Constantine
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 64676
- Sejak
- 19 Feb 2009
- Pesan
- 6.946
- Nilai reaksi
- 320
- Poin
- 83
Sebelumnya gw uda bahas mengenai co metro seksual here:
http://indoforum.org/showthread.php?t=76043&highlight=metroseksual
so.. no flame about this type... wkwkwkw
kalo mau didebatin.. masuk ajah ke CD....
Nah, sekedar pengetahuan ajah... gw barusan googling en nemu artikel dari esmartstudent yang cukup panjang... hahahaha..... /hah
ok deh.. gw copas dimari... sekedar tahu gambaran lebih jelas dari co metro di masyarakat..
1. Latar Belakang
Ingin menjadi seperti David Beckham pesepak bola asal Inggris yang handal dan keren baik di lapangan maupun di luar lapangan? Jika jawaban anda adalah ya, maka bersiaplah untuk menghabiskan uang yang banyak untuk urusan busana, menghabiskan waktu berjam-jam didepan cermin mengurusi penampilan diri,_bahkan melebihi istrinya sendiri, Victoria "Posh" adam-mantan anggota grup musik spice girl_ dan meluangkan banyak waktu untuk menikur, pedikur, dan banyak memanjakan diri di spa maupun salon.
David Beckham tidak lagi hanya terkenal sebagai pemain klub sepakbola Real Madrid yang andal. Kini, ia juga lambang metroseksual. Lambang lelaki yang sangat memperhatikan penampilan sehari-hari. Lelaki yang sangat peduli terhadap kesempurnaan setiap jengkal tubuhnya. Lelaki yang dalam merawat tubuhnya tidak kalah dari perempuan. Memakai parfum, facial, pembersih wajah, pelembap (moisturizer), spa, atau bahkan merawat kuku-kukunya.
Manusia memang selalu menjadi objek penelitian yang menarik diberbagai bidang ilmu pengetahuan, masih banyak misteri pada diri manusia yang belum terungkap. Demikianpun perilaku manusia, banyak teori dan model-model yang telah dikembangkan agar dapat memahami perilaku yang komplek dari mahluk yang bernama manusia. Banyak teori yang sudah diciptakan untuk dapat memahami hal-hal yang mendasari seseorang untuk bertingkah laku; kenapa, bagaimana, kapan, siapa, dan dimana sajakah lingkungan atau suatu hal dapat mempengaruhi perilaku seseorang.
Diantara berbagai macam teori dan model perilaku kesehatan yang saat ini menonjol adalah Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief Model), Model Komunikasi atau Persuasi (Communication or Persuation Model), Teori Aksi Beralasan (Theory of Reasoned Action), Model Transteoritik (Transtheoretical Model), Precede or Proceed Model, Model difusi inovasi (Diffusions of Innovation Model), Teori Pemahaman Sosial (Social learning Theory), dan Analsisi Perilaku terapan (Applied Behavior Analysis).
Hendrik L Blum dari hasil penelitiannya di Amerika menyatakan bahwa status kesehatan seseorang itu dipengaruhi oleh 4 faktor; genetik atau keturunan, pelayanan kesehatan, lingkungan, dan perilaku. Blum menyimpulkan bahwa lingkungan mempunyai andil yang paling besar terhadap status kesehatan; kemudian berturut-turut disusul oleh perilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan yang mempunya andil paling kecil terhadap status kesehatan. Bagaimana proporsi pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap status kesehatan di negara-negara berkembang, terutama di Indonesia, masih belum ada penelitian. Namun apabila dilakukan penelitian, maka mungkin perilaku mempunyai kontribusi yang paling besar. Dr Soekidjo Notoatmodjo melakukan penelitian di kecamatan Pasar rebo Jakarta Timur tentang survei status gizi anak balita dengan menggunakan analisis stepwise, membuktikan bahwa variabel perilaku terseleksi, sedangkan variabel pendapatan per kapita (ekonomi) tidak terseleksi. Meskipun variabel ekonomi di sini belum mewakili seluruh variabel lingkungan, tetapi paling tidak pengaruh perilaku lebih besar dari variabel-variabel lain.
Faktor genetik atau keturunan merupakan faktor yang sulit untuk diintervensi karena bersifat bawaan dari orang tua. Penyakit atau kelainan-kelainan tertentu seperti diabetes mellitus, buta warna, albino, atau yang lainnya, bisa diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya atau dari generasi ke generasi. Pencegahannya cukup sulit karena menyangkut masalah gen atau DNA. Pencegahan yang paling efektif adalah dengan menghindari gen pembawa sifatnya.
Faktor pelayanan kesehatan lebih berkait dengan kinerja pemerintahan yang sedang berkuasa. Kesungguhan dan keseriusan pemerintah dalam mengelola pelayanan kesehatan menjadi penentu suksesnya faktor ini. kader desa, puskesmas, dan posyandu menjadi ujung tombak dalam peningkatan status kesehatan masyarakat.
Faktor lingkungan menempati urutan ke-3 dalam indikator kunci status kesehatan masyarakat. Ketinggian, kelembaban, curah hujan, kondisi satwa maupun tumbuhan memainkan peranan di sini. Tetapi bagaimanapun juga, kondisi lingkungan dapat dimodifikasi dan dapat diperkirakan dampak atau ekses buruknya sehingga dapat di carikan solusi ataupun kondisi yang paling optimal bagi kesehatan manusia.
Dari ke empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang, perilaku mengambil bagian yang paling besar. Perilaku mengambil bagian terbesar dari faktor penentu status kesehatan seseorang karena sesungguhnya pola hidup yang sehat dan baik akan membentuk tubuh yang kuat, sehat, serta terhindar dari penyakit. Hal-hal seperti tidak merokok, menjauhi alkohol, olah raga teratur, pola makan yang baik, istirahat yang cukup akan dapat meningkatkan imunitas atau daya tahan seseorang, sehingga meskipun lingkungan masih kurang baik, pelayanan kesehatan berkualitas rendah, dan tubuh memilikin gen atau pembawa sifat yang kurang menguntungkan dapat diminimalisir efek buruknya dengan pola hidup yang sehat dan baik.
Sebuah perilaku baru telah teramati, khususnya di daerah ibukota. Para pengusaha atau orang-orang yang telah mapan dalam karirnya banyak menghabiskan waktu dan biaya untuk melakukan perawatan diri, pemanjaan diri lebih tepatnya. Perilaku tersebut adalah metroseksual. Orang-orang metroseksual biasanya adalah orang yang memiliki karir yang cerah, kondisi finansial yang baik, dan sangat perhatian terhadap penampilan diri. Mereka suka meluangkan waktu untuk melakukan perawatan diri seperti pergi ke salon untuk menikur, pedikur, creambath; spa;dan fitnes center. Mereka juga tidak ragu untuk menghabiskan berjuta-juta rupiah untuk memperindah penampilan mereka, karena itulah pakaian, sepatu, bahkan parfum yang mereka gunakan biasanya adalah produk impor.
Seorang pria metroseksual rata-rata menghabiskan 1-2 jam di pagi hari untuk kegiatan rutin dan rela berjam-jam di salon atau spa selama week end untuk memanjakan diri (sebagai kompensasi dari kerja kerasnya selama Senin - Jum'at). Salah seorang pria metroseksual yang tergolong pengusaha muda menjelaskan rutinitas kegiatan pagi harinya itu seperti mandi, olahraga ringan, memilih baju yang sesuai, memakai face moisturiser, bedak tipis, lip gloss, parfum, dan mengoleskan gel rambut, memakan waktu 1,5 jam. Di tas kerjanya pun tidak ketinggalan dengan bedak, lip gloss, penyegar mulut, sikat gigi, parfum serta perlengkapan bisnisnya.
