• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

A Story About Her

Samantha

IndoForum Senior B
No. Urut
43737
Sejak
17 Mei 2008
Pesan
6.450
Nilai reaksi
157
Poin
63
gatel juga pengen ku tulis di sini... ayukk dibacaa...

cerita ini.. di tulis oleh saya sendiri..
nama pena saya.. Nada Egan

Part 1

Sebuah cerita tentang perjalanan hidup dia..
Sebuah cerita tentang cinta dia..
Tentang dia.. tentang dia.. dan dia..


Seorang pemudi dengan sekuat tenaga melarikan diri dari kejaran segerombol orang. Pemudi bertopi merah itu, membawa sesuatu di tangannya. Apa itu?
"Hey! Jangan kabur!" teriak orang-orang itu. "Copet! Copet!"
Rupanya, si pemudi membawa lar dompet hasil coretannya. Apes, ia kepergok! Dia berlari menelusuri gang-gang sempit nan kumuh. Hingga akhirnya terpaksa sembunyi di dalam tong sampah!
Dia pun lolos dari kejaran mereka, yang mengiranya kabur ke hutan. Ya. Di dekat tempat itu ada hutan kecil yang tak terlalu lebat.

Pemudi itu adalah Ara. Gadis berusia 19 tahun, yang agak tomboy, tapi selalu menyadari kodratnya sebagai wanita. Kehidupan yang miskin, dan lingkungan yang keras, mengajarinya untuk menghalalkan segala cara, demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Contohnya, mencopet. Ia sangat ingin punya baju baru untuk tahun baruan minggu depan. Karena tidak punya uang, ia pun mencopet.

Ara pulang ke rumahnya yang sangat kumuh. Terbuat dari sisi-sisi kardus. Kalau hujan, basahlah 'rumah' itu.
Bimo melihat Ara pulang bawa sesuatu, yang dibungkus keresek hitam.
Bimo: "Apaan tuh?"
Ara: "Oh.. ini baju baru untuk tahun baruan."
Dengan bangga, mengeluarkan isi kereseknya, dan menunjukkan baju barunya.
Ara: "Keren, kan?"
Sayang, tampang Bimo tidak ikutan senang.
Bimo: "Nyopet di mana kamu?"
Ara: "Nyopet? Engga kok.. Ara gak nyopet.. Suer, deh!"
Bimo: "Jangan bohong! Tadi, Ibil cerita ke kakak."
Ara: "Salah liat kali.. Belakangan ini, ada banyak cewek yang ngikutin gaya Ara. Pake baju mirip, bahkan, bikin tato mirip yang kayak di belakang kuping Ara. Kayaknya Ara udah jadi trendsetter untuk mereka. Harusnya Kakak bangga.."
Ara bicara sambil tersenyum. Nyerocosin bualan gak berarti untuk membela diri. Tapi..
Bimo: "Ara!!"
Bentakan Bimo membuat senyum itu berubah jadi ketakutan, dan cerocosan itu juga terputus.
Bimo merebut baju baru yang dibeli Ara, dan merusaknya.

Ara: "Kak, jangan dirusak! Jangan! Ara mohon..!"
Ara berusaha merebutnya kembali. Tapi, Bimo telah berhasil mengoyaknya, hingga jadi tak layak pakai. Hal itu membuat Ara menangis.
Ara: "Kakak jahat! Kakak gak ngerti maunya Ara! Kakak gak ngerti keinginan Ara! Ara benci sama Kakak! Baju ini, gak pa-pa rusak. Tapi, Ara bisa nyopet lagi, dan beli yang lebih bagus!"
Lalu, Ara pergi meninggalkan kakaknya.
Bimo: "Ara!!"
Teriakan Bimo tidak dihiraukannya lagi.

Ara duduk di jembatan kecil dekat pemukiman kumuh tempatnya tinggal. Masih menangis. Baju barunya yang dirusak kakaknya, masih ia pangku.

Meski pun lingkungan dan masyarakatnya sebagian adalah bajingan, tapi Bimo tidak lepas kontrol. Ia pemuda yang baik. Memberi makan adiknya juga dengan hasil kerja sebagai kuli bangunan yang digaji 10 ribu rupiah per hari.

Ara masih menangis. Lalu, datanglah seorang wanita tua. Namanya Mbah Lela. Dia sangat dekat dengan Ara dan Bimo.
Mbah Lela: "Kamu kenapa, Ra?"
Ara pun mengadu pada wanita yang sudah seperti neneknya sendiri itu.
Ara: "Pokoknya, Ara kesel sama Kak Bimo. Dia boleh aja ngelarang Ara nyopet. Tapi kan jangan sampai ngerusak baju ini. Belum tentu sampai minggu depan Ara dapet duit."
Mbah Lela: "Iya.. Mbah ngerti. Sudah, jangan menangis lagi.."
Ara mengusap air matanya.
Mbah Lela: "Kamu harus yakin satu hal. Bahwa Tuhan menyayangimu. Siapa tau, dengan kamu berhenti nyopet, kamu bisa dapat sesuatu yang lebih dari yang kamu dapatkan hari ini."
Ara diam saja.

