yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Tidak terima anaknya ditampar oleh gurunya, Muhammad Masykur Yani, orang tua dari Ahmad Faqih Kurniawan, siswa kelas II MTs Negeri Pademawu, Pamekasan, Jawa Timur, mengancam akan melaporkan Syaifullah, pelaku penamparan kepada polisi.
Ahmad Faqih Kurniawan, divonis mengalami cacat pendengaran karena ulah guru Syaifullah, setelah diperiksa kepada dokter spesialis. Ditemui di rumahnya di Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, Rabu (11/4/2012), Masykur mengaku sangat berang terhadap Syaifullah. Sebab, sejak pertama peristiwa penamparan anaknya itu terjadi pada Selasa (3/4/2012) lalu, Syaifullah tidak datang ke rumahnya untuk menjenguk atau meminta maaf.
"Saya tunggu-tunggu kok tidak ada datang ke rumah. Ini artinya tidak ada iktikad baik dari yang bersangkutan," terangnya.
Selain dari guru yang bersangkutan, dari sekolah juga tidak datang menyambangi keluarga Masykur. "Entah kepala sekolahnya tidak tahu atau sengaja membiarkan kasus ini tidak ada penyelesaian, saya sangat kecewa," imbuhnya.
Masykur meminta kepada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan, untuk memberikan sanksi kepada Syaifullah karena sudah bertindak kasar terhadap muridnya. "Saya bukan tidak mau anak saya dipukuli, tapi harusnya di bawah dada. Itupun jika anak saya bersalah. Ini kan tidak jelas kesalahan anak saya. Hanya karena ketua kelas saja kemudian jadi sasaran," ujarnya.
Jika tidak ada sanksi yang diberikan kepada guru yang bersangkutan, maka laporan kepada polisi akan dilanjutkan. "Saya kawatir akan ada siswa lain yang jadi korban jika guru itu tidak ada sanksi," ungkapnya.
Sementara itu, Iskandar anggota Komisi D DPRD Pamekasan menyesalkan atas perbuatan yang dilakukan Syaifullah. Seharusnya, guru tidak memberikan contoh yang jelek kepada muridnya. "Seorang guru itu tidak hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga mendidik ahlaqul karima," terang Iskandar.
Sebelumnya, penamparan Ahmad Faqih Kurniawan oleh Syaifullah, guru mata pelajaran matematika, lantaran tersinggung kepada Malik guru Geografi, karena jam pelajarannya diambil 10 menit. Waktu itu, Ahmad Faqih sedang menulis di papan tiba-tiba dilempar dengan penghapus dan kemudian menampar telinga kiri Faqih.
Ahmad Faqih Kurniawan, divonis mengalami cacat pendengaran karena ulah guru Syaifullah, setelah diperiksa kepada dokter spesialis. Ditemui di rumahnya di Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, Rabu (11/4/2012), Masykur mengaku sangat berang terhadap Syaifullah. Sebab, sejak pertama peristiwa penamparan anaknya itu terjadi pada Selasa (3/4/2012) lalu, Syaifullah tidak datang ke rumahnya untuk menjenguk atau meminta maaf.
"Saya tunggu-tunggu kok tidak ada datang ke rumah. Ini artinya tidak ada iktikad baik dari yang bersangkutan," terangnya.
Selain dari guru yang bersangkutan, dari sekolah juga tidak datang menyambangi keluarga Masykur. "Entah kepala sekolahnya tidak tahu atau sengaja membiarkan kasus ini tidak ada penyelesaian, saya sangat kecewa," imbuhnya.
Masykur meminta kepada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan, untuk memberikan sanksi kepada Syaifullah karena sudah bertindak kasar terhadap muridnya. "Saya bukan tidak mau anak saya dipukuli, tapi harusnya di bawah dada. Itupun jika anak saya bersalah. Ini kan tidak jelas kesalahan anak saya. Hanya karena ketua kelas saja kemudian jadi sasaran," ujarnya.
Jika tidak ada sanksi yang diberikan kepada guru yang bersangkutan, maka laporan kepada polisi akan dilanjutkan. "Saya kawatir akan ada siswa lain yang jadi korban jika guru itu tidak ada sanksi," ungkapnya.
Sementara itu, Iskandar anggota Komisi D DPRD Pamekasan menyesalkan atas perbuatan yang dilakukan Syaifullah. Seharusnya, guru tidak memberikan contoh yang jelek kepada muridnya. "Seorang guru itu tidak hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga mendidik ahlaqul karima," terang Iskandar.
Sebelumnya, penamparan Ahmad Faqih Kurniawan oleh Syaifullah, guru mata pelajaran matematika, lantaran tersinggung kepada Malik guru Geografi, karena jam pelajarannya diambil 10 menit. Waktu itu, Ahmad Faqih sedang menulis di papan tiba-tiba dilempar dengan penghapus dan kemudian menampar telinga kiri Faqih.