Itu baru dari segi waktu. Belum lagi dari biaya. Rata-rata seorang pria metroseksual menghabiskan dana Rp. 2 - 5 juta perbulan untuk memenuhi kebutuhannya. Mulai dari ke salon atau spa, membeli baju, parfum serta aksesoris lainnya. Tapi seorang pria seperti ini juga terlihat segar dan bugar karena rutin menjaga kondisi badannya dengan fitnes. Angka itu teramat wajar dan kecil bagi seorang pria berpenghasilan Rp. 30 - 50 juta perbulan. Perut tidak boleh berlemak, kerut-kerutan di wajah sebisa mungkin dihilangkan. Mereka menghalalkan penggunaan bedah plastik untuk mencapai tujuan tersebut.
Para pria penganut paham metroseksual ini tidak lagi takut disebut banci dengan menyapu bedak tipis-tipis atau sekedar mengoleskan cream tabir surya di wajahnya. Para metroseksual ini bahkan berani melakukan eksperimen dengan baju yang dipakainya. Kemeja warna pink yang diserasikan dengan dasi senada bukan tabu untuk dipakai. Lebih ekstrim lagi, ada pria metroseksual yang memakai stocking jaring-jaring dalam kesehariannya.
2. Tujuan
3. Manfaat
Mendapatkan gambaran perilaku metroseksual yang sedang berkembang di masyarakat.
Mengetahui faktor-faktor penyebab atau pembentuk dari perilaku metroseksual.
Mengetahui dampak yang mungkin ditimbulkan oleh perilaku metroseksual.
4. Ruang Lingkup
Melihat gambaran perilaku metroseksual yang sedang berkembang di masyarakat saat ini (tahun 2003-2004) di daerah perkotaan atau urban khususnya terhadap para eksekutif atau enterpreneur muda dan para selebritis untuk mengetahi sebab dan dampak dari perilaku ini dari sisi kesehatan dan ekonomi.
5. Metode Penulisan
Metode penulisan kaya ilmiah ini adalah dengan melakukan studi penelitian kepustakaan baik yang beraal dari buku-buku perpustakaan, majalah, koran, artikel-artikel,maupun yang beraal dari internet.
berlanjut ke post kedua..soalnya g cukup spacenya...
http://indoforum.org/showthread.php?t=76043&highlight=metroseksual
so.. no flame about this type... wkwkwkw
kalo mau didebatin.. masuk ajah ke CD....Nah, sekedar pengetahuan ajah... gw barusan googling en nemu artikel dari esmartstudent yang cukup panjang... hahahaha..... /hah
ok deh.. gw copas dimari... sekedar tahu gambaran lebih jelas dari co metro di masyarakat..
BAB. I Pendahuluan
1. Latar Belakang
Ingin menjadi seperti David Beckham pesepak bola asal Inggris yang handal dan keren baik di lapangan maupun di luar lapangan? Jika jawaban anda adalah ya, maka bersiaplah untuk menghabiskan uang yang banyak untuk urusan busana, menghabiskan waktu berjam-jam didepan cermin mengurusi penampilan diri,_bahkan melebihi istrinya sendiri, Victoria "Posh" adam-mantan anggota grup musik spice girl_ dan meluangkan banyak waktu untuk menikur, pedikur, dan banyak memanjakan diri di spa maupun salon.
David Beckham tidak lagi hanya terkenal sebagai pemain klub sepakbola Real Madrid yang andal. Kini, ia juga lambang metroseksual. Lambang lelaki yang sangat memperhatikan penampilan sehari-hari. Lelaki yang sangat peduli terhadap kesempurnaan setiap jengkal tubuhnya. Lelaki yang dalam merawat tubuhnya tidak kalah dari perempuan. Memakai parfum, facial, pembersih wajah, pelembap (moisturizer), spa, atau bahkan merawat kuku-kukunya.
Manusia memang selalu menjadi objek penelitian yang menarik diberbagai bidang ilmu pengetahuan, masih banyak misteri pada diri manusia yang belum terungkap. Demikianpun perilaku manusia, banyak teori dan model-model yang telah dikembangkan agar dapat memahami perilaku yang komplek dari mahluk yang bernama manusia. Banyak teori yang sudah diciptakan untuk dapat memahami hal-hal yang mendasari seseorang untuk bertingkah laku; kenapa, bagaimana, kapan, siapa, dan dimana sajakah lingkungan atau suatu hal dapat mempengaruhi perilaku seseorang.
Diantara berbagai macam teori dan model perilaku kesehatan yang saat ini menonjol adalah Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief Model), Model Komunikasi atau Persuasi (Communication or Persuation Model), Teori Aksi Beralasan (Theory of Reasoned Action), Model Transteoritik (Transtheoretical Model), Precede or Proceed Model, Model difusi inovasi (Diffusions of Innovation Model), Teori Pemahaman Sosial (Social learning Theory), dan Analsisi Perilaku terapan (Applied Behavior Analysis).
Hendrik L Blum dari hasil penelitiannya di Amerika menyatakan bahwa status kesehatan seseorang itu dipengaruhi oleh 4 faktor; genetik atau keturunan, pelayanan kesehatan, lingkungan, dan perilaku. Blum menyimpulkan bahwa lingkungan mempunyai andil yang paling besar terhadap status kesehatan; kemudian berturut-turut disusul oleh perilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan yang mempunya andil paling kecil terhadap status kesehatan. Bagaimana proporsi pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap status kesehatan di negara-negara berkembang, terutama di Indonesia, masih belum ada penelitian. Namun apabila dilakukan penelitian, maka mungkin perilaku mempunyai kontribusi yang paling besar. Dr Soekidjo Notoatmodjo melakukan penelitian di kecamatan Pasar rebo Jakarta Timur tentang survei status gizi anak balita dengan menggunakan analisis stepwise, membuktikan bahwa variabel perilaku terseleksi, sedangkan variabel pendapatan per kapita (ekonomi) tidak terseleksi. Meskipun variabel ekonomi di sini belum mewakili seluruh variabel lingkungan, tetapi paling tidak pengaruh perilaku lebih besar dari variabel-variabel lain.
Faktor genetik atau keturunan merupakan faktor yang sulit untuk diintervensi karena bersifat bawaan dari orang tua. Penyakit atau kelainan-kelainan tertentu seperti diabetes mellitus, buta warna, albino, atau yang lainnya, bisa diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya atau dari generasi ke generasi. Pencegahannya cukup sulit karena menyangkut masalah gen atau DNA. Pencegahan yang paling efektif adalah dengan menghindari gen pembawa sifatnya.
Faktor pelayanan kesehatan lebih berkait dengan kinerja pemerintahan yang sedang berkuasa. Kesungguhan dan keseriusan pemerintah dalam mengelola pelayanan kesehatan menjadi penentu suksesnya faktor ini. kader desa, puskesmas, dan posyandu menjadi ujung tombak dalam peningkatan status kesehatan masyarakat.
Faktor lingkungan menempati urutan ke-3 dalam indikator kunci status kesehatan masyarakat. Ketinggian, kelembaban, curah hujan, kondisi satwa maupun tumbuhan memainkan peranan di sini. Tetapi bagaimanapun juga, kondisi lingkungan dapat dimodifikasi dan dapat diperkirakan dampak atau ekses buruknya sehingga dapat di carikan solusi ataupun kondisi yang paling optimal bagi kesehatan manusia.
