menguras tenaga. Tapi ada aja yg ngomongnya menyakitkan hati.
Apa mereka pikir, kita yg mengalaminya tidak sakit & lelah? Bagi kami yg mengalami hal ini, rasanya letih fisik, apalagi psikis. Bagaimana, tidak? Orang-orang sering melontarkan pertanyaan tentang anak setiap bertemu. Toh kalau usaha kami berhasil, dapat dilihat 'kan hasilnya? Kalau mau nanya sekali-dua kali, oke aja. Tapi, kalau terus-menerus setiap ketemu? Lama-lama bikin hati gak enak. Jadi males gitu lho, buat ketemu-ketemu. Ujung-ujungnya, sering cari cara untuk menghindar hingga bikin hubungan jauh.
Kunci kebahagian di sini itu yg nentuin adalah diri kita masing-masing, bukan orang lain. Yang dapat atur ketenangan batin, ya kita sendiri. Bahagianya hidup juga kita sendiri yg ciptain.
Coba, kadang kita melihat ada orang kaya raya, tetapi belum punya anak; ada orang yg punya anak, tetapi ekonominya kekurangan; ada juga yg kaya raya & punya anak, tetapi diuji sama tingkah anaknya sendiri. Selalu ada aja cobaan dalam hidup masing-masing manusia. Cobaan yg memiliki porsi berbeda sesuai dengan kekuatan masing-masing manusia pula. Tetap percaya aja, kalau cobaan & ujian itu tidak akan melampaui kekuatan hamba-Nya. Kalau sebutan di kampung jawa tuh sawang sinawang (saling pandang-memandang dalam artian positif) aja dalam hidup, karena hasrat manusiawi merasa sering ada yg kurang. Makanya, dalam ajaran tuh sering disuruh buat bersyukur sama apa yg didapat.
Anak juga tidak lahir untuk bertanggung jawab kepada kebahagian orang tua maupun keutuhan keluarga. Pasangan suami istri lah yg memiliki peran-peran penting tersebut, bukan anak yg menanggung. Kalau kayak gitu, rasanya kasihan ya, si anak lahir dengan banyak beban tanggung jawab.
Sudahlah stopdengan perkataan kalian yg menyakitkan. Toh kami juga sedang berjuang, bukan berdiam diri. Justru, kami butuh bantuan kalian semua buat menguatkan batin kami. Kalau jasmani & rohani kita tenang, bahagia; dapat aja jadi obat perantara anak akan hadir.
Tapi kalau sebaliknyayang sedang berusaha sudah stres oleh pengobatan, ditambah bukannya mendapat semangat, kami malah mendapat kata-katanegative, ya gimana gak semakin tertekan tuh hidupnya? Plisss dengan kalian mendoakan & berkata baik akan jadi obat batin yg luar biasa. Apapun keputusannya dalam rumah tangga, mau punya anak atau tidak, bukan tolak ukur kebahagian rumah tangga. Karena kebahagiaan itu kita sendiri yg ciptakan.
Tulisan ini ditulis diCangkemanpada tanggal 16 November 2022 Hari ini 11:17