• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

A Shepherd Looks At Psalm 23

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. effie
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

effie

IndoForum Staff Personnel
No. Urut
601
Sejak
17 Apr 2006
Pesan
8.576
Nilai reaksi
353
Poin
83
1 Tuhan adalah Gembalaku

Tuhan! Tetapi siapakah Tuhan? Bagaimana karakter Nya? Apakah Dia memiliki mandat yang memadai untuk menjadi Gembala saya - manajer saya - pemilik diri saya ?

Dan jika Dia memang memiliki mandat itu, bagaimana saya dapat berada dibawah kendali-Nya? Dengan cara apa saya menjadi objek kepedulian dan perhatian-Nya yang tak kenal lelah?

Ini adalah pertanyaan yang menusuk dan menyelidis serta pantas mendapatkan pemeriksaan yang jujur dan mendasar.

Salah satu bencana besar bagi kekristenan adalah kecenderungan kita untuk berbicara dalam bahasa umum yang mempunyai arti ganda.

Daud sendiri, penulis puisi ini, seorang gembala sebagai "Raja Gembala" Israel, menyatakan denganterus terang, "Tuhan adalah Gembalaku." Kepada siapakah ia tujukan sebutan ini ?

Daud sedang menyebut tentang YAHWEH, Tuhan, yang disembah oleh Israel.

Pertanyaannya di teguhkan oleh Yesus Kristus, Ketika Dia menjadi Tuhan yang berinkarnasi diantara manusia, Dia menyatakan dengan penuh empati, "Akulah Gembala yang baik".

Tetapi siapakah Kristus ini ?
Pandangan kita tentang Dia sering kali terlalu kecil - terlalu kaku - terlalu picik, terlalu manusiawi.

Dan karena itu, kita merasa tidak rela membiarkan Dia memiliki otoritas atau kendali - sedikit atau banyak kepilikan atas hidup kita.

Dialah yang langsung bertanggung jawab atas penciptaan semua hal, baik yang alamiah (natural) maupun supranatural (Kol 1:15-20)

Jika kita berdiam diri sejenak untuk merenungkan pribadi Kristus - kuasa-Nya dan pencapaian-Nya - tiba-tiba, seperti Daud, kita akan senang menyatakan dengan bangga, "Tuhan - Engkaulah Gembalaku !"

Sebelum kita melakukannya, ada baiknya kita tetap mengingat denga jelas bagian khusus yang dimainkan dalam sejarah kita oleh Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Bapa adalah Tuhan Pencipta - pencetus semua yang ada. Didalam pikirannyalah, pada awalnya, segala hal terbentuk.

Yesus Kristus Sang Putra, Juruselamatkita, adalah Tuhan perajin - Sang seniman, pencipta segala yang ada. Dia mewujudkan semua yang awalnya dirumuskan didalam pikiran Bapa-Nya.

Roh Kudus adalah Tuhan perantara yang membeberkan fakta-fakta ini untuk pikiran saya dan pemahaman Rohani saya sehingga menjadi nyata dan berkaitan dengan diri saya sebagai individu.

Nah, hubungan indah antara Tuhan dan manusia yang disajikan kepada kita berulang kali dalam Alkitab adalah hubungan seorang ayah dengan anak-anaknya dan seorang gembala dengan dombanya. Konsep-konsep ini pertama-tama terkandung dalam pikiran Bapa kita. Semua konsep tersebut dimungkinkan dan dapat diterapkan melalui karya Kristus. Semua itu diteguhkan dan dijadikan nyata dalam diri saya melalui perantara Roh Kudus yang pemurah.

Jadi, ketika pernyataan yang sederhana - namun agung - ini diucapkan seorang laku-laku atau perempuan, "Tuhan adalah gembalaku" maka segera tersirat hubungan yang mendalam namun praktis yang berlangsung antara manusia dan penciptanya.

Hal ini menghubungkan segumpal tanah liat biasa dengan panggilan ilahi - yang berarti bahwa mahluk yang fana menjadi objek yang disayangi oleh ketekunan ilahi.


Pemikiran ini saja pasti menggugah roh saya, mempercepat kesadaran diri saya, dan memberi martabat sangat besar bagi diri saya sebagai individu. Memikirkan bahwa Tuhan didalam Kristus begitu peduli dengan saya sebagai seseorang yang khusus, segera memberi tujuan yang besar dan arti yang sangat besar bagi persinggahan singkat saya diplanet ini.

Dan meskipun konsep saya tentang Kristus semakin besar, semakin luas, semakin agung, namun yang lebih vital adalah hubungan saya dengan Dia. Tentu saja Daud dalam Mazmur ini sedang berbicara bukan sebagai gembala, meskipun ia seorang gembala, tetapi sebagai domba salah satu dari kawanan domba-dombanya. Ia berbicara dengan perasaan bangga yang kuat serta penyerahan dan kekaguman. Seolah-olah ia benar-benar menyombongkan diri dengan suara lantang, "Lihatlah siapakah gembalaku- pemilikku- manajerku!" Dialah Tuhan!

Apalagi ia tahu dari pengalamannya sendiri bahwa nasib setiap domba bergantung pada gembala yang memilikinya. Beberapa gembala bersikap lemah lembut, baik, cerdas, berani, dan tidak egois dalam pengabdian mereka terhadap kawanan domba mereka. Dibawah pimpinan seseorang yang lain, domba akan bersusah payah, kelaparan, dan mengalami kesengsaraan yang tak ada habisnya. Dalam asuhan gembala yang lain mereka akan tumbuh besar dan berkembang biak secara memuaskan.

Jadi jika Tuhan adalah gembala saya, seharusnya saya mengetahui sesuatu tentang karakternya dan memahami dan sesuatu tentang kemampuannya.

Untuk merenungkan hal ini saya kerap keluar rumah dimalam hari, berjalan kaki sendirian dibawah bintang-bintang dan mengingatkan diri saya tentang keagungan dan kekuatannya. Saat memandang langit yang bertabur bintang-bintang, saya ingat bahwa sedikitnya 250.000.000 X 250.000.000 benda semacam itu - masing-masing lebih besar dari pada matahari kita yang merupakan bintang terkecil - diserakkan diruang angkasa yang begitu luas dialam semesta oleh tangan-Nya. Saya teringat bahwa planet bumi, yang merupakan rumah sementara saya untuk beberapa tahun yang singkat, adalah setitik benda yang sangat kecil diruang angkasa sehingga apabila kita dapat memindahkan teleskop kita yang paling kuat ke bintang tetangga kita yang paling dekat, Alpha Centauri, dan meilhat kebumi melalui teleskop itu, maka bumi tidak kelihatan, esekalipun dengan bantuan alat yang hebat tadi.

Semua ini sediokit merendahkan hati "Ego" seorang manusia terkuras dan banyak hal ditempatkan kembali dalam perspektif yang benar. Saya jadi melihat diri saya hanya sebagai benda sebesar kutu di alam semesta yang maha luas. Namun, fakta yang mengejutkan tetaplah bahwa Kristus, pencipta alam semesta yang sangat luas, dengan ukuran yang luar biasa, berkenan menyebut diri-Nya gembala saya dan mengajak saya untuk menganggap diri saya sebagai domba-Nya - sasaran khusus bagi kasih sayang dan perhatian-Nya. Siapa yang dapat lebih baik memedulikan saya ?

Dengan proses yang serupa, saya membungkuk dan mengambil segemgam tanah dari halaman belakang atau pinggir jalan. Saya menaruhnya dibawah mikroskup electron, dan kagum melihat tanah itu dipenuhi dengan milyar-demi milyaran mikroorganisme.

Banyak diantara mereka begitu rumit dalam struktur sel mereka yang khas, sehingga bahkan sedikit fungsi mereka dibumi belum dipahami dengan tepat.

Ya, Dialah Kristus - Putra Bapa - yang membawa semuaya ini menjadi ada. Dari galaksi yang berukuran paling raksasa hingga mikroba yang paling kecil, semua berfungsi tanpa cacat menurut hukum ketertiban dan kesatuan yang akhirnya tidak mamupu dikuasai oleh pikiran manusia.

Awalnya, dengan pengertian inilah saya pada hakekatnya harus mengakui bahwa kepemilikannya atas diri saya sebagai nabusia adalah sah - hanya karena Dia yang telah membuat saya ada dan tak ada yang lebih mampu memahami atau memedulikan saya selain Dia.

Saya milikNya hanya karena Dia sengaja memilih untuk menciptakan saya sebagai objek kasih sayangnya sendiri.

Sangatlah jelas bahwa kebanyakan laki-laki dan perempuan tidak mau mengakui fakta ini. Upaya mereka yang disengaja untuk menyangkal bahwa hubungan semacam itu ada atau bisa ada antara manusia dan penciptanya menunjukkan keengganan mereka untuk mengakui bahw aseseorang benar-benar dapat menyatakan kepemilikan atau otoritas atas mereka dengan membuat mereka ada.

Ini tentu saja merupakan "resiko" sangat besar atau "peluang yang sudah diperhitungkan, " jika kita dapat menggunakan istilah yang Tuhan tentukan ketika menciptakan manusia sejak awal.

Namun, dengan caranya yang selalu murah hati, Dia mengambil langkah kedua dalam berusaha memulihkan hubungan ini yang berulang-kali diputuskan oleh manuisa yang membelakangi Dia.

Sekali lagi didalam Kristus, Dia menunjukkan di Kalvari, kerinduan hati-Nya yang dalam untuk membuat manusia datang dibawah pemeliharaan-Nya yang penuh kebaikan. Dia sendiri menyerap hukuman untuk pemberontakan mereka, menyebutkan dengan jelas bahwa "Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (Yesaya 53:6)

Jadi, dalam pengertian kedua yang sangat nyata dan vital, saya sungguh-sungguh milik_nya hanya karena Dia telah membeli saya kembali dengan harga yang luar biasa berupa penyerahan nyawa-nya dan curahan darah-Nya sendiri.

Oleh karena itulah Dia berhak mengatakan, "Akulah Gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. "Maka tinggalah kenyataan yang menggugah, bahwa kita telah dibeli dengan suatu harga, bahwa kita benar-benar bukan milik kita sendiri, dan Dia sungguh berhak menyatakan kepemilikan atas hidup kita.

Saya masih cukup jelas mengingat betapa pentingnya dalam pengalaman pertama saya dengan domba, pertanyaan tentang membayar harga untuk domba-dmba betina saya. Mereka milik saya hanya karena fakta bahwa saya telah membayar sejumlah uang untuk mereka. Uang itu adalah hasil keringat, darah, dan airmata yang diperas dari tubuh saya sendiri selama tahun-tahun kesusahan yang parah dimasa depresi. Dan ketika saya membeli sekawanan kecil domba-domba itu, saya membeli mereka benar-benar dengan tubuh saya sendiri yang telah diserahkan. Hari ini saya masih mengingat hal itu.

Karena itu saya merasakan sesuatu yang khusus bahwa mereka benar-benar dari diri saya dan saya bagian dari mereka. Ada identitas intim yang terlibat meskipun tidak terlihat dipermukaan oleh pengata biasa, yang bagaimanpun juga membuat ketigapuluh domba betina itu luar biasa berharga bagi saya.

Namun pada hari saya membeli mereka, saya juga menyadari bahwa ini barulah tahap pertama dalam upaya yang panjang dan lama sejak saat itu, dimana saya sebagai pemilik mereka, harus senantiasa menyerahkan nyawa saya untuk mereka, supaya mereka tumbuh besar dan berkembang biak. Domba tidak mampu menjaga diri mereka sendiri "Seperti yang diduga kebanyakan orang" Mereka menuntut perhatian terus menerus dan perawatan yang sangat cermat melebihi golongan yang ternah yang lain.

Bukan kebetulan jika Tuhan memilih untuk menyebut kita domba. Perilau domba dan manusia banyak kesamaannya, seperti yang terlihat dalam bab-bab selanjutnya. Pikiran kita secara umum (atau naluri kebanyakan orang), perasaan takut dan malu kita, sifat kita yang keras kepala dan kebodohan kita, kebiasaan yang suka melawan, semuanya selaras dalam arti yang sunggug-sungguh mendalam.

Namun, meskipun dengan karakteristik yang menentang ini, Kristus tetap memilih kita, membeli kita, menyebut nama kita, menjadikan kita milik-Nya, dan senang memperhatikan kita.

Aspek terakhir inilah yang sesungguhnya merupakan alasan ketiga mengapa kita wajib mengetahui kepemilikannya atas kita. Dia benar-benar menyerahkan diri-Nya bagi kita terus menerus. Dia selalu menajdi peranteraan bagi kita, Dia senantiasa menuntun kita dengan Roh nya yang rahmani, Dia selalu bekerja demi kebaikan kita untuk memastikan bahwa kita akan mendapat manfaat dari perhatianNya.

Sebenarnya, Mazmur 23 dapat dissebut "Kidung Pujian Daud Bagi Kesabaran Illahi." Sebab sel;uruh puisi itu terus menerus menceritakan sikap dimana Tuhan sang gembala tidak menghindari kesakitan apapun demi kesejahteraan dombanya.

Yang agak mengherankan adalah, bahwa puisi ini menyatakan kebanggaan menjadi milik Sang Gembala yang baik. Mengapa Ia harus bangga ?

Saya masih ingat dengan jelas salah satu peternakan domba diwilayah kami yang diurus oelh seorang gembala upahan. I tidak pernah diperbolehkan untuk memiliki dombanya. Ternaknya selalu kurus, lemah dan terserang penyakit atau parasit. Kerap kali domba-domba nya datang dan berdiri dipagar, sambil menatap kosong melalui anyaman pagar kawat, kearah padang rumput yang subur tempat domba-domba saya makan. seandainya mereka bisa bicara, saya yakin mereka pasti mengatakan, "Oh, bebaskanlah kami dari pemilik yang jahat ini"!

Itulah gambaran yang tak pernah lepas dari ingatan saya. Itulah gambaran tentang orang-orang sengsara didunia yang belum tahu apa yang seharusnya menjadi milik gembala yang baik... Orang-orang yang menderita dibawah kuasa dosa dan setan.

Betapa mengherankan jika setiap laki-laki dan perempuan bersikeras menyangkal dan menolak kepemilikan Kristus atas hidup mereka. Mereka takut kalau-kalau dengan mengakui kepemilikannya itu berarti tunduk dibawah suatu tirani.

Ini sulit dipahami, apabila kita berdiam diri sebentar untuk merenungkan karakter Kristus. Harus diakui banyak karikatur yang keliru tentang pribadi ini namun suatu pandangan yang tidak memilhak terhadap kehidupannya segera mengungkapkan bahwa Dia adalah pribadi dengan belas kasihan yang begitu besar dan integritas yang luar biasa.

Dialah pribadi yang paling seimbang dan paling dikasihi yang pernah memasuki lingkungan manusia. Meskipun dilahirkan ditenga lingkungan yang paling menjijikan, menjad1i anggota sebuah keluarga pekerja yang sederhana, Dia selalu membawa diri-Nya dengan kewibawaan dankeyakinan yang besar. Kendati Dia tidak menikmati fasilitas khusus sebagai seorang anak, baik dalam pendidikan maupun pekerjaan seluruh filosofi dan pandangannya mengenai kehidupan adalah standar perilaku manusia yang paling tinggi yang pernah dibeberkan dihadapan umat manusia. Meskipun Dia tidak memiliki aset ekonomi yang banyak, kekuasaan politik ataupun kekuatan militer tak ada orang yang pernah menciptakan dampak begitu besar pada sejarah dunia. Karena Dialah, jutaan orang selama hampir 20 abad telah masuk kedalam kehidupan yang saleh dan perilaku yang terhormat dan mulia.

Dia bukan hanya lemah lembut dan baik serta jujur, namun juga benar, tegar bagai baja dan sangat keras terhadap orang-orang yang munafik.

Dia sangat menonjol dalam Roh pengampunannya yang murah hati kepada kawanan yang jatuh, namun menjadi kengerian bagi mereka yang selalu berbicara mendua atau berpura-pura.

Dia datang untuk memerdekakan manusia dari dosa-dosa mereka sendiri, diri mereka sendiri, kekuatan mereka sendiri. Mereka telah dimerdekakan sangat mengasihi Dia dengan kesetiaan yang hebat.

Inilah pribadi yang bersikeras menyatakan bahwa Dialah Gembala yang Baik, gembala yang mengerti, gembala yang peduli, yang cukup peduli untuk mencari dan menyelamatkan serta mengembalikan laku-laki dan perempuan yang tersesat.

Dia tidak pernah ragu menyatakan dengan sangat jelas bahwa, ketika manusia datang dibawah managemen dan kendalinya, akan ada suatu hubungan tertentu yang baru dan unik antara dia dan mereka. Akan ada sesuatu yang sangat istimewa dalam hal menjadi milik gembala yang istimwa ini. Akan adasuatu tanda yang kas pada laki-laki dan perempuan itu, yang membedakan mereka dari orang banyak.

Pada hari saya membeli 20 ekor domba betina saya yang pertama, saya dan tetangga saya duduk diatas pagar tembok berdebu yang terbuat dari batu koral, yang merupakan penutup kandang domban lalu mengagumi domba-domba betina yang terpilih, kuat, dan berasal daru jenis yang bagus, yan kini menjadi milik saya. Sambil berpaling kepada saya ia menyerahkan sebuah pisau belati yang besar dan tajam dan berkata singkat, "Nah, pilih, mereka milikmu.Sekarang kau membubuhkan tandamu pada mereka."

Saya tahu persis apa yang ia maksudkan. Setiap domba miliknya mempunyai tanda khusus di telinga; Ia menyayat salah satu telinga domba-dombanya dengan cara ini bahkan dari kejauhan, mudah saja menentukan milik siapa domba itu.

Bukanlah prosedur yang menyenangkan untuk menangkap domba betina satu persatu dan meletakkan telinganya disebuah balok kayu, kemudian menorehnya dalam-dalam dengan sisi pisau yang tajam. Saya maupun sidomba sama-sama merasa sakit. tetapi dari penderitaan kami bersama, terbentuk suatu tanda ke[pemilikan seumur hidup yang tak dapat dihilangkan dan tak pernah dapat dihapus. Dan sejak itu, setiap domba yang menjadi milik saya akan mempunyai tanda saya.

Ada kesamaan yang mengejutkan dengan hal ini dalam Perjanjian Lama.Ketika seorang budak dikeluarga Ibrani manapun memilih dengan kemampuannya sendiri, untuk menjadi anggota rumah itu seumur hidupnya, ia harus mengikuti rituas tertentu. Tuan dan pemilik dirinya akan membawa dia kepintu rumahnya, menempatkan cuping telinganya di tiang pintu dan dengan penusuk melubangi telings itu. Sejak saat itu, ia menjadi orang yang ditandai seumur hidpunya sebagai milik keluarga tersebut.

Bagi laki-laki ataupun perempuan yang mengetahui kepemilikan Kristus dan memberikan sumpah-setia pada kepemilikan-Nya yang mutlak, muncul pertanyaan tentang menyandang tanda-Nya. Tanda salib adalah tanda yang seharusnya menghubungkan kita dengan Dia sepanjang waktu. Pertanyaannya adalah-apakah benar itu terjadi?

Yesus menjelaskan hal ini ketika Dia mengucapkan dengan penuh empati, ''Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.''

Pada dasarnya, maksud perkataan itu adalah: Seseorang menukar nasib baik yang tidak tetap dalam menjalani kehidupan, dengan cara yang agak aneh, dengan petualangan yang lebih produktif dan memuaskan karena dituntun oleh Tuhan.

Suatu kenyataan yang tragis jika banyak orang yang belum pernah berada dalam arahan atau manajemenNya menyatakan bahwa ''Tuhan adalah Gembalaku.'' Mereka sepertinya berharap bahwa hanya dengan mengakui bahwa Dialah gembala mereka, mereka pasti akan menikmati manfaat dari pemeliharaan dan manajemen-Nya tanpa membayar harga dengan melepaskan cara hidup mereka sendiri yang berubah-ubah dan bodoh. Kita menjadi milik-Nya atau tidak. Yesus sendiri memperingatkan kita bahwa akan datang suatu hari ketika banyak orang mengatakan, ''Tuhan, dalam nama-Mu kami melakukan banyak hal yang ajaib,'' namun Dia akan menjawab dengan ketus bahwa Dia tidak pernah mengenal kita sebagai milik-Nya.

Ini adalah pemikiran yang paling serius dan menenteramkan, yang semestinya membuat kita memeriksa hati dan motivasi kita sendiri serta hubungan pribadi kita dengan Dia.

Apakan saya benar-benar milik-Nya?

Apakah saya benar-benar mengetahui hak-Nya atas diri saya?

Apakah saya merespons otoritas-Nya dan mengakui kepemilikan-Nya?

Apakah saya menemukan kemerdekaan dan kepuasan penuh dalam gagasan ini?

Apakah saya merasakan suatu tujuan dan kepuasan yang dalam karena saya berada dalam bimbingan-Nya?

Apakah saya mengenal masa tenang dan istirahat, selain perasaan yang pasti mengenai petualangan yang bersemangat, karena menjadi milik-Nya?

Kalau ya, maka dengan rasa syukur dan pengagungan yang murni, saya dapat berseru dengan bangga, seperti yang Daud lakukan, "Tuhan adalah Gembalaku!" dan saya bergairah untuk menjadi milikNya, sebab dengan cara inilah saya akan tumbuh besar dan berkembang, apapun yang dapt dibawa oleh kehidupan kepada saya.
 
2 "Takkan Kekurangan Aku"

Sungguh suatu pernyataan yang penuh rasa bangga, positif, dan berani! Jelas, adalah perasaan seekor domba yang sangat puas dengan pemiliknya, kepuasan yang sempurna dengan nasib dalam hidupnya.

Karena Tuhan adalah gembala saya, maka saya tidak akan kekurangan. Sebenarnya kata "kekurangan" seperti yang digunakan disini, memiliki makna yang lebih luas daripada yang awalnya dibayangkan. Tentu saja konsep utamanya adalah tidak kekurangan - tidak miskin --- dalam hal pemeliharaan, manajemen, atau peternakan yang semestinya.

Namun, penekanan yangkedua adalah gagasan tentang kepuasan sempurna didalam pemeliharaan Sang Gembala yang baik, dan akibatnya, ia tidak menginginkan atau mendambakan hal yang lain lagi.

Mungkin pernyataan ini aneh karenaa dibuat oleh seseorang sekaliber Daud, apabila kita hanya memikirkan kebutuhan fisik atau material. Bagaimanapun juga, ia telah berulang kali dijekar-kejar dan dirongrong oleh kekuatan musuhnya, Saul, dan juga oleh putranya sendiri yang pernah diasingkan, Absalom. Jelas, ia adalah seorang laki-laki yang mengenal kekurangan besar: kemiskinan pribadi yang dalam, kesukaran yang gawat, dan penderitaan roh.

Oleh sebab itu tidakmasuk akal untuk mengucapkan berdasarkan pernyataan ini bahwa anak Tuhan, domba dalam pemeliharaan Sang Gembala, atk kan pernah mengalami kekurangan atau kebutuhan.

Menjaga pandangan yang seimbang mengenai kehidupan Kristen adalah suatu keharusan. Untuk menjaga keseimbangan tersebut ada baiknya kita merenungkan karier orang-orang seperti Elia, Yohanes Pembaptis dan Yesus, Tuhan kita sendiri --- dan habkan orang-orang beriman di jaman modern seperti Livingstone --- agar menyadari bahwa mereka semua mengalami kekurangan dankemalangan pribadi yang besar.

Ketika Dia beara diantara manusia, dan Sang Gembala Agung sendiri memperingatkan murid-murid-Nya sebelum kepergian-Nya dalam kemuliaan, bahwa:"Dalam dunia kamu menderita penganiayaan tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

Salah satu pemikiran keliru yang umum diantara orang-orang Kristen masa kini adalah pernyataan bahwa jika seorang laki-laki dan perempuan kaya secara materi, itu adalah tanda yang significan tentang berkat Tuhan atas hidupnya. Namun sesungguhnya tidaklah demikian.

Malah, kebalikan yang berani dari hal itu kita baca dalam Wahyu 3:17, "Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku memperkaya diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang."

Aatau, dengan cara yang sama tajamnya, Yesus menerangkan kepada pejabat muda yang kaya, yang ingin menjadi pengikut-Nya,"Hanya satu lagi kekuranganmu:Pergilah, jualah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin ... kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku" (Markus10:21).

Berdasarkan ajaran Alkitab, kita hanya dapat menyimpulkan bahwa Daud tidak sedang menyebutkan tentang kemiskinan materi atau fisik ketika ia membuat pernyataan, "Takkan kekurangan aku"

Karena alasan inilah orang Kristen harus mengambil pandangan yang lama dan keras terhadap kehidupan. Ia harus tahu bahwa sama seperti banyak orang-orang pilihan Tuhan sebelum dirinya, ia mungkin dipanggil untuk mengalami kekurangan dalam hal kekayaan atau keuntungan materi. Ia harus melihat persinggahannya di planet ini sebagai jeda yang singkat dan selama itu mungkin saja ada kekurangan dalam arti fisik. Namun ditengah kesukaran itu kita masih dapat berbangga, "Aku tidak akan menginginkan ... aku tidak akan kekurangan pemeliharaan dan manajemen yang ahli dari Tuanku"

Untuk menangkap arti penting yang terkandung didalam pernyataan sederhana ini, penting untuk memahami perbedaan antara menjadi milik Tuan Sejati atau tuan yang lain --- Gembala yang baik atau seorang penipu. Yesus sendiri mengalami kesakitan yang hebat untuk menunjukkan kepada siapapun yang ingin mengikut Dia bahwa tidaklah mungkin melayani 2 tuan. Kita milik Dia, atau milik tuan yang lain.

Kesimpulannya, kesejahteraan setiap ternak sepenuhnya bergantung pada manajemen yang diberikan kepada mereka oleh pemilik mereka.

Gembala upahan dipeternakan sebelah peternakan pertama saya ialah manajer yang paling tidak peduli yang pernah saya temui. Ia tidak memperhatikan kondisi domba-dombanya. Tanahnya tidak terurus. Ia memberikan sedikit waktu atau tidak sama sekali, kepada kawanan ternaknya, membiarkan mereka berkeliaran sendiri mencari makan semampu mereka, pada musim panas dan musim salju. Mereka menjadi mangsa anjing, harimau, dan pencuri.

Setiap tahun mahluk-mahluk malang ini dipaksa makan di ladang-ladang kering yang berwarna kecoklatan dan dipadang rumput yang kurus. Setiap musim dingin ada kekurangan jerami dan gandum yang sehat untuk memberi makan domba-domba betina yang kelaparan. Tempat berteduh untuk mengamankan dan melindungi domba-domba yang menderita dari badai dan badai salju sangat sempit dan tidak memadai.

Mereka hanya punya air yang tercemar dan berlumpur untuk diminum. Ada kekurangan garam dan usndur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk mengimbangi padang rumput mereka yang tipis. Dalam kondisi mereka yang kurus, lemah dan sakit, domba-domba yang malang ini adalah pemandangan yang menyedihkan.

Dalam ingatan saya, saya masih dapat melihat mereka berdiri dipagar, berkerumun dengan sedih dan kelompok kecil, memandang dengan murung melalui pagar kawat kearah padang rumput yang gemuk diseberang pagar.

Untuk semua kesedihan mereka, pemilik mereka yang kejam dan egosi nampaknya sama sekali tidak punya perasaan dan tidak peduli. Ia sungguh tidak peduli. Betapa dombanya menginginkan rumput hijau, air bersih, perlindungan, keamanan, atau tempat berteduh dari badai; Batapa mereka ingin lepas dari luka, memar, penyakit dan parasit.

Ia tidak menghiraukan kebutuhan mereka__ Ia sungguh tidak peduli. Mengapa ia harus peduli, _Mereka hanya domba-domba yang hanya cocok untuk rumah pemotongan hewan.

Saya tidak pernah melihat domba-domba malang itu tanpa kesadaran yang kuat, bahwa ini adalah gambaran yang tepat tentang situan tua yang jahat, dosa dan setan, dipeternakan mereka yang terlantar sambil mencemooh keadaan yang menyedihkan pada orang-orang yang ada dibawah kuasa mereka.

Ketika saya bekerja diantara laki-laki dan perempuan dari semua lapisan masyarakat sebagai pendeta awam, maupun ilmuwan, supaya menjadi semakin menyadari satu hal. Sang boslah --- sang menejer --- tuan dalam kehidupan manusialah yang membuat perbedaan dalam nasih mereka.

Saya mengenal akrab beberapa orang terkaya dibenua saya --- juga beberapa ilmuwan terkemuka dan kalangan profesional. Selain penampilan luar mereka yang berkilau memamerkan sukses, selain kekayaan dan gengsi mereka, mereke tetap miskin dalam roh jiwa mereka layu, dan tidak bahagia dalam hidup ini. Mereka adalah orang-orang tanpa sukcasita yang terkurung dalam kurungan besi dan dalam kepemilikan tuan yang salah.

Kebalikan dari itu, saya mempunyai banyak teman diantara orang-orang yang relatif miskin --- orang-orang yang mengenal kesulitan, bencana dan pergumulan untuk tetap bertahan secara finansial. Namun karena mereka milik Kristus dan telah mengakui Dia sebagai Tuhan dan Tuan atas segala hidup mereka, pemilik, dan manajer mereka, mereka dipenuhi oleh damai sejahtera yang dalam, tenteram, dan menetap, yang indah dilihat.

Sungguh menyenangkan berkunjung ke kekeluarga-keluarga yang rendah hati ini, dimana terdapat laki-laki dan perempuan yang kaya dalam roh, murah hati, dan berjiwa besar. Mereka memancar keyakinan yang tenteram dan sukacita yang tenang yang mengatasi semua tragedi di zaman mereka.

Mereka berada dalam pemeliharaan Tuhan dan mereka tahu itu.Mereka mempercayai diri pada kendali Kristus dan menemukan kepuasan.

Kepuasan harus menjadi tanda bagi laki-laki dan perempuan yang telah menaruh masalah-masalahnya ditangan Tuhan. Ini terutama berlaku dizaman kita yang makmur. Namun paradoks yang mencolok adalah demam ketidakpuasaan yang parah diantara orang-orang yang selalu membicarakan rasa aman.

Meski kaya tanpa tandingan dalam aset materi, kita merasa sangat tidak aman dan tidak yakin dengan diri kita dan sudah mendekati kebangkrutan dalam nilai0nilai rohani.

Manusia selalu mencari rasa aman diluar dirinya. Mereka gelisah, berubah-ubah, tamak, rakus, dan selalu menginginkan yang lebih banyak --- ingin ini dan itu, namun takpernah benar-benar dipuaskan dalam roh.

Sebaliknya orang Kristen yang sederhana, orang yang rendah hati, domba Sang Gembala, dapat berdiri dengan bangga dan bermegah."Tuhan adalah Gembalaku, tak kan kekurangan aku".

Saya sungguh puas dengan manajemen-Nya dalam hidup saya. Mengapa ? Karena Ia adalah gembala saya, dan saya tidak punya masalah y ang terlalu besar saat Dia memelihara saya, ya ... saya dombanya. Dia adalah peternak yang luar biasa karena rasa sayang-Nya kepada domba-domba --- Dia mengasihi mereka demi kepentingan mereka dan juga kesenangan pribadi-Nya terhadap mereka. Kalau perlu, Dia akan bekerja 24 jam sehari untuk melihat bahwa kebutuhan mereka dipenuhi dengan benar dalam segala hal. Diatas semua itu, ia sangat cemburu karena nama-Nya dan reputasi-Nya yang tinggal sebagai Gembala yang baik.

