Pada suatu hari, seorang dokter pergi melayani ke suatu tempat, yakni sebuah desa yang jauh dari pusat kota. Agar dapat sampai ke tempat pelayanan itu, dia harus berjalan kaki melewati hutan dan jalan setapak.
Hutan rintik-rintik pun mengiringi perjalanannya ke tempat tujuan. Setelah berjalan kaki kurang lebih
satu jam, sampailah ia pada suatu tempat. Di sana ia bertemu dengan seorang bocah kira-kira berusia Sekolah Dasar (SD). Bocah tersebut sedang memegang sangkar berisi tiga ekor anak burung di dalamnya. Ketiga anak burung itu kelihatannya lemas, mungkin karena tidak diberi makan. Selain itu, ketiganya berada dalam sebuah sangkar yang tidak layak huni.
Lantas, dokter ini mengajukan pertanyaan pada anak kecil tersebut. “Anakku, anak burung ini nanti mau diapakan?” “Ya, saya nanti mau mencabuti bulu-bulu mereka, ‘kan kelihatan lucu jika
burung-burung itu merintih kesakitan”. Selanjutnya, tindakan apa yang akan kamu lakukan, tanya dokter itu penasaran. Apabila bulu-bulunya telah habis, saya akan melemparkan mereka untuk diterkam oleh kucing-kucing saya yang sedang kelaparan.
Dasar dokter.., rasa ibanya pun segera datang dan langsung merenungkan nasib anak-anak burung tersebut. Lalu dia berpikir sejenak, bagaimana cara memberi pertolongan. Tiba-tiba muncullah ide untuk menawarkan sesuatu kepada bocah tersebut. ”Nak, bolehkah saya membeli anak burung itu?” "Bapak, jangan main-main dong, siapa yang suka dengan anak burung sejelek ini?" “Saya serius dan mau membelinya? Berapa harganya?”. "Bapak serius?" tanya anak ini keheranan. "Ya.." jawab
dokter tersebut. "Sekian harganya," tegas anak kecil itu.
Tidak lama berselang, dokter tersebut mengambil uang dari dompetnya dan menyerahkannya kepada anak kecil itu sesuai permintaannya. Sang anakpun berlari kegirangan meninggalkan dokter tersebut. Nampaknya dia sangat senang dan bergembira karena mendapatkan uang dari dokter yang baru saja ditemuinya tersebut.
Tindakan dokter ini mampu membebaskan ketiga anak burung jelek itu dari siksaan dan kematian konyol. Lebih daripada itu, di tengah perjalanannya menuju ladang pelayanannya, burung-burung itupun dilepaskan sehingga mereka dapat terbang bebas di angkasa raya dan kembali berjuang untuk bertahan hidup.
Kisah di atas merupakan gambaran kehidupan umat manusia. Seharusnya, kita seperti anak burung yang siap disiksa serta diterkam kucing dan mati tanpa arti. karena apa..??? karena segala dosa2 kita lah...
so....gimana gals..??
Hutan rintik-rintik pun mengiringi perjalanannya ke tempat tujuan. Setelah berjalan kaki kurang lebih
satu jam, sampailah ia pada suatu tempat. Di sana ia bertemu dengan seorang bocah kira-kira berusia Sekolah Dasar (SD). Bocah tersebut sedang memegang sangkar berisi tiga ekor anak burung di dalamnya. Ketiga anak burung itu kelihatannya lemas, mungkin karena tidak diberi makan. Selain itu, ketiganya berada dalam sebuah sangkar yang tidak layak huni.
Lantas, dokter ini mengajukan pertanyaan pada anak kecil tersebut. “Anakku, anak burung ini nanti mau diapakan?” “Ya, saya nanti mau mencabuti bulu-bulu mereka, ‘kan kelihatan lucu jika
burung-burung itu merintih kesakitan”. Selanjutnya, tindakan apa yang akan kamu lakukan, tanya dokter itu penasaran. Apabila bulu-bulunya telah habis, saya akan melemparkan mereka untuk diterkam oleh kucing-kucing saya yang sedang kelaparan.
Dasar dokter.., rasa ibanya pun segera datang dan langsung merenungkan nasib anak-anak burung tersebut. Lalu dia berpikir sejenak, bagaimana cara memberi pertolongan. Tiba-tiba muncullah ide untuk menawarkan sesuatu kepada bocah tersebut. ”Nak, bolehkah saya membeli anak burung itu?” "Bapak, jangan main-main dong, siapa yang suka dengan anak burung sejelek ini?" “Saya serius dan mau membelinya? Berapa harganya?”. "Bapak serius?" tanya anak ini keheranan. "Ya.." jawab
dokter tersebut. "Sekian harganya," tegas anak kecil itu.
Tidak lama berselang, dokter tersebut mengambil uang dari dompetnya dan menyerahkannya kepada anak kecil itu sesuai permintaannya. Sang anakpun berlari kegirangan meninggalkan dokter tersebut. Nampaknya dia sangat senang dan bergembira karena mendapatkan uang dari dokter yang baru saja ditemuinya tersebut.
Tindakan dokter ini mampu membebaskan ketiga anak burung jelek itu dari siksaan dan kematian konyol. Lebih daripada itu, di tengah perjalanannya menuju ladang pelayanannya, burung-burung itupun dilepaskan sehingga mereka dapat terbang bebas di angkasa raya dan kembali berjuang untuk bertahan hidup.
Kisah di atas merupakan gambaran kehidupan umat manusia. Seharusnya, kita seperti anak burung yang siap disiksa serta diterkam kucing dan mati tanpa arti. karena apa..??? karena segala dosa2 kita lah...
so....gimana gals..??