Keesokan harinya..
Ara sudah mengincar seorang ibu dengan dompet tebal dalam keranjang belanjaannya.
Setelah ibu itu lengah, dengan tenang Ara mengambil dompet tersebut.
Dengan girangnya, Ara segera sembunyi ke tempat aman, dan menghitung uang dalam dompet.
Ara: "Wow..!"
Ada segepok uang seratus ribuan.
Ara: "Tajir gue! Tajir.."
Tiba-tiba besi tajam menodongnya.

"Balikin dompetnya!"
Ara melihat seorang pemuda.. Tampang keren. Ganteng. Tapi rasanya kok nyebelin ya..
Ara: "Enak aja! Lo mau? Nih gue bagiin."
Ia mengambil dua lembar uang seratus ribu itu.
Ara: "Pada dasarnya, gue gak pelit, kok. Nih.."
Pemuda itu makin garang.
"Balikin, atau gue lubangin kepala lo pake besi ini.."
Ara: "Ya udah, lubangin aja! Emangnya gue takut apa? Enakan mati, dari pada hidup melarat kayak gini. Giliran dapet rejeki malah diancam-ancam begini! Lubangin! Lubangin!!"
Ara membuka topinya, dan terurailah rambut panjangnya yang tidak terawat. Ia menarik besi itu, dan menempelkan ke keningnya. Ujung besi itu benar-benar runcing. Hanya sedikit gores, kulit kening Ara langsung berdarah.
"Balikin dompetnya!"
Ara: "Engga!"
Ara memasukkan dompet itu ke dalam baju
Ara: "Ambil aja kalo bisa!"
Pemuda tersebut menarik besinya, sekalian menarik tangan Ara. "Lo emang mesti dikasih pelajaran!"
Ia mengeluarkan sebuah borgol, dan membelenggu kedua tangan Ara!

Rupanya, pemuda itu adalah seorang polisi, yang sedang libur tugas, dan kebetulan mengetahui peristiwa tadi.
Namanya Anton.

Anton menjebloskan Ara ke ruang tahanan.
Ara: "Penjara.. lumayan juga. Makanan gratis, kan? Dan mungkin lebih baik dari pada yang gue makan sebelumnya."
Anton: "Terserah lo!"
Ara: "Tapi, meski akibat mencopet adalah penjara, gue gak peduli. Nyopet adalah hobi gue. Setelah keluar nanti, gue akan tetep nyopet. Camkan itu.. Pak Polisi yang.. eneg dilihat.."
Anton cuek saja terhadap Ara yang sedari tadi cuap-cuap tak karuan.
Anton menyerahkan kasus Ara pada para rekannya yang sedang bertugas.
Anton: "Hati-hati. Dia agak gila. Gue balik dulu."

Ibil berlari melewati jalanan penuh sampah, menuju rumah Bimo. Ia masuk ke rumah dengan tergopoh-gopoh. Nafasnya terengah-engah naik turun.
Ibil: "Bimo! Bimo!"
Ia membangunkan Bimo yang tengah terlelap.
Bimo: "Ada apa, Bil?"
Ibil: "Ara.. Ara.. ditangkap polisi!"
Kabar yang Ibil sampaikan membuat Bimo terlonjak saking kagetnya.
Bimo: "Yang bener, lo?!"
Ibil: "Iya, bener. Tadi dia nyopet lagi di pasar. Dapet uang, segepok."
Bimo: "Ara bener-bener keterlaluan! Ayo Bil! Lo ikut ke kantor polisi!"
Ibil: "Oke, Bim."
 
Part 2

Ara duduk di sudut paling belakang ruang tahanan sembari memeluk lututnya erat.
Kemudian..
Seorang polisi membuka pintu sel.
Polisi: "Mbak Ara.. ada yang menjenguk."
Ara: "Palingan kakak saya. Suruh pulang aja, deh."
Polisi: "Anda harus menemui mereka. Meski hanya sebentar.
Ara bangkit dari duduknya, dan menemui tamu yang dimaksud.

Memang benar yang datang adalah Bimo. Ia datang bersama Ibil.
Bimo langsung memeluk Ara.
Bimo: "Ra, kamu baik-baik aja, kan? Kakak sudah sering bilang, jangan mencopet. Liat nih, akibatnya."
Rasa cemas menyelimuti jiwa dan raga Bimo.
Ara: "Udah selesai jenguknya? Ara masuk dulu. Permisi."
Ia masuk kembali ke ruang tahanan.
Bimo: "Ara.."
Ibil menepuk pundak Bimo.
Ibil: "Yang sabar ya, Bim.."

Beberapa hari kemudian, hakim memutuskan, Ara harus menjalani hukuman dalam penjara, selama empat bulan.
Ara: "Lumayan. Empat bulan makan gratis. Meski rasanya gak enak."
Katanya pada seorang napi lain.

