yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Wahyu 2:18-19 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga: 19 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama.
Pada waktu kaisar Nero memerintah kerajaan Roma, ada sekelompok prajurit elit yang diberi nama “Para Pembela Kaisar.” Pada suatu hari sampailah berita ke telinga kaisar Nero bahwa banyak anggota pasukan khusus ini yang menjadi orang Kristen. Maka dikeluarkannyalah sebuah perintah kepada Vespasianus, komandan pasukan elit ini untuk menghukum mati anggotanya yang menjadi Kristen. Vepasianus merasa sedih, sebab ia mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan anak buanya.
Ternyata didapatinya ada 40 prajurit yang menyatakan dirinya menjadi orang Kristen.
Lalu ia memberikan kesempatan kepada mereka untuk kembali kepada penyembahan berhala yang dipercayai oleh orang-orang Roma. Tetapi tidak ada seorang pun yang mau menyangkali iman mereka kepada Kristus. Melihat kenyataan itu, Vespasianus berkata: “Perintah sang raja harus ditaati, yang mengaku Kristen harus dihukum mati.
Tetapi aku ingin tak setetes darah pun yang tertumpah di tempat ini. Jadi, sekarang aku perintahkan kepadamu bagi yang tetap ingin menjadi Kristen untuk membuka pakaiannya dan berjalan ke tengah danau yang membeku ini dan tetap berada di situ sepanjang malam. Tetapi siapa diantara kamu yang mau menyangkali imanmu, boleh segera datang ke tepi danau ini dimana teman-temanmu menunggu di tengah kehangatan api yang menyala dan makanan lezat. Siapa yang tetap bertahan pada imannya, harus tetap berdiri di tengah danau yang membeku itu!”
Demikianlah 40 prajurit yang setengah telanjang itu berjalan ke tengah danau yang membeku sambil menyanyikan pujian rohani: “40 prajurit, berjuang bagi-Mu, ya Kristus, untuk meraih kemenangan yaitu mahkota kehidupan bagi kemuliaan-Mu!” Makin lama suara nyanyian itu makin lemah dengan berlalunya waktu dan semakin dinginnya cuaca yang beku di tengah malam. Menjelang pagi hari, seorang dari 40 prajurit itu merasa tidak tahan dan berjalan dengan susah payah ke tepi danau.
Ia menyangkali imannya dan meninggalkan 39 temannya yang sedang berusaha untuk bertahan sampai akhir hayat mereka. Ketika Vespasianus melihat ke tengah danau, ia melihat bukan hanya 39 prajurit yang sudah hampir mati karena kedinginan sepanjang malam tanpa pakaian dan makanan, namun ia juga melihat sepasukan malaikat berada di atas prajurit-prajurit yang setia itu dengan mambawa mahkota yang gemerlapan, siap untuk dipakaikan kepada 39 prajurit yang setia itu! Dengan tidak ragu sedikitpun, Vespasianus melangkahkan kakinya dan bergabung dengan 39 prajuritnya.
Melihat hal ini ke-39 prajurit itu timbul semangatnya dan dengan sisa-sisa kekuatannya mereka menyanyikan pujian: “40 prajurit, berjuang bagi-Mu ya Kristus, untuk meraih kemenangan, yaitu mahkota kehidupan untuk kemuliaan-Mu, ya Kristus!” Demikianlah akhirnya 40 prajurit yang radikal itu mati sebagai martir. Tuhan memuji jemaat di Tiatira karena mereka sangat RADIKAL bagi Tuhan. Dikatakan bahwa pekerjaan mereka yang terakhir ‘lebih banyak’ daripada yang pertama.
Dengan kata lain, jemaat Tiatira ini sudah bertumbuh maju dalam kehidupan roh mereka secara luarbiasa, dari jemaat biasa menjadi tentara Allah yang radikal. Biarlah setiap kita juga memiliki level komitmen seperti jemaat Tiatira ini yang berani bersikap radikal, sehingga kita menerima anugerah yang besar dari Tuhan.
