• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

5 Entrepreneur yang sukses tanpa gelar tinggi

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. nurma
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

nurma

IndoForum Beginner A
No. Urut
170780
Sejak
25 Apr 2012
Pesan
1.296
Nilai reaksi
25
Poin
48
Orang Asia terkenal dengan ambisinya di bidang akademis, sampai-sampai muncul stereotip tentang para orang tua yang menekan anaknya untuk berprestasi secara akademis.

Bahkan, ketika Amy Chua menulis buku bestseller Battle Hymn of the Tiger Mother, dunia sepakat menggambarkan orang tua Asia yang tidak dapat menerima jika anaknya mendapat nilai di bawah grade A.

Sejujurnya, banyak siswa dan orang tua mereka masih percaya bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan menuju sukses. Dalam sebuah artikel di USA Today, Hwy-Chang Moon, profesor dan dekan sekolah pascasarjana ilmu internasional di Seoul National University, mengibaratkannya seperti: "Ada mentalitas tentang menjadi yang terbaik [...] Anda harus menjadi yang terdepan, jika tidak Anda tidak mungkin dapat bertahan hidup."

Akan tetapi, belakangan ini, kita telah melihat beberapa perusahaan ternama mulai menyangkal mitos tersebut. Yang paling terkenal, Laszlo Bock, senior vice president of people operations di Google, dilaporkan menyatakan dalam sebuah wawancara dengan New York Times bahwa IPK tak berarti sama sekali dalam proses perekrutan.

"IPK tidak berharga sebagai kriteria perekrutan dan skor tes tidak berharga [...] Kami menemukan bahwa skor tidak memprediksi apa-apa," ujar Laszlo Bock dalam wawancara tersebut.

Dengan kata lain, kesuksesan akademis bukan cara yang baik untuk mengetahui apakah seseorang akan sukses dalam sebuah pekerjaan, apalagi dalam menjalankan bisnis mereka.

Berikut adalah lima entrepreneur yang telah berhasil dengan usahanya masing-masing meski tanpa mendapatkan grade A pada awal-awal kehidupannya.

1.Anders Tan, co-founder Edusnap
8eFkR.jpg
Anders Tan, menurut pengakuannya sendiri, adalah salah satu dari banyak orang Singapura yang harus berurusan dengan sistem pendidikan di negeri mereka yang sangat kompetitif.

"Saya mengambil jurusan Normal Technical di SMA, dan masuk ke ITE [Institute of Technical Education], kemudian politeknik, dan setelah itu wajib militer, dan akhirnya universitas. Itu adalah perjalanan hidup yang panjang! Karena saya tidak berasal dari keluarga kaya, orang tua saya tidak memiliki kemampuan untuk mengirimkan saya untuk mengikuti program pengayaan tambahan. Akibatnya dan saya percaya ini adalah salah satu alasan utama mengapa saya tidak bisa berbuat lebih baik dalam bidang akademis di awal-awal hidup saya saya menyerah untuk belajar sepenuhnya. Bagi saya, belajar itu mahal dan tidak menguntungkan bagi orang-orang yang tidak kaya."

Terlepas dari latar belakang akademisnya yang kurang bergengsi, Anders bertekad untuk menciptakan sebuah platform yang akan menghubungkan tutor dengan siswa yang tidak memiliki akses ke mentor seperti teman-teman kaya mereka. Setelah berjuang dengan darah dan air mata, akhirnya Edusnap lahir.

2.Yoichiro 'Pina' Hirano, founder dan CEO Infoteria
8QZl2.jpg
Dari usia muda, Pina sudah memiliki ketertarikan dengan teknologi. Di sekolah tinggi, fokusnya bergeser dari hardware ke software, dan ia tidak bisa berkonsentrasi pada pelajarannya.

