facebookeb
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 210735
- Sejak
- 9 Jan 2013
- Pesan
- 7.471
- Nilai reaksi
- 100
- Poin
- 48
Sejak menjabat sebagai Bupati Bangkalan pada 2003 silam, Ra Fuad, sapaan akrab KH Fuad Amin Imron, mulai membangun dinsatinya begitu kokoh. Bahkan, dia juga sering dipanggil "kanjeng," sebutan untuk penguasa di zaman kerajaan, oleh masyarakat Bangkalan.
Dalam catatan Madura Coruption Watch (MCW), awal kali berkuasa, dia terlibat kasus ijazah palsu dan dilaporkan ke Polda Jawa Timur. "Saat mencalonkan diri sebagai bupati di Tahun 2013, kami melaporkannya ke Polda Jawa Timur dan Mabes Polri terkait kasus ijazah palsu," terang salah satu pentolan MCW, Sukur saat dihubungi merdeka.com, Rabu (3/12).
Medio 2006, Ra Fuad kembali dilaporkan ke KPK terkait kasus dugaan korupsi danang pengungsi Sambas-Sampit. "Tahun 2011, kami juga melaporkannya ke KPK terkait kasus pembebasan lahan PT MISI," katanya.
Tak hanya itu saja, dalam berbagai ajang Pemilu, baik Pilkada, Pilgub, maupum Pemilu, ditengarai Ra Fuad juga terlibat jual beli suara di Bangkalan.
Namun, semua tudingan tindak pidana itu seperti membentur 'dinding' kekuasaan Ra Fuad, yang masih keturunan atau anak cucu dari Syaihk Chona Cholil, guru dari Hadratus Syaihk Hasyim Asyari.
Kemudian setelah menjabat selama dua periode atau selama 10 tahun, Ra Fuad mewariskan tahtanya kepada anaknya, Maimun Ibnu Fuad atau Ra Momon, pada 2013. Saat mewariskan tahtanya-pun, juga penuh kontroversi, penuh kecurangan.
Dia menyingkirkan sepupunya sendiri, yaitu KH Imam Buchori Cholil, pengasuh Ponpes Ibnu Cholil yang juga mencalonkan diri sebagai bupati bersaing dengan Ra Momon.
Saat itu terjadi bentrokan antara massa Ra Fuad dengan Ra Imam, karena pendukung Ra Imam menengarai Pilkada Bangkalan itu, penuh kecurangan yang dilancarkan Ra Fuad, hingga akhirnya memenangkan Ra Momon sebagai penguasa menggantikan ayahnya.
Ra Fuad sendiri, didapuk menjadi Ketua DPRD Bangkalan, melalui kendaraan Partai Gerindra, hingga akhirnya dibekuk KPK dalam operasi tangkap tangan. Ra Fuad diduga kuat terlibat korupsi suap suplai gas dan pembayaran ke Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Sang 'kanjeng' itu ditangkap KPK bersama oknum TNI pada Selasa dini hari kemarin.
"Dengan tertangkapnya FA (Ra Fuad) pada 2 Desember dini hari kemarin itu, sebenarnya masyarakat Bangkalan tidak kaget. Karna FA sudah menjadi target penegak hukum, ada beberapa kasus yang telah di laporkan ke polda Jatim, mabes Polri maupun KPK yang sudah lama. Namun belum cukup bukti untuk menangkap FA," papar Sukur.
Bahkan, diakui Sukur, rumor kalau Ra Fuad menjadi target KPK, sudah lama di dengar oleh para aktivis atau masyarakat di Bangkalan. "Hanya saja masyarakat menunggu waktu dan kasus yang tepat sehingga betul-betul mencokot nama FA. Dan terbukti KPK menunjukkan, selama ini KPK tidak diam," katanya.
"Pemerintahan FA di Bangkalan selama dua periode berturut-turut sangat hebat dan rata-rata para kiai, tokoh masyarakat, kades, LSM dan sebagainya tunduk pada kekuatan FA, sehingga saat ini ada sekitar 180 desa yang di jabat oleh PJS dan ini sengaja di biarkan atau di perpanjang SK-nya agar FA tetap bisa melanjutkan dinasti-nya ke depan," sambung dia.
Bahkan, masih kata Sukur, jika ada pemilihan bupati, Pileg, Pilgub, maupun Pilpres, Ra Fuad dengan kekuatannya hanya tinggal mengkondisikan para kades yang PJS untuk melakukan manipulasi suara agar memenangkan salah satu calon yang di usungnya.
"Salah satu contoh Pilbup tahun 2012 yang berujung ke sengketa di MK, Pilgub Jatim juga terjadi sengketa ke MK, Pileg 2008 juga sengketa ke MK, di sisilain FA juga menempatkan keluarga sebagai penggantinya setelah FA dan Syafi Rofi`i (sepupu FA)," ungkapnya.
Tak hanya, masyarakat dan LSM di Bangkalan, sepupu Ra Fuad, yaitu Ra Imam, Selasa kemarin saat diwawancarai wartawan juga mengaku senang dengan penangkapan Ra Fuad oleh KPK itu. Dengan begitu, Bangkalan bisa dibersihkan dari segala urusan tindak pidana korupsi.
Bahkan, dengan tegas pengasuh Ponpes Ibnu Cholil itu, menyatakan malu memiliki saudara Ra Fuad, meski sama-sama keturunan langsung dari Syaikh Chona Cholil atau akrab disapa Mbah Cholil.
"Meskipun dia saudara saya, saya malu punya saudara seperti dia. Semua masyarakat di sini sangat bersyukur, karena Bangkalan bisa bersih dari semua kejahatan, wong massa dia (Ra Fuad) itu bayaran, jadi saya bisa jamin Bangkalan bisa bersih," tegas dia kemarin.