Diggie
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 287751
- Sejak
- 6 Apr 2020
- Pesan
- 14.416
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 0
Berikut adalah berita Ambisi Singapura lolos Piala Dunia 2034.
Arsip foto - Para pemain timnas sepakbola Singapura mengangkat trofi Piala AFF setelah mengalalahkan Thailand dalam final dua leg turnamen ini pada Piala AFF 2012 di Bangkok, Thailand, 22 Desember 2012. ANTARA/AFP/PORNCHAI KITTIWONGSAKUL.
Jakarta (ANTARA) - Dua dekade setelah ASEAN membahas kemungkinan jadi tuan rumah bersama Piala Dunia FIFA, pada 9 Oktober 2019 lima negara ASEAN sepakat mengajukan diri jadi tuan rumah Piala Dunia 2034.
Kelimanya adalah Thailand, Indonesia, Malaysia, Singapura & Vietnam. Mereka akan menghadapi persaingan dari China, Mesir, Zimbabwe & Australia yg kemungkinan akbar juga bakal mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034.
Di antara lima negara ASEAN itu adalah Singapura yg jadi salah satu yg paling ambisius karena menyandingkan rencana tuan rumah bersama itu dengan proyek ambisius lolos ke putaran final Piala Dunia 2034 ketika saat itu Piala dunia sudah diikuti 48 regu sejak 2026 dari 32 regu yg selama ini boleh berperan serta.
Ini memang rencana ambisius tetapi tak ada yg mustahil dalam sepak bola, apalagi tak sedikit negara kecil yg pernah merasakan atmosfer putaran final Piala Dunia seperti dicerap Uruguay, Irlandia Utara, Islandia, serta Trinidad & Tobago yg berpenduduk jauh lebih kecil dibandingkan Singapura yg dihuni 5,6 juta orang.
Uruguay yg berpenduduk 3,4 juta sudah terlalu sering menikmati Piala Dunia & bahkan dua kali menjuarainya pada 1930 & 1950. Irlandia Utara yg berpenduduk 1,88 juta juga lumayan sering lolos ke putaran final Piala Dunia, yakni pada edisi 1958, 1982, & 1986, bahkan pada 1958 mencapai perempatfinal.
Islandia yg cuma berpenduduk 366 ribu jiwa juga lolos ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia & bahkan menumbangkan regu kuat Inggris 2-1 sebelum terhenti pada perempatfinal setelah takluk kepada Prancis yg akhirnya menjuarai Piala Dunia Rusia ini. Sedangkan Trinidad & Tobago yg berpenduduk 1,39 juta lolos ke putaran final Piala Dunia 2006.
Sukses keempat negara kecil ini membuktikan sepanjang ada kemauan & keyakinan kuat, serta berusaha sekuat mungkin mempersiapkan diri dengan membangun kultur sepakbola yg kompetitif, masuk putaran final Piala Dunia tidaklah mustahil.
Baca juga: FIFA jamin siapa pun boleh datangi Piala Dunia Qatar
Berangkat dari fakta ini & percaya diri dapat membangun sistem yg lebih baik, Singapura pun memaklumatkan program ambisius Unleash the Roar yang terbilang sistematis karena berdasarkan kepada tahap-tahap yg disusun secara detail oleh negara kota ini.
Rencana ini dijalankan ke dalam tiga fase di mana pada fase pertama, mulai tahun ini hingga 2022, adalah menyiapkan kondisi guna memasyaratkan sepakbola, memasukkan sepakbola dalam kurikulum pendidikan sejak tingkat dasar, & membentuk akademi sepakbola baru.
Fase berikutnya, mulai 2023 hingga 2027, adalah mengeksekusi delapan pilar pengembangan sepakbola Singapura, termasuk meningkatkan partisipasi anak dalam sepakbola, membangun struktur pelatih elit, meningkatkan kemampuan teknis pemain & pelatih, mengimbuhkan sains & teknologi dalam latihan, membangun infrastruktur sepakbola, & mengembangkan kemitraan dengan semua kalangan termasuk swasta & masyarakat.
Fase ketiga yg dimulai 2028 hingga 2033, akan fokus diarahkan kepada performa regu nasional pada berbagai turnamen yg tujuan akhirnya lolos ke putaran final Piala Dunia 2034.