Dialah Sang Pemilik yang menyukai kawanan domba-Nya. Bagi Dia tak ada upah yang lebih besar tiada kepuasan yang lebih dalam, dari pada melihat domba-Nya puas, diberi makan dengan baik, aman dan bertumbuh dalam pemeliharaan-Nya. Inilah sesungguhnya "hidup"-Nya. Dia memberikan semua yang Dia miliki kepada mereka, Dia benar-benar menyerahkan diri-Nya untuk mereka yang adalah milik-Nya.

Dia tidak akan berhenti bersusah payah dan bekerja keras untuk menyediakan bagi mereka rumput terbaik padang rumput yang paling gemuk, makanan musim dingin yang cukup dan air bersih. Dia tidak akan ragu untuk mengalami kesakitan demi menyediakan tempat berteduh dari badai, perlindungan dari musuh-musuh yang kejam dan penyakit serta parasit, dan semua hal yang sangat mudah menyerang domba.

Tak heran jika Yesus mengatakan, ''Akulah Gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.'' Dan lagi, ''Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.''

Dari fajar dini hari sampai larut malam Sang Gembala yang sama sekali tidak egois ini, waspada akan kesejahteraan kawanan domba-Nya. Sebab Gembala yang rajin ini, sejak pagi-pagi benar tidak pernah lupa melakukan hal pertamanya, yaitu memperhatikan domba-domba-Nya. Inilah kontak pertama yang intim pada hari itu. Dengan mata yang terlatih, menyelidik dan penuh simpati, ia memeriksa domba-domba untuk melihat bahwa mereka sehat dan kenyang dan mampu berdiri. Segera ia akan dapat mengatakan apakah mereka terganggu semalam - apakah ada yang sakit atau adakah beberapa yang butuh perhatian khusus.

Berulang-kali sepanjang hari ia melemparkan pandangan ke arah kawanan domba untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

Bahkan pada malam hari pun ia tidak melupakan kebutuhan mereka. Ia siap terjaga ''dengan mata dan dengan dua telinga terbuka,'' siaga terhadap tanda bahaya yang terkecil sekalipun, siap melompat dan melindungi domba-domba milik-Nya.

Ini adalah gambaran yang agung tentang pemeliharaan yang diberikan kepada mereka yang hidup di bawah kendali Kristus.

Dia tahu segalanya tentang hidup mereka dari pagi hingga malam hari.

''Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita.''

''Penjagamu tidak akan terlelap.''

Walaupun memiliki tuan dan pemilik sebaik ini, faktanya tetaplah bahwa sebagian orang Kristen tidak puas dengan kendali-Nya. Mereka kurang puas, selalu merasa rumput di balik pagar pasti sedikit lebih hijau. Inilah orang Kristen duniawi-orang yang nyaris kita sebut ''pelanggar batas'' atau ''orang Kristen setengah-setengah,'' yang menginginkan hal terbaik dari dua dunia.

Saya pernah memiliki seekor domba betina yang perilakunya benar-benar melambangkan orang semacam itu. Ia adalah salah seekor domba yang paling menarik yang pernah saya miliki. Tubuhnya bagus karena proporsional. Ia mempunyai tubuh yang kuat dan bulu wol yang sangat bagus. Kepalanya bersih, tegap, cocok sekali dengan matanya yang cerah. Ia melahirkan anak-anak domba yang kuat dan dengan cepat menjadi besar.

Namun selain semua ciri yang menarik tersebut, ia mempunyai satu kelemahan yang parah.

Ia selalu gelisah - selalu tidak puas - dan ia adalah seekor domba pelanggar batas.

Ia seperti itu sehingga saya menjulukinya ''Ny. Gadabout'' (si Petualang).

Domba betina yang satu ini menyebabkan lebih banyak masalah bagi saya dibandingkan semua domba selebihnya jika digabungkan.

Tak peduli padang rumput sesubur apa yang diinjaknya, ia akan memeriksa sepanjang pagar atau garis pantai (kami tinggal di tepi pantai), mencari-cari lubang yang dapat ia lewati dan mulai makan di tanah lain.

Bukan karena ia kekurangan rumput. Tanah saya membuat saya senang dan bersuka cita. Tak ada domba di wilayah ini yang mendapatkan rumput sebaik ini.

Pada ''si Petualang,'' sifat ini sudah menjadi kebiasaan yang berurat-akar. Ia benar-benar tidak pernah puas dengan hal-hal yang sudah ada. Sering ia memaksakan diri menerobos pagar atau mencari jalan di sekitar ujung pagar kawat pada saat air laut surut di pantai, dan akhirnya ia malah makan di padang rumput yang gersang, kecoklatan, hangus, jenis padang rumput yang paling jelek.

Namun, ia tak pernah belajar dan terus merangkak keluar pagar dari waktu ke waktu.

Nah, seekor domba saja yang berperilaku seperti itu sudah cukup buruk. Mencari dan mengembalikan dia adalah masalah yang cukup sulit. Namun, hal penting berikutnya adalah ia mengajari siasat yang sama kepada anak-anaknya. Mereka benar-benar mengikuti contohnya dan segera terampil melarikan diri seperti induknya.

Namun yang lebih buruk, adalah contoh yang ia berikan bagi domba-domba lain. Dalam waktu singkat ia mulai memimpin teman-temannya menerobos lubang yang sama dan melalui jalan yang sama berbahayanya di tepi laut.

Setelah dengan sabar menerima sikapnya yang suka melawan selama suatu musim panas saya akhirnya menyimpulkan bahwa untuk menyelamatkan sisa kawanan agar tidak berkeliaran, ia harus pergi. Saya tidak dapat membiarkan seekor domba betina yan gkeras kepala dan tidak puas merusak seluruh operasi peternakan.

Ini keputusan yang sulit diambil, sebab saya menyayangi dia, sama seperti menyayangi domba-domba yang lain. Kekuatan dan keindahan serta kesigapannya indah dipandang mata.

Akhirnya suatu pagi saya membawa pisau di tangan dan menyembelihnya. Kariernya sebagai penerobos pagar terhenti tiba-tiba. Itulah satu-satunya solusi untuk dilema yang ada.

Ia adalah seekor domba yang meskipun saya sudah melakukan segala hal untuk memberinya perawatan terbaik, tetap menginginkan sesuatu yang lain.

Ia tidak seperti orang yang berkata, ''Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku.''

Inilah peringatan serius bagi orang Kristen duniawi - yang masih meneruskan kebiasaan lamanya yang tercela, - orang Kristen setengah-setengah- orang yang menginginkan yang terbaik dari dua dunia.

Kadang-kadang, dalam waktu singkat mereka dapat dihentikan.
 
3

" Ia Membaringkan Aku
di Padang
yang Berumput Hijau"


Hal yang aneh tentang Domba adalah bahwa karena keberadaan mereka, nyaris tak mungkin menyuruh mereka berbaring apabila empat syarat tidak dipenuhi.
Karena sifat mereka yang penakut, mereka tidak mau berbaring jika mereka belum lepas dari rasa takut.
Karena perilaku sosial di dalam suatu kawanan, domba tidak akan berbaring jika mereka tidak bebas dari pertengkaran dengan teman-teman mereka.
Jika diserang oleh lalat atau parasit, domba tidak akan berbaring. Hanya jika mereka bebas dari semua pengganggu ini, barulah mereka dapat relaks.
Yang terakhir, domba tidak akan berbaring selama mereka merasakan kebutuhan untuk mencari makan.
mereka harus bebas dari rasa lapar​
.
Hal yang signifikan adalah bahwa untuk dapat beristirahat mereka harus benar-benar merasa bebas dari ketakutan, keteganggan, gangguan, dan kelaparan.

Aspek yang unik dari gambaran ini adalah bahwa hanya gembala yang dapat memberikan kelepasan dari semua rasa takut ini. Apakah domba-domba bebas dari pengaruh yang menganggu atau tidak, semua bergantung pada kerajinan sang pemilik.

Jika kita menyelidiki masing-masing dari keempat faktor yang begitu kuat memengaruhi domba, kita akan mengerti mengapa peran si pemilik dalam mengatur mereka luar biasa penting. Pemiliklah yang membuat mereka dapat berbaring, beristirahat, relaks, puas, dan tenang serta berkembang biak

Suatu kawanan yang gelisah dan tidak puas, yang selalu mengacau dan mengganggu, tidak akan pernah menjadi baik.

Dan hal yang sama berlaku untuk manusia. Tidak semua orang tahu bahwa Domba begitu penakut dan mudah panik sehingga bahkan seekor kelinci yang tersesat dan tiba-tiba melompat dari balik semak-semak dapat membuat seluruh kawanan lari tunggang langgang. Ketika seekor domba yang terkejut berlari ketakutan, maka selusin domba lainnya akan berlari bersamanya tanpa tahu apa yang ditakutkannya, tanpa menunggu untuk melihat apa yang menakutkan mereka.

Suatu hari seorang teman dari kota datang mengunjungi kami. Ia membawa seekor anak anjing Peking yang kecil. Saat ia membuka pintu mobil, anak anjing itu melompat di padang rumput. Melihat sekilas anak anjing yang tak diharapkan itu saja sudah cukup. Dalam ketakutan, lebih dari dua ratus ekor domba saya yang sedang beristirahat melompat dan berlari terbirit-birit di padang rumput.

Selama ada kecurigaan, bahkan yang paling kecil, terhadap bahaya anjing hutan, macan tutul, beruang, atau musuh-musuhnya yang lain, Domba-domba siap berlari demi menyelamatkan nyawa mereka. Mereka hanya mempunyai sedikit alat pertahanan diri atau tidak memilikinya sama sekali. Mereka adalah mahkluk yang tidak berdaya, penakut, lemah, yang hanya punya satu cara: Lari

Ketika saya mengundang teman-teman untuk mengunjungi kami, setelah peristiwa anjing Peking tadi, saya selalu memberitahukan mereka agar anjing peking milik mereka ditinggal saja di rumah. Saya jug harus menghalau atau menembak anjing-anjing liar yang datang untuk menganiaya atau menganggu domba-domba. Dua ekor anjing dikabarkan membunuh ssebanyak 292 ekor domba dalam semalam dengan pembunuhan yang membabi buta.

Domba-domba betina yang sedang mengandung, jika dikejar anjing atau pemanggsa lain, akan keguguran dan kehilanggan bayi-bayinya. Kehilangan yang dialami seorang gembala akibat serangan semacam itu dapat sanagt memilukan. Suatu dini hari saya mendapati sembilan ekor domba betina saya yang paling bagus, semuanya akan segera melahirkan, terkapar mati di padang, karena seekor macan tutul menganggu mereka semalaman.

Sungguh kejutan yang memilukan bagi seorang pemuda seperti saya yang baru terjun dalam bisnis ini dan asing dengan serangan semacam itu. Sejak itu saya tidur dengan senapan 0,303 dan sebuah senter di temapat tidur saya . Suara sekecil apa pun dari kawanan domba yang terganggu akan mmebuat saya melompat dari tempat tidur dan sambil memanggil anjing collie saya yang setia, saya berlari dalam kegelapan malam, dengan senapan di tangan, siap melindungi domba -domba saya.

Selama masa itu saya jadi tahu bahwa tidak ada yang begitu menentramkan dan meyakinkan domba-domba selain saya ada di padang. Kehadiran sang tuan, pemilik, dan pelindung akan menenangkan mereka, dan tak ada hal lain yang dapat menenangkan mereka seperti itu, dan ini berlaku siang dan malam.

Pada suatu musim panas, pencurian ternak marak di wilayah kami. Malam demi malam saya bersama anjing saya berada di luar rumah, di bawah naunggan bintang-bintang menjaga kawanan semalaman, siap melindungi mereka dari serangan pencuri manapun. Berita tentang kerajinan saya menyebar melalui desas desus sampai ke jalan-jalan desa kami, dan para pencuri segeera memutuskan untuk membiarkan kami dan mencoba taktik mereka di tempat lain.

"Ia membaringkan aku."
Dalam kehidupan orang kristen tidak ada pengganti untuk kesadaran yang tajam bahwa," Tuhan, Gembala saya ada dekat." Tidak ada yang menyamai kehadiran Kristus untuk menghalau rasa takut, kepanikan, dan kengerian terhadap hal-hal yang tidak diketahui.

Kita menjalani kehidupan yang paling tidak pasti. Setiap jam dapat membawa bencana, bahaya, dan tekanan dari tempat yang tidak diketahui. Hidup ini penuh bahaya. Tak seorang pun dapat mengatakan apa masalah baru yang akan terjadi dalam sehari. Kita dapat hidup dalam perasaan cemas, takut dan hanya dapat mengira-ngira, atau dalam perasaan tenang yang teduh. Mana yang Anda pilih?

Umumnya hal "yang tidak di ketahui" dan "yang tidak terduga" itulah yang menimbulkan kepanikan terbesar. Dalam cengkeraman ketakutanlah sebagian besar dari kita tidak mampu mengatasi situasi yang kejam dan kerumitan hidup yang keras. Kita merasa semua itu adalah musuh yang mengancam keseimbangan kita. Kerap kali dorongan hati kita pertama-tama adalah bangun dan lari dari semua itu.

Kemudian, di tengah kemalangan kita, tiba-tiba timbul kesadaran bahwa Dia, Kristus, sang Gembala yang baik, hadir. Hal itu mengubah segalanya. Kehadiran-Nya dalam gambar kehidupan memberi terang yang berbeda pada seluruh adegan. Tiba-tiba saja semuanya tampak tidak begitu hitam lagi, dan juga tidak terlalu menakutkan. Pandangan berubah dan ada pengharapan. Saya mendapati diri saya terbebas dari ketakutan. Ketenangan datang kembali dan saya bisa relaks.

Ini terjadi dan terjadi lagi seiring dengan bertambahnya umur saya. Saya tahu bahwa Tuan saya sahabat saya, Pemilik saya mengendalikan segala-galanya, bahkan ketika semuanya tampak sebagai bencana. Hal ini memberi saya penghiburan besar, ketenangan, dan istirahat. "Dengan tentram aku mau membaringkan diri, allu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman."

Pekerjaan istimewa dan resmi dari Roh Kudus yang murah hati adalah menyampaikan perasaan tentang kristus kepada hati kita yang ketakutan. Dia datang diam-diam untuk meyakinkan kita bahwa Kristus sendiri mengetahui dilema kita dan secara mendadak terlibat di dalamnya bersama kita.

Dan kenyataannya, dalam keyakinan inilah kita beristirahat dan relaks.

Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kasih dan ketertiban (lihat 2 Timoutius 1:7).

Ide pikiran yang sehat adalah suatu pikiran yang tenag dan damai tidak gelisah atau terusik atau terobsesi dengan ketakutan dan ketidak pastian masa depan.

"Dengan tentram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman."

Sumber ketakutan kedua yang harus dilepaskan oleh gembala dari domba-dombanya adalah keteganggan, persainggan dan perebutan kekuasaaan yang kejam dalam kawanan itu sendiri.

Dalam setiap kelompok hewan, ada suatu peringkat kekuasaan atau status yang telah di tetapkan dalam kelompok itu. Dalam sebuah kandang yang dipenuhi ayam-ayam, hal itu juga di sebut sebagai "peringkat mematuk." Untuk ternak, hal ini disebut "peringkat menanduk." Diantara domba, kita juga menyebutnya "peringkat menanduk."

Umumnya seekor domba betina yang tua, angkuh, cerdik, dan dominan akan menjadi bos sekumpulan domba. Ia mempertahankan posisinya yang bergengsi dengan menanduk dan mengiring domba-domba betina atau anak-anak domba yang lain menjauhi padang rumput terbaik atau tanah rata yang menjadi favorit untuk tidurnya. Yang menggantikan dia dalam urutan yang pasti adalah domba-domba lain yang mengkokohkan dan mempertahankan posisi mereka yang tepat dalam kawanan dengan menggunakan siasat yang sama, menanduk, dan mendorong domba-domba yang berada di bawah kekuasaan mereka dan di sekitar mereka.

Gambaran kata yang gamblang dan akurat tenatng proses ini diberikan kepada kita dalam Yehezkiel 34:15-16 dan 20:22. Sebenarnya ini adalah contoh yang mengejutkan tentang ketepatan ilmiah Kitab Suci dalam menguraikan suatu fenomena alam.

Karena persaingan, ketegangan dan perebutan status serta penonjolan diri, ada pertengkaran dalam kawanan. Domba-domba tidak dapat berbaring dan beristirahat dalam kepuasan. Mereka selalu harus berdiri dan mempertahankan hak mereka dan melawan tantangan si penyerang.

Ratusan dan ratusan kali saya menyaksikan seekor domba betina tua yang tegas berjalan ke arah seekor domba muda yang mungkin baru saja makan kekenyangan atau sedang beristirahat di tempat yang teduh. Domba tua itu akan meninggikan tengkuknya, memiringkan kepalanya, membesarkan matanya, dan mendekati domba lain tadi dengan gaya berjalan yang kaku. Semua ini menyatakan kalimat yang tak mungkin salah, "Minggir! Pergi sana! Beri aku jalan, kalau tidak awas!" Dan jika domba lain itu tidak segera melompat dan berdiri untuk mempertahankan diri, domba betina tua itu akan menanduk tanpa belas kasihan. Atau jika domba yang lain itu bangun untuk menerima tantangan satu atau dua dorongan yang kuat dari domba tua tadi akan segera mmebuatnay berlari terbirit-birit mencari perlindungan.

Konflik yang terus terjadi ini dan kecemburuan dalam kawanan dapat menjadi hal yang paling merusak. Domba menjadi terganggu, tegang, tidak puas, dan gelisah. Berat badan mereka turun dan menjadi lekas tersinggung.

Tetapi satu hal penting yang selalu sangat menarik bagi saya adalah bahwa setiap kali saya datang memeriksa dan kehadiran saya menarik perhatian mereka, domba-domba itu segera melupakan persaingan mereka yang bodoh dan berhenti berkelahi. Kehadiran sang Gembala mengubah seluruh perilaku mereka.

Bagis saya, ini selalu menjadi gambaran yang jelas mengenai pergumulan demi status dalam masyarakat manusia. Ada persaingan abadi "untuk menyamai tetangga," atau seperti yang terjadi sekarang ----" menyamai anak-anak tetangga."

Di setiap perusahaan bisnis, setiap kantor, setiap keluarga, setiap komunitas, setiap gereja, setiap organisasi atau sekelompok kemanusiaan, pergumulan untuk penonjolan diri, dan pengakuan diri terus berlangsung. Kebanyakan dari kita berusaha menjadi "domba terhebat. Kita menanduk dan berkelahi serta bersaing untuk "menjadi yang terdepan." Dan dalam prosesnya, orang-orang bisa saja terluka.

Disinilah banyak kecemburuan muncul. Disinilah kekkesalan yang kecil berubah menjadi kebencian yang mengerikan. Disinilah sakit hati dan penghinaan terwujud, tempat lahirnya persaingan yang panas dan ketidakpuasan yang mendalam. Disinilah ketidakpuasan perlahan-lahan membesar menjadi cara hidup yang tamak di mana seseorang harus selalu "berdiri" bagi dirinya sendiri, bagi hak-haknya, "berdiri" hanya untuk menyaingi banyak orang.

Kebalikan dari hal itu, gambaran dalam Mazmur menunjukkan kepada kita umat Tuhan yang sedang berbaring dalam kepuasan yang tentram.

Salah satu tanda yang menonjol pada orang kristen seharusnya adalah perasaan puas yang lembut dan tenang.

"Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntunggan besar."

Paulus menyatakan begini, "Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan," dan tentu saja ini berlaku untuk status saya di dalam masyarakat.

Kegelisahan yang muncul tiada henti dalam diri seseorang yang selalu berusaha "Melebihi" orang banyak, yang senantiasa berupaya menjadi laki-laki atau perempuan tertinggi di tiang berhala, sangat sulit terlihat.

Dengan caraNya sendiri yang unik, Yesus kristus Sang gembala Agung, dalam hidup-Nya di dunia ini menunjukkan, bahwa yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. Dalam hal ini saya yakin yang pertama-tama Dia maksudkan adalah kasih sayang-Nya sendiri yang erat. Sebab setiap gembala memiliki belas kasihan yang besar terhadap domba yang malang dan lemah, yang ditanduk oleh domba-domba yang lebih berkuasa.

Lebih dari sekali saya memukul keras seekor domba betina yang suka berkelahi, karena ia menyerang domba yang lebih lemah. Atau ketika mereka menanduk anak-anak domba yang bukan anak mereka, saya melihat bahwa mereka perlu dihukum dengan keras, dan tentu saja mereka bukan yang pertama mendapat ganjaran dari saya karena keagresifan mereka.

Hal penting lainnya yang juga mengesankan saya adalah bahwa domba yang kurang agresif sering kali jauh lebih puas, tenang, dan cukup istirahat. Jadi ada keuntunggan dengan menjadi "domba kelas bawah."

Namun, yang lebih penting adalah fakta bahwa kehadiran gembalalah yang ,mengakhiri semua persainggan. Dan dalam hubungan antar manusia, ketika kita tahu persis bahwa kita sedang berada dalam hadirat Kristus, keangkuhan, dan persaingan kita yang bodoh dan egois akan berakhir. Hati yang merendah, yang berjalan dengan tenang dan puas dalam persahabatan yang erat dan intim dengan Kristus, hati itulah yang beristirahat, yang dapat relaks, yang benar-benar senang berbaring dan membiarkan dunia berlalu.

Ketika mata saya tertuju kepada Tuan saya, mata ini tidak mungkin melihat semua yang ada di sekeliling saya. Inilah tempat penuh damai sejahtera.

Dan memang baik dan benar untuk mengingatkan diri kita bahwa akhirnya Dialah yang akan memutuskan dan menilai status saya yang sebenarnya. Bagaimanapun juga, penilaian-Nya tentang sayalah yang mendatangkan akibat. Semua penilaian manusia pastilah sangat sukar Diperkirakan, tidak dapat di percaya dan jauh dari penilaian Final

Jadi, berada dekat dengan Dia, menyadari hadirat-Nya, yang kekal, dijadikan benar dalam pikiran, emosi, dan kehendak saya oleh Roh kudus yang murah hati, yang tinggal di dalam saya, berarti di bebaskan dari ketakutan terhadap sesama dan apap pun yang mereka pikirkan tentang saya.

Saya lebih suka memiliki kasih sayang Gembala yang baik dari pada menduduki posisi yang menonjolkan dalam masyarakat.... terutama jika saya memperoleh kedudukan itu dengan berkelahi, bertengkar dan persainggan yang pahit dengan sesama manusia.

"Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan "(Matius 5:7).

Sama seperti keterbatasan dari rasa takut terhadap para pemangsa atau bentrokkan di dalam kawanan keterbebasan dari rasa takut terhadap siksaan parasit dan serangga sangatlah penting bagi kepuasan domba-domba. Aspek perilaku mereka ini kemudian akan di bahas jauh lebih rinci dalam Mazmur ini. Namun, tetap penting untuk menyebutkannya disini.

Domba, khususnya di musim panas, dapat benar-benar terganggu oleh lalat hidung, lalat parasit, lalat yang larvanya membuat lubang di kulit, dan kutu. Jika di siksa oleh hama-hama ini, sama sekali tidak mungkin bagi mereka untuk berbaring dan beristirahat. Mereka terus berdiri, menghentak-entakkan kaki, mengoyang-goyangkan kepala, siap berlari ke semak-semak agar lepas dari hama-hama itu.

Hanya pemeliharaan yang rajin dari sang pemilik yang terus menerus mewaspadai serangga-searngga ini, yang akan mencegah gangguan tersebut pada domba-dombanya. Seorang gembala yang baik akan memberikan berbagai jenis anti serangga pada domba-dombanya. Ia kan menemukan tempat mereka berendam dalam air untuk mmebersihkan bulu mereka dari kutu. Dan ia akan menemukan adanay wilayah teduh yang dinaungi pohon dan semak-semak, yang tersedia ketika mereka mencari perlindungan dan kelpasan dari para penyiksa mereka.

Hal ini menuntut sangat banyak perawatan ekstra. Dibutuhkan waktu dan kerja keras serta bahan-bahan kimia yang mahal untuk melakukan pekerjaan ini sampai tuntas. Ini juga berarti si gembala harus berada di antara domba-dombanya stiap hari, mengawasi perilaku mereka dari dekat. Begitu ada tanda terkecil bahwa mereka terganggu, ia harus mengambil langkah-langkah untuk memberi mereka kelepasan. Hal terpenting dalam benaknya adalah tujuan untuk menjaga kawanan dombanya tetap tenag, puas, dan damai.

Kehidupan Kristen pun dipenuhi banyak gangguan-gangguan kecil. Ada gangguan berupa sedikit rasa Frustasi dan pengalaman tidak enak yang selalu berulang.

Dalam istilah modern, kita meyebut situasi atau orang yang menjengkelkan sebagai "Serangan hama" Adakah penangkalnya?
Dapatkah kita datang ke tempat kepuasan yang tenag tanpa mereka? Jawabannya, untuk seseorang yang berada dalam pemeliharaan Kristus, tentu saja: "Ya!"
ini adalah salah satu fungsi utama Roh Kudus yang Rahmani. Dalam Kitab suci Dia sering dilambangkan dengan minyak ---zat yang membawa kesembuhan dan penghiburan serta kelepasan dari aspek kehidupan yang keras dan kasar.

Roh kudus yang Rahmani mewujudkan hadirat Kristus yang sejati dalam diri saya. Dia membawa ketentraman, ketenangan, kekuatan, dan kedamaian di hadapan arsa Frustasi dan kegagalan.

Ketika saya berpaling kepadaNya dan mengungkapkan masalah kepadaNya, membiarkan Dia melihat bahwa saya menghadapi dilema, kesulitan pengalaman tak enak di luar kendali saya, Dia datang menolong. Sering kali pendekatan yang berguna hanyalah berseru, "Oh Tuhan, ini tak tertahankan lagi---aku tak mampu lagi mengatasinya---hal ini menggangguku---aku tidak bisa beristirahat----tolong,ambil alih!"

Kemudian Dia benar-benar menagmbil alih dengan cara-Nya sendiri yang ajaib. Dia mmeberi kesembuhan , kesejukkan , penawar yang efektif berupa pribadi, dan kehadiran-Nya sendiri untuk masalah khusus saya. Dalam kesadaran saya segera muncul pemahaman bahwa Dia mengatasi kesulitan dengan cara yang saya sangka-sangka. Dan karena kepastian bahwa Dia menjadi efektif demi kepentingan saya, menyelinap dalam diri saya dan memberi perasaan puas yang tentram: saya kemudian mampu berbaring dalam damai dan beristirahat. Semua karena apa yang Dia lakukan.

Yang terakhir, untuk menghasilkan kondisi yang diperlukan domba untuk dapat berbaring, harus ada kebebasan dari rasa lapar. Ini tentu saja jelas tersirat dalam pernyataan, "Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau."

Tidak diketahui umum bahwa banyak negara penghasil domba terbesar di dunia adalah wilayah kering dan semi gersang. Kebanyakan jenis domba tumbuh paling baik di daerah semacam itu. Domba-domba yang rentan menghadapi bahaya kesehatan atau parasit yang lebih sedikit jika iklimnya kering. Nmaun, di wilayah yang sama tidaklah biasa atau wajar menemukan padang rumput yang hijau. Contohnya, Palestina, tempat Daud menulis mazmur dan menjaga kawanan domba ayahnya, khususnya di dekat Betlehem, Daerah itu adalah gurun yang kering dan kecoklatan terbakar matahari.

Padang rumput yang hijau tidak terjadi secara kebetulan. Padang yang hijau adalah hasil dari mengerahkan banyak sekali kerja keras, waktu, dan keahlian. Padang hijau adalah hasil dari membersihkan tanah yang keras dan berbatu-batuan, mencabut semak-semak, akar, dan tunggul tanaman; membajak sampai dalam dan dengan hati-hati mempersiapkan tanah; menabur benih dan menanam jenis gandum-ganduman dan tanaman polong-polongan tertentu; menyiramnya dengan air dan meyimpannya hati-hati panen makanan ternak yang akan menjadi makanan kawanan Domba.

Semua ini menunjukkan kerja keras, keahlian, dan waktu yang sangat banyak dari gembala yang cermat. Jika ia ingin dombanya menikmati padang rumput hijau di tengah perbukitan yang cokelat dan gundul, itu berarti ia mempunyai tugas yang besar yang harus dikerjakan.

Namun padang rumput yang hijau sangat penting untuk berhasil dalam memelihara domba. Ketika anak-anak domba semakin besar dan domba-domba betina membutuhkan makanan yang hijau dan mengandung banyak air untuk menghasilkan banyak susu, maka tidak ada pengganti untuk padang rumput yang bagus. Tak ada pemandangan yang begitu memuaskan pemilik domba sealin melihat kawanan dombanya baik-baik saja dan makan dengan tenang sampai kekenyangan di rerumputan yang hijau dan subur, mampu berbaring untuk beristirahat, memamah biak, dan menadatangkan keuntunggan.

Dalam operasional peternakan saya sendiri, Salah satu kunci untuk seluruh usaha ini terletak pada pengembangan padang rumput yang subur dan lebat untuk kawanan domba saya. Sedikitnya di dua peternakan, terdapat lahan yang sudah tua, usang , miskin, juga gundul, dan ditumbuhi tanaman untuk makanan ternak yang jelek. Dengan manajemen ahli dan penggunaan tanah secara ilmiah, lahan itu segera barubah manjadi lahan subur dengan rerumputan hijau dan tanaman polong-polongan setinggi lutut. Dengan makanan sebanyak itu biasanya anak-anak domba mencapai berat badan sekitar 50 kilogram dalam 100 hari setelah di lahirkan.

Rahasianya adalah bahwa kawanan itu dapat segera kenyang, lalu berbaring dengan tentram untuk beristirahat dan memamah biak.

Domba yang kelparan dan diberi makanan yang jelek akan terus menerus berdiri, bergerak, mencari sesuap makanan lain untuk di coba dan unutk mengenyangkan rasa laparnya yang mengganggu. Domba semacam ini tidak puas, mereka tidak berguna bagi diri mereka sendiri maupun bagi pemilik mereka. Mereka merana dan kekurangan tenaga serta vitalitas.

Dalam Alkitab gambaran yang dibayangkan tentang Tanah Perjanjian, kemana Tuhan berusaha begitu keras untuk menuntun Israel dari mesir, Adalah "tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya." Ini bukan hanya bahasa kiasan, tetapi juga istilah yang sangat ilmiah. Dalam istilah pertanian kami berbicara tentang "aliran susu" dan "aliran madu". Dengan istilah ini maksud kami adalah musim puncak dalam musim semi dan panas, ketika padang rumput berada dalam tahapan yang paling produktif. Kawanan ternak yang makan rerumputan ini dan lebah-lebah yang mengunjungi bunga-bunga dikatakan menghasilkan "aliran" susu atau madu yang berkaitan. Jadi sebidang tanah yang dialiri susu dan madu adalah tanah padang rumput yang lebat, hijau, dan subur.

