Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Dampak dari peristiwa kecelakaan bus di Subang, Jawa Barat sangat dirasakan oleh pelaku biro perjalanan wisata di Kota Solo.
Biro perjalanan wisata dapat kehilangan separuh dari pendapatannya karena adanya larangan mengerjakan study tour oleh Dinas Pendidikan & Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.
Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Surakarta, Mirza Ananda mengatakan pelarangan study tour itu menciptakan biro perjalanan wisata kehilangan separuh lebih pendapatannya.
Mirza mengungkapkan bahwa pelajar & mahasiswa adalah pasar terbesar baginya.
Besar marketnya. Saya sendiri student itu mungkin 50-60 persen. Besar, ungkap dia saat dihubungi, pada Kamis, 16 Mei 2024, seperti diberitakan dari Tribun Solo.
Mirza melanjutkan, dalam satu tahun pihanya dapat memberangkatkan sekitar 3.000 5.000 siswa, mulai dari jenjang SD hingga universitas.
Kami satu tahun itu memberangkatkan 3-5 ribu siswa. SD hingga Universitas, tambahnya.
Asita menilai ada akibat dari pelarangan study tour dari Dinas Pendidikan & Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. (Foto: Pixabay)
Menurutnya hal ini juga dirasakan pelaku industri lain yg bergerak di bidang pariwisata. Sebab, rombongan siswa sekolah menurutnya memang pasar yg menjanjikan.
Toko oleh-oleh itu silahkan ditanya. Toko kaos itu. Paling akbar itu marketnya mana kalau bukan anak sekolah? Satu kali datang 5-10 bus. Mana ada rombongan seperti itu kalau bukan anak sekolah?, tuturnya.
Mirza menungkapkan, industri di sektor wisata sempat lesu saat pandemi Covid-19. Namun setelah pandemi setelah industri ini terus merangkak naik.
Beberapa pengusaha, mengatakan dia, sudah menanamkan modal yg tidak sedikit. Bahkan beberapa Perusahaan Otobus (PO) menambah armadanya untuk memenuhi permintaan.
Bus wisata itu, teman-teman juga sudah banyak yg menambah armada karena demand-nya naik, ujarnya.
Waah ini lagi rame banget sih, moga aja ada jalan keluarnya ya...
Sumber: Link Referensi
Biro perjalanan wisata dapat kehilangan separuh dari pendapatannya karena adanya larangan mengerjakan study tour oleh Dinas Pendidikan & Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.
Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Surakarta, Mirza Ananda mengatakan pelarangan study tour itu menciptakan biro perjalanan wisata kehilangan separuh lebih pendapatannya.
Mirza mengungkapkan bahwa pelajar & mahasiswa adalah pasar terbesar baginya.
Besar marketnya. Saya sendiri student itu mungkin 50-60 persen. Besar, ungkap dia saat dihubungi, pada Kamis, 16 Mei 2024, seperti diberitakan dari Tribun Solo.
Mirza melanjutkan, dalam satu tahun pihanya dapat memberangkatkan sekitar 3.000 5.000 siswa, mulai dari jenjang SD hingga universitas.
Kami satu tahun itu memberangkatkan 3-5 ribu siswa. SD hingga Universitas, tambahnya.
Asita menilai ada akibat dari pelarangan study tour dari Dinas Pendidikan & Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. (Foto: Pixabay)
Menurutnya hal ini juga dirasakan pelaku industri lain yg bergerak di bidang pariwisata. Sebab, rombongan siswa sekolah menurutnya memang pasar yg menjanjikan.
Toko oleh-oleh itu silahkan ditanya. Toko kaos itu. Paling akbar itu marketnya mana kalau bukan anak sekolah? Satu kali datang 5-10 bus. Mana ada rombongan seperti itu kalau bukan anak sekolah?, tuturnya.
Mirza menungkapkan, industri di sektor wisata sempat lesu saat pandemi Covid-19. Namun setelah pandemi setelah industri ini terus merangkak naik.
Beberapa pengusaha, mengatakan dia, sudah menanamkan modal yg tidak sedikit. Bahkan beberapa Perusahaan Otobus (PO) menambah armadanya untuk memenuhi permintaan.
Bus wisata itu, teman-teman juga sudah banyak yg menambah armada karena demand-nya naik, ujarnya.
Waah ini lagi rame banget sih, moga aja ada jalan keluarnya ya...
Sumber: Link Referensi