Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Oke Gan/Bor/Sist Thread kali ini ane mau bahas tema yg agak sensitif yaitu AGAMA.
Menurut Wikped Agama adalah sistem yg mengatur kepercayaan & peribadatan Kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yg berhubungan dengan budaya, & pandangan dunia yg menghubungkan manusia dengan tatana kehidupan. Banyak agama memiliki mitologi, simbol & sejarah suci yg dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup yg menjelaskan asal-usul kehidupan atau alam semesta.
Spoiler for Pengertian Agama Menurut Para Ahli:
1. Anthoni F. C. Wallace
Menurut Anthoni F. C. Wallace, pengertian agama adalah seperangkat upacara yg diberi rasionalisasi melalui adanya mitos & menggerakkan kekuatan supranatural supaya terjadi perubahaan keadaan pada manusia & alam semesta.
2. mile Durkheim
Menurut mile Durkheim, arti agama adalah suatu sistem yg terdiri dari kepercayaan serta praktik yg berhubungan dengan hal suci & menyatukan para penganutnya dalam suatu komunitas moral (umat).
3. Nicolaus Driyarkara SJ
Menurut Nicolaus Driyarkara SJ, pengertian agama adalah suatu kenyakinan karena adanya kekuatan supranatural yg mengatur serta menciptakan alam & seisinya.
4. Jappy Pellokila
Menurut Jappy Pellokila, pengertian agama adalah suatu keyakinan yg percaya dengan adanya tuhan yg maha esa serta mempercayai hukum-hukumnya.
5. Damianus Hendropuspito
Menurut Damianus Hendropuspito, pengertian agama adalah suatu sistem nilai yg mengatur hubungan antara manusia dengan alam semesta yg memiliki keterkaitan dengan keyakinan.
Akan tetapi, terdapat argumen lain (yang saya setuju dengannya) bahwa ada satu posisi dalam problematika Tuhan ini dimana mereka benar-benar netral tidak mengambil posisi apapun, alias dalam masalah percaya atau tidak pun, mereka belum memutuskan! Posisi ini disebut agnostik murni.
Sehingga, bagan yg lebih tepat adalah seperti berikut
Bagan ini lebih sederhana, namun justru lebih merepresentasikan keadaan yg sebenarnya. Kenapa? Dikotomi gnostik-agnostik sebenarnya dikotomi yg semu. Hampir tidak ada yg pure gnostik, apalagi untuk hal metafisis seperti eksistensi Tuhan. Sehingga, yg membedakan antara gnostik-ateis & agnostik-ateis, atau antara gnostik-teis & agnostik-ateis adalah seberapa yakin ia dengan keyakinannya.
Gnostik-teis ataupun gnostik-ateis, cenderung mendasarkan keyakinanya berdasarkan akal, sehingga ia merasa lebih yakin bahwa Tuhan itu ada, atau Tuhan itu tidak ada. Meskipun, mau bagaimanapun, akal manusia akan sering terbatas untuk mendapatkan kesimpulan utuh kepada metafisika.
Perdebatan antara sains & agama, yg secara sederhana adalah perdebatan antara pemikiran berdasarkan fakta & keimanan, sudah sangat mendarah daging. Biasanya keduanya bertentangan & tidak saling menjelaskan.
Spoiler for Berikut empat fakta tentang pertentangan mendarah daging ini:
1. Otak memiliki dua jaringan yg sifatnya bertentangan
Dari sebuah studi, dapat ditunjukkan bahwa otak memiliki 'jaringan analitis' yg dipakai untuk berpikir kritis, serta sebuah 'jaringan sosial' yg menjadikan otak kita dapat lebih berempati & lebih tertarik ke alasan moral ketimbang penalaran. Menurut peneliti, kedua jaringan ini berlawanan, karena tiap orang akan memiliki salah satu jaringan yg lebih aktif ketimbang lainnya. Bagaimana hal ini terjadi? Dari pengalaman.