Dan ketika Tuhan menyebutkan tanah semacam itu untuk Israel, Dia juga telah melihat lebih dulu suatu kehidupan yang melimpah dengan suka cita dan kemenaggan serta kepuasan bagi umatNya.

Bagi anak Tuhan, Kisah Perjanjian lama tentang Israel yang pindah dari Mesir ke tanah perjanjian adalah gambaran tentang kita yang berpindah dari dosa ke dalam kehidupan yang penuh kemenagan. Kita dijanjikan kehidupan semacam itu. Kehidupan seperti itu disediakan bagi kita dan dimungkinkan oleh upaya Kristus yang tak kenal lelah demi kepentingan kita.

Betapa Dia bekerja membersihkan kehidupan orang tidak percaya yang dipenuhi batu-batuan yang keras. Betapa Dia berusaha mencabut akar-akar kepahitan . Dia berupaya menghancurkan hati manusia yang keras dan sombong yang telah mengeras seperti tanah liar dijemur di bawah matahari. Dia kemudian menaburkan benih-benih firman-Nya sendiri yang berharga, yang apabila diberi kesempatan untuk bertumbuh, akan menghasilkan panen kepuasan dan damai sejahtera yang melimpah. Dia mengairinya dengan embun dan hujan dari hadiratNya sendiri oleh Roh kudus. Dia merawat dan memelihara kehidupan itu, rindu melihatnay menjadi lebat dan hijau serta produktif.

Semua ini menandakan energi dan kerajinan yang tak kenal lelah dari seorang pemilik yang rindu melihat domba-dombanya puas dan mendapat makanan yang baik. Semua ini menunjukkan kerinduan Gembala saya untuk melihat kepentingan terbaik saya dipenuhi. PerhatianNya untuk mengurus saya sungguh diluar pemahaman saya. Hal terbaik yang dapat saya lakukan adalah menikmatinya dan bersuka ria dalam apa yang sedang berusaha Dia wujudkan.

Hidup yang berkemenangan dalam ketenangan, ketentraman yang menyenagkan, istirahat dalam Hadirat-Nya, yakin dengan manajemen-Nya adalah sesuatu yang sepenuhnya dinikmati oleh sedikit orang Kristen.

Karena peralwanan kita sendiri, kita kerap kali lebih senag makan di tanah dunia yang gundul di sekitar kita. Saya selalu heran melihat beberapa ekor domba saya sering kali benar-benar memilih makanan yang jelek.

Namun Gembala yang baik tealh menyediakan padang rumput yang hijau bagi mereka yang mau masuk ke sana dan di sana menemukan damai sejahtera dan kelimpahan.
 
4
"Ia Membimbing Aku Ke Air yang Tenang"

Meskipun domba bertumbuh di negara yang kering dan semi gersang, mereka tetap membutuhkan air. Mereka tidak seperti sebagian rusa Afrika yang dapat bertahan cukup baik dengan jumlah kelembaban yang sedang dalam makanan alamiahnya.

Akan tampak bahwa disini lagi-lagi kunci atau petunjuk tentang dimana air dapat di peroleh terletak pada si Gembala. Dialah yang tahu dimana tempat minum yang terbaik. Kenyataannya sering kali ia adalah orang yang dengan banyak upaya dan kerajinan menyediakan temapt-tempat untuk minum itu. Dan ke tempat-tempat itulah ia mneuntun kawanan dombanya.

Namun sebelum memikirkan tentang sumber air itu sendiri, kita sebaiknya memahami guna iar dalam tubuh hewan dan mengapa air sangat penting untuk kesejahteraannya. Tubuh seekor hewan seperti domba terdiri atas rata-rata 70 persen air. Cairan ini digunakan untuk memelihara metabolisme tubuh yang normal; itu adalah bagian dari setiap sel, yang memberi kontribusi pada besarnya tubuh dan fungsi-fungsinya kehidupan yang normal. Air menetukan Vitalitas, kekuatan, dan kekekaran domba serta penting bagi kesehatan dan kesejahteraannya secara umum.

Jika persediaan air untuk seekor hewan mnurun, mulai terjadi proses pengerinagn tubuh. Dehidrasi jaringan ini dapat berakibat kerusakan serius bagi mereka. Hal itu juga dapt berati si hewan menjadi lemah dan kurus.

Setiap hewan menyadari kekurangan air dengan rasa haus. Haus menandakan kebutuhan tubuh untuk mengisi persediaan air dari sumber di luar dirinya.

Nah, sama seperti tubuh fisik mempunyai kapasitas dan kebutuhan akan air, begitu pula Alkitab menunjukkan dengan jelas kepada kita bahwa kepribadian manusia, jiwa manusia, memiliki kapasitas dan kebutuhan akan air Roh Kudus Yang mahakuasa.

Ketika domba haus mereka menjadi gelisah dan pergi mencari air. Jika tidak dibimbing ke persediaan air yang baik, yaitu airnya yang bersih dan murni, mereka acap kali akan minum dari lubang-lubang periuk yang kotor, dan dari situ masuklah parasit ke dalam tubuh mereka, misalnya nematoda, cacing pita yang menyerang hati, atau kuman-kuman penyakit lainnya.

Dan dengan cara yang persis sama Kristus, Sang Gembala Agung kita, menerangkan bahwa jiwa laki-laki dan perempuan yang haus hanya dapat sepenuhnya di puaskan jika kapasitas dan dahaga mereka akan kehidupan rohani benar-benar di puaskan dengan air hidup dari diri-Nya sendiri.

Dalam Matius 5:6 Dia berkata, "Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan di puaskan."

Pada pesta besar di Yerusalem, Dia mnyatakan dengan berani, "Barangsiapa Haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!"

"Minum" dalam istilah rohani berarti "memasukkan"---Atau "Menerima" atau "Percaya". Perkataan ini mengandung arti bahwa seseorang menerima dan mencerna kehidupan Tuhan yang sesungguhnya di dalam Kristus sampai ketitik dimana hal itu menjadi bagian dari dirinya.

Kesulitan dalam semua ini adalah bahwa laki-laki dan perempuan yang "haus " akan Tuhan (yang memiliki perasaan batin yang dalam untuk mencari dan berusaha, yang mencari apa yang dalam untuk mencari dan berusaha, yang mencari aatu benar-benar tidak yakin dengan apa yang mereka sedang cari. Kapasitas rohani di dalam batin bagi Tuhan dan kehidupan ilahi menjadi kering, dan dalam dilema ini mereka akan meminum dari kolam kotor sebagai tindakan untuk memuaskan rasa haus mereka akan kepuasan.

Santo Agustinus dari Afrika menyimpulkan hal ini begitu baik ketika ia menulis,"OH Tuhan ! Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu sendiri, dan jiwa kami gelisah, mencari-cari, samapi menemukan ketenagan di dalam Engkau."

Seluruh sejarah yang panjang dan rumit dari agama-agama, penyembahan berhala, dan filosofi manusia dan bumi, dipenuhi dengan kehausan akan Tuhan yang tak terpuaskan.

Daud, ketika ia menulis Mazmur 23, mengetahui akan hal ini . Dengan memandang kehidupan dari sudut pandang seekor domba, ia menulis, "Ia [Gembala yang baik] membimbing aku ke air yang tenang." Dengan kata lain, Dia sendirilah yang tahu di amna terdapat air yang tenang, dalam, bersih, dan murni yang dapat memuaskan domba-domba-Nya dan membuat mereka tetap sehat.

Pada umumnya, air untuk domba berasal dari tiga sumber utama: embun di rerumputan, sumur yang dalam, atau mata air dan sungai kecil.

Kebanyakan orang tidak tahu bahwa domba mampu bertahan selama berbulan-bulan, terutama jika cuaca tidak terlalu panas, tanpa benar-benar minum asalkan ada banyak embun di rerumputan setiap pagi. Domba biasanya bangun sebelum fajar dan mulai makan. Atau jika ada bulan purnama yang terang mereka akan merumput pada malam hari. Jam-jam dini hari adalah saat tumbuhan masih dibasahi embun, dan domba dapat tetap sehat dengan jumlah air yang masuk bersama makanan mereka ketika mereka merumput sebelum dan sesudah fajar.

Tentu saja, embun adalah sumber air yang bening, bersih, dan murni. Dan tidak ada gambaran air tenang yang lebih gemerlap daripada tetesan keperakan dari embun yang tergantung di dedaunan dan rumput pada awal hari.

Gembala yang baik, manajer yang rajin, memastikan bahwa Domba-dombanya dapat keluar dan merumput di tanaman yang basah oleh embun. Kalau perlu, ia sendiri harus bangun dini hari untuk keluar bersama kawanannya. Di rumah peternakan atau dari kejauhan, ia akan melihat bahwa domba-dombanya mendapat manfaat dari merumput pada dini hari.

Dalam kehidupan kristen tidak bisa dilewatkan hal yang penting untuk diamati, yaitu orang-orang yang paling tenang, paling yakin, dan mampu mengatasi kerumitan hidup adalah mereka yang bangun pagi-pagi setiap hari untuk makan firman Tuhan. Dalam jam-jam dini hari yang hening inilah mereka dibimbing ke tepi air yang tenang dimana mereka meminum kehidupan Kristus untuk hari itu. Ini jauh melebihi jumlah kata-kata. Ini adalah realitas yang praktis. Biografi dari laki-laki dan perempuan kepunyaan Tuhan yang hebat berkali-kali menunjukkan betapa rahasia sukses dalam kehidupan rohani terhubung dengan "saat teduh" setiap pagi. Disanalah, sendirian, diam, sambil menunggu suara Sang Tuan , kita dibimbing dengan lembut ke temapt yang seperti syair kidung pujian lama ini, "Embun Roh-Nya yang tenang dapat diteteskan dalam hidup dan jiwaku."

Orang yang mengejar jam-jam meditasi, renungan, dan persekutuan dengan Kristus ini akan di segarkan pikiran dan rohnya. Dahaganya akan dilegakan dan hatinya akan diam-diam di puaskan.

Dipikiran saya, saya dapat melihat kawanan domba saya lagi. Dalam kelembutan, keheningan, dan kehalusan dini hari, saya selalu mendapati domba-domba saya sedang tenggelam di rerumputan setinggi lutut yang basah-kuyup oleh embun. Disana mereka makan banyak dan kenyang. Ketika matahari terbit dan panasnya mengeringkan tetesan embun dari daun-daun, kawanan domba akan mundur dan mencari tempat yang teduh. Disana, setelah benar-benar kenyang dan disegarkan dengan gembira, mereka akan berbaring untuk beristirahat dan memamah biak sepanjang hari Tak ada hal yang lain yang lebih memuaskan saya.

Saya yakin ini adalah reaksi yang sama di hati dan pikiran Tuan saya ketika saya menyambut hari dengan cara yang sama. Dia senang melihat saya puas, tenang beristirahat, dan relaks. Dia gembira mengetahui jiwa dan roh saya di segarkan dan di puaskan.

Namun ironi kehidupan dan kebenaran yang tragis bagi kebanyakan orang kristen adalah bahwa hal ini tidak terjadi. Mereka justru sering mencoba memuaskan dahaga mereka dengan mengejar hampir semua pengganti yang lain. Karena pikiran dan kecerdasan mereka, maka mereka akan mengejar ilmu pengetahuan, karier akademik, bacaan yang beraneka rupa, atau teman-teman yang modern. Namun, mereka akhirnya selalu megap-megap dan tidak di puaskan.

Untuk menenangkan kerinduan jiwa dan emosi mereka, laki-laki dan perempuan akan berpaling ke seni budaya, musik, bentuk-bentuk kesusasteraan, untuk berusaha menemukan kepuasan.

Dan lagi-lagi, begitu sering, mereka berada di antara orang-orang yang paling letih dan sedih.

Diantara para kenalan saya terdapat beberapa penulis dan seniman terkemuka. Namun yang signifikan bagi banyak diantara mereka, hidup ini adalah suatu kehampaan. Mereka telah mencoba minum banyak-banyak dari sumur dunia hanya untuk pergi tanpa di puaskan---- tidak dipuaskan dalam dahaga jiwa mereka. Ada di antara mereka yang demi memuaskan kehausan ini dalam hidup mereka yang kering, berupaya menemukan penyegaran dalam segala macam pengejaran dan aktivitas fisik.

Mereka mencoba berwisata atau berolah raga gila-gilaan. Mereka berusaha melakukan bermacam-macam petualangan atau ikut dalam kegiatan sosial. Mereka melakukan berbagai hobi atau terlibat dalam upaya -upaya masyarakat. Namun akhirnya, mereka mendapati diri mereka menghadapi dahaga yang menghantui, hampa, kosong, tak terpuaskan dalam diri mereka.

Nabi Yeremia menyatakan dengan sangat terus terang ketika ia menyampaikan, "Umat-Ku... mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air" (Yeremia 2:13)

Ini adalah gambaran yang mengharukan. Inilah potret akurat tentang kehidupan yang berantakan----pengharapan yang hancur---- jiwa yang gersang yang kering, dan tandus serta dipenuhi debu keputusasaan.

Diantara kaum muda, khususnya generasi "modern" beralih ke narkoba, alkohol, petualangan seksual dalam nafsu gila-gilaan untuk menghilangkan dahaga mereka adalah bukti klasik bahwa menuruti perilaku kotor semacam itu adalah pengganti dahaga akan Roh Tuhan yang hidup. Orang-orang yang malang ini adalah kolam air bocor. Hidup mereka menyedihkan. Saya belum pernah berbicara dengan seorang "hippie" yang benar-benar bahagia. Wajah mereka menunjukkan keputusasaan di dalam diri.

Dan di tengah semua kekacauan dalam masyarakat yang bingung dan sakit ini, Kristus datang diam-diam seperti dulu dan mengundang kita untuk datang Kepada-Nya. Dia mengajak kita untuk mengikuti-Nya. Dia mengajak kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya. Sebab Dialah yang paling tahu bagaimana kita dapat dipuaskan. Dia tahu bahwa hati manusia, kepribadian manusia, jiwa manusia, dengan kapasitas yang mengagumkan untuk menerima dan diisi oleh Tuhan, tidak pernah dapat di puaskan dengan suatu pengganti apapun. Hanya Roh dan kehidupan Kristus sendiri yang dapat memuaskan jiwa yang haus itu.

Selanjutnya, hal yang kelihatan asing di pemandangan kita, "sumur" Tuhan yang dalam, tempat kita biasa minum, tidak selalu berupa pengalaman menyenangkan yang mungkin kita bayangkan.

Saya masih ingat betul saya pernah berdiri di bawah terik matahari khatulistiwa Afrika yang membakar dan mengamati hewan-hewan milik penduduk setempat digiring ke sumur-sumur kepunyaan pemilik mereka. Sebagian dari sumur-sumur itu sangat besar, berupa lubang besar yang dibuat oleh manusia, yang tersusun dari batu-batu kali di sepanjang tepi sungai yang berpasir. Sumur-sumur itu seperti ruang-ruang besar yang dipahat di batu dengan jalan yang melandai ke bak air di bawahnya. Hewan dan kawanan ternak dibimbing untuk masuk ke dalam bak air yang dalam ini, tempat air yang dingin, bersih, dan jernih menunggu mereka.

Tetapi di sumur, dengan bertelanjang dada, si pemilik menimba air untuk memuaskan kawanan ternak mereka. Ini adalah pekerjaan yang sulit, berat, dan panas. Keringat bercucuran di tubuh orang yang menimba air itu, kulitnya mengkilat karena keras dan panasnya pekerjaannya.

saat saya berdiri di sana sambil menyaksikan hewan-hewan melepaskan dahaga mereka di air yang tenang, sekali lagi saya sangat terkesan dengan fakta bahwa segalanya bergantung pada kerajinan sang pemilik, sang gembala. Hanya dengan tenangnya upayanya, keringatnya, kekuatannya, domba-dombanya di puaskan.

Dalam kehidupan orang Kristen hal yang persis sama berlaku. Kita dituntun ke banyak temapt yang ternyata bagi kita gelap, dalam, berbahaya, dan agak tidak nyaman. Namun yang sungguh-sungguh harus diingat adalah bahwa Dia ada bersama kita di sana. Dia sungguh bekerja dalam situasi itu. Energi, upaya dan kekuatan-Nya dikerahkan demi kepentingan saya, sehinga bahkan di tempat yang dalam dan gelap ini pun saya tetap mendapatkan manfaat.

Disanalah saya bahkan mendapati bahwa hanya Dialah yang dapat benar-benar memuaskan saya. Dialah yang membuat akal sehat, tujuan dan makna muncul dari situasi yang sebenarnya dapat menjadi ejekan bagi saya. Tiba-tiba kehidupan mulai mempunyai arti penting. Saya menemukan bahwa saya adalah sasaran kepedulian dan perhatianNya yang Istimewa. Martabat dan arah hidup muncul dalam peristiwa-peristiwa hidup saya, dan saya melihat semua itu terpilah-pilah dengan sendirinya menjadi suatu pola kegunaan yang pasti. Semua ini menyegarkan, menstimulasi, dan menghidupkan. Dahaga saya akan realitas kehidupan di puaskan, dan saya mendapati bahwa saya menemukan kepuasan itu di dalam Tuhan saya.

Tentu saja selalu ada sebagian orang yang menentang, yang tidak mau dan tidak mengizinkan Tuhan menuntun mereka. Mereka bersikeras menjalankan kehidupan mereka sendiri dan mengikuti dorongan kehendak mereka sendiri. Mereka bersikeras bahwa mereka dapat menguasai takdir mereka sendiri, bahkan walaupun akhirnya takdir itu menghancurkan. Mereka tidak mau dipimpin oleh Roh Tuhan ---mereka tidak mau dituntun oleh Dia--- mereka ingin berjalan dengan cara mereka sendiri dan minum dari sumber lama, sehingga mereka seolah-olah dapat memuaskan keingginan mereka, padahal tidak.

Mereka benar-benar mengingatkan saya pada sekelompok domba yang suatu hari saya jaga dan sedang di bimbing ke sebuah sungai yang besar, jernih, dan sebening kristal dengan kedua tepi sungai yang indah dan ditumbuhi pepohonan. Tetapi dalam perjalanan ke sana, beberapa ekor domba yang keras kepala beserta anak-anak mereka malah berhenti dan minum dari kubangan yang kecil, kotor, dan berlumpur di tepi jalan. Airnya kotor dan tercemar tidak saja oleh lumpur yang naik karena terinjak-injak domba-domba yang lewat, tetapi bahkan oleh kotoran dan air kencing kawanan hewan yang sebelumnya lewat disitu. Namun, domba-domba yang keras kepala ini benar-benar yakin itulah air minum terbaik yang tersedia.

Airnay sendiri kotor dan tidak cocok untuk mereka. Terlebih lagi air itu jelas terkontaminasi dengan nematoda dan cacing pita yang akhirnya akan membuat mereka diserang parasit dan penyakit di dalam tubuh yang dampaknya akan menghancurkan.

Manusia sering mencoba pegejaran ini, atau dengan komentar santai, "Memangnya kenapa?" saya tidak melihat bahwa ini akan berbahaya!" Mereka kurang paham bahwa sering kali ada reaksi yang tertunda dan makan waktu yang lama sebelum dampak penuh dari kesalahpahaman mereka menimpa mereka dengan telak. Sampai akhirnya, tiba-tiba mereka sudah berada dalam masalah yang berat dan mereka bertanya "Mengapa?"

Untuk menghindari bahaya ini dan mencegah dan mencegahnya Tuhan mengundang kita untuk membiarkan diri kita dipimpin dan dituntun oleh Roh-Nya sendiri. Banyak penekanan dan ajaran Rasul Paulus dalam Perjanjian Baru menyatakan bahawa anak Tuhan seharusnya tidak berakhir dalam kesulitan. Galatia 5 dan Roma menyatakan hal ini dengan sangat gamblang.

Ajaran Yesus sendiri kepada ke-12 murid-Nya tepat sebelum kematian-Nya, yang diberikan kepada kita dalam Yohanes 14 sampai 17, menunjukkan bahwa Roh Kudus akan di berikan untuk menuntun kita pada segala kebenaran. Dia akan datang sebagai penuntun dan pembibing. Dia selalu akan menuntun kita ke perkara-perkara Kristus. Dia akan membuat kita melihat bahwa kehidupan Kristus adalah satu-satunya kehidupan yang benar-benar memuaskan. Kita akan menemukan kebahagiaan karena jiwa kita di puaskan oleh dan dengan hadirat-Nya. Dialah yang akan menjadi "Daging" dan "minuman" bagi kita --- bahwa dalam kebangkitan-Nya, kehidupan berkemengan yang dibagikan kepada saya oleh Roh-Nya, kehidupan berkemenangan yang dibagikan kepada saya oleh Roh-Nya setiap hari akan membuat saya disegarkan dan di puaskan.
 
5
" Ia Menyegarkan Jiwaku "


Dalam mempelajari Mazmur ini harus selalu diingat bahwa yang berbicara di sini adalah seekor domba dalam pemeliharaan Gembala Agung Yang Baik. Ini sebenarnya adalah pernyataan seorang Kristen bahwa dirinya adalah milik Tuhan dan menjadi keluarga-Nya. Oleh karena itulah ia bermegah kerena keuntungan dari hubungan itu.

Fakta ini menyebabkan seseorang dapat bertanya, "Mengapa ada pernyataan seperti ini : Dia menyegarkan jiwaku?" Padahal seharusnya hal itu diasumsikan, bahwa siapapun yang ada dalam pemeliharaan Gembala Agung tidak akan pernah begitu tertekan jiwanya sehingga membutuhkan pemulihan

Tetapi kenyataannya hal itu tetap terjadi.
Bahkan Daud, penulis Mazmur, yang sangat di kasihi Tuhan pun tahu bagaimana rasanya putus asa dan di tolak. Ia telah merasakan kekalahan dalam Hidupnya dan merasa frustasi karena jatuh oleh godaan, Daud akrab dengan pahitnya perasaan tak berdaya dan tanpa kekuatan pada dirinya sendiri.

Dalam Mazmur 42:12 ia berseru, " Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?..." Di tengah kondisi seperti itu, Daud mengarahkan hidup, jiwa dan hatinya untuk berharap kepada Tuhan!

Ada kesamaan yang teapt dengan hal ini dalam memelihara domba. Hanya gembala yang sangat mengenal domba-domba dan kebiasaan merekalah yang dapat memahami kondisi dan situasi dari domba yang "jatuh" atau domba yang "terjerembab"

Ini adalah istilah gembala di Inggris zaman dahulu untuk domba yang terlentang dan tidak dapat bangun lagi.

Domba yang terkapar adalah pemandangan yang menyedihkan. Tergeletak dengan punggung di bawah dan kaki di udara, ia berusaha mati-matian dengan kalut untuk berdiri, tetapi tidak berhasil. Kadang- kadang ia akan sedikit mengembik minta tolong namun umumnya ia telentang, di dera rasa frustasi yang menakutkan.

Jika si pemilik tidak datang dalam waktu yang sangat singkat, domba itu akan mati. Inilah satu alasan mengapa sangat penting bagi gemabla yang cermat untuk mengawasi kawanan dombanya setiap hari, menghitung mereka untuk melihat bahwa semuanya mampu bangkit dan berdiri. Jika satu atau dua ekor hilang, seringkali yang pertama kali terlintas adalah salah satu dombaku terjerembab entah dimana. Aku harus pergi mencari dan membantunya berdiri kembali.

Seekor domba betina yang saya miliki dalam kawanan domba jenis cheviots, terkenal sebagai domba yang sering terjerembab. Setiap musim semi, ketika ia menjadi berat karena mengandung, sudah biasa ia jatuh setiap dua atau tiga hari sekali. Hanya kerajinan saya yang memungkinkannya bertahan hidup dari satu musim ke musim berikutnya. Suatu kali saya harus jauh dari peternakan selama beberapa hari, padahal domba tadi sedang bermasalah. Jadi saya memanggil putra saya yang masih kecil dan mengatakan kepadanya bahwa ia akan bertanggung jawab atas kesejahteraan domba itu selama saya tidak ada. Jika ia berhasil membuat domba betina itu tetap berdiri sampai saya pulang, ia akan di bayar untuk pekerjaannya. Setiap malam sepulang sekolah ia pergi ke padang dengan setia dan membantu domba betina tua ini untuk berdiri dan bertahan hidup. Ini benar-benar kerja keras, namun pada musim semi itu sang domba membalas kami dengan melahirkan sepasang domba kembar yang bagus.

Bukan hanya gembala yang memasang mata tajam untuk domba yang terjerembab, tetapi juga para pemangsa. Elang, burung haring, anjing hutan, dan macan tutul semuanya tahu bahwa seekor domba yang terjerembab mudah dimangsa dan tidak jauh dari kematian.

Pengetahuan bahwa semua domba yang jatuh itu tidak berdaya, hampir mati, dan rentan terhadap serangan membuat seluruh masalah domba yang jatuh menjadi serius bagi sang gembala.

Tak ada yang lebih membuatnya terus memperhatikan dan dengan rajin mengamati kawanan, selain fakta bahwa bahkan domba yang paling besar, paling gemuk, paling kuat, dan kadang-kadang paling sehat dapat terjerembab dan menjadi korban. Sebenarnya sering kali domba gemuklah yang paling sering terjerembab.

Terjadinya seperti ini. Seekor domba yang berat, gemuk atau berbulu panjang akan berbaring dengan nyaman di sebuah lubang kecil, atau merunduk di tanah. Ia mungkin berguling sedikit ke samping untuk meregangkan tubuh atau relaks. Tiba-tiba pusat garvitasi dalam tubuhnya bergeser sehinnga punggungnya tertarik cukup jauh sampai-sampai kakinya tidak lagi menyentuh tanah. Ia mungkin merasa panik dan kakinya mulai mengapai-gapai dengan kalut. Seringkali ini justru membuat keadaan semakin buruk. Ia berguling semakin jauh. Sekarang benar-benar tidak mungkin baginya untuk berdiri.

Saat si domba sedang terlentang dalam perjuangan itu, gas mulai menumpuk di lambungnya. Saat keadaan ini semakin parah, sirkulasi darah mereka cenderung melambat dan terhenti ke anggota badan, terutama kaki. Jika cuaca sangat panas dan terik, seekor domba yang terjerembab dapat mati dalam beberapa jam. Jika cuaca dingin, berawan, dan hujan, ia dapat bertahan dalam posisi itu selama beberapa hari.

Jika domba yang terjermbab adalah seekor domba betina yang sedang mengandung, tentu saja itu adalah kehilangan ganda bagi sang pemilik. jika anak-anak domba itu tidak dilahirkan, mereka akan mati bersama induknya. Jika anak-anaknya masih kecil dan menyusu, mereka jadi yatim piatu. Semua ini akan menambah parahnya situasi.

Jadi, akan terlihat mengapa perhatian seorang gembala selalu mewaspadai masalah ini.

Selama bertahun-tahun saya sendiri sebagai pemelihara domba, mungkin beberapa kenangan yang paling menyedihkan terbungkus rapat oleh kecemasan yang campur aduk dalam menjaga jumlah kawanan domba saya dan berkali-kali menyelamatkan serta menyembuhkan domba yang terjerembab. Tidak mudah untuk menuangkan perasaan tentang bahaya yang selalu ini di atas kertas. Seringkali saya akan keluar rumah pada dini hari dan melemparkan pandangan saya kelangit. Jika saya melihat elang-elang bersayap hitam terbang berputar-putar dengan ketinggian rendah, membentuk lintasan spiral yang panjang dengan lambat, kecemasan akan melanda diri saya. Dengan meninggikan semua hal lain, saya akan segera berlari ke padang rumput liar yang kasar dan menghitung kawanan domba untuk memastikan setiap domba baik-baik saja dan sehat serta mampu berdiri di atas kakinya.

Ini adalah bagian dari pertunjukkan dan drama yang di gambarkan kepada kita dalam kisah menakjubkan tentang 99 ekor domba dan seekor domba yang tersesat. Ada keprihatinan yang mendalam dari si gembala, pencariannya dalam kesedihan, kerinduannya untuk menemukan seekor domba yang hilang itu, dan kegembiraannya dalam mengembalikan domba itu tidak hanya untuk berdiri, tetapi juga mengembalikannya ke kawanan dan kepada dirinya sendiri.

Lagi dan lagi, saya menghabiskan berjam-jam untuk mencari seekor domba yang hilang. Kemudian, yang lebih sering terjadi, saya akan melihatnya di kejauhan, telentang tanpa daya. Segera saya akan berlari mendapatkannya--- berlari secepat mungkin sebab setiap menitnya akan sangat menentukan.

Didalam diri saya berbaur perasaan takut dan senang: takut hal ini akan terlambat, senang bahwa ia akhirnya di temukan.

Segera setelah saya mendapati domba betina yang terjerembab itu, dorongan hati saya pertama-tama adalah ingin mengendongnya. Dengan lembut saya menggulingkan dia posisi miring. Ini akan melepaskan tekanan gas di lambungnya. Jika ia sudah tergeletak dalam waktu yang lama, saya akan mengangkatnya supaya berdiri. Kemudian, dengan domba itu di antara kedua kaki saya, saya memegangnya supaya berdiri, menggosok kaki-kakinya untuk memulihkan sirkulasi darah ke kaki. Ini sering kali hanya membutuhkan sedikit waktu. Ketika si domba mulai berjalan lagi, ia kerap tersandung, terhuyung-huyung, dan jatuh terjerembab lagi.

Selama saya mengurus domba yang terjerembab, saya berbicara dengan lembut; " Kapan kau akan belajar berdiri?" Aku senang sekali menemukanmu pada waktu yang tepat---- Dasar kau!"

Sedikit demi sedikit domba itu akan mendapatkan keseimbangannya kembali. Ia akan mulai berjalan dengan mantap dan pasti. Lalu ia akan berlari untuk bergabung kembali dengan teman-temannya, bebas dari ketakutan dan frustasinya, mendapat kesempatan lagi untuk hidup lebih lama.

Semua pertunjukkan ini sampai ke hati dan pikiran saya ketika saya mengulangi pernyataan yang sederhana ini, "Ia menyegarkan jiwaku."

Ada sesuatu yang amat pribadi, sangat lembut, sangat menimbulkan kasih, namun sangat mengkhawatirkan dengan bahaya yang ada dalam gambaran ini. Di satu sisi domba yang sangat tak berdaya, tak mampu bergerak sedikitpun meskipun ia sebenarnya kuat, sehat, dan tumbuh dengan baik; sementara di sisi lain, ada si pemilik yang penuh perhatian, yang cepat dan sigap datang demi keselamatannya----selalu sabar dan lembut serta menolong.

Di titik ini penting untuk menunjukkan bahwa begitu pulalah dalam kehidupan Kristen ada kegembiraan dan penghiburan yang sama.

Banyak orang mempunyai pengertian bahwa ketika seorang anak Tuhan jatuh, ketika ia frustasi dan tak berdaya dalam suatu di lema rohani, Tuhan menjadi jijik, muak, dan bahkan murka kepadanya.