Sementara itu..
Seorang pemuda bingung mencari sebuah alamat rumah. Suhu panas siang itu, tak dipedulikannya.
Pemuda itu namanya Ray. Ia adalah wartawan sebuah koran nasional.
Akhirnya Ray menemukan yang ia cari.
Ia sedang mengumpulkan informasi kriminal, tentang ditangkapnya seorang gadis pencopet. Ia menemui seorang sumber.
"Sebenarnya, dia anak yang baik. Cuma.. mungkin karena himpitan ekonomi."
Selesai wawancara, Ray ke kantor polisi, guna mengumpulkan informasi langsung dari si pencopet.
Di kantor polisi itu, Ray punya sahabat. Namanya Anton.
Anton: "Orangnya agak aneh. Lo punya waktu dua jam ngobrol sama dia."
Ray: "Oke. Thanks, ya."
Tak lama kemudian, Ray sudah duduk di dalam sebuah ruangan, tempat menjenguk narapidana. Ia melihat seorang gadis digiring petugas, masuk ke ruangan. Gadis itu duduk di hadapan Ray.
Ray: "Hai..!"
Sapanya pada gadis tersebut. Bukannya dapat balasan yang baik, malah menatap Ray dengan tataran kurang nyaman. Hawa yang dibawanya juga kurang menyenangkan.

Ray: "Namaku Ray. Kamu.. Ara, kan?"
Ya. Dia memang Ara. Tapi, Ara sama sekali tak terlalu menggubris Ray.
Ray: "Mau minum apa? Atau.. mau makan? Aku pesenin."
Ara terus menatap Ray.
Ara: "Sebenernya apa mau kamu? Kalo gak ada perlunya, aku mau masuk."
Ara sudah berdiri. Hendak memanggil polisi yang menggiringnya taf. Tapi, Ray berhasil menahannya.
Ray: "Hei, tunggu dulu, dong.. Aku cuma mau ngobrol sama kamu. Siapa tau, kamu bisa share tentang semua masalah kamu."
Ara: "Apa urusannya sama kamu? Masalah aku, ya masalah aku. Gak ada hubungannya sama sekali dengan kamu."
Ray: "Ara, aku ini wartawan. Khusus meliput kriminal anak jalanan. Aku paham betul. Beberapa tetangga rumahmu sangat menyayangkan kamu masuk kemari. Maaf Ara, kalau ada kata-kata aku yang menyinggung perasaan kamu."
Ara sudah tidak peduli dengan apa pun yang dikatakan oleh Ray. Ara minta pada sipir, supaya kembali ke sel.
Ray: "Tunggu dulu, Ara.."
Ia masih menahan Ara.

Ara urung membuka pintu.
Ray: "Maaf, kalau ini mengganggu privasi kamu. Tapi, kalau kamu ingin dirahasiakan, aku bisa."
Habis kesabaran Ara.
Ara: "Kamu pikir aku ini apa? Kenapa maksa banget, agar aku mau cerita sama kamu? Ogah!"
Lalu, Ara benar-benar meninggalkan Ray.

Anton melihat Ray bermuka masam.
Anton: "Gimana hasilnya?"
Ray menggelengkan kepala.
Ray: "Cewek aneh. Super aneh. Diajak ngomong baik-baik gak bisa. Mental apaan, tuh?!"
Anton: "Yang sabar dong, Ray.. Namanya juga baru ditangkap polisi.. pasti stress, lah.."
Ray menghela nafas. Bisa maklum.
Ray: "Ya.. ya.. Besok, gue coba lagi."

Ara kembali duduk di sudut ruang tahanan. Air mata basah di pipinya.

Anton menceritakan, bagaimana dia bisa menangkap Ara dengan mudah.
Anton: "Sebenernya, ya kasihan. Tapi ini kan hukum. Gimana pun juga harus ditegakkan. Kata sipir sih.. dia sering keliatan melamun dan nangis terus. Cuma.. ya.. mau gimana lagi.."

Ray: "Kasihan juga. Tapi gue gak akan menyerah. Gue pengen dia cerita."
Anton: "Maksa, nih?"
Ray: "Ya.. abis mau gimana lagi? Gue tertarik sama dia. Gue ngerasa ada sesuatu yang beda gitu.."
Anton: "Playboy lo kumat!"
Ray: "Eit! Gue ini wartawan profesional. Bisa bedain mana pekerjaan, dan mana urusan pribadi."
Anton: "Omdo lo! Omong doang!"
Ray: "Beneran, lagi.."

Besoknya, Ray datang lagi menemui Ara. Gadis itu terlihat tidak lebih baik dari kemarin. Rambutnya tak terawat. Wajahnya kusam. Matanya merah.
Ray mengambil sapu tangan dari tasnya. Ia menyela keringat di wajah Ara. Gadis itu diam saja. Ray juga merapikan rambut Ara. Menyisirnya dengan jari. Lalu mengikatnya dengan karet gelang. Sudah rapi.
Ray: "Kalo begini lebih baik."
Ara masih diam.
Ray: "Ara.. maaf ya. Kemarin aku terlalu memaksa. Tapi, kapan pun kamu mau cerita, aku bersedia mendengarkan. Gini-gini, aku pernah belajar di bidang psikologi."
Ara menatap Ray.
Ara: "Meski pun kamu agak nyebelin, tapi kamu baik."
Akhirnya Ara bicara.