2. Pengalaman adalah yg menentukan Anda berada di 'pihak' mana
Menurut peneliti, berlawanannya kedua jaringan ini sangat erat kaitannya dengan pengalaman seseorang. Jika seseorang lebih banyak mengalami pengalaman yg erat dengan keimanan atau supranatural, secara otomatis otak akan menekan kinerja 'jaringan analitis,' sehingga otak kita tak akan berpikir kritis. Hal ini menjelaskan mengapa orang yg percaya agama, tak terlalu tertarik kepada sains & hal-hal yg para ilmuwan coba untuk 'dinalarkan.'
3. Menurut filsuf, kebenaran memang ada dua. Jadi, tak ada yg salah
Penemuan ini senada dengan pemikiran seorang filosofis asal Jerman yakni Immanuel Kant. Kant menganggap ada dua buah kebenaran, yakni kebenaran empiris & kebenaran secara moral.
"Kant membedakan antara alasan teoritis yg berhubungan dengan sais, serta alasan praktis yg berhubungan dengan moral," ungkap Dr. Tony Jack, kepala peneliti sekaligus Profesor filosofi & neuroscience. "Kant menunjukkan bahwa dua tipe pemikiran ini dapat saling bertentangan, & hal ini adalah hal yg sama dengan yg kita dapat lihat di otak kita. Sehingga, konflik ini berakar dari otak kita sendiri," imbuhnya.
Jadi, konflik ini sebenarnya tak benar-benar nyata, namun lebih karena otak kita membingkai konteks hingga punya disparitas yg cukup mendasar bagi orang lain. Jika kita menganut dengan teguh apa yg kita percaya, tentu tak perlu menyalahkan pemikiran orang lain, & orang lain juga tak berhak mengatakan pemikiran kita salah.
4. Tiap orang cenderung akan memilih satu pemikiran daripada yg lain - sains atau agama, agama atau sains!
Dikarenakan dua 'komponen' otak yg saling menekan ini, setiap orang akan memilih satu pemikiran daripada yg lain. Jadi akan ada dua tipe orang, yakni yg percaya sains dengan segala sesuatu yg dapat dinalar, atau yg percaya keimanan. Hal inilah yg memicu konflik antara sains & agama.
Metodologi studi yg dilakukan Profesor Jack & regu adalah menciptakan delapan kali eksperimen dengan melibatkan 527 orang dewasa. Dalam eksperimen pertama, partisipan diwajibkan untuk mengisi kuisioner yg dapat mengukur tingkat pemikiran kritis & mekanikal, yg keduanya mengukur tingkat pemikiran nalar secara analitis.
Quote:
Dalam Thread ini TS mau beri pesan mau Agama apapun Lhuu/ente pada tetap lah saling menghormati, jangan ada yg terlalu frontal merusak nama Agama jadi kekerasan, Rasis, memanfaatkan nama Agama jadi ladang cari duit Dsb. Sains & Agama, Iman & Logika hal yg sering jadi kontradiktif mending kite jauhi. Keimanan itu ada dalam diri lu sendiri. Mau Lu ga pecaya ada Agama itu opsi hidup Lu pada. "Kemenangan yg nyata & berkelanjutan adalah kedamaian, & bukan perang" - Ralph Waldo Emerson
Bonus Hiburan
Link Sumber
Hari ini 19:56
Menurut Wikped Agama adalah sistem yg mengatur kepercayaan & peribadatan Kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yg berhubungan dengan budaya, & pandangan dunia yg menghubungkan manusia dengan tatana kehidupan. Banyak agama memiliki mitologi, simbol & sejarah suci yg dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup yg menjelaskan asal-usul kehidupan atau alam semesta.
Spoiler for Pengertian Agama Menurut Para Ahli:
1. Anthoni F. C. Wallace
Menurut Anthoni F. C. Wallace, pengertian agama adalah seperangkat upacara yg diberi rasionalisasi melalui adanya mitos & menggerakkan kekuatan supranatural supaya terjadi perubahaan keadaan pada manusia & alam semesta.
2. mile Durkheim
Menurut mile Durkheim, arti agama adalah suatu sistem yg terdiri dari kepercayaan serta praktik yg berhubungan dengan hal suci & menyatukan para penganutnya dalam suatu komunitas moral (umat).