Dari ke empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang, perilaku mengambil bagian yang paling besar. Perilaku mengambil bagian terbesar dari faktor penentu status kesehatan seseorang karena sesungguhnya pola hidup yang sehat dan baik akan membentuk tubuh yang kuat, sehat, serta terhindar dari penyakit. Hal-hal seperti tidak merokok, menjauhi alkohol, olah raga teratur, pola makan yang baik, istirahat yang cukup akan dapat meningkatkan imunitas atau daya tahan seseorang, sehingga meskipun lingkungan masih kurang baik, pelayanan kesehatan berkualitas rendah, dan tubuh memilikin gen atau pembawa sifat yang kurang menguntungkan dapat diminimalisir efek buruknya dengan pola hidup yang sehat dan baik.
Sebuah perilaku baru telah teramati, khususnya di daerah ibukota. Para pengusaha atau orang-orang yang telah mapan dalam karirnya banyak menghabiskan waktu dan biaya untuk melakukan perawatan diri, pemanjaan diri lebih tepatnya. Perilaku tersebut adalah metroseksual. Orang-orang metroseksual biasanya adalah orang yang memiliki karir yang cerah, kondisi finansial yang baik, dan sangat perhatian terhadap penampilan diri. Mereka suka meluangkan waktu untuk melakukan perawatan diri seperti pergi ke salon untuk menikur, pedikur, creambath; spa;dan fitnes center. Mereka juga tidak ragu untuk menghabiskan berjuta-juta rupiah untuk memperindah penampilan mereka, karena itulah pakaian, sepatu, bahkan parfum yang mereka gunakan biasanya adalah produk impor.
Seorang pria metroseksual rata-rata menghabiskan 1-2 jam di pagi hari untuk kegiatan rutin dan rela berjam-jam di salon atau spa selama week end untuk memanjakan diri (sebagai kompensasi dari kerja kerasnya selama Senin - Jum'at). Salah seorang pria metroseksual yang tergolong pengusaha muda menjelaskan rutinitas kegiatan pagi harinya itu seperti mandi, olahraga ringan, memilih baju yang sesuai, memakai face moisturiser, bedak tipis, lip gloss, parfum, dan mengoleskan gel rambut, memakan waktu 1,5 jam. Di tas kerjanya pun tidak ketinggalan dengan bedak, lip gloss, penyegar mulut, sikat gigi, parfum serta perlengkapan bisnisnya.
Itu baru dari segi waktu. Belum lagi dari biaya. Rata-rata seorang pria metroseksual menghabiskan dana Rp. 2 - 5 juta perbulan untuk memenuhi kebutuhannya. Mulai dari ke salon atau spa, membeli baju, parfum serta aksesoris lainnya. Tapi seorang pria seperti ini juga terlihat segar dan bugar karena rutin menjaga kondisi badannya dengan fitnes. Angka itu teramat wajar dan kecil bagi seorang pria berpenghasilan Rp. 30 - 50 juta perbulan. Perut tidak boleh berlemak, kerut-kerutan di wajah sebisa mungkin dihilangkan. Mereka menghalalkan penggunaan bedah plastik untuk mencapai tujuan tersebut.
Para pria penganut paham metroseksual ini tidak lagi takut disebut banci dengan menyapu bedak tipis-tipis atau sekedar mengoleskan cream tabir surya di wajahnya. Para metroseksual ini bahkan berani melakukan eksperimen dengan baju yang dipakainya. Kemeja warna pink yang diserasikan dengan dasi senada bukan tabu untuk dipakai. Lebih ekstrim lagi, ada pria metroseksual yang memakai stocking jaring-jaring dalam kesehariannya.
2. Tujuan
- Menggambarkan perilaku metroseksual yang sedang berkembang di masyarakat.
- Menjelaskan faktor-faktor penyebab atau pembentuk dari perilaku metroseksual.
- menjelaskan dampak kesehatan dan ekonomi perilaku metroseksual.
3. Manfaat
Mendapatkan gambaran perilaku metroseksual yang sedang berkembang di masyarakat.
Mengetahui faktor-faktor penyebab atau pembentuk dari perilaku metroseksual.
Mengetahui dampak yang mungkin ditimbulkan oleh perilaku metroseksual.
4. Ruang Lingkup
Melihat gambaran perilaku metroseksual yang sedang berkembang di masyarakat saat ini (tahun 2003-2004) di daerah perkotaan atau urban khususnya terhadap para eksekutif atau enterpreneur muda dan para selebritis untuk mengetahi sebab dan dampak dari perilaku ini dari sisi kesehatan dan ekonomi.
5. Metode Penulisan
Metode penulisan kaya ilmiah ini adalah dengan melakukan studi penelitian kepustakaan baik yang beraal dari buku-buku perpustakaan, majalah, koran, artikel-artikel,maupun yang beraal dari internet.
BAB. II Tinjauan Pustaka
1. Perilaku
Menurut ahli perilaku, Skinner (1979), mengemukakan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus), dan tanggapan (respon). Respon dibedakan menjadi 2, yaitu:
Respondent response atau reflexive response, adalah respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini disebut electing stimuli karena respon-respon yang relatif tetap, misalnya makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur, sinar matahari membuat mata tertutup. Perangsangan yang demikian ini biasanya mendahului respon yang ditimbulkan.
Operant response atau instrumental response, adalah respon yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer karena perangsangan tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan. Oleh karena itu perangsangan yang demikian itu mengikuti atau memperkuat suatu perilaku tertentu yang telah dilakukan. Apabila seorang anak rajin belajar atau setelah melakukan suatu perbuatan memperoleh hadiah, maka ia akan menjadi lebih giat belajar atau akan lebih baik lagi melakukan perbuatan tersebut, dengan kata lain responnya akan lebih intensif atau lebih kuat lagi.
Sedangkan menurut Notoatmodjo (1997), yang dimaksud dengan perilaku adalah suatu respon organisme terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut, respon ini dapat berbentuk 2 macam, yakni:
Bentuk pasif adalah respon internal, yaitu terjadi di dalam diri individu dan tidak dapat langsung dilihat oleh orang lain, seperti berpikir, tanggapan atau sikap batin, dan pengetahuan. Perilakunya sendiri masih terselubung yang disebut covert behavior.
Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Perilaku disini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata yang disebut over behavior.
Menurut Green (1980) dalam buku Notoatmodjo (1993) menganalisis bahwa perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan dimana kesehatan ini dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yakni faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes). selanjutnya perilaku itu sendiri terbentuk dari 3 faktor, yaitu:
Faktor predisposisi (predisposing factors), merupakan faktor antesenden terhadap perilaku yang menjadi dasar motivasi bagi pelaku. yang masuk dalam faktor ini adalah pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai.
Faktor pemungkin (enabling factros), adalah faktor antesenden terhadap perilaku yang memungkinkan suatu motivasi atau aspirasi terlaksana. faktor ini terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana kesehatan, misalnya: puskesmas.
Faktor penguat (reinforcing factors), merupakan faktor penyerta yang datang sesudah perilaku, memberikan ganjaran intensif atau hukuman atas perilaku dan berperan bagai menetap atau lenyapnya perilaku itu. termasuk dalam faktor ini adalah manfaat sosial, jasmani, ganjaran nyata ataupun tidak nyata yang diterima oleh pihak lain (vicarious rewards).
2. Model atau Teori Perilaku
Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief Model)
Model kepercayaan kesehatan (Rosenstock, 1974, 1977) sangat dekat dengan bidang pendidikan kesehatan. Model ini menganggap bahwa perilaku kesehatan merupakan fungsi dari pengetahuan maupun sikap. Secara khusus model ini menegaskan bahwa persepsi seseorang tentang kerentanan dan kemujaraban pengobatan dapat mempengaruhi keputusan seseorang dalam perilaku-perilaku kesehatannya.