"Saya sedang meng-coding software di notebook saya sepanjang hari. Saya hampir menjadi yang terburuk di kelas saya ada 10 kelas dengan 45 siswa masing-masing dan selama tiga tahun (masa SD di Jepang adalah enam tahun, dan tiga tahun masing-masing di SMP dan SMA) saya berada di bawah peringkat 40. Saya tidak belajar, saya hanya melakukan programming."

Setelah keluar dari universitas, Pina mendirikan sebuah bisnis software dengan teman-temannya dari toko komputer lokal dan word processor Bahasa Jepang 8-bit untuk platform NEC yang ia ciptakan menjadi best-seller nasional.

Tidak puas dengan itu, ia kemudian mendirikan Infoteria pada tahun 1998, yang menjadi perusahaan terdaftar dalam bursa efek dalam waktu delapan tahun, dan sekarang senilai USD 50 juta.

3.Andry Suhaili, founder dan CEO PriceArea
q0NW.jpg
Perjalanan Andry dimulai di pulau kecil Indonesia, Bangka, di mana ia menyelesaikan setengah tahun SD-nya di sana. Setelah itu, ia belajar di Jakarta, Singapura, dan akhirnya Los Angeles.

"Menjadi seorang anak dari sebuah kota kecil, saya mengalami kesulitan dalam hal akademis dan memperoleh teman terutama karena hambatan bahasa dialek (Bangka) saya ketika berbicara Bahasa Indonesia tapi saya berhasil lulus (di Jakarta). Saya menghadapi masalah yang sama (ketika pindah ke Singapura). Tapi waktu itu jauh lebih sulit, karena bahasa Inggris, dan saya hampir tidak lulus tahun pertama saya di SMP."

Setelah bereksperimen dengan beberapa usaha bisnis, ia membangun PriceArea pada tahun 2008 untuk membantu memungkinkan orang menemukan penawaran terbaru secara online.

4.Brian Lim, founder dan CEO Launchbox
iDgsS.jpg
Seperti anak kecil pada umumnya, Brian mempunyai mimpi: ia ingin menjadi astronot. Namun, guru-gurunya tidak begitu peduli dengan ambisinya.

"Setiap saya mengatakan tentang ide-ide gila, saya disuruh untuk duduk. Saya tidak mendapat peringkat 'O' (outstanding), dan saya dikeluarkan dari sekolah politeknik setelah tahun pertama saya."

Brian tidak begitu cemerlang di sekolah karena hal tersebut membuatnya bosan. Meskipun ia harus menunggu mewujudkan mimpinya untuk mendapatkan gelar sarjana di Australia, ia akhirnya kembali mengejar mimpinya dengan sepenuh hati ketika ia bertemu dengan salah satu dosen di International Space University, sebuah organisasi yang mengajarkan dasar-dasar ruang angkasa untuk mahasiswa di seluruh dunia.

Kini, Brian menjalankan sebuah startup di Australia yang disebut Launchbox, sebuah perusahaan yang ingin membangun dan meluncurkan satelit ke ruang angkasa.

5.Juny 'Acong' Maimun, founder dan CEO Indowebster
ymiOd.jpg
Pada tahun 2002, Acong putus kuliah setelah mengunjungi Jakarta selama akhir semester dan membuka warnet hybrid pertama yang beroperasi 24 jam di Jakarta, yang kemudian ia beri nama AMPM untuk mencerminkan jam operasional nonstop-nya.

Hybrid, karena menggabungkan konsep pusat game center dan warnet tradisional. Setelah beberapa saat, pasar mulai menuntut koneksi internet berkecepatan tinggi setara dengan apa yang ia tawarkan di AMPM.

"Saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Saya tidak tahu apa-apa tentang ISP. Saya hanya tahu bagaimana menjual bandwidth dan remake bandwidth dan hanya itu."

Menurut Acong, AMPM sekarang diakui sebagai salah satu penyedia layanin internet terkemuka di negeri ini. Tak lama setelah itu, ia mendirikan Indowebster, website file hosting multimedia asal Indonesia yang terkenal di dunia.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.