Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Sebagai orang yg cuma numpang lahir di Jakarta & memiliki waktu kanak-kanak & remaja di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, menciptakanku memiliki kesan kikuk nan canggung ketika kembali ke Jakarta 10 tahun yg lalu. Dari bahasa yg diganti dari nyong-koen jadi lu-gue, berangkat sekolah yg tadinya genjot sepeda juga harus berganti jadi naik angkot, hingga harus terbiasa dengan rumah-rumah kontrakan kecil ala kontrakan kelas menengah ke bawah di Jakarta yg sangat kontras dengan tempat tinggalku di Tegal yg terkenal sebagai kampung warteg; rumah layak istana, tetapi penghuninya nggak ada.
Bertemu dengan berbagai macam tipe manusia di Ibu kota itu menyenangkan. Sewaktu SMK aja saya memiliki teman dari berbagai macam suku. Ada orang Jawa, Sunda, Medan, Padang, Kalimantan, Sulawesi, hingga Manado juga ada. Tapi kebanyakan dari mereka itu yah cuma orang tuanya saja yg lahir di kampung-kampung mereka. Kalau temanku sendiri kebanyakan sejak kecil sudah lahir & akbar di Jakarta. Sehingga cuma sedikit dari mereka yg mengerti tentang kampung halaman mereka.
Nah, saya yg emang dibesarkan di daerah, punya keunikan & perbedaan. Logat ngapak -meski beberpa orang Tegal tidak mau disamakan antara bahasa Tegal & bahasa ngapak- serta bahasa yg masih sering kecampur aduk layaknya sega lengko ini masih melekat & turut mengundang tawa & ledekan dari teman-temanku. Tak jarang mereka juga menyuruhku untuk berbicara dengan bahasa ngapak. Bahkan hari perdana masuk sekolah, saya disuruh salah satu pengajar untuk menceritakan kenapa saya memilih sekolah tersebut dengan bahasa Tegal. Ditambah lagi dengan membacakan Pancasila yg tentu saja dengan bahasa Tegal. Entah ini masuk penghinaan dasar negara atau tidak yah hahaha.
Meski sudah banyak orang yg mengetahui & mengenal orang Tegal khususnya dari para pedagang-pedagang Warteg, namun tetap saja, selain logat & bahasanya yg mereka nilai lucu, cuma sedikit sekali orang yg mengetahui Tegal secara keseluruhan. Mereka taunya yah orang Tegal yah orang Jawa, padahal yah enggak gitu juga yah wlaupun gitu sih.
Jadi gini, loh. Masyarakat umum, khususnya masyarakat di Jakarta kan taunya itu orang jawa yah lemah lembut, rapih, penuh dengan sopan santun & ewuh pakewuh gitulah. Tapi hal-hal semacam itu sangat tidak Tegal banget, walaupun Tegal yah juga Jawa. Boro-boro jadi orang lemah lembut, dari segi bahasa aja kayanya kami memang didesain untuk tidak berlemah lembut. Sama seperti bahasa Suroboyoan yg sangat nyenengi buat misuh. Bahasa Tegal yah mirip-mirip seperti itu strukturnya, cuma ada sedikit cengkok-cengkok yg berfungsi juga untuk mempersedap ketika kita sedang gibahin orang yg biasanya diawali dengan kalimat Eh ngerti ora, Koen..?
Salah persepsi tentang orang Tegal ini jadi masalah di kehidupanku di Jakarta, khususnya di tempat kerja. Di tempat kerja awal mula masuk kantor itu seringnya ditanya asal-usul, orang mana, sebelumnya kerja di mana gitu yahh. Nah, saat mereka tau saya orang Tegal, mereka memperlakukanku layaknya orang jawa yg ada di pikiran mereka, yaitu lemah lembut & penuh kesahajaan. Bahkan ketika saya sedang banyak berdiam diri di kantor nih, nanti ada aja yg bilang, Orang jawa dia, makanya dia pendiam, ga banyak omong.
Padahal yah perkara saya pendiam itu emang pada waktu & tempat tertentu saya pendiam, itu bukan karena saya orang jawa. Biasanya juga kebanyakan orang Tegal malahan banyak omong. Kita itu demen banget cerita apa aja kalau udah kenal mah. Coba dah riset makan di warteg, pelayannya walaupun sambil ngelayanin juga masih disempet-sempetin ngobrol sama pelayan yg lain atau bahkan sama pembelinya. Emang tuh mulut seneng banget nyerocos kayanya.
Aku juga sebagai salah satu orang yg menganut paham yes man serta tabiat yg tidak enakan sama orang lain juga kadang dianggap sebagai tabiat yg njawani. Ada yg mengaitkannya dengan filosofi kerisnya orang jawa yg diletakkan di belakang yg artinya sering lemah lembut di depan lawan bicaranya dengan menyembunyikan kekuatannya. Yah benar sih kerisnya orang Tegal juga diletakkan di belakang, tetapi kan kekuatan orang Tegal bukan pada kerisnya, tetapi pada cangkemnya....
Ada benarnya juga sih kadang ketika kita bergaul, kita perhatikan dari mana asal dari lawan pergaulan kita supaya kita dapat menyesuaikan diri tentang cara komunikasinya. Tapi mbok yah jangan nanggung kalau mau cari tau tentang asal muasal & kebiasaan lawan bergaul. Jangan informasi yg anda tau sedikit malah jadi patokan. Eh udah sedikit, salah pula. Hadeh..
Tulisan ini ditulis oleh Fatio Nurul Efendi di Cangkeman pada tanggal 21 Januari 2022. Hari ini 11:26