• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita 30 Tahun Warga Kampung Poncol Terisolasi

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. hendladi
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

hendladi

IndoForum Beginner D
No. Urut
113568
Sejak
15 Jan 2011
Pesan
685
Nilai reaksi
2
Poin
18
0935249p.gif


JAKARTA, KOMPAS.com — Sudah 30 tahun Kampung Poncol RT 13 RW 03, Kelurahan Gedong, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, terisolasi. Warga di sana tidak leluasa keluar masuk dari permukiman mereka. Kenapa?

Masuk ke perkampungan warga yang dihuni sekitar 70 keluarga dan terdiri dari sekitar 200 lebih jiwa itu harus melalui pintu masuk kompleks tentara Mako Resimen Induk Kodam Jaya (Rindam Jaya), di Jalan Raya Condet.

Akses keluar masuk lainnya adalah jembatan gantung di atas Sungai Ciliwung yang menghubungkan permukiman warga dengan permukiman di Kelurahan Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Lewat jembatan itu, warga bisa menuju Jalan Pol Tangan yang tembus ke Jalan TB Simatupang.

Masalahnya, jembatan ini sudah tidak memadai lagi karena hanya terbuat dari bambu dan kayu. Dengan kata lain, jembatan gantung yang dibangun secara swadaya oleh warga ini tampak membahayakan. Kendaraan roda empat tidak dapat melintasi jembatan ini. Bahkan warga yang menggunakan sepeda motor mesti menuntun kendaraannya karena jembatan gantung ini selalu bergoyang hebat jika dilintasi.

Permukiman yang berada di sisi atas Ciliwung tersebut memang sudah lama dihuni warga. Dulu, sekitar tahun 1960-an, jumlah penghuninya tak sebanyak sekarang. Namun seiring waktu, mulai akhir tahun 1970-an, penghuni Kampung Poncol Condet itu semakin banyak.

Ketua RT 13 RW 03 Kelurahan Gedong, Muhamad, mengatakan, awalnya jembatan gantung dibangun tahun 1970-an sangat sederhana saat warga mulai banyak. Melewati kali dengan getek atau perahu kecil sudah tidak memadai lagi.

Seiring waktu, jembatan itu berpindah agak ke atas untuk menghindari banjir. Tahun 1996 saat banjir besar, jembatan gantung hancur. Namun, warga membangunnya kembali secara swadaya di tempat yang lebih tinggi hingga sekarang. Sejak saat itu, setiap tahun jembatan gantung dari kayu dan bambu ini mesti direnovasi, terutama untuk mengganti pijakan jembatan yang lapuk karena dimakan usia.

Kini warga sangat mengharapkan agar Pemprov DKI atau Pemkot Administrasi Jakarta Timur mau membuat jembatan yang lebih baik, bahkan permanen, seperti jembatan yang menuju Pasar Minggu.

"Paling tidak keamanan jembatan ini diperhatikan. Sebab selain selalu bergoyang hebat, apalagi jika ada angin, pijakan dan pegangan untuk jembatan sangat minim,” katanya.

Menurut Muhamad, jembatan gantung itu sangat vital bagi masyarakat. "Dari dulu sudah diusulkan supaya dibangun, tapi hingga kini belum ada realisasinya," kata Muhamad.

Erlan, warga RT 13, mengatakan, warga sangat khawatir dengan kondisi jembatan gantung saat ini. Apalagi jembatan gantung yang terbuat dari kayu dan bambu itu kini sudah mulai rapuh. "Anak-anak kami yang sekolah banyak yang lewat jembatan itu. Kami kadang was-was saat mereka lewat jembatan itu," katanya.

Pantauan Warta Kota, Senin (31/1/2011), jembatan gantung yang terbuat dari kayu dan bambu itu dilengkapi dengan sling baja. Sayangnya, sling itu berkarat dan kadang melukai tangan karena karatnya tampak tajam. Selain itu, pijakan jembatan yang hanya dari kayu dan bambu tampak sangat rapuh. Bila ingin melintas, warga mesti berhati-hati dan melihat arah pijakan.

Menurut Erlan, warga tidak bermimpi jembatan ini menjadi permanen dan besar, apalagi bisa dilalui kendaraan roda empat. "Kami cuma mau jembatan ini lebih aman," katanya.

Setiap tahun, kata Erlan, warga mengumpulkan uang sekitar Rp 8 juta untuk memperbaiki jembatan gantung itu. "Namun, uang itu cuma cukup untuk bambu dan kayu,” katanya.

Menurut Erlan, untuk rehab jembatan dibutuhkan sedikitnya 300 batang kayu dan bambu.

Bahkan untuk tahun ini, jembatan itu memang mesti direnovasi lagi agar tidak membahayakan. "Februari jembatan ini mesti direnovasi karena sudah setahun sebab memang kekuatan bambu dan kayu di jembatan cuma setahun. Warga saat ini sedang ngumpulin uang dan berharap ada bantuan dari pihak terkait," ujarnya

Keamanan jembatan

Menurut Erlan, hal yang paling utama dibutuhkan demi keamanan jembatan adalah bantalan besi untuk pijakan jembatan, tiang penguat, dan sling baja tambahan yang menguatkan jembatan yang bergantung sekitar 15 meter di atas Ciliwung.

"Kami maunya lebih aman dengan bahan-bahan itu, tetapi karena danang warga selalu terbatas, jadinya cuma pakai kayu terus," ujarnya.

Erlan mengatakan, warga yang takut dan ngeri menggunakan jembatan itu, apalagi bila menaiki sepeda motor, harus memutar melalui kompleks militer Mako Rindam Jaya. Saat melintas di kompleks militer itu, otomatis tidak bebas.

Karena terkadang harus lapor dulu kepada petugas piket dan mengendarai motor harus membuka helm dan kaca mata. "Memang sekarang kalau mau masuk kompleks tak sebebas dulu," katanya terus terang. Meski demikian, warga mengaku berterima kasih karena pimpinan Rindam Jaya tetap memperbolehkan mereka melalui markas komando militernya.

Suhri, anggota Dewan Kelurahan Gedong, menyatakan, akan terus mendorong agar pembangunan jembatan gantung secara permanen bisa cepat teralisasi.

Menurut dia, jembatan penyeberangan itu sangat dibutuhkan warga yang kehidupannya terisolasi sejak 30 tahun lalu. Namun, saat ini Suhri mengajak warga setempat untuk memanfaatkan lahan dan pekarangan dengan menanam pohon pelindung seperti pohon jati dan aksia. Selain itu lahan di sisi Kali Ciliwung tersebut ditanami jahe merah dan pohon cabai serta tanaman buah-buah.

Wali Kota Jakarta Timur Murdhani, saat dihubungi Senin sore, mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi untuk menuntaskan masalah ini, serta mencarikan jalan keluar agar jembatan gantung dapat dibangun lebih baik. "Mereka warga kami, dan jembatan itu memang sangat diperlukan. Saya akan upayakan realisasinya, tetapi sesuai prosedur," kata Murdhani.

Murdhani mengatakan, dia akan menelusuri dan memerintahkan kecamatan dan kelurahan agar membantu warga Kampung Poncol Condet, melalui RW dan RT setempat, kembali membuat usulan secara prosedural.

"Berapa danang yang dibutuhkan untuk jembatan itu kami akan lihat lagi. Memang untuk kebutuhan yang besar, kelurahan dan kecamatan tak akan bisa menanggung dan seharusnya langsung lapor usulannya ke wali kota. Nanti saya akan cek dan telusuri lagi masalah ini,” katanya berjanji.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.