• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Agama Buddha Akan Punah di Indonesia?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Agama Buddha Akan Punah di Indonesia?

Agama Buddha Akan Punah di Indonesia?


Foto: Ngasiran

Kita baru saja merayakan hari jadi Majelis Buddhayana Indonesia yg ke-68. Kemudian pada tanggal 15 Juli 2023, bertempat di Prasadha Jinarakkhita, MBI mengadakan acara Tali Kasih dengan Pandita senior yg memperoleh penghargaan berupa Sertifikat serta Tali Kasih Uang Kehormatan. Acara tersebut berlangsung cukup baik, walaupun penulis sendiri terpaksa tidak dapat menghadirinya karena harus menjalani perawatan kesehatan. Dalam acara yg gegap gempita di atas apakah pernah terlintas dalam pikiran kita, Agama Buddha akan Punah di Indonesia?

Dalam podcast Guru Gembul, penulis memang pernah mendengar bahwa 50 tahun dari sekarang, agama-agama akan punah, yaitu bagian sayap Ritual & Budayanya, sedangkan sayap Spiritualisme akan bertahan. Agama-agama itu tergilas oleh perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan/science serta gaya hidup manusia modern. Sebagai contoh dalam Agama Samawi; agama Yahudi, Kristen, & Islam dikatakan Tuhan menciptakan laki-laki terlebih dahulu, yaitu Adam. Kemudian dari rusuknya, Tuhan menciptakan Hawa. Dalil ini kemudian terbantahkan oleh Science/Ilmu Pengetahuan & Teknologi karena menurut Dr. Ryu Hasan, jika laki-laki yg terlahir lebih dulu, maka dapat dipastikan dunia tidak akan ada manusia lagi. Jadi menurut Ilmu Pengetahuan yg lahir mestinya perempuan terlebih dahulu.

Ketika jumlah wanita sedemikian banyak baru kemudian lahir laki-laki. Fungsi laki-laki di situ ialah untuk membunuh atau mengurangi spesies wanita yg ada supaya jumlahnya tidak melebihi kemampuan Bumi untuk menampungnya, memberinya makan, & menghidupinya. Jadi menurut Dr. Ryu Hasan, laki-laki tercipta dari wanita & salah satu fungsi laki-laki ialah untuk mengurangi jumlah manusia. Dengan penemuan Iptek di atas atau teori diatas, maka jelas apa yg dihinggakan Agama Samawi jadi terbantahkan & inilah yg menyebabkan kepercayaan kepada agama-agama jadi luntur.

Lalu bagaimana dengan Agama Buddha? Menurut Guru Gembul dalam Episode ke-105 Agama Buddha akan punah di Indonesia dalam waktu singkat. Hal-hal yg menyebabkan punahnya Agama Buddha yaitu karena:

Agama Buddha tidak punya Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun dalam mazhab Agama Buddha Theravada diketahui berbagai istilah Ketuhanan seperti Sanghyang Adi Buddha, Tiratana atau sebutan-sebutan lainya, namun menurut Guru Gembul itu tidak mencerminkan ke-Esa an Tuhan seperti yg dimaksudkan dalam agama-agama Samawi.

Dalam Agama Buddha tidak ada Hukum Syariat yg tetap, misalnya kalau Agama Islam kita mengenal Rukun Iman & Rukun Islam. Di Agama Kristen atau Yahudi bahkan tercermin dalam Kitab Hukum Perdata maupun Pidananya. Tetapi di Agama Buddha hukum-hukum seperti ini tidak dikenal. Yang penting bagi Umat Buddha adalah berbuat baik. Menurut Guru Gembul ini salah satu kelemahan dari Agama Buddha yg dapat menyebabkan kepunahan Agama Buddha, khususnya di negara-negara yg memberlakukan Hukum Syariat dengan ketat. Seperti contoh apa yg terjadi di Afghanistan ketika Taliban berkuasa di Afghanistan & mereka menghancurkan situs-situs Buddhis yg berada di Afghanistan. Peristiwa tersebut diketahui dengan nama Penghancuran Patung Buddha di tebing lembah Bamiyan yg terjadi pada Maret 2001.

Menurut Guru Gembul, Agama Buddha di Indonesia akan punah karena Agama Buddha jumlah umatnya sedikit & terkepung dengan berbagai kepentingan Umat Mayoritas, sehingga umatnya lemah & ragu-ragu kalau disudutkan oleh pihak lain. Tampaknya sinyalemen Guru Gembul di atas tidak salah, karena memang hal seperti itulah yg terjadi. Betapa banyaknya Umat Buddha dari wilayah Tangerang yg ber etnis China Benteng kemudian diganti agamanya dari Buddha ke agama mayoritas atau mengaku beragama tertentu/mayoritas supaya memperoleh Akta Lahir. Tanpa mengaku beragama tertentu ia tidak akan memperoleh KTP, Akta Lahir & Pelayanan Kelurahan atau Pemerintah Desa.

