Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
SEJARAH
NOV 15 2017 BORIS EGOROV
Richard Caton Woodville, Jr. The Relief of the Light Brigade, 1897
Militer Rusia tak cuma pernah merasakan manisnya kemenangan, tetapi juga menelan kekalahan pahit. Beberapa di antaranya tak cuma menciptakan negara kehilangan sejumlah akbar wilayahnya, tetapi bahkan kelangsungan negara itu pun dipertanyakan. Berikut daftar kekalahan paling memilukan sepanjang sejarah Rusia.
Invasi Mongol (1237 1240)
Kisah Penghancuran Ryazan. Naskah zaman XVI.
Perpustakaan Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia
Pada awal zaman ke-13, tentara Mongol menyadari bahwa Rusia terpecah belah & tak sanggup melawan pencaplokan punggawa dari Asia yg kuat & kompak. Satu demi satu, wilayah-wilayah kepangeranan (negara yg diperintah oleh seorang pangeran atau putri [principality] -red.) di daratan Rusia jatuh di bawah kekuasaan Mongol yg ditandai dengan penjarahan, penghancuran, & pembantaian besar-besaran kepada para penduduk.
Selama beberapa zaman berikutnya, kepangeranan-kepangeranan Rusia secara politis & ekonomi bergantung pada Kekaisaran Mongol, & butuh waktu puluhan tahun untuk memulihkan perekonomian & kebudayaan yg hancur. Rusia berjuang melawan kemunduran serius dalam perkembangannya, yg menciptakannya tertinggal jauh dari negara-negara Eropa.
Invasi itu benar-benar merombak peta politik negara Rusia. Kiev, yg direbut bangsa Mongol pada 1240, tak pernah mendapatkan kembali statusnya sebagai kota terpenting di Rus Kiev. Berbagai kepangeranan Slavia Barat, seperti Smolensk, Kursk, serta daerah-daerah yg kini masuk dalam wilayah Ukraina & Belarus modern, jatuh ke dalam lingkup pengaruh negara Lituania yg menguat, yg pada akhirnya menyerap pengaruh tersebut.
Namun, selama itu pula bom waktu tercipta. Tanah-tanah ini jadi sumber pertengkaran & alasan terjadinya sejumlah perang antara Rusia & Persemakmuran Polandia-Lituania (sebuah monarki federal yg dibentuk Kerajaan Polandia & Keharyapatihan Lituania pada 1569 & bertahan hingga 1795). Bahkan di zaman ke-20, beberapa wilayah ini jadi akar perselisihan antara Polandia & Uni Soviet.
Perang Livonia (1558 1583)
Karl Briullov. Pengepungan Pskov oleh Raja Polandia Stefan Batory, 1843.
Global Look Press
Ivan IV, atau yg lebih diketahui sebagai Ivan yg Mengerikan, memulai perang melawan Konfederasi Livonia yg lemah untuk menguasai pelabuhan utamanya & memperkokoh pijakan Keharyapatihan Moskow di pesisir Baltik. Ini sangat penting bagi negara Rusia yg sedang berkembang, karena akses mereka ke Laut Baltik terbatas pada sebidang tanah kecil yg beberapa akbar belum digarap di pesisir Teluk Finlandia.
Periode perdana peperangan berbuah manis bagi Ivan IV, & pasukannya berhasil menguasai bagian penting wilayah Konfederasi Livonia daerah Latvia & Estonia modern saat ini. Sementara, kekuatan akbar lainnya, tentu saja, tak bahagia dengan perkembangan kekuatan tetangga timurnya. Selama bertahun-tahun, Rusia berperang baik dengan Swedia maupun Keharyapatihan Lituania yg pada tahun 1569 bersatu dengan Polandia.
Perang yg meluas berlanjut selama lebih dari 20 tahun, & berakhir dengan kekalahan akbar di pihak Rusia. Perekonomian negara hancur, & populasi penduduk di wilayah barat laut menurun drastis. Seluruh tanah yg semula diambil dari Livonia hilang & terpaksa dikembalikan. Tak cuma itu, Keharyapatihan Moskow kehilangan daerah-daerah kekuasaannya di Finlandia & beberapa akbar wilayah pesisirnya di Teluk Finlandia. Hanya beberapa kecil tanah di muara Sungai Neva yg tetap jadi milik Rusia. Namun, daerah itu tak dapat memberikan akses yg strategis ke lautan.
Dengan begitu, alih-alih Konfederasi Livonian yg lemah, Rusia memiliki musuh baru yg kuat di perbatasan baratnya: Persemakmuran Polandia-Lituania & Kerajaan Swedia. Rusia membutuh waktu bertahun-tahun & sumber daya berlimpah untuk menangani masalah ini di kemudian hari selama Perang Utara Raya (1700 1721).
Perang Rusia-Turki (1710 1713)
Bataille du Prout. Ilustrasi dari William Hogarth (1697 1764) untuk 'Travels' oleh Aubry de la Motraye, 1724.
Pyotr Agung berhasil membalas kekalahan Ivan IV. Dia menghancurkan Swedia & mencaplok tanahnya yg berada di sepanjang wilayah Baltik timur (Estonia, Livonia, & Ingria) di bawah Perjanjian Nystad tahun 1721.
Namun pada 1711, perang tersebut masih jauh dari selesai. Sang tsar bahkan berada dalam keadaan yg mengancam nyawa, yg nyaris berujung pada kehancuran seluruh pasukannya.