3. Nicolaus Driyarkara SJ
Menurut Nicolaus Driyarkara SJ, pengertian agama adalah suatu kenyakinan karena adanya kekuatan supranatural yg mengatur serta menciptakan alam & seisinya.
4. Jappy Pellokila
Menurut Jappy Pellokila, pengertian agama adalah suatu keyakinan yg percaya dengan adanya tuhan yg maha esa serta mempercayai hukum-hukumnya.
5. Damianus Hendropuspito
Menurut Damianus Hendropuspito, pengertian agama adalah suatu sistem nilai yg mengatur hubungan antara manusia dengan alam semesta yg memiliki keterkaitan dengan keyakinan.
Tapi yg bakal Ane Bahas ini bukan Agama SAMAWI atau agama yg sering kita dengar atau ketahui pada umumnya.
Cekidotttt
Masalah tentang Tuhan adalah masalah metafisis, sehingga pada dasarnya tidak ada metode rigid apapun yg dapat memastikan kebenarannya secara pasti sebagaimana metode ilmiah memastikan kebenaran mekanika Newton. Sehingga apakah Tuhan ada atau tidak pada dasarnya adalah opsi metafisis, antara kita percaya atau tidak. Di sini tercipta dikotomi ateis & teis.
Akan tetapi, dari dua golongan itu pun, ada yg menganggap bahwa Tuhan ada atau tidak merupakan sesuatu yg mereka ketahui, dimana mereka punya cara untuk menunjukkan argumen mereka (bukan sekadar percaya). Dari sini, tercipta dikotomi agnostik & gnostik
Dengan dua dikotomi tersebut, diketahui lah diagram metafisika Tuhan seperti berikut
Cekidotttt
Masalah tentang Tuhan adalah masalah metafisis, sehingga pada dasarnya tidak ada metode rigid apapun yg dapat memastikan kebenarannya secara pasti sebagaimana metode ilmiah memastikan kebenaran mekanika Newton. Sehingga apakah Tuhan ada atau tidak pada dasarnya adalah opsi metafisis, antara kita percaya atau tidak. Di sini tercipta dikotomi ateis & teis.
Akan tetapi, dari dua golongan itu pun, ada yg menganggap bahwa Tuhan ada atau tidak merupakan sesuatu yg mereka ketahui, dimana mereka punya cara untuk menunjukkan argumen mereka (bukan sekadar percaya). Dari sini, tercipta dikotomi agnostik & gnostik
Dengan dua dikotomi tersebut, diketahui lah diagram metafisika Tuhan seperti berikut
Akan tetapi, terdapat argumen lain (yang saya setuju dengannya) bahwa ada satu posisi dalam problematika Tuhan ini dimana mereka benar-benar netral tidak mengambil posisi apapun, alias dalam masalah percaya atau tidak pun, mereka belum memutuskan! Posisi ini disebut agnostik murni.
Sehingga, bagan yg lebih tepat adalah seperti berikut
Bagan ini lebih sederhana, namun justru lebih merepresentasikan keadaan yg sebenarnya. Kenapa? Dikotomi gnostik-agnostik sebenarnya dikotomi yg semu. Hampir tidak ada yg pure gnostik, apalagi untuk hal metafisis seperti eksistensi Tuhan. Sehingga, yg membedakan antara gnostik-ateis & agnostik-ateis, atau antara gnostik-teis & agnostik-ateis adalah seberapa yakin ia dengan keyakinannya.
Gnostik-teis ataupun gnostik-ateis, cenderung mendasarkan keyakinanya berdasarkan akal, sehingga ia merasa lebih yakin bahwa Tuhan itu ada, atau Tuhan itu tidak ada. Meskipun, mau bagaimanapun, akal manusia akan sering terbatas untuk mendapatkan kesimpulan utuh kepada metafisika.
Perdebatan antara sains & agama, yg secara sederhana adalah perdebatan antara pemikiran berdasarkan fakta & keimanan, sudah sangat mendarah daging. Biasanya keduanya bertentangan & tidak saling menjelaskan.
