Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Yogja dengan segudang framing romantisnya sedang menuju gentrifikasi & ketimpangan sosial. Puja puji yg membumbung tinggikan hati kota bernama Yogyakarta ini semakin lama semakin tidak terkontrol.
Memang faktanya tidak sedikit romantisme tersemat kepada kota yg dulu disebut kota Pendidikan ini. Salah satu penyair favorit saya & sangat kondang menyebut Yogya terbuat dari Rindu, Pulang, & Angkringan. Musisi sekeren Kla Project pun tidak lupa menciptakan lagu spesial bagi kota di mana gudeg pernah jadi ikon. Bahkan AB yg sekarang menjabat Gubernur pernah berstatemen bahwa semua sudut di Yogya adalah tempat yg romantis. Yogya memang kece koq!
Dulu saya sepakat dengan pernyataan bahwa Yogyakarta punya nuansa yg tidak dimiliki daerah lain. Siapa sih yg mengelak untuk tidak akan kembali ke kota Bakpia ini? Atau jangan jangan agan salah satu yg berfoto di depan plang jalan bertuliskan Malioboro? Ehe tetapi sekarang saya sadar. Dalam sematan sematan manis itu nyatanya menyimpan bom waktu yg akan terus membesar & sewaktu-waktu dapat meledak.
Yogya itu romantis? iya beneran romantis memang. Tapi ya sudah berhenti di situ saja jangan koq diromantis romantiskan ujung ujungnya romantisasi. Wagu bos. Segala sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, saat ini saja sudah terasa memabukkannya, bosen sen. Oia saya memergoki akun di twitter, di situ digambarkan uang 20rb lho sudah dapat dipakai untuk "hidup" seharian di Yogya. Sungguh sadis sekali romantisasi macam itu. Ampuun ampuun.
Apa itu gentrifikasi, menurut wikipedia:
Spoiler for Gentrifikasi:
Gentrifikasimenandakan perubahan sosial budaya di wilayah yg tercipta akibat penduduk kaya membeli properti perumahan di permukiman yg kurang makmur.[sup][1][/sup]Akibat gentrifikasi, pendapatan rata-rata meningkat & ukuran keluarga rata-rata berkurang di masyarakat yg dapat mengakibatkan pengusiran ekonomi secara tidak resmi kepada penduduk berpendapatan rendah karena harga sewa, rumah, & pajak properti meningkat.
Sederhananya seperti ini, orang luar Yogya dengan kemampuan ekonomi di atas rata-rata warga setempat mengerjakan aksi beli tanah, bangunan, & tempat2 strategis sehingga nilai jual daerah tsb naik signifikan, motifnya beragam & uang tentu salah satunya. Alhasil warga setempat ga berdaya karena tidak sanggup mengimbangi dari sisi ekonomi & terlahirlah ketimpangan sosial.
Faktor faktor yg menyebabkan ketimpangan sosial:
Spoiler for Ketimpangan Sosial:
1. Pendidikan
2. Kebijakan
3. Profesi
Silahkan dikira-kira sendiri penjabaran dari ketiga faktor di atas. Yang jelas ketiga faktor itu sekarang diperburuk dengan arus gentrifikasi. Warga asli kegencet di segala arah. Kebutuhan bertambah, upah minimum jauh dari angka KHL, properti naik tak terkendali menjadikan warga sebagai penonton pasif yg dipaksa nerimo in pandum.
Sejatinya pemuda pemuda kritis dari Yogyakarta sudah lama gatal, banyak kritikan tajam mereka utarakan. Demi apa? ya demi kebaikan warga Yogya semuanya. "ben ora nemen nemen," coba cari artikel yg ditulis di Terminal Mojok, banyak pemuda asa masa depan untuk Yogya yg lebih baik. Tapi yaa gimana ya, tidak banyak yg paham dengan aksi kritis kepada Pemda setempat. Lucunya mereka malah diserang balik sesama warga dengan pertanyaan "KTPmu ndi dab?" "Nrimo ing pandum ae dab", "Ora seneng minggato wae kono". & lontaran2 lain.
Bow waktu. Ingat, percikan mesiunya saja sudah bikin puyeng. Misal aksi klitih, adalah satu dari sekian output dari gentrifikasi serta faktor ketimpangan sosial yg belum terurai. Belum yg lain- lain. Hemat saya, Nrimo ing pandum itu kalau kita sudah berupaya maksimal, istilahnya kerja keras, lalu tawakal pada Tuhan. Bukan nerima dengan keadaan yg tidak masuk akal. hehe
Ada slentingan liar di twitter, Yogya itu cocok cuma untuk plesiran, tetapi tidak dengan bertempat tinggal. Ada benar ada tidak, Hmm ya kalo situ punya ekonomi luar biasa bisnis sana sini sih ga masalah tinggal di yogya. Lha kalo sebaliknya? Yang mencari uang hari ini untuk makan besok? Dan kebetulan mereka mereka itu "roh" asli tanah Yogya (maksudnya warga asli) masak ya kita diam saja melihat ketidakidealan ini terus terjadi???
Meskipun saya nggrundel sana sini, tetep wae saya sayang yogya sak lawase. Ayo dibenahi.
Menurut agan dapat dimulai dari mana?
NB. Tulisan terinspirasi dari artikel di bawah ini:
Spoiler for inspirasi:
Romantisisasi, Gentrifikasi, dan Jogja yang Menjadi Tamu di Rumah Sendiri - Terminal Mojok
Ada suatu daerah yang sudah, sedang, dan akan menghadapi romantisisme dan gentrifikasi. Daerah yang saya maskud adalah Jogja.
mojok.co
https://jogjapolitan.harianjogja.com...alah-dari-bali
http://bappeda.jogjaprov.go.id/datak...patan-diy-2020
Hari ini 06:04