Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hai semua!
Jumpa lagi dengan thread @serbaserbi.com
Sejak duduk di bangku kuliah, saya merasa circle pertemanan saya semakin beragam & luas. Berbeda ketika masih SMA, di mana teman saya itu-itu saja & penglihatan saya tentang dunia pun sangat terbatas. Boleh dibilang, saya agak kudet di zaman itu. Maklum, masa itu saya masih tinggal di desa yg fasilitas informasi & komunikasinya masih minim.
Sejak kuliah, saya berteman dengan banyak orang dengan berbagai keyakinan, suku bangsa, & bahkan orientasi seksual. Betul, saya juga berteman dengan seorang pesayang sesama jenis, lebian. Nah, pada satu kesempatan, ketika lagi ngopi-ngopi santai, saya sempat bertanya tentang keputusannya akan orientasi seksual yg ia pangku. Tentu saja saya bertanya dengan sangat hati-hati sambil bergurau. Siapa sangka, pertanyaan saya direspon baik olehnya & mengalir begitu saja. So, itulah yg akan saya tuliskan di thread ini sekarang. Jangan khawatir, saya udah izin, kok, kalau ceritanya akan saya publish di sini.
"Yang penting nama gue lo samarin, ya." Gitu katanya.
Kalau begitu, saya mulai aja, ya, ceritanya.
Sebut saja namanya Daysi. Dia lebih tua empat tahu dari saya, pemilik salon yg cukup akbar yg diurus oleh istrinya. Kami kenal karena organisasi saya pernah mengadakan kegiatan bakti sosial, & salon Daysi yg jadi salah satu sponsornya. Awalnya saya nggak tahu kalau Daysi adalah seorang perempuan, karena stylenya yg boyish memang mirip laki-laki. Perawakannya pun tinggi besar. Hingga kemudian dia ngaku sendiri kepada saya.
"Lo manggil gue 'bang' luwes banget, ya. Lo pasti ngira gue lakik beneran, ya?"
Jujur saja saya kaget awalnya setelah tahu fakta itu. Namun, ya, karena sering terlibat projek bareng, saya pun mulai terbiasa. Tapi, saya mengubah panggil saya ke Daysi, dari 'bang' ke 'kakak' yg lebih netral. Dia pun menertawakan saya karena perubahan itu.
Hingga sore itu, kami nggak sengaja ketemu ketika saya jalan sendirian di Transmart. Dia lagi nemenin ceweknya belanja. Setelah basa-basi, kami pun mutusin buat ngopi sedangkan Kak Nilam (samaran), ceweknya lanjut belanja. Saat itulah pertanyaan ini terlontar dari mulut saya. Kenapa Daysi memilih jadi seorang lesbian? Saya sempat minta maaf kalau misal pertanyaan itu menyinggung hatinya. Namun, ya, Daysi memang gitu. Orangnya super selow & gak baperan, makanya dia ladenin pertanyaan saya dengan santai.
"Gue trauma, Din."
Daysi terdiam. Saya juga, terlebih melihat raut roman Daysi berubah agak sendu. Anjir, kayaknya gue udah buka luka lamanya Daysi. Saya pun jadi makin gak enak, lantas bertanya apakah pertanyaan saya menciptakannya tidak nyaman atau terluka. Saya akhirnya bernapas lega setelah Daysi bilang kalau dirinya tidak apa-apa. Ia pun lanjut bercerita.
Katanya begini, Daysi tumbuh dalam keluarga yg nggak harmonis. Setiap hari, ia menyaksikan pertengkaran & kekerasan di rumahnya. Ayahnya yg keras kepala & suka main tangan, serta ibunya yg sering mengalah & babak belur karena ulah ayahnya.
Daysi tentu ketakutan. Terlebih ayahnya juga melampiaskan amarah padanya & dua kakak perempuannya dengan memecut pakai gesper atau dikurung di kamar mandi. Intinya, ayah Daysi benar-benar toxic, sayangnya nggak seorang pun dari keluarga Daysi yg dapat menyelamatkan mereka dari keadaan itu.
