Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Bermula dari bahasa Melayu yg sudah dipakai untuk bahasa perdagangan di Nusantara. Kini, bahasa Melayu sudah jadi bahasa resmi negara Indonesia. Bahasa Melayu masa kini & bahasa Melayu masa lampau memang sangat berbeda. Bahasa Melayu memang sudah menyerap kata-kata dari bahasa Sansekerta ditambah kata-kata serapan dari negeri China.
Dan nenek moyang kita menulis mengpakai aksara Pallawa. Sayang sekali karena penjajahan Belanda, negara kita jadi mengpakai aksara Latin, tidak mengpakai aksara Pallawa atau aksara Kawi.
Namun, sayang sekali sering ada orang-orang yg secara sadar atau tidak, sudah merusak bahasa negaranya sendiri. Ada yg merusaknya dengan cara memasukkan kata-kata asing tanpa mau mencari padanannya. Ada pula yg menciptakan kata-kata pelesetan dengan alasan bahasa gaul kelompoknya. Dan ada lagi yg sengaja mencampur atau sembarang menyerap kata-kata asing.
Sampai ujung-ujungnya saya menemukan sebuah gerakan pemurnian bahasa Melayu. Mereka berusaha untuk menemukan kata-kata yg sesuai untuk memurnikan bahasa Melayu tanpa kata-kata serapan. Gerakan ini pun menciptakan aksara sendiri.
Adakah orang yg merusak bahasa Indonesia ?
Spoiler for Kaum Alay:
Kaum alay adalah orang yg sering dituduh sebagai perusak bahasa. Bagi mereka kata-kata buatan itu adalah cara berteman dengan kaumnya. Mereka menciptakan kata-kata baru yg diikuti oleh alay lainnya.
Contohnya seperti "ciyus miapah ?"
Spoiler for Mr. 2 Bon Clay:
Entah apa istilahnya, tetapi ini pernah muncul di film-film warkop & di sinetron lawak yg dahulu sering ditayangkan di layar kaca. Ciri-cirinya mungkin mudah ditebak, seperti kata-kata yg ujung-ujungnya -sye, -ce, -dang, -tong, atau apa sajalah yg cuma dimengerti oleh mereka.
Spoiler for Gamer masa kini:
Pemain video game masa kini seringkali menciptakan istilah-istilah baru yg menyesatkan. Entah apa tujuannya, sepertinya memang itulah cara mereka berteman di internet. Bermula dari seseorang yg menciptakan istilah aneh, kemudian orang lain ikut-ikutan.
Contohnya seperti kata-kata yg mereka dapatkan dari video game. Misalnya saja... Damage, Ulti, Health Bar, Rank, dll. Entah kenapa mereka malas untuk mengartikannya ke dalam bahasa Indonesia ? Seharusnya kan diganti dengan Kerusakan, Pamungkas, Kesehatan, Peringkat, dll. Apakah dengan mengpakai istilah asing menciptakannya jadi jagoan ?
Ada lagi yg lebih sesat, yaitu 8 bit yg dipakai untuk menyebut gambar yg ada di video game atau konsol lama meskipun konsol itu 32 bit. Atau mengatakan buriq yg merupakan pelesetan dari mengatakan buruk.
Spoiler for Merasa "Pintar":
Pernahkah anda ingat waktu SMP ada pelajaran tentang kata-kata populer & kata-kata kajian ? Ada kata-kata yg dipakai dalam kehidupan sehari-hari, & ada pula kata-kata yg dipakai oleh orang-orang tertentu.
Sayangnya, mereka kelihatannya tidak mau mengpakai padanan untuk kata-kata asing tersebut dengan berbagai alasan. Entah karena tidak menemukannya, terlalu aneh, tidak mau mencarinya, atau memang sengaja untuk membedakan dirinya dengan orang lain.
Contohnya itu kata-kata asing dari Eropa & Arabia. Bahkan ada yg sengaja mengganti kata-kata dari bahasanya sendiri dengan kata-kata asing supaya dirinya terlihat sangat pintar.
Kita sering mendengar kata-kata itu di layar kaca, contohnya seperti yg ujung-ujungnya -si, -is, -isasi, -tif, -tas -ikasi, -al, -logi, -able, -ble, -ing, dll.
Selain itu pun ada yg sukanya mengpakai kata-kata asing meskipun padanannya sudah ditemukan. Ada pula yg mengganti puasa dengan saum, Bhumi dengan Ardhi, Swarga dengan Jannah. Seringkali diucapkan seenak lidah.
Entah ada kepentingan apa mereka mengerjakan itu. Apakah karena harap diketahui sebagai "Orang Pintar" ?
Dan ada pula bahasa anak Jaksel yg gejalanya mirip dengan ini. Bahasanya dicampur aduk tidak jelas.
Demikianlah pembahasan kali ini. Semoga bahasa kita dapat dijauhkan dari segala macam kerusakan. Caranya adalah dengan mencari atau menciptakan kata-kata padanan yg pas untuk mengartikan kata-kata asing tersebut. Intinya jangan menelan mentah-mentah & jangan malas untuk mencari kata-kata padanannya.
