Samantha
IndoForum Senior B
- No. Urut
- 43737
- Sejak
- 17 Mei 2008
- Pesan
- 6.450
- Nilai reaksi
- 157
- Poin
- 63
gatel juga pengen ku tulis di sini... ayukk dibacaa...
cerita ini.. di tulis oleh saya sendiri..
nama pena saya.. Nada Egan
Part 1
Sebuah cerita tentang perjalanan hidup dia..
Sebuah cerita tentang cinta dia..
Tentang dia.. tentang dia.. dan dia..
Seorang pemudi dengan sekuat tenaga melarikan diri dari kejaran segerombol orang. Pemudi bertopi merah itu, membawa sesuatu di tangannya. Apa itu?
"Hey! Jangan kabur!" teriak orang-orang itu. "Copet! Copet!"
Rupanya, si pemudi membawa lar dompet hasil coretannya. Apes, ia kepergok! Dia berlari menelusuri gang-gang sempit nan kumuh. Hingga akhirnya terpaksa sembunyi di dalam tong sampah!
Dia pun lolos dari kejaran mereka, yang mengiranya kabur ke hutan. Ya. Di dekat tempat itu ada hutan kecil yang tak terlalu lebat.
Pemudi itu adalah Ara. Gadis berusia 19 tahun, yang agak tomboy, tapi selalu menyadari kodratnya sebagai wanita. Kehidupan yang miskin, dan lingkungan yang keras, mengajarinya untuk menghalalkan segala cara, demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Contohnya, mencopet. Ia sangat ingin punya baju baru untuk tahun baruan minggu depan. Karena tidak punya uang, ia pun mencopet.
Ara pulang ke rumahnya yang sangat kumuh. Terbuat dari sisi-sisi kardus. Kalau hujan, basahlah 'rumah' itu.
Bimo melihat Ara pulang bawa sesuatu, yang dibungkus keresek hitam.
Bimo: "Apaan tuh?"
Ara: "Oh.. ini baju baru untuk tahun baruan."
Dengan bangga, mengeluarkan isi kereseknya, dan menunjukkan baju barunya.
Ara: "Keren, kan?"
Sayang, tampang Bimo tidak ikutan senang.
Bimo: "Nyopet di mana kamu?"
Ara: "Nyopet? Engga kok.. Ara gak nyopet.. Suer, deh!"
Bimo: "Jangan bohong! Tadi, Ibil cerita ke kakak."
Ara: "Salah liat kali.. Belakangan ini, ada banyak cewek yang ngikutin gaya Ara. Pake baju mirip, bahkan, bikin tato mirip yang kayak di belakang kuping Ara. Kayaknya Ara udah jadi trendsetter untuk mereka. Harusnya Kakak bangga.."
Ara bicara sambil tersenyum. Nyerocosin bualan gak berarti untuk membela diri. Tapi..
Bimo: "Ara!!"
Bentakan Bimo membuat senyum itu berubah jadi ketakutan, dan cerocosan itu juga terputus.
Bimo merebut baju baru yang dibeli Ara, dan merusaknya.
Ara: "Kak, jangan dirusak! Jangan! Ara mohon..!"
Ara berusaha merebutnya kembali. Tapi, Bimo telah berhasil mengoyaknya, hingga jadi tak layak pakai. Hal itu membuat Ara menangis.
Ara: "Kakak jahat! Kakak gak ngerti maunya Ara! Kakak gak ngerti keinginan Ara! Ara benci sama Kakak! Baju ini, gak pa-pa rusak. Tapi, Ara bisa nyopet lagi, dan beli yang lebih bagus!"
Lalu, Ara pergi meninggalkan kakaknya.
Bimo: "Ara!!"
Teriakan Bimo tidak dihiraukannya lagi.
Ara duduk di jembatan kecil dekat pemukiman kumuh tempatnya tinggal. Masih menangis. Baju barunya yang dirusak kakaknya, masih ia pangku.
Meski pun lingkungan dan masyarakatnya sebagian adalah bajingan, tapi Bimo tidak lepas kontrol. Ia pemuda yang baik. Memberi makan adiknya juga dengan hasil kerja sebagai kuli bangunan yang digaji 10 ribu rupiah per hari.