Ray: "Setiap orang pasti punya sisi baik dan buruknya."
Ara bangkit dari duduknya.
Ara: "Aku.. pengen nyopet lagi. Kangen.."
Ray: "Nyopet?"
Ara: "Iya. Hobi yang beda, dan asik. Gak banyak orang yang suka memang. Tapi.. ini menguji andrenalin kita."
Ray: "Unik.."
Ara: "Komplit. Lari, jalan, mikir, semuanya untuk kesehatan."
Ray: "Tapi, itu merugikan orang lain. Kalau seumpama, yang kamu copet, lagi membutuhkan uang itu untuk berobat. Kan kasihan."
Ara: "Iya juga."
Ara kembali duduk dan menerawang.
Ara: "Aku ingin mati aja. Enak.. gak mikirin soal perut, atau apa pun."
Ray: "Kamu tau gak, setelah mati, kita gak selesai gitu aja, loh. Banyak hal mesti dipertanggungjawabkan."
Ara: "Gitu, ya?"
Ray: "Iya."
Ara menundukkan kepala.
Ara: "Aku.. nyopet karena ingin beli baju baru untuk tahun baruan. Tapi, setiap kali beli, selalu dirusak oleh kakakku."
Ara menangis.
Ara: "Sebenernya, kalo disuruh milih, aku juga gak mau. Aku ingin jadi orang baik."
 
ceritanya bagus tp kyknya masi bersambung yah..
btw mba sam nulisnya sambil mikirin suami yah..:D
Memang benar yang datang adalah Bimo. Ia datang bersama Ibil.
Bimo langsung memeluk Ara.
Bimo: "Ra, kamu baik-baik aja, kan? Kakak sudah sering bilang, jangan mencopet. Liat nih, akibatnya."
Rasa cemas menyelimuti jiwa dan raga Bimo.
Ara: "Udah selesai jenguknya? Ara masuk dulu. Permisi."
Ia masuk kembali ke suami tahanan.
Bimo: "Ara.."
Ibil menepuk pundak Bimo.
Ibil: "Yang sabar ya, Bim.."
 
aduh ada yang ketlisut ya :D
soalnya waktu itu nulis pake HP
 
Part 3

Cerita Ara membuat Ray tersentuh. Ia jadi mengurungkan niatnya untuk memuat cerita itu di koran. Kasihan..

Ray meletakkan tas ranselnya di sofa. Ia pun duduk di situ juga. Membuka kedua sepatunya.
Kemudian, seorang wanita datang padanya membawa nampan berisi jus buah dan sepiring kue kering.
Ray: "Eh, Mama.."
Wanita itu tersenyum. Ia meletakkan bawaannya di meja.
Irani: "Mukanya kok lemes gitu?"
Ray: "Abis nangis, Ma."
Irani: "Nangis? Kamu nangis? Kenapa?"
Ray: "Tadi, aku kan ke rutan. Wawancara cewek pencopet yang baru ditangkap. Awalnya, aku kira dia belagu. Soalnya, pertama kali ketemu, dia sok sok gimana, yah.. nyebelin, lah pokoknya. Gak nganggap aku ada. Tapi tadi, aku coba lagi dateng, dan dia udah mau cerita. Dia.. kasihan banget. Aku pun.. gak jadi angkat kasus dia, Ma.. Gak tega."
Irani: "Keputusan kamu benar, Sayang. Memangnya.. gadis itu seperti apa, sih?"
Ray: "Sebenarnya cantik. Mungkin karena gak punya uang, jadi gak terawat."

Irani: "Mama jadi ingin kenal.."
Ray: "Ntar aja, kalo dia udah bebas, aku kenalin ke Mama."
Tengah ngobrol, terdengar dering telpon.
Irani: "Ya udah, kamu minum jusnya, dan makan kuenya. Mama mau angkat telpon."

Telpon itu dari sahabatnya Ray. Namanya Damon.
Irani: "Eh, Damon.. Ada apa?"
Damon: "Ray mana, Tante?"
Irani: "Oh, ada. Sebentar.."

Ray menerima telepon Damon di kamar.
Ray: "Ada apa, Mon?"
Damon: "Party, yuk!"
Ray: "Party? Lagi?"
Damon: "Oh.. iya, dong.. Gue kan Pangeran Pesta. Gue gak mau kalo sampe gelar ini lepas."
Ray: "Oke. Di mana party-nya?"
Damon: "Di rumah gue."
Ray: "Kapan?"
Damon: "Besok malem. Jangan telat, loh!"
Ray: "Iya.. iya.."

Damon.. Damon Syahreza. Sahabat Ray sejak kecil. Bahkan sebelum mereka lahir. Mereka selalu melakukan banyak hal bersama. Mamanya Damon, Novia, bersahabat baik dengan Irani sejak SMA. Sebuah persahabatan yang cukup panjang umurnya.

Damon punya cewek. Namanya Sofi. Hubungan mereka hanya sekedar TTM.
Sofi: "Mon, persiapannya udah perfect."
Damon: "Good, honey. Good job! Aku jadi makin sayang sama kamu, nih.."