Spoiler for Berikut empat fakta tentang pertentangan mendarah daging ini:
1. Otak memiliki dua jaringan yg sifatnya bertentangan
Dari sebuah studi, dapat ditunjukkan bahwa otak memiliki 'jaringan analitis' yg dipakai untuk berpikir kritis, serta sebuah 'jaringan sosial' yg menjadikan otak kita dapat lebih berempati & lebih tertarik ke alasan moral ketimbang penalaran. Menurut peneliti, kedua jaringan ini berlawanan, karena tiap orang akan memiliki salah satu jaringan yg lebih aktif ketimbang lainnya. Bagaimana hal ini terjadi? Dari pengalaman.
2. Pengalaman adalah yg menentukan Anda berada di 'pihak' mana
Menurut peneliti, berlawanannya kedua jaringan ini sangat erat kaitannya dengan pengalaman seseorang. Jika seseorang lebih banyak mengalami pengalaman yg erat dengan keimanan atau supranatural, secara otomatis otak akan menekan kinerja 'jaringan analitis,' sehingga otak kita tak akan berpikir kritis. Hal ini menjelaskan mengapa orang yg percaya agama, tak terlalu tertarik kepada sains & hal-hal yg para ilmuwan coba untuk 'dinalarkan.'
3. Menurut filsuf, kebenaran memang ada dua. Jadi, tak ada yg salah
Penemuan ini senada dengan pemikiran seorang filosofis asal Jerman yakni Immanuel Kant. Kant menganggap ada dua buah kebenaran, yakni kebenaran empiris & kebenaran secara moral.
"Kant membedakan antara alasan teoritis yg berhubungan dengan sais, serta alasan praktis yg berhubungan dengan moral," ungkap Dr. Tony Jack, kepala peneliti sekaligus Profesor filosofi & neuroscience. "Kant menunjukkan bahwa dua tipe pemikiran ini dapat saling bertentangan, & hal ini adalah hal yg sama dengan yg kita dapat lihat di otak kita. Sehingga, konflik ini berakar dari otak kita sendiri," imbuhnya.
Jadi, konflik ini sebenarnya tak benar-benar nyata, namun lebih karena otak kita membingkai konteks hingga punya disparitas yg cukup mendasar bagi orang lain. Jika kita menganut dengan teguh apa yg kita percaya, tentu tak perlu menyalahkan pemikiran orang lain, & orang lain juga tak berhak mengatakan pemikiran kita salah.
4. Tiap orang cenderung akan memilih satu pemikiran daripada yg lain - sains atau agama, agama atau sains!
Dikarenakan dua 'komponen' otak yg saling menekan ini, setiap orang akan memilih satu pemikiran daripada yg lain. Jadi akan ada dua tipe orang, yakni yg percaya sains dengan segala sesuatu yg dapat dinalar, atau yg percaya keimanan. Hal inilah yg memicu konflik antara sains & agama.
Metodologi studi yg dilakukan Profesor Jack & regu adalah menciptakan delapan kali eksperimen dengan melibatkan 527 orang dewasa. Dalam eksperimen pertama, partisipan diwajibkan untuk mengisi kuisioner yg dapat mengukur tingkat pemikiran kritis & mekanikal, yg keduanya mengukur tingkat pemikiran nalar secara analitis.
Quote:
Dalam Thread ini TS mau beri pesan mau Agama apapun Lhuu/ente pada tetap lah saling menghormati, jangan ada yg terlalu frontal merusak nama Agama jadi kekerasan, Rasis, memanfaatkan nama Agama jadi ladang cari duit Dsb. Sains & Agama, Iman & Logika hal yg sering jadi kontradiktif mending kite jauhi. Keimanan itu ada dalam diri lu sendiri. Mau Lu ga pecaya ada Agama itu opsi hidup Lu pada. "Kemenangan yg nyata & berkelanjutan adalah kedamaian, & bukan perang" - Ralph Waldo Emerson
Bonus Hiburan
Link Sumber
Hari ini 19:56