• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

7 Ragam Ritual Tolak Bala di Nusantara

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
7 Ragam Ritual Tolak Bala di Nusantara


Cangkeman.net -Wilayah Nusantara yg membentang dari Sabang hingga Merauke diketahui kaya akan berbagai warisan budaya, baik berupa warisan benda (tangible) maupun warisan tak benda (intangible). Warisan budaya tersebut mencakup hampir semua sendi kehidupan kita, mulai yg bersifat ekonomis, sosial kemasyarakatan, seni, hingga spiritual.

Dalam hal spiritualitas, leluhur kita sudah memiliki khazanah yg unik. Salah satu wujudnya adalah adanya aneka ragam ritual tolak bala. Secara harfiah, bala berarti musibah atau bencana. Jadi tolak bala mengandung makna (ritual) untuk menolak segala musibah & bencana.

Ritual tolak bala sendiri ada yg dapat dilakukan secara personal, ada pula yg dilakukan secara komunal (berkelompok). Yang bersifat pribadi misalnya: nyengkalani, puasa weton, menciptakan dhiang, & menembangkan kidung tolak bala. Sedangkan yg dilakukan secara berkelompok misalnya: kenduren, ruwatan massal, sedekah bumi, sedekah laut, suran, dll.

Pada awal-awal masa pandemi Covid-19 sekira 3 tahun yg lalu, banyak kalangan masyarakat yg merasa perlu untuk kembali kepadalocal wisdomNusantara. Masyarakat di perkampungan mulai rutin menyalakan dhiang menjelang malam. Memasuki bulan sura, masyarakat (terutama di Jawa) melaksanakan ritual suran sebagai upaya untuk membendung bala berupa wabah corona.

Bentuk selamatan tolak bala tersebut bermacam-macam. Masing-masing daerah di Indonesia memiliki ragam budayanya sendiri. Ada beberapa yg memiliki kemiripan, ada pula yg berbeda sama sekali dari yg lain. Berikut ini 7 ragam di antaranya:
1. Kenduri

7 Ragam Ritual Tolak Bala di Nusantara

Kenduri merupakan bentuk selamatan tolak bala yg paling populer di Indonesia. Masyarakat Melayu menyebutnya kendurai. Di daerah Jawa Barat & Jakarta diketahui dengan sebutan kenduri. Sedangkan masyarakat Jawa Tengah & Jawa Timur menyebutnya Kenduren.

Dalam ritual ini, masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama. Dalam berdoa biasanya dipimpin oleh seorang tetua adat, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Lazimnya ritual ini dilakukan di punden atau petren desa



2. Mantu Kucing

7 Ragam Ritual Tolak Bala di Nusantara

Mungkin ritual mantu kucing (menikahkan kucing) ini terdengar asing di telinga karena kalah populer dibanding ritual-ritual lain. Apalagi bagi jomblowan-jomblowati Nusantara, pasti terasa aneh. Kucing saja ada yg dinikahkan, masak mereka enggakups.

Ritual mantu kucing ini dilakukan oleh masyarakat di beberapa daerah Jawa Tengah & Jawa Timur. Dalam ritual ini masyarakat menyelenggarakan perkawinan kucing yg biasanya dilakukan di sumber air kampung. Harapannya supaya dijauhkan dari bencana kekeringan


3. Rebo Wekasan

7 Ragam Ritual Tolak Bala di Nusantara


Ritual Rebo Wekasan merupakan wujud sinkretisme yg unik di Nusantara. Adat ini berasal dari ajaran agama Islam yg mempercayai bahwa hari Rabu terakhir di bulan Sela merupakan hari baik untuk melangitkan doa & harapan. Kepercayaan tersebut dikombinasikan dengan kebiasaan selamatan masyarakat lokal hingga memunculkan ritual ini.