Party pun tiba..
Sebagai sahabat, Ray datang tepat waktu, dan party di rumah Damon sudah mulai. Di adakan di tepi kolam renang. Suara musik menghentak-hentak.
Ray: "Party kali ini dalam rangka apa, nih?"
Damon: "Dalam rangka, menyambut artis baru perusahaan entertaiment gue. Nindy!"
Yang dipanggil pun datang. Wanita yang sangat cantik. Berwajah indo, dan ia sangat seksi. Rambut cokelatnya terurai indah. Memakai one shoulder warna putih dengan bawahannya rok mini di atas lutut. Sepuluh centimeter di bawah daerah kewanitaan.
Nindy: "Hai semua! Damon, Sofi, dan Raymond.."
Kemudian, datang lagi seorang teman mereka.
Ray: "Hai, Ton..! Dateng juga, lo?"
Anton: "Ya iya, dong.. Acaranya cewek gue, kan.."
Ia merangkul Nindy. Tapi, Nindy berusaha lepas.
Nindy: "Apaan, sih!"
Nampaknya, ia kesal."

Anton: "Nindy.. Jangan gitu, dong.. Aku kan udah minta maaf."
Nindy: "Udahlah, Mas.. Aku capek sama kamu,"
Anton: "Aku juga capek sama kamu. Yang selalu cemburuan."
Mereka mulai berantem.
Damon: "Wei.. Stop! Stop!"
Sofi: "Iya nih. Kok malah berantem, sih.."
Nindy menunjukkan amarah itu lewat raut wajahnya.
Nindy: "Gimana gak kesel coba, Sof.. Waktu itu, dia jalan sama cewe. Gandengan berdua. Dipanggil gak noleh. Jelas aja, gue kesel.."
Anton membela diri.
Anton: "Itu bukan seperti yang kamu pikirin. Ray kenal cewek itu."
Ray: "Loh, kok gue jadi dibawa-bawa?"
Anton: "Karena, cewek yang dimaksud adalah Ara."
Ray: "Ara? Ara yang di rutan?"
Anton: "Iya."
Ray tersenyum. Lalu menjelaskan pada mereka, siapa Ara.
Ray: "Jadi, Nin.. Gak mungkin, polisi pacaran sama narapidana. Udahlah. Baikan sana..!"
Sofi: "Iya, baikan.."
Nindy melirik Anton.
Nindy: "Ya udah. Aku maafin kamu."
Ia pun memeluk Anton.
Mereka kembali pesta.

Kenapa Ray jadi ingat Ara terus?
Damon memperhatikan Ray melamun.
Damon: "Hei.. Ara tuh kayak apa, sih? Sampe bikin Nindy marah besar gitu?"
Ray: "Gadis cantik. Sayang, hidupnya susah banget."
Damon: "Gue penasaran. Kenalin, dong.."
Ray: "Jangan kumat. Ini cewek beda banget dengan cewek-cewek yang biasa kita temui."
Damon: "Ya.. gak papa. Kan jadi temen ini.."
Ray: "Besok gue ke sana. Kalo ketemu sama dia, mesti jaga perasaannya."
Damon: "Iya.. iya.. gue ngerti."

Keesokan harinya, Ray datang menjenguk Ara. Ia tidak sendiri. Ia mengajak Damon.
Ray: "Ara, kenalin.. Damon, sahabat aku."
Damon tersenyum pada Ara. Tapi dibalas dengan tatapan aneh. Garing, deh. Gak papa. Damon bisa mengerti.
Ray: "Hari ini.. kamu gimana?"
Ara: "Jauh lebih baik.."
Ray: "Aku seneng banget dengeroya. Dan aku lihat.. wajah kamu lebih ceria.
Ara tersenyum. Ini senyuman pertama yang ia tunjukkan sejak masuk penjara.
Damon terus memperhatikan Ara. "Cantik banget..," katanya dalam hati."

Ray: "Pokoknya, Ra.. kamu jangan banyak ngelamun. Isi waktu kamu dengan kegiatan yang bermanfaat."
Ara: "Iya. Aku.. udah mulai ikut kegiatan bersama narapidana lainnya. Kayak menjahit. Siapa tau, bisa jadi bekal, saat aku keluar dari sini. Dan aku memutuskan untuk jadi orang baik."
Ray tersenyum.
Ray: "Aku seneng dengernya."
Kemudian, ia mengeluarkan bungkusan tas plastik dari ranselnya.
Ray: "Ini.. ada sedikit buah-buahan untuk kamu."
Ara menerimanya tanpa basa basi.
Ara: "Makasih, ya.."
Damon terkejut melihat Ray begitu perhatian dan akrab dengan Ara.
Damon: "Buset, dah! Si Raymond.. perhatian amat sama nih cewek.."
Lagi-lagi ia berdecak kagum dalam hati.
 
Part 4

Damon.. kenapa mikirin Ara, ya? Lalu, ia menelpon seseorang.
Damon: "Gue Damon.."
Mereka pun terlibat pembicaraan yang cukup penting.

Di rutan..
Ara sedang dapat giliran piket bersama narapidana lainnya. Ia menyapu koridor sel.
Kemudian Anton datang. Ia tersenyum pada Ara.
Anton: "Selamat.. hari ini juga, kamu bebas."
Ara terkejut bukan main.
Ara: "Bukannya.. masih beberapa minggu lagi?"
Anton: "Ada.. yang menjamin kamu."
Ara: "Siapa?"
Anton: "Dia meminta identitasnya dirahasiakan."
Ara bingung. Apakah ini.. Ray yang melakukan?
Saat Anton hendak mengantar Ara pulang..
Ara: "Ng.. Pak Anton, boleh gak, saya minta tolong?"
Anton: "Bilang aja."
Ara: "Saya.. ingin ketemu Ray."
Anton: "Oke. Saya akan bantu."
Ara: "Terimakasih."