Menurut model kepercayaan kesehatan (Becker, 1974, 1979) perilaku ditentukan oleh apakah seseorang: (1) percaya bahwa mereka rentan terhadap masalah kesehatan tertentu; (2) menganggap bahwa masalah ini serius; (3) meyakini efektivitas tujuan pengobatan dan pencegahan; (4) tidak mahal; (5) menerima anjuran untuk mengambil tindakan kesehatan.
Model Komunikasi atau Persuasi (Communication or Persuation Model)
Model komunikasi atau persuasi (Mc guire, 1964) menegaskan bahwa komunikasi dapat dipergunakan untuk mengubah sikap dan perilaku kesehatan yang secara langsung terkait dalam rantai kausal yang sama. Efektivitas upaya komunikasi yang diberikan bergantung pada berbagai input (atau stimulus) serta output (atau tanggapan terhadap stimulus). Menurut model komunikasi atau persuasi, perubahan pengetahuan dan sikap merupakan prekondisi bagi perubahan perilaku kesehatan atau perilaku-perilaku yang lain. Variabel-variabel input meliputi: sumber pesan, pesan itu sendiri, saluran penyampai, dan karakteristik penerima , serta tujuan pesan-pesan tersebut. Variabel-variabel output merujuk pada perubahan dalam faktor-faktor kognitif tertentu, seperti pengetahuan, sikap, pembuatan keputusan, dan juga perilaku-perilaku yang dapat diobservasi.
Teori Aksi Beralasan (Theory of Reasoned Action)
Teori aksi beralasan (Fishbein dan Ajzen, 1975, 1980) menegaskan peran dari niat seseorang dalam menentukan apakah sebuah perilaku akan terjadi. Teori ini secara tidak langsung menyatakan bahwa perilaku pada umumnya mengikuti niat dan tidak akan pernah terjadi tanpa niat. Niat-niat seseorang juga dipengaruhi oleh sikap-sikap terhadap suatu perilaku , seperti apakah ia merasa perilaku itu penting. Teori ini juga menegaskan sikap "normatif" yang mungkin dimiliki orang-orang; mereka berpikir tentang apa yang akan dilakukan orang lain-(terutama, orang-orang yang berpengaruh dalam kelompok) pada suatu situasi yang sama.
Model Transteoritik (Thranstheoretical Model)
Model trnasteoretik (atau "Model Bertahap", "Stages of Change"), sesuai namanya , mencoba menerangkan serta mengukur perilaku kesehatan dengan tidak bergantung pada perangkap teoritik tertentu. Proschaska dan kawan-kawan (1979) mula-mula bermaksud menjelaskan proses apa yang terjadi bila peminum alkohol berhenti minum alkohol, dan juga terhadap proses dalam berhenti merokok. Penelitian ini mengidentifikasikan 4 tahap independen: prekontemplasi, kontemplasi, aksi, dan pemeliharaan. "Prekontemplasi" mengacu pada tahap bila seseorang belum memikirkan sebuah perilaku sama sekali , orang itu belum bermaksud mengubah suatu perilaku. Dalam tahap "kontemplasi", seseorang benar-benar memikirkan suatu perilaku, namun masih belum siap untuk melakukannya. Tahap "aksi" mengacu kepada keadaan bila orang telah melakukan perubahan perilaku, sedangkan "pemeliharaan" merupakan pengentalan jangka panjang dari perubahan yang telah terjadi. Dalam tahap "aksi" maupun "pemeliharaan", "kekambuhan" dapat terjadi, yaitu individu kembali pada pola perilaku sebelum "aksi"
Model transteori sejalan dengan teori-teori rasional atau teori-teori pembuatan keputusan dan teori ekonomi yang lain, terutama dalam mendasarkan diri pada proses-proses kognitif untuk menjelaskan perubahan perilaku.
Precede or Proceed Model
Selama lebih dari satu dasawarsa terakhir, Lawrence Green dan rekan-rekannya mengembangkan Precede or proceed model, yang sekarang ini terkenal untuk merencanakan program-program pendidikan kesehatan (Green, Kreuter, Deeds, dan Patridge, 1980; Green & Kreuter, 1991) meskipun model ini mendasarkan diri pada model kepercayaan kesehatan dan sistem-sistem konseptual lain, namun model precede merupakan model "sejati", yang lebi mengarah kepada upaya-upaya pragmatik memgubah perilaku kesehatan dari pada sekedar upaya pengembangan teori. Green dan rekan-rekannyamenganalisis kebutuhan kesehatan komunitas dengan cara menetapkan 5 diagnosis yang berbeda, yaitu diagnosis sosial, diagnosis epidemiologi, diagnosis perilaku, diagnmosis pendidikan, dan diagnosis administrasi atau kebijakan.
Difusi Inovasi
Model difusi inovasi (Rogers & Shoemaker, 1971; Rogers, 1973) menegaskan peran agen-agen perubahan dalam lingkungan sosial, oleh karena itu mengambil fokus yang agak terpisah dari individu sasaran utama.
Teori Pemahaman Sosial (Social Learning Theory)
Teori pemahaman sisial menekankan pada hubungan segitiga antara orang (menyangkut proses-proses kognitif), perilaku, dan lingkungan dalam suatu proses deterministik resiprokal (atau kausalitas Resiprokal) (Bandura, 1977; Rotte, 1954) kalau lingkungan menetukan atau menyebabkan terjadi perilaku kebanyakan, maka seorang individu menggunaka proses kognitifnya untuk menginterpretasikan lingkungannya maupun perilaku yang dijalankannya, serta memberikan reaksi dengan cara mengubah lingkungan dan menerima hasil perilaku yang lebih baik. oleh karena itu teori pemahaman sisial menjembatani jurang pemisah antara model-model kognitif, atau model-model yang berorientasi pada pembuatan keputusan rasional, dengan teori-teori lain diatas.
3. Metroseksual
Metroseksual. Etimologi: dari kata Yunani, metropolis artinya ibu kota plus seksual. Definisi: sosok narsistik dengan penampilan dandy, yang jatuh cinta tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga gaya hidup urban.
Evolusi tren gaya pria bisa disiratkan melalui film-film James Bond. Di era 1970-an, Mr. Bond diperankan Sean Connery yang sangat macho, dengan rahang keras dan kadang berewokan. Medio 1980-an agen rahasia Inggris ini tampil lebih lembut dan necis, sebagaimana diwakili Roger Moore (dan Timothy Dalton). Memasuki dekade 1990-an, sosok agen 007 diwakili Pierce Brosnan yang sangat dendi. Busana dan aksesorinya menjadi semakin stylish dan branded, rambutnya pun sangat kelimis. Dan, jika diperhatikan, Bond di era 1990-an dan 2000 lebih kerap mematut diri di depan kaca dibanding pada era sebelumnya. Bisa dikatakan, Brosnan adalah proto-metroseksual.
Kesamaan ini bukan sekadar kebetulan. Brosnan menjadi perwujudan sosok Bond berbarengan dengan mulai munculnya tren metroseksual di daratan Eropa dan Amerika. Istilah metroseksual sendiri diperkenalkan Mark Simpson, kolomnis fashion Inggris, dalam bukunya, Male Impersonators: Men Performing Masculinity, pada 1994 untuk menggambarkan kelompok anak muda berkocek tebal yang hidup di kota besar (metropolis) atau di sekitarnya, sangat menyayangi bahkan cenderung memuja diri sendiri (narcisstic), serta sangat tertarik pada fashion dan perawatan tubuhnya. Kulit mereka mulus, lembut dan harum. Wajahnya yang halus tampak dipoles bedak tipis, sementara kukunya dicat dan bibirnya dioles lip balm -- bahkan kadang terlihat mengilap karena dipulas lip gloss.