Sesungguhnya tidak demikian.
Salah satu pewahyuan besar tentang hati Tuhan yang di berikan kepada kita melalui Kristus, mengenai diri-Nya sendiri, sebagai Gembala Agung kita. Dia memiliki perasaan cemas, keprihatinan, dan belas kasihan terhadap laki-laki dan perempuan yang jatuh, sama dengan perasaan saya terhadap domba yang terjerembab. Inilah tepatnya yang mnyebabkan Dia memandang manusia dengan kesedihan dan belas kasihan sedemikian rupa. Hal ini menjelaskan kemurahan-Nya saat berurusan dengan orang-orang yang jatuh dan hilang, yang bahkan bagi masyarakat manusia pun tidak berguna. Ini mengungkapkan mengapa Dia menangisi mereka yang menolak kasih-Nya. ini menyingkapkan kedalaman pemahaman-Nya tentang orang-orang yang terlepas, yang bagi mereka Dia datang dengan segera dan cepat, siap menolong , menyelamatkan dan memulihkan.

Ketika saya membaca kisah hidup Yesus Kristus dan dengan hati-hati menyelidiki sikapnya dalam menangani kebutuhan manusia, saya melihat Dia lagi dan lagi sebagai Gembala yang baik, yang mengangkat domba yang jatuh. Kelembutan, kasih, kesbaran yang Dia gunakan untuk memulihkan jiwa Petrus setelah tragedi buruk percobaannya, adalah gambaran klasik tentang Kristus yang datang untuk memulihkan salah satu milik-Nya.

Dan demikianlah Dia datang diam-diam, dengan lembut, meyakinkan saya, tidak peduli kapan atau dimana atau bagaiman caranya saya bisa jauh.

Dalam Mazmur 56:13 kita diberi sebuah komentar yang tepat tenatng aspek kehidupan Kristen ini dengan perkataan, "Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung;...."

Kita harus realistis, mengenai kehidupan sebagai anak Tuhan dan menerima fakta sebagaimana adanya. Sebagian besar dari kita, meskipun kita Kristus dan rindu berada di bawah kendali-Nya berusaha untuk membiarkan diri kita dipimpin oleh Dia, sesekali akan mendapati diri kita jatuh juga.

Kita menemukan bahwa sering kali ketika kita paling yakin dengan diri sendiri, kita tersandung dan jatuh. Kadang-kadang ketika kita sepertinya bertumbuh dalam iman kita, kita mendapati diri kita jatuh juga.

Kita menemukan bahwa sering kali ketika kita paling yakin dengan diri sendiri, kita tersandung dan jatuh. Kadang-kadang ketika kita sepertinya bertumbuh dalam iman kita, kita mendapati diri kita berada dalam situasi frustasi dan kegagalan yang paling parah.

Paulus dalam tulisannya untuk orang-orang Kristen di Korintus memperingatkan mereka akan bahaya ini. "Sebab itu siapa yang menyangka , bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (Korintus 10:12).

Diakui bahwa hal ini mungkin tampak sebagai salah satu pradoks dan teka-teki kehidupan rohani kita. Namun jika kita menyelidikinya dengan hati-hati, kita tidak akan merasa hal ini terlalu sulit untuk dipahami.

Seperti pada Domba, begitu pula dengan orang Kristen, beberapa prinsip dan kesamaan dasar berlaku dan hal itu akan membantu kita memahami bagaiman seorang laki-laki atau perempuan bisa jatuh.

Yang pertama adanya gagasan untuk mencari tempat yang empuk. Domba yang memilih cekungan dan bundar di tanah yang nyaman, empuk, sebagai temapt untuk berbaring, seringkali menjadi terjerembab. Dalam situasi seperti ini sangat mudah untuk terguling dan terlentang.

Dalam kehidupan orang Kristen ada bahaya besar jika selalu mencari tempat yang mudah, sudut yang nyaman, posisi yang enak di mana tidak ada kesukaran tidak memerlukan ketabahan, tidak ada tuntutan untuk disiplin diri.

Kala kita berfikir "Kita telah berhasil," pada hakekatnya. kita benar-benar sedang berada dalam bahaya. Ada hal semacam disiplin kemiskinan dan kemlaratan yang dpat kita kenakan kepada diri sendiri demi membawa kebaikan bagi diri kita. Yesus menyarankan hal ini kepada seorang pemuda yang kaya, yang keliru karena menyangka dirinya berada dalam posisi yang aman, padahal sebeenarnya ia sedang berada di ambang kejatuhan.

Kadang-kadang, jika melalui pemanjaan diri, saya tidak bersedia mengorbankan atau menghentikan kehidupan yang lunak, jalan yang mudah, pojok yang nyaman, maka sang Gembala yang baik akan menggiring saya ke padang rumput di mana semuanya tidak terlalu mudah-- tidak hanya untuk kebaikan saya sendiri tetapi juga untuk kepentingan-Nya.

Ada juga aspek mengenai domba yang mempunyai wol terlalu tebal. Acap kali ketika bulunya menjadi sangat panjang dan kusut karena lumpur, pupuk, duri duri kecil, dan kotoran-kotoran lainnya yang menempel jauh lebih mudah bagi seekor domba untuk terjerembab, karena benar-benar diberati dengan wolnya sendiri.

Wol dalam Alkitab melukiskan kehidupan yang lama dalam diri orang kristen. Hal itu adalah ekspresi luar dari sikap batin, pernyataan tentang keingginan
harapan, dan cita-cita saya sendiri. Ini adalah bagian, hidup saya di mana saya terus -menerus kontak dengan dunia di sekitar saya. Disinilah saya menemukan akumulasi berbagai hal yang melekat, kepemilikan , ide-ide duniawi mulai memberkati saya, meyeret sayake bawah, menahan saya di bawah.

penting, bahwa tidak ada seorang imam besar pun yang diperbolehkan mengenakan wol ketika ia memasuki Ruang MahaKudus. Ini berbicara tentang keakuan, kesombongan, kesukaan pribadi---dan Tuhan tidak dapat mentolerirnya.

Jika saya ingin terus berjalan bersama Tuhan dan tidak selalu jatuh terjerembab, inilah aspek hidup saya yang harus Dia tangani dengan Drastis.

Setiap kali saya menemukan seekor domba terjerembab karena bulunya yang terlalu panjang dan berat, segera saya mengambil langkah cepat untuk mengobati situasi seperti ini. Saya segera mencukurnya sampai bersih dan dengan demikian mencegah bahaya matinya domba betina tersebut. Ini tidak selalu merupakan proses yang mudah. Domba tidak terlalu senang di cukur, dan ini berarti kerja keras bagi Gembala, tetapi ini harus dilakukan.

Sebenarnya setelah semua ini berallu domba ataupun pemiliknya akan merasa lega. Tidak ada lagi ancaman jatuh, sementara untuk si domba ada kegembiraan karena dibebaskan dari mantel yang panas dan berat. Seringkali bulunya dipenuhi pupuk, lumpur yang kotor, duri-duri kecil, ranting-ranting kayu, dan kutu. Betapa leganya jika lepas dari semua itu!

Dan begitu pula dalam menangani kehidupan lama kita, kita akan datangs uatu hari ketika Sang Tuan harus menuntun kita dengan Tangan-Nya dan menggunakan sisi pisau yang tajam dari Firman-nya bagi hidup kita. Mungkin itu urusan yang tidak menyenangkan pada saat itu. Tak diragukan lagi kita akan meronta dan menendang-nendang. Kita mungkin akan sedikit tersayat dan luka. Tetapi betapa leganya ketika semuanya itu sudah usai. Oh senangnya terbebas dari diri kita sendiri! Betapa itu suatu pemulihan!

Penyebab utama yang ketiga untuk terjerembabnya domba hanyalah bahwa mereka terlalu gemuk. Fakta yang banyak diketahui orang adalah bahwa domba yang terlalu gemuk bukanlah domba yang paling sehat, juga bukan domba yang paling produktif. Dan tentu saja domba yang paling gemuk yang paling sering terjerembab. Bobot mereka membuat mereka jauh lebih sulit untuk gesit dan cekatan berdiri.

Tentu saja, begitu si gembala curiga dombanya bisa terjerembab karena alasan ini, ia akan mengambil langkah jangka panjang untuk mengatasi masalah ini. Ia akan menempatkan domba-domba betina itu di rerumputan yang lebih keras; mereka akan mendapatkan gandum lebih sedikit, dan kondisi umum kawanan itu akan diamati dengan sangat cermat. Tujuan si gembala adalah melihat dombanya kuat, kekar, dan energik, bukan gemuk, lembek, dan lemah.

Kembali ke kehidupan orang Kristen, kita menghadapi jenis masalah yang sama. Ada laki-laki dan ada perempuan yang karena berhasil dalam bisnisnya atau kariernya atau rumah tangganya, merasa diri bertumbuh dan hanya "sampai di situ saja". Mereka mungkin sudah merasa sejahtera dan memiliki keyakinan diri, tapi sesungguhnya berbahaya. Sering kali ketika kita paling yakin dengan diri sendiri, kita paling cenderung untuk jatuh tergeletak.

Dalam peringatan-Nya kepada gereja dalam Wahyu 3:17, Tuhan menunjukkan bahwa meskipun sebagian orang mengangap diri mereka kaya dan makmur, mereka sebenarnya berada dalam bahaya yang menyedihkan. Inti yang sama di buat oleh Yesus dalam kisah-Nya tentang petani kaya yang bermaksud membangun lebih banyak lumbung dengan ukuran yang lebih besar, namun yang sebenarnya sedang menghadapi kehancuran yang parah.

Sukses materi bukan ukuran kesehatan rohani. kemakmuran yang jelas terlihat juga bukan kriteria kesalehan. Dan baik bagi kita apabila Gembala jiwa kita melihat lebih dalam dari penampilan luar ini dan mengambil langkah-langkah untuk meluruskan segala hal.

Mungkin kepada kita, Dia mengenakan semacam "diet" atau "Hukuman" yang awalnay kita anggap sedikit kasar dan tidak enak. Tetapi sekali lagi kita perlu meyakinkan diri kita bahwa ini untuk kebaikan dan untuk reputasi-Nya sendiri sebagai Gembala yang baik.

Dalam Ibrani 12 kita membaca bagaimana memilih untuk menghukum mereka yang di kasihi-Nya. pada waktu hukuman ditimpakan, mungkin terasa sebagai sesuatu yang berat. Namun, kebenaran yang lebih dalam adalah bahwa sesudah itu di hasilkan suatu kehidupan yang tenag dan seimbang, bebas dari keresahan dan frustai karena terjerembab seperti seekor domba yang tak berdaya.

Ketegaran yang diperlukan untuk menghadapi kehidupan dan kemalangan yang dibawa kepada kita, hanya dapat datang melalui disiplin ketabahan dan kesulitan. Dalam belas kasihan dan kasih-Nya, Tuan kita menjadikan ini bagian dari program kita. Ini adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi milik-Nya.

Kita dapat beristirahat dengan keyakinan bahwa Dia tidak akan pernah mengharapkan kita atau meminta kita emnghadapi lebih daripada yang mampu kita tanggung(1 Korintus10;13) Namun, apa yang Dia tunjukkan kepada kita akan memperkuat dan membentengi iman serta keyakinan kita terhadap kendali-Nya. karena Dia adalah Gembala yang baik, maka kita dapat beristirahat dengan keyakinan bahwa Dia tahu apa yang Dia lakukan. Ini saja seharusnya sudah cukup untuk terus menerus menyegarkan dan memulihkan jiwa saya. Saya tidak mengetahui hal lain yang begitu menenangkan jiwa saya. Saya tidak mengetahui hal lain yang begitu menenangkan dan meemriahkan kehidupan rohani saya sendiri selain pengetahuan bahwa Tuhan tahu apa yang Dia perbuat dan akan Dia perbuat lagi bagi saya.!!
 
6
" Ia Menuntun Aku di Jalan yang Benar oleh karena Nama-Nya"


Domba adalah mahkluk dengan kebiasaan buruk. Jika ditinggalkan sendirian, mereka akan mengikuti jalur yang sama sehingga bagian itu akan menjadi gundul; merumput di perbukitan yang itu-itu juga sampai bukit itu berubah menajdi gurun; mencemari wilayah mereka sendiri sehingga rusak oleh penyakit dan parasit. Banyak daerah domba terbaik di dunia telah rusak dan tak dapat diperbaiki lagi karena rumputnya teralalu banyak dimakan, manajemem yang buruk, ketidakpedulian atau ketidaktahuan para pemilik domba.

Kita hanya perlu pergi ketempat-tempat seperti Spanyol, Yunani, Mesopotamia, Afrika utara, dan bahkan derah-daerah di Amerika serikat bagian barat dan Selandia Baru atau Australia untuk melihat kerusakan yang disebabkan oleh Domba-domba pada lahan. Beberapa wilayah di negara-negara ini yang tadinya merupakan tanah berumput yang produktif, pelan-pelan merosot menjadi gurun yang rusak. Terlalu banyak domba dalam tahun-tahun yang cukup lama dan dengan manajemem yang buruk telah membawa kemiskinan dan bencana di kemudian hari.

Pelan-pelan merosot menjadi gurun yang rusak, Terlalu banyak domba dalam tahun-tahun yang cukup lama dan dengan manajemen yang buruk telah membawa kemiskinan dan bencana di kemudian hari.

Pengertian yang banyak di pegang, namun sangat keliru tentang domba adalah bahwa mereka dapat hidup di amna saja. Yang benar adalah sebaliknya Tak ada golongan ternak lain yang membutuhkan penanganan yang lebih hati-hati dan bimbingan yang lebih rinci selain domba Tak heran jika Daud, sebagai gembala, telah mmepelajari hal ini secara langsung dari pengalaman yang keras. Ia tahu, dan itu tak dapat di bantah, bahwa supaya kawanan domba bertumbuh besar dan reputasi si pemilik tetap tinggi sebagai manajer yang baik, Domba harus terus menerus berada di bawah kendala dan tuntunannya yang sangat teliti.

Peternakan domba pertama yang saya beli ketika saya masih muda adalah sepotong lahan terlantar yang "dibuat mati oleh domba". Pemilik yang tidak dapat hadir telah menyewakan temapt itu kepada penyewa. Si penyewa hanya memenuhi peternakan itu dengan domba-domba, kemudian membiarkan mereka sering berjalan sendiri. Hasilnya adalah tanah yang sangat tandus. Rerumputan di lahan itu terlalu banyak dimakan domba dan menjadi sedikit. Rumputnya tumbuh sedikit, dan kurus. Jejak-jejak domba berubah menjadi selokan besar. Erosi di lereng merajalela, dan seluruh tempat itu rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi.

Semua ini terjadi hanya kerena domba tidak diatur dan di tangani dengan perawatan yang cerdas, ditinggalkan untuk berjuang sendiri, dibiarkan dengan tingkah-laku mereka yang mempunyai kebiasaan merusak.

Akibat ketidakpedulian semacam itu, domba-domba mengerogoti rumput sampai ke akarnya, sehingga akarnya pun rusak. Saya pernah melihat tempat-tempat di Afrika di mana akar rumput di korek dari tanah, sehinnga akhirnya tinggal sebidang tanah yang gundul. Perlakuan buruk seperti ini berarti menghilangkan kesuburan dan membuat tanah rawan terhadap semua kerusakan karena erosi.

karena perilaku domba dan kesukaan mereka pada tempat-tempat tertentu yang nyaman, tempat-tempat yang selalu mereka datangi dengan cepat di huni oleh berbagai jenis parasit. Dalam waktu singkat, seluruh kawanan dapat terinfeksi cacing, nematoda, dan kuman kudis. Hasilnya akhir adalah tanah ataupun pemiliknya hancur, sementara domba-domba menjadi kurus, tak berguna, dan sakit.

Gembala yang pandai mengetahui semua ini. Bukan saja untuk kesejahteraan domba-dombanya dan kesehatan tanahnya, tetapi juga untuk kepentingan dan reputasinya sendiri sebagai peternak, ia harus mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk berjaga-jaga terhadap sifat-sifat hewan yang merugikan ini. Kebiasaan itu sendiri mengandung bahaya yang sangat serius.

Suatu pengamanan terbesar yang dimiliki gemabla dalam menangani kawanan dombanya adalah dengan membuat mereka tetap berpindah-pindah. Itupun berarti mereka tidak boleh di biarkan terlalu lama berada di wilayah yang sama. Mereka harus digiring dari padang rumput sebelah sini ke padang rumput sebelah sana secara periodik. Ini mencegah rerumputan habis dimakan. Ini juga menghindari terbentuknya jalan setapak dan erosi karena tanah itu terlalu sering dilewati. Ini mencegah domba terinfeksi parasit atau penyakit yang masuk ke dalam tubuh, sebab domba pindah dari tanah yang terinfeksi sebelum organisme-organisme itu menyelesaikan siklus hidupnya.

Pendeknya----harus ada rencana tindakan yang sudah ditentukan sebelumnya, rotasi yang disengaja dan direncanakan dari satu tempat merumput, ke tempat merumput yang lain sesuai dengan prinsip manajemen sehat yang benar dan tepat. Inilah sesungguhnya jenis tindakan dan gagasan yang ada di benak Daud ketika ia berbicara tentang "dituntun di jalan yang benar".

Dalam mengikuti suatu rencana operasi yang tepat terdapat rahasia bagi kawanan domba yang sehat dan tanah yang sehat. Inilah kunci pemeliharaan domba yang berhasil. Seluruh nama dan reputasi sang pemilik bergantung pada sebeerapa efektif dan efisiennya ia amembuat domba-domba miliknya terus berpindah-pindah untuk memperoleh makanan yang sehat, baru, dan segar. Orang yang menuntun kawanan dombanya di jalan ini pastilah berhasil.

Saya mengenang kemabali tahun-tahun semasa saya memelihara domba. Tak ada satu pun aspek dari operasional peternakan yang lebih menuntut perhatian saya yang cermat selain memindahkan domba-domba. Hal ini benar-benar mendominasi seluruh keputusan saya. Tak seharipun berlalu tanpa saya berjalan di padang rumput temapt domba-domba makan, untuk mengamati keseimbangan antara pertumbuhan rumputnya dan tekanan dari domba-domba yang merumput di sana. Segera setelah sampai pada satu titik dimana saya merasa manfaat bagi domba maupun tanah tidak terpenuhi, domba akan digiring ke lahan yang baru. Biasanya ini berarti mereka dibawa ke lahan baru hampir setiap minggu. Dalam ukuran yang sangat besar, keberhasilan yang saya nikmati dalam berternak domba harus dikaitkan dengan kehati-hatian saya dalam mengatur kawanan domba.

Prosedur serupa cocok bagi kawanan domba yang pada musim panas di bawa berkeliling di perbukitan oleh para penjaga. Mereka sengaja memimpin atau mengiring domba-domba mereka ke lahan yang baru hampir setiap hari. Pola merumput di buat dengan hati-hati sebelumnya sehingga domba tidak makan di tempat yang sama terlalu lama atau terlalu sering sebagian gembala mendirikan sebuah kemah yang menjadi pusat kerjanya dan dari situ ia berjalan dengan membentuk lingkaran yang besar, seperti lengkungan daun semanggi yang menutupi padang rumput yang baru setiap hari, lalu kembali ke kemah pada malam hari.

Berdampingan dengan seluruh konsep manajemen ini, tentu saja gembala harus mengenal akrab padang rumputnya. Ia sudah menjelajahi tanah itu berkali-kali. Ia tahu setiap kelebihan dan kekurangannya. Ia tahu dimana kawanan dombanya akan bertumbuh pesat, dan ia tahu bagian mana yang rumputnya buruk. Jadi, ia bertindak sesuai pengetahuan itu.

Satu hal yang perlu disebutkan di sini adalah bahwa setiap kali gembala membuka pintu gerbang ke suatu padang rumput yang segar, domba-domba dipenuhi kegembiraan. Saat mereka melewati gerbang itu, bahkan domba-domba betina yang tua dan biasanya tenang seringkali akan menendangkan tumit mereka dan melompat kegirangan melihat kemungkinan akan menemukan makanan yang segar. Betapa senangnya mereka dituntun ke tanah yang baru.

Sekarang jika kita kembali ke aspek manusia dari tema ini, kita akan terkagum-kagum melihat kesamaannya. Seperti yang disebutkan sebelumnya bukan hanya sikap di pihak Tuhan yang menyebut kita domba. Pola perilaku dan kebiasaan hidup kita yang sangat mirip dengan domba pun cukup memalukan.

Yang pertama, Alkitab menunjukkan bahwa kebanyakan dari kita sangat tegar tengkuk dan keras kepala. Kita lebih suka mengikuti khayalan kita dan kembali ke jalan-jalan kita."Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri" (Yesaya 53:6). Dan hal ini kita lakukan dengan sengaja, berulang-kali, meskipun merugikan diri kita sendiri. Ada sesuatu yang nyaris mengerikan dalam hal kekerasan hati manusia yang merusak. Pasti ini terpaut dengan keangkuhan pribadi dan penonjolan diri. Kita bersikeras mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita meskipun hasil yang berupa bencana dapat terbukti dengan sendirinya.

Sama seperti domba yang buta, terbias, dan bodoh saling mengikuti jalur kecil yang sama sampai jalur itu menjadi rute yang terkikis sehingga terbentuk selokan besar, begitu pula kita manusai melekat dengan kebiasaan yang sama, yang sering kali kita lihat menghancurkan kehidupan.

Mengambil "Jalan saya sendiri" berarti hanya melakukan apa yang saya mau. Ini berarti saya merasa bebas memaksakan kehendak saya sendiri dan melaksanakan ide-ide saya sendiri.

Dan inisaya lakukan juga meskipun sudah ada peringatan.

Kita membaca dalam Amsal 14:12 dan 16 :25, "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut."

Berlawanan dengan Kristus Sang Gembala Agung yang datang dengan lembut dan mengatakan, "Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6) "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan" (Yohanes10:10).

Hal yang sulit adalah bahwa sebagian besar dari kita tidak mau datang. Kita tidak mau ikut. Kita tidak mau dituntun di jalan kebenaran. Bagaimanapun juga hal itu bertentangan dengan sifat kita. Kita sebenarnya lebih senang kembali ke jalan kita sendiri sekalipun jalan itu membawa kita langsung ke dalam kesulitan.

Domba yang keras kepala, mengikuti kemauannya sendiri, sombong, merasa dapat mencukupi kebutuhan nya sendiri, yang bersikears emnempuh perjalanan yang lama dan merumput di tanah yang lama yang sudah tercemar, akan menjadi bungkusan tulang-belulang di tanah yang rusak. Dunia tempat kita tinggal dipenuhi kawanan seperti itu. Rumah tangga yang pecah, hati yang patah, kehidupan yang terlantar, dan kepribadian yang berbelit-belit mengingatkan kita di mana saja tentang laki-laki dan perempuan yang telah memilih jalan sendiri. Kita memiliki masyarakat yang sakit, yang bergumul untuk bertahan hidup di tanah yang sudah terkepung. Keserakahan dan keegoisan manusia mewariskanmu kehancuran dan penyesalan yang dalam.

Di tengah kekacauan dan kebingungan ini, Kristus Gembala yang baik datang dan berkata, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, Memikul salibnya dan mengikut Aku"(Markus 8:34). Namun sebagian besar dari kita, bahkan sebagai orang Kristen, benar-benar tidak mau melakukan ini. Kita tidak mau menyangkal diri kita, menyerahkan hak kita untuk membuat keputusan sendiri---kita tidak mau ikut; kita tidak mau dituntun.

Tentu saja, kebanyakan di antara kita, jika menghadapi tugas ini, akan menolaknya. Kita akan menyatakan dengan penuh semangat bahwa kita "dituntun oleh Tuhan ". Kita akan beriskeras bahwa kita akan ikut kemana pun Dia menuntunkita. Kita menyanyikan lagu-lagu yang menyatakan hal itu dan memberi persetujuan mental pada gagasan itu. Tetapi sejauh hal itu berkaitan dengan dituntun di jalan kebenaran, hanya sedikit orang saja di antara kita yang mengikuti jalan itu.

Sesungguhnya inilah titik poros di mana seorang Kristen akan "Maju" bersama Tuhan atau di titik inilah ia akan "Mundur" dan tidak mengikut Tuhan.

Banyak orang Kristen yang berkemauan keras, suka melawan, tidak peduli, mementingkan diri sendiri; mereka sebenarnay tidak dapat di golongkan sebagai pengikut Kristus. Murid-murid yang tekun, yang meninggalkan segalanya demi mengikut Sang Tuan, relatif sedikit.

Yesus tidak pernah meremehkan haraga yang harus dibayar dalam mengikut Dia. Sesungguhnya, Dia menjelaskan dengan sedih bahwa ini adalah kehidupan yang berat karena penyangkalan diri yang sukar. Hal ini memmerlukan seperangkat sikap yang sama sekali baru. Ini bukan cara hidup normal dan alamiah yang biasanay di jalani seseorang, dan inilah yang membuat harganya sangat tak terjangkau bagi kebanyakan orang.

Ringkasnya, tujuh sikap baru harus di dapatkan. Semua itu sama dengan gerakan maju langkah demi langkah ke tanah baru bersama Tuhan. Jika seseorang mengikuti langkah-langkah itu, ia akan menemukan padang rumput yang segar; hidup baru yang berkelimpahan; dan kesehatan, kebugaran serta kekudusan yang semakin meningkat dalam perjalanannya bersama Tuhan. Tak ada yang lebih menyenagkan Dia, dan yang pasti tidak ada aktivitas lain di pihak kita yang akan dan dapat menghasilkan manfaat besar bagi orang-orang di sekitar kita.

  • 1. Ketimbang mengasihi diri sendiri secara berlebihan, saya mau mengasihi Kristus sebagai yang utama dan mengasihi orang lain, lebih daripada diri saya sendiri. Kasih dalam pengertian alkitabiah bukanlah emosi yang lembut dan sentimental. Kasih adalah tindakan sengaja berdasarkan kemauan. Ini berarti bahwa saya bersedia menyerahkan hidup saya membukakan diri saya, mencurahkan diri saya demi kepentingan Kristus. Inilah tepatnya yang Tuhan perbuat bagi kita di dalam Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita" (1 Yohanes 3:16). ketika saya dengan sengaja melakukan suatu hal tertentu bagi Tuhan atau orang lain yang membuat saya harus mengorbankan sesuatu, saya sedang mengungkapkan kasih. Kasih "Tidak Egois" malah "Mengorbankan diri" sebagai kebalikkan dari "keegoisan". Kebanyakan dari kita hanya sedikit mengenal kehidupan seperti ini atau "dituntun" di jalan yang benar ini. Tetapi begitu seseorang menemukan sukacita dalam berbuat sesuatu bagi orang lain, ia mulai melewati gerbang dan sedang dituntun menuju salah satu padang rumput Tuhan yang hijau

  • 2. Ketimbang menjadi bagian dari kerumunan orang banyak, saya ingin sendirian, terpisah dari kerumunan. Kebanyakan dari kita, seperti domba, sangat suka berkerumun. Kita ingin menjadi bagian dari kerumunan itu. Kita tidak mau berbeda secara mendalam dan khusus, meskipun mungkin kita ingin berbeda dalam hal-hal kecil yang menarik bagi ego kita yang emmentingkan diri sendiri. Namun, Kristus menunjukkan bahwa hanya sedikit orang yang akan mendapati bahwa jalan-Nya dapat diterima. Dan untuk di kenal sebagai salah satu milik-Nya berarti sejumlah kritik dan kekasaran tertentu dari masyarakat yang sinis akan kita hadapi. Banyak diantara kita yang tidak mengginginkan hal ini. Sebagaimana Dia adalah Manusia kepedihan dan bersahabat dengan dukacita, begitu pula kita. Ketimbang menambah kepedihan dan kesedihan masyarkat, kita malah di panggil untuk membantu menaggung sebagian beban orang lain, ya.... masuk ke dalam penderitaan orang lain. Siapkah kita melakukannya?

  • 3. Ketimbang memaksakan hak saya, saya malah rela melepaskannya demi kebaikan orang lain. Pada dasarnya inilah yang dimaksud Sang Tuan dengan penyangkalan diri. Ini tidak mudah, tidak normal, tidak wajar untuk dilakukan. Bahkan dalam suasana rumah yang penuh kasih sayang, penonjolan diri sangat terlihat, dan penggunaan hak-hak individu dengan dengan kuat selalu tampak. Namun orang yang bersedia "mengantongi" kengkuhannya, duduk di kusi belakang, menjadi hamba orang lain tanpa merasa di salah gunakan atau di manfaatkan telah menempuh perjalanan panjang yang luar biasa dari "diri sendiri" dalam sikap ini. Orang ini dibebaskan dari belenggu keangkuhan pribadi. Sangat sulit untuk melukai orang semacam ini. Ia yang tidak merasa dirinya penting tidak dapat di serang atau diremehkan. Bagaimanapun juga orang -orang yang seperti ini menikamti suatu pandangan yang sehat tenatng kebebasan yang penuh suka cita, yang membuat kehidupan Kristiani mereka menularkan kepuasan dan kegembiraan.

  • 4. ketimbang menjadi "bos", saya malah rela berada di tempat terendah. Atau meminjam istilah domba, saya tidak mau menjadi "domba jantan yang paling hebat," saya rela menjadi pengekor. ketika keingginan untuk menonjolkan diri di gantikan dengan kerinduan untuk hanya menyenagkan Tuhan dan orang lain, banyak keluhan dan ketegangan yang lenyap dari kehidupan sehari-hari. Tanda jiwa yang tenang adalah tidak adanya "dorongan", setidaknya "dorongan" untuk menegakkan diri. Orang yangs iap meletakkan kehidupan pribadi dan urusan pribadinya di tangan sang tuan, dalam manajemen dan tututan-Nya, telah menemukan tempat berisitirahat di tanah yang segar setiap hari. Merekalah orang-orang yang mempunyai waktu dan nergi untuk menyenangkan orang lain.

  • 5. ketimbang mencari-cari apa yang salah dengan kehidupan dan selalu bertanya "Mengapa", saya bersedia menerima setiap situasi kehidupan dengan sikap selalu bersyukur. Manusia pada dasarnya pasti merasa berhak untuk menanyakan alasan segala hal yang terjadi pada mereka. Dalam banyak peristiwa, kehidupan itu sendiri menajdi kecaman yang tak berkesudahan dan potongan-potongan situasi dan pengetahuan seseorang. Kita mencaris eseorang atau sesuatu untuk disalahkan karena kemalangan kita. Acap kali kita cepat melupakan berkat-berkat kita, lambat melupakan kemalangan kita. Tetapi jika seseorang sungguh percaya bahwa masalahya ada di tangan Tuhan, setiap peristiwa, entah yang menyenangkan ataupun tragis, akan dilihat sebagai bagian dari rencana Tuhan. Mengetahui tanpa ragu-ragu bahwa Dia melakukan segalanya demi kesejahteraan kita, berarti kita sedang di tuntun ke wilayah damai yang luas, dan ketenangan serta kekuatan dalam setiap situasi.

  • 6. Ketimbang saya menggunakan dan memaksakan kehendak saya, saya bersedia belajar bekerja asma dengan keingginan-Nya dan menaati kehendak-Nya. Harus dicatat bahwa semua langkah yang diuraikan disini melibatkan kemauan. Orang -orang kudus dari abad-abad pertama berulang-kali menunjukkan bahwa 9/10 bagian dari agama, kekristenan, menjadi pengikut sejati, murid yang berdedikasi, terletak pada kehendak. Ketika laki-laki atau perempuan membiarkan kehendak mereka dicoret, mengabaikan keakuannya yang besar dalam keputusan-keputusannya, maka sesungguhnya salib telah berlaku dalam hidup mereka. inilah makna dari memikul salib kita setiap hari---menuju kematian kita sendiri--- bukan lagi kehendak saya yang penting melainkan kehendak-Nyalah yang terjadi.