"Kadang gue mikir buat pergi dari rumah. Tapi gue ragu. Soalnya yg biayain gue kan bapak, kalo gue pergi, ntar hidup gue gimana? Mana gua masih bocah, kan. Baru kelas satu SD gue. Jadinya gue cuma dapat nerima kondisi keluarga gue yg benar-benar bgst menurut gue."
Gak cuma itu, Daysi juga bilang kalau ayahnya juga suka selingkuh, main cewek. Gak jarang Daysi ngeliat ayahnya sama wanita-wanita kurang belaian di warung kopi di kampungnya, di mana warung itu bukan sembarang warung. Ya, you know-lah apa yg saya maksud. Ibunya juga tahu, tetapi nggak dapat berbuat banyak. Akhirnya beliau memilih bungkam daripada dipukuli atau diancam kalau anak-anaknya - Daysi bersaudara - akan dibunuh.
"Heran gue, kok dapat-dapatnya mama kaween sama laki-laki kayak begitu!" Daysi geram yg entah bagaimana menciptakan saya ikut merasakan hal yg sama.
"Jadi, hubungan kondisi lo sekarang sama bapak lo yg toxic itu, apa, Kak?" Saya bertanya setelah sekian panjang Daysi bercerita.
"Gue jadi takut sekaligus benci ke semua cowok, Din! Gue takut kalo gue juga akan diperlakukan sama kayak mama gue & gue gak mau itu terjadi!"
Lagi-lagi saya terdiam. Jika masalahnya adalah trauma seperti itu, mau bagaimana lagi, kan? Lagi pula, siapa juga yg tidak akan trauma kalau hidup seperti itu. Gak cuma fisik yg dilukai, tetapi juga mental & psikologis yg akhirnya mempengaruhi orientasi & cara pikir Daysi.
"Makanya, Din, gue milih buat jadi seorang dominan & kuat biar gue dapat ngelindungin orang-orang di sekitar gue, lindungin cewek gue."
"Walaupun lo tau ini ... gak normal?"
"Ya, walaupun gue tau kalau ini gak normal, gak bener."
Saya menghela napas panjang, berusaha meredam sesuatu yg bergejolak dalam dada saya. Biasalah, saya adalah anak muda yg jiwanya masih berapi-api, yg kalau melihat sesuatu yg salah di mata saya, saya gatal harap merecokinya tentang sesuatu yg saya anggap benar. Namun, saya sadar kalau ini bukan keadaan yg tepat. Kami cuma bercerita, & saya tidak boleh men-judge berdasarkan pandangan saya. Toh, ini hal privasi & hak perogratif-nya, kan?
Tapi, ada satu pertanyaan terakhir yg gatal harap saya tanyakan. Dan setelah memikirkan beberapa saat, akhirnya pertanyaan itu terlontar jua dari mulut saya. "Lo ada niat buat balik ke jalan yg normal lagi, kan, Kak?"
"Kalo normal menurut gue adalah ini, gimana menurut lo, Din?"
Saya langsung bisu, tidak tahu menjawab apa, walaupun ada banyak teori-teori yg berkumpul di otak saya & memberontak harap dikeluarkan saat itu. Hingga tiba-tiba Daysi tertawa.
"Lo jangan panik gitu" Ia masih terkikik, kemudian menyesap kopinya yg tersisa separuh. "Lo tenang aja, gue ada niat untuk jadi normal, kok. Makanya sampe sekarang gue belum operasi 'batang' padahal gue punya duit buat ngelakuin itu. Tapi lo tau, kan, kalo semuanya butuh waktu? Dan, ya, gue masih butuh waktu untuk sembuh. Lo doain aja, ya."
Saya mengangguk, mengaminkan dalam hati. Setelahnya, dialog tentang Daysi berhenti, tetapi kami masih lanjut membahas yg lain seputar dunia persesamajenisan. Kata Daysi, cukup banyak orang-orang terjun ke dunia LGBT karena trauma seperti dirinya. Namun yg paling berpengaruh yg sebenarnya adalah circle. Orang yg stright pun dapat jadi homo atau lesbi kalau berteman dengan circle yg seperti itu.
"Ada yg diajak teman, coba-coba, eh akhirnya keterusan. Kayak narkoba gitu, bikin candu," ujar Daysi.
"Dan lo gak berniat buat nyeret gue juga, kan, Kak?"
