Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Merahputih.com - Berpakaian atribut lengkap, datang sebelum pukul 07.00 WIB, & berdiri di lapangan lebih dari 30 menit sambil ditemani teriknya matahari, makin bikin Senin jadi Monster Day singakatan Monday bagi beberapa pelajar. Belum lagi mata bekas begadang semalam bikin enggak kuat melihat bendera Merah -Putih saat dipasang Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).
Buat angkatan Zoom, Google Meet, & Microsoft Teams, kangen enggak sama upacara setiap Senin? Mulai dari petugas upacara bergiliran setiap kelas, disetrap karena telat datang, sengaja duduk di barisan belakang supaya dapat tidur, hingga menggoda gebetan pas kepala sekolah memberikan amanat, bikin harap kembali merasakan sekolah tatap muka seperti sebelum pandemi. Makanya, upacara di sekolah sebenarnya lebih dari sekadar menghormati bendera Merah-Putih.
Berbicara soal upacara, setiap sekolah memang mewajibkan para siswa & gurunya mengikuti upacara setiap Senin. Mengikuti proses upacara dengan khidmat tentu memberikan manfaat bagi para siswa di kemudian hari, seperti membentuk tabiat positif, disiplin, sayang Tanah Air, tenggang rasa, sikap sosial, & masih banyak lagi.
Tapi pernah kepikiran enggak sih kenapa upacara dilakukan setiap Senin?
Jika merujuk pada Hari Kemerdekaan, sepertinya tidak mungkin hari Senin dijadikan pijakan untuk memberlakukan setiap siswa upacara bendera. Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 & jatuh pada Jumat, bukan Senin. Jawabannya, Senin merupakan awal siswa sekolah masuk setelah libur di akhir pekan, serta dirasa pas untuk mengisi nilai-nilai nasionalisme. Menghayati upacara bendera setiap Senin juga menciptakan siswa terus mengingat para peuang. Siswa ternyata enggak kalah berjuang saat harus upacara pada hari Senin pagi.
Nah supaya bikin makin kangen, yuk nostalgia kejadian-kejadian unik ketika upacara.
1. Baris di paling belakang
Tingkat kecerdasan di kelas tampaknya dapat dilihat dari urutan baris saat upacara. Barisan paling depan biasanya diisi siswa pintar, tepat waktu, atau minimal ketua kelas supaya dapat mengatur barisan. Sementara, di barisan paling belakang justru di kelas akademisnya kurang & kalau soal bercanda & pengenalan nomor satu. Tak cuma itu, momen ini juga mereka manfaatkan untuk bercanda dengan perempuan di kelas lain atau gebetan di kelas.
Epiknya lagi, ketika kepala sekolah memberi perintah istirahat di tempat & menyampaikan amanat, mereka benar-benar istirahat, alias tidur dengan tetap berdiri atau jongkok. Makanya tak heran guru-guru killer sering datang ke barisan belakang untuk memastikan semua tetap berdiri tegak. Akal-akalan lain juga sering terjadi di barisan belakang ketika mereka tidak mengenakan atribut lengkap. Dengan pintarnya mereka mengoper atribut teman lain ketika guru lewat supaya terlihat lengkap.
2. Jam pelajaran terpotong
Estimasi upacara di sekolah biasanya 45 menit hingga satu jam, tergantung dari amanat upacarar diberikan & acara apa saja dilakukan setelah upacara. Jam pelajaran perdana setiap Senin entah kenapa tidak disukai beberapa pelajar, misalnya matematika, kimia, ekonomi, atau fisika. Yang berbau hitung-hitungan pokoknya. Dengan durasi upacara lama, biasanya jam pelajaran perdana akan dipotong & langsung digantikan dengan jam pelajaran kedua. Semuanya tergantung dengan silabus diberikan masing-masing sekolah.
Bagian beberapa siswa, upacara lama ada sisi baik-buruk. Mungkin bagi staminanya kurang fit pasti akan kurang senang, sementara siswa malas menghadapi pelajaran sulit di jam perdana akan bersorak ria.
3. Sengaja tidak memakai atribut
Beberapa pelajar malah sengaja tidak mengenakan atribut lengkap supaya disetrap saat upacara. Entah apa di pikiran mereka, mungkin harap terlihat keren di depan gebetan atau biar dapat dilihat seluruh siswa di sekolah, atau memang bagian dari rencana bersama satu pertemenan. Mereka tak mengenakan atribut lengkap akan dihukum membersihkan lingkungan sekolah, & malah bahagia karena tidak mengikuti pelajaran. Sebuah pengalaman unik, tentunya.
4. Petugas upacara bergiliran
Beberapa sekolah menetapkan aturan setiap pekan petugas upacaranya harus bergantian setiap kelas. Tunjuk menunjuk pun dimulai. Banyak enggan jadi pemimpin upacara atau petugas paling kanan karena merasa malu berdiri di tengah lapangan. Mungkin pula tidak kuat berdiri tegak di bawah teriknya matahari. Nah mereka tidak ditunjuk akan 'main aman' saja bertindak sebagai paduan suara. Momen pergantian petugas upacara ini memang sering bikin kelas deg-degan.
5. Kangen upacara
Meski sering telat, malas untuk ikut upacara, dihukum menyapu lingkungan sekolah, hingga alasan sakit biar dapat ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS), momen di sekolah tidak dapat dilupakan. Para alumni apalagi masih berstatus pelajar tetapi harus Belajara jarak Jauh karena pandemi COVID-19, pasti kangen kenangan di masa-masa sekolah, khususnya kenakalan-kenakalan saat upacara bendera. Kangen disetrap, kena nyapu sekolah, hingga dijemur seharian di tengah lapangan enggak sih.
Mari berdoa semoga keadaan COVID-19 ini dapat segera membaik sehingga dapat merasakan kembali ke sekolah bukan di rumah saja.
Sumber Hari ini 03:50