Ritual ini diketahui oleh masyarakat yg tinggal di Sumatera, Jawa, hingga beberapa Nusa Tenggara. Acara selamatannya sendiri tidak jauh berbeda dengan Kenduri yg intinya adalah berdoa & makan bersama. Yang membedakan adalah adanya lontong raksasa di setiap ritual Rebo Wekasan.


4. Ruwat Bumi

7 Ragam Ritual Tolak Bala di Nusantara

Ruwat bumi diketahui oleh hampir semua lapisan masyarakat di Pulau Jawa. Ritual ini biasanya dilakukan setahun sekali, kebanyakan di bulan Sura (meskipun tidak harus di bulan Sura). Ruwat bumi rutin dilaksanakan oleh masyarakat Jawa dengan asa supaya manusia & bumi dapat saling menjaga. Dengan begitu diharapkan segala bencana alam tidak akan terjadi.


5. Sedekah Laut

7 Ragam Ritual Tolak Bala di Nusantara

Hampir sama dengan ruwat bumi, sedekah laut dilakukan rutin setahun sekali dengan asa supaya manusia & laut dapat bersahabat & saling menjaga. Ritual sedekah laut ini diketahui oleh hampir semua masyarakat pesisir di Nusantara. Umumnya acara puncak ditandai dengan melarung (menghanyutkan) sesaji ke tengah laut.


6.Mekotek

7 Ragam Ritual Tolak Bala di Nusantara

Ritual mekotek cuma dilakukan oleh masyarakat adat di Mengwi, Kabupaten Badung. Lumrahnya dilaksanakan 6 bulan sekali (per 210 hari menurut penanggalan Bali). Dalam ritual ini para warga akan membentuk kerucut dari tongkat kayu sepanjang 2-3 meter di beberapa titik kampung. Kemudian seseorang akan berusaha memanjat ke puncak kerucut tersebut.

Pada puncak acara, seluruh warga akan berkumpul di sumber air untuk mendapatkan tirta suci yg sudah didoakan oleh pemuka adat. Mekotek ini dilakukan dengan asa supaya seluruh warga dihindarkan dari bencana wabah penyakit.


7. Suran

7 Ragam Ritual Tolak Bala di Nusantara

Ritual Suran diketahui oleh hampir semua masyarakat yg tinggal di Pulau Jawa. Hanya ragam ritualnya memiliki beberapa detail yg berbeda di setiap daerahnya. Yang pasti ritual suran cuma dilakukan setahun sekali pada bulan Sura.

Yang paling populer tentu saja ritual Suran yg dilakukan di Kraton Jogyakarta & Surakarta. Ritual Suran di kedua kraton tersebut masih jadi acuan pelaksanaan ritual di berbagai daerah. Ritual ini dilakukan dengan asa supaya seluruh wilayah beserta warganya terhindar dari segala bencana.

Itulah beberapa ritual tolak bala yg lazim dilakukan secara komunal di Indonesia. Lalu bagaimana kalau ada sobat Cangkeman di kota akbar yg sudah tidak familiar dengan ritual komunal? Jangan kuatir, Sampeyan dapat mengerjakan ritual personal dengan menembangkan pangkur tolak bala berikut ini:
Singgah-singgah kala singgah (menyingkirlah kala..)
Pan suminggah durgakala sumingkir (menyingkirlah segala macam wabah)
Sing asirah sing asuku (wabah yg tak berkepala tak berkaki)
Sing datan kasat mata (wabah yg tak tampak oleh mata)
Sing atenggak sing awulu sing abahu (wabah yg tak berleher tak berbulu tak berpundak)
Kabeh padha sumingkira (semuanya menyingkirlah)
Ing telenging jalanidhi (menyingkir ke tengah samudra)



Catatan: Materi ini pernah dihinggakan dalam kegiatan Nguri-uri Budhaya Nusantara di SD Mafaza Integrated Smart School Malang pada 25 Agustus 2021.


Tulisan ini ditulis oleh Rois Pakne Sekar diCangkemanpada tanggal 9 April 2022.
Hari ini 15:38
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.