  • 7. Ketimbang saya memilih jalan saya sendiri, saya bersedia memilih untuk mengikuti jalan Kristus; hanya melakukan apa yang Dia minta saya lakukan. Pada dasarnya hal ini adalah ketaatan yang sederhana dan terang-terangan. Ini berarti saya hanya melakukan apa yang Dia minta saya lakukan. Saya pergi ketempat Dia mengajak saya pergi. Saya mengatakan apa yang Dia perintahkan untuk saya katakan. saya bertindak dan bereaksi dengan cara yang Dia jaga, semata-mata untuk kepnetingan terbaik saya sendiri dan untuk reputasi-Nya (karena saya adalah pengikut-Nya). Sebagian besar dari kita memiliki sejumlah besar informasi berdasarkan fakta tentang apa yang diharapkan Sang Tuan dari kita. sedikit orang sungguh-sungguh mempunyai kehendak, niat, atau tekad untuk brtindak berdasarkan informasi itu dan menaati perintah-Nya. Namun, orang yang memutuskan untuk melakukan apa yang Tuhan perintahlan kepadanya telah berpindah ke tanah yang segar, yang akan membawa kebaikan bagi dirinya dan orang lain. Lagi pula, hal ini akan terus menerus menyenangkan Gembala yang baik.

Tuhan ingin kita semua melangkah maju bersama-sama denagn-Nya. Dia ingin kita kita berjalan bersama-Nya. Dia ingin hal ini bukan saja untuk untuk kesejahteraan kita tetapi untuk keuntungan orang lain juga dan reputasi-Nya sendiri.

Mungkin ada orang yang menganggap Dia menuntut terlalu banyak dari kita. Mungkin mereka merasa tuntutan ini terlalu drastis. Sebagian orang bahkan menganggap panggilan-Nya tak mungkin dilaksanakan.

Memang itulah yang terjadi jika kita bergantung pada penentuan diri sendiri dan disiplin diri untuk berhasil. Namun, jika kita bersungguh-sungguh ingin melakukan kehendak-Nya, dan dituntun oleh-Nya, Dia membuat hal ini menjadi mungkin dengan Roh-Nya yang rahmani, Yang diberikan kepada mereka yang taat (Kisah Para Rasul 5:32). Sebab hanya Tuhanlah yang mengerjakan di dalam kita, baik kemauan maupun pekerjaan, menurut kerelaan-Nya (Filipi 2:13).
 
7

" Sekalipun Aku
Berjalan dalam Lembah...."


Dari sudut pandang seorang gembala pernyataan ini menandai separo tahapan dalam Mazmur yang bersangkutan. Seakan-akan sampai di titik ini domba bermegah terhadap tetangganya yang tidak beruntung di balik pagar, karena perawatan yang sangat baik, yang ia terima dari pemiliknya di "rumah" peternakan sepanjang musim dingin dan musim semi.

Sekarang ia berbicara langsung kepada Sang Gembala. Kata ganti orang aku dan Engkau memasuki percakapan. Ini menjadi suatu percakapan paling intim dengan kasih yang dalam.

Ini alamiah dan normal. Perjalanan pulang ke daerah yang tinggi di ketinggian dengan kawasan musim panasnya dimulai dari sini. Yang tertinggal adalah domba yang terlantar di balik pagar. Pemilik mereka tidak tahu sama sekali tentang daerah perbukitan itu---padang rumput di pegunungan, tempat ke mana domba-domba itu akan dituntun. Musim panas mereka akan dihabiskan dalam hubungan yang dekat dan pemeliharaan yang khusus dari gembala yang baik.

Baik di Palestina maupun di peternakan domba di negara-negara barat, pembagian tahun ini adalah praktek yang umum. sebagian besar gembala yang efisien berusaha membawa kawanan domba mereka ke tempat yang jauh selama musim panas.

Ini seringkali memerlukan "penggiringan" yang lama. Domba-domba bergerak lambat, makan sambil berjalan, perlahan-lahan mendaki gunung di balik salju yang semakin menyusut. Pada akhir musim panas mereka sudah tiba di padang rumput yang jauh di puncak gunung, temapt dimana pohon-pohon tidak tumbuh.

Mendekati musim gugur, salju pertama bercokol di bukit-bukit tertinggi, tanpa belas kasihan, gembala memaksa kawanan domba untuk turun ke tempat yang lebih rendah. Akhirnya, menjelang akhir tahun, begitu musim gugur tiba, domba-domba pun digiringkan pulang ke peternakan pusat di mana mereka akan melewatkan musim dingin. Segmen dari operasi tahunan inilah yang diuraikan dalam separo bagian terakhir dari puisi ini.

Dalam masa ini kawanan domba benar-benar hanya berada bersama gembalanya. Mereka berada dalam kontak yang intim dengan dia dan dalam perhatiannya yang paling pribadi siang dan malam. Itulah sebabnya ayat-ayat terakhir ini ditulis dengan bahasa orang pertama yang intim. Dan sebaiknya diingat bahwa semua ini dilakukan dengan latar belakang dramatis berupa gunung-gunung yang liar, sungai yang deras, padang rumput di puncak gunung, dan tanah luas di dataran tinggi.

Daud, sang Pemazmur, tentu saja mengenal dataran ini dari pengalamannya sendiri. ketika Samuel diutus Tuhan untuk mengurapi dia menjadi raja atas Israel, ia tidak berada di rumah bersama kakak-kakaknya, yaitu di "rumah" peternakan. Ia justru berada di ketinggian bukit, mengurus kawanan domba ayahnya. Mereka harus mengutus orang untuk menjeput dia pulang. Tak heran dia dapat menulis dengan begitu jelas dan ringkas tentang hubungan antara domba dan pemiliknya.

Dari pengalamannya sendiri ia tahu semua kesukaran dan bahaya, juga kegembiraan perjalanan menuju daerah yang tinggi itu. Berkali-kali ia sudah naik ke daerah yang bermusim panas itu bersama domba-dombanya. Ia mengenal daerah yang liar, namun indah, ini seperti mengenal telapak tangannya sendiri yang kuat. Ia tidak pernah membawa kawanan dombanya ke tempat yang belum pernah ia datangi. ia selalu lebih dulu mengamati daerah itu dengan hati-hati.

Semua bahaya akibat sungai yang meluap menjadi banjir, longsoran salju, longsoran batu-batu, tumbuhan beracun, kerusakan akibat pemangsa yang menyerang kawanan, atau badai hujan salju dan es yang dahsyat sudah tidak asing lagi baginya. Ia telah mengurus domba-dombanya dan mengatur mereka dengan hati-hati dalam seluruh kondisi yang merugikan. Tak ada hal yang mengejutakn dia. Ia benar-benar siap menjaga kawanan dombanya dan merawat mereka dengan cakap dalam situasi apapun.

Semua ini dituangkan dalam kesederhanaan ayat-ayat terakhir yang indah. Ini adalah keagungan, ketentraman, keyakinan yang membuat jiwa menjadi tenang. "Aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku"--- berserta saya dalam situasi apa pun, dalam setiap percobaan yang kelam, dalam setiap dilema yang menekan.

Dalam kehidupan Kristen, Kita sering berbicara tentang keingginan "untuk pergi ketempat yang lebih tinggi bersama Tuhan." Betapa kita rindu untuk hidup di atas kehidupan dataran rendah. Kita ingin pergi melampaui orang banyak pada umumnya, untuk memasuki perjalanan yang lebih intim bersama Tuhan. Kita berbicara tentang pengalaman di puncak gunung dan kita iri terhadap mereka yang telah naik ke puncak gunung dan amsuk ke dalam jenis kehidupan yang lebih mulia.

Sering kali kita mendaoatkan ide yang keliru tentang bagaimana hal itu terjadi. Seolah-olah kita membayangkan kita dapat "terbang" ke tanah yang lebih tinggi. Perjalanan yang keras dari kehidupan orang Kristen tidaklah demikian. sama seperti manajemen domba yang biasa, begitu pula dengan umat Tuhan, seseorang hanya mencapai tanah yang lebih tinggi dengan mendaki melalui lembah-lembah.

Setiap gembala yang akrab dengan daerah yang tinggi mengetahui hal ini. Ia menuntun kawanan dombanya dengan lembut, namun tegas, menelusuri jalan menanjak yang berliku-liku melalui lembah-lembah yang gelap. Harus di perhatikan bahwa ayat-ayat itu berbunyi, "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman." Tidak dikatakan aku mati disana, atau berhenti di sana ---tetapi "aku berjalan."

Sudah biasa untuk menggunakan ayat ini sebagai penghiburan bagi mereka yang sedang melewati lembah-lembah maut yang kelam. Bahkan di sana pun, bagi anak Tuhan, kematian bukanlah akhir, tetapi sekadar pintu menuju kehidupan yang lebih tinggi dan lebih mulia dalam kontak yang intim dengan Kristus. Kematian adalah lembah gelap yang menajdi jalan masuk menuju kekekalan sukacita bersama Tuhan. Itu bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi sebuah pengalaman yang harus kita lalui untuk sampai ke suatu kehidupan yang lebih sempurna.

Gembala yang baik mengetahui hal ini. Inilah satu alasan yang membuat Dia berkata kepada Kita, "Aku menyertai kamu senantiasa"---ya, bahkan dalam lembah maut. Betapa menghibur dan betapa hal itu membawa suka cita.

saya sangat menyadari penghiburan ini ketika istri saya pergi ke "Tempat yang lebih tinggi." Selama dua tahun kami berjalan melewati lembah maut yang gelap menyaksikan tubuhnya yang indah di hancurkan oleh kanker. Saat maut mendekat, saya duduk di sisi tempat tidurnya, sambil mengengam tangannya. Dengan lembut kami "melewati" lembah maut. Kami berdua diam-diam menyadari kehadiran Kristus. Tidak ada ketakutan ---hanya pergi ke tempat yang lebih tinggi.

Bagi kita yang masih tinggal di bumi, masih ada kehidupan yang harus dijalani di sini dan sekarang.
masih ada lembah-lembah untuk dijalani selama hari-hari kita yang tersisa. Lembah-lembah itu tidak perlu menjadi buntu. Kekecewaan, rasa frustasi, keputusasaan, dilema, kegelapan, hari-hari yang berat, meskipun semua itu merupakan lembah yang suram, tetapi tidak perlu menjadi bencana. Semua itu dapat menjadi jalan menuju tanah yang lebih tinggi dalam perjalanan kita bersama Tuhan.

Lagi pula, ketika kita berhenti sejenak untuk memikirkannya, kita harus menyadari bahwa bahkan jalan-jalan tol kita yang modern di daerah pegunungan mengikuti lembah-lembah untuk menuju puncak dari perjalanan yang dilewati. Begitu pula jalan-jalan Tuhan menuntun ke atas melalui lembah-lembah kehidupan kita.

Lagi dan lagi saya mengingatkan diri saya. "Oh Tuhan, ini tampaknya sangat berat, tetapi aku tahu sebuah kenyataan bahwa pada akhirnya akan terbukti inilah jalan yang paling mudah dan lunak untuk membuatku sampai ke tanah yang lebih tinggi." Kemudian ketika saya berterimakasih kepada-Nya untuk hal-hal yang sulit, hari-hari yang gelap, saya mendapati bahwa Dia ada bersama saya dalam kesukaran saya. Dititik itu kepanikan saya, kekhawatiran saya berganti dengan keyakinan yang tenang dan tentram terhadap pemeliharaan-Nya. entah bagaimana, dalam keheningan yang tentram saya diyakinkan bahwa semua hal berada di bawah kendali-Nya.

Untuk sampai pada keyakinan ini dalam kehidupan Kristen, kita harus masuk ke dalam suatu sikap menerima setiap kemalangan dengan tenang. Ini berarti pindah ke tanah yang lebih tinggi bersama Tuhan. mengenal Dia dengan cara yang baru dan intim ini membuat kehidupan menjadi jauh lebih mudah dijalani daripada sebelumnya.

Ada alasan kedua mengapa domba-domba di bawa ke puncak gunung melewati lembah-lembah. Bukan hanya karena itulah jalan dengan tingkat kesulitan terendah, tetapi juga karena itulah rute dengan air yang cukup. Disinilah kita menemukan air yang menyegarkan sepanjang jalan. Ada sungai besar, sungai kecil mata air, dan kolam-kolam yang teang di banyak lembah sempit

Selama bualn-bulan musim panas, perjalanan yang panjang akan panas dan melelahkan. Kawanan domba mengalami kehausan yang hebat. Betapa senagnya mereka karena sering menemukan temapt-temapt berair dis epanjang rute lembah. Di sanalah mereka dapat di segarkan.

Saya ingat suatu tahun ketika sekawanan besar domba yang terdiri atas 10.000 ekor digiring dalam perjalanan melalui daerah kami menuju kawasan musim panas mereka. Para pemilik datang meminta izin untuk emmberi minum domba-domba mereka di sungai yang mengalir di tepi peternakan kami. Kawanan domba mereka yang kehausan berlari ke tepi air untuk memuaskan dahaga mereka yang membakar di bawah matahari musim panas yang terik. Hanya di lembah kami ada air untuk daging mereka yang kering. Betapa senangnya kami berbagi air dengan mereka.

Sebagai orang Kristen, cepat atau lambat kita akan mendapati bahwa di lembah-lembah hidup kita itulah kita menemukan kesegaran dari Tuhan sendiri. Hal itu tidak tercapai sebelum kita berjalan bersama Tuhan melalui bebrapa kesukaran yang teramat dalam sampai kita mendapati Dia dapat menuntun kita untuk memperoleh kesegaran di dalam Dia, tepat di tengah kesulitan kita. Kita gemetar sehingga tak dapat berkata-kata ketika datang pemulihan bagi jiwa dan roh kita dari Roh-Nya sendiri yang rahmani.

Selama istri saya sakit dan sesudah kematiannya, saya tidak dapat melupakan kekuataan, penghiburan, dan pendangan yang tentram, yang benar-benar di berikan kepada saya jam demi jam oleh kehadiran Roh Tuhan sendiri.

Seolah-olah saya berulang-kali disegarkan dan dipulihkan, meskipun saya dikelilingi situasi yang membuat putus asa. Jika kita tidak benar-benar merasakan pengalaman seperti itu, Tampaknya sulit untuk percaya. Faktanya, ada orang-orang yang menyatakan mereka tidak mampu menghadapi suatu masalah. Namun, bagi laki-laki atau perempuan yang berjalan bersama Tuhan, melalui lembah-lembah ini, penyegaran yang nyata dan aktual ini jelas tersedia.

Hasil dari hal ini adalah bahwa hanya mereka yang telah melewati lembah-lembah kekelaman yang dapat menyejukkan, menghibur, atau menguatkan orang lain yang berada dalam situasi yang sama. Sering kali kita berdoa atau menyanyikan lagu meminta Tuhan untuk menjadikan kita inspirasi bagi orang lain. Secara naluriah kita ingin menjadi saluran berkat bagi kehidupan orang lain. Fakta yang sederhana adalah sama seprti air hanya dapat mengalir dis ebuah parit atau saluran atau lembah----begitu pula dalam riwayat Kristen, kehidupan Tuhan hanya dapat mengalirkan berkat melalui lembah-lembah yang telah dipahat dan dijadikan bagian dari hidup kita oleh berbagai pengalaman yang menyiksa.

Contohnya, orang yang paling mampu menghibur orang lain yang mengalami kehilangan adalah dia yang pernah mengalami sendiri kehilangan orang yang dicintai. Orang yang paling mampu melayani orang yang hatinya hancur adalah dia yang pernah merasakan hatinya hancur.

Kebanyakan dari kita tidak menginginkan lembah dalam hidup kita. Kita bersembunyi dari semua itu dengan perasaan takut dan prasangka. Namun sebaliknya dari rasa curiga kita yang buruk ini, Tuhan dapat memberi manfaat yang besar dan ucapan syukur yang berkelanjutan bagi orang-orang lain melaui lembah-lembah itu. Hendaklah kita tidak selalu berusaha menghindari hal-hal yang gelap, hari-hari yang sukar. Semua itu dapat terbukti merupakan jalan penyegaran terbesar bagi diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

Alasan ketiga mengapa peternak memilih untuk membawa kawanan dombanya ke daerah yang tinggi melalui lembah-lembah adalah karena umumnya di sanalah makanan yang paling gemuk dan paling baik dapat ditemukan di sepanjang jalan.

Kawanan itu berjalan perlahan---mereka tidak tergesa-gesa. Anak-anak domba belum pernah mengalami hal ini. Sang gembala ingin memastikan bahwa tidak hanya akan ada air, tetapi juga rumput baik yang tersedia bagi domba-domba betina dan anak-anak mereka. Umunya padang rumput yang menjadi pilihan terbaik berada di lemabh-lembah di sepanjang tepian sungai kecil. Disitulah domba-domba dapat makanan sambil berjalan menuju daerah yang tinggi.

Secara alamiah tanah lapang yang berumput ini seringkali berada di kaki tebing yang curam dan menyerupai dinding, juga di ngarai yang sempit. Mungkin ada tebing-tebing bagaikan menara di atas mereka di kedua sisinya. Dataran di lembah itu sendiri mungkin barada dalam bayangan hitam karena matahari jarang mencapai dasar kecuali beberapa jam di siang hari.

Dari penaglaman yang lalu, sang gembala tahu bahwa para pemaangsa, seperti anjing hutan, beruang, serigala, atau macan tutul dapat bersembunyi di tebing yang tinggi dan dari posisi mereka yang menguntungkan, mereka dapat memangsa kawanan tersebut. Ia tahu lembah-lembah ini dapat dilanda badai secara tiba-tiba dan banjir mendadak yang membuat air bergulung-gulung menuruni lereng. Mungkin batu-batu longsor, lumpur, dan salju juga longsor, dan selusin bencana alam lainnya yang akan menghancurkan atau melukai domba-domba. Namun selain bahaya-bahaya itu, ia juga tahu bahwa ini tetaplah jalan terbaik untuk membawa kawanan dombanya ke daerah yang tinggi. Ia mempersiapkan dirinya untuk tidak merasa sakit, dan tidak segan meluangkan waktu untuk berjaga-jaga terhadap bahaya apa pun yang mungkin berkembang.

Salah satu ancaman yang peling mengerikan adalah badai dingin yang tiba-tiba, disertai hujan es, salju, dan air yang dapat menyapu lembah-lembah dari puncak gunung. Jika domba-domba menjadi basah kuyup dan kedinginan karena hujan membekukan, mereka dapat mati dalam waktu yang singkat. Mereka adalah mahkluk berkulit tipis, mudah terserang pilek, radang paru-paru, dan komplikasi pernafasan lainnya.

Saya ingat suatu badai yang saya alami yang saya alami di kaki bukit yang berbatu-batu pada awal musim panas.

Paginya cuaca cerah dan bersih. Tiba-tiba kira-kira siang hari awan gelap yang besar, hitam, dan menakutkan mulai menyapu perbukitan dari arah utara. Angin yang dingin menyertai badai yang mendekat. Langit semakin hitam pada jam itu juga. Mendadak di tengah hari itu, huajn lebat dan hujan es bercampur salju menyapu seluruh lembah. Saya berlari untuk berteduh di sekelompok pohon cemara kerdil yang ditiup angin. Hujan membuat saya basah kuyup. Hujan yang turun itu membuat seluruh daerah itu menjadi dingin. Hujan air berubah menjadi hujan es, kemudian menjadi salju bercampur es. Dalam waktu singkat seluruh lereng gunung ( di pertengahan bulan juli itu) menjadi putih dan beku. Kegelapan yang tidak menyenangkan menyelimuti seluruh pemandangan. Domba-domba merasakan badai yang mendekat. Mungkin kawanan itu akan binasa jika mereka tidak berlari mencari tempat berteduh di tebing yang curam, di tepi jurang.

Tetapi di lembah-lembah inilah rumput tumbuh paling baik, dan ini adalah rute menuju daerah yang tinggi.

Gembala kita mengetahui semua ini ketika Dai menuntun kita melalui lembah-lembah. Dia tahu dimana kita dapat menemukan kekuatan dan makanna serta rumput yang lembut, meskipun setiap ancaman bencana mengintai kita.

Ini adalah pengalaman yang paling meyakinkan dan menguatkan bagi anak Tuhan , untuk menemukan bahwa bahkan di lembah gelap, sumber kekuatan dan keberanian dapat ditemukan di dalam Tuhan. Saat itulah ia dapat menoleh kembali ke masa lalu dan melihat betapa tangan Sang Gembala telah menuntun dan mempertahankan di adalam jam-jam paling kelam sehingga iamn yang diperbarui pun muncul.

Saya tidak tahu apa yang begitu menggugah iman saya terhadap Bapa surgawi saya saat menoleh ke belakang dan merenungkan kesetiaan-Nya kepada saya dalam setiap krisis dan setiap situasi kehiduapn yang membekukan. dia berulang-ulang membuktikan kepedulian dan perhatian-Nya untuk kesejahteraan saya. Lagi dan lagi saya menyadari tuntunan Gembala yang baik melewati hari-hari kelam dan lembah-lembah yang dalam.

Semua ini melipatgandakan kepercayaan saya kepada Kristus. Secara Rohani, demikian juga secara emosional dan mental, ementang badai dan kesulitan hidup memberi satamina pada keberadaan saya. Karena sebelumnya Dia telah menuntun saya tanpa ketakutan, Dia dapat melakukannya lagi, dan lagi, dan lagi. Dengan pengetahuan ini ketakutan akan lenyap dan tercipta keseimbangan hati dan pikiran.

Biarlah terjadi apa yang seharusnya terjadi. Badai mungkin melanda saya, para pemangsa mungkin menyerang, sungai-sungai yangberbalik arah dapat mengancam akan membanjiri saya. Namun, karena Dai hadir dalam situasi itu bersama saya, saya tidak akan takut.

Hidup berarti menempuh perjalanan yang sangat panjang menuju daerah tinggi dari kehidupan yang Kudus, tenang, dan sehat bersama Kristus.

Hanya orang kristen yang belajar hidup dengan cara ini yang mampu menguatkan dan mmeberi inspirasi kepada orang-orang yang lebih lemah di sekeliling mereka. Terlalu banyak dari kita yang goyah, ketakutan dan panik oleh badai kehidupan. Kita menyatakan percaya kepada Kristus, anmun ketika bayangan hitam yang pertama menyapu kita dan jalan yang kita lalui tampak suram, kita masuk ke lubang keputusasaan yang dalam. Kadang-kadang kita merasa seperti sedang terbaring sekarat. Padahal tidak seharusnya demikian.

Orang dengan keyakinan yang kuat di dalam kristus; orang yang telah mmebuktikan dari pengalaman masa lalunya bahwa Tuhan bersamanya dalam kemalangan; orang yang berjalan melewati lembah yang kelam dalam hidup ini tanpa takut, yang kepalanya tetap tegak, dialah yang akhirnya akan menjadi menara kekuatan dan sumber inspirasi bagi teman-temannya.

Akan ada beberapa lembah yang sama dalam hidup ini untuk kita semua. Gembala yang baik sendiri meyakinkan kita bahwa, "Dalam dunia kamu menderita penganiyaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia"(Yohanes 16:33).

Pertanyaan dasarnya bukan apakah kita mempunyai banyak atau sedikit lembah. Bukan apakah lembah-lembah itu gelap atau hanya remang-remang karena tertutup bayangan. pertanyaannya adalah, bagaimana saya bereaksi terhadap semua itu? Bagaimana saya melewatinya? Bagaimana saya dapat mengatasinya semua malapetaka yang menghadang saya?

Bersama Kristus saya menghadapi semua itu dengan tenang.

Bersama Rohnya yang rahmani dalam menuntun saya, saya menghadapinya tanpa takut.

Saya tahu pasti bahwa hanya melalui semua itu saya dapat berjalan ke tanah yang lebih tinggi bersama Tuhan. Denagn cara ini, saya tidak saja akan diberkati, tetapi pada waktunya saya akan menjadi ucapan syukur bagi orang lain di sekitar saya yang mungkin hidup dalam ketakutan.
 
8

"Gada-mu dan Tongkat-Mu, Itulah yang Menghibur Aku".


Ketika seorang gembala mengembara bersama kawanan dombanya di daerah yang tinggi, biasanya ia membawa perlengkapan minimum. Ini terutama berlaku di zaman dulu ketika Gembala belum mendapatkan kemudahan dengan adanya alat-alat mekanis untuk mengangkut perlengkapan berkemah ke seantero pedesaan yang berbatu-batu. Bahkan hari ini, yang disebut "pondok gembala" Atau "caravan" Tempat penjaga domba-domba hanya dilengkapi dengan benda-benda penting seperlunya.

Namun selama jam-jam berada di padang, gembala hanya membawa sebuah senapan yang disandang di bahunya dan sebuah tongkat kecil yang panjang di tangannya. Ada ransel kecil tempat ia menaruh bekal makan siangnya, sebotol air, dan mungkin beberapa obat sederhana untuk pertolongan pertama bagi domba-dombanya.

Di Timur Tengah gembala hanya membawa sebuah gada dan tongkat. Sebagian kenangan masa kecil saya yang paling hidup adalah menyaksikan gembala Afrika mengembalakan ternak mereka hanya dengan sebatang tongkat kecil yang panjang dan memegang sebuah pentungan kayu dengan bulatan di ujungnya. Ini adalah perlengkapan yang umum dan universal dari gembala primitif.

Setiap anak gembala, sejak pertama kali ia mulai menjaga kawanan ternak ayahnya, memiliki kebanggaan khusus dalam pemilihan gada dan tongkat yang disesuaikan agar aps dengan ukuran tubuh dan kekuatannya. ia masuk ke dalam semak-semak dan memilih sebuah pohon muda lalu mencabutnya dari tanah. Kayunya di ukir dan di raut dengan kehati-hatian dan kesabaran tinggi. Bagian yang besar dari pohon muda itu, tempat dimana batang bertemu dengan akar terbentuk menjadi kepala yang licin dan bulat dengan kayu yang keras. Pohon muda itu sendiri dibentuk sehingga benar-benar cocok dengan tangan si pemilik. Setelah ia menyelesaikannya, anak gembala itu menghabiskan waktu berjam-jam untuk berlatih dengan pentungannya, belajar melemparkannya. Benda itu menjadi senjata utamanya untuk mempaertahankan dirinya dan domba-dombanya.

Saya terbiasa menyaksikan anak laki-laki pribumi berlomba untuk melihat siapa yang dapt melemparkan gadanya dengan ketepatan tertinggi dengan jarak yang paling jauh. Keefektifan gada yang sederhana ini di tangan gembala yang cakap sangat menggetarkan untuk dilihat. Gada itu sebenarnay adalah perpanjangan lengan kanan pemiliknya. Benda itu berperan sebagai lambang kekuatannya, kekuasaannya, otoritasnya dalam setiap situasi yang serius. Gada itulah yang menjadi andalannya untukmenjaga dirinya dan kawanan dombanya dalam bahaya. Dan lebih jauh lagi, benda itu adalah alat yang ia gunakan untuk menghukum dan mengoreksi setiap domba yang suka melawan, yang bersikeras untuk berjalan menjauh.

Ada sebuah keterangan tambahan yang menarik pada kata "gada" yang terselip dalam bahasa percakapan di dunia Barat. Disinilah istilah slang "gada" diterapkan untuk senjata tangan seperti pistol dan revolver yang dibawa oleh koboi dan penjaga lainnya di Barat. Konotasinya persis sama seperti yang dipakai dalam Mazmur ini.

Sang domba menyatakan bahwa gada si pemilik senjata kekuasaan, otoritas, dan pertahanan, adalah penghiburan terus-menerus baginya. Sebab dengan benda itu, sang manajer mampu melaksanakan kendali yang efektif atas kawanannya dalam setiap situasi.

Hal ini mengingatkan bagaimana ketika Tuhan memanggil musa, sang gembala di padang gurun, dan mengutusnya untuk membebaskan Israel dari Mesir, dari perbudakan Firaun, tongkatnyalah yang akan mendemonstrasikan kuasa yang Ditanamkan didalam dirinya. Selalu, memakai tongkat musa mukjizat di buart dan terjadi, tidak hanya untuk meyakinkan Firaun tentang tugas ilahi Musa, tetapi juga untuk meyakinkan bangsa Israel.

Kalau begitu, gada berbicara tentang firman Tuhan yang di ucapkan, Niat yang diungkapkan, aktivitas pikiran dan kehendak Tuhan yang luas dalam berurusan dengan amnusia. Hal ini menyiratkan otoritas keilahian. Bersamanya terkandung kuasa yang menghukum dan dampak yang tidak dapat di bantah dari "Demikianlah Firman Tuhan."

Sama seperti domba di zaman Daud, ada penghiburan dan kesejukkan ketika melihat gada di tangan Sang Gembala yang cakap, begitu pula di zaman kita, ada keyakinan yang besar di hati kita sendiri saat kita merenungkan kuasa, ketelitian dan otoritas kuat yang tertanam dalam firman Tuhan. Sebab sesungguhnya, Alkitab adalah Gada-Nya. Itu adalah perpanjangan pikiran , kehendak, dan maksud-Nya terhadap manusia yang fana.

Hidup seperti kita, di era ketika banyak suara membingungkan dan filosofi yang aneh disajikan kepada manusia, anak Tuhan diyakinkan kembali untuk kembali kepada firman Tuhan dan mengenalnya sebagai tangan otoritas Gembalanya. Sungguh menghibur, jika memilki alat yang berkuasa, jelas, dan kuat untuk membimbing diri kita. Dengan alat itu kita tidak menjadi binggung di tengah kekacauan. Ini dengan sendirinya membawa perasaan tenang yang dalam ke dalam hidup kita, seperti yang dimaksudkan Pemazmur ketika ia berkata, "gada-Mu, itulah yang menghibur aku."

Ada dimensi kedua di amna gada di gunakan oleh gemabla untuk kesejahteraan domba-dombanya---yang disebut hukuman. Bahkan mungkin gada itu di gunakan untuk Tujuan ini, melebihi tujuan-tujuan lain.

Saya tidak pernah bisa melupakan seberapa sering, dan dengan ketepatan apa, para gembala Afrika akan melemparkan batang kayu mereka yang membulat di ujungnya pada bebrapa ekor binatang buas yang suka melawan dan tidak sopan. Jika sang gembala melihat seekor domba yang menyimpang jauh sendirian, atau mendekati rumput liar yang beracun, atau hampir terlalu dekat dengan satu jenis bahaya atau bahaya lainnya, maka batang kayunya itu akan mendesing di udara untuk membuat hewan yang menyimpang itu berlari kembali ke kawanan.

Seperti yang begitu sering dikatakan dalam Alkitab, "Ini akan menjagamu dari Dosa!" Inilah firman Tuhan yang datang dengan cepat ke hati kita, yang datang dengan tiba-tibaan yang mengejutkan untuk mengoreksi dan memarahi kita ketika kita tersesat. Roh Tuhan yang hidup, yang memakai firman yang hidup, itulah yang emnyadarkan hati nurani kita akan perilaku yang benar. Dengan cara ini kita tetap berada di bawah kendali kristus yang menghendaki kita berjalan di jalan kebenaran.

