Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
sumber ilustrasi
Langit terasa semakin jingga. Semburat gelap menjalar lelap.
Ramadhan sering menggairahkan, termasuk bagi anak-anak seperti saya kala itu. Saya terbayang akan beroleh uang jajan melimpah di hari lebaran, buah usaha menuntaskan puasa sebulan penuh. Bukan cuma itu, masakan akan meramaikan pasar beduk. Dari masakan yg dapat ditemui setiap hari, hingga masakan yg muncul cuma saat Ramadhan. Rasa sedap bulan puasa seakan tergambar di depan mata. Hmmm.
Maka sudah jadi kewajaran, saya & beberapa akbar orang tumblek-blek ke pasar beduk di hari perdana Ramadhan. Apalagi kalau bukan berburu masakan yg tak cuma menggoda perut, khususnya menggoda mata. Hehe, ternyata lapar mata itu lebih rakus dari lapar perut.
Biasanya opsi saya jatuh ke masakan bernuansa dharap, seperti es tebak (semacam es cendol), kolak, roti, beras ketan berwarna merah yg digepeng & keringkan bernama omping, es pepaya (hampir mirip es doger), es kelapa muda & yg segar-segar lainnya. Senja itu saya dapat mengumpulkan makanan berbuka sekantong plastik penuh. Kakak juga sama. Wah, bila selera mata kenyang, bahagia sekali rasanya.
Seluruh masakan bukaan yg kami beli kemudian bersusun di meja makan, berdampingan dengan masakan masakan Umak, seperti rendang daging-kacang merah, sop tulang, sambal tumis, ikan sambal, pun tak lupa makanan kerajaan; daun ubi tumbuk & sambal tuk tuk. Air ludah menderas bertetes-tetes memenuhi bibir. Sepertinya seluruh suara mirip bunyi beduk pertanda berbuka.
Tapi rasa bahagia kemudian berganti rasa tak enak hati ketika Umak melihat tumpukan masakan di meja makan. Siapa yg bakal makan semua ini? protes umak.
Kami sanggup! jawab saya & kakak berbarengan.
Yakin? Mata Umak membola. Kami mengacungkan jempol, pertanda perut kami yg bak tong kosong, akan sanggup menghabiskannya.
Beduk Maghrib pun berbunyi, anak-anak Umak pun berebut kuliner. Saran sebaiknya shalat dulu, seolah masuk dari telinga kanan, keluar dari telinga kiri. Lalu perlahan-lahan perut saya terasa sangat penuh. Saya tersandar di kursi, begitu juga kakak. Sepertinya untuk berdiri saja kami tidak sanggup. Sementara meja makan masih penuh kuliner.
Selepas Shalat Magrib Umak langsung memasukkan beberapa masakan ke dalam rantang. Menurutnya ketimbang mubazir, baiknya beberapa masakan diserahkan ke tetangga sebelah. Tetangga sebelah itu maksud saya narapidana. Ya, rumah kami memang di sebelah penjara.
Tapi rata-rata mereka kan tidak puasa. Baiknya kita kasih tetangga yg berpuasa, ucap Kakak.
Tetangga kita yg berpuasa, mungkin ada bukaan juga. Tapi orang penjara belum tentu merasakan yg demikian. Makan saja mereka dihemat. Lagi pula Allah dengan tegas mengatakan bahwa berbagi itu untuk semua manusia, bukan yang seagama saja.
Akhirnya kami memberikan masakan itu ke orang penjara. Betapa bahagianya mereka mengejar ke meja petugas manakala melihat beragam masakan yg belum tentu mereka dapat dapatkan bertahun-tahun lamanya. Mereka berlinang air mata, & mengucapkan terima kasih banyak.
Hati saya tiba-tiba terasa lapang. Apakah sejak itu kami berhenti memborong masakan di pasar beduk? Tentu saja tidak. Kami tetap membelinya sebanyak biasa. Dan tujuannya sama, untuk berbagi dengan orang penjara.
Meski tidak setiap hari selama Ramadhan kami berbagi masakan dengan orang penjara, tetapi kami tetap mengerjakannya secara berkala. Bukan apa-apa, kebiasaan kami terkadang diikuti tetangga lain untuk berbagi masakan dengan mereka. Hmm, berbagi itu indah, ya?
Karena terbiasa berbagi tersebut, hingga sekarang, khususnya saat Ramadhan, saya kerap berbagi bukaan dengan tetangga, minimal sebelah rumah. Ayo berbagi untuk membahagiakan sesama. Berbagi itu sangat menyenangkan.
-----
Spoiler for Cendol 1:
Spoiler for Cendol 2:
Spoiler for Cendol 3:
Spoiler for Cendol 4:
Spoiler for Cendol 5:
Spoiler for Cendol 6:
Spoiler for Cendol 7:
Spoiler for Cendol 8:
Spoiler for Cendol 9:
Spoiler for Cendol 10:
Hari ini 09:13