Hari ini Ray tidak pergi ke mana-mana. Ia di kantor sedang mengedit naskah berita.
Lalu, Anton datang.
Anton: "Hey, Ray!"
Ray: "Oh, hai, Ton! Tumben kemari? Ada apa?"
Anton: "Sibuk, gak?"
Ray: "Gak.."
Anton: "Ikut gue, yuk.. Ada yang mau ketemu.."
Ray: "Siapa?"

Ray terkejut sekaligus senang melihat Ara ada di hadapannya. Tidak lagi memakai seragam rutan. Ia tampak lebih bersih. Lebih cantik.
Ray: "Ara? Kamu.. ngapain di sini?"
Ara: "Ada yang menjamin aku bebas, Ray?"
Ray: "Siapa?"
Ara: "Itu dia yang mau aku tanyain ke kamu."
Ray: "Pasti kamu ngira aku yang melakukannya. Iya, kan?"
Ara mengangguk.
Ray: "Bukan, Ra. Aku malah gak kepikiran sampai situ."
Lalu, mereka duduk di salah satu bangku. Anton menunggu di mobilnya.
Ray: "Tapi, siapa pun orangnya, semoga dia selalu beruntung. Dan kamu, gak boleh ngecewain dia. Jangan sampai kamu masuk penjara lagi.."
Ara mengangguk lagi.
Ray: "Siapa pun yang menjamin kamu, aku gak peduli. Tapi aku seneng banget kamu bebas. Dengan begitu, pertemanan kita bisa jadi semakin bebas juga."
Ara menatap Ray.
Ara: "Kamu.. mau berteman sama aku?"
Ray: "Iya, dong. Kamu adalah teman yang menyenangkan."
Ara tersenyum.
Ara: "Terimakasih ya, Ray.."

Ray menyentuh kedua tangan Ara.
Ray: "Sekarang, kamu udah ada aku. Jadi, kalau kamu butuh apa pun, kamu bilang sama aku."
Ara: "Iya, pasti. Itu kan, gunanya teman.."
Ray senang. Ara adalah orang yang terbuka dan apa adanya. Tidak seperti gadis-gadis yang sering ia temui. Yang kebanyakan basa basi. Bilang tidak, akhirnya mau juga.

Bimo terkejut melihat kepulangan Ara, diantar Anton.
Bimo: "Kamu udah bebas, Ra?"
Ara: "Iya, Kak.."
Anton: "Ara, pokoknya jangan sampai terulang lagi.."
Ara: "Iya, Pak Anton.."
Anton: "Jangan panggil 'pak', dong. Panggil 'mas' aja.."
Ara: "Iya, Mas."
Anton: "Trus, ini lagi.. Kamu besok bisa langsung kerja di tempat temenku. Itu loh, si Damon. Aku udah bicarain ini sama dia."
Ara: "Sekali lagi, terimakasih."

Damon sangat senang bukan main. Ia telah berhasil mengeluarkan Ara dari penjara. Dan berhasil pula, bikin dia kerja di kantornya. Meski hanya sebagai cleaning service.

Ara: "Makasih, Damon. Kamu mau menerima aku kerja di sini."
Damon: "Iya, sama-sama."
Dalam hati, Damon berkata..
Damon: "Aku ngeluarin kamu dari penjara, karena kamu terlalu cantik, Ara.."

Lagi-lagi Ray dibuat terkejut. Saat ia tau, Ara kerja di tempat Damon.
Ray: "Gila lo, Mon! Kok jadi cleaning service sih?"
Damon: "Abis apa, dong? Dia cuma lulusan SD. Pernah SMP tapi cuma dua bulan."
Ray: "Kalo gitu, gak usah ajak dia kerja di tempat lo. Kasihan.."
Damon: "Kasihan gimana sih, maksudnya? Ini pekerjaan halal, Ray. Iya, emang gajinya gak tinggi. Tapi, dari pada nyopet gitu, loh.."
Ray menatap Damon: "Gue nyium gelagat gak enak sama lo. Ada apa ini? Jangan-jangan, lo juga yang udah jamin kebebasan Ara."
Damon: "Udahlah, Ray.. gak usah bahas ini lagi, oke? Yang penting, sekarang Ara punya pekerjaan halal, siapa tau, minggu depan jadi manajer. Takdir Tuhan gak ada yang tau.
Ray setuju dengan Damon. Tapi, tetap saja hatinya merasa tidak tenang.

