Jakarta - Mantan anggota parlemen dan politisi senior Partai Amanat Nasional, Abdillah Toha menyayangkan pernyataan Presiden SBY yang sama sekali belum ada indikasi kuat untuk membela dua pembantunya, Wapres dan Menkeu.
Ia mengatakan itu, Minggu, merespons pernyataan Presiden SBY terkait imbauan Pansus Angket bunk Century (BC) DPR RI yang meminta Wapres, Menkeu beserta pejabat lainnya `menon-aktifkan` diri selama pemeriksaan berlangsung oleh panitia.
Abdillah Toha selama ini memang terus `membela` posisi Wapres Boediono khususnya, dengan berulangkali menyatakan, proses hukum harus adil, sehingga segala sesuatu mesti melalui prosedur proporsional serta profesional.
"Namun kali ini, pernyataan SBY di Kopenhagen menanggapi imbauan `penonaktifan` Wapres dan Menkeu sangat tipikal, normatif dan `non committal`, tandasnya sembari mengungkapkan rasa penyesalannya atas sikap Presiden SBY tersebut.
Seharusnya, menurut mantan Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) ini, Presiden langsung meyakinkan publik. "Yakni, bahwa para pembantunya itu masih dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, tanpa perlu bertanya kepada Wapres dan Menkeu lebih dahulu," ujarnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Pansus Angket BC meminta Wapres dan Menkeu `menon-aktifkan` diri agar keduanya bisa berkonsentrasi pada proses pemeriksaan, sehingga tak menganggu kinerja mereka yang memegang posisi strategis.
"Tetapi, tentang ini, Presiden kan tidak dengan tegas menyatakan bahwa keduanya bisa melaksanakan tugas dengan baik. Malah seolah akan bertanya terlebih dulu kepada Wapres dan Menkeu tentang hal itu," katanya.
Karena itu, Abdillah Toha tiba pada kesimpulan, sampai saat ini, Presiden SBY ternyata belum juga membela posisi kedua orang tersebut.
"Bahkan memberi kesan menunggu perkembangan lebih lanjut," ungkap Abdillah Toha lagi.
Sumber
http://www.lebihcepat.com/nasional/34-berita-nasional/10447-abdillah-toha-pernyataan-sby-sangat-tipikal-.html
Ia mengatakan itu, Minggu, merespons pernyataan Presiden SBY terkait imbauan Pansus Angket bunk Century (BC) DPR RI yang meminta Wapres, Menkeu beserta pejabat lainnya `menon-aktifkan` diri selama pemeriksaan berlangsung oleh panitia.
Abdillah Toha selama ini memang terus `membela` posisi Wapres Boediono khususnya, dengan berulangkali menyatakan, proses hukum harus adil, sehingga segala sesuatu mesti melalui prosedur proporsional serta profesional.
"Namun kali ini, pernyataan SBY di Kopenhagen menanggapi imbauan `penonaktifan` Wapres dan Menkeu sangat tipikal, normatif dan `non committal`, tandasnya sembari mengungkapkan rasa penyesalannya atas sikap Presiden SBY tersebut.
Seharusnya, menurut mantan Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) ini, Presiden langsung meyakinkan publik. "Yakni, bahwa para pembantunya itu masih dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, tanpa perlu bertanya kepada Wapres dan Menkeu lebih dahulu," ujarnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Pansus Angket BC meminta Wapres dan Menkeu `menon-aktifkan` diri agar keduanya bisa berkonsentrasi pada proses pemeriksaan, sehingga tak menganggu kinerja mereka yang memegang posisi strategis.
"Tetapi, tentang ini, Presiden kan tidak dengan tegas menyatakan bahwa keduanya bisa melaksanakan tugas dengan baik. Malah seolah akan bertanya terlebih dulu kepada Wapres dan Menkeu tentang hal itu," katanya.
Karena itu, Abdillah Toha tiba pada kesimpulan, sampai saat ini, Presiden SBY ternyata belum juga membela posisi kedua orang tersebut.
"Bahkan memberi kesan menunggu perkembangan lebih lanjut," ungkap Abdillah Toha lagi.
Sumber
http://www.lebihcepat.com/nasional/34-berita-nasional/10447-abdillah-toha-pernyataan-sby-sangat-tipikal-.html