sucisari
IndoForum Newbie C
- No. Urut
- 282388
- Sejak
- 9 Des 2013
- Pesan
- 144
- Nilai reaksi
- 0
- Poin
- 16
Jakarta meski sudah berusia ratusan tahun, namun usai kemerdekaan 1945 saja mulai menata pemerintahannya. Pemerintahan yang disusun dan dibuat sendiri oleh para pejuang ketika itu. Para pejuang yang paling tidak ingin kota ini ada yang mengurus dan melayani warganya. Tentu semua itu didasari atas semangat kemerdekan yang ditulari Bung Karno terhadap kota atau propinsi di seluruh Indonesia.
Spirit Bung Karno untuk mengisi kemerdekaan senantiasa melandaskan pada Nation and Character Building. Karenanya mengurus suatu kota atau propinsi itu mulai dipercayakan pada pejuang-pejuang tersebut, seperti masa Suwirjo dan Samsurizal yang keduanya menjabat sebagai walikota Jakarta ketika itu, hingga gubernur/walikota Sudiro.
Dengan diundangkannya Jakarta sebagai daerah istimewa, sekaligus sebagai suatu ibukota negara, maka kepala pemerintahan pun dipimpin oleh gubernur. Masa gubernur Jakarta mula-mula ini dipimpin oleh Soemarno Sosroatmodjo dan Heng Ngantung.
Dari semua pejabat pemerintahan kota Jakarta ini, konon Bung Karno mengaku tidak puas dan kecewa terhadap kawan seperjuangannya tersebut dalam mengurus dan menata kota Jakarta. Cari tinggal cari dan bisik para pembantunya, Bung Karno akhirnya menemukan sosok yang dianggapnya tepat untuk mengangkat Jakarta dari keterpurukan kota.
Akhirnya tanggal 28 April 1966, di Istana Negara, Presiden Soekarno melantik Mayor Jenderal KKO Ali Sadikin sebagai Gubernur/Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Sang Jenderal KKO ini masih usia 39 tahun tatkala diberikan amanah usai menunaikan tugasnya sebagai Menteri Perhubungan Laut sekaligus Menteri Kordinator dalam urusan-urusan Maritim, serta Wakil Menteri diperbantukan pada Menteri Pembangunan Perekonomian dan Keuangan.
Jatuhnya pilihan Bung Karno pada lulusan Advanced Course for Officer of the Marine Corps US MC School USA karena alasan ia seorang pelaut dan mengerti pelabuhan. Selain menurut Bung Karno sendiri Ali Sadikin itu orangnya keras (Koppige Vent). Sikap demikian dianggapnya cocok untuk menata, membenahi dan mengurus kota yang demikian terpuruknya.
Jakarta di masa awal gubernur asal Sumedang ini serba semrawut dari semua aspeknya. Tak ada rencana induk kota sebagai pedoman untuk melakukan pembangunan. Semua serba minim, mulai dari City Planning, Accynering, Hygiene, Arsitektur hingga sampah, selokan buntu dan semua itu menimpa Jakarta sebagai pusat pemerintahan Republik Indonesia.
Tapi 10 tahun kemudian, dari 1966 hingga 1977, Jakarta sudah ibarat gadis yang tengah berdandan. Ketika itu tumbuh puluhan bangunan bertingkat, pemukiman rumah mewah, jalan-jalan licin dan pohon-pohon pelindung dan gerakan penghijauan dari masyarakat yang seolah merupakan rambut dari sang gadis telah mulai mekar terjurai. Proyek MHT, Kesenian, Budaya, Gelanggang Remaja, Puskesmas, Sekolah, Rumah Sakit dan lain-lain juga sarana, prasarana dan infrastruktur listrik, air dan semacamnya. Kendati demikian diakui oleh gubernur legendaris ini untuk menata semua itu muncul sikap pro dan kontra di masyarakat Jakarta.
Di luar itu, kesaksian orang-orang tua Jakarta tatkala hidup di masa kepemimpinan Bang Ali mengaku gubernur ini jempolan. Ia pemimpin yang mudah ditemui warga meski sedang menyamar sekalipun. Tak hujan, tak panas, berdesakan di mobil Robur (metro mini zaman dulu), bus kota, nongkrong makan bareng di pangkalan becak, warung kopi maupun tempat masyarakat kumuh lainnya, hingga kegalangan kapal untuk mencari perampok, maupun pemalak yang berseragam maupun tidak.
Apalagi sergapan mendadaknya terhadap para pencopet muda yang kemudian ia giring ke tangsi tentara selama dua hari untuk selanjutnya dikumpulkan di Balaikota. Mereka para pencopet muda itu menangis di gedung rakyat dan mengadu kesulitan hidupnya di hadapan Bang Ali. Gubernur ini hanya menggedor dada pemuda itu untuk punya harga diri dan martabatnya sebagai manusia. Meski akhirnya mereka di kembalikan pada masyarakat melalui kursus-kursus dan sekolah untuk kemudian bekerja sebagaimana seharusnya.