Ara masih menangis. Lalu, datanglah seorang wanita tua. Namanya Mbah Lela. Dia sangat dekat dengan Ara dan Bimo.
Mbah Lela: "Kamu kenapa, Ra?"
Ara pun mengadu pada wanita yang sudah seperti neneknya sendiri itu.
Ara: "Pokoknya, Ara kesel sama Kak Bimo. Dia boleh aja ngelarang Ara nyopet. Tapi kan jangan sampai ngerusak baju ini. Belum tentu sampai minggu depan Ara dapet duit."
Mbah Lela: "Iya.. Mbah ngerti. Sudah, jangan menangis lagi.."
Ara mengusap air matanya.
Mbah Lela: "Kamu harus yakin satu hal. Bahwa Tuhan menyayangimu. Siapa tau, dengan kamu berhenti nyopet, kamu bisa dapat sesuatu yang lebih dari yang kamu dapatkan hari ini."
Ara diam saja.
Keesokan harinya..
Ara sudah mengincar seorang ibu dengan dompet tebal dalam keranjang belanjaannya.
Setelah ibu itu lengah, dengan tenang Ara mengambil dompet tersebut.
Dengan girangnya, Ara segera sembunyi ke tempat aman, dan menghitung uang dalam dompet.
Ara: "Wow..!"
Ada segepok uang seratus ribuan.
Ara: "Tajir gue! Tajir.."
Tiba-tiba besi tajam menodongnya.
"Balikin dompetnya!"
Ara melihat seorang pemuda.. Tampang keren. Ganteng. Tapi rasanya kok nyebelin ya..
Ara: "Enak aja! Lo mau? Nih gue bagiin."
Ia mengambil dua lembar uang seratus ribu itu.
Ara: "Pada dasarnya, gue gak pelit, kok. Nih.."
Pemuda itu makin garang.
"Balikin, atau gue lubangin kepala lo pake besi ini.."
Ara: "Ya udah, lubangin aja! Emangnya gue takut apa? Enakan mati, dari pada hidup melarat kayak gini. Giliran dapet rejeki malah diancam-ancam begini! Lubangin! Lubangin!!"
Ara membuka topinya, dan terurailah rambut panjangnya yang tidak terawat. Ia menarik besi itu, dan menempelkan ke keningnya. Ujung besi itu benar-benar runcing. Hanya sedikit gores, kulit kening Ara langsung berdarah.
"Balikin dompetnya!"
Ara: "Engga!"
Ara memasukkan dompet itu ke dalam baju
Ara: "Ambil aja kalo bisa!"
Pemuda tersebut menarik besinya, sekalian menarik tangan Ara. "Lo emang mesti dikasih pelajaran!"
Ia mengeluarkan sebuah borgol, dan membelenggu kedua tangan Ara!
Rupanya, pemuda itu adalah seorang polisi, yang sedang libur tugas, dan kebetulan mengetahui peristiwa tadi.
Namanya Anton.
Anton menjebloskan Ara ke ruang tahanan.
Ara: "Penjara.. lumayan juga. Makanan gratis, kan? Dan mungkin lebih baik dari pada yang gue makan sebelumnya."
Anton: "Terserah lo!"
Ara: "Tapi, meski akibat mencopet adalah penjara, gue gak peduli. Nyopet adalah hobi gue. Setelah keluar nanti, gue akan tetep nyopet. Camkan itu.. Pak Polisi yang.. eneg dilihat.."
Anton cuek saja terhadap Ara yang sedari tadi cuap-cuap tak karuan.
Anton menyerahkan kasus Ara pada para rekannya yang sedang bertugas.
Anton: "Hati-hati. Dia agak gila. Gue balik dulu."
Ibil berlari melewati jalanan penuh sampah, menuju rumah Bimo. Ia masuk ke rumah dengan tergopoh-gopoh. Nafasnya terengah-engah naik turun.
Ibil: "Bimo! Bimo!"
Ia membangunkan Bimo yang tengah terlelap.
Bimo: "Ada apa, Bil?"
Ibil: "Ara.. Ara.. ditangkap polisi!"
Kabar yang Ibil sampaikan membuat Bimo terlonjak saking kagetnya.
Bimo: "Yang bener, lo?!"
Ibil: "Iya, bener. Tadi dia nyopet lagi di pasar. Dapet uang, segepok."