Proyek Unleash the Roar itu mulai operasional Jumat 19 November silam dengan tak tanggung-tanggung menggandeng LaLiga Spanyol & klub Borussia Dortmund dari Bundesliga Jerman.
Presiden FIFA President Gianni Infantino yg mengunjungi Singapura tiga hari lalu pada 5 Desember turut menyanjung komitmen visioner Asosiasi Sepakbola Singapura (FAS) dalam mengembangkan sepakbola negeri itu.
Adopsi tiki-taka
LaLiga & Dortmund akan memberikan keahlian dalam soal pengembangan pemain muda, pengembangan kepelatihan & sains olahraga, serta menampung talenta-talenta sepakbola paling cemerlang Singapura.
LaLiga juga akan mengutus pelatih-pelatihnya guna menempati berbagai posisi kunci bersama pelatih lokal di 10 sekolah sepakbola baru di Singapura.
Tujuan FAS adalah menyebarkan kurikulum sepak bola nasional berbasiskan penguasaan bola & permainan tempo tinggi yg serupa dengan gaya tiki-taka yang disempurnakan Spanyol dalam dua puluh tahun terakhir ini.
Sedangkan Borussia Dortmund akan berbagi keahlian mengembangkan program pengembangan pelatih guna menghasilkan pelatih-pelatih berkualitas tinggi dalam semua level sepakbola Singapura.
Terdengar ambisius & mentereng memang, tetapi beberapa kalangan meragukan efektivitas program ini karena Singapura tak berusaha seagresif negara-negara seperti Qatar dalam membangun infrastruktur sepakbola.
Namun kritik semacam itu pun dibantah karena Unleash the Roar juga menekankan pentingnya infrastruktur sepakbola & bahkan memasukkannya pada delapan pilar pembangunan kembali sepakbola Singapura.
Baca juga: FIFA pasang target akhir tahun perkenalkan "venue" Piala Dunia 2026
Ini semua adalah sedikit citra betapa serius Singapura mempersiapkan sepakbolanya ke pentas global, sekalipun sejumlah kalangan khawatir proyek ini akan mengulang kegagalan "Goal 2010" yg digagas PM Singapura saat itu, Goh Chok Tong, ketika pada 1998 Singapura mencanangkan proyek nasional meloloskan negara ini ke putaran final Piala Dunia 2010.
Dan mimpi lolos ke putaran final PD 2010 itu tak terwujud.
Namun demikian, otoritas olahraga Singapura membantah program lebih dari satu dekade lalu itu gagal total karena faktanya sepakbola Singapura berubah jadi kekuatan terpandang di ASEAN dengan empat kali menjuarai Piala AFF pada 1998, 2004, 2007 & 2012 yg bahkan belum pernah dialami Indonesia yg memiliki liga jauh lebih akbar & berpenduduk jauh lebih banyak.
Presiden FAS Lim Kia Tong sendiri menyatakan Unleash the Roar berbeda dari Goal 2010 yg didasari semata mencatat hasil terbaik di kancah global dengan satu-satunya tujuan lolos Piala Dunia 2010.
Sebaliknya Unleash the Roar lebih fokus membangun fundamental sepakbola, mulai dari akar rumput hingga tingkat elit, sambil menciptakan & mengembangkan gaya sepakbola menekan bertempo tinggi yg bakak jadi ciri khas sepakbola Singapura.
Unleash the Roar juga tak menitikberatkan sukses sepakbola kepada pemain naturalisasi, melainkan berfondasikan ekosistem sepakbola berkelanjutan yg menyemai talenta-talenta lokal sehingga kuat menyangga sepakbola Singapura secara jangka pandang & tak cuma demi lolos ke Piala Dunia 2034.
Apakah proyek ini bakal mengulangi "Goal 2010" yg gagal mengantarkan Singapura ke Piala Dunia 2010? Tak ada yg dapat menjawabnya.
Namun upaya serius nan ambisius Singapura dalam membangun ekosistem sepakbolanya hingga-hingga harap menciptakan gaya bermain sendiri yg menekankan penguasaan bola & tempo tinggi adalah patut diteladani siapa pun yg harap regu sepakbolanya pentas di level global.
Baca juga: Spanyol-Portugal resmi ajukan diri jadi tuan rumah Piala Dunia 2030
Berita diatas dikutip dari internet, jika Ambisi Singapura lolos Piala Dunia 2034 adalah spam, mohon beritahu kami.
