• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Abu Vulkanis Kelud di Tangan Warga Solo

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
NYoI8.jpg
Selama tiga jam erupsi, Gunung Kelud memuntahkan 150 juta meter kubikmaterial vulkanik hingga ketinggian 17 kilometer.

Hampir sebagian besar wilayah di Pulau Jawa dibuat kelabu karena sebaran debu vulkanik, tak terkecuali kawasan Soloraya. Sayangnya, tidak semua warga punya cara yang arif untuk membersihkan debu vulkanik.

Mengguyurnya langsung dengan air sama saja menambah sedimentasi di selokan. Akibatnya, bencana banjir bisa saja datang andai seluruh selokan dipenuhi debu vulkanik.

“Di tempat tinggal saya saja sudah ada 15 karung debu vulkanik yang berhasil dikumpulkan warga. Satu karung berisi sekitar 40 kilogram (kg) debu. Kalau jumlahnya 15, jadi total debu vulkanik yang terkumpul mencapai 600 kg. Itu baru satu RT, belum se-Solo. Kalau itu semua dibuang ke selokan, sudah dipastikan warga dan Pemkot Solo akan kalang kabut dibuatnya,” kata FX. Nugroho Apriyanto, 37, warga RT 03/RW 005, Kampung Potrojayan, Kelurahan Serengan, Kecamatan Serengan, Solo, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Kamis (20/2/2014).
6x9J.jpg
Berangkat dari keprihatinan itu, Anto, sapaan akrabnya, berusaha mengajak warga di tempat tinggalnya untuk tidak membuang debu vulkanik sembarangan. Siapa sangka, debu vulkanik yang dianggap sebagai biang pencemaran udara, mematikan aktivitas perekonomian hingga melumpuhkan penerbangan di Jawa itu bisa disulap menjadi kerajinan unik dan bernilai ekonomis.

“Ide itu muncul dua hari setelah Kelud meletus. Saat itu saya mencoba membuat tempat lilin dari bahan dasar debu vulkanik. Hasilnya ternyata bagus. Saya lalu mengumpulkan warga dan mengajak warga membikin kerajinan serupa. Rencananya, hasil penjualan kerajinan itu akan diberikan langsung kepada korban erupsi Gunung Kelud,” jelas ayah dua orang anak ini.

Anto berhasil mengajak setidaknya 35 warga yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga. Mereka sudah mulai membuat kerajinan itu sejak Sabtu (16/2). Beberapa kerajinan tangan berbahan dasar debu vulkanik tersebut antara lain asbak, pot bunga, tempat lilin, tempat bolpoin, tatakan, dan lain-lain. Asbak yang dibuat dari bahan dasar debu vulkanik itu bentuknya bermacam-macam.

Tidak hanya segi empat maupun tiga, asbak tersebut juga dibuat menyerupai berbagai binatang seperti kadal, kura-kura, kepiting dan lain-lain. Tempat bolpoin tersebut juga dibuat aneka bentuk tergantung dari kreativitas warga.

“Kami rencananya akan menjual kerajinan ini di Balai Kota, Loji Gandrung dan saat perhelatan car free day. Kami tidak memasang harga. Berapapun uang yang dibayarkan akan kami terima. Uang itu akan kami sumbangkan kepada korban erupsi Gunung Kelud,” papar Anto.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.