Quote:
Hanya menyampaikan kenyataan tanpa bermaksud untuk menyindir siapapun
Sampai jumpa di lain hari
Rinka Hari ini 05:38
Dan nenek moyang kita menulis mengpakai aksara Pallawa. Sayang sekali karena penjajahan Belanda, negara kita jadi mengpakai aksara Latin, tidak mengpakai aksara Pallawa atau aksara Kawi.
Namun, sayang sekali sering ada orang-orang yg secara sadar atau tidak, sudah merusak bahasa negaranya sendiri. Ada yg merusaknya dengan cara memasukkan kata-kata asing tanpa mau mencari padanannya. Ada pula yg menciptakan kata-kata pelesetan dengan alasan bahasa gaul kelompoknya. Dan ada lagi yg sengaja mencampur atau sembarang menyerap kata-kata asing.
Sampai ujung-ujungnya saya menemukan sebuah gerakan pemurnian bahasa Melayu. Mereka berusaha untuk menemukan kata-kata yg sesuai untuk memurnikan bahasa Melayu tanpa kata-kata serapan. Gerakan ini pun menciptakan aksara sendiri.
Adakah orang yg merusak bahasa Indonesia ?
Spoiler for Kaum Alay:
Kaum alay adalah orang yg sering dituduh sebagai perusak bahasa. Bagi mereka kata-kata buatan itu adalah cara berteman dengan kaumnya. Mereka menciptakan kata-kata baru yg diikuti oleh alay lainnya.
Contohnya seperti "ciyus miapah ?"
Spoiler for Mr. 2 Bon Clay:
Entah apa istilahnya, tetapi ini pernah muncul di film-film warkop & di sinetron lawak yg dahulu sering ditayangkan di layar kaca. Ciri-cirinya mungkin mudah ditebak, seperti kata-kata yg ujung-ujungnya -sye, -ce, -dang, -tong, atau apa sajalah yg cuma dimengerti oleh mereka.
Spoiler for Gamer masa kini:
Pemain video game masa kini seringkali menciptakan istilah-istilah baru yg menyesatkan. Entah apa tujuannya, sepertinya memang itulah cara mereka berteman di internet. Bermula dari seseorang yg menciptakan istilah aneh, kemudian orang lain ikut-ikutan.
Contohnya seperti kata-kata yg mereka dapatkan dari video game. Misalnya saja... Damage, Ulti, Health Bar, Rank, dll. Entah kenapa mereka malas untuk mengartikannya ke dalam bahasa Indonesia ? Seharusnya kan diganti dengan Kerusakan, Pamungkas, Kesehatan, Peringkat, dll. Apakah dengan mengpakai istilah asing menciptakannya jadi jagoan ?
Ada lagi yg lebih sesat, yaitu 8 bit yg dipakai untuk menyebut gambar yg ada di video game atau konsol lama meskipun konsol itu 32 bit. Atau mengatakan buriq yg merupakan pelesetan dari mengatakan buruk.
Spoiler for Merasa "Pintar":
Pernahkah anda ingat waktu SMP ada pelajaran tentang kata-kata populer & kata-kata kajian ? Ada kata-kata yg dipakai dalam kehidupan sehari-hari, & ada pula kata-kata yg dipakai oleh orang-orang tertentu.
Sayangnya, mereka kelihatannya tidak mau mengpakai padanan untuk kata-kata asing tersebut dengan berbagai alasan. Entah karena tidak menemukannya, terlalu aneh, tidak mau mencarinya, atau memang sengaja untuk membedakan dirinya dengan orang lain.
Contohnya itu kata-kata asing dari Eropa & Arabia. Bahkan ada yg sengaja mengganti kata-kata dari bahasanya sendiri dengan kata-kata asing supaya dirinya terlihat sangat pintar.
Kita sering mendengar kata-kata itu di layar kaca, contohnya seperti yg ujung-ujungnya -si, -is, -isasi, -tif, -tas -ikasi, -al, -logi, -able, -ble, -ing, dll.
Selain itu pun ada yg sukanya mengpakai kata-kata asing meskipun padanannya sudah ditemukan. Ada pula yg mengganti puasa dengan saum, Bhumi dengan Ardhi, Swarga dengan Jannah. Seringkali diucapkan seenak lidah.
Entah ada kepentingan apa mereka mengerjakan itu. Apakah karena harap diketahui sebagai "Orang Pintar" ?
Dan ada pula bahasa anak Jaksel yg gejalanya mirip dengan ini. Bahasanya dicampur aduk tidak jelas.
Demikianlah pembahasan kali ini. Semoga bahasa kita dapat dijauhkan dari segala macam kerusakan. Caranya adalah dengan mencari atau menciptakan kata-kata padanan yg pas untuk mengartikan kata-kata asing tersebut. Intinya jangan menelan mentah-mentah & jangan malas untuk mencari kata-kata padanannya.
Quote:
Hanya menyampaikan kenyataan tanpa bermaksud untuk menyindir siapapun
Sampai jumpa di lain hari
Rinka Hari ini 05:38