Penggunaan lain yang menarik dari gada di tangan sang gembala adalah untuk memeriksa da menghitung domba. Dalam istilah Perjanjian Lama hal ini disebut sebagai "lewat dari bawah tongkat" (lihat Yehezkiel 20:37) iNi tidak hanya berarti di bawah kendali dan otoritas Sang Pemilik, tetapi juga menjadi sasaran pemeriksaan-Nya yang paling cermat, intim, dan langsung. Seekor domba yang lewat "dibawah tongkat" adalah domba yang dihitung dan diperiksa dengan sangat cermat untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja dengan hewan itu.

Karena wol mereka yang panjang, tidak selalu mudah untuk mendeteksi penyakit, luka, atau cacat pada domba. Contohnya, pada sebuah pameran domba, seekor domba berkualitas rendah dapat dipangkas dan dibentuk, lalu dipamerkan sebagai contoh yang sempurna. Tetapi juri yang terlatih akan mengambil gadanya dan menguakkan wol domba itu untuk memastikan kondisi kulit, kebersihan bulu, dan struktur tubuh. Dalam bahasa sedrhana, orang tidak dapat hanya "melihat wolnya saja".

Dalam merawat dombanya, gembala yang baik, manajer yang cermat, dari waktu ke waktu akan memerikasa setiap dombanya dengan hati-hati. Gambaran yang sangat tajam. Ketika masing-masing domba kembali padang gembalaan melalui gerbang, Ia dihentikan oleh tongkat gembala yang di ulurkan. Gembala menguakkan bulu domba itu dengan tanganya yang terlatih; ia merasakan tanda masalah apapun ; ia memriksa domba dengan hati-hati untuk melihat bahwa semuanya baik. Ini adalah proses pemeriksaan yang memrlukan detail yang sangat ketat. Ini juga merupakan penghiburan bagi domba, sebab hanya dengan cara ini masalah-masalahnya yang tersembunyi tampak "telanjang" di hadapan sang Gembala.

Inilah yang dimaksud dalam Mazmur 139:23-24 ketika pemazmur menulis, "selidikilah aku, ya Tuhan, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!"

jika kita mengizinkan proses ini, jika kita mau tunduk menjalaninya, Tuhan dengan Firman-Nya akan memeriksa kita. Mata-nya tidak akan hanya "melihat wolnya saja." Dia akan memriksa ke bawah permukaan, di balik penampilan kehidupan diri kita yang lama dan membukakan hal-hal yang perlu diperbaiki.

Ini adalah proses yang tidak boleh kita elakkan. Ini bukan sesuatu yang harus dihindari. Proses ini dilakukan dengan perhatian dan belas kasihan bagi kesejahteraan kita. Gembala Agung jiwa kita menyimpan kepentingan terbaik kita di hati-Nya ketika Dia menyelidiki kita. Betapa menghiburnya hal ini bagi anak Tuhan yang dapat bersandar pada pemeliharaan Tuhan. Wol dalam Alkitab berbicara tentang kehidupan pribadi, kehendak pribadi, penonjolan diri, keangkuhan diri. Tuhan harus memeriksa ke bawah hal-hal itu dan melakukan pemeriksaan mendalam pada kehendak kita untuk meluruskan hal-hal yang salah, yang sering menggangu kita di bawah permukaan. Begitu sering kita memasang bagian depan yang bagus dan eksterior yang gagah berani padahal sebeenarnya jauh di bawah permukaan ada kebutuhan akan pengobatan tertentu.

yang terakhir, gada sang gembala adalah alat perlindungan bagi gembala itu sendiri maupun domba-dombanya ketika mereka dalam bahaya. Gada di gunakan sebagai pertahanan dan pencegah segala hal yang mau menyerang.

Gembala yang cakap memakai gadanya untuk menghalau para pemangsa seperti anjing Hutan, serigala, amcan tutul, atau anjing-anjing yang berkeliaran. sering kali gada itu digunakan untuk memukul semak-semak, guna menakut-nakuti ular dan biantang-binatang lainnya agar tidak menganggu kawanan domba. Dalam kasus yang ekstrem, seperti yang diungkapkan Daud kepada Saul, pemazmur tidak ragu menggunakan gadanya untuk menyerang singa dan beruang yang datang menyerang kawanan dombanya.

Pernah sewaktu memotert gajah di Kenya, saya ditemani oleh seorang Gembala Masai yang masih muda, yang memegang sebatang kayu di tangannya.
Kami naik ke puncak bukit, dan dari sana kami dapat melihat sekawanan gajah di semak-semak yang tebal di bawah sana. Untuk menghalau mereka ke wilayah terbuka kami memutuskan untuk mengangkat sebuah batu besar yang licin dan mengelindingkannya ke bawah. Saat kami mengangkat dan mendorong batu besar itu, seekor kobra yang melingkar di bawah batu itu tiba-tiba terlihat siap menyerang.

Secepat kilat, anak gembala yang waspada itu memukul dengan kayunya, dan membunuh ular di tempat itu juga. Senjata itu tidak pernah lepas dari tangannya sekalipun tadi ia sedang mengangkat batu. "Gada-Mu... menghibur aku." Dalam sekejap saya melihat makna kalimat ini dalam terang yang baru. Itulah gada yang selalu siap di tangan Gemabla, yang telah menyelamatkan kami hari itu.

Itulah gada Firman Tuhan yang digunakan Kristus, Gembala kita yang baik, dalam pertemuan-Nya dengan ular itu----Setan---- selama percobaan-Nya di padang gurun. Firman Tuhan yang sama inilah yang dapat kita andalkan terus menerus untuk menghadapi pukulan dan serangan setan. Dan tidak peduli apakah penaymaran yang ia lakukan sebagai ular yang tidak terlihat ataupun singa yang mengaum-aum, yang hendak menerkam kita.

Tidak ada pengganti bagi Alkitab dalam mengatasi kerumitan tata sosial kita. kita hidup di lingkungan yang sulit, dimana kelicikan selalu terlibat. Kita adalah bagian dari dunia laki-laki dan perempuan yang kode perilakunya beralwanan dengan semua yang Kristus anjurkan. Hidup bersama orang-orang seperti itu berarti selalu berhadapan dengan segala macam percobaan yang besar. Beberapa orang sangat halus, sangat pandai bicara, sangat pintar. Yang lain mampu mengutuk, kejam, meyerang anak-anak Tuhan dengan kata-kata kasar.

Dalam setiap situasi dan dalam setiap keadaan ada penghiburan dalam pengetahuan bahwa Firman Tuhan dapat menghadapi dan menguasai kesulitan jiak kita mau bersandar padanya.

Kita sekarang beralih untuk membahas dan memikirkan tongkat gembala. pada hakikatnbya tongkat itu, lebih dari benda lain yang merupakan perlengakpan pribadinya, mengidentifikasikan gembala sebagai gembala. Tak seorang pun yang berprofesi alin akan membawa tongkat seorang gembala.

Ini adalah alat unik yang dipakai untuk memelihara dan mengatur domba-domba--dan hanya domba. Alat ini tidak digunakan untuk sapi, kuda, atau babi. Alat ini dirancang, dibentuk, dan disesuaikan secara khusus bagi kebutuhan domba. Dan hanya dipakai untuk kebaikan mereka.

Tongkat pada dasarnya adalah sebuah lambang kepedulian, belas kasihan gembala untuk hewan peliharaannya. Tak ada sepatah kata pun yang dapat lebih baik menjelaskan fungsinya demi kepentingan kawanan domba selain bahwa alat itu adalah untuk menghibur mereka.

Jika gada menyampaikan konsep otoritas, kekuasaan, disiplin, pertahanan terhadap bahaya, kata ""Tongkat" berbicara tentang kesabaran menderita dan kebaikan hati.

Tongkat gembala biasanya adalah batang yang apnjang dan langsing,s eringkali denagn lengkungan atau kait di salah satu ujungnya. Batang kayu itu dipilih dengan hati-hati oleh pemiliknya; dibentuk, dihaluskan dan dipotong hingga paling sesuai untuk ia gunakan sendiri.

Sebagian kenangan yang paling mengharukan yangs aya bawa dari Afrika dan Timur Tengah adalah melihat para gembala tua di usia senja mereka, sedang berdiri dan berdiam tatkala matahari terbenam, sambil bertumpu pada tongkat mereka, megawasi kawanan domba dengan roh yang puas. Agaknya tongkat adalah penghiburan khusus bagi si gembala iyu sendiri. Saat berjalan kaki di medan yang sulit dan dalam keletihan yang panjang saat menjaga domba-dombanya, ia bertumpu pada tongkat itu untuk mendapatkan topangan dan kekuatan. Baginya tongkat itu menjadi penghiburan dan pertolongan yang paling berharga dalam ia menjalankan tugas-tugasnya.

Sama seprti gada Tuhan adalah lambang firman Tuhan, begitu pula tongkat Tuhan adalah perlambang Roh Tuhan. Dalam pertemuan Kristus dengan kita sebagai individu, ada intisari keindahan, penghiburan, dan kesejukkan serta koreksi yang lemah-lembut yang diwujudkan oleh karya Roh-Nya rahmani.

Ada tiga bagian dalam manajemen domba di mana tongkat memainkan peran yang paling signifikan. Bagian yang pertama adalah dalam mengumpulkan domba-domba dalam suatu hubungan yang intim. Gembala akan menggunakan tonkatnya dengan lemah lembut untuk mengangkat anak domba yang baru lahir dan membawanay kepada induknya jika mereka berdua terpisah. Ia melakukan hal ini karena ia tidak ingin ada domba betina yang emnolak anaknya karena si induk mencium bau tangan si gembala pada bayi dombanya. Saya pernah menyaksikan para gembala yang terlatih mengerakkan tongkat mereka dengan tangkas di antara ribuan domba betina yang melahirkan pada waktu yang bersamaan. Dengan gerakan yang cepat dan lembut, bayi-bayi domba yang baru lahir diangkat dengan tongkat itu dan di tempatkan di sisi induk mereka. Ini adalah pemandangan yang menyentuh, yang dapat mempesonakan kita selama berjam-jam.

Namun dengan cara yang persis sama, tongkat itu digunakan oleh gembala untuk menjangkau dan menangkap masing-masing domba, tua atau muda, dan menarik mereka mendekat pada dirinya untuk diperiksa secara dekat. Tongkat sangat berguna khususnya untuk domba yang pemalu dan takut-takut, yang umunya cenderung menjaga jarak dengan gembala.

Begitu pula dalam kehidupan orang kristen, kita mendapati Roh Kudus yang rahmani, sang Penghibur itu, menarik kawanan bersama-sama ke dalam suatu persekutuan pribadi yang hangat satu dengan yang lainnya. Dialah juga yang menarik kita kepada Kristus, sebab, seperti yang dikatakan kepada kita dalamm Wahyu, "Roh dan pengantin perempuan itu berkata: 'Marilah!"

Tongkat juga digunakan untuk menuntun domba. Berkali-kali saya melihat seorang gembala menggunakan tongkatnay untuk menuntun dombanya denagn lemah lembut ke suatu jalan yang baru atau melalui pintu tertentu atau di sepanjang rute yang berbahaya dan sulit. Ia tidak menggunakannya untuk memukul binatang buas. Malah, ujung dari tongkat panjang yang tipis itu disentuhkan dengan lembut kesisi badan domba, dan tekanan yang diberikan menuntun domba-dombanya untuk berjalan ke arah yang dikehendaki si gembala. Jadi, domba di yakinkan bahwa arahnya benar.

Kadang-kadang saya terpesona melihat bagaimana seorang gembala benar-benar menyentuhkan tongkatnya pada sisi badan bebrapa ekor domba yang merupakan hewan istimewa atau kesayangan, hanya supaya mereka "bersentuhan." Mereka akan berjalan terus dengan cara ini seakan-akan bergandengan tangan. Dombanya tentu saja menikmati perhatian khusus dari gembala dan bersuka ria dalam kontak yang dekat, pribadi, dan intim diantara mereka. Diperlakukan dengan cara istimewa ini oleh gembala berarti mengalami penghiburan dengan dimensi yang mendalam. Ini adalah gambaran yang menyenagkan dan mengharukan.

Dalam perjalanan kita bersama Tuhan, kita diberitahukan secara terang-terangan oleh Kristus sendiri bahwa Roh-Nyalah yang akan diutus untuk menuntun kita dan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (Yohanes 16:13). Roh penghibur yang sama inilah yang membawa kebenaran Tuhan, firman Tuhan , dan membuatnya jelas bagi hati, pikiran , dan pemahaman rohani kita. Dialah yang dengan manis, lembut, namun tegas berkata kepada kita, "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya." Dan ketika kita taat dan bekerja sama dengan Dorongan-Nya yang lembut, maka perasaan aman, terhibur, dan sejahtera menyelimuti kita.

Dialah juga yang datang diam-diam, namun dengan penuh empati untuk membuat kehidupan Kristus, Gembala saya, nyata dan bersifat pribadi serta intim bagi saya. melalui Dia saya "bersentuhan " dengan Kristus. Diam-diam muncul kesadaran yang tajam, bahwa saya adalah milik-Nya dan Dia milik saya.

Roh Kudus terus-menerus memberi saya kesadaran yang mendalam, bahwa saya adalah Anak Tuhan dan Dia adalah Bapa saya. Dalam semua ini terdapat penghiburan yang besar dan perasaan "menyatu" yang mulia, perasaan "memilki", berada dalam pemeliharaan-Nya, dan karena itu menjadi sasaran kasih sayang-Nya yang istimewa.

Kehidupan orang kristen bukan sekadar kehidupan seorang yang menganut doktrin tertentu atau mempercayai fakta-fakta tertentu. Yang sama pentingnya dengan keyakinan ini di dalam Alkitab mungkin juga adalah kenyataan yang benar dari pengalaman dan pengenalan sentuhan-Nya pada roh saya. Pengalaman---perasaan tentang Roh-Nya pada roh saya. Pengalaman merasakan Sang penghibur di sisinya, suatu pengalaman yang intim, tak kentara, namun luar biasa, tersedia bagi anak Tuhan yang sejati. Ini bukan yang murni dan jujur. Ada istirahat yang tenang dan hening dalam pengetahuan bahwa Dia ada untuk menuntun, bahkan dalam detail yang paling kecil dari kehidupan sehari-hari. Dia dapat diandalkan untuk membantu kita dalam setiap keputusan, dan disinilah terdapat penghiburan luar biasa bagi orang-orang Kristen.

Saya terus menerus kembali kepada-Nya dan dalam bahasa yang dapat di dengar dan terbuka menanyakan pendapat-Nya tentang satu persoalan. Saya bertanya "Apa yang akan Engkau lakukan dalam masalah ini?" atau saya berkata "Engkau di sini sekarang. Engkau tahu semua kerumitan ini, beritahukanlah kepada saya dengan tepat apa prosedur terbaik di titik ini." Dan hal yang menggetarkan adalah, Dia melakukannya. Dia benar-benar menyampaikan pikiran Kristus tentang hal tersebut ke pikiran saya. Kemudian keputusan yang teapt dapat dibuat dengan yakin.

Saat saya tidak melakukan hal inilah, maka saya akhirnya terjebak dalam kesukaran. Kemudian saya menemukan diri saya terjebak dalam kebuntuan tertentu. Dan lagi-lagi Roh yang rahmani itu datang menyelamatkan saya seperti gembala menyelamatkan dombanya dari situasai di amna kebodohan mereka menuntun mereka.

Sebagai makluk yang keras kepala, domba sering masuk ke dalam dilema yang menggelikan dan tidak masuk akal. Saya pernah melihat domba saya sendiri, karena rakus dan ingin makan lagi rumput hijau, ia menuruni tebing yang landai, lalu tergelincir dan jatuh ke laut. Hanya tongkat gembala saya yang panjang yang dapt mengangkat mereka dari air dan mengembalikan mereka ke tanah yang padat lagi. Suatu hari di musim dingin saya menghabiskan beberapa jam untuk menyelamatkan seekor domba betina yang sudah melakukan hal semacam ini beberapa kali. Sifat keras kepalanya adalah kehancuran bagi dirinya.

Kejadian yang lain yang biasanay adalah mendapati domba terjebak dalam lilitan tumbuhan mawar liar dan semak berduri yang mereka masuki demi mencari sesuap rumput hijau. Segera duri-duri menyangkut di bulu wol mereka sehingga mereka tidak mampu membebaskan diri, dan meronta sekuat tenaga. Hanya sebuah tongkat yang dapat membesakan mereka dari belitan itu.

Sama halnya dengan kita. Banyak kesesakkan dan kebuntuan kita disebabkan oleh kesalahan kita sendiri. Dengan sikap keras kepala, kemauan sendiri, dan penonjolan diri, kita terus memaksa diri amsuk ke dalam situasi di mana kita tidak dapat melepaskan diri. Kemudian dalam kelembutan, belas kasihan, dan kepedulian, Sang Gembala datang kepada kita. Dia menarik kita mendekat kepada-Nya dan dengan lembut mengangkat kita oleh Roh-Nya dari kesukaran dan dilema. Betapa sabarnya Tuhan kepada kita!! Kesabaran menderita dan belas kasihan yang luar biasa!

Tongkat-Mu menghiburku! Roh-Mu, oh Kristus, adalah penghiburanku!
 
9


"Engkau menyediakan
Hidangan Bagiku....."

S aat memikirkan pernyataan ini, sebaiknya kita menggingat bahwa domba-domba sedang mendekati padang gembalaan musim panas di daerah pegunungan yang tinggi. Daerah ini dikenal sebagai padang rumput di puncak gunung atau "tanah meja" (tablelands), yaitu tanah luas di dataran tinggi, yang sangat di cari oleh para gembala.

Di beberapa negara penghasil domba terbaik di dunia, khususnya di Amerika Serikat bagian barat dan Eropa bagian selatan, dataran tinggi yang luas untuk wilayah domba-domba selalu disebut sabagai "mesas"-- kata dalam bahasa Spanyol untuk "meja".
Yang cukup aneh, kata dalam bahasa Kiswahili (Afrika) untuk meja juga "mesa". Agaknya ini berawal dari penjelajah Portugis pertama yang tiba di pantai Afrika Timur. Sebenarnya penggunaan kata ini sudah umum untuk menyebutkan Wilayah di dataran tinggi yang puncaknya datar di benua itu. Contoh klasiknya tentu saja adalah Table Mountain, dekat Cape Town, yang terkenal di seluruh dunia.

Jadi, mungkin agak jelas bahwa apa yang Daud sebutkan sebagai meja (Hidangan) sebenarnya adalah seluruh wilayah penggembalaan dataran tinggi selama musim panas. Meskipun "mesas" ini mungkin jauh dan sulit dijangkau, pemilik domba yang energik dan agresif akan menyediakan waktu dan menempuh kesulitan untuk mmepersiapkan daerah itu bagi kedatangan domba-dombanya.

Pada awal musim, bahkan sebelum semua salju mencair karena sinar matahari musim semi, ia akan pergi lebih dahulu dan mengadakan perjalanan survei pendahuluan ke daerah yang berbatu-batuan dan liar ini. Ia akan memeriksa tempat itu dengan sangat teliti, dengan selalu menggingat manfaat terbaiknya bagi kawanan dombanya selama musim yang akan datang.

Kemudian tepatnya sebelum domba-domba tiba, ia akan melakukan satu atau sua ekspedisi lagi untuk mempersiapkan "tanah meja" itu bagi mereka. Ia membawa serta persediaan garam dan mineral untuk ditaburkan di wilayah itu, di tempat-tempat yang strategis, demi kebaikan para domba selama musim panas. Manajer yang pintar dan cermat juga akan memutuskan sebelumnya di mana kemahnya akan di tempatkan sehingga domba-domba mmeiliki tanah terbaik untuk tidur. Ia menjelajahi wilayah itu dengan hati-hati untuk menentukan seberapa sehat rumputnya dan tumbuhan gunungnya. Pada saat itu ia memutuskan apakah sebagian tanah lapang di tengah hutan dan lembah-lembah sungai dapat di gunakan sedikit, sementara lereng-lereng dan padang rumput yang lain dapat di makan lebih banyak.

ia akan memeriksa apakah ada rumput beracun yang tumbuh, dan kalau ada, ia akan merencanakan program merumput bagi domba-dombanya dengan menghindari tempat itu atau mengambil langkah drastis untuk memberantas rumput beracun itu.

Yang tidak saya ketahui, di peternakan domba pertama yang saya miliki, terhampar tumbuhan asli daerah setempat yang agak subur, sejenis bunga bakung berwarna biru dan putih. Bunga bakung biru adalah pemandangan yang menyenangkan di musim semi ketika tumbuhan itu berbunga di sepanjang pantai. Bunga bakung putih, juga sangat cantik, namun merupakan ancaman mematikan bagi domba. Terutama jika anak domba memakan atau ahnay menggigit sedikit daunnya yang mirip bunga bakung karena tumbuhan itu mencuat di permukaan rumput selama musim semi, kematian adalah akibat yang pasti. Anak domba itu akan menjadi lumpuh, kaku seperti balok kayu, dan benar-benar kalah dengan racun dari tanaman tersebut.

Saya bersama a nak-anak saya menghabiskan waktu berhari-hari untuk menjelajahi padang gembalaan guna mencabuti tanaman beracun ini. Ini adalah pekerjaan berulang yang dilakukan setiap musim semi sebelum domba-domba datang ke padang rumput itu. Meski membosankan dan melelahkan karena harus terus membungkuk, tugas ini adalah "menyediakan Hidangan bagiku, di hadapan lawanku." Dan supaya domba-domba saya bertahan hidup, semua ini harus dikerjakan.

Keterangan tambahan yang lucu mengenai tugas ini adalah ide saya untuk mengarang ceriat binatang untuk menawan pikiran anak-anak, saat kami bekerja mencabuti tanaman bakung itu bersama-sama selama berjam-jam, acapa kali dengan posisi merangkak. mereka akan menjadi begitu terpikat dengan fantasinya saya yang bebas tentang beruang dan sigung serta rakun, sehingga jam-jam berlalu dengan cepat. Kadang-kadang mereka berdua akan berguling di rumput sambil tertawa, ketika saya menyertakan gerakan untuk menghidupkan cerita saya. Itulah satu cara untuk mnyelesaikan tugas rutin yang sebetulnya menyusahkan ini.

Semua hal inilah yang ada di benak Daud tatkala ia menulis baris-baris puisi ini. Saya dapat membayangkan di berjalan perlahan di padang gembalaan musim panas mendahului kawanan dombanya. Mata elangnya yang tajam menangkap setiap tanda rumput liar beracun yang akan ia cabut sebelum dombanya menghampiri tanaman itu. Tak heran ia harus mmebuang setumpuk tanaman ini demi keselamatan kawanan dombanya.

Kesamaan hal ini dengan kehidupan orang kristen tampak jelas. Seperti domba, dan khususnya anak domba, kita mungkin berpikir bahwa kita harus mencoba segala hal yang kita temui. kita harus mencicipi ini dan itu, mencoba segala hal hanya karena ingin tahu bagaiman rasanya. Dan, kita mungkin tahu betul bahwa beberapa hal dapat mematikan. Beberapa hal tidak baik bagi kita. Bahkan dapat sangat merusak. Namun entah mengapa kita kembali lagi kesana

Untuk mencegah kita berduka karena hal ini, kita perlu mengingat bahwa Tuan kita ada di depan mata kita untuk mengatasi setiap situasi yang sebenarnya dapat merusak kita.

Contoh klasik mengenai hal ini adalah insiden ketika Yesus memperingatkan Petrus bahwa setan ingin mencobai dia dan menampinya seperti gandum. Tetapi Kristus menyatakan bahwa Dia berdoa agar iman Petrus tidak gugur selama kesulitan hebat yang akan ia alami. Dan begitu pula hari ini. Gembala kita yang baik dan agung akan mendahului kita dalam setiap keadaan, mengantisipasi bahaya yang mungkin kita hadapi, dan berdoa untuk kita agar di dalamnya kita tidak kalah.

Tugas lain yang dilaksankan gembala yang teliti pada musim panas adalah mewaspadai pemangsa. Ia akan mencari tanda-tanda dan jejak serigala, anjing hutan, macan tutul, dan beruang. Jika para pemangsa ini menyerang atau menggangu kawanan domba, ia akan mmeburu mereka atau bersusah-payah menjebak mereka supaya kawanan dombanya dapat beristirahat dengan damai.

Sering kali apa yang sesungguhnya terjadi adalah para pemangsa yang cerdik ini naik ke tebing yang mengelilingi padang gembalaan, mengamati setiap gerakan domba-domba, menanti kesempatan untuk melakukan serangan cepat dan diam-diam, yang dapat menakutkan domba. Kemudian salah seekor dari kawanan itu akan menjadi mangsa yang mudah bagi gigi dan cakar si penyerang yang tajam.

Gambaran ini sungguh dramatis, penuh aksi, dan ketegangan---dan mungkin kematian. Kewaspadaan gembala yang menjaga domba-dombanya di padang gembalaan dengan kesiagaan penuh terhadap musuh-musuh yang mungkin datang itulah, yang dapat mencegah dimangsa. Ya, hanya kesigapan sang gembala terhadap ancaman seprti itulah yang dapat mencegah domba-domba dicabik-cabik dan dibuat panik oleh para pemangsa mereka.

Dan sekali lagi kita diberi gambaran yang agung tentang juru selamat kita yang mengetahui setiap tipu daya muslihat, setiap tipu daya, setiap penghianatan setan, musuh kita, beserta antek-anteknya. Kita selalu terancam untuk diserang. Alkitab kadang-kadang menyebut dia sebagai singa yang mengaum-aum, yang berkeliling mencari orang yang dapat ditelannya.

Sudah agak biasa di sebagian lingkungan Kristen masa kini untuk merendahakan setan. Ada kecenderungan untuk mencobainya dan menghinanya atau menertawakannya seakan-akan ia adalah lelucon. Sebagian orang menyangkal bahwa asetan itu ada. Namun, kita melihat bukti serangkaian serangan dan pembantaiannya tanpa belas kasihan dalam suatu masyarakat di mana laki-laki dan perempuan menjadi mangsa taktiknya yang licik setiap hari. Kita melihat kehidupan yang dicabik-cabik, dirusak, dan dihanguskan oleh serangannya meskipun kita belum pernah melihat dia secara pribadi.

Hal ini mengingatkan saya denganperjumpaan saya dengan macan tutul. Pada beberapa kejadian, mahkluk yang licik ini menyusup ke antara domba-domba saya di malam hari, menimbulkan malapeta besar di tengah kawanan. Beberapa ekor domba betina tewas seketika, darah mereka berceceran dan hati mereka dimakan. Domba-domba lainnya dicabik-cabik dan dicakar begitu parah. Dalam kasus-kasus ini kucing-kucing besar itu seakan-akanmengejar dan mempermainkan mereka dalam kepanikan mereka, seperti seekor kucing rumah mengejar tikus. Beberapa ekor domba mengalami robekan besar pada bulu wol mereka. Saat berlari ketakutan, beberapa ekor domba tersandung dan mengalami patah tulang atau berlari ke tanah yang berbatu-batu sehingga tubuh dan akkinya luka-luka.

Namun walaupun ada kerusakan, walaupun ada domba-domba yang mati, walaupun ada luka-luka dan ketakutan dengan besar menghantui kawanan, saya belum pernah sekalipun melihat seekor macan tutul di padang gembalaan saya. Serangan mereka begitu licik dan cerdik sehingga sukar diketahui.

Setiap saat kita harus bijaksana untuk berjalan lebih dekat dengan Kristus. Ini adalah satu tempat aman yang pasti. Yang di pilih oleh para pemangsa pada saat yang tak terduga selalu domba-domba yang jauh dari kawanan, domba petualang, pengembara. Umumnya para penyerang sudah pergi sebelum gembala dikejutkan dengan seruan domba-domba minta tolong. Tentu saja beberapa ekor domba benar-benar kelu karena ketakutan saat di serang; mereka bahkan tidak akan mengembik sedih sebelum darah mereka benar-benar tumpah.

Hal yang sama terjadi pada orang Kristen. Banyak diantara kita msuk ke dalam kesulitan besar di luar diri kita; kita dibuat kelu karena ketakutan, bahkan tak mampu berseru atau berteriak minta tolong; kita hanya meringkuk di bawah serangan musuh kita.

Namun, Kristus juga prihatin terhadap kita dengan mengizinkan hal ini terjadi. Gembala kita sebenarnya ingin mencegah bencana sperti ini. Dia ingin waktu kita di puncak gunung menjadi jeda yang tenang. Dan itu akan terjadi hanya apabila kita menggunakan akal sehat untuk tetap berada di dekat-Nya, diamna Dia dapat melindungi kita. Bacalah firman-Nya setiap hari. Luangkan waktu untuk berbicara kepada-Nya. Kita harus memberi Dia kesempatan untuk berbicara dengan kita dalam Roh-Nya, pada saat kita merenungkan hidup-Nya dan karya-Nya bagi kita sebagai Gembala Agung kita.

Ada lagi tugas Gembala dalam memelihara domba di puncak gunung. Ia mmebersihkan lubang-lubang air, mata air, dan tempat minum untuk kawanan dombanya. Ia harus membersihkan sampah dedaunan, ranting-ranting, batu-batu, dan tanah yang bertumpuk, yang mungkin jatuh ke sumber air selama musim gugur dan dingin. Ia mungkin perlu memperbaiki bendungan tanah berukuran kecil yang telah ia buat untuk menahan air. Dan ia akan membuka mata air yang mungkin telah terlalu banyak ditumbuhi rumput dan semak serta rumput liar. Semua itu tugasnya, yaitu mempersiapkan meja (hidangan) bagi domba-dombanya sendiri di musim panas.

Kesamaanya dengan kehidupan Kristen adalah bahwa Kristus sendiri, Sang Gembala Agung yang baik, telah mendahului kita masuk ke dalam setiap situasi dan setiap kesesakkan yang mungkin kita hadapi. Kita diberitahukan dengan empati bahwa Dia juga dicobai dalam segala hal, sama seperti kita. Kita tahu Dia masuk ke dalam kehidupan manusia di planet kita secara penuh, utuh dan sangat intim. Ia mengenal penderitaan kita, merasakan kesedihan kita dan mengalami pergumulan kita dalam hidup ini; Dia adalah Manusia Kesedihan dan Akrab dengan dukacita.

Karena itulah Dia memahami kita ; Dia menyamakan diri-Nya dengan manusia secara total. Itu sebbanya, Dia memiliki kepedulian dan belas kasihan bagi kita yang tak mampu kita selami. Tak heran, Dia memberikan segala perbekalan yang memungkinkan , untuk menjamin bahwa ketika kita berhadapan dengan setan, dosa atau diri sendiri, pertandingan itu tidak akan berat sebelah. Malah kita dapat yakin bahwa Dia sudah pernah berada dalam situasi tersebut; Dia sekarang mengalaminya lagi bersama kita, dan karena itulah masa depan terpeliharanya kita benar-benar sangat baik.

Sikap tenang di dalam Dia, percaya denagn pemeliharan-Nya, relaks karena kita menaydari kehadiran-Nya nyata dalam kehidupan kita, itulah yang dapat membuat kehidupan seorang kristen tenagng dan damai. Maka perjalanan orang kristen dapat menjadi suatu penaglaman di puncak gunung,--perjalanan di padang rumput di puncak gunung---hanya karena kita berada dalam pemeliharaan dan kendali Kristus, yang telah menjelajahi seluruh wilayah ini sebelum kita dan mempersiapkan "meja" bagi kita di hadapan para lawan kita yang ingin mengacaukan dan menghancurkan kita sekiranya mereka bisa.