Banyak hal yang dikisahkan orang-orang tua yang hidup di masa kepemimpinan Bang Ali ini. Tak heran kisah demikian ada benarnya. Tanggal 5 Juli 1977, Sidang Paripurna Istimewa DPRD di Balai Sidang Senayan dilakukan untuk mengakhiri tugasnya sekaligus perpisahan masa kepemimpinannnya. Bang Ali saat itu masih berusia 49 tahun, tetap tinggi, tegap, langsing dan tidak gendut, serta ganteng kata ibu-ibu yang hidup di zamannya.
Di luar gedung, saat acara sidang paripurna itu berlangsung, ribuan warga Jakarta menunggu seraya menitikan airmata. Tua,muda, lelaki, perempuan, pengusaha, tukang becak dan pedagang kaki lima yang pernah digusurnya tumpah ruah di halaman Balai Sidang. Usai acara, mereka melambaikan tangan dan mendekat kepada pemimpinnya dengan perasaan bangga, haru dan sejuta luapan emosi kecintaannya pada Bang Ali.
Pun di Balaikota, suasana serupa tak kalah dramatisnya. Di luar pagar masyarakat Jakarta berduyun-duyun dan di halaman Balaikota, para pegawai Pemda DKI yang datang dari semua perangkat dinasnya berbaris berdesakan untuk melepas masa tugasnya. Padahal mereka, pegawai Pemda DKI ini seringkali dihadapi sikap keras dan disiplin dari atasan mereka. Namun mereka mengerti semua itu dilakukan semata-mata untuk perbaikan kota Jakarta yang bebas dari Korupsi, Kolusi maupun Nepotisme, dan melayani warganya dengan amanah.
Sayang semua itu menjadi kenangan orang tua dulu. Hingga selanjutnya, Jakarta diisi pemimpin baru, semisal Tjokropranolo, Wiyogo Atmodarminto, R Soeprapto, Surjadi Soedirja, Soetiyoso, dan Fauzi Bowo. Apa yang terjadi dengan pemimpin setelah Bang Ali ini? Orang tua maupun generasi kini tak banyak berucap.
Namun anak-anak tingkat sekolah dasar sekarang mulai ramai dengan celotehannya atas kehadiran gubernur yang dipilih oleh suara rakyat langsung. Mereka Jokowi-Ahok. Akankah Jakarta akan mengulang sejarahnya meski dalam situasi yang berbeda tatkala dipimpin oleh Almarhum Ali Sadikin? Hanya waktu dan perasaan warga Jakarta yang bisa menjawabnya.
Spirit Bung Karno untuk mengisi kemerdekaan senantiasa melandaskan pada Nation and Character Building. Karenanya mengurus suatu kota atau propinsi itu mulai dipercayakan pada pejuang-pejuang tersebut, seperti masa Suwirjo dan Samsurizal yang keduanya menjabat sebagai walikota Jakarta ketika itu, hingga gubernur/walikota Sudiro.
Dengan diundangkannya Jakarta sebagai daerah istimewa, sekaligus sebagai suatu ibukota negara, maka kepala pemerintahan pun dipimpin oleh gubernur. Masa gubernur Jakarta mula-mula ini dipimpin oleh Soemarno Sosroatmodjo dan Heng Ngantung.
Dari semua pejabat pemerintahan kota Jakarta ini, konon Bung Karno mengaku tidak puas dan kecewa terhadap kawan seperjuangannya tersebut dalam mengurus dan menata kota Jakarta. Cari tinggal cari dan bisik para pembantunya, Bung Karno akhirnya menemukan sosok yang dianggapnya tepat untuk mengangkat Jakarta dari keterpurukan kota.
Akhirnya tanggal 28 April 1966, di Istana Negara, Presiden Soekarno melantik Mayor Jenderal KKO Ali Sadikin sebagai Gubernur/Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Sang Jenderal KKO ini masih usia 39 tahun tatkala diberikan amanah usai menunaikan tugasnya sebagai Menteri Perhubungan Laut sekaligus Menteri Kordinator dalam urusan-urusan Maritim, serta Wakil Menteri diperbantukan pada Menteri Pembangunan Perekonomian dan Keuangan.
Jatuhnya pilihan Bung Karno pada lulusan Advanced Course for Officer of the Marine Corps US MC School USA karena alasan ia seorang pelaut dan mengerti pelabuhan. Selain menurut Bung Karno sendiri Ali Sadikin itu orangnya keras (Koppige Vent). Sikap demikian dianggapnya cocok untuk menata, membenahi dan mengurus kota yang demikian terpuruknya.