Setelah kemenangan spektakuler Rusia di Poltava pada 1709, Raja Swedia Karl XII yg kalah melarikan diri ke kota Bendery di Bessarabia, yg berada di bawah Kesultanan Utsmaniyah. Negosiasi sengit antara tsar Rusia & Sultan Ahmed III terkait nasib raja Swedia menemui jalan buntu.
Di sisi lain, sang sultan sangat harap mengusir orang-orang Rusia dari benteng Azov di pantai Laut Azov, yg berhasil direbut Pyotr Agung pada 1695 1696 dalam upayanya membuka akses Rusia ke Laut Hitam melalui Selat Kerch.
Pada 1710, Kesultanan Utsmaniyah menyatakan perang kepada Rusia, yg berujung pada Kampanye Sungai Pruth tsar Rusia. Pada 1711, 38 ribu tentara Rusia yg dipimpin Pyotr Agung dikepung oleh 190 ribu tentara Utsmaniyah & Krimea di Bessarabia. Demi menghindari kehancuran, Pyotr terpaksa menerima persyaratan sang sultan yg jadi momok bagi Rusia, yg kemudian diturunkan ke dalam Perjanjian Pruth dua tahun kemudian.
Rusia menyerahkan Azov kepada Kesultanan Utsmaniyah, menghancurkan semua benteng di pesisir Laut Azov, & dengan begitu kehilangan akses ke Laut Hitam. Selain itu, selama hampir 20 tahun Rusia kehilangan kendali atas Angkatan Bersenjata Cossack Zaporizhia, yg jatuh ke bawah kekuasaan Utsmaniyah.
Namun, akibat kekalahan yg paling buruk adalah penghancuran angkatan laut perdana Rusia Flotilla Azov. Ratusan kapal akbar & kecil dihancurkan, beberapa dijual, sementara nasib yg lainnya tak pernah diketahui. Akibat kekalahan ini pula, Rusia terpaksa memulai kebijakan politik luar negerinya dari nol.
Perang Krimea (1853 1856)
Pembakaran kapal di Kale (Canakkale) di Dardanelles (Hellespont) selama Perang Krimea. Litograf berwarna diterbitkan di Italia pada 1857.
Global Look Press
Di satu sisi, Perang Krimea mirip dengan Perang Livonia: Rusia berhasil memulai peperangan dengan satu musuh yg lemah, tetapi terpaksa mengakhiri konflik dengan menderita kekalahan di tangan koalisi kekuatan besar.
Menurut Perjanjian Paris (1856), Rusia tidak kehilangan banyak wilayahnya, tetapi kehilangan hak untuk memiliki armada di Laut Hitam. Dengan demikian, Rusia pun harus meninggalkan klaimnya untuk melindungi orang-orang Kristen di Kesultanan Utsmaniyah, yg melempar hak itu pada Prancis. Rusia juga kehilangan pengaruhnya di Moldavia, Wallachia, & Serbia. Secara umum, perang tersebut sangat merusak reputasi internasional Rusia.
Namun, tak ada yg lebih menderita selain sistem keuangan kekaisaran. Dengan besarnya utang perang, Rusia terpaksa mencetak nota kredit tanpa jaminan yg menyebabkan depresiasi drastis mata uang rubel. Baru pada 1897, pemerintah berhasil menstabilkan nilai tukar dengan mengadopsi standar emas. Meski demikian, Perang Krimea memaksa pemerintah untuk meluncurkan reformasi militer & ekonomi besar-besaran, seperti penghapusan sistem perbudakan pada 1861.
Perang Dunia I (1914 1918)
Tentara Rusia selama pengakuan kalah perang, tanggal tidak diketahui (1914 1918).
Archiv Neumann/Global Look Press
Perang Besar, atau yg kini diketahui sebagai Perang Dunia I, merupakan bencana akbar bagi Kekaisaran Rusia, yg menyebabkan runtuhnya monarki pada Oktober 1917. Jatuhnya 1,7 juta korban perang hanyalah awal dari pembantaian yg jauh lebih besar. Meskipun akhirnya Rusia mengakhiri keterlibatannya dalam peperangan dengan Traktat Brest-Litovsk pada 3 Maret 1918, Perang Saudara menciptakan negara itu terjerumus dalam kehancuran yg lebih mengerikan.
Akibat perpisahannya dengan Blok Sentral, Rusia tak mendapatkan tempat dalam perundingan damai, sekalipun pengaruhnya kepada kemenangan berdampak signifikan, khususnya pada tahap awal perang. Pada akhirnya, Rusia kehilangan sekitar 842 ribu kilometer persegi (15,4 persen dari total wilayahnya sebelum perang), yg merupakan rumah bagi 31,5 juta penduduk (23,3 persen dari populasi kekaisaran sebelum perang).
Keruntuhan kekaisaran menyebabkan munculnya negara-negara baru. Polandia mendapatkan kembali kemerdekaannya, sementara Latvia, Estonia, Lituania, & Finlandia, untuk perdana kalinya dalam sejarah mereka, memperoleh status sebagai negara berdaulat. Tak cuma itu, Rumania pun berkesempatan untuk mencaplok Bessarabia.
MENUNGGU KEKALAHAN YANG KE ENAM
GAK PERLU JUMAWA MENANG WW2.....JIKA BUKAN KARENA LEND LEASE+OPERASI NORMANDIA+GAGALNYA JERMAN DI FRONT AFRIKA+OPERASI BARBAROSSA TANPA BANTUAN JEPANG.....TENTARA NAZI SUDAH BERBARIS DI MOSKOW
"KEMULYAAN UNTUK PAHLAWAN"