• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

7 Gejala Baru Pada Penderita Terinfeksi Covid-19

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
7 Gejala Baru Pada Penderita Terinfeksi Covid-19

Beritajempolan.com- Gejala biasa infeksi Corona Virus atau Covid-19 sudah banyak diketahui masyarakat. Contohnya seperti munculnya batuk kering, demam, sesak napas, sakit otot, sakit tenggorokan, hingga kehilangan kemampuan indra penciuman.
Tidak cuma itu, ada pula gejala dalam bentuk ruam kulit yg aneh, tanda dari kuku kaki,bahkan konjungtivis atau mata merah.

7 Gejala Baru Pada Penderita Terinfeksi Covid-19


Namun, ada sejumlah gejala yg baru saja terungkap belakangan ini. Munculnya gejala baru iniberdasarkan hasil penelitian & pengalaman para dokter yg menangani kasus tersebut.


Melakukan pemeriksaan & mencari bantuan profesional memang merupakan langkah yg paling tepat ketika merasakan gejala yg mengganggu.
1. Silent Hypoxia
Gejala aneh ini bahkan mengejutkan bagi beberapa dokter yg sudah berpengalaman puluhan tahun. Gejala ini menciptakan pasien menderita infeksi paru-paru kronis, dengan tingkat oksigen yg sangat rendah. Namun, tidak ada masalah pernapasan sama sekali.

Dalam sebuah opini yg ditulis untuk New York Times, Richard Levitan, MD, menjelaskan lebih dalam tentang hal ini. Dia mengatakan, kebanyakan pasien dengan kondisi tersebut dilaporkan sakit selama seminggu atau lebih dengan gejala demam, batuk, sakit perut & kelelahan, tetapi napas mereka jadi pendek di hari mereka datang ke rumah sakit.

Pneumonia mereka jelas sudah berlangsung selama berhari-hari, tetapi saat mereka merasa harus pergi ke rumah sakit, mereka seringkali sudah dalam kondisi kritis, ungkap dia.

2. Pembekuan Darah & Stroke

Salah satu gejala Covif-19 yg terkadang mematikan berkaitan dengan pembekuan darah yg tidak normal.

Ahli radiologi intervensi Yale Medicine yg berspesialisasi dalam prosedur jantung yg dipandu gambar, Hamid Mojibian, MD memberikan penjelasannya.

Dia mengatakan, otopsi pasien Covid-19 menunjukkan mikroemboli (gumpalan kecil) di berbagai organ yg menjelaskan beberapa disfungsi organ pada pasien.

Pasien Covid-19 memiliki risiko lebih tinggi untuk membentuk gumpalan darah arteri yg dapat sangat berbahaya, mengatakan dia.

Namun, tingkat berbahayanya bergantung pada di mana gumpalan terbentuk atau bermigrasi.

Semua organ dalam tubuh kita bergantung pada darah yg dibawa melalui sistem arteri untuk berfungsi dengan benar. Setiap gangguan suplai darah dapat mengakibatkan konsekuensi yg parah, tambah Mojibian.

Ada sejumlah laporan pembekuan terjadi di aorta, arteri ginjal (menyebabkan infark ginjal), & tungkai (menyebabkan kaki hitam & gangren).

Namun, yg paling merusak adalah gumpalan di pembuluh darah otak yg dapat menyebabkan stroke, bahkan pada orang yg lebih muda.

3. Penyakit Mirip Sindrom Kawasaki

Pada 6 Mei lalu, otoritas negara bagian New York mengeluarkan peringatan yg menjelaskan bahwa ada 64 anak di negara bagian tersebut dirawat di rumah sakit dengan kondisi aneh.

Para dokter menggambarkan kondisi mereka seperti sindrom inflamasi multisistem pediatrik.

Secara klinis menyerupai proses inflamasi masa kanak-kanak lainnya, penyakit kawasaki. Demikian diungkapkan profesor pediatri sekaligus dokter penyakit menular pediatrik dari Yale School of Medicine, Thomas Murray, MD.

Contoh gejala yg harus diwaspadai orangtua antara lain demam tinggi yg berkepanjangan, mata merah, ruam, nyeri otot, muntah, & diare.

Biasanya, kondisi ini terjadi beberapa hari setelah infeksi awal.