Jakarta di masa awal gubernur asal Sumedang ini serba semrawut dari semua aspeknya. Tak ada rencana induk kota sebagai pedoman untuk melakukan pembangunan. Semua serba minim, mulai dari City Planning, Accynering, Hygiene, Arsitektur hingga sampah, selokan buntu dan semua itu menimpa Jakarta sebagai pusat pemerintahan Republik Indonesia.
Tapi 10 tahun kemudian, dari 1966 hingga 1977, Jakarta sudah ibarat gadis yang tengah berdandan. Ketika itu tumbuh puluhan bangunan bertingkat, pemukiman rumah mewah, jalan-jalan licin dan pohon-pohon pelindung dan gerakan penghijauan dari masyarakat yang seolah merupakan rambut dari sang gadis telah mulai mekar terjurai. Proyek MHT, Kesenian, Budaya, Gelanggang Remaja, Puskesmas, Sekolah, Rumah Sakit dan lain-lain juga sarana, prasarana dan infrastruktur listrik, air dan semacamnya. Kendati demikian diakui oleh gubernur legendaris ini untuk menata semua itu muncul sikap pro dan kontra di masyarakat Jakarta.
Di luar itu, kesaksian orang-orang tua Jakarta tatkala hidup di masa kepemimpinan Bang Ali mengaku gubernur ini jempolan. Ia pemimpin yang mudah ditemui warga meski sedang menyamar sekalipun. Tak hujan, tak panas, berdesakan di mobil Robur (metro mini zaman dulu), bus kota, nongkrong makan bareng di pangkalan becak, warung kopi maupun tempat masyarakat kumuh lainnya, hingga kegalangan kapal untuk mencari perampok, maupun pemalak yang berseragam maupun tidak.
Apalagi sergapan mendadaknya terhadap para pencopet muda yang kemudian ia giring ke tangsi tentara selama dua hari untuk selanjutnya dikumpulkan di Balaikota. Mereka para pencopet muda itu menangis di gedung rakyat dan mengadu kesulitan hidupnya di hadapan Bang Ali. Gubernur ini hanya menggedor dada pemuda itu untuk punya harga diri dan martabatnya sebagai manusia. Meski akhirnya mereka di kembalikan pada masyarakat melalui kursus-kursus dan sekolah untuk kemudian bekerja sebagaimana seharusnya.
Banyak hal yang dikisahkan orang-orang tua yang hidup di masa kepemimpinan Bang Ali ini. Tak heran kisah demikian ada benarnya. Tanggal 5 Juli 1977, Sidang Paripurna Istimewa DPRD di Balai Sidang Senayan dilakukan untuk mengakhiri tugasnya sekaligus perpisahan masa kepemimpinannnya. Bang Ali saat itu masih berusia 49 tahun, tetap tinggi, tegap, langsing dan tidak gendut, serta ganteng kata ibu-ibu yang hidup di zamannya.
Di luar gedung, saat acara sidang paripurna itu berlangsung, ribuan warga Jakarta menunggu seraya menitikan airmata. Tua,muda, lelaki, perempuan, pengusaha, tukang becak dan pedagang kaki lima yang pernah digusurnya tumpah ruah di halaman Balai Sidang. Usai acara, mereka melambaikan tangan dan mendekat kepada pemimpinnya dengan perasaan bangga, haru dan sejuta luapan emosi kecintaannya pada Bang Ali.
Pun di Balaikota, suasana serupa tak kalah dramatisnya. Di luar pagar masyarakat Jakarta berduyun-duyun dan di halaman Balaikota, para pegawai Pemda DKI yang datang dari semua perangkat dinasnya berbaris berdesakan untuk melepas masa tugasnya. Padahal mereka, pegawai Pemda DKI ini seringkali dihadapi sikap keras dan disiplin dari atasan mereka. Namun mereka mengerti semua itu dilakukan semata-mata untuk perbaikan kota Jakarta yang bebas dari Korupsi, Kolusi maupun Nepotisme, dan melayani warganya dengan amanah.
Sayang semua itu menjadi kenangan orang tua dulu. Hingga selanjutnya, Jakarta diisi pemimpin baru, semisal Tjokropranolo, Wiyogo Atmodarminto, R Soeprapto, Surjadi Soedirja, Soetiyoso, dan Fauzi Bowo. Apa yang terjadi dengan pemimpin setelah Bang Ali ini? Orang tua maupun generasi kini tak banyak berucap.
Namun anak-anak tingkat sekolah dasar sekarang mulai ramai dengan celotehannya atas kehadiran gubernur yang dipilih oleh suara rakyat langsung. Mereka Jokowi-Ahok. Akankah Jakarta akan mengulang sejarahnya meski dalam situasi yang berbeda tatkala dipimpin oleh Almarhum Ali Sadikin? Hanya waktu dan perasaan warga Jakarta yang bisa menjawabnya.
Terakhir disunting oleh moderator: