Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
5 Faktor Penyebab Turunnya Harga Crypto Terkini - Penurunan harga Bitcoin & aset kripto yg berkelanjutan menimbulkan banyak pertanyaan & kekhawatiran.
Selain itu, Bitcoin sebelumnya sering disebut sebagai lindung nilai inflasi dengan jumlah terbatas cuma 21 juta koin. Lalu, mengapa harga crypto turun drastis sejak akhir tahun lalu?
Sejak harga Bitcoin melonjak di awal tahun 2021, jumlah investor Bitcoin & aset kripto di Indonesia terus meningkat. Data Bapebbti menunjukkan jumlah investor kripto di Indonesia sekitar 12 juta pada Februari 2022, naik dari 5,5 juta pada tahun sebelumnya.
Angka ini jauh melebihi jumlah investor saham tercatat sebesar 8,1 juta per Februari 2022. Harga Bitcoin yg naik dua kali lipat dari kisaran US$27.000 di akhir tahun 2020 jadi US$64.000 di pertengahan tahun 2021 jadi salah satu faktor yg memicu peningkatan jumlah investor kripto di Indonesia. Ditambah dengan munculnya berbagai proyek crypto termasuk token L1 seperti Cardano (ADA) yg nilainya melonjak jadi 2.600%, & juga token game seperti Axie yg meningkat jadi 4.600% pada pertengahan tahun 2021.
Meskipun sudah turun kembali ke kisaran 31.000 dolar AS pada pertengahan 2021, Bitcoin sekali lagi mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada November 2021 dengan harga mencapai 68.000 dolar AS.
Namun, sejak akhir November 2021, harga Bitcoin terus menurun. Pada awal Juni 2022, Bitcoin bergerak dalam kisaran harga US$30.000 atau sudah turun 40% dari level tertinggi sepanjang masa pada November 2021. Tidak cuma itu, seluruh kapitalisasi pasar kripto sudah turun jadi 1,22 triliun dolar AS. Berikut beberapa alasan mengapa harga crypto turun drastis kali ini.
Baca juga:
Aplikasi Saham Terbaik
Kebijakan The Fed Lawan Inflasi & Menaikkan Suku Bunga
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 4 Mei mengumumkan kenaikan suku kembang sebesar 50 basis poin, atau 0,5%. Ini adalah yg kedua dari tujuh penyesuaian yg diharapkan akan diumumkan tahun ini.
Pada bulan Maret, Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku kembang acuan sebesar 25 basis poin, atau 0,25%, yg merupakan kenaikan perdana sejak 2018.
Sejak pengumuman Fed untuk menaikkan suku bunga, pasar saham & kripto sudah dipenuhi reaksi campuran. Tekanan pada pasar ekuitas & kripto cukup kuat, dengan Bitcoin kehilangan sekitar -6,5% dari nilainya pada 7 Mei 2022, atau beberapa hari sejak pengumuman FOMC.
Bitcoin kehilangan sekitar -6,5% dari nilainya pada 7 Mei 2022, atau beberapa hari sejak pengumuman FOMC. Kemudian, pada 15 Juni, The Fed kembali menaikkan suku kembang acuannya sebesar 75 basis poin. Kenaikan suku kembang ini merupakan yg terbesar dalam 28 tahun terakhir.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka memutuskan untuk menaikkan kisaran target suku kembang danang federal ke kisaran 1,5% -1,75%.
Hal ini menunjukkan sikap agresif bunk Sentral AS untuk menjinakkan inflasi yg saat ini berada di level 8,6 persen. Setelah pengumuman The Fed, pasar saham & crypto bereaksi positif pada hari berikutnya.
Namun, BTC kemudian menurun & terus turun. Selama seminggu terakhir, BTC turun -29%, sementara ETH turun -31% pada saat penulisan (18 Juni 2022). Kapitalisasi pasar BTC sudah turun jadi 355 miliar dolar AS, & dominasinya sudah menurun hingga lebih dari 44%.
Korelasi yg Semakin Tinggi antara Kripto & Pasar Ekuitas
Pergerakan S&P 500 (biru), Nasdaq (hijau), Bitcoin (oranye), & Ethereum (ungu) selama 6 bulan terakhir.
Saat ini pasar crypto sangat berkorelasi dengan pasar ekuitas, khususnya NASDAQ. Oleh karena itu, pergerakan pasar ekuitas negatif menciptakan pasar crypto juga sensitif. Selama bertahun-tahun, Bitcoin dianggap sebagai lindung nilai kepada inflasi.
Namun, ini tidak akan terjadi pada 2022. Pada bulan Januari tahun ini, Bitcoin mencapai level tertingginya dengan S&P 500 & Nasdaq sejak 2020. Seiring dengan kenaikan suku kembang AS, aset yg dianggap berisiko & bergejolak seperti cryptocurrency & saham akan mulai dijual. tekanan lebih berat dari aset lainnya. Untuk saat ini, harga saham teknologi & crypto sudah jatuh bersamaan.
Kekhawatiran Akan Terjadinya Resesi
Kenaikan suku kembang menciptakan kredit lebih mahal & menolong mengatasi inflasi dari perspektif permintaan.
Namun, kenaikan suku kembang akan memicu resesi, karena kebijakan tersebut akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Keengganan kepada resesi ini adalah salah satu penyebab kelemahan pasar baru-baru ini, baik di saham maupun kripto.
Kekhawatiran tentang resesi akan mengakibatkan berkurangnya minat untuk berinvestasi di sektor-sektor yg dianggap berisiko tinggi, seperti saham & mata uang kripto.
Baca juga: Pintu Aplikasi Jual Beli Crypto Terpercaya di Indonesia
Kondisi Geopolitik (Rusia vs Ukraina)
Pada awal Juni 2022, bunk Dunia berharap untuk mencegah resesi memudar dengan perang yg sedang berlangsung di Ukraina. Perang di Ukraina menyebabkan krisis pangan & bahan bakar.
Kenaikan tajam harga sudah jadi akibat ekonomi paling langsung dari konflik Ukraina. Pada hari perdana pencaplokan Rusia vs Ukraina pada 24 Februari 2022, terjadi kepanikan di pasar & investor lebih dominan menghindari risiko dengan menjual aset berisiko seperti & cryptocurrency.
Bitcoin yg dianggap sebagai aset investasi berisiko mengalami penurunan harga yg signifikan & mencapai 34.000 dolar AS dari 40.000 dolar AS. Pada saat yg sama, saham global, sementara dolar, emas & harga minyak melonjak lebih tinggi karena investor berebut aset safe-haven.
LUNA & UST Crash
Mulai 7 Mei 2022, UST depeg atau tidak lagi sama nilainya dengan dolar AS, & akan turun jadi 0,06 dolar AS pada 13 Mei 2022. Akibatnya, token LUNA mengalami hiperinflasi dalam upaya menstabilkan harga.
Harga LUNA juga turun 100% ke level 0,0002 dollar AS. Tidak cuma didorong oleh keadaan makro & geopolitik, penurunan nilai Bitcoin & aset kripto lainnya juga disebabkan oleh berbagai keadaan di industri kripto itu sendiri.
Pada 13 Mei, stablecoin Terra, UST, yg dipatok pada 1:1 kepada dolar AS, anjlok jadi cuma 0,06 dolar AS. Kejadian Kementerian Agama, atau jatuhnya harga UST, berdampak pada turunnya harga LUNA, "protocol token" dari Terra yg berfungsi untuk menjaga nilai UST sebanding dengan dolar AS.
Mulai 13 Mei 2022, beberapa platform pertukaran aset kripto tidak akan lagi memperdagangkan LUNA karena harganya terus turun jadi cuma US$0,0002 dari US$80 seminggu sebelumnya. Pada puncak kementerian UST (10-12 Mei 2022), Bitcoin mengalami penurunan perdana jadi 27 ribu dolar AS sejak Juli 2021.
Jika kita menyesuaikan dengan respons Terra, ini sesuai dengan saat Luna Foundation Guard (LFG) dijual sekitar 80 ribu cadangan BTC-nya dalam upaya melampaui kementerian keuangan.
Aksi jual besar-besaran ini menurunkan harga Bitcoin & membawa seluruh pasar kripto bersamanya. Selain itu, pemberi pinjaman aset kripto AS Celsius baru-baru ini membekukan penarikan & transfer antar akun, memicu kekhawatiran tentang penurunan yg lebih luas di pasar aset digital yg diguncang oleh crash LUNA & UST bulan lalu.
dapatkan juga berita hangat up to date di: Berita Aktual Terkini
Apa yg Membedakan Bear Market Kali Ini dengan 2018?
Jika Agan & sista membandingkan keadaan pasar beruang saat ini dengan yg sebelumnya, pada awal 2018, Bitcoin turun 69% dari harga tertinggi sepanjang masa 2017 dari 19.700 dolar AS jadi 6.155 dolar AS cuma dalam tujuh minggu.
Total kapitalisasi pasar kripto turun dari 830 miliar dolar AS jadi 120 miliar dolar AS pada akhir tahun. Rata-rata perusahaan pada saat itu sangat skeptis & tidak melihat kripto sebagai peluang, & banyak pembuat kebijakan & CEO menganggap industri ini sebagai "penipuan besar".
Namun, kali ini progres proyek DeFi sangat pesat. Pada akhir bull run 2017, cuma sekitar 100 aplikasi terdesentralisasi yg diluncurkan. Pada bulan ini, ada ribuan di Ethereum saja. Kami juga melihat dimulainya proyek DeFi di blockchain Bitcoin.
Kemudian, masuknya Big Tech ke dalam metaverse juga merupakan hal yg tidak dapat diabaikan. Rebranding Facebook ke Meta, integrasi NFT di Twitter, Instagram & Spotify; Google & Microsoft memulai penelitian Web3 mereka sendiri & secara aktif berinvestasi di Web3, adalah beberapa contoh bagaimana perusahaan akbar secara aktif memasuki industri ini.
Merek ritel & fashion raksasa juga mengalihkan strategi bisnis mereka ke Web3. Contohnya termasuk Walmart, Warner Bros., Gucci, Louis Vuitton & Nike. Industri kripto pernah melewati masa crypto winter atau musim dharap kripto namun tetap bertahan & terus berkembang hingga saat ini.
Meskipun ada tagan & sista-tagan & sista resesi & musim dharap kripto di depan, industri ini sudah matang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya & berada dalam posisi yg lebih baik.
Berikut penjelasan mengapa harga kripto turun & faktor pendorongnya. Jika Agan & sista tertarik untuk mulai berinvestasi dalam aset kripto, unduh aplikasi Pintu kripto di Play Store & App Store! Keamanan Agan & sista terjamin karena Pintu dikendalikan & diawasi oleh Bappebti & Kominfo.
Kemarin 19:57