Sungguh menguatkan jika mengetahui bahwa sama seperti dalam aspek kehidupan yang lain di mana ada terang dan gelap, begitu pula dalam kehidupan Kristen ada lembah dan puncak gunung. Terlalu banyak orang mengira bahwa begitu seseorang menjadi Kristen, secara otomatis kehidupan menjadi teman kegembiraan yang mulia. Sama sekali tidak demikian. Justru kehidupan dapat menjadi taman kesedihan, seperti yang dialami juruselamat kita di Taman Getsemani. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Anda tidak akan memiliki gunung tanpa lembah, dan bahkan di puncak gunung pun ada pengalaman yang berat.

Hanya karena gembala mendahului dan membuat setiap persiapan yang mungkin bagi keselamatan dan kesejahteraan dombanya sementara mereka berada di kawasan musim panas, tidak berarti domba-domba tidak akan mennemui masalah disana. Para pemangsa masih dapat menyerang, rumput-rumput liar yang beracun masih bisa tumbuh, badai dan angin ribut masih mungkin datang membuat pusaran di puncak gunung, dan selusin bahaya lain dapat mengintai di dataran tinggi itu.

Namun, dalam pemeliharaan dan kepedulian-Nya kepada kita, Kristus tetap memastikan bahwa kita akan memperoleh suka cita di dalam kesedihan kita, hari-hari yang menyenagkan dan juga kelam, sinar matahari, dan juga kesuraman.

Tidak selalu jelas bagi kita apa pengeluaran pribadi yang di bayar oleh Kristus untuk mempersiapkan meja bagi milik-Nya. Sama seperti gembala yang kesepian dan malang saat mempersiapkan kawasan musim panas bagi domba-dombanya dengan menunjukkan pengorbanan, begitulah kesedihan dalam kesendirian di getsemani, di istana Pilatus, di Kalvari, telah menunjukkan pengeluaran yang sangat besar yang dibayar oleh Tuan kita.

Ketika saya datang ke meja Tuhan dan mengambil bagian dalam perjamuan yang merupakan pesta ucapan syukur untuk kasih dan pemeliharan-Nya, apakah saya benar-benar menhargai pengorbanan-Nya untuk mempersiapkan meja ini bagi saya?

Disinilah kita memperingati demosntrasi terbesar dan terdalam dari aksih sejati yang pernah dikenal di dunia. Sebab Tuhan melihat manusai yang bersedih, bergumul, dan berdosa serta tergerak oleh belas kasihan kepada "mahkluk-mahkluk" yang suka melawan seperti domba ini, yang telah Dia ciptakan Meskipun denagn pengorbanan pribadi yang luar biasa demi membebaskan mereka dari dilema, Dia sengaja memilih untuk turun dan tinggal diantara mereka supaya Dia dapat melepaskan mereka.

Ini berarti menyingkirkan kemegahan-Nya, kedudukan-Nya, hak istimewa-Nya sebagai pribadi yang sempurna dan tanpa salah. Dia tahu Dai akan terkena kemalangan yang hebat, diejek, mendapat tuduhan palsu, dibicarakan, digosipkan, dan dituduh sebagai orang jahat, disebut sebagai pelahap, peminum, sahabat orang berdosa, dan bahkan penipu. Ini berarti kehilangan reputasi-Nya. Ini akan melibatkan penderitaan fisik, siksaan mental dan kepedihan rohani.

Singkatnya, kedatangan-Nya di bumi sebagai Kristus, sebagai Yesus orang Nasaret, adalah contoh yang jelas tentang pengorbanan diri seutuhnya yang mencapai puncak di akyu salib di Kalvari. Nyawa yang diserahkan, darah yang dicurahkan adalah lambang tertinggi dari ketidakegoisan yang total. Inilah kasih. inilah Tuhan. Inilah keilahian yang bertindak membebaskan manusai dari puncak keegoisan mereka sendiri, kebodohan mereka sendiri, naluri untuk membunuh diri sendiri, seperti seekor domba terhilang yang tak ammpu menolong dirinya sendiri.

Dalam semua ini terdapat misteri yang menakjubkan. Tak pernah seorang pun akan mampu memahami maknanya. Hal itu sudah pasti terikat denagn konsep ilahi dari Tuhan yang mengorbankan diri, yang begitu asing bagi kebanyakan dari kita yang selalu begitu berpusat pada diri sendiri. Yang dapat sedikit kita mengeri hanyalah konsep luar biasa tentang seseorang yang sempurna, orang tak berdosa yang bersedia untuk dijadikan dosa supaya kita yang penuh kesalahan, egois, menonjolkan diri dan penuh kecurigaan dapat di merdekakan dari dosa dan keakuan untuk menikmati kehidupan yang baru, bebas, segar, berlimpah oleh kebenaran.

Yesus sendiri mengatakan pada kita bahwa Dia datang supaya kita mempunyai hidup dan memilikinya lebih berlimpah. sama seperti gembala yang begitu tercengan tanpa kata melihat domba-dombanya berkembang biak di kawasan musim panas yang subur di ketinggian (ini adalah satu masa yang penting dari seluruh tahunnya), begitulah Gembala saya sangat senang ketika Dia melihat saya bertumbuh di padang rumput kehidupan yang mulia dan agung yang Dia telah jadikan bagi saya.

Bagian dari misteri dan keajaiban Kalvari, keajaiban Kasih Tuhan kepada kita di dalam Kristus, juga terikat dengan kerinduan hati-Nya yang dalam untuk membuat saya hidup di ketinggian. Dia rindu melihat saya hidup di atas tingkatan manusai biasa yang duniawi. Dia juga senang jika saya berjalan di jalan kekudusan, ketidakegoisan dan kepuasan yang tentram dalam pemeliharaan-Nya, menyadari kehadiran-Nya dan menikmati keintiman dari persahabatan dengan-Nya.

Hidup yang demikian berati hidup yang berlimpah.

Berjalan disisi adalah berjalan dengan keyakinan yang menenangkan.
Makan disini berarti di penuhi dengan hal-hal baik.

Menemukan padang rumput di puncak gunung berarti menemukan sesuatau dari Kasih Sang Gembala kepada saya.
 
10

"Engkau Mengurapi Kepalaku
dengan Minyak..."


Saat kita merenungkan puisi yang luar biasa ini, sebaiknya kita ingat bahwa syairnya mengisahkan peristiwa-peristiwa mencolok selama setahun penuh dalam kehidupan seekor domba. Ia membawa kita bersamanya dari rumah peternakan di mana setiap kebutuhan di sediakan dengan cermat oleh si pemilik, keluar ke padang rumput yang hijau, ketepi air yang tenang, sampai melalui lembah-lembah di pegunungan, menuju tanah penggembalaan musim panas di ketinggian.

Disini, sekarang, akan tampak bahwa domba berada di lingkungan indah, di padang rumput dataran tinggi, dimana terdapat mata air jernih yang mengalir, di amna rumputnya segar dan lembut, dimana terdapat kontak intim dengan sang gembala, namun tiba-tiba kita menemukan "seekor lalat di dalam minyak", begitulah kiasannya.

Sebab dalam kamus gembala, "musim panas adalah musim lalat." Dengan hal ini, yang dimaksudkan adalah segerombolan serangga yang muncul bersamaan dengan datangnya cuaca hangat. Hanya orang-orang yang memelihara ternak atau mempelajari kebiasaan di alam liar yang mengetahui masalah serius bagi hewan yang disebabkan oleh serangga di musim panas.

Beberapa parasit yang menganggu ternak dan membuat hidup mereka kacau adalah; lalat yang larvanya membuat lubang di kulit domba, lalat parasit, lalat hidung, lalat penghisap darah, lalat hitam, nyamuk, serangga-serangga kecil, dan parasit kecil yang bersayap lainnya, yang berkembang-biak pada musim ini. Serangan-serangan ini pada hewan dapat segera mengubah bulan-bulan emas di musim panas menjadi masa siksaan bagi domba dan membuat mereka kehilangan kendali.

Domba terutama terganggu oleh lalat hidung atau kadang-kadang disebut lalat nasal. Lalat-lalat kecil ini berdengung di sekitar kepala domba, berusaha menaruh telur-telur mereka di selaput lendir yang basah di dalam rongga hidung domba.Jika mereka berhasil, telur-telur itu akan menetas dalam beberapa hari dan menjadi larva yang kecil dan panjang seperti cacing. Larva-larva itu naik di rongga hidung dan masuk kekepala domba; mereka melubangi daging dan disitu akan timbul iritasi hebat yang disertai oleh radang yang parah.

Agar lepas dari ganguan yang menyakitkan ini, domba dengan sengaja akan membentur-benturkan kepala mereka ke pohon, batu, tonggak, atau semak-semak berduri. Mereka akan mengossok-gosokkan kepala mereka di tanah dan pada tanaman kayu. Dalam kasus ekstrem dengan gangguan yang parah, seekor domba bahkan dapat membunuh dirinya sendiri dalam upaya habis-habisan untuk dapat lepas dari gangguan tersebut. Seringkali tahap infeksi yang berlanjut dari lalat jenis ini akan mengakibatkan kebutaan.

Oleh karena semua ini, maka ketika lalat hidung berterbangan di sekitar domba,sebagian domba akan berperilaku aneh karena takut dan panik, dalam upaya mereka untuk melepaskan diri dari penyiksa mereka.​
Mereka akan menghentak-hentakkan kaki mereka dengan panik dan berlari dari satu temapt ke tempat yang lain di padang rumput, berusaha mati-matian untuk menghindari lalat-lalat ini. Sebagian domba akan terusan berlari sampai mereka rebah karena sangat kelelahan. Yang lainnya akan menganguk-angukkan kepala selama berjam-jam.

Mereka akan bersembunyi di semak-semak atau pepohonan yang menjadi tempat berteduh. Sesekali mereka akan sama sekali menolak untuk merumput di daerah terbuka.

Semua kegembiraan dan gangguan ini memilki efek merusak bagi seluruh kawanan

Domba-domba betina dan anak-anak domba segera memburuk dan mulai turun berat badannya. Domba-domba betina akan berhenti menyusui, dan pertumbuhan anak-anak mereka terhenti. Beberapa ekor domba akan terluka karena berlari membabi buta dan beberapa ekor bahkan langsung mati seketika.

Hanya perhatian yang paling ketat dari sang gembala terhadap perilaku domba yang dapat mencegah kesulitan "musim lalat". Saat muncul tanda pertama adanya lalat di antara kawanan domba, gembala akan memberikan penangkal di kepala mereka. Saya selalu lebih suka menggunakan obat buatan sendiri yang terdiri dari minyak biji rami, belerang, dan getah tembakau, yang dioleskan di hidung dan kepala domba sebagai pelindung terhadap lalat hidung.

Ini benar-benar membuat perubahan luar biasa diantara domba-domba. Setelah minyak dioleskan di kepala domba, segera ada perubahan dalam perilaku mereka. Gangguan hilang, perilaku yang aneh hilang, sikap cepat marah dan gelisah tidak ada lagi, kemudian segera berbaring dalam kepuasan yang tentram.

Bagi saya, ini adalah gambaran tentang gangguan yang pasti dalam kehidupan saya sendiri. Betapa mudahnya ada lalat di dalam minyak, bahkan dalam pengalaman rohani saya yang paling mulia! Sering kali hal itu adalah gangguan kecil yang tak berarti, yang merusak istirahat saya. Itulah gangguan-gangguan kecil yang menjadi masalah besar sehingga dapat membuat saya berputar-putar atau memanjat tembok. Kerap kali beberapa hal kecil yang menarik, meyiksa saya sampai merasa sedang memeras otak.

Dan begitulah perilaku saya sebagai anak Tuhan memburuk menjadi semburan kata-kata marah dan frustasi yang paling memalukan.

Seperti halnya dengan domba, harus ada pengolesan minyak yang terus menerus dan di perbaharui untuk mencegah "lalat-lalat" dalam hidup saya; harus ada pengurapan terus menerus dari Roh Tuhan untuk melawan gangguan konflik kepribadian yang selalu ada. Hanya sekali menggoleskan minyak, belarang dan getah tembakau tidaklah cukup untuk sepanjang musim panas. Ini adalah proses yang harus diulang. Pengolesan yang baru adalah penangkal yang efektif.

Ada orang-orang yang puas bahwa dalam kehidupan orang kristen seseorang hanya perlu mendapatkan sekali penggurapan awal dari Roh Tuhan. Namun, rasa frustasi karena dilema sehari-hari menunjukkan bahwa kita harus membiarkan Dia terus menerus datang di pikiran dan hati kita yang kacau untuk melawan serangan para penyiksa kita.

Ini adalah hal yang praktis dan intim antara diri saya dan Tuan saya. Dalam Lukas 11:13 Kristus sendiri, Gembala kita, mendesak kita untuk meminta agar Roh Kudus diberikan kepada kita oleh Bapa.

Kerinduan kita logis dan benar jika kita mengginginkan pengurapan setiap hari dari Roh Tuhan yang Rahmani atas pikiran kita. tuhan saja yang dapat membentuk pikiran Kristus di dalam diri kita. Roh Kudus saja yang dapat memberi kita sikap Kristus. Dia sajalah yang memungkinkan kita bereaksi terhadap gangguan dan serangan dengan tenang dan damai.

Ketika orang-orang atau situasi atau peristiwa di luar kendali kita cenderung "menggangu" kita, kita dapat puas dan tentram ketika kekuatan "luar" ini dilawan dengan kehadiran Roh Tuhan. Dalam Roma 8:1-2, dikatakan dengan jelas kepada kita bahwa hukum roh kehidupan di dalam Kristus Yesuslah yang membuat kita bebas dari hukum dosa dan maut.

Pengurapan setiap hari dari Roh Tuhan yang rahmani atas pikiran saya menghasilkan sifat kepribadian dalam hidup saya seprti sukacita, kepuasan, kasih, kesabaran, kelemah lembutan, dan damai sejahtera. Betapa kontrasnya hal ini dengan sikap marah, frustasi, dan cepat tersinggung yang merusak perilaku sehari-hari dari banyak anak-anak Tuhan.

yang saya lakukan dalam situasi tertentu adalah mengungkapkannya kepada Tuan saya , Pemilik saya, Kristus Yesus, dan berkata,"Ya Tuhan, aku tak bisa mengatasi maslah kecil yang mengganggu dan menjengkelkan ini. Oleskanlah minyak Roh-Mu pada pikiranku. Baik di tingkat sadar maupun bawah sadar dari pikiranku, mampukanlah aku untuk bertindak dan bereaksi seperti Yang Engkau inginkan." Dan Dia akan mengatasinya. Anda akan terkejut melihat betapa cepatnya Dia mengabukan permintaan semacam itu yang dilakukan dengan kesungguhan hati.

Namun, musim panas bagi domba bukan hanya musim lalat. Itu juga musim "kudis". Kudis adalah suatu penyakit yang menganggu dan sangat menular, dan biasa menyerang domba-domba di seluruh dunia. Disebabkan oleh parasit kecil yang hanya dapat dilihat di bawah mikroskop, yang berkembang biak dalam cuaca hangat, "Kudis" menyebar ke seluruh kawanan dengan kontak langsung antara domba yang terinfeksi dan yang tidak.

Domba senang saling mengesekkan kepala mereka sebagai cara untuk menunjukkan kasih dan persahabatan. Kudis paling banyak terdapat di sekitar kepla. Ketika mereka saling beradu kepala, penyakit itu segera menyebar dari domba yang satu ke domba yang lain.

Dalam perjanjian Lama ketika diumumkan bahwa anak domba yang dikorbankan haruslah tanpa cacat, pemikiran yang paling utama di benak penulis adalah bahwa hewan itu harus bebas dari kudis. Dalam pengertian yang sangat nyata dan langsung, kudis adalah penularan yang signifikan dari dosa, dari kejahatan.

Sekali lagi, seperti halnya dengan lalat, satu-satunya penagkal yang efektif adalah mengoleskan minyak biji rami, belerang, dan bahan kimia lainnya yang dapat mengendalikan penyakit ini. Di banyak negara, peternak domba membangun bak-bak mandi, dan seluruh kawanan dombanya dimasukkan ke dalam bak itu. Setiap hewan benar-benar di celupkan ke dalam air itu sebagai solusi masalah ini, sampai seluruh tubuh mereka terendam. Bagian tersulit untuk direndam adalah kepala. kepala harus dicelupkan berulang-kali untuk memastikan kudisnya terkendali. Beberapa gembala sangat berhati-hati mengobati kepala domba dengan tangan.

Hanya sekali domba saya terinfeksi kudis. Saya membeli beberapa ekor domba betina lagi dari Peternak lain untuk menambah jumlah kawanan. Kebetulan tanpa saya ketahui, mereka mengidap sedikit infeksi kudis yang dengan cepat mulai menyebar ke seluruh kawanan sehat. Itu berarti saya harus membeli sebuah bak mandi besar dan memasangnya di padang gembalaan saya. Dengan biaya yang besar, belum lagi waktu dan kerja keras yang dikerahkan, saya harus membuat seluruh kawanan, satu persatu, melewati solusi pencelupan ini guna membersihkan mereka dari penyakit tersebut. Ini adalah tugas yang sangat besar dan memerlukan perahtian khusus pada kepala mereka.Jadi saya tahu betul maksud Daud ketika ia menulis, "Engkau mengurapi kepalaku denagn minyak." Sekali lagi, inilah satu-satunya penangkal kudis.

Mungkin harus disebutkan bahwa di Palestina, pengobatan kuno untuk penyakit ini adalah minyak zaitun yang dicampur dengan belerang dan rempah-rempah. Obat buatan sendiri ini berfungsi sama baiknya dalam kasus lalat yang datang untuk mengganggu kawanan.

Dalam kehidupan Kristen, sebagian besar penularan kita oleh dunia, oleh dosa, oleh apa yang akan mengotori dan membuat kita sakit secara rohani, datang melalui pikiran kita. Ini adalah soal pikiran bertemu dengan pikiran, untuk meneruskan ide-ide, berbagai konsep yang tidak kristiani.

Berbagai pemikiran, ide, emosi, pilihan, impuls, dorongan, dan kerinduan, semua dibentuk dan dicetak melalui berhadap-hadapannya pikiran kita dengan pikiran orang lain. Di era komunikasi massa yang modern ini, bahaya "pikiran massal" semakin mematikan. Kaum muda khususnya, yang pikrannya begitu mudah dibentuk, mendapati diri mereka tercetak di bawah tekanan halus dan dampak yang terbentuk atas mereka akibat televisi, radio, majalah, surat kabar, dan teman-teman sekelas, selain oleh orang tua dan guru-guru mereka.

Seringkali media massa yang paling bertanggung jawab untuk membentuk pikiran kita berada dalam kendali orang-orang yang karakternya tidak menyerupai Kristus, yang dalam beberapa hal benar-benar anti-kekristenan.

Orang tidak mungkin dapat berahadapan dengan kontak semacam itu dan pulang tanap tertular. Pola pikir orang-orang menjadi semakin menjijikkan. Kini kita menemukan semakin abnyak kecenderungan untuk bertindak kejam, membenci, berprasangka, serakah, sinis, dan semakin meremehkan hal yang mulia, baik, murni dan indah.

Ini adalah lawan dari apa yang diajarkan Kitab suci kepada kita. Dalam Filipi 4;8 kita di perintahkan dengan penuh empati dalam perkara ini, "....semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap di dengar, semua yang disebut kebajikan dan patut di puji, pikirkanlah semuanya itu." Sekali lagi, satu-satunya jalan praktis yang mungkin untuk memperoleh pikiran yang bebas dari kontaminasi dunia adalah dengan menyadari kehadiran Roh Kudus Tuhan yang menyucikan satiap hari, setiap jam, yang mengoleskan minyak-Nya di pikiran saya.

Ada orang-orang yang tampaknya tidak ammpu menyadari kendali-Nya atas pikiran dan pendapat mereka. ini adalah masalah iman dan penerimaan yang sederhana. sama seprti seseorang pertama kali meminta Kristsu untuk masuk ke dalam kehidupannya guna memastikan kendali penuh atas perilakunya, begitu pula ia mengundang Roh Kudus untuk masuk ke dalam pikiran sadar dan bawah sadarnya guna memonitor kehidupan pikirannya. Sama halnya denagn iamn kita percaya dan mengetahui, menerima, dan bersyukur atas Kristus yang datng dalam hidup kita, demikianlah dengan iman yang sederhana di dalam Kristus yang sama, kita percaya dan mengetahui serta menerima dengan ucapan syukur, kedatangan Roh-Nya yang rahmani di pikiran kita. Kemudian setelah melakukannya, kita benar-benar hidup dan bertindak serta berfikir sebagaimana Dia memimpin kita. Kesulitannya adalah bahwa sebagian dari kita tidak bersungguh-sungguh. Seperti domba yang keras kepala kita akan meronta, menendang, dan protes ketika Sang Tuan meletakkan tangan-Nya atas kita untuk maksud ini. Bahkan sekalipun itu untuk kebaikan kita sendiri, kita tetap memberontak dan tidak mau Dia menolong kita ketika kita teramat membutuhkan pertolongan-Nya.

Jika menggingat bahwa kita adalah jenis domba yang tegar-tengkuk. dan kalau bukan karena Kristus yang melanjutkan belas kasihan dan kepedulian-Nya terhadap kita, maka sebagian besar dari kita tidak akan memiliki harapan lagi atau mungkin tak tertolong. Kadang-kadang saya sangat yakin Kristsu datang kepada kita dan mengoleskan minyak Roh-Nya sendiri pada pikiran kita meskipun kita keberatan. Kalau tidak begitu, dimanakah sebagian besar dari kita berada? Tentu saja setiap pikiran baik yang memasuki benak saya berasal Dari Dia.

Kini, sebagaimana musim panas di daerah yang tinggi perlahan-lahan berubah menjadi musim gugur, perubahan-perubahan halus terjadi di daerah sekitar itu dan juga pada domba-domba. Malam menjadi lebih dingin; ada sentuhan embun beku yang pertama; serangga mulai hilang dan hama berkurang; dedaunan di bukit berubah menjadi berwarna merah tua, keemasan, dan tembaga; kabut dan hujan muali turun; dan tanah bersiap-siap menyambut musim dingin.

Dalam kawanan domba juga ada perubahan yang halus. Ini adalah musim kawin, musim berkelahi, musim perang besar antara domba-domba jantan yang memperebutkan domba betina. Tengkuk raja domba semakin besar dan kuat. Mereka berjalan dengan angkuh di seantero padang rumput dan berkelahi mati-matian demi domba betina. Kepala berbenturan dan suara tubuh yang bertabrakan dapat terdengar siang dan malam. Gembala mengetahui semua ini. Ia tahu bahwa beberapa ekor domba dapat dan akan benar-benar saling membunuh, melukai, dan mematahkan kaki dalam peperangan yang mematikan ini. Jadi, ia memutuskan penyelesaian yang sangat sederhana. Di musim ini ia akan menangkapi domba-domba jantannya dan mengolesi kepla mereka dengan minyak. Saya biasa mengoleskan pelumas roda dalam jumlah banyak pada kepala dan hidung setiap domba jantan. Lalu ketika mereka beradu kepala dalam perkelahian sengit yang terjadi, pelumas itu akan membuat mereka saling menatap dengan cara yang sangat lucu, yaitu mereka berdiri saja dengan merasa agak bodoh dan frustasi. Dengan cara ini kegarangan dan ketegangan banyak yang hilang, dan kerusakan pun menjadi sedikit.

Di antara umat Tuhan, ada banyak perbuatan saling mencela. Agaknya jika kita tidak bertatapan mata dengan orang lain, kita bersikeras untuk mencoba menonjolkan diri dan menjadi "domba paling hebat". Banyak orang yang baik menjadi memar dan terluka parah karena hal ini.

Sebenarnya, sebagai gembala jemaat saya menemukan bahwa banyak duka cita, luka, sakit hati, dendam, hal-hal yang belum diampuni dalam kehidupan manusia yang dapat ditelusuri ke persaingan atau kecemburuan atau perseteruan lama yang pecah di antara orang-orang percaya. Banyak jiwa yang ragu-ragu, tidak pernah memasuki gereja, hanya kerena dalam pengalaman mereka di masa lalu seseorang telah menyakiti mereka dengan hebat.

Untuk mencegah dan menghindari terjadinya hal semacam ini diantara umat-Nya, gembala kita senang mengoleskan minyak yang berharga dari kehadiran Roh-Nya yang menakjubkan pada hidup kita. Hal itu akan mengingatkan, bahwa tepat sebelum penyaliban-Nya, Tuhan kita, ketika berurusan dengan kedua belas murid-Nya, yang bahkan kemudian terjebak dalam percekcokan karena iri dan persaingan demi gengsi, menagtakan tentang kedatangan Sang penghibur-Roh Kebenaran. Karena Roh-Nya diutus kepada mereka, Dia berkata bahwa mereka akan mengenal damai sejahtera. Dia seterusnya mengatakan, bahkan umat-Nya akan dikenal di mana-mana karena kasih mereka satu terhadap yang lain.

Tetapi terlalu sering hal ini tidak berlaku di antara umat Tuhan. Mereka saling menghantam dan memukul, tegar tengkuk denagn sombong dan memegahkan diri. Mereka tidak toleran, dogmatis, dan tidak dermawan terhadap orang Kristen yang lain.

Namun, ketika Roh Kudus yang rahmani masuk ke dalam diri seorang laki-laki atau perempuan, ketika Dia memasuki kehidupan itu dan mengendalikan kepribadiannya, sifat-sifat damai sejahtera, sukacita, sabar menderita, dan kemurahan hati menjadi tampak. Baru pada saat itulah orang menjadi sadar betapa mengelikannya semua kecemburuan yang sepele, persaingan, dan permusuhan yang sebelumnya memotivasi penonjolan dirinya yang tidak masuk akal. ini berarti datang ke suatu tempat yang sangat memuaskan dalam pemeliharaan Sang Gembala Ilahi, kita seharusnya dikenal sebagai orang yang paling puas di Dunia. Kepuasan yang tenang dan damai seharusnya menjadi tanda orang-orang yang memanggil Kristus sebagai Tuan dan Tuhan mereka.

Sesungguhnya Dia adalah Pribadi yang memilki semua penetahuan dan kebijakan serta penertian tenatng berbagai urusan dan manajemem saya; sehingga Dia mampu menangani semua situasi, baik atau buruk, yang saya hadapi, maka seharusnyalah saya dipuaskan dengan pemeliharaan-Nya. Dengan cara yang ajaib pialaku, nasibku dalam hidup ini, menjadi piala sukacita yang meluap dengan segala macam manfaat.

Masalahnya adalah kebanyakan dari kita tidak memandang denagn cara seperti ini. terutama ketika masalah atau kekecewaan datang, kita cenderung merasa dilupakan oleh Gembala kita. Kita bertindak seakan-akan Dia gagal melaksanakan tugas-Nya.

Sebenarnya Dia tidak pernah tertidur. Dia tak pernah lalai atau ceroboh. Dia tidak pernah tak peduli pada kesejahteraan kita. Gembala kita selalu memikirkan hal-hal yang terbaik di pikiran-Nya.

Oleh karena itu, kita sebenarnya wajib menjadi orang yang berterima kasih, bersyukur, dan menghargai. Perjanjian Baru jelas-jelas memerintahkan kita untuk menangkap gagasan bahwa piala hidup kita penuh dan meluap dengan kebaikan, dengan kehidupan Kristus sendiri, dan dengan kehadiran Roh-Nya yang rahmani. Oleh sebab itulah, kita seharusnya bersukacita, bersyukur, dan tenang.

Inilah kehidupan orang kristen yang berkemenangan. Inilah kehidupan dimana orang Kristen dapat puas dengan apa pun yang menghadang di jalannya (Ibrani 13:5)--- Bahkan kesulitan. Kebanyakan dari kita senang ketika semua berjalan dengan baik. Berapa banyak dari kita yang dapat memberi ucapan syukur dan pujian ketika semuanya buruk?

Dengan melihat lagi sepanjang tahun yang dilewati domba dalam pemeliharaan gembala, kita melihat musim panas beralih ke musim dingin. Badai hujan bercampur es serta salju awal mulai menyapu seluruh dataran tinggi. Segera kawanan domba akan digiring dari pegunungan dan tanah penggembalaan di puncak gunung. Mereka akan kembalilagi ke rumah peternakan untuk musim dingin yang lama dan tenang.

Hari-hari musim gugur ini dapat menjadi emas dalam cuaca musim panas India. Domba-domba sekarang bebas dari lalat, serangga, dan kudis. Tak ada musim lain yang membuat mereka lebih sehat, bagus, dan kuat. Tak heran Daud menulis, "pialaku penuh melimpah."

Namun pada saat yang sama, badai salju yang tak terduga dapat melanda, juga badai es dan salju tiba-tiba dapat menyelimuti perbukitan. Kawanan domba bersama pemilik mereka dapat melintas melalui penderitaan yang mengerikan ini bersama-sama.

Disinilah saya menangkap aspek lain bersamaan dengan makna sebuah piala yang penuh sampai melimpah. Dalam kehidupan selalu ada sebuah piala kesengsaraan. Yesus Kristus menyebutkan penderitaan-Nya di taman Getsemani dan di Kalvari sebagai cawan-Nya. Dan jika cawan itu tidak penuh melimpah dengan kehidupan-Nya yang di curahkan bagi manusia, kita pasti akan binasa.

Dalam mengurus domba-domba saya membawa sebuah botol berisi campuran brandy (sejenis minuman keras) dan air di saku saya. Setiap kali seekor domba betina atau anak domba kedinginan karena terkena udara basah sebelum waktunya, saya akan menuangkan beberapa sendok cairan itu ke tenggorokannya. Dalam hitungan menit mahkluk yang kedinginan itu akan berdiri kembali dan dipenuhi energi baru. Sungguh indah cara domba mengibas-ngibaskan ekor mereka dengan suka cita ketika kehangatan Brandy menyebar ke seluruh tubuh mereka.

Hal yang penting adalah saya harus ada tepat waktunya, untuk mendapati domba yang beku dan kedinginan sebelum terlambat. Saya harus berada dalam badai dahsyat yang saya dan kawanan domba saya alami bersama. Saya dapat melihat lagi tepian awan badai yang kelabu dan kehitaman menyapu seluruh perbukitan ; saya dapt emlihat mereka berdiri di sana dalam keadaan basah kuyup, kedinginan, dan sedih. Khususnya anak-anak domba mereka mengalami penderitaan yang dahsyat ini tanpa bulu yang penuh dan tebal untuk melindungi mereka. Sebagian domba akan rebah dan tergeletak dalam keadaan bahaya dan menjadi semakin kaku dan beku.

Kemudian, campuran brandy dan air yang saya bawa itulah yang menyelamatkan mereka. Saya yakin para gembala Palestina pasti juga membagikan anggur mereka kepada domba-domba mereka yang beku dan kedinginan.

Itu sesungguhnya gambaran tentang Tuan saya yang membagikan anggur, darah kehidupan dari penderitaan-Nya sendiri, dari cawan-Nya yang melimpah, yang di curahkan di kalvari bagi saya. Dia ada disana besama saya dalam setiap badai. Gembala saya waspada terhadap setiap bencana yang mendekat, yang mengancam umat-Nya. Dia telah melewati badai penderitaan. Dia menanggung kesedihan kita dan akrab dengan duka cita.