Arsip foto - Para pemain timnas sepakbola Singapura mengangkat trofi Piala AFF setelah mengalalahkan Thailand dalam final dua leg turnamen ini pada Piala AFF 2012 di Bangkok, Thailand, 22 Desember 2012. ANTARA/AFP/PORNCHAI KITTIWONGSAKUL.
Jakarta (ANTARA) - Dua dekade setelah ASEAN membahas kemungkinan jadi tuan rumah bersama Piala Dunia FIFA, pada 9 Oktober 2019 lima negara ASEAN sepakat mengajukan diri jadi tuan rumah Piala Dunia 2034.
Kelimanya adalah Thailand, Indonesia, Malaysia, Singapura & Vietnam. Mereka akan menghadapi persaingan dari China, Mesir, Zimbabwe & Australia yg kemungkinan akbar juga bakal mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034.
Di antara lima negara ASEAN itu adalah Singapura yg jadi salah satu yg paling ambisius karena menyandingkan rencana tuan rumah bersama itu dengan proyek ambisius lolos ke putaran final Piala Dunia 2034 ketika saat itu Piala dunia sudah diikuti 48 regu sejak 2026 dari 32 regu yg selama ini boleh berperan serta.
Ini memang rencana ambisius tetapi tak ada yg mustahil dalam sepak bola, apalagi tak sedikit negara kecil yg pernah merasakan atmosfer putaran final Piala Dunia seperti dicerap Uruguay, Irlandia Utara, Islandia, serta Trinidad & Tobago yg berpenduduk jauh lebih kecil dibandingkan Singapura yg dihuni 5,6 juta orang.
Uruguay yg berpenduduk 3,4 juta sudah terlalu sering menikmati Piala Dunia & bahkan dua kali menjuarainya pada 1930 & 1950. Irlandia Utara yg berpenduduk 1,88 juta juga lumayan sering lolos ke putaran final Piala Dunia, yakni pada edisi 1958, 1982, & 1986, bahkan pada 1958 mencapai perempatfinal.
Islandia yg cuma berpenduduk 366 ribu jiwa juga lolos ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia & bahkan menumbangkan regu kuat Inggris 2-1 sebelum terhenti pada perempatfinal setelah takluk kepada Prancis yg akhirnya menjuarai Piala Dunia Rusia ini. Sedangkan Trinidad & Tobago yg berpenduduk 1,39 juta lolos ke putaran final Piala Dunia 2006.
Sukses keempat negara kecil ini membuktikan sepanjang ada kemauan & keyakinan kuat, serta berusaha sekuat mungkin mempersiapkan diri dengan membangun kultur sepakbola yg kompetitif, masuk putaran final Piala Dunia tidaklah mustahil.
Baca juga: FIFA jamin siapa pun boleh datangi Piala Dunia Qatar
Berangkat dari fakta ini & percaya diri dapat membangun sistem yg lebih baik, Singapura pun memaklumatkan program ambisius Unleash the Roar yang terbilang sistematis karena berdasarkan kepada tahap-tahap yg disusun secara detail oleh negara kota ini.
Rencana ini dijalankan ke dalam tiga fase di mana pada fase pertama, mulai tahun ini hingga 2022, adalah menyiapkan kondisi guna memasyaratkan sepakbola, memasukkan sepakbola dalam kurikulum pendidikan sejak tingkat dasar, & membentuk akademi sepakbola baru.
Fase berikutnya, mulai 2023 hingga 2027, adalah mengeksekusi delapan pilar pengembangan sepakbola Singapura, termasuk meningkatkan partisipasi anak dalam sepakbola, membangun struktur pelatih elit, meningkatkan kemampuan teknis pemain & pelatih, mengimbuhkan sains & teknologi dalam latihan, membangun infrastruktur sepakbola, & mengembangkan kemitraan dengan semua kalangan termasuk swasta & masyarakat.
Fase ketiga yg dimulai 2028 hingga 2033, akan fokus diarahkan kepada performa regu nasional pada berbagai turnamen yg tujuan akhirnya lolos ke putaran final Piala Dunia 2034.
Proyek Unleash the Roar itu mulai operasional Jumat 19 November silam dengan tak tanggung-tanggung menggandeng LaLiga Spanyol & klub Borussia Dortmund dari Bundesliga Jerman.