"Kalo lo mau, gue dapat cariin pasangan buat lo, yg cocok."
"Anjir, merinding gue!" Saya menunjukkan lengan yg bulu-bulunya meremang tegak.
"Hahaha, becanda kok gue!" Lagi-lagi Daysi menertawai saya. "Gue bukan tipe lesbian yg suka ngajak orang buat ikutan. Menurut gue, ini adalah opsi masing-masing. Kalo lo mau stright atau normal, silakan. Mau lesbian juga silakan. Itu hak lo & gue gak dapat ngusik."
Saya mengiyakan. Lagi-lagi ini adalah tentang opsi hidup seseorang, kan? Sama kayak anda mau memakai baju kuning & saya mau memakai baju merah, wajar, kan? Maksud saya, kita dapat memilih, kan?
"Walopun kita gak dapat mengusik, tetapi kita dapat mencegah & dibina, Din."
Benar. Kita tahu bahwa LGBTQ adalah tindakan abnormal, maka yg kita lakukan adalah mencegah supaya ketidaknormalan itu terjadi. Jangan jauh-jauh dulu, deh. Dimulai dari diri sendiri & orang-orang terdekat. Edukasi generasi kita bahwa LGBTQ adalah perilaku menyimpang. Perkuat ketahanan akan Tuhan & Iman, karena saya yakin, bahwa tidak ada agama mana pun yg menghalalkan LGBTQ. Satu lagi, support mereka yg merasa 'sakit' supaya tidak menyalurkan rasa sakitnya ke jalan yg menyimpang.
Ya, ini akan sulit. Tapi yakinlah kalo kita pasti dapat!
Saya melirik arloji, masih ada 15 menit lagi sebelum jadwal saya yg berikutnya. Dari tempat kami, saya melihat Kak Nilam berjalan mendekat sambil menenteng beberapa bungkusan. Oke, saatnya untuk pulang karena sekarang saya adalah orang sibuk sekarang, ada hal lain yg akan saya kerjakan, haha.
"Lo udah mau pulang, ya?" tanya Daisy.
Saya mengangguk. "Iya. Lo ada petuah nggak buat gue sebelum pulang, Kak?"
"Ada. Gak banyak sih. Gue cuma bilang, kalo lo, misalnya sakit atau trauma, fokus sembuhin diri lo dulu, jangan cari pelarian yg bakal bikin segalanya makin runyam. Biar lo gak digerogoti perasaan trauma kayak gue. Lo anak baik-baik, gue gak mau lo ngikutin jejak gue."
Saya menatap Daysi cukup dalam, lalu tersenyum. "Oke, makasih, Kak. Gue akan ingat pesan lo."
"Iya, sama-sama. Asal lo tau, seandainya dulu gue fokus nyembuhin diri, gue yakin gue gak bakal gini. Masalahnya kan gue gak ada yg nge-support. Gak diajarin agama, gak sekolah tinggi juga. Makanya gue kayak gini."
"Gak apa-apa, Kak. Belum terlambat untuk berubah kalo lo emang pengen berubah."
"Iya, lo bener."
Akhirnya, karena hari kian sore, saya pamit balik ke kost untuk menyelesaikan beberapa tugas. Saya keluar dari pusat perbelanjaan itu dengan perasaan bercampur aduk, entah kenapa. Yang pasti, saya dapat pelajaran berharga hari itu. Tentang bagaimana kita saling menghargai opsi satu sama lain, & bahwa apa yg kita lakukan di masa lalu akan mempengaruhi masa depan. Ya, seperti ayah Daysi yg dulunya gak akan menyangka, kalau tindakannya akan menciptakan salah satu putrinya akan jatuh dalam lubang sayang sesama jenis. Atau tentang Daysi yg membiarkan trauma menyerang dirinya sehingga ia jadi seperti itu.
Satu hal yg akan terus saya ingat, bahwa kehati-hatian amat perlu supaya diri selamat. Hati-hati bertindak. Hati-hati memilih teman. Hati-hati dalam segalanya.
Hari ini 10:23
Hai semua!