Meski sama-sama pesolek dan pemuja diri sendiri, metroseksual ini tak bisa disamakan dengan dendi. Bahkan, Simpson menyebut dendi adalah gaya kaum bangsawan abad ke-18. Pasalnya, meski sama-sama rapi, harum, dan gemar berlama-lama di depan cermin, gaya busana para dendi cenderung konservatif dan mengikuti pakem, sementara kaum metroseksual justru dicirikan dengan keberaniannya mendobrak aturan dan bereksperimen dengan fashion.
Namun, jangan tergesa-gesa memberi label negatif kepada kaum metroseksual. Mereka adalah pekerja cerdas yang penuh percaya diri serta sangat peduli pada keluarganya dan teman-temannya. Umumnya mereka pasangan setia yang penuh perhatian pada keluarganya. Mereka bukan figur ayah yang gagah, kulitnya berminyak dan tubuhnya beraroma tembakau atau keringat, tahu segala hal, dan penentu segala keputusan yang tak bisa dibantah. Jauh dari itu, kaum metroseksual adalah suami yang tak ragu menggandeng dan mencium istrinya di muka umum, ayah yang tubuhnya selalu segar dan wangi, gemar merangkul anak-anaknya, sama-sama belanja di mal, menonton film atau berburu pernik-pernik aksesori. Pendeknya, mereka adalah teman yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Ferry Salim dan Jeremy Thomas, misalnya, acap terlihat di mal dan bioskop sambil menggandeng anak dan istrinya.
Tren metroseksual, sebagaimana tren-tren lainnya, mungkin akan berlalu. Namun, jejak-jejak yang ditinggalkannya akan membekas dalam. Tren ini menyadarkan kita, bahwa kehidupan mempunyai banyak sisi: selain berkarya, ada juga saat bermanja; selain kantor dan kolega, ada pula rumah dan keluarga. Semuanya membutuhkan keseimbangan. Kita percaya bahwa fenomena ini tidak sekadar menghasilkan peluang pasar, tetapi juga generasi baru yang lebih akrab dengan orang tuanya, dan penuh perhatian pada diri sendiri ataupun lingkungannya.
4. Contoh Pria-Pria Metroseksual
Meski awalnya sempat dipandang dengan tatapan heran, nyatanya fenomena metroseksual terus merebak. Mulanya tren ini hanya menjangkiti para model, artis dan orang-orang media, belakangan ia terus meluas ke kalangan olahragawan, pebisnis (khususnya eksekutif muda kota besar), pengacara, bahkan diplomat! Majalah The Economist edisi 5 Juli 2003 mengungkapkan, di Amerika Serikat jumlah kaum metroseksual mencapai 30%-35%. Mayoritas dari mereka adalah pekerja profesional dan eksekutif muda.
Beckham bukan satu-satunya pria pesolek. Di deretan pesohor saja ada Brad Pitt, George Clooney, Antonio Banderas, Ian Thorpe, Tom Cruz, dan masih banyak lagi. Tren metroseksual juga bukan monopoli New York, London, Paris atau kota-kota dunia lainnya. Di Indonesia pun gaya ini tengah digandrungi pria metropolitan – terutama di Jakarta, Surabaya dan Bandung. Ketika beberapa waktu lalu Majalah Femina menggelar ajang pemilihan pria terseksi di Indonesia, nama-nama yang muncul: Ferry Salim, Ari Wibowo, Nicholas Saputra, Jeremy Thomas dan Adjie Massaid. Semuanya bagian dari kalangan selebriti yang memang harus selalu tampil berdandan, merawat diri, suka pesta, hedonis, dan aktif mengikuti fashion. Bukan rahasia lagi, waktu dandan yang dibutuhkan penyanyi berambut gimbal Marcell Siahaan sampai tiga kali lebih lama ketimbang istrinya, Dewi "Dee" Lestari Mangunsong. Salah satu anggota trio Rida-Sita-Dewi dan penulis sejumlah novel laris ini cuma butuh waktu 20 menit untuk merias wajah dan urusan dandan lainnya.
Marcell tidak hanya rajin ke salon untuk mengeramas, meng-cream bath dan mengelabang rambut gimbalnya, tapi juga untuk facial, manikur dan pedikur. Busananya pun harus serba padu padan (matching) hingga ke pakaian dalam. Begitu pula Ferry Salim, Ari "Ale" Sihasale, Jeremy Thomas, Nico Siahaan, Anjasmara dan Roger Danuarta. Para eksekutif pun tak mau kalah dari para pesohor tadi. Lihat saja gaya Alino Sugianto (Country Manager Ericsson), Tommy Pratama (Promotor Original Production), Dino Patti Djalal (diplomat), Johanes Dermawan (pengusaha sejumlah kafe), Ari Batubara (PT Wiraswasta Gemilang Indonesia, penyalur/distributor Valube dan Pennzoil), Nico Gunze (pemilik Nico Nico Intimo Lingerie, Kemang), dan banyak lagi yang lain.
"Sebagai entertainer, saya dituntut untuk tampil prima dan tidak ingin mengecewakan fans saya," terang Ferry. Dia menegaskan, sebelum fenomena metroseksual itu merebak, memperhatikan perawatan tubuh sudah dilakukan sejak masa-masa di bangku SMA. Ferry sudah rajin melakukan creambath, spa, facial, manicure, dan pedicure. "Semua perawatan itu rutin saya lakukan setiap bulan. Facial, manicure, pedicure, dan potong rambut dilakukan istri sendiri. Sedangkan sisanya, yaitu creambath dan spa, saya lakukan di salon langganan yang berada di Jakarta," terang Ferry.
Untuk urusan perawatan tubuh, Ferry sedikit bisa menghemat. Maklum, sang istri, Merry Prakasa, adalah lulusan kosmetologi dari sebuah perguruan tinggi di AS. Khusus jadwal ke spa, Ferry selalu melakukannya sebulan dua kali di luar kota. Selain bermanfaat menjaga kebugaran tubuh, spa diyakini mampu menjaga keharmonisan rumah tangga. Pria kelahiran Palembang pada 8 Januari 1967 itu juga menganggap olahraga sebagai poin penting untuk menjaga kecantikan tubuh selain pergi ke salon. Karena itu, Ferry mempunyai jadwal rutin fitnes dan berenang lima kali seminggu. Tubuh bugar. Jangan lupa pakaian. "Untuk saat santai, saya suka memakai celana jins dipadukan kemeja. Namun, untuk setiap acara resmi, saya selalu menggunakan jas," tutur pecinta jas Armani itu. Sebagai finishing touch agar tampil percaya diri, ayah dari Brenda Nabila Salim dan Brandon Nicholas Salim itu selalu tidak melupakan parfum. "Khusus parfum, memang saya selalu memakai yang impor, menggunakan aroma rempah atau dipadu dengan buah-buahan. Karena itu, setiap ke luar negeri saya selalu membeli parfum minimal tiga jenis," terang pemilik tubuh ideal seberat 70 kg dan tinggi 180 cm itu.
Untuk perawatan tubuh itu, Ferry mengaku memakan dana yang cukup besar. Tapi, itu bukan masalah karena yang terpenting adalah penampilan prima tiap kesempatan. "Kalau memang butuh perawatan, berapa pun akan saya bayar," papar Ferry.