Bimo: "Ara bener-bener keterlaluan! Ayo Bil! Lo ikut ke kantor polisi!"
Ibil: "Oke, Bim."
cerita ini.. di tulis oleh saya sendiri..
nama pena saya.. Nada Egan
Part 1
Sebuah cerita tentang perjalanan hidup dia..
Sebuah cerita tentang cinta dia..
Tentang dia.. tentang dia.. dan dia..
Seorang pemudi dengan sekuat tenaga melarikan diri dari kejaran segerombol orang. Pemudi bertopi merah itu, membawa sesuatu di tangannya. Apa itu?
"Hey! Jangan kabur!" teriak orang-orang itu. "Copet! Copet!"
Rupanya, si pemudi membawa lar dompet hasil coretannya. Apes, ia kepergok! Dia berlari menelusuri gang-gang sempit nan kumuh. Hingga akhirnya terpaksa sembunyi di dalam tong sampah!
Dia pun lolos dari kejaran mereka, yang mengiranya kabur ke hutan. Ya. Di dekat tempat itu ada hutan kecil yang tak terlalu lebat.
Pemudi itu adalah Ara. Gadis berusia 19 tahun, yang agak tomboy, tapi selalu menyadari kodratnya sebagai wanita. Kehidupan yang miskin, dan lingkungan yang keras, mengajarinya untuk menghalalkan segala cara, demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Contohnya, mencopet. Ia sangat ingin punya baju baru untuk tahun baruan minggu depan. Karena tidak punya uang, ia pun mencopet.
Ara pulang ke rumahnya yang sangat kumuh. Terbuat dari sisi-sisi kardus. Kalau hujan, basahlah 'rumah' itu.
Bimo melihat Ara pulang bawa sesuatu, yang dibungkus keresek hitam.
Bimo: "Apaan tuh?"
Ara: "Oh.. ini baju baru untuk tahun baruan."
Dengan bangga, mengeluarkan isi kereseknya, dan menunjukkan baju barunya.
Ara: "Keren, kan?"
Sayang, tampang Bimo tidak ikutan senang.
Bimo: "Nyopet di mana kamu?"
Ara: "Nyopet? Engga kok.. Ara gak nyopet.. Suer, deh!"
Bimo: "Jangan bohong! Tadi, Ibil cerita ke kakak."
Ara: "Salah liat kali.. Belakangan ini, ada banyak cewek yang ngikutin gaya Ara. Pake baju mirip, bahkan, bikin tato mirip yang kayak di belakang kuping Ara. Kayaknya Ara udah jadi trendsetter untuk mereka. Harusnya Kakak bangga.."
Ara bicara sambil tersenyum. Nyerocosin bualan gak berarti untuk membela diri. Tapi..
Bimo: "Ara!!"
Bentakan Bimo membuat senyum itu berubah jadi ketakutan, dan cerocosan itu juga terputus.
Bimo merebut baju baru yang dibeli Ara, dan merusaknya.
Ara: "Kak, jangan dirusak! Jangan! Ara mohon..!"
Ara berusaha merebutnya kembali. Tapi, Bimo telah berhasil mengoyaknya, hingga jadi tak layak pakai. Hal itu membuat Ara menangis.
Ara: "Kakak jahat! Kakak gak ngerti maunya Ara! Kakak gak ngerti keinginan Ara! Ara benci sama Kakak! Baju ini, gak pa-pa rusak. Tapi, Ara bisa nyopet lagi, dan beli yang lebih bagus!"
Lalu, Ara pergi meninggalkan kakaknya.
Bimo: "Ara!!"
Teriakan Bimo tidak dihiraukannya lagi.
Ara duduk di jembatan kecil dekat pemukiman kumuh tempatnya tinggal. Masih menangis. Baju barunya yang dirusak kakaknya, masih ia pangku.
Meski pun lingkungan dan masyarakatnya sebagian adalah bajingan, tapi Bimo tidak lepas kontrol. Ia pemuda yang baik. Memberi makan adiknya juga dengan hasil kerja sebagai kuli bangunan yang digaji 10 ribu rupiah per hari.
Ara masih menangis. Lalu, datanglah seorang wanita tua. Namanya Mbah Lela. Dia sangat dekat dengan Ara dan Bimo.
Mbah Lela: "Kamu kenapa, Ra?"