Pulang kerja, sekitar pukul tujuh malam, Ara jalan kaki. Ia belum punya uang untuk naik angkot. Belum gajian.
Tapi..
Sebuah mobil jaguar warna silver berhenti di dekatnya. Lalu, kacanya terbuka. Ada Damon di dalam.
Damon: "Bareng, yuk!"
Ara tersenyum. Lalu masuk ke mobil itu tanpa basa basi.
Damon: "Kok gak naik bus?"
Ara: "Gak ada duit."
Damon tersenyum.
Damon: "Makan malam dulu, yuk."
Ara: "Tapi.."
Damon: "Ayolah.."
Ara: "Iya deh. Tapi, ntar anterin aku pulang sampe rumah."
Damon: "Beres itu mah.."
Ara tertawa geli mendengam logat sunda Damon yang dibuat-buat.
Mereka pergi ke restoran langganan Damon. Mereka pesan ruang VIP dengan fasilitas karaoke.
Ara: "Wow.. kamu suka dengan tempat rame?"
Damon: "Iya. Kamu juga?"
Ara mengangguk.
Damon: "Nyanyi, yuk!"
Ara: "Ayo!"
Mereka memilih lagu, lalu menyanyi bersama.
Aku terlanjur cinta kepadamu
Dan tlah ku berikan seluruh hatiku
Tapi mengapa baru ling kau pertanyakan
Cintaku..
Kini terlambat sudah untuk dipersalahkan..
Karena sekali cinta..
Aku tetap cinta..

Suara Damon memang tidak sekeren Pasha. Tapi, Damon baru tau, kalau Ara pandai menyanyi.
Ara: "Biasanya, aku ikut-ikutan temen kalau lagi ada perayaan. Kita nyanyi rame-rame. Jadi, aku sekalian belajar."
Damon: "Tapi, suara kamu benar-benar bagus, Ara."
Ara: "Makasih ya, pujiannya.."
Damon: "Beneran loh. Ini bukan pujian. Tapi kenyataannya memang begitu. Kalau kamu jadi penyanyi, Rossa aja pasti kalah."
Ara: "Udah ah! Jangan becanda gitu. Pulang, yuk..! Aku udah ngantuk, nih.."
Damon: "Ya, deh.."

Sebelum keluar dari mobil, Damon tanya sesuatu pada Ara.
Damon: "Boleh gak, besok pagi aku jemput kamu?"
Ara: "Boleh. Jam enam pagi, ya.."
Damon: "Apa? Jam enam? Gak kepagian?"
Ara: "Aku kan cleaning service. Bukan karyawan."
Damon: "Ya, deh. Jam lima pun, aku dateng."
Ara tersenyum.
 
Part 5

Benar-benar gila!
Saat Ara baru bangun tidur, dan keluar untuk jogging, kira-kira pukul lima lebih sedikit. Ia terkejut melihat mobil Damon sudah ada di depan gubuknya. Damon sendiri ada di dalam mobil. Tidur. Ara tak ingin mengganggunya. Ia pun jogging dulu.
Setengah jam kemudian setelah jogging, mobil Damon masih ada. Damon juga masih tidur. Ara terpaksa membangunkannya. Ia mengetuk kaca mobil beberapa kali, dan berhasil membuat Damon bangun. Pria itu membuka kaca mobilnya.
Ara: "Kamu ngapain pagi-pagi udah di sini?"
Damon: "Katanya.. mau berangkat bareng.. Aku takut kesiangan. Jadi, aku gak pulang tadi malam."
Ara: "Apa? Aduh.. Kasihan banget. Pasti.. sekarang kamu badannya gak enak banget, ya? Tidurnya gak nyenyak, ya?"
Damon tersenyum.
Damon: "Engga, kok. Biasa aja."
Ara: "Mau.. sarapan? Aku gorengin telor.."
Damon: "Boleh, Ra.."
Ara: "Bentar. Tunggu di sini."

Bimo baru selesai mandi di pemandian umum. Ia melihat Ara masak banyak. Telor mata sapinya sampai tiga.
Bimo: "Banyak amat lo makannya.."
Ara: "Bukan Ara. Tapi.. temen Ara."
Bimo melihat keluar dan terkagum pada sebuah mobil mewah yang terparkir di depan gubuk mereka.
Bimo: "Siapa, tuh? Presiden? Apa wakilnya?"
Apa: "Rakyatnya, lah.."

Sudah siap. Ara mengantar sarapan untuk Damon.
Damon: "Hm.. wanginya.."
Ara: "Ya udah. Kamu sarapan dulu. Aku mau ganti baju."

Semua karyawan di kantor Damon heran. Melihat atasan mereka datang pagi-pagi sekali. Apalagi bersama Ara, si tukang bersih-bersih kantor. Keduanya memperlihatkan keakraban mereka.
Ara: "Oh ya, kamu kan belum mandi. Masa.. mau langsung ngantor, sih?"
Damon: "Sstt! Jangan keras-keras, dong. Biar pun gak mandi, aku tetep ganteng, kan?"
Ara: "Tapi bau..!"
Damon tertawa.
Damon: "Tenang aja.. Di ruangan aku, selalu sedia pakaian. Ntar aku mandi, deh."
Ara: "Kalo gitu.. aku kerja dulu.."

Sofi baru pulang kuliah, dan langsung mampir ke kantor Damon.
Sofi: "Damon Sayang..!"
Damon: "Eh.. Sofi sayang..!"
Sofi: "Capek banget, nih.. baru pulang kuliah.."
Damon: "Tapi tadi kuliahnya lancar-lancar aja. Ya, kan?"
Sofi: "Iya."