4. Masalah Pencernaan

Penelitian baru mengklaim, banyak pasien Covid-19 mungkin tidak mengalami gejala pernapasan sama sekali, pasien malah menderita gejala gastrointestinal seperti diare, mual, & muntah.

Sementara penelitian awal menemukan, kurang dari empat persen pasien Covid-19 memiliki gejala gastrointestinal.

Lalu, sejumlah penelitian yg lebih baru menemukan angka itu mendekati 11 persen, sementara beberapa penelitian lain mengklaim angkanya dapat mencapai 60 persen.

5. Kebingungan Parah

Kelelahan adalah gejala biasa Covid-19, tetapi pada beberapa orang khususnya lansia, dilaporkan pula sejumlah gejala baru seperti disorientasi & kebingungan parah.

Dalam pedoman klinis yg diterbitkan The University of Lausanne Hospital di Revue Medicale Suisse, disebut, kondisi tersebut dapat menyertai demam & masalah pencernaan.

Joseph R. Berger, profesor neurologi di Rumah Sakit Universitas Pennsylvania, meyakini, gejala kejiwaan ini mungkin disebabkan oleh silent hypoxia yg dijelaskan di atas.

Kondisi itu adalah kekurangan oksigen di otak karena rendahnya kadar dalam darah.

Otak tidak dapat menahan tingkat oksigen yg rendah. Ketika otak tidak mendapatkan cukup oksigen, pasien akan menderita hipoksia, yg pada akhirnya dapat mengubah cara berpikir mereka, mengatakan Berger kepada Inquirer.

6. Lemah & Dehidrasi

Direktur medis dari Ruth and Harry Roman Emergency Department di Cedars-Sinai Medical Center, Dr. Sam Torbati, memaparkan tentang kondisi ini. Dia menjelaskan, manula yg dirawat awalnya tampak seperti pasien trauma tetapi belakangan ditemukan mengidap Covid-19.

Menurut dia, mereka jadi lemah & dehidrasi. Ketika mereka berdiri untuk berjalan, mereka pingsan & itu menciptakan mereka mengalami luka parah. Torbati melihat orang dewasa yg lebih tua terlihat sangat bingung & tidak dapat berbicara, yg pada awalnya tampak seperti menderita stroke.

Ketika kami mengujinya, kami menemukan apa yg menyebabkan perubahan ini adalah efek sistem saraf pusat dari virus corona, mengatakan dia kepada CNN.

7. Gejala Berlanjut

Menurut WHO, kebanyakan orang dengan kasus Covid-19 ringan akan pulih dalam dua minggu, sementara infeksi yg lebih parah membutuhkan waktu 3-6 pekan untuk mereda.

Namun, menurut laporan baru dari New York, ada beberapa orang melewati batas 30 hari tersebut & masih melaporkan gejala Covid-19, terhitung sejak dites negatif.

Kerri Noeth, wanita yg sudah memasuki hari ke-36 infeksi, mengatakan kepada ABC7NY, dia pernah ke UGD dua kali sejak tanda 14 hari dengan gejala berkelanjutan masih saja ada. Termasuk rasa terbakar & kesemutan di dada & lehernya disertai dengan hot flash.

Ada pula Susan Silverman, yg pada hari ke-38 masih menderita kehilangan indra & penciuman, sakit lengan & vertigo, meskipun semua gejala tersebut tidak cuma berkaitan dengan Covid-19.

Berbagai gejala yg tersisa, khususnya jantung berdebar-debar, & ketidaknyamanan yg luar biasa di dada & tulang rusuk saya, mengatakan Silverman.

Yang harus dilakukan

Jika kita merasakan gejala-gejala tersebut, atau bahkan gejala tradisional lain dari Covid-19, Pusat Pengendalian & Pencegahan Penyakit (CDC) menyarankan untuk segera hubungi profesional medis, terutana dirasa ada risiko tinggi.

Mereka yg memiliki risiko tinggi menderita penyakit dari Covid-19 adalah:

Usia di atas 65 tahun.
Orang yg tinggal di panti jompo atau fasilitas perawatan jangka panjang.
Orang yg memiliki penyakit paru-paru kronis atau asma sedang hingga berat, kondisi jantung yg serius, memiliki berat badan berlebih atau obesitas, & memiliki diabetes.

Juga mereka yg memiliki penyakit ginjal kronis & sedang menjalani dialisis, atau memiliki penyakit hati.


Hari ini 11:16
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.