Pada waktu kaisar Nero memerintah kerajaan Roma, ada sekelompok prajurit elit yang diberi nama “Para Pembela Kaisar.” Pada suatu hari sampailah berita ke telinga kaisar Nero bahwa banyak anggota pasukan khusus ini yang menjadi orang Kristen. Maka dikeluarkannyalah sebuah perintah kepada Vespasianus, komandan pasukan elit ini untuk menghukum mati anggotanya yang menjadi Kristen. Vepasianus merasa sedih, sebab ia mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan anak buanya.
Ternyata didapatinya ada 40 prajurit yang menyatakan dirinya menjadi orang Kristen.
Lalu ia memberikan kesempatan kepada mereka untuk kembali kepada penyembahan berhala yang dipercayai oleh orang-orang Roma. Tetapi tidak ada seorang pun yang mau menyangkali iman mereka kepada Kristus. Melihat kenyataan itu, Vespasianus berkata: “Perintah sang raja harus ditaati, yang mengaku Kristen harus dihukum mati.
Tetapi aku ingin tak setetes darah pun yang tertumpah di tempat ini. Jadi, sekarang aku perintahkan kepadamu bagi yang tetap ingin menjadi Kristen untuk membuka pakaiannya dan berjalan ke tengah danau yang membeku ini dan tetap berada di situ sepanjang malam. Tetapi siapa diantara kamu yang mau menyangkali imanmu, boleh segera datang ke tepi danau ini dimana teman-temanmu menunggu di tengah kehangatan api yang menyala dan makanan lezat. Siapa yang tetap bertahan pada imannya, harus tetap berdiri di tengah danau yang membeku itu!”
Demikianlah 40 prajurit yang setengah telanjang itu berjalan ke tengah danau yang membeku sambil menyanyikan pujian rohani: “40 prajurit, berjuang bagi-Mu, ya Kristus, untuk meraih kemenangan yaitu mahkota kehidupan bagi kemuliaan-Mu!” Makin lama suara nyanyian itu makin lemah dengan berlalunya waktu dan semakin dinginnya cuaca yang beku di tengah malam. Menjelang pagi hari, seorang dari 40 prajurit itu merasa tidak tahan dan berjalan dengan susah payah ke tepi danau.
Ia menyangkali imannya dan meninggalkan 39 temannya yang sedang berusaha untuk bertahan sampai akhir hayat mereka. Ketika Vespasianus melihat ke tengah danau, ia melihat bukan hanya 39 prajurit yang sudah hampir mati karena kedinginan sepanjang malam tanpa pakaian dan makanan, namun ia juga melihat sepasukan malaikat berada di atas prajurit-prajurit yang setia itu dengan mambawa mahkota yang gemerlapan, siap untuk dipakaikan kepada 39 prajurit yang setia itu! Dengan tidak ragu sedikitpun, Vespasianus melangkahkan kakinya dan bergabung dengan 39 prajuritnya.
Melihat hal ini ke-39 prajurit itu timbul semangatnya dan dengan sisa-sisa kekuatannya mereka menyanyikan pujian: “40 prajurit, berjuang bagi-Mu ya Kristus, untuk meraih kemenangan, yaitu mahkota kehidupan untuk kemuliaan-Mu, ya Kristus!” Demikianlah akhirnya 40 prajurit yang radikal itu mati sebagai martir. Tuhan memuji jemaat di Tiatira karena mereka sangat RADIKAL bagi Tuhan. Dikatakan bahwa pekerjaan mereka yang terakhir ‘lebih banyak’ daripada yang pertama.
Dengan kata lain, jemaat Tiatira ini sudah bertumbuh maju dalam kehidupan roh mereka secara luarbiasa, dari jemaat biasa menjadi tentara Allah yang radikal. Biarlah setiap kita juga memiliki level komitmen seperti jemaat Tiatira ini yang berani bersikap radikal, sehingga kita menerima anugerah yang besar dari Tuhan.