Seorang office girl berjalan membawa nampan berisi dua cangkir kopi susu.
Tiba-tiba, ia merasa kesakitan.
Ara yang berada tak jauh darinya langsung menolong. Ia menggantikannya mengantar minuman itu ke ruangan Damon.

Sofi dan Damon asik main game online di komputer.
Sofi: "Tembak! Yak! Tembak!"
Damon: "Pake bom aja."
Sofi: "Tembak, dong!"
Damon: "Bom, lah. Ampuh!"
Tengah asik main, ada suara pintu diketuk.
Damon: "Masuk!"
Saat ia tau bahwa Ara yang masuk dengan membawa nampan, entah kenapa, Damon langsung menjauh dari Sofi.
Damon: "Kok kamu yang nganter?"
Ara: "Iya. Tadi, mbaknya sakit perut. Ya udah, aku yang nganter."
Damon: "Oh.."

Ara memperhatikan Damon.
Ara: "Kamu.. belum mandi?"
Ia bertanya dengan suara berbisik.
Damon: "Belum.. Bentar lagi, deh.."
Ara: "Dasar! Ya udah,. aku kerja lagi, ya.. Dah!"

Damon melihat tampang Sofi yang mulai tidak menyenangkan.
Sofi: "Siapa dia? Kok kayaknya kamu akrab banget?"
Damon: "Oh.. Itu Ara. Temen aku sama Ray."
Sofi: "Gak usah bawa-bawa nama Ray, deh.."
Damon: "Emang kenyataannya kayak gitu, kok."
Sofi: "Alah! Ngaku aja..! Dia simpanan kamu, kan?"
Damon: "Terserah apa pemikiran kamu. Pokoknya, aku udah jujur sama kamu."
Sofi: "Kalo gitu, demi kebaikan kita berdua, aku mau warning dia!"
Sofi keluar dari ruangan Damon, dan melihat Ara belum jauh. Ia menyambar lemhar Ara dan menariknya dengan kasar.
Ara: "Aw!"
Damon coba melerai.
Damon: "Sof, udah!"
Sofi menatap Ara dengan tajam.
Sofi: "Kamu jangan deketin Damon lagi! Damon udah punya aku. Ngerti?!"
Akhirnya Ara mengerti.
Ara melepaskan lengannya dari cengkeraman Sofi.

Ara: "Gue pikir ada apaan.. Lo gak perlu kayak gini, lah.. Malu-maluin, tau! Gue sama Damon cuma temen. Jadi, lo gak ada hak marah-marah. Malu, buukk! Malu!"
Sofi menampar Ara keras-keras. Damon sampai ikut merasa sakit.
Damon: "Sofi! Cukup!"
Ara: "Biar aja, Mon.. Kita liat.. sampai sekuat apa dia berhadapan dengan Ara..?"
Damon: "Tapi.. kamu lagi dijahatin.."
Sofi tidak menyangka. Damon akan terus-terusan membela Ara.
Sofi: "Damon! Pacar kamu tuh aku. Bukan dia?"
Damon: "Pacar? Kamu pacar aku? Ceritanya gimana? Kita cuma TTM, dan gak ada ceritanya TTM itu cemburuan. Lagi pula, kamu tuh udah salah. Ya udahlah.."
Ara: "Tuh.. dengerin!"
Sofi kesal. Ia pergi sambil menangis.
Damon: "Kamu gak pa-pa kan, Ra?"
Ara: "Kenapa emangnya?"
Damon: "Maafin Sofi, ya.. Dia emang suka gitu."
Ara: "Cewek kayak gitu jangan dipiara. Rugi tau!"
Damon tersenyum.
Damon: "Kamu bener."
Ara: "Sekarang, kamu cepetan mandi. Ini udah siang. Dan aku mau kerja lagi.."

Damon.. baru kali ini bertemu seorang gadis yang begitu berani. Begitu apa adanya. Kalau gadis lain, mungkin sudah minta berhenti kerja, karena sikap Sofi.

Malamnya, Sofi datang ke apartement Damon.
Sofi: "Maafin aku ya, Sayang.. Tadi aku khilaf. Aku.. cuma gak mau kehilangan kamu, Mon.."
Damon: "Tapi, Sof.. hubungan kita hanya sebatas TTM.."
Sofi: "Maka dari itu.. Ayo, kita resmiin hubungan kita."
Damon: "Maksudnya?"
Sofi: "Kita jadian. Kita pacaran. Gimana?"
Damon: "Kamu udah sinting, ya? Gak bisa. Aku gak mencintai kamu. Jadi, aku mohon, jangan minta yang aneh-aneh."
Sofi: "Tapi, Mon.. Aku mencintai kamu. Apa itu belum cukup? Aku akan kasih kamu waktu untuk belajar mencintai aku. Apa.. itu masih kurang?"
Sofi sangat memaksa. Hingga membuat Damon jadi risih dan kesal. Ia mulai bicara ngawur.
Damon: "Aku gak bisa jadi pacar kamu. Karena aku udah mencintai orang lain. Ingat itu!"
Pernyataan ngawur itu melukai hati Sofi. Tapi mau bagaimana lagi?"
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.