Kejadian yg sama berlaku hampir di seluruh desa-desa Buddhis termasuk di Wonosobo, Jawa Tengah pada tahun 2015 dimana satu desa ramai-ramai meninggalkan Agama Buddha untuk mendapatkan bantuan sosial dari Aparat Pemerintah Desa atau Kecamatan. Walaupun kadang-kadang ada sejumlah umat Buddha yg masih melaksanakan Puja kepada Sang Triratna secara diam-diam, namun atribut keagamaannya sudah dihilangkan sama sekali. Misalnya saja Rupang, Tempat Dupa/Hio, atau alat-alat persembahan lainya.

Jadi tekanan kepada umat Buddha datang dari pedesaan, seperti contoh-contoh di atas, tetapi di perkotaan umat Buddha juga menghadapi tantangan misalnya dari sekolah-sekolah favorit yg tidak menerima anak-anak yg beragama Buddha. Lalu mereka terpaksa menanggalkan agamanya untuk masuk ke sekolah-sekolah tersebut. Perkimpoian juga merupakan salah satu gerbang kita kehilangan umat Buddha. Jadi kita terkepung baik di desa maupun di perkotaan. Mungkin perlu pula ditambahkan Ritual & budaya Buddhis juga terasa ketinggalan jaman atau tidak berkembang dibanding agama-agama lain. Jadi, tidak aneh kalau Agama Buddha akan punah dalam waktu yg tidak lama lagi. Apalagi jumlah umatnya menurun setiap kali di sensus. Sensus yg terakhir menunjukan Umat Buddha turun dari 0,80% jadi 0,75% atau dengan mengatakan lain turun sebanyak 0,5% per sensus 2020. Sampai saat ini tidak ada Majelis atau Organisasi Buddhis bahkan pemerintah pun melalui Dirjen Bimas Buddha tidak memberikan petunjuk maupun arahan apa yg mesti kita lakukan untuk mencegah merosotnya jumlah Umat Buddha.

Punahnya Agama Buddha di Indonesia bukan fenomena baru. Di zaman Sriwijaya Agama Buddha juga punah di Nusantara, padahal kita mempunyai situs sejarah yg sangat akbar di Muara Jambi yg membuktikan disinilah berkembang Agama Buddha Nusantara. Di tempat itu juga bermukim Yang Mulia Serlingpa Dharmakirti guru akbar Agama Buddha, yg merupakan salah satu rujukan Universitas Nalanda di samping guru-guru akbar lainya seperti Guru Besar Atisha, Guru Besar Nagarjuna, guru akbar Siang Chan dari Tiongkok, & sebagainya. Kita cukup bangga, salah satu guru akbar Nalanda tersebut ternyata adalah Putra Jambi yg bahkan jadi rujukan untuk mereka Kuliah ke Nalanda, India. Tak heran banyak Bhikkhu-Bhikkhu akbar dari China misalnya I-Tsing & sejumlah Bhikkhu lainya berkuliah di Muara Jambi, belajar dengan Serlingpa Dharmakirti sebelum berangkat ke Nalanda, India. Namun sekarang kebesaran tersebut lenyap, yg cuma tertinggal di Muara Jambi cuma situs-situs atau bekas-bekas candi, & artefak-artefak lainya.

Di Jawa, hal yg sama terjadi. Bahkan salah satu keajaiban dunia di bangun di Tanah Jawa, tepatnya di sekitar Magelang yaitu Maha Candi Borobudur. Candi terbesar di dunia & menyimbolkan keagungan yg luar biasa dari Agama Buddha. Lalu kita mengenal kerajaan-kerajaan Buddha, seperti Kerajaan Wangsa Syailendra & kemudian dilanjutkan dengan masa Hindu-Buddha. Kerajaan terakhir yg kita kenal adalah Kerajaan Majapahit yg runtuh di zaman ke 15 akibat perang Paregreg. Jadi punahnya Agama Buddha di jaman Nusantara & sekarang di jaman modern di zaman 21 bukan sesuatu yg aneh & tidak pernah terjadi, namun cuma pengulangan belaka. Sayangnya kita umat Buddha tidak pernah belajar dari kehancuran sejarah ini.

u.p Sugianto Sulaiman

Institut Nagarjuna

https://buddhazine.com/agama-buddha-...c&noamp=mobile Hari ini 20:45
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.