Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Yamaha Vega R 2005
Hai useless people! Mari kita rilis cerita yg terlampau lama sebelum saya lupa. Saya akan membagikan alasan saya memilih Vegar R sebagai motor saya. Vega R yg saya miliki buatan 2005, setidaknya itu yg tercetak di STNK.
Cerita dimulai saat saat memutuskan kuliah pada tahun 2019 (Benar, sudah hampir 5 tahun & saya baru menyelesaikan tulisan ini). Dengan jarak antara kampus & kos sekitar 10 km, tentu saya butuh kendaraan. Hal itu membawa saya untuk mengerjakan pencarian motor. Namun, saking baiknya Gusti Allah kepada saya, kebutuhan saya langsung dijawab. Kepala suku membeli motor baru, lalu motor lamanya, Vega R 2005, ditawarkan kepada saya untuk diduiti.
Selayaknya pria sejati, tanpa tawar menawar yg penuh drama, transaksi pun terjadi. Namun, bukan cuma karena momen yg pas saja, ini adalah beberapa alasan kenapa saya akhirnya membeli motor tersebut.
GAS!!!
Macet
Macet
Jakarta & kemacetan adalah dua sisi mata uang yg tak dapat dipisahkan. Jika ditanya mana yg selesai lebih dulu, Detektif Conan atau kemacetan Jakarta, saya berani bertaruh dengan semua uang di dompet bahwa Detektif Conan lebih dulu selesai.
Konsekuensi dari kemacetan adalah, mengharuskan saya untuk nyelip sana-sini, & Vega R 2005 dengan body langsingnya menjawab dengan lantang keharusan itu. Di tengah kemacetan, saya dapat dengan riang nyelip diantara mobil-mobil yg oleh pemiliknya diisi pertalite & diparkir di jalan komplek.
Beberapa waktu lalu pas macet ada bapak ojol yg terlihat kesal saat gak dapat nyelip. Saya dalam hati cuma dapat mengbodohan beliau, karena dengan motornya X-Max, gak dapat nyelip adalah konsekuensi yg harus diterima.
Cocok Dengan Tubuh
Sebagai mas-mas berpostur minimalis, motor kopling & motor sebangsa N-Max tidaklah ditakdirkan untuk saya. Saya sadar diri, saya tak mau merepotkan diri sendiri untuk mengendalikan motor dengan dimensi akbar sewaktu macet. Sekali lagi, Vega R 2005 mengakomodir hal tersebut.
Tidak Butuh Speed
Speed
Salah satu kelebihan motor keluaran terbaru adalah memiliki top speed yg lebih tinggi. Namun, di Jakarta, berapa sih top speed yg dapat di dapat pas jam berangkat & pulang kantor? Lalu, dibanding ngegas, saya yakin pengendara motor lebih sering ngerem.
Lagi pula, sebagai user Vespa klasik di kampung, saya terbiasa berkendara dengan pace rendah. Mungkin tak pernah lebih dari 40km/jam. Belum lagi saya adalah mas-mas jawa, yg cukup memegang pitutur "Alon alon sing penting kelakon". Apa itu ngebut? Jika saya telat datang itu artinya saya berangkat kurang pagi, bukan karena berkendara pelan.
Filosofis
Filosofis
Jangan bilang siapa-siapa, ya. Saya sebenarnya adalah keponakan Rene Descartes. Implikasinya, saya terbiasa berpikir, menanyakan, & meragukan apapun. Jadi, sebelum membeli motor, saya pasti berpikir.
Apa hakikat motor? Alat transportasi. Apa hakikat alat transportasi? Media pemindah dari titik A ke titik B. Jadi motor adalah media pemindah dari titik A ke titik B.
Jika hakikat motor adalah media pemindah dari titik A ke titik B. Dengan kesimpulan itu, saya tak perlu mencari motor dengan spek kekinian dengan fitur seabrek yg tidak saya butuhkan yg harga belasan juta. Karena secara hakikat, semua motor adalah sama, cuma media pemindah dari titik A ke titik B.
Miskin
Miskin
Betul, 4 alasan di atas sebenarnya adalah alasan yg saya cari-cari. Alasan saya memilih Vega R 2005 sebenarnya ya karena miskin aja. Sebagai mas-mas UMR dengan tanggung jawab yg sudah terpampang jelas di depan mata, saya tak mau menambah beban dengan membeli motor yg bagi saya mahal.
Asal dapat jalan, itu sudah cukup. Makanya, saat kepala suku menawarkan untuk menduiti motornya, saya langsung gaskan saja.
**********************************
Jika pepatah berkata "belilah sesuai kebutuhan, bukan keharapan", bagi saya itu kurang tepat, karena yg lebih tepat adalah "belilah sesuai kebutuhan & saldo tabungan"
KEEP READ AND SOUND
Baca Juga Thread Lainnya DISINI