• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Alkohol: Merangsang Gairah, tapi Bikin Loyo

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. L999
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

L999

IndoForum Junior E
No. Urut
44983
Sejak
31 Mei 2008
Pesan
1.587
Nilai reaksi
38
Poin
48
041112p.jpg


KEBIASAAN minum minuman keras atau menelan sejumlah besar bir atau anggur ternyata dapat menghilangkan tenaga. Padahal, sering terdengar, minuman beralkohol digunakan sebagai pembangkit gairah sebelum melakukan hubungan seks. Banyak iklan di pelbagai media cetak mengiklankan produk minuman keras dapat menimbulkan kesan hangat, penuh cinta, dan seksi.

Menurut Dr Eugene Schoenfeld dari San Fransisco dan penulis pada kolom Dr Hippocrates di berbagai surat kabar Amerika, alkohol memang merupakan contoh obat yang begitu luas digunakan, tapi jangan dianggap semata sebagai obat. “Dalam dosis yang lebih besar, terjadi depresi dan perlambatan refleks. Stimulasi akibat alkohol sebenarnya disebabkan pelepasan hambatan-hambatan yang ada,” tulisnya seperti dikutip dari buku Nutrisi Seksual (Sexual Nutirition) yang ditulis oleh DR Morton Walker.

Dr Eugene Schoenfeld mengatakan, kebiasaan minum minuman beralkhohol menyebabkan hati menghasilkan sejumlah besar enzim yang dapat menghancurkan testosteron, hormon pembangkit libido pria. Sebuah riset dari universitas di California menunjukkan bahwa kebanyakan pria tidak bisa ereksi setelah meminum tiga kali minuman keras yang masing-masing dosisnya 1 ons. Karena alkohol mengurangi produksi testosteron, kebiasaan minum yang berat dapat menyebabkan impotensi permanen, bahkan kecenderungan mandul pada pria.

Kendati demikian, beberapa orang dengan karakter pribadi yang kuat masih bisa ereksi meskipun dalam keadaan mabuk berat. Ahli riset seksual, dr CW Sheppard dan dr GR Gay, menyimpulkan, dengan mempertimbangkan adanya keraguan dalam manfaat dari penggunaan yang berlebihan, tidak masuk akal juga untuk menggunakan stimulan dari bahan-bahan yang mengandung alkohol.

“Seseorang yang tak dapat bereaksi terhadap stimulasi psikoseksual biasa seharusnya mencari bantuan profesional. Pada umumnya, minuman keras hanya memberikan kekecewaan, bukan pada perbaikan seksual,” tulis Sheppard dan Gray dalam laporannya yang dimuat dalam Journal of Abnormal Psychology.

Masih dalam laporan yang ditulis Shepperd dan Gray, dikatakan bahwa orang yang minum alkohol, semangatnya dapat naik, tapi penisnya hanya naik sementara saja, ereksinya pun hanya setengah keras. Dampak sebenarnya dari alkohol dalam segala bentuknya, wiski, anggur, dan bir, dapat menjadikan penis lembek alias loyo. Semakin mabuk, semakin lembek.”

Bagaimana dengan wanita? Beberapa wanita mengatakan, efek minuman keras dapat membuat gairah menjadi naik. Menurut penelitian psikolog dr G T Wilson dan dr D M Lawson, para wanita itu lebih cepat mabuk dan mabuk lebih lama dibandingkan dengan pria. Wanita lebih cepat menyerap alkohol dan lebih dulu menahannya dalam darah daripada pria. Akibatnya, dapat membahayakan janin.

Percobaan yang disebut Fetal Alcohol Syndrome (FAS), sindroma alkohol janin yang dilakukan para ahli di University of North Carolina, mengatakan, gangguan pada janin sudah dapat terjadi pada tiga minggu kehamilan, jauh sebelum wanitanya sendiri sadar dirinya hamil.
 
Tapi kalo minum anggur merah ada bagusnya:
http://seniorjournal.com/NEWS/Health/5-03-18WinePolyphenols.htm
Red Wine and Cancer Prevention: Questions and Answers
By National Cancer Institute
Red wine is a rich source of biologically active phytochemicals, chemicals found in plants. Particular compounds called polyphenols found in red wine-such as catechins and resveratrol-are thought to have anti oxidant or anti cancer properties.

1. What are polyphenols and how do they prevent cancer?

Polyphenols are antioxidant compounds found in the skin and seeds of grapes. When wine is made from these grapes, the alcohol produced by the fermentation process dissolves the polyphenols contained in the skin and seeds. Red wine contains more polyphenols than white wine because the making of white wine requires the removal of the skins after the grapes are crushed. The phenols in red wine include catechin, gallic acid and epicatechin.

Polyphenols have been found to have antioxidant properties. Antioxidants are substances that protect cells from oxidative damage caused by molecules called free radicals. These chemicals can damage important parts of cells, including proteins, membranes and DNA. Cellular damage caused by free radicals has been implicated in the development of cancer. Research on the antioxidants found in red wine has shown that they may help inhibit the development of certain cancers.

2. What is resveratrol and how does it prevent cancer?

Resveratrol is a type of polyphenol called a phytoalexin, a class of compounds produced as part of a plant's defense system against disease. It is produced in the plant in response to an invading fungus, stress, injury, infection or ultraviolet irradiation. Red wine contains high levels of resveratrol, as do grapes, raspberries, peanuts and other plants.

Resveratrol has been shown to reduce tumor incidence in animals by affecting one or more stages of cancer development. It has been shown to inhibit growth of many types of cancer cells in culture. Evidence also exists that it can reduce inflammation. It also reduces activation of NF kappa B, a protein produced by the body's immune system when it is under attack. This protein affects cancer cell growth and metastasis. Resveratrol is also an antioxidant.

3. What have red wine studies found?

The cell and animal studies of red wine have examined effects in several cancers including leukemia, skin, breast and prostate cancers. Scientists are studying resveratrol to learn more about its cancer preventive activities. Recent evidence from animal studies suggests this anti-inflammatory compound may be an effective chemopreventive agent in three stages of the cancer process: initiation, promotion and progression.

However, studies of the association between red wine consumption and cancer in humans are in their initial stages. Although consumption of large amounts of alcoholic beverages may increase the risk of some cancers, there is growing evidence that the health benefits of red wine are related to its nonalcoholic components.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.