Presiden FIFA President Gianni Infantino yg mengunjungi Singapura tiga hari lalu pada 5 Desember turut menyanjung komitmen visioner Asosiasi Sepakbola Singapura (FAS) dalam mengembangkan sepakbola negeri itu.
Adopsi tiki-taka
LaLiga & Dortmund akan memberikan keahlian dalam soal pengembangan pemain muda, pengembangan kepelatihan & sains olahraga, serta menampung talenta-talenta sepakbola paling cemerlang Singapura.
LaLiga juga akan mengutus pelatih-pelatihnya guna menempati berbagai posisi kunci bersama pelatih lokal di 10 sekolah sepakbola baru di Singapura.
Tujuan FAS adalah menyebarkan kurikulum sepak bola nasional berbasiskan penguasaan bola & permainan tempo tinggi yg serupa dengan gaya tiki-taka yang disempurnakan Spanyol dalam dua puluh tahun terakhir ini.
Sedangkan Borussia Dortmund akan berbagi keahlian mengembangkan program pengembangan pelatih guna menghasilkan pelatih-pelatih berkualitas tinggi dalam semua level sepakbola Singapura.
Terdengar ambisius & mentereng memang, tetapi beberapa kalangan meragukan efektivitas program ini karena Singapura tak berusaha seagresif negara-negara seperti Qatar dalam membangun infrastruktur sepakbola.
Namun kritik semacam itu pun dibantah karena Unleash the Roar juga menekankan pentingnya infrastruktur sepakbola & bahkan memasukkannya pada delapan pilar pembangunan kembali sepakbola Singapura.
Baca juga: FIFA pasang target akhir tahun perkenalkan "venue" Piala Dunia 2026
Ini semua adalah sedikit citra betapa serius Singapura mempersiapkan sepakbolanya ke pentas global, sekalipun sejumlah kalangan khawatir proyek ini akan mengulang kegagalan "Goal 2010" yg digagas PM Singapura saat itu, Goh Chok Tong, ketika pada 1998 Singapura mencanangkan proyek nasional meloloskan negara ini ke putaran final Piala Dunia 2010.
Dan mimpi lolos ke putaran final PD 2010 itu tak terwujud.
Namun demikian, otoritas olahraga Singapura membantah program lebih dari satu dekade lalu itu gagal total karena faktanya sepakbola Singapura berubah jadi kekuatan terpandang di ASEAN dengan empat kali menjuarai Piala AFF pada 1998, 2004, 2007 & 2012 yg bahkan belum pernah dialami Indonesia yg memiliki liga jauh lebih akbar & berpenduduk jauh lebih banyak.
Presiden FAS Lim Kia Tong sendiri menyatakan Unleash the Roar berbeda dari Goal 2010 yg didasari semata mencatat hasil terbaik di kancah global dengan satu-satunya tujuan lolos Piala Dunia 2010.
Sebaliknya Unleash the Roar lebih fokus membangun fundamental sepakbola, mulai dari akar rumput hingga tingkat elit, sambil menciptakan & mengembangkan gaya sepakbola menekan bertempo tinggi yg bakak jadi ciri khas sepakbola Singapura.
Unleash the Roar juga tak menitikberatkan sukses sepakbola kepada pemain naturalisasi, melainkan berfondasikan ekosistem sepakbola berkelanjutan yg menyemai talenta-talenta lokal sehingga kuat menyangga sepakbola Singapura secara jangka pandang & tak cuma demi lolos ke Piala Dunia 2034.
Apakah proyek ini bakal mengulangi "Goal 2010" yg gagal mengantarkan Singapura ke Piala Dunia 2010? Tak ada yg dapat menjawabnya.
Namun upaya serius nan ambisius Singapura dalam membangun ekosistem sepakbolanya hingga-hingga harap menciptakan gaya bermain sendiri yg menekankan penguasaan bola & tempo tinggi adalah patut diteladani siapa pun yg harap regu sepakbolanya pentas di level global.
Baca juga: Spanyol-Portugal resmi ajukan diri jadi tuan rumah Piala Dunia 2030
Berita diatas dikutip dari internet, jika Ambisi Singapura lolos Piala Dunia 2034 adalah spam, mohon beritahu kami.