Jumpa lagi dengan thread @serbaserbi.com
Sejak duduk di bangku kuliah, saya merasa circle pertemanan saya semakin beragam & luas. Berbeda ketika masih SMA, di mana teman saya itu-itu saja & penglihatan saya tentang dunia pun sangat terbatas. Boleh dibilang, saya agak kudet di zaman itu. Maklum, masa itu saya masih tinggal di desa yg fasilitas informasi & komunikasinya masih minim.
Sejak kuliah, saya berteman dengan banyak orang dengan berbagai keyakinan, suku bangsa, & bahkan orientasi seksual. Betul, saya juga berteman dengan seorang pesayang sesama jenis, lebian. Nah, pada satu kesempatan, ketika lagi ngopi-ngopi santai, saya sempat bertanya tentang keputusannya akan orientasi seksual yg ia pangku. Tentu saja saya bertanya dengan sangat hati-hati sambil bergurau. Siapa sangka, pertanyaan saya direspon baik olehnya & mengalir begitu saja. So, itulah yg akan saya tuliskan di thread ini sekarang. Jangan khawatir, saya udah izin, kok, kalau ceritanya akan saya publish di sini.
"Yang penting nama gue lo samarin, ya." Gitu katanya.
Kalau begitu, saya mulai aja, ya, ceritanya.
Sebut saja namanya Daysi. Dia lebih tua empat tahu dari saya, pemilik salon yg cukup akbar yg diurus oleh istrinya. Kami kenal karena organisasi saya pernah mengadakan kegiatan bakti sosial, & salon Daysi yg jadi salah satu sponsornya. Awalnya saya nggak tahu kalau Daysi adalah seorang perempuan, karena stylenya yg boyish memang mirip laki-laki. Perawakannya pun tinggi besar. Hingga kemudian dia ngaku sendiri kepada saya.
"Lo manggil gue 'bang' luwes banget, ya. Lo pasti ngira gue lakik beneran, ya?"
Jujur saja saya kaget awalnya setelah tahu fakta itu. Namun, ya, karena sering terlibat projek bareng, saya pun mulai terbiasa. Tapi, saya mengubah panggil saya ke Daysi, dari 'bang' ke 'kakak' yg lebih netral. Dia pun menertawakan saya karena perubahan itu.
Hingga sore itu, kami nggak sengaja ketemu ketika saya jalan sendirian di Transmart. Dia lagi nemenin ceweknya belanja. Setelah basa-basi, kami pun mutusin buat ngopi sedangkan Kak Nilam (samaran), ceweknya lanjut belanja. Saat itulah pertanyaan ini terlontar dari mulut saya. Kenapa Daysi memilih jadi seorang lesbian? Saya sempat minta maaf kalau misal pertanyaan itu menyinggung hatinya. Namun, ya, Daysi memang gitu. Orangnya super selow & gak baperan, makanya dia ladenin pertanyaan saya dengan santai.
"Gue trauma, Din."
Daysi terdiam. Saya juga, terlebih melihat raut roman Daysi berubah agak sendu. Anjir, kayaknya gue udah buka luka lamanya Daysi. Saya pun jadi makin gak enak, lantas bertanya apakah pertanyaan saya menciptakannya tidak nyaman atau terluka. Saya akhirnya bernapas lega setelah Daysi bilang kalau dirinya tidak apa-apa. Ia pun lanjut bercerita.
Katanya begini, Daysi tumbuh dalam keluarga yg nggak harmonis. Setiap hari, ia menyaksikan pertengkaran & kekerasan di rumahnya. Ayahnya yg keras kepala & suka main tangan, serta ibunya yg sering mengalah & babak belur karena ulah ayahnya.
Daysi tentu ketakutan. Terlebih ayahnya juga melampiaskan amarah padanya & dua kakak perempuannya dengan memecut pakai gesper atau dikurung di kamar mandi. Intinya, ayah Daysi benar-benar toxic, sayangnya nggak seorang pun dari keluarga Daysi yg dapat menyelamatkan mereka dari keadaan itu.
"Kadang gue mikir buat pergi dari rumah. Tapi gue ragu. Soalnya yg biayain gue kan bapak, kalo gue pergi, ntar hidup gue gimana? Mana gua masih bocah, kan. Baru kelas satu SD gue. Jadinya gue cuma dapat nerima kondisi keluarga gue yg benar-benar bgst menurut gue."