Dan sekarang, apa pun badai yang saya hadapi, kehidupan dan kekuatan serta vitalitas-Nya dicurahkan ke dalam diri saya. Hal itu melimpah sehingga cawan hidup saya mengalir bersama hidup-Nya..... sering kali dengan berkat dan manfaat besar bagi orang lain yang melihat, saya berdiri teguh di tengah percobaan dan penderitaan.
 
11​

"Kebajikan dan kemurahan
Belaka akan Mengikuti Aku...."

Sepanjang penelitian tentang Mazmur ini, yang terus menerus ditekankan adalah pemeliharaan yang dilakukan oleh gembala yang penuh perhatian. Ditekankan betapa pentingnya upaya yang tekun dan kerja keras peternak bagi kesejahteraan domba. Semua manfaat yang dinikmati oleh sekawanan domba di bawah manajemen yang cakap dan penuh aksih digambarkan dengan mencolok.

Nah, semua ini disimpulkan disini oleh Pemazmur dalam suatu pernyataan yang sederhana namun berani namun, "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku!"

Domba-domba denagn gembala seperti itu, tahu secara pasti bahwa posisinya istimewa. Apa pun yang datang dan terjadi, setidaknya ia dapat sepenuhnya yakin bahwa kebajikan dan kemurahan senantiasa akan menyertai. Ia meyakinkan dirinya, bahwa ia selalu berada di bawah kepemilikan yang sehat, simpatik dan pintar. Apa lagi kebutuhan yang ia khawatirkan? Kebajikan dan kemurahan akan menjadi perlakuan yang ia terima dari tangannya Tuan yang cakap dan penuh kasih.

Ini bukan hanya pernyataan yang berani, tetapi ini adalah suatu pernyataan yang agak sombong tentang keyakinan kepada Dia yang mengendalikan karier dan nasibnya.

Berapa banyak orang Kristen yang benar-benar merasa seperti ini tentang Kristus? Berapa banyak dari kita yang sungguh-sungguh menyadari bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita diikuti oleh kebajikan dan kemurahan? Tentu saja mudah sekali untuk berbicara begini ketika semua hal berjalan baik. Jika kesehatan saya prima, penghasilan saya bertambah, keluarga saya baik-baik saja, dan teman-teman saya menyayangi saya, tidak sulit mengatakan, "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku."

Tetapi bagaimana ketika tubuh kita sakit? Apa yang saya katakan ketika saya berdiri tanpa daya, seperti yang telah saya alami, dan menyaksikan pendamping hidup saya meninggal pelan-pelan dengan kesakitan yang menyiksa? Apa reaksi saya ketika saya kehilangan pekerjaan saya dan tidak punya uang untuk membayar tagihan? Apa yang terjadi jika anak-anak saya tidak mampu meraih nilai bagus di sekolah atau ketahuan bergaul dengan geng yang salah? Apa yang saya katakan ketika tiba-tiba, tanpa dasar yang benar, teman-teman menyalahkan dan berbalik menentang saya?

Inilah saat-saat yang menguji keyakinan seseorang terhadap pemeliharaan Kristus. Inilah berbagai peristiwa di amna krisis, dan kehidupan lebih daris ekadar daftar kata-kata hampa yang rohani. Ketika dunia saya yang kecil hancur berantakan dan istana impian dari ambisi dan harapan saya hancur berkeping-keping, dapatkah saya denagn jujur menyatakan, '"Kebajikan dan kemurahan belaka akan ----ya pasti---mengikuti aku?" Atau apakah ini hanya omong kosong dan bualan yang menjengkelkan?

Saat melihat kembali hidup saya di masa lalu, dalam hal kasih dan kepedulian saya terhadap domba-domba, saya lagi-lagi dapat melihat belas kasihan dan kepedulian yang sama terhadap saya di dalam menejemen Tuan saya atas semua urusan saya. Ada peristiwa yang ketika terjadi tampak seperti malapetaka yang paling hebat: ada jalan di mana Dia menuntun saya, yang tampak seperti lorong-lorong yang buntu; ada hari-hari di mana Dia menuntun saya melalui kegelapan sepekat malam. Namun akhirnya semua itu ternyata untuk kebaikan dan kesejahteraan saya.

Dengan pengertian saya yang terbatas sebagai manusia yang terbatas, saya tidak selalu dapat memahami manajemen-Nya yang dilaksanakan dengan hikmat yang tanpa batas. Dengan kecenderungan alamiah saya untuk takut, khawatir dan bertanya "mengapa", tidak selalu mudah untuk mengasumsikan bahwa Dia lakukan terhadap saya. Ada waktu-waktu dimana saya tergoda untuk panik, lari dan meninggalkan pemeliharaan-Nya. Rupanya saya mempunyai pendapat yang aneh dan bodoh bahwa saya dapat bertahan lebih baik denagn kekuatan sendiri. Kebanyakan laki-laki dan perempuan berpendapat begitu.

Namun, berlawanan dengan perilaku yang suka melawan ini, saya sangat senang bahwa sesungguhnya Dia tidak pernah menyerah. Saya sangat bersyukur Dia mengikuti saya dalam kebajikan dan kemurahan. satu-satunya motivasi yang mungkin adalah karena kasih-Nya sendiri, pemeliharaan dan kepedulian-Nya bagi saya sebagai salah satu domba-Nya. Dan meskipun saya ragu, walaupun saya khawatir dengan manajemen-Nya atas urusan -urusan saya, Dia tetap memilih saya dan menggendong saya lagi dalam kelembutan yang mengagumkan.

Saat saya melihat semua ini dalam retrospeksi, saya menyadari bahwa untuk orang yang benar-benar di dalam pemeliharaan Kristus, tak ada kesulitan yang dapat muncul, tak ada dilema yang timbul, tak ada hal yang tampak seperti bencana yang turun atas kehidupan, tanpa semuanya itu membawa kebaikan bagi kita pada akhirnya. Ini berarti, saya melihat kebajikan dan kemurahan Tuan saya dalam kehidupan saya. Itu menajdi fondasi yang kuat bagi iman dan keyakinan saya di dalam Dia.

Saya mengasihi Dia karena Dia lebih dahulu mengasihi saya.

Kebajikan, kemurahan serta belas kasihan-Nya kepada saya baru setiap hari. Dan keyakinan saya terletak dalam aspek-aspek karakter-Nya.

Kepercayaan saya terletak dalam aksih-Nya kepada saya sebagai Milik-Nya.

Ketentraman saya di dasari keyakinan penuh yang tak tergoyahkan terhadap kemampuan-Nya untuk melakukan hal yang benar, yang paling baik dalam setiap situasi.

Bagi saya ini adalah potert teragung dari Gembala Agung saya. Tanpa henti mengalir bagi saya kebajikan dan kemurahan-Nya , walaupun sebenarnya itu tak pantas saya terima; dan itu tak kunjung henti datang dari sumber persediaan---hati pengasih-Nya yang luar biasa.

Di sini terletak inti dari semua pekerjaan, semua penjagaan yang waspada, semua kecakapan, semua keprihatinan, segenap pengorbanan diri, lahir dari kasih-Nya--kasih dari dia yang mengasihi domba-domba-Nya, mengasihi pekerjaan-Nya, mengasihi peran-Nya sebagai Gembala.

"Akulah Gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi Domba-dombanya."

"Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita....."(1 Yohanes 3:16). Dengan melihat semua ini, apakah teapt untuk bertanya kepada diri saya sendiri, "Apakah aliran kebajikan dan kemurahan untuk saya berhenti dan stagnan dalam hidup saya? Tidak adakah cara untuk membuat aliran itu memberkati orang melalui diri saya?"
Ya, ada satu cara.​
Dan aspek ini adalah aspek yang dihindari oleh banyak dari kita.​
Ada aspek yang positif dan praktis di mana hidup saya pada waktunya harus menjadi kehidupan yang diikuti kebajikan dan kemurahan untuk kesejahteraan orang lain.

Sama seperti kebajikan dan kemurahan Tuhan mengalir bagi saya selama hari-hari hidup saya, begitulah kebajikan dan kemurahan seharusnya mengikuti saya, seharusnya saya tinggalkan di belakang saya sebagai warisan bagi orang lain kemanapun saya pergi.

Pantas dikatakan lagi disini bahwa domba, dengan manajemem yang salah, dapat menjadi ternak yang paling merusak. Dalam waktu singkat mereka dapat menghancurkan dan merusak lahan hingga tak mungkin di pulihkan lagi. Namun sebaliknya, disisi lain, mereka dapat menjadi ternak yang paling berguna jika diurus denagn benar.

Kotoran mereka adalah yang paling seimbang dari semua kotoran hewan peliharaan lainnya. Jika diserakkan secara efisien di padang rumput, kotoran domba terbukti sangat bermanfaat bagi tanah. Kebiasaan domba mencari gundukan tanah yang paling tinggi untuk beristirahat memastikan bahwa kesuburan dari tanah yang subur di bawahnya tersimpan kembali di dataran tinggi yang kurang produktif. Tak ada ternak yang mengosumsi begitu banyak jenis tumbuhan. Domba memakan semua jenis rumput liar dan tanaman lain yang tidak diinginkan, yang dapat tumbuh liar di padang. Contohnya, mereka menyukai kuncup dan pucuk yang lunak dari tumbuhan berduri Kanada, yang jika tidak dikendalikan dapat segera menjadi rumput liar yang paling berbahaya. Dalam beberapa tahun, sekawanan domba yang diurus dengan baik akan membersihkan dan memulihkan sebidang tanah yang rusak, hal yang tak dapat dilakukan ciptaan lain.

Dalam literatur kuno, domba disebut sebagai "hewan berkuku emas"---hanya karena mereka dianggap dan dihargai begitu tinggi karena efek mereka yang mengguntungkan bagi lahan.

Dalam pengalaman saya sendiri sebagai pternak domba, dalam beberapa tahun saya melihat dua tanah dengan produktivitas dan manfaat yang tinggi. Lebih dari itu, apa yang sebelumnya tampak sebagai pemandangan yang menyakitkan mata, menjadi lahan yang indah bagaikan taman yang mahal. Tempat yang tadinya gurun yang miskin dan menyedihkan kini menjadi ladang yang subur dan kaya berlimpahan.

Dengan kata lain, kebajikan dan kemurahan telah mengikuti kawanan domba saya. Mereka meninggalkan sesuatu yang pantas, produktif, indah , dan berguna bagi mereka sendiri, domba-domba lainnya, dan saya. Tanah yang mereka jalani akan menjadi tanah yang subur dan bebas dari rumput liar. Di tempat mereka tinggal masih ada keindahan dan kelimpahan.

Pertanyaannya sekarang datang kepada saya dengan tajam, "Apakah ini benar-benar hidup saya? Apakah saya meninggalkan berkat dan ucapan syukur di belakang saya?"

Sir Alfred Tennyson menulis dalam suatu puisi kalsiknya yang sangat bagus, "Orang baik tetap hidup sesudah dia mati."

Suatu waktu dua orang teman menginap beberapa hari di rumah kami sementara dalam perjalanan untuk suatu urusan di Timur. Mereka mengajak saya ikut. Setelah beberapa hari di jalan, salah seorang dari mereka kehilangan topinya. Ia yakin topinya tertinggal di rumah kami. Ia meminta saya menulis surat kepada Istri saya agar ia mencarikan topi itu dan bersedia mengirimkan kepada dia.

Surat balasan dari istri saya tidak pernah saya lupakan. Satu kalimat secara khusus berdampak sangat besar bagi saya. "Aku telah menyisir rumah dari alntai atas hingga bawah dan tidak dapat menemukan topi itu. Satu satunya yang ditinggalkan kedua orang itu adalah berkat yang besar!"
Inikah yang orang rasakan tentang saya?
Apakah saya meninggalkan jejak kesedihan atau kegembiraan di belakang saya?"​
Apakah ingatan tentang saya, di benak orang lain, terjalin dengan kemurahan dan kebajikan, atau apakah mereka akan lebih suka melupakan saya?

Apakah saya menyimpan berkat di belakang saya, atau apakah saya mengutuk orang lain? Apakah hidup saya menjadi kesukaan bagi orang lain, atau justru kepedihan?

Dalam Yesaya 52:7 kita membaca, "Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat...."

Kadang-kadang berguna juga menanyakan kapada diri kita sendiri pertanyaan-pertanyaan yang sederhana seprti:
"Apakah saya meninggalkan damai sejahtera dalam hidup ini---atau gejolak?"
"Apakah saya meninggalkan pengampunan---atau kepahitan?"​
"Apakah saya meninggalkan kepuasan ---atau konflik?"

"Apakah saya meninggalkan bunga-bunga sukacita atau frustasi?"

"Apakah saya meninggalkan kekacauan yang di sesali kemanapun mereka pergi dan mereka lebih senang menutupi jejak mereka.

Bagi anak Tuhan yang sejati, yang berada dalam pemeliharaan Sang Gembala, seharusnya tidak pernah ada rasa malu atau takut untuk kembali ke tempat yang pernah mereka kenal atau tinnggali sebelumnya. Mengapa? Karena di sana mereka meninggalkan warisan yang meninggikan, menguatkan, dan memberi inspirasi bagi orang lain.

Di Afrika, di amna saya menghabiskan banyak tahun, salah satu tanda terbesar yang ditinggalkan David Livingstone. Tak peduli jejaknya melalui semak belukar dan dataran di benua yang luas itu, dampak kasihnya tetap ada. Orang-orang pribumi yang abhasanya tak pernah ia pelajari, nertahun-tahun kemudian mengenang dia sebagai dokter yang baik hati dan lemah lembut, dan memang belas kasihan mengikuti sepanjang hari hari dalam hidupnya.

Masih jelas dalam ingatan saya kenangan semasa kecil ketika diceritakan kisah-kisah pertama tenatng Yesus Kristus sebagai manusia di antara kita. Hidup-Nya disimpulkan dalam suatu pernaytaan yang sederhana, singkat, namun sangat dalam, "Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik." Seolah-olah inilah hal yang paling mulia, agung, dan penting yang dapat Dia lakukan dalam umur-Nya yang pendek.

Namun, saya juga sangat terkesan dengan fakta bahwa tindakan-Nya yang baik dan ramah selalu berbaur dengan belas kasihan. Meskipun begitu sering manusia lain kejam dan kasar serta mendendam satu sama lain, belas aksihan dan kelemah lembutan-Nya selalu dapat terlihat. Bahkan para pendosa yang paling mencolok menemukan pengampunna pada-Nya, sementara di tangan sesama manusia, mereka hanya mendapatkan tuduhan, kecaman, dan kritik yang kejam.

Dan sekali lagi saya harus bertanya kepada diri sendiri: "Inikah sikap saya kepada orang lain? Apakah saya duduk beralaskan kesombingan diri dan memandang denagn jijik kepada sesama saya, atau apkah saya turun dan menyamakan diri denagn mereka dalam dilema mereka, dan dari sana mengulurkan sedikit kebajikan dan kemurahan yang telah di berikan kepada saya oleh Tuan saya?"

"Apakah saya melihat orang-orang berdosa dengan beals kasihan Kristsu atau dengan mata mengecam yang Kritis?"

"Apakah saya bersedia mengabaikan kesalahan dan kelemahan orang lain dan memberikan penagmpunan karena Tuhan adalah, sejauh amna saya, pada gilirannya, siap menunjukkan kebajikan dan kemurahan kepada orang lain.

Jika saya tidak mampu mengampuni dan menawarkan persahabatan kepada para lelaki dan perempuan yang jatuh, maka sudah pasti saya hanya tahu sedikit atau tidak tahu sama sekali arti praktis dari kebajikan dan kemurahan Tuhan bagi saya.

Kekuranagn kasih di antara orang Kristen inilah yang kini menjadikan gereja sebagai lembaga yang hambar dan suam-suam kuku. Orang-orang datang mencari kasih dan mundur karena kesuaman kita.

Namun, laki-laki dan perempuan yang mengenal langsung kebajikan dan kemurahan Tuhan dalam hidup mereka, akan hangat dan bergairah dengan kebajikan dan kemurahan kepada orang lain. Ini adalah keuntungan bagi mereka, namun yang sama pentingnya, ini berarti menjadi berkat Tuhan.
Ya, berkat bagi Tuhan!"
Kebanyakan dari kita berfikir Tuhan dapat membawa berkat bagi kita. kehidupan Kristiani bersifat dua arah.​

Tak ada yang lebih menyenangkan saya daripada melihat kawanan Domba saya tumbuh besar dan berkembang biak. Hal itu menggembirakan saya secara pribadi sehingga tanpa henti saya merasa mendapat imbalan untuk perawatan yang saya berikan kepada mereka. Melihat mereka puas sangat menyenangkan. Melihat padang menjadi subur adalah hal indah . Dan kedua-duanya menjadikan saya orang yang bahagia. Hal itu memprkaya hidup saya sendiri; itu adalah upah bagi jerih payah dan tenaga saya. Dalam pengalaman ini saya menerima imbalan penuh untuk semua yang telah saya kerahkan dalam upaya ini.

Kebanyakan dari kita luap bahwa Gembala kita sedang mencari kepuasan juga. Kita diberitahukan bahwa Dia menantikan hasil kerja keras jiwa-Nya dan dipuaskan.

Inilah keuntungan yang dapat kita bawa kepada-Nya.

Dia memandang hidup saya dengan lembut, sebab Dia mengasihi saya secara mendalam. Dia melihat tahun-tahun yang panjang di amna kebajikan dan kemurahan-Nya mengikuti saya tanpa kendur. Dia rindu melihat ukuran kebajikan dan kemurahan yang sama tidak hanya diterusakn kepada orang lain oleh saya tetapi juga dikembalikan kepada-Nya dengan sukacita.

Dia merindukan kasih---ya....kasih saya.

Dan saya mengasihi Dia---hanya dan hanya karena Dia lebih dahulu mengasihi saya.

Lalu Dia dipuaskan.​
 
12

""Aku akan Diam dalam
Rumah Tuhan
Sepanjang Masa."


Mazmur ini dibuka dengan kalimat kebanggan dan penuh sukacita, "Tuhan adalah Gembalaku.
Inilah seekor domba yang begitu puas dengan tempatnya dalam kehidupan, begitu puas dengan pemeliharaan yang diterimanya, dan dia begitu "betah" dengan gembalanya sehingga tidak sedikit pun mengginginkan suatu perubahan.​

Jika diucapkan dalam bahasa peternakan yang sederhana, langsung, dan agak kasar, kalimat ini akan terdengar seperti ini "Tak ada yang bisa membuat saya pergi dari kawanan ini---ini sangat baik!"

Sebaiknya, di pihak gembala, berkembanglah kasih sayang dan pengabdian terhadap domba-dombanya. Ia tidak akan pernah merencanakan untuk berpisah denagn mereka. Domba yang sehat, puas dan produktif adalah kegembiraan dan keuntungannya. Kini ikatan di antara mereka begitu kuat sehingga ikatan itu benar-benar bersifat kekal.

Kata rumah yang dipakai disini dalam puisi ini memiliki makna lebih luas daripada yang dapat dibayangkan kebnayakan orang. Biasanya kita berbicara tenatng rumah Tuhan sebagai suatu mezbah atau gereja atau tempat pertemuan umat Tuhan. Dalam suatu hal maksud Daud mungkin memang ini. Dan, tentulah menyenangkan berpikir bahwa seseorang selalu senang berada di rumah Tuhan.

Namun harus selalu diingat bahwa pemazmur menulis dari sudut pandang seekor domba, yang sedang merenungkan dan mengisahkan putaran penuh dari aktivitas tahunan kawanan domba.

Ia membawa kita dari padang rumput yang hijau dan air yang tenang di rumah peternakan, melewati gunung untuk samapi ke padang penggembalaan musim panas di ketinggian .
Musim gugur datang bersama badai dan hujan serta hujan es dan saljunya yang memaksa domba-domba turun kekaki bukit dan kembali ke rumah peternakan untuk musim dingin yang lama dan tenang. Pada hakikatnya ini adalah kembali ke ladang, padang gembalaan, lumbung, tempat berteduh di rumah sang pemilik. Dalam semua musim selama setahun, dengan segala macam ancaman bahaya dan gangguannya, kewaspadaan, pemeliharaan, serta manajemen energik dari gembalalah yang menyelamatkan domba-domba itu secara memuaskan.

Dengan perasaan yang indah berupa ketenangan dan kepuasanlah pernyataan, "Aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa", dibuat.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan "Rumah" adalah keluarga atau rumah tangga atau kawanan dari Sang Gembala yang baik.

Domba-domba sangat puas dengan kawanannya, denagn kepemilikannya, sehingga tak ingin mengubah apapun.

Seolah-olah domba akhirnya pulang ke rumah lagi dan kini berdiri di pagar, bermegah di hadapan domba-domba tetangga yang kurang beruntung di seberang sana. Ia membanggakan tahun-tahun yang telah ia lalui dan kepercayaan penuhnya kepada pemiliknya.

Kadang-kadang saya merasa behwa kita sebagai orang kristen seharusnya seperti ini. Kita seharusnya bangga menjadi milik Kristus. Mengapa kita tidak boleh merasa bebas bermegah dihadapan domba-domba tetangganya yang kurang beruntung di seberang sana. Ia membanggakan tahun-tahun yang telah ia lalui dan kepercayaan penuhnya kepada pemiliknya.

Kadang-kadang saya merasa bahwa kita sebagai orang Kristen seharusnya seperti ini. Kita seharusnya bangga menjadi milik Kristus. Mengapa kita tidak boleh merasa bebas bermegah kepada orang lain tentang betapa baiknya Gembala kita? Betapa seharusnya kita senang menoleh ke belakang dan mengingat semua cara menakjubkan di mana Dia menyediakan bagi kesjahteraan kita. Kita seharusnya senang menguraikan secara rinci pengalaman sukar di mana Dia menuntun kita. Dan kita seharusnya tak sabar dan segera mengatakan keyakinan kita di dalam Kristus. Kita harus berani menyatakan tanpa takut-takut bahwa kita senang menjadi milikNya. Dengan kepuasan dan ketentraman hidup, kita seharusnya menunjukkan keuntungan berbeda sebagai anggota "keluarga"-Nya, dan menjadi kawanan domba-Nya.

Saya tak pernah dapat merenungkan kalimat terakhir dalam Mazmur ini tanpa menggali kenangan dari adegan-adegan kuat dalam hari-hari awal saya sebagai peternak domba.

Saat musim dingin tiba dengan hujannya yang dingin dan angin yang membekukan, domba-domba tetangga saya yang sakit akan berdiri berkelompok di pagar, membelakangi badai, menghadap ke lahan yang subur tempat domba-domba saya bertumbuh. Mahkluk-mahkluk yang malang, disiksa, diabaikan dan terlantar ini berada dalam kepemilikan seorang peternak yang kejam, dan mereka hanya mengenal penderitaan hampir sepanjang tahun. Bersama mereka ada kelaparan yang mengerogoti selama musim panas. Mereka kurus dan sakit karena penyakit, kudis dan parasit. Disiksa oleh lalat dan diserang berbagai pemangsa membuat bebrapa di antara mereka sangat lemah, kurus, dan menyedihkan sehingga kaki mereka yang kurus nayris tak mampu menopang tubuh mereka.

Dimata mereka selalu tampak harapan yang tipis dan redup bahwa mungkin dengan sedikit keberuntungan mereka dapat menerobos pagar atau merangkak melalui lubang untuk membebaskan diri mereka. Sesekali ini biasa terjadi, terutama sekitar natal. Inilah saat surut yang ekstrem ketika laut mundur jauh dari ujung garis pagar yang menjorok ke sana. Domba-domba tetangga yang kurus, tidak puas dan kelaparan akan menunggu hal ini terjadi. Kemudian pada kesempatan pertama mereka akan turun ke pantai yang sedang surut meluncur mengitari ujung pagar, dan menyelinap masuk untuk melahap rumput hijau yang subur.

Kondisi mereka sungguh menyedihkan dan mengenaskan sehingga pesta makanan yang subur secara mendadak, yang tidak biasa mereka makan, seering kali menjadi bencana. Sistem pencernaan mereka mulai kacau, dan terkadang ini mengakibatkan kematian. Saya masih ingat betul, saya pernah menemukan tiga ekor domba betina tetangga saya terbaring tanpa daya di bawah pohon cemara di dekat pagar, pada suatu hari yang gerimis. Mereka seprti tiga karung tua abu-abu yang basah kuyup dan tidak bergerak, yang jatuh bertumpuk-tumpuk. Bahkan kaki mereka yang sangat kurus tak mampu lagi menopang mereka.

Betapa itu merupakan gambaran setan yang memegang kepemilikan atas begitu banyak orang.

Saat itu, kisah yang jelas yang Yesus gambarkan tentang diri-Nya sendiri sebagai pintu dan jalan masuk yang dilalui domba untuk masuk ke kandang-Nya, melintas di pikiran saya.

Domba-domba malang itu tidak masuk ke peternakan saya melalui pintu yang benar. Saya tidak pernah membiarkan mereka masuk.

Mereka tidak pernah benar-benar menjadi milik saya. Mereka tidak berada di bawah kepemilikan atau kendali saya. Jika mereka milik saya, mereka tidak akan semalang itu. Bahkan, jika sejak awal mereka berada di bawah manajemen saya mereka pasti akan menadapatkan perawatan yang sangat istimewa.

Pertama, mereka akan diberi makanan kering yang terbatas jumlahnya, kemudian mereka pelan-pelan akan diizinkan untuk memakan makanan hijau sampai mereka terbiasa dengan makanan dan gaya hidup yang baru.

Dengan jalan pintas, mereka berusaha masuk sendiri. Ini hanya mendatangkan bencana. Yang membuat hal ini semakin meyedihkan adalah bahwa mereka akhirnya mati. Di peternakan yang lama, memang mereka akan mati kelaparan pada musim dingin.

Begitulah yang terjadi dengan orang-orang yang terpisah dari Kristus. Dunia yang lama adalah peternakan yang sangat buruk, dan setan adalah pemilik yang bengis. Ia tidak peduli sedikit pun pada jiwa atau kesejahteraan manusia. Dibawah tiraninya ada ratusan hati yang lapar dan tidak puas, yang rindu memasuki rumah Tuhan---yang merindukan pemeliharaan dan kepedulian-Nya.

Namun, hanya ada satu jalan untuk masuk ke dalam kandang ini. Jalan itu adalah melalui Sang Pemilik, Kristus sendiri---Sang gembala yang baik. Dia denagn berani mengumumkan, "Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput"(Yohanes 10:9).

Hampir setiap hari saya benar-benar berteman denagn laki-laki dan perempuan "di seberang pagar." Apa dampaknya pada mereka? Apakah hidup saya begitu tentram, begitu memuaskan, begitu bersinar karena saya berjalan, berbicara, dan hidup bersama Tuhan, sehingga mereka menjadi iri? Apakah mereka melihat dalam diri saya keuntungan karena berada di bawah kendali Kristus? Apakah mereka melihat sesuatu yang tenang Dia tercermin dalam perilaku dan karakter saya? Apakah hidup dan perakataan saya menuntun mereka kepada Dia---dan dengan demikian, ke dalam hidup yang kekal?

Kalau ya, amat saya yakin sebagian di anatara mereka juga rindu untuk tinggal di rumah Tuhan selamanya. dan tidak ada alasan mengapa hal ini tidak dapat terjadi jika mereka berada di kepemilikan-Nya yang benar.

Ada satu perasaan lain yang indah dan menentukan di mana Pemazmur berbicara sebagai seekor domba. Ini dikemukakan dalam perjanjian Lama terjemahan Amplified di mana makna kalimat terakhir ini adalah, "Aku akan tinggal di hadirat Tuhan selamanya".

Keyakinan pribadi saya adalah bahwa ini merupakan perasaan yang paling signifikan di hati Daud ketika ia mengakhiri kidung pujiannya dengan ketekunan Ilahi.

Kita tidak hanya mendapat ide tentang gembala yang selalu hadir, namun juga konsep bahwa domba ingin sepenuhnya dilihat oleh pemiliknya setiap waktu.

Tema ini terbentang di seluruh penelitian kami. Kewaspadaan, kesadaran, dan kerajinan dari Tuan yang tak pernah lelah, yang ia sendiri memastikan perawatan yang terbaik bagi domba-dombanya. Dan dari sudut pandang seekor domba, diketahui bahwa sang gembala hadir; ini adalah kesadaran terus menerus tentang kehadirannya di dekat domba-domba, yang secara otomatis menghilangkan sebagian besar kesulitan dan bahaya sementara, pada saat yang sama, memberi perasaan aman dan tentram.

Kehadiran si pemilik dombalah yang menjamin tidak akan ada kekurangan apa pun; bahwa akan ada padang rumput hijau yang melimpah; bahwa akan ada air yang tenang dan jernih; bahwa akan ada jalan baru ke lahan yang segar, bahwa akan ada musim panas di padang rumput di dataran tinggi; bahwa akan ada kebebasan dari rasa takut; bahwa akan ada penagkal lalat; penaykit, parasit; bahwa akan ada ketenangan dan kepuasan.

Dalam kehidupan dan pengalaman kristiani kita, beralku ide dan prinsip yang persis sama. Sebab ketika semua perkataan dan perbuatan didasari topik perjalanan Kristen yang berhasil, maka hal itu dapat disimpulkan dalam satu kalimat, "Hidup yang selalu menyadari hadirat Tuhan."

Ada kesadaran batiniah, yang bisa sangat berbeda dan sangat nayta mengenai kehadiran Kristus dalam hidup saya, yang diwujudkan oleh Roh kudus-Nya yang rahamni di dalam diri saya. Dialah yang berbicara kepada kita dengan cara yang khas dan pasti mengenai perilaku kita. Di pihak kita sendiri, kita haruslah peka dan tanggap terhadap suara batin itu.

Mungkin ada kesadaran yang biasa mengenai Kristus di dalam saya, yang memberdayakan saya untuk menjalani kehidupan yang mulia dan mempeeroleh upah yang besar dalam kerja sama dengan Dia. Saat saya merespon Dia dan bergerak selaras dengan harapan-Nya, saya mendapati bahwa hidup ini sungguh menjadi hidup yang memuaskan dan berarti. Diperolehnya ketenangan yang besar dan terciptanay petualangan kepuasan yang menyenagkan saat saya membairkan Roh-Nya yang rahmani mengendalikan, mengatur dan mengarahkan keputusan saya sehari-hari. Sebenarnya, saya harus dengan sengaja meminta arahan-nya, bahkan dalam hal yang sepele.

Kemudian ada kesadaran yang lebih luas namun sama menggetarkannya, bahwa Tuhan ada di dekat saya. Saya hidup dikelilingi oleh hadirat-Nya. Saya orang yang terbuka, ya..... individu yang terbuka, dan hidup saya terbuka untuk Dia selidiki. Dia waspadai denagn semua keadaan yang saya hadapi. Dia merawat saya dengan penuh perhatian dan hati-hati karena saya adalah milik-Nya. Dan ini akan berlanjut terus sampai kekal. suatu jaminan yang luar biasa!

Saya akan tinggal dalam hadirat (Dalam pemeliharaan) Tuhan selama-lamanya.

Terpujilah nama-Nya.​
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.