Ara pun mengadu pada wanita yang sudah seperti neneknya sendiri itu.
Ara: "Pokoknya, Ara kesel sama Kak Bimo. Dia boleh aja ngelarang Ara nyopet. Tapi kan jangan sampai ngerusak baju ini. Belum tentu sampai minggu depan Ara dapet duit."
Mbah Lela: "Iya.. Mbah ngerti. Sudah, jangan menangis lagi.."
Ara mengusap air matanya.
Mbah Lela: "Kamu harus yakin satu hal. Bahwa Tuhan menyayangimu. Siapa tau, dengan kamu berhenti nyopet, kamu bisa dapat sesuatu yang lebih dari yang kamu dapatkan hari ini."
Ara diam saja.
Keesokan harinya..
Ara sudah mengincar seorang ibu dengan dompet tebal dalam keranjang belanjaannya.
Setelah ibu itu lengah, dengan tenang Ara mengambil dompet tersebut.
Dengan girangnya, Ara segera sembunyi ke tempat aman, dan menghitung uang dalam dompet.
Ara: "Wow..!"
Ada segepok uang seratus ribuan.
Ara: "Tajir gue! Tajir.."
Tiba-tiba besi tajam menodongnya.
"Balikin dompetnya!"
Ara melihat seorang pemuda.. Tampang keren. Ganteng. Tapi rasanya kok nyebelin ya..
Ara: "Enak aja! Lo mau? Nih gue bagiin."
Ia mengambil dua lembar uang seratus ribu itu.
Ara: "Pada dasarnya, gue gak pelit, kok. Nih.."
Pemuda itu makin garang.
"Balikin, atau gue lubangin kepala lo pake besi ini.."
Ara: "Ya udah, lubangin aja! Emangnya gue takut apa? Enakan mati, dari pada hidup melarat kayak gini. Giliran dapet rejeki malah diancam-ancam begini! Lubangin! Lubangin!!"
Ara membuka topinya, dan terurailah rambut panjangnya yang tidak terawat. Ia menarik besi itu, dan menempelkan ke keningnya. Ujung besi itu benar-benar runcing. Hanya sedikit gores, kulit kening Ara langsung berdarah.
"Balikin dompetnya!"
Ara: "Engga!"
Ara memasukkan dompet itu ke dalam baju
Ara: "Ambil aja kalo bisa!"
Pemuda tersebut menarik besinya, sekalian menarik tangan Ara. "Lo emang mesti dikasih pelajaran!"
Ia mengeluarkan sebuah borgol, dan membelenggu kedua tangan Ara!
Rupanya, pemuda itu adalah seorang polisi, yang sedang libur tugas, dan kebetulan mengetahui peristiwa tadi.
Namanya Anton.
Anton menjebloskan Ara ke ruang tahanan.
Ara: "Penjara.. lumayan juga. Makanan gratis, kan? Dan mungkin lebih baik dari pada yang gue makan sebelumnya."
Anton: "Terserah lo!"
Ara: "Tapi, meski akibat mencopet adalah penjara, gue gak peduli. Nyopet adalah hobi gue. Setelah keluar nanti, gue akan tetep nyopet. Camkan itu.. Pak Polisi yang.. eneg dilihat.."
Anton cuek saja terhadap Ara yang sedari tadi cuap-cuap tak karuan.
Anton menyerahkan kasus Ara pada para rekannya yang sedang bertugas.
Anton: "Hati-hati. Dia agak gila. Gue balik dulu."
Ibil berlari melewati jalanan penuh sampah, menuju rumah Bimo. Ia masuk ke rumah dengan tergopoh-gopoh. Nafasnya terengah-engah naik turun.
Ibil: "Bimo! Bimo!"
Ia membangunkan Bimo yang tengah terlelap.
Bimo: "Ada apa, Bil?"
Ibil: "Ara.. Ara.. ditangkap polisi!"
Kabar yang Ibil sampaikan membuat Bimo terlonjak saking kagetnya.
Bimo: "Yang bener, lo?!"
Ibil: "Iya, bener. Tadi dia nyopet lagi di pasar. Dapet uang, segepok."
Bimo: "Ara bener-bener keterlaluan! Ayo Bil! Lo ikut ke kantor polisi!"
Ibil: "Oke, Bim."
