yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Jumlah penderita HIVAIDS di Surabaya masih saja tinggi. Penderita didominasi usia produktif, yakni 20-39 tahun. Tak tanggungtanggung, jumlah penderita usia produktif mencapai 62,7%.
Penyebab utama penjangkitan virus paling mematikan ini karena hubungan seks bebas. Sementara penyebab kedua karena terlibat dalam pengunaan narkoba. Wakil Wali Kota (Wawali) Surabaya Bambang Dwi Hartono menuturkan, hubungan seks sebagai penyebab utama penularan HIV-AIDS menggeser pengguna narkoba suntik (penasun) yang sebelumnya mendominasi.
“Jadi sudah terjadi pergeseran cara penularan, lima sampai enam tahun lalu didominasi penasun, kini hubungan seks menempati urutan pertama penularan HIVAIDS,” ujar Bambang ketika ditemui di sela-sela forum penanggulangan HIV-AIDS dengan jajaran kepolisian dan LSM di Rumah Makan Agis kemarin. Mantan Ketua DPC PDIP Surabaya itu melanjutkan, dari keseluruhan temuan kasus HIVAIDS di Surabaya,62,7% diantaranya tergolong usia produktif, yakni 20 sampai 39 tahun.
Kondisi itu jelas situasi yang mengkhawatirkan karena dampaknya sangat luas. Efeknya kualitas hidup menurun dan produktifitas kerja terganggu.“ Belum lagi efeknya terhadap keluarga dan orangorang di sekitarnya,” jelas suami Dyah Katarina itu. Pemkot sendiri, katanya, bersama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) mengajak semua pihak untuk berperan aktif, termasuk aparat kepolisian, tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Sementara itu,Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Esty Martiana Rachmie menuturkan,temuan kasus HIVAIDS pada tahun 2011 sebanyak 811 kasus. Sebanyak 20% dari jumlah tersebut atau lebih tepatnya 161 penderita adalah pekerja seks komersial (PSK). Kalau ditotal,katanya,sejak 2007 hingga 2011 tercatat sebanyak 5.576 kasus HIV-AIDS terjadi di Surabaya.
Angka tersebut belum termasuk tahun 2012, hingga triwulan pertama sudah 287 orang dinyatakan positif mengidapvirusyangmenyerang sistem kekebalan tubuh ini. Selama ini penularan HIVAIDS menjadi persoalan serius yang membutuhkan pola penanganan yang tepat. Untuk itu, Pemkot Surabaya disamping mengalokasikan budget khusus untuk pencegahan dan penanganan orang dengan HIVAIDS (ODHA).
Pada 30-31 Mei lalu, telah dilaksanakan pelatihan penanggulangan HIVAIDS bagi staf kepolisian sektor se-Surabaya guna mengintegrasikan upaya menghadapi penasun yang mempunyai permasalahan hukum terkait dengan kejahatan narkoba maupun tindak pidana lainnya. “Diharapkan melalui forum ini,tercipta kesamaan persepsi dan komitmen pihak kepolisian terhadap upaya penanggulangan HIV-AIDS.Juga adanya dukungan akses layanin kesehatan bagi ODHA penasun yang berada di tahanan lapas maupun tahanan kepolisian,” jelas Esty.