Gak cuma itu, Daysi juga bilang kalau ayahnya juga suka selingkuh, main cewek. Gak jarang Daysi ngeliat ayahnya sama wanita-wanita kurang belaian di warung kopi di kampungnya, di mana warung itu bukan sembarang warung. Ya, you know-lah apa yg saya maksud. Ibunya juga tahu, tetapi nggak dapat berbuat banyak. Akhirnya beliau memilih bungkam daripada dipukuli atau diancam kalau anak-anaknya - Daysi bersaudara - akan dibunuh.
"Heran gue, kok dapat-dapatnya mama kaween sama laki-laki kayak begitu!" Daysi geram yg entah bagaimana menciptakan saya ikut merasakan hal yg sama.
"Jadi, hubungan kondisi lo sekarang sama bapak lo yg toxic itu, apa, Kak?" Saya bertanya setelah sekian panjang Daysi bercerita.
"Gue jadi takut sekaligus benci ke semua cowok, Din! Gue takut kalo gue juga akan diperlakukan sama kayak mama gue & gue gak mau itu terjadi!"
Lagi-lagi saya terdiam. Jika masalahnya adalah trauma seperti itu, mau bagaimana lagi, kan? Lagi pula, siapa juga yg tidak akan trauma kalau hidup seperti itu. Gak cuma fisik yg dilukai, tetapi juga mental & psikologis yg akhirnya mempengaruhi orientasi & cara pikir Daysi.
"Makanya, Din, gue milih buat jadi seorang dominan & kuat biar gue dapat ngelindungin orang-orang di sekitar gue, lindungin cewek gue."
"Walaupun lo tau ini ... gak normal?"
"Ya, walaupun gue tau kalau ini gak normal, gak bener."
Saya menghela napas panjang, berusaha meredam sesuatu yg bergejolak dalam dada saya. Biasalah, saya adalah anak muda yg jiwanya masih berapi-api, yg kalau melihat sesuatu yg salah di mata saya, saya gatal harap merecokinya tentang sesuatu yg saya anggap benar. Namun, saya sadar kalau ini bukan keadaan yg tepat. Kami cuma bercerita, & saya tidak boleh men-judge berdasarkan pandangan saya. Toh, ini hal privasi & hak perogratif-nya, kan?
Tapi, ada satu pertanyaan terakhir yg gatal harap saya tanyakan. Dan setelah memikirkan beberapa saat, akhirnya pertanyaan itu terlontar jua dari mulut saya. "Lo ada niat buat balik ke jalan yg normal lagi, kan, Kak?"
"Kalo normal menurut gue adalah ini, gimana menurut lo, Din?"
Saya langsung bisu, tidak tahu menjawab apa, walaupun ada banyak teori-teori yg berkumpul di otak saya & memberontak harap dikeluarkan saat itu. Hingga tiba-tiba Daysi tertawa.
"Lo jangan panik gitu" Ia masih terkikik, kemudian menyesap kopinya yg tersisa separuh. "Lo tenang aja, gue ada niat untuk jadi normal, kok. Makanya sampe sekarang gue belum operasi 'batang' padahal gue punya duit buat ngelakuin itu. Tapi lo tau, kan, kalo semuanya butuh waktu? Dan, ya, gue masih butuh waktu untuk sembuh. Lo doain aja, ya."
Saya mengangguk, mengaminkan dalam hati. Setelahnya, dialog tentang Daysi berhenti, tetapi kami masih lanjut membahas yg lain seputar dunia persesamajenisan. Kata Daysi, cukup banyak orang-orang terjun ke dunia LGBT karena trauma seperti dirinya. Namun yg paling berpengaruh yg sebenarnya adalah circle. Orang yg stright pun dapat jadi homo atau lesbi kalau berteman dengan circle yg seperti itu.
"Ada yg diajak teman, coba-coba, eh akhirnya keterusan. Kayak narkoba gitu, bikin candu," ujar Daysi.
"Dan lo gak berniat buat nyeret gue juga, kan, Kak?"
"Kalo lo mau, gue dapat cariin pasangan buat lo, yg cocok."
"Anjir, merinding gue!" Saya menunjukkan lengan yg bulu-bulunya meremang tegak.