Ferdy Hasan lain lagi. Presenter kondang itu mengaku rutin merawat tubuh sejak di bangku SMP. Ferdy juga berpendapat, pria juga boleh merawat tubuh. "Saya rasa itu lumrah. Apalagi zaman sekarang tak ada lagi istilah tabu bagi pria yang melakukan perawatan tubuh. Ini sudah seperti kebutuhan. Pria kan juga perlu memperhatikan penampilan," ujar pria ganteng itu. Karena sudah biasa melakukan perawatan sejak SMP, Ferdy merasa bahwa bersolek sudah menjadi pola hidupnya hingga kini. Dia mengaku tak canggung dan malu setiap pergi ke salon. "Masyarakat sekarang kan lebih terbuka. Sekarang sudah banyak pria yang pergi ke salon untuk melakukan perawatan tubuh," kata Ferdy. Apalagi, imbuh dia, sebagai public figure, Ferdy memang merasa perlu memperhatikan penampilan. Karena itu, host acara Selamat Datang Pagi itu rajin sekali merawat diri. Sekali dalam dua pekan, dia mencukur rambutnya. "Kalau creambath, biasanya sebulan sekali. Kalau facial, ya seperlunya saja. Bisa satu atau dua bulan sekali. Tergantung kondisi. Kalau ingin, ya saya lakukan," terangnya.
Untuk urusan perawatan wajah, Ferdy sering melakukan sendiri di rumah dengan bantuan istrinya. "Biasanya saya pakai bahan alami saja, seperti alpukat (avokad) dan bengkuang," kata pria yang ramah dan murah senyum itu. Selain rutin potong rambut, creambath, dan facial, pria dua anak tersebut juga sering mengunjungi spa untuk aroma terapi dan massage. "Tapi, itu nggak mesti. Saya ke sana kalau memang benar-benar perlu saja," imbuhnya. Tetapi, aku Ferdy, dirinya tak melulu pergi ke salon untuk mendapatkan perawatan tubuh. "Kadang saya memanggil ke rumah dan kadang ke salon," kata pria yang punya salon langganan di bilangan Kebon Jeruk itu.
Meskipun merawat tubuh itu menghabiskan banyak uang, pria berusia 30 tahun itu ternyata tak punya bujet khusus. "Kalau lagi pengin dan perlu, ya tinggal lakukan saja." Bahkan, Ferdy sering pergi ke salon bersama istrinya. "Safina (istri Ferdy) tidak keberatan kalau saya merawat tubuh. Malah, dia sering ikut pas saya mau pergi ke salon," jelas presenter kuis itu. Bau badan? Untuk menangkal tamu yang acap datang tak diundang itu, demikian Ferdy, "Aku menggunakan deodorant yang tidak beraroma, juga parfum." Dia menyebut dua merek parfum favoritnya.
1. Perilaku
Menurut ahli perilaku, Skinner (1979), mengemukakan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus), dan tanggapan (respon). Respon dibedakan menjadi 2, yaitu:
Respondent response atau reflexive response, adalah respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini disebut electing stimuli karena respon-respon yang relatif tetap, misalnya makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur, sinar matahari membuat mata tertutup. Perangsangan yang demikian ini biasanya mendahului respon yang ditimbulkan.
Operant response atau instrumental response, adalah respon yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer karena perangsangan tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan. Oleh karena itu perangsangan yang demikian itu mengikuti atau memperkuat suatu perilaku tertentu yang telah dilakukan. Apabila seorang anak rajin belajar atau setelah melakukan suatu perbuatan memperoleh hadiah, maka ia akan menjadi lebih giat belajar atau akan lebih baik lagi melakukan perbuatan tersebut, dengan kata lain responnya akan lebih intensif atau lebih kuat lagi.
Sedangkan menurut Notoatmodjo (1997), yang dimaksud dengan perilaku adalah suatu respon organisme terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut, respon ini dapat berbentuk 2 macam, yakni:
Bentuk pasif adalah respon internal, yaitu terjadi di dalam diri individu dan tidak dapat langsung dilihat oleh orang lain, seperti berpikir, tanggapan atau sikap batin, dan pengetahuan. Perilakunya sendiri masih terselubung yang disebut covert behavior.
Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Perilaku disini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata yang disebut over behavior.
Menurut Green (1980) dalam buku Notoatmodjo (1993) menganalisis bahwa perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan dimana kesehatan ini dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yakni faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes). selanjutnya perilaku itu sendiri terbentuk dari 3 faktor, yaitu:
Faktor predisposisi (predisposing factors), merupakan faktor antesenden terhadap perilaku yang menjadi dasar motivasi bagi pelaku. yang masuk dalam faktor ini adalah pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai.
Faktor pemungkin (enabling factros), adalah faktor antesenden terhadap perilaku yang memungkinkan suatu motivasi atau aspirasi terlaksana. faktor ini terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana kesehatan, misalnya: puskesmas.
Faktor penguat (reinforcing factors), merupakan faktor penyerta yang datang sesudah perilaku, memberikan ganjaran intensif atau hukuman atas perilaku dan berperan bagai menetap atau lenyapnya perilaku itu. termasuk dalam faktor ini adalah manfaat sosial, jasmani, ganjaran nyata ataupun tidak nyata yang diterima oleh pihak lain (vicarious rewards).
2. Model atau Teori Perilaku
Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief Model)
Model kepercayaan kesehatan (Rosenstock, 1974, 1977) sangat dekat dengan bidang pendidikan kesehatan. Model ini menganggap bahwa perilaku kesehatan merupakan fungsi dari pengetahuan maupun sikap. Secara khusus model ini menegaskan bahwa persepsi seseorang tentang kerentanan dan kemujaraban pengobatan dapat mempengaruhi keputusan seseorang dalam perilaku-perilaku kesehatannya.
Menurut model kepercayaan kesehatan (Becker, 1974, 1979) perilaku ditentukan oleh apakah seseorang: (1) percaya bahwa mereka rentan terhadap masalah kesehatan tertentu; (2) menganggap bahwa masalah ini serius; (3) meyakini efektivitas tujuan pengobatan dan pencegahan; (4) tidak mahal; (5) menerima anjuran untuk mengambil tindakan kesehatan.
Model Komunikasi atau Persuasi (Communication or Persuation Model)
Model komunikasi atau persuasi (Mc guire, 1964) menegaskan bahwa komunikasi dapat dipergunakan untuk mengubah sikap dan perilaku kesehatan yang secara langsung terkait dalam rantai kausal yang sama. Efektivitas upaya komunikasi yang diberikan bergantung pada berbagai input (atau stimulus) serta output (atau tanggapan terhadap stimulus). Menurut model komunikasi atau persuasi, perubahan pengetahuan dan sikap merupakan prekondisi bagi perubahan perilaku kesehatan atau perilaku-perilaku yang lain. Variabel-variabel input meliputi: sumber pesan, pesan itu sendiri, saluran penyampai, dan karakteristik penerima , serta tujuan pesan-pesan tersebut. Variabel-variabel output merujuk pada perubahan dalam faktor-faktor kognitif tertentu, seperti pengetahuan, sikap, pembuatan keputusan, dan juga perilaku-perilaku yang dapat diobservasi.
Teori Aksi Beralasan (Theory of Reasoned Action)
Teori aksi beralasan (Fishbein dan Ajzen, 1975, 1980) menegaskan peran dari niat seseorang dalam menentukan apakah sebuah perilaku akan terjadi. Teori ini secara tidak langsung menyatakan bahwa perilaku pada umumnya mengikuti niat dan tidak akan pernah terjadi tanpa niat. Niat-niat seseorang juga dipengaruhi oleh sikap-sikap terhadap suatu perilaku , seperti apakah ia merasa perilaku itu penting. Teori ini juga menegaskan sikap "normatif" yang mungkin dimiliki orang-orang; mereka berpikir tentang apa yang akan dilakukan orang lain-(terutama, orang-orang yang berpengaruh dalam kelompok) pada suatu situasi yang sama.