"Hahaha, becanda kok gue!" Lagi-lagi Daysi menertawai saya. "Gue bukan tipe lesbian yg suka ngajak orang buat ikutan. Menurut gue, ini adalah opsi masing-masing. Kalo lo mau stright atau normal, silakan. Mau lesbian juga silakan. Itu hak lo & gue gak dapat ngusik."
Saya mengiyakan. Lagi-lagi ini adalah tentang opsi hidup seseorang, kan? Sama kayak anda mau memakai baju kuning & saya mau memakai baju merah, wajar, kan? Maksud saya, kita dapat memilih, kan?
"Walopun kita gak dapat mengusik, tetapi kita dapat mencegah & dibina, Din."
Benar. Kita tahu bahwa LGBTQ adalah tindakan abnormal, maka yg kita lakukan adalah mencegah supaya ketidaknormalan itu terjadi. Jangan jauh-jauh dulu, deh. Dimulai dari diri sendiri & orang-orang terdekat. Edukasi generasi kita bahwa LGBTQ adalah perilaku menyimpang. Perkuat ketahanan akan Tuhan & Iman, karena saya yakin, bahwa tidak ada agama mana pun yg menghalalkan LGBTQ. Satu lagi, support mereka yg merasa 'sakit' supaya tidak menyalurkan rasa sakitnya ke jalan yg menyimpang.
Ya, ini akan sulit. Tapi yakinlah kalo kita pasti dapat!
Saya melirik arloji, masih ada 15 menit lagi sebelum jadwal saya yg berikutnya. Dari tempat kami, saya melihat Kak Nilam berjalan mendekat sambil menenteng beberapa bungkusan. Oke, saatnya untuk pulang karena sekarang saya adalah orang sibuk sekarang, ada hal lain yg akan saya kerjakan, haha.
"Lo udah mau pulang, ya?" tanya Daisy.
Saya mengangguk. "Iya. Lo ada petuah nggak buat gue sebelum pulang, Kak?"
"Ada. Gak banyak sih. Gue cuma bilang, kalo lo, misalnya sakit atau trauma, fokus sembuhin diri lo dulu, jangan cari pelarian yg bakal bikin segalanya makin runyam. Biar lo gak digerogoti perasaan trauma kayak gue. Lo anak baik-baik, gue gak mau lo ngikutin jejak gue."
Saya menatap Daysi cukup dalam, lalu tersenyum. "Oke, makasih, Kak. Gue akan ingat pesan lo."
"Iya, sama-sama. Asal lo tau, seandainya dulu gue fokus nyembuhin diri, gue yakin gue gak bakal gini. Masalahnya kan gue gak ada yg nge-support. Gak diajarin agama, gak sekolah tinggi juga. Makanya gue kayak gini."
"Gak apa-apa, Kak. Belum terlambat untuk berubah kalo lo emang pengen berubah."
"Iya, lo bener."
Akhirnya, karena hari kian sore, saya pamit balik ke kost untuk menyelesaikan beberapa tugas. Saya keluar dari pusat perbelanjaan itu dengan perasaan bercampur aduk, entah kenapa. Yang pasti, saya dapat pelajaran berharga hari itu. Tentang bagaimana kita saling menghargai opsi satu sama lain, & bahwa apa yg kita lakukan di masa lalu akan mempengaruhi masa depan. Ya, seperti ayah Daysi yg dulunya gak akan menyangka, kalau tindakannya akan menciptakan salah satu putrinya akan jatuh dalam lubang sayang sesama jenis. Atau tentang Daysi yg membiarkan trauma menyerang dirinya sehingga ia jadi seperti itu.
Satu hal yg akan terus saya ingat, bahwa kehati-hatian amat perlu supaya diri selamat. Hati-hati bertindak. Hati-hati memilih teman. Hati-hati dalam segalanya.
Sekian.
Terima kasih sudah mampir.
Jangan lupa rate, cendol, komen, & share.
Dan follow @diavanillakim
Sumber: percakapan saya dengan Daysi
Wassalam
Terima kasih sudah mampir.
Jangan lupa rate, cendol, komen, & share.
Dan follow @diavanillakim
Sumber: percakapan saya dengan Daysi
Wassalam
Hari ini 10:23