Model Transteoritik (Thranstheoretical Model)
Model trnasteoretik (atau "Model Bertahap", "Stages of Change"), sesuai namanya , mencoba menerangkan serta mengukur perilaku kesehatan dengan tidak bergantung pada perangkap teoritik tertentu. Proschaska dan kawan-kawan (1979) mula-mula bermaksud menjelaskan proses apa yang terjadi bila peminum alkohol berhenti minum alkohol, dan juga terhadap proses dalam berhenti merokok. Penelitian ini mengidentifikasikan 4 tahap independen: prekontemplasi, kontemplasi, aksi, dan pemeliharaan. "Prekontemplasi" mengacu pada tahap bila seseorang belum memikirkan sebuah perilaku sama sekali , orang itu belum bermaksud mengubah suatu perilaku. Dalam tahap "kontemplasi", seseorang benar-benar memikirkan suatu perilaku, namun masih belum siap untuk melakukannya. Tahap "aksi" mengacu kepada keadaan bila orang telah melakukan perubahan perilaku, sedangkan "pemeliharaan" merupakan pengentalan jangka panjang dari perubahan yang telah terjadi. Dalam tahap "aksi" maupun "pemeliharaan", "kekambuhan" dapat terjadi, yaitu individu kembali pada pola perilaku sebelum "aksi"
Model transteori sejalan dengan teori-teori rasional atau teori-teori pembuatan keputusan dan teori ekonomi yang lain, terutama dalam mendasarkan diri pada proses-proses kognitif untuk menjelaskan perubahan perilaku.
Precede or Proceed Model
Selama lebih dari satu dasawarsa terakhir, Lawrence Green dan rekan-rekannya mengembangkan Precede or proceed model, yang sekarang ini terkenal untuk merencanakan program-program pendidikan kesehatan (Green, Kreuter, Deeds, dan Patridge, 1980; Green & Kreuter, 1991) meskipun model ini mendasarkan diri pada model kepercayaan kesehatan dan sistem-sistem konseptual lain, namun model precede merupakan model "sejati", yang lebi mengarah kepada upaya-upaya pragmatik memgubah perilaku kesehatan dari pada sekedar upaya pengembangan teori. Green dan rekan-rekannyamenganalisis kebutuhan kesehatan komunitas dengan cara menetapkan 5 diagnosis yang berbeda, yaitu diagnosis sosial, diagnosis epidemiologi, diagnosis perilaku, diagnmosis pendidikan, dan diagnosis administrasi atau kebijakan.
Difusi Inovasi
Model difusi inovasi (Rogers & Shoemaker, 1971; Rogers, 1973) menegaskan peran agen-agen perubahan dalam lingkungan sosial, oleh karena itu mengambil fokus yang agak terpisah dari individu sasaran utama.
Teori Pemahaman Sosial (Social Learning Theory)
Teori pemahaman sisial menekankan pada hubungan segitiga antara orang (menyangkut proses-proses kognitif), perilaku, dan lingkungan dalam suatu proses deterministik resiprokal (atau kausalitas Resiprokal) (Bandura, 1977; Rotte, 1954) kalau lingkungan menetukan atau menyebabkan terjadi perilaku kebanyakan, maka seorang individu menggunaka proses kognitifnya untuk menginterpretasikan lingkungannya maupun perilaku yang dijalankannya, serta memberikan reaksi dengan cara mengubah lingkungan dan menerima hasil perilaku yang lebih baik. oleh karena itu teori pemahaman sisial menjembatani jurang pemisah antara model-model kognitif, atau model-model yang berorientasi pada pembuatan keputusan rasional, dengan teori-teori lain diatas.
3. Metroseksual
Metroseksual. Etimologi: dari kata Yunani, metropolis artinya ibu kota plus seksual. Definisi: sosok narsistik dengan penampilan dandy, yang jatuh cinta tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga gaya hidup urban.
Evolusi tren gaya pria bisa disiratkan melalui film-film James Bond. Di era 1970-an, Mr. Bond diperankan Sean Connery yang sangat macho, dengan rahang keras dan kadang berewokan. Medio 1980-an agen rahasia Inggris ini tampil lebih lembut dan necis, sebagaimana diwakili Roger Moore (dan Timothy Dalton). Memasuki dekade 1990-an, sosok agen 007 diwakili Pierce Brosnan yang sangat dendi. Busana dan aksesorinya menjadi semakin stylish dan branded, rambutnya pun sangat kelimis. Dan, jika diperhatikan, Bond di era 1990-an dan 2000 lebih kerap mematut diri di depan kaca dibanding pada era sebelumnya. Bisa dikatakan, Brosnan adalah proto-metroseksual.
Kesamaan ini bukan sekadar kebetulan. Brosnan menjadi perwujudan sosok Bond berbarengan dengan mulai munculnya tren metroseksual di daratan Eropa dan Amerika. Istilah metroseksual sendiri diperkenalkan Mark Simpson, kolomnis fashion Inggris, dalam bukunya, Male Impersonators: Men Performing Masculinity, pada 1994 untuk menggambarkan kelompok anak muda berkocek tebal yang hidup di kota besar (metropolis) atau di sekitarnya, sangat menyayangi bahkan cenderung memuja diri sendiri (narcisstic), serta sangat tertarik pada fashion dan perawatan tubuhnya. Kulit mereka mulus, lembut dan harum. Wajahnya yang halus tampak dipoles bedak tipis, sementara kukunya dicat dan bibirnya dioles lip balm -- bahkan kadang terlihat mengilap karena dipulas lip gloss.
Meski sama-sama pesolek dan pemuja diri sendiri, metroseksual ini tak bisa disamakan dengan dendi. Bahkan, Simpson menyebut dendi adalah gaya kaum bangsawan abad ke-18. Pasalnya, meski sama-sama rapi, harum, dan gemar berlama-lama di depan cermin, gaya busana para dendi cenderung konservatif dan mengikuti pakem, sementara kaum metroseksual justru dicirikan dengan keberaniannya mendobrak aturan dan bereksperimen dengan fashion.
Namun, jangan tergesa-gesa memberi label negatif kepada kaum metroseksual. Mereka adalah pekerja cerdas yang penuh percaya diri serta sangat peduli pada keluarganya dan teman-temannya. Umumnya mereka pasangan setia yang penuh perhatian pada keluarganya. Mereka bukan figur ayah yang gagah, kulitnya berminyak dan tubuhnya beraroma tembakau atau keringat, tahu segala hal, dan penentu segala keputusan yang tak bisa dibantah. Jauh dari itu, kaum metroseksual adalah suami yang tak ragu menggandeng dan mencium istrinya di muka umum, ayah yang tubuhnya selalu segar dan wangi, gemar merangkul anak-anaknya, sama-sama belanja di mal, menonton film atau berburu pernik-pernik aksesori. Pendeknya, mereka adalah teman yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Ferry Salim dan Jeremy Thomas, misalnya, acap terlihat di mal dan bioskop sambil menggandeng anak dan istrinya.
Tren metroseksual, sebagaimana tren-tren lainnya, mungkin akan berlalu. Namun, jejak-jejak yang ditinggalkannya akan membekas dalam. Tren ini menyadarkan kita, bahwa kehidupan mempunyai banyak sisi: selain berkarya, ada juga saat bermanja; selain kantor dan kolega, ada pula rumah dan keluarga. Semuanya membutuhkan keseimbangan. Kita percaya bahwa fenomena ini tidak sekadar menghasilkan peluang pasar, tetapi juga generasi baru yang lebih akrab dengan orang tuanya, dan penuh perhatian pada diri sendiri ataupun lingkungannya.
4. Contoh Pria-Pria Metroseksual
Meski awalnya sempat dipandang dengan tatapan heran, nyatanya fenomena metroseksual terus merebak. Mulanya tren ini hanya menjangkiti para model, artis dan orang-orang media, belakangan ia terus meluas ke kalangan olahragawan, pebisnis (khususnya eksekutif muda kota besar), pengacara, bahkan diplomat! Majalah The Economist edisi 5 Juli 2003 mengungkapkan, di Amerika Serikat jumlah kaum metroseksual mencapai 30%-35%. Mayoritas dari mereka adalah pekerja profesional dan eksekutif muda.
Beckham bukan satu-satunya pria pesolek. Di deretan pesohor saja ada Brad Pitt, George Clooney, Antonio Banderas, Ian Thorpe, Tom Cruz, dan masih banyak lagi. Tren metroseksual juga bukan monopoli New York, London, Paris atau kota-kota dunia lainnya. Di Indonesia pun gaya ini tengah digandrungi pria metropolitan – terutama di Jakarta, Surabaya dan Bandung. Ketika beberapa waktu lalu Majalah Femina menggelar ajang pemilihan pria terseksi di Indonesia, nama-nama yang muncul: Ferry Salim, Ari Wibowo, Nicholas Saputra, Jeremy Thomas dan Adjie Massaid. Semuanya bagian dari kalangan selebriti yang memang harus selalu tampil berdandan, merawat diri, suka pesta, hedonis, dan aktif mengikuti fashion. Bukan rahasia lagi, waktu dandan yang dibutuhkan penyanyi berambut gimbal Marcell Siahaan sampai tiga kali lebih lama ketimbang istrinya, Dewi "Dee" Lestari Mangunsong. Salah satu anggota trio Rida-Sita-Dewi dan penulis sejumlah novel laris ini cuma butuh waktu 20 menit untuk merias wajah dan urusan dandan lainnya.
Marcell tidak hanya rajin ke salon untuk mengeramas, meng-cream bath dan mengelabang rambut gimbalnya, tapi juga untuk facial, manikur dan pedikur. Busananya pun harus serba padu padan (matching) hingga ke pakaian dalam. Begitu pula Ferry Salim, Ari "Ale" Sihasale, Jeremy Thomas, Nico Siahaan, Anjasmara dan Roger Danuarta. Para eksekutif pun tak mau kalah dari para pesohor tadi. Lihat saja gaya Alino Sugianto (Country Manager Ericsson), Tommy Pratama (Promotor Original Production), Dino Patti Djalal (diplomat), Johanes Dermawan (pengusaha sejumlah kafe), Ari Batubara (PT Wiraswasta Gemilang Indonesia, penyalur/distributor Valube dan Pennzoil), Nico Gunze (pemilik Nico Nico Intimo Lingerie, Kemang), dan banyak lagi yang lain.
"Sebagai entertainer, saya dituntut untuk tampil prima dan tidak ingin mengecewakan fans saya," terang Ferry. Dia menegaskan, sebelum fenomena metroseksual itu merebak, memperhatikan perawatan tubuh sudah dilakukan sejak masa-masa di bangku SMA. Ferry sudah rajin melakukan creambath, spa, facial, manicure, dan pedicure. "Semua perawatan itu rutin saya lakukan setiap bulan. Facial, manicure, pedicure, dan potong rambut dilakukan istri sendiri. Sedangkan sisanya, yaitu creambath dan spa, saya lakukan di salon langganan yang berada di Jakarta," terang Ferry.
Untuk urusan perawatan tubuh, Ferry sedikit bisa menghemat. Maklum, sang istri, Merry Prakasa, adalah lulusan kosmetologi dari sebuah perguruan tinggi di AS. Khusus jadwal ke spa, Ferry selalu melakukannya sebulan dua kali di luar kota. Selain bermanfaat menjaga kebugaran tubuh, spa diyakini mampu menjaga keharmonisan rumah tangga. Pria kelahiran Palembang pada 8 Januari 1967 itu juga menganggap olahraga sebagai poin penting untuk menjaga kecantikan tubuh selain pergi ke salon. Karena itu, Ferry mempunyai jadwal rutin fitnes dan berenang lima kali seminggu. Tubuh bugar. Jangan lupa pakaian. "Untuk saat santai, saya suka memakai celana jins dipadukan kemeja. Namun, untuk setiap acara resmi, saya selalu menggunakan jas," tutur pecinta jas Armani itu. Sebagai finishing touch agar tampil percaya diri, ayah dari Brenda Nabila Salim dan Brandon Nicholas Salim itu selalu tidak melupakan parfum. "Khusus parfum, memang saya selalu memakai yang impor, menggunakan aroma rempah atau dipadu dengan buah-buahan. Karena itu, setiap ke luar negeri saya selalu membeli parfum minimal tiga jenis," terang pemilik tubuh ideal seberat 70 kg dan tinggi 180 cm itu.
Untuk perawatan tubuh itu, Ferry mengaku memakan dana yang cukup besar. Tapi, itu bukan masalah karena yang terpenting adalah penampilan prima tiap kesempatan. "Kalau memang butuh perawatan, berapa pun akan saya bayar," papar Ferry.
Ferdy Hasan lain lagi. Presenter kondang itu mengaku rutin merawat tubuh sejak di bangku SMP. Ferdy juga berpendapat, pria juga boleh merawat tubuh. "Saya rasa itu lumrah. Apalagi zaman sekarang tak ada lagi istilah tabu bagi pria yang melakukan perawatan tubuh. Ini sudah seperti kebutuhan. Pria kan juga perlu memperhatikan penampilan," ujar pria ganteng itu. Karena sudah biasa melakukan perawatan sejak SMP, Ferdy merasa bahwa bersolek sudah menjadi pola hidupnya hingga kini. Dia mengaku tak canggung dan malu setiap pergi ke salon. "Masyarakat sekarang kan lebih terbuka. Sekarang sudah banyak pria yang pergi ke salon untuk melakukan perawatan tubuh," kata Ferdy. Apalagi, imbuh dia, sebagai public figure, Ferdy memang merasa perlu memperhatikan penampilan. Karena itu, host acara Selamat Datang Pagi itu rajin sekali merawat diri. Sekali dalam dua pekan, dia mencukur rambutnya. "Kalau creambath, biasanya sebulan sekali. Kalau facial, ya seperlunya saja. Bisa satu atau dua bulan sekali. Tergantung kondisi. Kalau ingin, ya saya lakukan," terangnya.
Untuk urusan perawatan wajah, Ferdy sering melakukan sendiri di rumah dengan bantuan istrinya. "Biasanya saya pakai bahan alami saja, seperti alpukat (avokad) dan bengkuang," kata pria yang ramah dan murah senyum itu. Selain rutin potong rambut, creambath, dan facial, pria dua anak tersebut juga sering mengunjungi spa untuk aroma terapi dan massage. "Tapi, itu nggak mesti. Saya ke sana kalau memang benar-benar perlu saja," imbuhnya. Tetapi, aku Ferdy, dirinya tak melulu pergi ke salon untuk mendapatkan perawatan tubuh. "Kadang saya memanggil ke rumah dan kadang ke salon," kata pria yang punya salon langganan di bilangan Kebon Jeruk itu.
Meskipun merawat tubuh itu menghabiskan banyak uang, pria berusia 30 tahun itu ternyata tak punya bujet khusus. "Kalau lagi pengin dan perlu, ya tinggal lakukan saja." Bahkan, Ferdy sering pergi ke salon bersama istrinya. "Safina (istri Ferdy) tidak keberatan kalau saya merawat tubuh. Malah, dia sering ikut pas saya mau pergi ke salon," jelas presenter kuis itu. Bau badan? Untuk menangkal tamu yang acap datang tak diundang itu, demikian Ferdy, "Aku menggunakan deodorant yang tidak beraroma, juga parfum." Dia menyebut dua merek parfum favoritnya.
berlanjut ke post kedua..soalnya g cukup spacenya...